PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 29 Mei 2020

Sinopsis Oh My Baby Episode 5 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Nyonya Shim sedang memompa asi lalu menerima telp dari bibinya  yang terlihat panik. Ia meminta bibinya agar tenang tapi segera ke UGD dan akan di sana lalu memasukan asi ke dalam plastik.
“Ny Shim, Pak Joo mencarimu.” Kata So Yoon. Nyonya Shim mengerti tak bisa menemui anaknya.

Tuan Jo melihat Laporan Penjualan Media Dachae memberitahu kalau Hanya "The Baby" yang melaporkan penurunan penjualan. Tuan Kim berpikir soalnya, industri ini dalam resesi...Saat itu pesan masuk dalam ponsel Nyonya Sim [Suami: Hasil pemeriksaan bayi kita keluar.]
“Ny. Shim... Sekarang kau sudah kembali dari cuti hamil, aku ingin kau fokus pada penjualan departemenmu. Sudah melakukan yang terburuk selama 3 tahun terakhi dan telah kehilangan penawaran iklanmu. Bukankah kau seharusnya merasa bertanggung jawab?” ucap Tuan Joo.
“Para jurnalis dan aku telah mengajukan penawaran iklan seperti halnya Departemen Periklanan. Aku bahkan tidak mengambil cuti untuk merawat anakku lebih lama” kata Nyonya Sm
“Harus... walaupun kau yakin kau akan kembali. Membesarkan anak tidak berakhir hanya dengan 3 bulan, jadi kalau kau tidak kembali setelah mengambil cuti, kau hanya akan membebani uang perusahaan.” Kata Tuan Joo
“Aku tahu, Pak. Itu sebabnya aku tidak mengambil cuti meskipun aku berhak. Kau terus menyarankanku tidak mengambilnya” ucap Nyonya Shim
“Pak, tidak peduli seberapa keras kita bekerja, kita tidak bisa melakukan apa-apa dengan tingkat kelahiran rendah atau...” kata Tuan Kim yang langsung disela oleh Tuan Joo
“Bagaimanapun, kita diminta untuk mengiklankan Kota Mureung. "The Baby" harus menerimanya. Tadinya untuk "The Deco", tapi aku hanya memberikannya padamu untuk meningkatkan penjualanmu, jadi lakukan pekerjaan dengan baik.” Jelas Tuan Joo
“Jika Kota Mureung senang dengan hasilnya, semua proyek dari pemerintah daerah akan diserahkan ke "The Baby". Kata Tuan Joo
“Pak Joo, ya ampun. Kau hanya bersikap keras pada kami untuk menawarkan kami kesepakatan ini, tapi kami terlalu bodoh membaca niat Bapak. Terima kasih, Pak.” Kata Tuan Kim. Nyonya Shim hanya bisa terdiam.
“Itu sebabnya berada dalam posisi ini bisa jadi kesepian.” Kata Tuan Joo bangga. 


Ha Ri duduk dimeja kerjanya, Nyonya Shim mengeluh melihat Ha Ri  yang ada dikantor dan menyuruhnya agar Pulang dan bersenang-senanglah. Ha Ri mengaku tidak nyaman dirumah. Nyonya Sim menegaska kalau Itu hukumannya.
“Aku lebih suka bersenang-senang di sini walau tidak nyaman.” Ucap H aRi. Nyonya Shim pun tak memperdulikanya.
“Kota Mureung sudah meminta kami untuk membuat iklan. Kau akan naik pesawat kesana dan mengumpulkan catatan selama sehari. Outlet media lain akan ada di sana, jadi pastikan muncul ide dari kalian yang bisa menghantam pikiran masyarakat Kota Mureung.” Jelas Nyonya Shim
“Siapa yang mau pergi?” tanya Nyonya Shim. Yeon Joo mengaku meliput 15 cerita bulan ini.
“Yah, aku akan ke Provinsi Gangwon untuk bekerja di gudang grosir.” Kata Hyo Joo
“Sebenarnya, aku ingin tanya ada rencana apa untuk pembaca edisi pertama kami. “kata Soo Yoon. Semua pun mengarah pada Ha Ri
“Ha Ri takut naik pesawat.” Ucap Yeon Joo. Hyo Joo pikir Selain itu, bagaimana bisa Ha Ri pergi saat sedang diskors
“Dia tidak bisa karena dia keluar bersenang-senang.” Ucap So Yoon. Ha Ri tersenyum.
“Karena aku lagi diskors, aku akan menulis bagian ini.” Kata Ha Ri. 



Yi Sang menegaskan kalau tidak bisa pergi. Tuan Nam ingin tahu alasanya. Yi Sang mengaku melakukan kesalahan saat mabuk di depan Nona Jang. Tuan Nam tak percaya mendengarnya dan memastikan kalau menunjukkan padanya sisi imutnya. Yi Sang membenarkan.
“Dasar bodoh! Bagaimana kau bisa menatap mata Nona Jang sekarang?” keluh Tuan Nam
“Rasa malu mungkin membunuhku, tapi aku akan mencoba dan bertahan di sana.” Ucap Yi Sang
“Foto-foto ini penting untuk bagian ini sehingga mereka butuh fotografer ahli, tapi lenganku patah. Aku tidak bisa cari uang dengan lengan patah yang artinya aku tidak bisa menyewa freelancer... Luar biasa... Aku harus jual studio.” Jerit Tuan Nam
“Cukup... Aku tidak bisa menatap mata Nona Jang lagi. Terserahlah sekarang!” balas Yi Sang 


Ha Ri menelp Pak Nam memberitahu kalau fotografer belum menghubunginya dan berpikir kalau masih belum menyewa fotografer. Tuan Nam mengaku ada orangnay disana sebagai rekanya jadi Ha Ri bisa melihat sekeliling.
“Apa? Rekanku? Apa... Aku menemukannya.” Ucap Ha Ri tersenyum melihat Yi Sang sudah menunggu dibandara.
Ia pun mendekati Yi Sang menyapanya dan langsung mengajak pergi.  Keduanya pergi ke minimarket, Ha Ri pikir Kenapa tidak telepon bilang bergabung dengannya karena mereka bisa berbagi tumpangan lalu menawarkan snack. Yi Sang langsung menolaknya.
“Bagaimana kalau cumi mentega atau dendeng?” tanya Ha Ri. Yi Sang tetap menolaknya.
“Bagaimana kalau kita minum setelahnya? Aku suka, alkohol membuatmu imut dan tulus.” Kata Ha Ri mengingat Yi Sang bergaya imut saat mabuk. “Ini bukan liburan, kau tahu...Tapi ini masih perjalanan.” Tegas Yi Sang.
“Apa salahnya membeli makanan ringan dan buat menyenangkan? Kita bahkan naik pesawat.. Luar biasa. Aku benci pesawat.” Balas Ha Ri
“Tapi kita tidak akan berlibur saja.” Ucap Yi Sang. Ha Ri pergi ke kasih memastikan kalau Yi Sang tidak mau makanan ringan.
Yi Sang langsung mengambil banyak makanan ringan, Ha Ri melonggo kalau kebanyakan. Yi Sang tak peduli. 


Di dalam pesan, semua pramugari memastikan penumpangnya lebih dulu. Ha Ri terlihat gugup. Yi Sang memastikan kalau Ha Ri baik-baik saja. Ha Ri mengaku hanya gugup sebelum pesawat lepas landas tapi akan baik-baik saja begitu kita di atas awan.
“Kau tidak sakit atau apa, kan?” ucap Yi Sang. Ha Ri mengaku tidak mencoba untuk relax
Saat itu pesawat mulai lepas landas, Ha Ri ketakutan memegang erat kursi sambil memejamkan matanya. Saat Yi Sang melihatnya akhirnya memegang tangan Ha Ri agar tenang. Ha Ri kaget sempat mengintip tapi karena takut memejamkan matanya kembali. 

Di ruangan, Jae Young terlihat gugup mencoba untuk bergaya yang bagi. Tapi saat itu Yeon Joo dan Sang Hee yang datang, Jae Young pun bertanya Apa Ha Ri tidak ikut dengannya. Yeon Joo memberitahu Ha Ri ada dinas ke Kota Mureung dengan Pak Han.
“Ke kota Mureung yang sangat jauh sendirian dengan Pak Han, tanpa anggota staf lainnya.” Ucap Jae Young lalu jatuh lemas.
“Mereka pergi bersama. Apa yang mereka lakukan di sana, mereka pergi berduaan? Apa banyak tempayan.” Bisik Jae Young

Saat itu pramugari memberitahu pilot telah mematikan tanda sabuk pengama Tetapi, karena mungkin ada turbulensi, harap tetap pakai sabuk pengaman saat duduk. Ha Ri langsung menarik tanganya, Yi Sang terlihat malu berusaha pergi.
Tapi kakinya tersandung kursi, Yi Sang pun jatuh tertulungkup diatas lantai. Pramugari memastikan keadaanya. Yi Sang seperti malu untuk kedau kalinya dan bergegas ke toilet. Ha Ri menatap tanganya yang disentuh oleh Yi Sang.
Sementara Yi Sang terlihat bingung karena sikapnya pada Ha Ri menatap wajahnya di cermin

“Mungkin dia bisa menjadi... Apa itu dia?Bus yang aku lewatkan. Ini selalu terjadi.” Gumam Ha Ri melihat sosok Yi Sang yang duduk disampingnya saat naik taksi.
Ha Ri mengingat saat menunggu bus tapi masih lama akhirnya memilih naik taksi tapi malah  macet dijalan dan bus yang akan dinaiki lewat disampingnya.
“Terutama saat aku terlambat untuk janji penting, bus tidak akan datang. Kalau aku naik taksi untuk menghemat waktu, kami terjebak kemacetan, dan bus yang aku tunggu melaju cepat di jalur ekspres bus” ucap Ha Ri membayangkan.
“Jika ketidaksabaranku mengambil kendali, dan membuatku melewatkan pertemuan yang ditakdirkan, Akankah aku menyesal tidak memegang tangannya nanti?” kata Ha Ri lalu mencoba membuka botol yang tak bisa terbuka seperti meminta pertolongan Yi Sang.
“Astaga... Dibuka dengan mudah...Mereka membuatnya dengan baik. Kau tahu... Apa Mau minum ini?” tanya Ha Ri. Yi Sang menolaknya
Tiba-tiba taksi mereka mengerem mendadak. Ha Ri mengeluh karena minumanya jadi jatuh. Yi Sang memberika sapu tanganya, tiba-tiba tanganya tersentuh oleh Ha Ri. Keduanya hanya bisa terdiam
“Aku memberimu saputanganku, bukan tanganku.” Kata Yi Sang. Ha Ri mengerti lalu melepaskan tangan dan telp berdering 


“Hei, Ha Ri... Haruskah aku memakai jubahku atau melepasnya?” tanya Jae Young
“Kenapa tanya padaku buat melepas pakaian? Tanyakan pada reporter di sana.” Kata Ha Ri. Saat itu Yi Sang terlonjak kaget.
“Keduanya terlihat bagus?” ucap Jae Young. Ha Ri meminta agar Berhentilah beranda karena membuatnya malu saja.
“Baiklah. Haruskah aku mengambil foto dengan jubah atau tidak?” kata Jae Young
“Lepaskan jika kau mau. Aku tidak peduli.” Keluh Ha Ri lalu menutup telp.
“Jadi Lebih baik pakai saja? Oke, aku mengerti. Bekerja keraslah.” Ucap Jae Young berpura-pura ditelp.
“Dia bilang aku terlihat baik pakai jubah.” Kata Jae Young dan Yeon Jo yang ada diruangan mencoba menahan emosinya. 

Yi Sang memastikan kalau Apa itu Dr. Yoon Jae Young. Ha Ri membenarkan dan kembali Jae Young kembali menelpnya. Ia pun mengeluh Apa lagi kali ini. Jae Young ingin tahu apakah harus duduk atau berdiri untuk foto, Akan lebih baik berdiri di dekat jendela terlihat keren.
“Taruhan saja lebih baik duduk di mejaku sehingga papan namaku kelihatan.” Kata Jae Young
“Duduk untuk foto dan tutupi ususmu.” Ucap Ha Ri marah. Jae Youn megerti dan meminta Ha Ri untuk berkerja keras. Yeon Joo hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya.

“Apa? Kenapa? Apa? Apa?” tanya Ha Ri kesal kesal Jae Young kembali menelpnya.
“Haruskah aku tersenyum atau tidak? Lebih baik tidak tersenyum, kan? Untuk terlihat serius dan profesional... Tidak. Tersenyum mungkin lebih baik... Ini rumah sakit setempat... Jadi akan lebih baik untuk terlihat ramah.” Ucap Jae Young
“Tutup saja leluconmu dan ambil fotonya, brengsek.” Kata Ha Ri mengamuk.
“Baik... Aku terlihat hebat dari dua arah? Apa?.. Cukup, Ha Ri.” Ucap Jae Young
Akhirnya Jae Young tak bisa menahannya memberitahu Jae Young kalau fotonya hanya ukuran kecil saja. Jae Young menahan malu mengak kalau ini tidak mudah.



Ha Ri akhirnya sampai ditempat, seseorang memberitahuDinamai Mureung karena tidak ada makam kerajaan, Untuk menyembunyikan lokasi kuburan para raja, mereka membangun kuburan palsu di sini jadi Ada legenda bahwa naga bangkit dari sana dan Begitulah kata pepatah.
“Ambil semua foto yang kau inginkan. “ kata si pria. Akhirnya Yi Sanbg pikir mengambil beberapa foto. Ha ri menganguk dan langsung mengikutinya.
“Aku pikir itu akan terlihat bagus.” Ucap Ha Ri melihat Yi Sang yang mengambil gambar diatas jembatan, seperti terkesima. 

“Iya. Jadwal resmi untuk hari ini sudah berakhir. Silakan mengambil lebih banyak foto... Kalau ingin lebih banyak mengenal, silakan juga. Terima kasih semuanya.” Ucap Si pria.
“Ha Ri. Menurutmu, kita butuh sesuatu yang lebih baik untuk foto utama?” kata Yi Sang.
“Haruskah kita ambil beberapa foto matahari terbenam?” tanya Ha Ri


Jae Young pulang bertanya pada Nyonya Lee  Apa Ha Ri belum pulang. Nyonya Lee tahu Ha Ri pergi ke Mureung jadi mungkin akan pulang terlambat dan mengajak untuk makan. Jae Young memberitahu kalau Fotografer adalah seorang pria.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu saat mereka bersama?” ucap Jae Young. Nyonya Lee bertanya Sesuatu seperti apa?
“Sesuatu yang menakutkan.” Kata Jae Young lalu bergegas masuk kama. 

“Aku ingin tahu apa kita perlu sampai menyewa mobil hanya untuk mengambil satu foto.” Ucap Ha Ri
“Kau bilang harga dirimu dipertaruhkan. Itu akan tertulis, "Foto oleh Han I Sang." Jadi harga diriku juga dipertaruhkan. Walau aku menolak untuk melakukan ini, aku tidak pernah memberi kurang dari 100%.”tegas Yi Sang. Ha Ri juga tahu
“Apa waktu kita cukup?” tanya Ha Ri. Yi Sang pikir mereka bisa pulang jika cepat-cepat.


Keduanya pun sampai ditepi pantai saat matahari terbenam. Yi Sang bertanya Bagaimana dengan foto ini untuk penjelasanya tentang Kota Mureung. Ha Ri terkesima hanya terdiam, Yi Sang bertanya ada apa. 
“Kau adalah fotografer pertama yang mengambil foto sambil memikirkan artikel. Itu sempurna.” Ucap Ha Ri
“Haruskah kita mengambil beberapa lagi?” ucap Yi Sang. Ha Ri menganguk menegrti. 


Sementara Jae Young keluar kamar, Nyonya Lee pikir  Ha Ri pergi ke sana untuk bekerja  jadi tak ada yang mungkin terjadi. Ia yakin anaknya itu pergi dinas beberapa hari dengan para pria dan tidak ada yang terjadi. Jae Young takut kalau Bagaimana jika sesuatu terjadi kali ini
“Kau pernah mendengar insiden seperti itu. Kau bekerja seperti orang gila dan ketinggalan kereta. Kau mencari tempat tinggal, dan hanya ada satu. Selain itu, mereka punya satu kamar kosong. Aku benci sekali hal-hal klise dan ofensif ini” kata Jae Young
“Kenapa dia tidak bisa pulang karena tidak ada kereta? Iya 'kan? Kecuali ada badai hujan...” ucap Nyonya Lee. 

Ha Ri ada ditepi pantai tiba-tiba bingung merasakan sesuatu, Yi Sang pikir mau hujan. Dna mereka pun bergegas masuk mobil karena hujan makin deras.
“Mereka tidak bisa pergi kemana pun, dan hujan. Pakaian mereka basah kuyup, dan kedinginan. Dan ketel di penginapan rusak.” Ucap Nyonya Lee
“Mereka harus berada dalam situasi dimana mereka tidak dapat membantu tapi berbagi suhu tubuh masing-masing. Saat itulah sesuatu akhirnya akan terjadi. Kau tidak tahu apa-apa.” Keluh Nyonya Lee
“Aku bahkan tidak mau memikirkannya.” Kata Jae Young mengelengkan kepalanya.

Ha Ri melihat pemberitahuan dari ponselnya kalau Penerbangan kita dibatalkan. Yi sang tahu kalau kalu Sopir bus ekspres mogok, dan tiket kereta semuanya terjual habis. Ha Ri pun bertanya apa yang harus dilakukan.
“Kita harus menyewa mobil sedikit lebih lama. Lagipula kita tidak bisa naik pesawat untuk pulang. Apa menurutmu kita bisa pulang? Selama jalan tidak terhalang karena tanah longsor, kita bisa pulang. Jangan khawatir.” Ucap Yi Sang yakin mengemduikan mobilnya. 

Di rumah, Nyonya Lee dan Jae Young menonton berita di TV “ Berita. Karena hujan lebat di barat daya, tanah longsor telah terjadi di Kota Mureung yang akhirnya menghalangi jalan pantai terdekat.”
“Pihak berwenang telah mengirim orang untuk segera membersihkan jalan, dan mereka mengumumkan akan memakan waktu sekitar 6 jam. Kami akan memperbarui informasi kami begitu kita mendengar lebih banyak.”
“Dia tidak mungkin di sana, kan?” tanya Nyonya Lee. Jae Young yakin itu Tidak mungkin.

Ha Ri tak percaya dengan yang terjadi pada dirinya dan juga Yi Sang karena terjebak karena badai hujan dan longsor karena Sepertinya seseorang merencanakan ini. Yi Sang merasa Ha Ri ber pikir kalau ia yang merencanakan ini
“Kaulah yang menyarankan agar kita datang ke sini. Aku tahu ada sesuatu yang aneh saat kau bersikeras menyewa mobil supaya kita bisa datang jauh-jauh kesini. Aku tidak percaya kau gunakan ini sebagai umpan. Itu adalah ide yang sangat bagus. Kau benar-benar membodohiku.”kata Ha Ri
“Kau bisa hentikan omong kosongmu? Lalu, maksudmu aku yang menyebabkan tanah longsor?” kata Yi Sang
“Tidak, tapi kau bisa melihat ramalan cuaca.” Ucap Ha Ri. Yi sang pkir lebih masuk akal Ha Ri lah yang membuat skenario ini
“Tidak, aku tidak ketinggalan zaman dalam hal romansa. Hal-hal semacam ini bahkan tidak terjadi dalam drama. Skenario semacam ini adalah untuk orang yang kuno sama sepertimu.” Ucap Ha Ri
“Apa? "Kuno"? Kau serius akan menyalahkanku?” tanya Yi Sang tak terima.
“Kita akan segera tahu. Tunggu dan lihat saja. Kita akhirnya tidur dan sarapan di penginapan yang dikelola oleh seorang wanita tua.” Tegas Ha Ri 

Keduanya pergi ke penginapan yang terlihat sedikit tua, lalu mencoba memanggil pemiliknya tapi tak ada yang menyahutnya.. Ha Ri bertanya Apa ini satu-satunya tempat yang bisa ditemukan, Yi Sang pikir juga lihat peta tadi dan Ini satu-satunya tempat menginap dan sarapan.
“Makanya. Aneh kalau kau pergi ke suatu tempat di mana hanya ada satu tempat tidur dan sarapan. Apa tidak ada orang di sini?” ucap Ha Ri memanggil
“Apa kau disini untuk menginap?” tanya seorang nenek dan tiba-tiba datang Ha Ri dan Yi Sang terlihat ketakutan.
“Ya, kami di sini untuk bermalam.” Kata Ha Ri. Yi Sang yakin dia akan bilang hanya ada 1 kamar yang tersisa.
“Ada 3 kamar.. Tapi, apa kau hanya membutuhkan satu kamar? Kau bisa menyewa seluruh kamar tambahan.” Kata si nenek
“Kami akan...Kami akan membayar kamar tambahan. Kami akan mengambil kamar masing-masing. Dan dia bahkan akan menggunakan kamar ekstra. Kami akan tidur secara terpisah. dan pastikan kita bahkan tidak menyentuh.” Ucap Yi Sang
“Lakukan sesukamu.” Ucap Si nenek lalu berjalan pergi. Keduanya pun mengucapkan terimakasih.
“Aku kira kita perlu menggunakannya untuk memasak nasi kita sendiri.”ucap Ha Ri melihat panci besar. Yi Sang merasa sepert itu.
“Tapi apa menurutmu bisa tidur di sini? Aku akan tidur di dalam mobil.” “ucap Yi Sang ketakutan
“Tidak, aku yang akan tidur di dalam mobil.” Ucap Ha Ri. Tiba-tiba si enek datang lagi, keduanya takut lagi.
Si nenek memberikan baju agar mereka bisa ganti baju. Keduanya menganguk mengerti dan akan menganti baju sambil memuji si nenek yang baik sekali.



Jae Young mencoba menelp Ha Ri tapi dimatikan lalu mengedor pintu Nyonya Lee memberitahu kalau Ha Ri masih belum pulang dan Ponselnya mati juga. Nyonya Lee dengan santai memberitahu kalau Ha ri bilang baterai lemah jadi tidak bisa pulang malam ini.
“Apa Dia akan tidur di luar? Dia dengan Pak Han, kan? Apa bibi akan membiarkan putrimu menghabiskan malam bersama seorang pria? Kau harus pergi ke sana dan menyeretnya pulang.”ucap Jae Young
“Aku sebenarnya senang putriku menghabiskan malam dengan seorang pria. Pria macam apa dia? Apa dia normal? Berapa umurnya? Dia punya rumah sendiri? Apa dia rajin?” kata Nyonya Lee penasaran
“Dia tidak punya apa pun, dan dia sudah sangat tua. Selain itu, dia terlihat sangat menakutkan. Dia punya kulit yang sangat gelap. Dia orang aneh. Aku tidak suka dia.” Kata Jae Young
“Lalu, kenapa kau tidak menikahi Ha Ri saja?” keluh Nyonya Lee melihat sikap Jae Young
“Aku hanya khawatir dengannya seperti kakak laki-laki.” Ucap Jae Young lalu berjalan berpergi.
“Jangan lampiaskan padaku. Kakak laki-laki apanya. Kau lahir sebulan kemudian.” Kata Nyonya Lee
“Tunggu sampai dia pulang. Aku akan beri anak nakal itu pelajaran.” Ucap Jae Young marah. 


Ha Ri mencoba mencari sinyal tapi ternyata ponselnya tak berfungsi, lalu melonggo melihat seseorang  yang datang dengan banyak kayu bakar. Yi Sang terlihat bangga dan mulai membakarnya. Ha Ri berkomentar kalau Yi Sang seperti anak desa.
“Apa Maksudmu? Orang mengira aku dari luar negeri. Mereka memanggilku Kevin, Daniel.” Ucap Yi Sang. Ha Ri pun bisa tahu.
“Kenapa membakar kayu bakar? Kami punya kompor gas. Ini kompor induksi. Apa itu sebabnya kau tidak dapat menemukannya?” komentar bibi datang
“Kami lihat kuali besi.” Ucap Ha Ri bingung. Si nenek mengakumenaruhnya di sana supaya membuat tempat itu terlihat bagus.
“Apa kau memasak nasi? Kami menyediakan makanan untuk para tamu. Kami membawanya ke kamarmu seperti layanan kamar hotel. Kalian sangat kuno.”komentar si nenek. Keduanya hanya bisa melonggo melihat menu makan diatas meja yang sudah disiapkan. 


Yi Sang melihat kalau ini Nyaman dan hangat dan memberikan semangkuk kopi untuk Ha Ri. Ha Ri mengaku belum pernah minum kopi dalam mangkuk. Keduanya pun minum bersama sambil menatap ke arah langit didesa. Ha Ri pun bertanya bagaimana akhirnya Yi Sang bisa terjun ke dunia fotografi.
“Ayahku biasa menikmati mengambil foto. Aku dulu mengikuti ayahku setiap kali ke studio foto untuk mencetak fotonya. Lalu, aku akan mengikutinya lagi begitu foto-fotonya sudah siap. Aku senang melakukan itu.” Kata Yi sang
“Aku kira itu sebabnya fotomu selalu begitu hangat. Fotomu sama sepertimu. Kembali di masa lalu, kita harus menunggu sampai foto keluar. Sangat menyenangkan menunggu foto itu.Seperti halnya aku tidak sabar untuk mencari tahu apa yang akan terjadi besok.” Kata Ha Ri
“ Aku lebih penasaran dengan hari ini. Aku penasaran bagaimana kita akan menghabiskan malam bersama.” Ucap Yi Sang. Keduanya saling menatap lalu terlihat gugup buru-buru meminum kopi mereka. 
 Yi Sang kelua dari kamar melihat Ha Ri yang sudah selesai mandi. Ha Ri membenarkan. Yi Sang pikir baru saja mau mandi lalu bertanya Apa mereka punya air pana. Ha Ri mengaku banyak. Keduanya terlihat sangat gugup. Yi Sang pun pamit sambil mengucapkan Selamat malam


Ha Ri berbaring diatas tempat tidurnya, tapi tak bisa tidur. Yi Sang pun merasakan hal yang sama akhirnya memilih untuk keluar dari kamar dan melihat ke arah kamar Ha Ri. Ia akhirnya memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar.
Kali ini Ha Ri yang keluar kamar mencoba mengirimkan pesan [Pak Han, apa kau masih bangun?] tapi mengurungkan niatnya dan kembali masuk ke kamar. Saat itu Yi Sang mendengar suara pintu kamar Ha Ri yang baru saja ditutup. 

Pagi hari, Ha Ri keluar dari kamar tak melihat Yi Sang akhirnya berjalan keluar dari penginapan dan melihat Yi Sang dalam ilalang, lalu berteriak memanggilnya dan bertanya Sedang apa disana. Yi Sang memberikan kode agar tak bersuara.
“Apa itu?” tanya Ha Ri bingung sampai akhirnya mendekat dan Yi Sang terus mengambil gambar dengan kameranya.
Saat itu burung bertebrangan, Ha Ri terkejut dan langsung mengeluarkan ponselnya. Yi Sang pun juga sibuk dengan kameranya dan saat itu tanpa sengaja mengambil gambar foto Ha Ri yang tersenyum bahagia dengan ponselnya.


“Astaga, anginnya. Rambutku berantakan.” Ucap Ha Ri panik lalu berlindung dibelakang Yi Sang. Yi Sang pun mengoda dengan bersembunyi dibalik tubuh Ha Ri karena Hari yang berangin.
“Jadi pria besar, aku yakin kau bisa memblokir angin untukku...” keluh Ha Ri kesal berlindung dibalik punggung Yi Sang.
Tapi Yi Sang malah membalikan badanya, keduanya saling menatap seperti sudah penuh cinta. Akhirnya Ha Ri memberikan diri mendekati Yi Sang seperti membuka hatinya selebar-lebarnya agar bisa masuk.
Bersambung ke episode 6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar