PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Senin, 25 Mei 2020

Sinopsis Oh My Baby Episode 4 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Beberapa anak remaja minum bir lalu botolnya ditendang seperti permainan. Yi Sang melihatnya langsun menegurnya kalau Sampah seharusnya dimasukkan di tempat sampah. Si anak mengeluh Yi sang terdengar seperti ayahnya.
“Kenapa kamu ikut campur? Biarkan saja mereka. Mereka tidak akan mendengarkan. Ayo pergi saja.” Bisik Tuan Nam
“Anak-anak.” Panggil Yi Sang langsung merekam dengan ponselnya.Tuan Nam panik mengajak pergi saja.
“Jangan merekam kami! Kamu pikir kamu siapa?”ucap si anak. Yi Sang menjawab kalau ia adalah orang dewasa.
“Kau seperti paman yang menyebalkan.. Astaga, aku tidak tahan lagi.” Ucap si remaja. Tuan Nam terus mengajaknya pergi.
“Hei, enyahlah.” Ucap si anak. Yi Sang menyurh si anak  ambil saja sampah kalian dan buang ke tempat sampah.
“Mari kita akhiri video ini dengan baik... Apa masalahnya?” kata Yi Sang tapi anak-anak langsung menyerang Yi Sang untuk mengambil ponselnya.
Yi Sang dengan sengaja merekam papan namanya "Kim Ho Jin". "Yoon Nam Joon." Si anak pun mencoba merampasnya. Yi Sang melempar ponselnya ke arah TuanNam yang kabur. Tuan Nam berjalan mundur malah tertabrak kotak minuman dan langsung terjatuh.
“Apa Kau baik-baik saja?” ucap Yi Sang panik. Tuan Nam merasakan pungungnya sakit. Yi Sang pun hanya bisa meminta maaf. 



Ibu Ha Ri menelp temanya membahas putra sulungnya menikah dan tidak tahu soal pernikahan itu. Ia pikir sudah mengirimkan uang untuk ucapan selamat lalu ingin tahu bagaimana dengan putra keduanya, apakah sudah menikah.
“Putra sulungmu, guru matematika itu. Apakah dia bercerai? Tidak?” ucap Nyonya Lee dan akhirnya menelp "Ibu Jong Gu, Salon rambut..."
“Astaga, kapan aku pernah menolak putramu?Kubilang kita harus menjodohkannya begitu dia kerja. Apa Dia masih menganggur?” kata Nyonay Lee akhirnya mencoretnya tak bisa menantunya.
“Astaga, tidak ada siapa pun.” Ucap Nyonya Lee kebingungan mencari jodoh buat anaknya. 
Ibu Ha Ri akhirnya ke bank, seoran pegawai muda menyapanya. Nyonya Lee mengaku kalau ingin meminta bantuan agar  melakukan sesuatu untuk putrinya. Si pegawai bingung. Nyonya Lee mengaku punya banyak uang. Jadi berniat membuat rekening tabungan atau berinvestasi dengan reksa dana untuknya.
“Biar kulihat.” Ucap Si pegawai melihat buku tangan Nyonya Lee. Nyonya Lee berkomentar pegawai itu memiliki kesan pertama yang bagus.
“Apa kau sudah menikah?” tanya Nyonya Lee. Si pegawai mengaku belum. Nyonya Lee pun tersenyum bahagia.
Saat itu telp berdering, sipegawai membahas popok dan lalu menutup telpnya. Nyonya Lee pikir pegawai itu pasti punya keponakan. Si pegawai mengaku punya seorang putra dan Istrinya melahirkan sebelum mereka  menikah.
“Ada investasi yang menjamin keuntungan tinggi. Apakah Anda tertarik?” kata si pegawai. Ibu Ha Ri langsung cemberut menjawab tidak lalu melangkah pergi. 



Dikelas les gitar, Ibu Ha Ri terkesima tertarik pada gurunya yang terlihat seperti pemusik handal dan akan menjodohkan dengan Ha Ri
“ Dia.. lumayan juga... Atau mungkin aku salah.” Ucap Ibu Ha Ri dan setelah kelas selesai masuk ke ruang guru.
Ia kaget melihat kepala gurunya terlihat botak dibagian depan kebelakang. Ia pun langsung bergegas menutup pintu. Akhirnya Nyonya Ha Ri duduk di halte dengan wajah sedih melihat beberapa pria bertanya-tanya Semua pria ini menikah dengan siapa
“Kapan aku menerima pesan?” ucap Nyonya Lee baru sadar “Besok adalah hari Anda menjalani gastroskopi.” Ia pun baru sadar kalau  Sudah tiga bulan?

Nyonya Shim masuk ruangan melihat tugas mereka masih banyak. Ha Ri pikir hampir selesai dan bertanya Kenapa menginginkan majala. Nyonya Sm pikir Apa gunanya membiarkannya menumpuk. Nyonya Sim pikir  bisa mengirimnya ke pusat layanan masyarakat dan pusat perawatan pascapersalinan.
“So Yoon, tuliskan daftar untukku.” Ucap Nyonya Shim. So Yoon mengerti.  Ha Ri pikir mungkin akan memberikan terlalu banyak.
“Bagaimana ini? Mereka tidak bisa menyediakan kendaraan tambahan. Tidak ada kendaraan ekstra.” Ucap Yeon So masuk ruangan dengan wajah kebingungan.
“Kenapa?” tanya Ha Ri. Yeon So memberikan alasn Karena berkurangnya pemotretan. Soo Yoon pikir Majalah sudah tidak setebal dahulu.
“Kita akan mengangkut ini sendiri. Siapa yang membawa mobil besok?” ucap Ha Ri
“Suamiku membawa mobil untuk perjalanan bisnisnya.” Kata Yeon Ho. Shim. Hyo Jo mengaku Mobilnya ada di bengkel.
“Kalau begitu, aku akan membawa mobil ayahku ke kantor besok.” Tanya So Yoon. 
“Apa Kau punya SIM?” tanya Nyonya Shim. So Yoon mengaku punya  tapi belum pernah mengemudi di jalanan.
“Siapa fotografernya besok? Tidak bisakah kita meminta bantuan?”kata Yeon Ho. 


Ha Ri melihat tangan Tuan Nam yang memakai gips.  Lalu menunjuk ke arah Yi Sang kalau dialah alasan kenapa lengannya cedera. Yi Sang mebela diri kalau Setidaknya sudah mengajari anak-anak itu untuk membuang sampah di tempat sampah.
“Kau orang dewasa yang menganggap serius tanggung jawabnya. Benar, kan?” ucap Yi Sang membela diri. Saat itu Ha Ri membalasnya dengan tatapan.
“Jelaskan tentang pemotretan besok.” Ucap Yi Sang akhirnya menyerah. 

Didalam mobil, Ha Ri memberitahu kalau Yi Sang  akan memotret acara itu dan akin Ini bukan sesuatu yang ingin dilakukan. Yi Sang pikir  hanya memotret sebuah acara jadi Apa yang harus disukai atau benci tapi hanya terkejut bekerja dengan "The Baby" lagi.
“Kenapa kalian selalu butuh begitu banyak bantuan kecil? Aku benci saat hubungan profesional menjadi tidak jelas.” Ucap Yi Sang
“Bukankah kita sudah cukup akrab untuk meminta bantuan kecil seperti ini?” ucap Ha Ri
“Benarkah? Kukira kau bahkan tidak mau melihatku lagi.” Kata Yi Sang. He Ri berkomentar Yi Sang itu sulit dipercaya.
“Kau merangkulku saat aku menangis waktu itu. Kenapa melakukan itu padahal kita tidak akrab?” ucap Ha Ri
“Kapan aku merangkulmu? Aku hanya menepuk punggungmu selagi kamu menangis.” Ucap Yi Sang
“Aku tadinya membencimu dan sekarang menyukaimu. Itu menakutkan, tapi kurasa perasaan itu tidak sama. Hanya aku yang mengira kita berteman.” Ejek Ha Ri. Yi Sang pun hanya bisa terdiam. 


Acara "The Mom" dimulai terlihat di spanduk  "Acara Peluncuran Tahun Kesepuluh The Mom" dan dimeja sudah tertulis nama "Do Rah" "Ibu Ji Yul" tapi ruangan masih kosong. So Yoon mencoba memastikan mic menyala dengan benar.
“Cukup. Kami mendengarmu dengan jelas.” Ucap Nyonya Shim kesal. So Yoon pikir kalau menyanyikan sebuah lagu
“Aku lebih suka kamu menelepon. Bukankah sudah satu jam?” kata Nyonya Shim.
Saat itu dua orang wanita datang, Ha Ri pun langsung menyapa keduanya sambil mengeluh kalau lama sekali dan akan menujukan kuri sambil memberitahu kalau yang lainnya belum datang.Salah satu ibu memberitahu Para ibu lainnya tidak akan datang.
“Kami datang untuk menyatakan pendapat” kata si ibu sinis. Ha Ri bingung apa maksudnya.
“Kau orangnya, bukan? Wanita yang mencoba membeli sperma secara ilegal. Bagaimana bisa seorang wartawan untuk majalah bayi melakukan hal seperti itu? Itu tidak etis.” Komentar ibu yang pertama
“Kami tidak bisa mendukung majalah saat moral jurnalisnya patut dipertanyakan.” Balas Ibu keduanya.
“Kupikir para ibu akan memahami keinginanku menjadi seorang ibu.” Kata Ha Ri
“Karena itu kami mengambil sikap. Kami ingin anak-anak dibesarkan di lingkungan yang benar. Kami menyadari bahwa ada wanita yang ingin membesarkan anak-anak saat belum menikah.”ucap Wanita pertama
“Tapi bagaimana dengan anak-anak yang akan tumbuh tanpa ayah? Anak-anak bukan mainan. Menurutku, melahirkan hanya karena kau menginginkannya adalah hal yang egois. Teganya kau melakukan ini kepada anakmu sendiri.” Kata ibu kedua
“Jika kau ingin keluarga, cobalah memelihara anjing atau kucing.” Sindir ibu. Ha Ri hanya bisa tertunduk diam.
“Dengar, Ibu-ibu! Kau Memelihara anjing saja? Kenapa kalian berkata begitu kepada pecinta anjing?” ucap Yi Sang membela. Ha Ri kaget meminta agar Jangan ikut campur.
“Aku tidak bisa menerimanya. Bukan keputusan kalian apakah dia membesarkan anjing atau bayi. Apa yang dilakukan Nona Jang? Dia tidak melakukan kesalahan.” Tegas Yi Sang membela
“Maaf karena membuat kalian tidak nyaman. Aku mengerti kekhawatiran kalian dan kalian bisa mengatakan itu karena kalian juga ibu. Namun, melakukan apa yang kalian pikirkan bukanlah niatku.” Kata Ha Ri menahan tangisnya.
“Aku bekerja bersama para ibu selama 15 tahun, jadi, kukira aku tahu bagaimana perasaan para ibu. Tapi kurasa... Ternyata aku tidak tahu. Aku ingin belajar bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dan memahami dunia ibu. Aku sungguh berharap mendapat kesempatan itu.” Jelas Ha Ri 




Tuan Joo masuk ruangan beberapa orang mencoba menghentikanya. Tuan Joo langsung menemui Nyonya Shim tak percaya dengan pendukung mereka itu menyatakan pemboikotan dan ingin tahu keberdaan Ha Ri sekarang. Nyonya Shim mengaku sedang menyuruhnya membersihkan gudang.
“Hari ini hampir usai, jadi, bicaralah dengannya besok.” Ucap Nyonya Shim
“Bu Shim, ini bukan sesuatu yang patut kamu bela. Astaga. Aku tidak tahu aku cukup berkuasa untuk melakukan itu. Aku ingin dia ke ruanganku begitu dia datang bekerja besok. Mengerti?” kata Tuan Jo marah. Nyonya Shim mengerti. 

Yi Sang mencoba menelp "'The Baby' Jang Ha Ri" tapi ponse Ha Ri tak aktif.  Ia pun pergi ke tempat cafaa biasa Ha Ri datang, tapi Ha Ri  tak ada. Ha Ri sedang duduk meminum Soju di warung tenda. Yi Sang pun melihat dari kejauhan.
“Kau tidak ada di cafe Jo Jo.” Ucap Yi Sang duduk di depanya. Ha Ri pikir Orang-orang dari kantor sering ke sana. Yi Sang pun menuangkan minuman.
“Kenapa kamu mencariku? Apa Kamu pikir aku akan menangis seperti anak kecil? Apa Kamu berharap bisa menepuk punggungku lagi?” ucap Ha Ri
“Itu karena aku butuh teman minum.” Ucap Yi Sang. Ha Ri mengaku banyak pikiran hari ini.
“Kenapa kau berbohong? Kau tidak memelihara anjing.” Kata Ha Ri. Yi Sang bertanya Bagaimana Ha Ri bisa tahu itu?
“Kau pasti sudah membicarakan anjingmu jika punya.” Kata Ha Ri. Yi Sang mengaku “Ddol Ddol-ku pintar.”
“Andai saja dia kembali setelah kabur 30 tahun lalu.” Ucap Yi Sang dan keduanya minum bersama
“Akankah para ibu memahamiku?” tanya Ha Ri khawatir. Yi Sang menceritakan  Orang tuanya selalu berdebat saat waktu makan.
“Ayahku harus minum segelas air sebelum makan, tapi ibuku bilang itu akan mengganggu pencernaannya. Setelah ayahku meninggal, ibuku selalu menyajikan air selama ritual leluhurnya.” Cerita Yi Sang mengingat saat ibunya membawa semangkuk air.
“Dia melakukan itu bahkan setelah mengatakan dia tidak memahami kenapa dia melakukan itu selama 40 tahun. Seseorang pasti tidak mengerti pada awalnya. Jika akhirnya kau memahami seseorang dalam hidupmu, itu berarti kau memikirkan orang itu selama itu.” Kata Yi sang.
“Itu manusia yang bahkan tidak bisa memahami dirinya, tapi memahami orang lain. Jika kau sungguh memahami, sikapmu akan berubah. Walaupun seharusnya tidak butuh 40 tahun.” Jelas Yi Sang
“Kenapa kamu datang?  Mungkin aku harus digendong pulang hari ini.” Kata Ha Ri
“Punggungku lebar... Itu akan nyaman.” Ucap Yi Sang mengoda. Ha Ri mengeluh mendenagrnya. Yi Sang tertawa mengajak Ha Ri untuk minum lagi. 




Keduanya berjalan bersama, Ha Ri berkomentar kalau Pak Nam benar kala Yi Sang itu orang baik. Yi Sang itu bertanya Apa yang membuatnya terllihat baik dan ingin detailnya. Ha Ri pikir akan Anggap saja Yi Sang itu orang biasa.
“Pak Orang Biasa, akankah kau terus melajang? Kau tampak seperti pria yang baik. Aku bertanya-tanya apa kau berencana tetap melajang.” Tanya Ha Ri
“Aku tidak ingin bersemangat. Bergantung pada seseorang dan kecewa, terluka, lalu menyukai mereka... Aku tidak kuat merasa bersemangat dengan cinta lagi.” Ungkap Yi Sang
“Jika aku jatuh setelah berusia 40 tahun, hidup tidak akan baik. Aku ingin hidup seperti sekarang. Dengan tenang. Tanpa ada kejadian apa-apa.”kata Yi Sang. Keduanya pun berjalan tanpa bicara sampai di penyebrangan jalan.
Keduanya berdiri di arah yang berbeda. Yi Sang lalu bertanya ”Tapi kenapa kau ingin menjadi seorang ibu?”  Ha Ri menjawab “Aku hanya ingin bahagia.”  Yi Sang pun hanya bisa terdiam. 


Pagi hari, Ha Ri berdiri dibelakang Nyonya Shim. Ketua Jo pikir Ha Ri sangat berdedikasi pada perusahaan dan melakukan promosi yang luar biasa untuk majalah tapi mendengar kalau Ha Ri juga menjungkirbalikkan komunitas ibu.
“Dia bilang sedang menyelidiki dengan menyamar, jadi, kita harus menulis artikel yang berisi itu untuk memperbaiki situasi ini.” Kata Tuan Jo membela
“Dia memberi tahu pembaca bahwa dia ingin punya anak!” teriak Tuan Jo marah. Tuan Joo membenarkan
“Jika ingin bekerja sama, kita harus meluruskan cerita kita.” Kata Tuan Jo. Tuan Joo membekarkan.
“Aku akan berusaha memperbaiki...” kata Ha Ri. Tuan Jo memperingatakan  Jangan ikut campur!
“Kau tidak punya anak, jadi, tidak tahu kebutuhan pembaca. Meski berhasil, aku tidak yakin soal menjadikanmu pemimpin redaksi. Kau hanya menimbulkan masalah.”kata Tuan Jo marah
“Karena itu aku berencana punya anak...” ucap Ha Ri yang langsung disela oleh Nyonya SHm.
“Aku tahu dari awal bahwa kamu dungu, tapi aku tidak tahu ternyata separah itu.” Kata Tuan Jo
“Kita akan mengadakan sidang pendisiplinan.” Ucap Tuan Joo
“Ini kali pertama dalam 30 tahun sejak kita memulai, jadi, itu tidak akan mudah. Melihat situasinya, kita akan bersikap sangat tegas.” Kata Tuan Jo 


Ha Ri hanya bisa tertunduk meminta maaf. Nyonya Shim pikir  Menodai citra perusahaan itu salah. Tapi sejujurnya, itu kehidupan pribadi Ha Ri dan . Mereka tidak akan mengurus hidupnya lalu mengumpat marah. Ha Ri hanya bisa melonggo mendengarnya.
**
Ha Ri menerma telpi dari ponselnya. Seorang perawat bertanya “Apa Anda wali Lee Ok Ran? dan memberitahu kalau Ini Rumah Sakit Besar. Ha Ri terlihat bingung.
“Kenapa tidak datang? Kami tidak bisa memulangkannya tanpa Anda.” Ucap si perawat. Ha Ri makin bingung. 

Akhirnya Ha Ri sudah duduk di lorong rumah sakit, Perawat memanggil Wali Lee Ok Ran. Ha Ri pun langsung bangun. Perawat memberitahu Nyonya Lee masih tidur jadi meminta agar menunggu dan akan mengabari saat keluar. Ha Ri menganguk mengerti
Ha Ri melihat pasien di ruaangan sebelahnya, Perawat memanggil “Wali Park Shi Ta. Seorang anak pun datang mendorong kursi roda untuk ibunya. Ha Ri mengingat ibunya datang untuk vaksinasi bayinya.
“Ini realisasi menyedihkan.  Bahkan saat melihat kerutan yang timbul di wajah Ibu, aku tidak peduli dan hanya menghitung usiaku.”
Ha Ri mengingat ibunya yang membawa ke rumah sakit, saat itu Ibunya pun datang kerumah sakit saat seseorang memanggil “Wali Jang Ha Ri?” ibunya hanya bisa menangis melihat anaknya.
“Karena seorang ibu adalah ibu, aku selalu berharap bisa mengandalkannya. Kenapa aku menganggap remeh bahwa dia waliku?” 


Perawat memanggil Wali Lee Ok Ran. Ha Ri pun langsung berdiri mengandeng lengan ibunya dan bertanya Ibu baik-baik saja. Nyonya Lee menganguk dengan wajah masih bingung karena anaknya datang.
“Selalu tiba saat seorang anak menjadi wali orang tua mereka. Pada saat itu, kita tidak punya pilihan selain menjadi orang dewasa.”

Ha Ri akhirnya pulang dengan ibunya. Jae Young pikir keduanya pergi ke tempat yang bagus. Ha Ri mengeluh mendengarnya. Nyonya Lee mengaku  Sebelumnya mereka mengizinkan ibunya sendirian. Jadi pergi sendiri tapi tidak tahu rumah sakit sudah mengubah kebijakannya.
“Kenapa Ibu ke rumah sakit sendirian seakan-akan tidak punya keluarga? Hanya aku yang tidak tahu Ibu menderita kanker perut. Aku menerima telepon di hari operasi seolah-olah itu piknik” keluh Ha RI
“Bagaimana... Seharusnya Ibu tidak melakukan itu pada putri Ibu. Kenapa Ibu menjadikanku putri yang buruk?” keluh Ha Ri
“Apa ada yang bilang kamu buruk? Semua orang tahu kamu bekerja lembur dan tidak bisa pulang. Jangan menghiraukan ibu, dan fokuslah pada pekerjaanmu.” Kata Nyonya Lee
“Bagaimana bisa aku tidak memikirkan Ibu jika Ibu sakit?” balas Ha Ri
“Ibu tidak sakit. Mereka bilang ibu baik-baik saja. Seharusnya kau makan dan tidur dengan teratur selagi bekerja” ucap Nyonya Lee
“Aku selalu membuat Ibu mengkhawatirkanku. Tidak bolehkah aku mengkhawatirkan Ibu? Sekalipun aku bersikap kekanak-kanakan, aku bisa mengurus Ibu, jadi, percayalah pada putri Ibu.” Balas Ha Ri
“Untuk apa kau merawat ibu? Ibu tidak sakit parah. Simpan omelanmu untuk anak-anakmu. Terima sperma atau terserah. Milikilah anak dengan cara apa pun. Menyebalkan sekali. “ keluh Nyonya Lee
“Tidak, itu... Kukira aku bisa membesarkan anak dengan baik, tapi aku tidak memikirkan anak yang harus hidup tanpa ayah. Aku serakah. Maksudku, aku baik-baik saja walau hanya memiliki Ibu, jadi...” kata Ha Ri
“Kukira aku bisa melakukannya dengan baik. Tapi seharusnya aku memikirkan anak itu dahulu. Kurasa aku tidak memenuhi syarat.” Tanay Ha Ri sedih
“Apakah seseorang mengatakan sesuatu?” tanya Ibu Ha Ri. Ha Ri menjawab tidak
“Orang tua punya anak karena mereka menginginkannya. Tidak ada bayi yang lahir dari kemauan mereka sendiri. Apa Kau pikir ibu melahirkanmu karena kau meminta pada ibu? Omong kosong apa yang kau ocehkan ini?” keluh Nyonya Lee
“Kau tidak belajar dan mengikuti tes untuk menjadi seorang ibu. Kamu menjadi ibu setelah melahirkan. Tidak ada lisensi untuk itu. Jangan bilang kau tidak memenuhi syarat.” Ucap Nyonya Lee
“Kau benar. Tidak ada lisensinya. Tapi jika ada tes lisensi untuk itu, skormu pasti yang tertinggi. Bersikap baiklah kepada ibumu. Omong-omong, menurutku ini bukan pertengkaran. Menyenangkan melihat kalian berbaikan dan berdamai.” Kata Jae Young
“Do Ah menangis. Kutinggal agar kalian bereskan. Aku sayang kalian.” Kata Jae Young lalu bergegas pergi. Nyonya Lee hanya bisa mengeluh  apa yang dilakukan Jae Young. 


Malam hari, Jae Young masuk ke rumah Ha Ri bertanya apakah tak mau minum dan mengajaknya minum,  Ha Ri menolak karena tidak mau menjadi pecandu alkohol seperti Jae Young.  Jae Young menegkasan akan menuntutnya karena memfitnah.
“Jangan lakukan itu. Aku muak dihukum.” Kata Ha Ri. Jae Young bertanya apakah Ha Ri serius.
“Apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya mengalami kesulitan dan kesengsaraan untuk menjadi seorang ibu.” Kata Jae Young
“Kalau dipikir-pikir, kamu bahkan tidak bertanya. Tidak ada yang menanyaiku kenapa, tapi  Yi Sang melakukannya. Dia bertanya kenapa aku ingin menjadi seorang ibu.” Ucap Ha Ri
“Adakah alasan lain? Kau ingin menjadi seorang ibu karena naluri keibuanmu.” Kata Jae Young
“Ya, kamu benar. Tapi dalam perjalanan pulang, aku tiba-tiba teringat hari wisudaku saat SD.” Ucap Ha Ri 


Flash Back
Ha Ri sarapa dengan ayahnya. Ibunya memperingatkan Jangan pelit dan beri anaknya buket yang besar lalu ambil banyak foto. Ayahnya menganguk mengerti seperti hanya mendengarnya.
“Jangan pergi ke tempat lain, ya? Jika kamu pergi, aku akan marah.” Pesan ibunya. Sang ayah mengerti 

Keduanya pergi bersama, Ha ri meminta ayahnya membelikan buket mawar yang besar. Tuan Jang mengerti tapi matanya sibuk menatap ponsel lalu memberitahu kalau harus membeli film untuk kamera jadi bisa pergi lebih dulu.
“Ayah tahu aku di kelas berapa?” tanya Ha Ri. Tuan Jang terlihat bingung.
“Aku di kelas 6-5. Di lantai empat. Apa Ayah bisa pergi ke sana?” tanya Ha Ri. Tuan Jang menyakinkan.
“Pergilah dahulu. Ayah akan segera ke sana.”ucap Tuan Jang lalu bergegas pergi. Ha Ri hanya bisa menatap buket bunga didepanya. 

Spanduk bertuliskan "Sekolah Dasar Ssanggang, Upacara Wisuda Ke-23, Selamat atas kelulusanmu" Semua orang sibuk mengambil foto dengan orang tuanya. Sementara Ha Ri hanya duduk sendirian memegang buket bunga tanpa sang ayah.
“Selama apa pun aku menunggu, ayahku tidak datang. Hanya aku yang berdiri di sana seorang diri, dan aku merasa malu karena rasanya semua orang menatapku. Tapi aku tidak bisa pulang. Karena aku tahu ayahku tidak akan pernah kembali.”
Saat itu seorang ibu datang menyapa Ha Ri yang duduk sendirian. Dan bertanya Di mana ayahnya. Ha Ri menjawab kalau tak tahu. Sang ibu pun mengajak Ha Ri untuk foto denganya dan menyuruh Jae Young ikut foto. Jae Young  mengeluh. Ibunya pikir keduanya berteman.
“Ayo Senyum.” Ucap Ibu Jae Young. Ha Ri mencoba untuk tersenyum.
“Kau terlihat sangat jelek sekarang.” Ejek Jae Young. Ha Ri langsung memukulnya dengan buket bunga. Keduanya pun akhirnya difoto terlihat seperti sedang berkelahi. 
Akhirnya Ha Ri masuk ke restoran "Kulit Babi" Ibunya sedang sibuk membersihkan meja. Ha Ri langsun menangis, Nyonya Lee bingung  bertanya ada apa dan Di mana ayahnya. Ha Ri masih saja terus menangis akhirnya Nyonya Lee hanya bisa memeluk anaknya.
Nyonya Lee pun memberikan  Ha Ri makan lalu  bertanya Apakah enak. Ha Ri menganguk. Ibunya membersihkan mulut Ha Ri yang kotor lalu memastikan kalau baik-baik saja tanpa ayah. Ha Ri menganguk dengan sangat yakin.
“Saat itulah aku berjanji menjadi orang yang hebat saat aku dewasa. Orang hebat seperti apa? Seorang ibu. Ibuku adalah orang terhebat di dunai ini. Seorang ibu.”  Ucap Ha Ri
Jae Young hanya bisa terdiam melihat foto kenangan dengan Ha Ri 


Tuan Kim berkumpul dengan semua pegawai berkomenatr Mereka mungkin akan memotong gajinya satu sampai tiga bulan. Yeon Ho merasa Tuan Kim pikir ini menyenangkan. Tuan Kim mengaku bukan itu tapi  khawatir karean Hal terburuk yang bisa terjadi pada pegawai adalah tidak digaji.
“Apa dia sungguh melakukan kesalahan sebesar itu?”tanya Eu Ddeum. Hyo Joo menjawab Dia mencoreng reputasi dan kredibilitas perusahaan.
“Seharusnya aku menangani para ibu itu dengan tenang.” Kata Yeon Ho merasa bersalah. 

Nyonya Shim akhirnya datang, semua ingin tahu  Apa yang terjadi. Nyonya Shi menjawab Mereka menskorsnya selama sebulan. Semua tak percaya mendengarnya. Tuan Kim memastikan kalau Ha Ri tidak akan digaji selama sebulan.
“Ini sulit dipercaya. Mereka tidak boleh menskorsnya untuk ini.” ucap Yeon Ho marah
Bagaimana kita akan memenuhi tenggat untuk proyek kita?” kata Hyo Jo bingung
“Jadi Di mana Ha Ri?” tanya Yeon Ho terlihat khawatir. 

Ha Ri berjalan keluar gedung dan Tuan Nam melihatnya langsung mengajar Ha Ri mengaku mendengar apa yang terjadi. Ha Ri pun tak memperdulikanya dan bergegas pergi. Tuan Nam pun melambaikan tangan perpisahan lalu menghampiri Yi Sang yang sedang berkemas.
“Dia diskors selama sebulan. Dia terlihat sangat marah, bukan?” ucap Tuan Nam. Yi Sang hanya menatap dari kejauhan.

Ha Ri pergi ke arcade dan langsung bermain tebak-tembakan, saat itu Yi Sang datang berkomentar Game ini untuk dua orang jadi Tidak bisa bermain sendiri. Akhirnya keduanya bermain bersama dan akhirnya mereka kalah.
“Kamu bersikap wajar, jadi, kupikir kamu penembak runduk.” Komentar Ha Ri
“Selanjutnya apa? Mau minum atau pergi ke pantai?” tanya Yi Sang. Ha ri mengaku  tidak stres lagi.
‘Mungkin aku diskors, tapi aku masih harus memenuhi tenggat.” Ucap Ha Ri berjalan pergi. Yi Sang hanya bisa tersenyum melihatnya.


Ha Ri akhirnya melakukan permotretan untuk anak bayi dan Yi San sebagai fotographernya.  Ia pun meminta sang anak agar bisa tersenyum dan membuat lelucon dengan meremas-remas tubuh Yi Sang. Yi Sang hanya bisa menatapnya. Ha Ri pun tersadar.
“Aku ingin dia menangis kali ini. Apa yang harus kulakukan?” kata Ha Ri lalu mencoba mengeluarkan suara harimau. Tapi bayi itu tak takut.
“Dia pria yang sangat jahat. Lihat aku memukul pria jahat ini. Jahat sekali!” kata Ha Ri. Yi Sang kembali menatapnya.
“Hei.. Dasar anak nakal... Dasar anak nakal!” kata Yi Sang dengan suara tinggi. Yu Bin langsun menangis ketakutan. Ha Ri berkomentar kalau Yi Sang itu punya bakat.

Yi Sang memanggil Ha Ri meminta agar memeriksa foto-fotonya. Ha Ri pun melihatnya dan memilih beberapa foto dan menurutnya semuanya bagus tapi harus menjadi foto utamanya. Ia pun langsung memuji Yi Sang denga hasil fotonya.
“Pak Han, aku terkesan.” Kata Ha Ri lalu memberikan cap ditangan Yi Sang "Kerja bagus!"
“Orang dewasalah yang benar-benar membutuhkan pujian. Kerja bagus, Pak Han.” Kata Ha Ri.
Soo Yoon memanggil Ha Ri kalau ibu bayi itu akan pergi. Ha Ri pun mengantarnya. Yi Sang menatap cap ditanganya lalu menatap Ha Ri yang sedang bicara lalu merasakan hatinya seperti mulai bergetar dan merasa kalau Ini gawat.
Bersambung ke episode 5

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar