PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 23 Mei 2019

Sinopsis My Fellow Citizens Episode 31

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

“Anggota Dewan, aku telah menyingkirkan Hoo Ja. Aku ingin mencoba berpolitik dengan benar. Sekarang aku tidak perlu  mencemaskan siapa pun lagi. Hoo Ja sudah tidak ada. Aku akan menjalankan politik yang ingin kujalankan, politik yang bermanfaat.” Ucap Jung Kook
“Kau akan membantuku, kan? Ada sesuatu yang harus dilakukan sekarang.” Kata Jung Kook yakin menatap berkas "Undang-undang Pengaturan Suku Bunga"

Joo Myung tak percaya kalau Jung Kook ingin menghentikan mereka dari mencabut undang-undang itu padahal  Hoo Ja yang mengusulkan itu dan Itu alasan Hoo Ja menempatkannya sebagai anggota dewan, tapi Jung Kook ingin menghentikan...
“Siapa yang tahu kapan dia akan bebas? Masa hukumannya masih belum dikonfirmasi.” Kata Joo Myung  khawatir.
“Ya, tapi sekarang dia tidak ada di sini. Kita harus menangani ini selagi dia tidak ada.”ucap Jung Kook
“Mereka sudah mendiskusikan ini. Bagaimana kamu menghentikannya?” tanya Joo Myung
“Itu sebabnya aku butuh bantuanmu.” Ucap Jung Kook. Joo Man pikir Jung Kook sudah gila karena tak ada alasan harus membantunya.
“Tidak, aku tidak akan melakukan ini.” Tegas Joo Man, Jung Kook menjelaskan kalau Pengaturan suku bunga melindungi mereka dengan finansial lemah terperangkap dalam jerat.
“Tujuan regulasi untuk melindungi orang berfinansial lemah dengan melarang pengambilan keuntungan berlebih. Itu tidak melarang pemberian suku bunga...” ucap Jung Kook yang langsung disela oleh Joo Man.
“Hei... Apa kau paham dengan ucapanmu? Jangan asal mengulang ucapan yang pernah kau dengar... Beri tahu aku pendapatmu. Kenapa kau ingin menghentikan pencabutan Undang-undang Pengaturan Suku Bunga?” kata Joo Mon
“Jika regulasi ini dicabut orang-orang yang sudah kesulitan akan makin sulit. Seorang anggota dewan tidak boleh melakukan itu.” Tegas Jung Kook
“Kau sudah banyak berubah sejak kali pertama kita bertemu. Apa kau menyadari hal itu?” komentar Joo Man
“Aku harus berubah. Aku rasa posisiku mengubah diriku.” Ucap Jung Kook bangga. Joo Myung  mengeluh kalau itu hanya omong kosong.
“Menurutku, kau menemukan posisi yang tepat. Jadi, bagaimana aku bisa membantu? Cukup berikan aku tiga hal.” Kata Joo Myung
“Koneksimu... Intelijen Dan strategi.” Ucap Jung Kook. Seung Yi menyusun name tag  "Mendukung, Menentang, Netral"
“Kita akan bertaruh dengan ketiga hal itu. Apa lagi yang bisa dilakukan bersama oleh profesional seperti kita?” tegas Jung Kook. Joo Myung berkomentar gerakan Jung Kook cepat juga lalu saling bersulang. 



Netral" lalu meminta agar mereka perhatikan ini baik-baik. Ia menjelaskan Dari 300 anggota dewan, ada 147 orang yang mendukung pencabutan undang-undang ini.
“Mereka semua berasal dari Parta Nasional. Sebanyak 140 orang dari Partai Minjin menentang. Lalu ada 13 orang dari pihak Partai Gonsojong dan Partai Sojang. Mereka netral. “ jelas Joo Man
“Tapi mereka hanya sekadar menyatakannya. Meski mereka menentang diadakannya rapat umum, kemungkinan besar itu akan lolos. Jadi, kita harus memastikan 14 orang dari mereka sama sekali tidak bisa menghadiri rapat agar tidak ada kuorum... Apa Kau mengerti?” kata Joo Man
“Ya, tentu saja... Apa yang pertama harus kulakukan?” tanya Jung Kook
“Pertama, kita dekati mereka. Kau harus dekat untuk bisa bicara dengan mereka. Pertama, kita incar wanita ini.” Ucap Joo Man memilih satu nama 


Jung Kook bermain tenis meja melihat seorang wanita tua yang terlihat gesit bermain juga. Seung Yi kesal dengan Jung Kook yang sengaja membuang bola jauh-jauh. Jung Kook menatap si nenek yang berdiri sampingnya teringat yang dikatakan Joo Myung.
“Byun Jae Jung, menjabat empat periode bersama Gyehyuk. Jika mendapatkan dia, suara tiga anggota Gyehyuk lain milik kita.”
Seung Yi akhirnya dengan sengaja melempar bola ke arah Nyonya Byun, Jung Kook langsung mendekat meminta maaf, lalu berpura-pura kalau didepanya itu adalah Anggota Dewan Byun Jae Jung. Nyonya Byun menganguk. Jung Kook berkata kalau itu memang kebetulan.
“Apa kau suka tenis meja? Senang berjumpa denganmu. Aku Anggota Dewan Yang Jung Gook dari Seowon... Kalau tidak keberatan, mau main bersama? Bagaimana?” kata Jung Kook. Nyonya Byun pun setuju.
“Dia sangat kompetitif. Dia hidup dengan perasaan itu. Jadi, jangan meremehkan dia. Lakukan yang terbaik. Kalian bisa minum-minum setelah kau menang dan bicara soal regulasi ini. Misalnya, "Bukankah disayangkan jika itu dicabut?"” saran Joo Myung
“Tapi usianya sudah 70-an. Aku tidak bisa melakukan itu Aku tidak bisa melakukan itu.” Kata Jung Kook 
Nyonya Byun yang terlihat sudah tua tapi masih gesit untuk berolaraha. Jung Kook sempat kaget lalu mengaku terkesan karena Nyonya Byun itu sangat hebat dalam tenis meja. Nyonya Byun bermain satu ronde lagi dan Jung Kook bisa mengalahkanya.
“Pak Yang, kita sudahi saja.” Kata Nyonya Byun yang mulai kelelahan. Jung Kook mengeluh karena baru satu pertandingan. Akhirnya Nyonya Byun kembali bermain tapi langsung jatuh.
“Berdiri! Ayoo.. Berdiri! Kita harus bertanding satu kali lagi!” kata Jung Kook melihat Nyonya Byun tak terlihat
“Ada yang salah” ucap Seung Yi melihat Nyonya Byun tergeletak di lantai. Jung Kook pun mendekat menyadarkan Nyonya Byun lalu meminta agar memanggil ambulance. 
“Dia menderita angina. Dia akan dirawat di rumah sakit selama satu bulan.” Kata Joo Myung. Jung Kook hanya bisa tertunduk meminta maaf.
“Tidak apa-apa... Kau tidak tahu, maka kau melakukan itu. Jangan dipikirkan. Jangan cemas... Sekarang Baiklah. Kita incar dia.” Ucap Joo Myung mengambil nama yang lainya. 



Seorang pria sedang minum-minum bersama dengan rekan kerjanya, Charles dan Jung Kook duduk tak jauh dari keduanya. Joo Myung memberitahu kalau target mereka kali ini Pria yang sangat suka minum-minum
“Jadi, kau minum sebentar bersamanya lalu memberi tanggapan di saat yang tepat. Dan katakan kita butuh regulasi ini.” Ucap Joo Myung . Akhirnya Jung Kook mulai minum.
“Menurut pandanganku, suku bunga...” ucap Jung Kook mulai bicara tapi Pria itu mengajak untuk minum dulu dan bisa bicara nanti. Jung Kook pun menurut.
“Akan kuulangi... Suku bunga...” kata Jung Kook kembali minum, tapi Si pria tetap menyuruh Jung Kook kembali minum bahkan meminta agar menghabiskan satu gelas penuh soju.
Jung Kook dan Charles tak tahan lagi akhirnya mulai mabuk, mengajak anggota dewan untuk bermain “Es krim terbaik. 44.” Dengan gaya imut. Anggota dewan terlihat kesal melihatnya, Jung Kook tetap meminta agar bermain dan melihat si pria itu sudah kalah. Akhirnya Anggota dewan yang kesal pun memilih untuk pergi. 


Jung Kook merasa bersalah karena banyak minum, Joo Myung pikir tak perlu dibahas lagi karena ini bukan salah Jung Kook tapi utu pengaruh alkohol, lalu memilih nama lain yaitu  Jang Doo Bong dari Partai Changjo.
Wang Go menjatuhkan makan tak percaya kalau Tuan Jang sedang melakukan demo sendirian "Mogok Makan Jang Doo Bong, Perbaiki Undang-undang Pemilu" Joo Myung memilih Kang Mi Ja dari Partai Kebahagiaan kalau akan membujuk dia.
“Anggota Dewan Kang?” kata Jung Kook melihat seseorang, Tuan Kang membalikan badan. Jung Kook menjatuhkan hadiahnya yang berisi sepatu heels seperti salah mengira.
“Cho Sung Chan...Kim Mi Ok... Cha Min Joon... Baek Gil Soo... Cho Sung Jin... Min Byung Soo.” Ucap Joo Myung berganti dan semua yang Jung Kook temui diruangan tak mau menerimanya.
“Baek Chang Jin... Dia harapan terakhir kita... Tidak ada yang lain lagi.” Kata Joo Myung. 


Jung Kook bicara dalam sebuah rapat, membahas Senjata nuklir ilegal adalah masalah serius dalam perkembangan industri permainan. Ia juga mengaku pernah diserang nuklir jadi Itu hal yang paling menghina dan menyebalkan.
“Nuklir harus dieliminasi... Tentu. Para bajingan yang menggunakan nuklir adalah penjahat paling keji.” Ucap Jung Kook lalu terdiam melihat sepanduk yang baru saja di pasang kalau ada di forum "Denuklirisasi Semenanjung Korea"

Jung Kook mengumpat kesal pada dirinya dan semua orang akhirnya keluar dari ruangan. Jung Kook mengeluh karena harus menyinggung masalah nuklir, Tuan Baek mendekat mengaku suka tanggapan Jung Kook karean Baik mengenai Semenanjung Korea atau permainan, mereka pasti ingin nuklir dihapuskan.
“Maaf... Aku mendapat informasi yang salah mengenai seminar ini.” Kata Jung Kook
“Undang-undang Pengaturan Suku Bunga. Maksudmu tentang itu, kan?” ucap Tuan Baek. Jung Kook membenarkan tapi binggung karena Tuan Baek bisa tahu.
“Kami tahu kecenderunganmu mengenai hal itu. Tentu, kita sepakat dalam beberapa sudut, tapi aku tidak akan seperti yang kau harapkan.” Kata Tuan Baek
“Kenapa Anda berpikir seperti itu?” tanya Jung Kook. Tuan Baek memberitahu Partai Gongsojang memiliki terlalu banyak RUU yang terhubung dengan RUU Partai Nasional
“jadi, kau tidak bisa membujuk mereka. Para anggota dewan dari partai kami... Kau tahu pemilu akan diadakan tahun depan.” Ucap Tuan Baek. Jung Kook bertanya Ada apa dengan itu.
“Kabar telah tersebar bahwa Kim Nam Hwa akan menjadi pemimpin partai yang baru. Apa kau tidak dengar? Pokoknya, pemimpin partai berikutnya akan mengusulkan untuk mencabutnya. Mengerti? Bagaimana mungkin kami menentang? Itu namanya mencari masalah. Kamu setuju, kan?” jelas Tuan Baek.
“Tunggu. Anggota Dewan Kim Nam Hwa akan menjadi pemimpin partai?  Apa? Dia sedang diselidiki oleh polisi karena menerima suap. Bagaimana dia bisa... Aku tidak mengerti...” kata Jung Kook binggung.
“Anggota Dewan Yang.... Kau tidak perlu tahu... Kau ini naif. Apa yang paling membuat seorang politikus menderita? Manipulasi politik. Lalu apa alasan yang paling sering digunakan politikus...” tegas Tuan Baek. 
 Tuan Kim berjalan dikeberobungi oleh reporter, mengaku kalau itu adalah manipulasi politik. Semua wartawan mengikuti Tuan Kim sampai ke depan ruangan, Tuan Kim meminta wartawan aga memikirkan lagi kalau dirinya tak  mungkin seorang politikus menerima suap dari seorang lintah darat?
“Apa itu masuk akal? Aku tertawa saat mendengar itu. Itu Lucu, bukan? “ ucap Tuan Kim
“Polisi bahkan memiliki catatan transaksi dari bukti penerimaan suap itu. Apa ada tanggapan mengenai hal itu?” tanya wartawan.
“Dengar... Aku baru saja mengatakannya. Ini semua sudah direncanakan. Ini manipulasi politik. Sekarang, pikirkanlah... kalian Berhenti memotret.. Jangan difoto... Coba pikirkan... Sejujurnya... Jika aku menerima suap, untuk apa aku menyimpanny di rekening bank sendiri?” ucap Tuan Kim
“Itu bukan tabungan. Baiklah... Aku sudah menjelaskan situasiku dengan jelas. Terima kasih.” Tegas Tuan Kim dan masuk ke dalam ruangan, wartawan terus mencoba mencari informasi sampai akhirnya ass Tuan Kim mendorong keluar. 

Tuan Kim yang marah menjatuhkan semua barang diatas meja.  Gwi Nam menelp Tuan Kim ingin tahu cara Tuan Kim membebaskan Pimpinan Park dan tidak mengatakan apa pun. Tuan Kim yang kesal memberitahu kalau nyaris dipenjara.
“Bisa-bisanya kau memintaku untuk membebaskan Pemimpin... Dasar lugu.” Ucap Tuan Kim marah. Gwi Nam tak bisa menahan emosinya.
“Kau bilang "Hei, kamu." Apa? Aku sampaikan ini untuk kali terakhir. Aku akan menangani regulasi suku bunga sesuai perjanjian, jadi, jangan pernah menghubungiku lagi. Aku akan mengganti nomorku. Jika kamu menghubungi lagi, maka aku akan melumatkanmu. Paham? Selamat tinggal.” Tegas Tuan Kim
“Hei, Kim Nam Hwa!” teriak Gwi Nam marah dan kaget melihat Jin Hee tiba-tiba datang ke ruangan. 

“Apa Kau tidak menyapa Kakakmu?” sindir Jin Hee. Gwi Nam bertanya alasan kakaknya datang.
“Apa lagi tujuan kakak ke kantor? Kakak datang untuk bekerja... Lalu Kenapa ini masih ada di sini? Sudah kusuruh untuk menyingkirkannya.” Kata Jin Hee ingin membuang papan nama  "Park Hoo Ja"
Gwi Nam menahanya, Jin Hee memperingatkan adiknya agar melepaskan tanganya.  Gwi Nam tetap menahanya, Jin Hee marah menyuruh adiknya melepaskan dan akhirnya menampar adiknya, Gwi Nam ketakutan menutupi wajahnya.
“Hoo Ja...Dia masih belum diberi hukuman, jadi, tolong...” ucap Gwi Nam, dan Jin Hee kembali memberikan tamparan pada sang adik.
“Sejak kapan adik kecil kita ini berhenti mendengarkan Kakaknya?” ucap Jin Hee terus memukul adiknya sampai jatuh tersungkir.
“Hei... Adik kecil... Kita akan segera mengadakan rapat pemegang saham. Kakak akan menjabat sebagai pimpinan. Kami sudah memutuskan itu. Jadi, tolong dengarkan ucapan Kakakmu. Mengerti? Adik kecilku sayang.” Ucap Jin Hee duduk dikursi Hoo Ja. Gwi Nam melirik sinis pada sang kakak dengan wajah yang terluka. 



Gwi Nam menemui Hoo Ja di penjara. Hoo Ja mengetahui kalau para tetua itu berpihak pada Kakak Pertama. Gwi Nam memberitahu kalau melihat mereka sudah menjadwalkan rapat dan menyiapkan agenda, Jin Hee sudah memanipulasi para tua bangka itu dan menanti waktu yang tepat untuk mengusir Hoo Ja.
“Makin tua, kau harus lebih pendiam dan lebih banyak mentraktir. Tapi kenapa kita tidak mengenal orang yang seperti itu? Mereka banyak bicara dan sama sekali tidak ingin memberi bantuan. Lalu? Apa yang dilakukan Jung Gook belakangan ini?” tanya Hoo Ja.
“Sepertinya dia berupaya untuk mencegah pencabutan. Tapi usaha itu sia-sia.” Kata Gwi Nam, Hoo Ja menganguk mengerti.
“Saat terkurung di sini, aku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Jadi, aku banyak "berpikir", dan sangat yakin sudah mengosongkan seluruh brankasku.” Ucap Hoo Ja mengingat lagi. 


 Flash Back
Hoo Ja mengeluarkan semua berkas meminta adiknya agar  Hancurkan setelah menyalin di komputer. Tapi saat Mi Young datang ada berkas lain di dalam brangkas yang membuatnya masuk ke penjara.
“Kenapa ada tumpukan kertas konyol di dalam sana? Aku berulang kali memikirkan itu.” Ucap Hoo Ja.
Jin Hee datang ke kantro adiknya meminta agar menemuinya di Lobby, dan Hoo Ja merasa sudah memikirkan itu kalau hanya ada satu jawaban setelah bertemu kakaknya, Jung Kook masih ada didalam ruanganya dengan alasan masih belum selesai bicara tentang Mi Young. 
“Apa Maksudmu... Jung Gook dan Kakak Pertama bekerja sama?” kata Gwi Nam
“Kemungkinan besar itu yang terjadi... Tidak, aku yakin itu... Sudah kukatakan, aku banyak berpikir... Di sini hanya bisa makan, buang air, dan berpikir. Bahkan aku memikirkan cinta pertama masa kecilku.” Akui Hoo Ja
“Sekarang kita harus bagaimana?” tanya Gwi Nam pikir mereka harus menjatuhkan Jung Gook dan...
“Tidak. Terlalu berbahaya jika kamu bergerak sendiri. Mari kita hubungi Kakak Ketiga.” Kata Hoo Ja. Gwi Nam kaget memastikan kalau itu adalah  Mi Hee.
“Hanya dia yang bisa memperbaiki ini.” Ucap Hoo Ja yakin, Gwi Nam pikir Min Hee tak akan membantu mereka dengan cuma-Cuma.
“Tentu dia tidak akan membantu dengan cuma-cuma. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan. Kita belum menemui kakak kita yang menikahi pria kaya, Minta dia untuk berkunjung. Aku sendiri yang akan membuat kesepakatan dengannya.”ucap Hoo Ja
“Aku tidak suka harus bertemu dengannya. Aku tidak tahan bertemu dengannya. Dia hanya satu tahun lebih tua dariku.” Kata Hoo Ja mengumpat kesal 

Jung Kook  membahas Jika mereka mendapatkan Kim Nam Hwa, maka mereka bisa mencegah pengambilan suara RUU untuk mencabut regulasi suku bunga. Joo Myung memberitahu kalau Pemimpin partai adalah raja dan membahas kalau Kasus suap Hoo Ja tidak banyak berpengaruh.
“Berdasarkan informasi anggota dewan lainnya, dia akan terus mengelak dan mengulur waktu hingga pemilihan umum tahun depan. Saat itu, jika dia terpilih sebagai pemimpin partai, kasus itu mungkin sudah mati.” Tegas Jung Kook
“Sudah ada yang menggunakan cara seperti ini di masa lalu. Berulang kali menyangkal dan mengulur waktu. Sungguh sangat menyedihkan.” Komentar Jung Kook menyindir dan semua orang menatap Joo Myung.
“Apa? Ada apa? Kenapa kalian menatapku? Kenapa tatapanmu seperti itu? Itu caramu menatap Paman!.” Kata Joo Myung pada Wang Goo.Wang Go mengaku kalau ini bukan tatapan hormat
“Jadi, bagaimana rencanamu untuk menjatuhkan Kim Nam Hwa?” tanya Joo Myung
“Aku berharap kita bisa menangkap dia berdasarkan kejahatannya, tapi kita tidak mampu melakukan itu.” Jelas Jung Kook
“Kenapa tidak minta bantuan Mi Jin? Sudah lama kita tidak bertemu dengannya.” Kata Wang Goo dengan penuh semangat, Seung Yi tak setuju.
“Kita menggunakan pesan phishing untuk mengambil data dari ponselnya. Memangnya itu kejahatan? Itu hanya sebuah kecurigaan. Kita yang melakukan kejahatan. Meretas, menyebarluaskan informasi pribadi, dan lain-lain.” Jelas Jung Kook
“Kita butuh bukti langsung dan membawanya ke jalur resmi. Jika menemukan bukti, kita bisa memberikan itu kepada istrimu.” Kata Joo Myung
“Detektif Kejahatan Intelektual tetap saja polisi. Kita bisa pikirkan soal itu saat punya bukti. Bagaimana mendapatkan bukti melawan Kim Nam Hwa? Aku tidak bisa menemukan caranya.” Kata Jung Kook
“Kenapa tidak? Kita bisa tanyakan langsung. Biar kutanyakan.” Kata Joo Myung
“Dia tidak akan memberitahumu. Kalian bahkan tidak akrab.” Komentar Jung Kook.
Joo Myung yakin karena sudah lama menjadi anggota dewan jadi Kedudukannya paling tinggi di Partai Nasional. Ia pikir Jung Kook tak perlu cemas karena akan membuat nyaman hingga Tuan Kim mau bicara. Jung Kook pun mempercayainya. 




“Nam Hwa, mari minum. Para ajudan juga...” ucap Joo Myung mulai minum, tapi Tuan Kim duduk dimeja lainya, seperti Joo Myung sudah disingkirkan.
Jung Kook mengetahui kalau Joo Myung yang tidak menjawab teleponnya. Charles memberitahu ponsel Joo Myung yang mati.  Jung Kook pun berpikir tak perlu memikirkan lagi karena akan membawa seseorang. Seung Yi bertanya siapa orangnya, apakah Orang yang dekat dengannya.
“Hanya seseorang yang cukup dekat, tapi tidak terlalu dekat. Seseorang yang membuat merasa nyaman tapi tidak juga.” Kata Jung Kook. 

Di sebuah rumah yang terlihat seperti gubug sederhana, Sang Jin memasak dengan kayu bakar seperti kembali ke masa jaman dulu. Jung Kook melihat dari kejauhan seperti kasihan tapi seperti senang melihat Sang Jin yang terlihat santai.
Jung Kook duduk menunggu sempat mengerutkan dahi melihat Sang Jin yang memiliki alat pembuat kopi otomatis sementara yang lainya masih bersifat manual. Sang Jin memberikan kopi untuk adik iparnya. Jung Kook pikir  Sang Jin pasti merasa mesin pembuat kopi dan semua yang dipunya ini tidak cocok.
“Rumah ini sangat alami... Aku bukan orang yang pemilih, tapi menjadi pemilih soal kopi.” Kata Sang Jin lalu melonggo medengar ucapan Jung Kook.
“Apa Kau ingin aku menggali hal buruk Nam Hwa?” kata Sang Jin, Jung Kook membenarkan dan memohon.
“Kenapa orang yang berada di partai yang sama melakukan itu? Tidak, aku tidak bisa.” Kata Sang Jin menolak
“Kamu harus melakukan itu karena dia ada dalam partaimu. Memang kau tidak muak dengan budaya politik kita? Mereka membutuhkan nominasi untuk pemilihan berikutnya, jadi, apa pun keputusan partai, mereka harus setuju” kata Jung Kook
“Jika pemimpin partai memilih ini, mereka harus mengikuti. Jika memilih sisi satunya, mereka bergegas ke sana. Itu bukan melayani rakyat. Itu melayani partai.” Tegas Jung Kook
“Meski akan terjadi, aku tidak bisa.” Kata Sang Jin menolak. Jung Kok kembali mengulang yang dikatakan Sang Jin sebelumnya.
“Hukuman paling berat dari menjauhi politik adalah kau harus bekerja seumur hidupmu. Aku banyak berpikir saat menggeluti politik selama beberapa bulan ini. Hukuman paling berat dari menjauhi politik adalah kau harus hidup dengan cara yang sama selama sisa hidupmu.” Ucap Jung Kook
“Para pemilih yang memilihmu hidup seperti itu, dan anggota dewan yang terpilih harus hidup seperti itu. Kecewa, frustrasi, sedih, tanpa mencoba berubah. Cara yang sama persis. Itu cara hidup mereka, tersakiti setiap empat tahun.”jelas Jung Kook
"Seperti itulah politik." Bersembunyi di balik ucapan itu dan tidak mencoba berubah? Itu yang dilakukan para profesional. Orang-orang baru seperti kita seharusnya berbeda. Mari bersikap seperti orang naif yang bodoh dan penggal kepala orang-orang jahat serta menciptakan dewan yang sungguh peduli kepada rakyat.” Jelas Jung Kook.
 Akhirnya Jung Kook dan Sang Jin pergi ke Seoul, Jung Kook bertanya sudah berapa kali bertemu dengan Kim Nam Hwa. Sang Jin mengaku baru bertemu secara resmi satu kali. JungKook kaget dan mengartikan  harus menemuinya lagi.
“Ayo kita ke kantornya!” ucap Jung Kook. Sang Jin kaget akan pergi sekarang dan akan mengatakan apa nanti. 



Sang Jin tiba-tiba masuk ruangan menanyakan kabar Tuan Kim, Tuan Kim kaget dan binggung bertanya alasan datang. Sang Jin mengaku hanya kebetulan lewat. Tuan Kim dengan gugup mengaku senang sambil berjabat tangan bertanya apakah ingin teh. Sang Jin pun tak menolaknya. 

“Apa kau sungguh pergi setelah minum teh? Kau ini kenapa? Seharusnya kau bicara.” Keluh Jung Kook bertemu dengan Sang Jin
“Dia hanya bilang minum teh. Aku bisa apa lagi?” ucap Sang Jin yang tak bisa berpura-pura.
“Itu sekadar ucapan. Jika ada yang menyuruh "kerja keras" apa kau akan melakukannya? Kenapa kau lugu sekali?... Yang benar saja. Sering-seringlah temui dia mulai sekarang... Sampai kalian menjadi akrab.” Kata Jung Kook melangkah pergi
“Bagaimana kami bisa akrab?” tanya Sang Jin bingung berteriak pada Jung Kook tapi Jung Kook tetap pergi.
**
Bersambung ke episode 31
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar