PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 07 Mei 2019

Sinopsis My Fellow Citizens Episode 21

PS : All images credit and content copyright : KBS
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Mi Young berbaring memeluk Jung Kook mengaku sangat  bahagia sekali dan berharap mereka bisa  selamanya seperti ini. Jung Kook berjanji kalau Tidak akan ada kejadian buruk lagi lalu mengecup kening istrinya. 

“Jung Gook adalah penipu... Kim Mi Young dan seluruh keluargamu ditipu oleh Jung Gook.” Ucap Hoo Ja. Sang Jin menatap tak percaya mendengarnya.
“Kau tidak percaya kepadaku, kan? “ kata Hoo Ja. Sang Jin seperti masih tak percaya yang dimaksud adalah suami adiknya adalah seorang penipu.
“Siapa yang akan dengan mudah mempercayai itu? Kau tidak punya bukti yang solid.” Kata Sang Jin.
“Bukti? Kau pasti suka bukti... Baiklah... Aku akan memperlihatkan sesuatu yang lebih baik daripada bukti.” Kata Hoo Ja 

Ia lalu menelp seseorang menyuruh agar membawanya masuk,  lalu sambil mengeluh kalau keadaan seperti ini membosankan sekali. Hoo ja lalu memberitahu kalau Tuan Choi adalah Manajer utama penagihan mereka, dengan nama panjang Choi Pil Joo.
“Keahilannya adalah mencari orang yang mengambil uang kami dan mencoba bersembunyi. Kali ini, Emm .. Apa dia pergi ke Panama?!! Suatu tempat seperti itu. Dia menggunakan kartu kredit perusahaan dan terbang dengan kelas bisnis. Dasar Brengsek.” Ucap Hoo Ja sambil melihat kukunya.
“Bagaimanapun, dia menemukannya. Jadi, aku tidak banyak mengeluh. Saat dia tiba di sini, tepuk punggungnya karena dia sudah bekerja dengan baik. Itu tidak membuatmu dipungut biaya.” Kata Hoo Ja lalu mendengar pintu ruangan diketuk. 



Hoo Ja memberitahu kalau Tuan Choi akhirnya datang yaitu Seorang saksi lebih baik daripada bukti, Saksi hidup yang bisa bicara. Sang Jin terlihat tegang menunggu yang datang, terlihat mantan pacar Jung Kook yang datang bersama dengan Tuan Choi.
“Sekarang, apa kau menyukai jawabanku, kandidat tersayangku?” ucap Hoo Ja menyindir.
“Hanya itu yang bisa kuberi tahu kepadamu.” Ucap Mantan Jung Kook memberikan pernyataan pada Sang Jin.
“Silakan pergi jika sudah selesai... Pak Choi... Carikan kamar hotel untuknya Dan awasi dia.” Perintah Hoo Ja.
“Baik, Bu... Hei Kau... Lekas jalan. Jangan berlama-lama... Dasar penipu.” Ucap Tuan Choi mengajak mantan Jung Kook pergi.
“Menurutku itu sudah cukup untuk saling percaya sekarang. Bagaimana jika kita membicarakan bisnis sekarang? Jika aku memberimu 15 persen milik Jung Gook, nilainya adalah 43 versus 39. Kau akan mengalahkan Kang Soo Il dengan empat persen.” Kata Hoo Ja yakin.
“Namun, itu masih belum cukup pasti.Itu hanya survei. Jadi, itu bisa dengan mudah berfluktuasi sebanyak 4 persen. Itu tergantung kepadaku.” Komentar Sang Jin.
“Tidak... Itu akan tergantung kepada kita. Kita akan menjalaninya bersama. Aku tidak akan memaksamu mengerjakan semuanya. Aku bukan gangster atau semacamnya. Mari kita taklukkan Kang Soo Il dengan satu pukulan kuat.” Kata Hoo Ja. 
Tuan Kang yang mabuk dibawa masuk ke dalam mobil, sopir penganti membawanya menatap dari kaca spion dengan tatapan sinis. Tuan Kang seperti tak sadarkan diri dibangku belakang.
“Dia mendapat rating persetujuan sebanyak 39 persen. Kang Soo Il, kandidat yang memimpin menurut poling, mengemudi dalam kondisi mabuk lagi seperti yang dia lakukan pada tahun 2002 dan 2007..” Ucap Hoo Ja seperti menyusun rencana.
“Keyakinan terdalam di negara ini adalah bahwa orang tidak bisa berubah, kebiasaan sulit diubah, dan hal-hal seperti itu. Astaga, Kang Soo Il. Kau masih belum menghapus kebiasaan minummu yang buruk itu.” Kata Hoo Ja. 

Tuan Kang yang tertidur karena mabuk mengeluh karena bunyi klakson yang Berisik sekali dan meminta agar jalan dengan tenang. Tapi bunyi klakson tetap berbunyi akhirnya Tuan Kang tersadar kalau sudah duduk di kursi depan tak ada sopir disampinganya.
“Siapa yang mengklakson? Apa yang terjadi?” ucap Tuan Kang binggung keluar dari mobil
“Hei... Pinggirkan mobilmu, Bodoh! Apa yang kau lakukan, Berandal? Apa kau mabuk?  Cepat jalan!” teriak pengemudi lewat di mobil Tuan Kang.
Tuan Kang kebingungan ingin mengemudi lalu melihat ada polisi yang datang dan tak bisa mengnhindar. Ia mencoba menjelaskan tapi polisi bisa tahu kalau Tuan Kang minum-minum. Tuan Kang melihat supirnya ada diseberang jalan dan langsung mengumpat marah, lalu dibawa pergi oleh polisi. 


Sang Jin terlihat tegang menunggu di ruanganya, lalu melihat Berita di TV.
“Kandidat Partai Minjin untuk Majelis Nasional, Kang Soo Il, ditahan karena mengemudi dalam kondisi mabuk. Menurut keterangan polisi, Kang Soo Il mengemudi setelah minum-minum dan tertangkap di titik pemeriksaan di dekat Taman Seowon pada pukul 22.55 semalam. Level alkohol darah Kang pada saat itu adalah 0,089 persen, yang cukup tinggi untuk kehilangan SIM-nya.”
Sang Jin akhirnya menelp meminta untuk  adakan konferensi pers. Dan akhiri pemilu berengsek ini.

Sang Jin berdiri didepan podium dengan spanduk "Kang Soo Il Harus Mengundurkan Diri Sebagai Kandidat" Han Sang Jin dengan yakin mengaku sebagai kandidat untuk Partai Nasionalis dan mendengar kasus mengemudi dalam kondisi mabuk Kang Soo Il pagi ini, lalu membuatnya sangat gelisah.
“Insiden ini sangat merusak reputasi warga Seowon. Jadi, aku tidak akan diam saja.” Kata Sang Jin.
Di ruangan Sang Jin terlihat sangat sibuk,  Myung Im menerima telp konfirmasih kaget mengetahui kalau Kang Soo Il jatuh sampai 20 persen, lalu senyuman terlihat bahagia.
“Aku ingin mengatakan ini kepada Pak Kang Soo Il sekarang. Jika Anda tahu malu, mundurlah sebagai kandidat secepatnya dan minta maaflah kepada warga Seowon.” Kata Sang Jin.
Suami Myung Im menerima telp juga ingin tahu tepatnya berapa banyak dan mengetahui kalau itu sekitar lima persen lagi. Myung Im yang mendengar ikut tersenyum bahagia. Suami Myung Im memastikan kalau itu artinya 33 versus 19 dan mereka memimpin.
“Aku mendesak Anda sekali lagi, Pak Kang Soo Il... Kumohon mundurlah. Hanya pengunduran diri Anda yang bisa memperbaiki situasi ini dan menyelamatkan sisa kehormatan warga Seowon. Begitulah perasaanku, Sekian.” Ucap Sang Jin dengan sangat yakin. 
Di ruangan Hoo Ja sedang bermain billiard sambil menonton berita Sang Jin yang mengumumkan "Kang Soo Il Harus Mengundurkan Diri Sebagai Kandidat" Joo Myung seperti tak percaya kalau Hoo Ja yang menyiapkan itu, lalu seperti tak yakin kalau mereka bisa mendapatkan suara Kang Soo Il.
“Menurutku kita hanya akan membantu Han Sang Jin.” Komentar Joo Myung. Hoo Ja malah berkomentar Joo Myung yang berhasil memukul bola yang benar.
“Kau berutang 30 dolar kepadaku.” Ucap Hoo Ja. Joo Myung ingin tahu alasannya karena sudah memukul tiga bantalan sebelum memukul bolanya.
“Itu peraturannya. Kau tidak boleh memukulnya bahkan setelah mengenai tiga bantalan. 30 dolar.” Kata Hoo Ja
“Sungguh. Orang kaya lebih buruk.” Keluh Joo Myung melihat sikap Hoo Ja.
“Aku memainkan permainan membosankan ini karenamu. Jadi, berhentilah mengeluh. Aku akan menjatuhkan Jung Gook sekarang, Ini sekadar informasi.” Ucap Hoo Ja. Joo Myung kaget mendengarnya.
“Aku akan meminta Jung Gook mengundurkan diri. Sebelum dia mengundurkan diri, dia akan mengatakan bahwa dia mendukung Han Sang Jin. Jika kau bisa membuatnya mengatakan hal itu, maka tugasmu sudah selesai. Kau bisa pulang dan bermain dengan bayimu, bahkan menganti popoknya juga.” Kata Hoo Ja menyindir.
“Apa Maksudmu kau akan memberikan suara Jung Gook untuk Han Sang Jin? Tiba-tiba? Kenapa?” ucap Joo Myung kagte.
“Itu tidak tiba-tiba. Tapi Itu rencananya sejak awal. Kau mengatakannya sendiri, bahwa mustahil membuat seorang penipu menjadi Anggota Majelis.” Ucap Hoo Ja sambil menyuruh Joo Myung minggir karena ingin memukul bola
“Menurutku ini tidak benar.” Kata Joo Myung marah. Hoo Ja tahu kalau Joo Myung kesal mendengar rencananya.
“Karena aku tidak memberitahumu lebih awal... Tidak, maksudnya aku tidak membicarakan diriku.” Tegas Hoo Ja
“Menurutku tidak benar melakukan itu kepada Jung Gook. Itu terlalu kejam.” Kata Joo Myung yang masih memiliki hati nurani.
“Kenapa kejam? Aku memaksanya mengikuti pemilu di luar kehendaknya. Karena keadaannya sudah tidak seperti itu lagi.” Jelas Hoo Ja.
Joo Myung pikir sebelumnya memang di luar kehendaknya, tapi Jung Kook sudah  berusaha maksimal sekarang. Hoo Ja merasa Entah Jung Kook  mengerahkan segalanya atau kehilangan semuanya bukan urusannya dan bukan juga urusan Joo Myung.
“Partai Nasionalis menyatakan akan mengirim seseorang kepadamu.” Ucap Hoo Ja. Joo Myung heran dan ingin tahu alasanya.
“Aku mendengar itu sambil berlalu, jadi, aku juga tidak tahu. Aku yakin kau akan tahu begitu kau bertemu orang itu. Semua orang kembali ke titik awalnya.  Aku, Jung Gook, dan kau.” Ucap Hoo Ja sambil berkomentar kalau  hampir memukul bolanya dan menyuruh Joo Myung sekarang giliranya. 

Sementara Jung Kook dan Mi Young makan bersama, Jung Kook kaget dengan saran Mi Young melakukan Layanan pengaduan perdata berjalan, yaitu mengunjungi setiap orang. Mi Young membenarkan, lalu Jung Kook bertanya apakah itu penting.
“Kita sudah melakukan "Beri tahu Harapanku kepada Yang Jung Gook." Dan Anggota Majelis Kim berkata tepat sebelum pemilu, aku harus memperlihatkan wajahku sesering mungkin. Aku harus mengembangkan kekuatan super. Aku harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.” Ucap Jung Kook
“Sayang, ini pendapatku. Tidak penting jika orang-orang mengenal kita. Yang penting adalah kita mengenali orang-orang. Beberapa orang kurang berani untuk datang dan bicara. Kita tidak bisa menelantarkan orang-orang itu. Mereka warga, seperti orang lainnya.” Jelas Mi Young
Jung Kook dan Mi Young sudah ada di dalam mobil dengn baju kampanye, lalu keduanya akan siap-siap turun. Mi Young bertanya apakah Jung Kook sudah siap. Jung Kook menganguk dengan melakukan  "Layanan pengaduan perdata berjalan" keduanya berjalan bergandengan keluar dari mobil. 


Seorang wanita mengeluh  Airnya kotor di seluruh kompleks mereka selama berhari-hari. Akhirnya Jung Kook pergi ke tempat penyedia ari sambil memberikan keluhan kalau  Air mereka sudah berhari-hari kotor jadi ingin tahu kapan mereka akan memperbaikinya.
“Kapan Anda akan mulai membangun pipa-pipanya?” tanya Jung Kook. Pegawai hanya bisa meminta maaf karena anggaran kota tidak cukup.
“Tidak cukup lagi? Kenapa anggarannya selalu kurang?” keluh Jung Kook tak percaya. 

Mi Young pun menerikan keluhan kalau beberapa pekerja  melakukan konstruksi di samping tempat tinggal warga jadi  menimbulkan banyak debu dan merkea tidak bisa membuka jendela rumah. Mi Young dengan toa memberitahu para pekerja konstruksi.
“Permisi. Hei, kau! Semprotkan air selagi bekerja. Kau membuat debu beterbangan ke mana-mana! Semprotkan air sekarang. Aku polisi. Aku akan menahan kalian.” Teriak Mi Young pada pekerja dari bawah. 

“Aku berharap ada tempat penyeberangan di depan.” Keluh warga.
Jung Kook kembali ke balai kota memberitahu  Ini zona rentan kecelakaandan mereka yang mmengeluh tentang anggaran lagi menurut hanya tempat penyeberangan dan ingin tahu Kapan anggarannya akan cukup.
“Lupakan. Aku akan mengecatnya sendiri.” Kata Jung Kook akhirnya turun kejalan membuat zebra cross sendiri. 

Di ruangan, Wang Goo sedang berbicara dengans seorang yang mengaku  kuliah di Harvard dan seorang alumni. Ia pun tak percaya menurutnya pria  itu pasti mengenal Profesor George Powell, Si pria mengaku kalau Prof itu masih kuat.
“Apa yang kalian lakukan? Bukankah kalian harus berkampanye?” ucap Joo Myung marah melihat tiga orang pegawainya hanya duduk diam.
“Halo, Pak... Aku datang untuk menemuimu. Haruskah kita makan siang?” kata si pria seperti utusan dari Partai Nasionalis. Joo Myung hanya bisa terdiam tak bisa banyak bicara. 

Di restoran
Joo Myung mengeluh karena makan siang dengan daging perut. Si Pria pikir kalau Joo Myung harus makan siang daging perut agar terlihat keren bahkantampak lebih keren jika memakannya dengan soju menurutnya Ini hak istimewa seorang pekerja paruh waktu.
“Kau terlalu menyukai hak istimewa. Kenapa kau datang ke sini?” ucap Joo Myung sinis
“Apa pendapatmu? Aku dikirim oleh partai untuk memberimu kabar baik. Karena itu aku datang ke sini.” Kata si pria
“Kabar baik apa yang dimiliki partai untukku?” keluh Joo Myung menahan amarah. 
“ Hanya karena kau memberontak,  Apa itu sudah menjadi "partaimu"?” komentar si pria.
“Aku tidak memberontak. Aku dikeluarkan!” tegas Joo Myung marah
“Bagaimanapun, Partai Nasionalis adalah rumahmu. Apa aku salah?” kata Si pria. Joo Myung makin kesal karena dianggap rumah.
“Bagaimanapun juga, bukankah sudah waktunya untukmu pulang? Dengan membangun pusat kota dan sebagainya.” Kata Si Pria. Joo Myung binggung.
“Jika kau membuat keputusan untuk kebaikan yang lebih besar, aku akan menempatkanmu di takhta. Bagaimana menurutmu? Kau sudah mengenalku. Kau tahu aku punya kendali di dalam partai. Anggota Majelis mana yang menang tiga periode belakangan ini?” jelas Si pria menyakinkan Joo Myung.
“Aku sudah cukup lama ingin mengatakan ini kepadamu. Kau hanya pembual. Kau membanggakan dirimu sendiri setiap kali bicara. Bahkan sekarang. Kau mengatakan akan memutuskan untuk kebaikan yang lebih besar, lalu mendadak membanggakan dirimu sendiri.” Komenta Joo Myung
“Begitulah cara kerjanya sekarang. Kau harus menjual dirimu. Dengar. Kamu tidak tahu lagi bagaimana cara kerjanya. Ikuti alurnya. Intinya, biarkan aku melanjutkan.” Jelas Si pria.
“Langsung ke intinya saja... Apa yang harus kulakukan untukmu?” kata Joo Myung tak ingin bertele-tele.
“Singkirkan Yang Jung Gook Dan berpihaklah kepada Han Sang Jin. Rating Sang Jin naik sedikit karena Kang Soo Il membuat masalah, tapi Sang Jin membuang-buang waktunya. Walaupun Soo Il kehilangan 20 persen dalam rating, Sang Jin hanya mendapatkan lima persen. Jadi Sudah jelas keadaannya mungkin akan berubah kapan saja.” Jelas Si pria. 



“ Jadi, maksudmu kau ingin Sang Jin mendapatkan suara Jung Gook untuk segera menyelesaikan pemilu ini, kan?” kata Joo Myung
“Benar. Kau cepat sekali.” ucap Si pria memuji Joo Myung itu pintar dalam jurusan management. Joo Myung mengeluh kalau ia adalah jurusan Ekonomi. Si pria mengaku tak peduli dengan hal itu.
 “Tapi kenapa aku harus melakukan itu? Kenapa aku harus membantu partaimu?” ucap Joo Myung tak percaya.
“Partai kita harus bertahan agar kau bisa bertahan.” Kata si pria. Joo Myung mengeluh mendengarnya.
“Kau tahu apa yang diputuskan oleh komite? Jika kau memberikan suara Jung Gook dan membantu Sang Jin, kau akan diterima kembali ke dalam partai. Dan tahun depan, Sang Jin akan berganti ke perwakilan berimbang. Dan kau akan ikut pemilu lagi untuk distrik ini, Seowon. Bagaimana menurutmu? Kedengarannya bagus, kan?” ucap si pria menyakinkan.
“ Kau memahamiku, bukan? Ini ideku. Aku mengeluarkan barang-barang yang akan kudaur ulang, dan aku merasakan desakan untuk memberimu hadiah.” Jelas si pria terus menyakinkan.
“Bisakah aku mempercayaimu? “kata Joo Myung kurang yakin. Si pria menyakinkan kalau pasti bisa.
“Kau tidak mempermainkan aku?” kata Joo Myung, Si Pria menyakikan tak mungkin seperti itu.
“Segera lakukan dan singkirkan Yang Jung Gook.” Tegas si Pria. 

Jung Kook membahas kalau mereka mengunakan rekcan di Injung-dong, jadi, bersiaplah. Wang Goo mengaku sudah pernah melakukannya.  Joo Myung teringat yang dikatakan Teman partainya.
“Serang Jung Gook dan dukung Sang Jin. Maka kau akan membantu dunia. Kehidupan politikmu akan diperbarui.” Tegas Si Pria 

“Anggota Majelis, ada apa? Apa kau sakit?” tanya Jong Kook melihat Joo Myung hanya diam saja.
“Tidak... Hanya Makan siangku membuat perutku sakit.” Ucap Joo Myung mencari alasan.
“Kau pasti mengalami masalah pencernaan. Apa kau butuh obat?” tanya Jung Kook khawatir. Joo Myung menolak.
“Omong-omong, santai saja... Kenapa kau bekerja... “ ucap Jung Kook lalu terpotong karena Hoo Ja menelpnya.
“Hai, Pimpinan Park... Sekarang? Tentu. Sampai jumpa di sana.” Kata Jung Koo pada Hoo Ja di telp lalu menutup telpnya. Joo Myung menatapnya.
“Pimpinan Park ingin makan malam bersama.” Kata Jung Kook. Joo Myung pikir ada yang hendak dia katakan.
“Kurasa begitu. Aku akan segera kembali. Kita harus berkampanye lagi saat aku kembali. Pulang dan istirahatlah jika kau merasa kurang sehat. Kau terlihat buruk. Kampanye memang penting, tapi begitu pula dengan kesehatanmu.” Ucap Jung Kook melangkah pergi.
“Jung Gook... Kerjamu... Kerjamu bagus sampai sekarang.” Ucap Joo Myung menatap sedih Jung Kook.
“Kenapa kau sudah mengatakan itu? Tugas kita masih banyak. Sampai nanti.” ucap Jung Kook 


Joo Hyun sedang berbicara dengan temanya sambil mengejek kalau tak ada yang salah dengan makan malam karena bisa mentraktir makan siang. Detektif Na datang menatap sinis Joo Hyun yang sudah mengkhianti timnya,
“Kau sengaja memukulku, bukan?” kata Joo Hyun, Detektif Na membenarkan dengan nampan makanany ditanganya. Joo Hyun berdiri akan memukul tapi saat itu Detektif Lee datang dengan sengaja menumpahkan  sup diatas kepala Joo Hyun.
“Maaf. Kenapa kau tiba-tiba berdiri, Berandal? Wah... Apa yang kulakukan? “ ucap Detektif Lee berpura-pura tak sengaja.
“Apa Kau akan terus bersikap seperti ini?” ucap Joo Hyun menahan amarah. Detektif Lee pikir pasti karena harus terus bekerja.
“Pikirkan apa yang kau lakukan kepada letnan kita... Ini enak. Makanlah.” Kata Detektif Lee dan saat itu Joo Hyun memukul sampai terjatuh.
“Hyun Chul, aku dipukul.” Teriak Detektif Lee. Detektif Koo melihatnya  akhirnya membalasnya.
Detektif Na pun akhirnya ikut memukul dengan teman Joo Hyun dan perkelahian antara Detektif Koo dan Lee melawan Joo Hyun. Nyonya Kim datang ke kantin berteriak marah agae menghentikanya. 


Ketiganya akhirnya dibawa masuk ruangan, Nyonya Kim bertanya apakah Tadi itu balas dendam. Detektif Lee menjawab kalau itu kesetiaan. Nyonya Kim mengeluh mendengarnya.
“Detektif Jang berengsek itu... Orang berengsek itu yang membuat letnan kami diskors. Kami merasa harus melakukan sesuatu.” Ucap Detektif Lee
“Kalian sangat setia, tapi kalian tidak punya keberanian. Apa Karena itukah kamu melakukan trik tersebut? Untuk membuat dia melancarkan pukulan lebih dahulu?” ucap Nyonya Kim memarahi
“Letnan Kim melarang kalian menimbulkan masalah... Maafkan kami.” Kata Detektif Lee akhirnya tertunduk.
Saat itu seorang masuk ruangan,  Nyonya Lee bertanya siapa pria itu. Detektif Na memberitahu kalau Myung Shik adalah petugas tim mereka. Detektif Lee  pikir mereka satu tim jadi harus diomeli bersama dan sengaja memanggil Myung Shik.
“Satu tim? Tapi kau menerima uangnya sendiri.” Kata Detektif Ko menyindir. Detektif Lee mengeluh mendengarnya.
“Cukup. Kalian Diam...Semuanya kecuali Hyun Chul, keluar.” Ucap Nyonya Kim. Detektif Lee binggung tapi akhirnya membiarkan Detektif Lee sendirian.
 “Jika mengatakan sesuatu yang bodoh, kau akan mati.” Ucap Detektif Lee. Detektif Na berani membalas.
“Kubilang keluar! Sekarang! Aku bahkan tidak ingin melihat kalian!” kata Nyonya Kim. Semua pun bergegas keluar dari ruangan. 


Nyonya Kim memastikan apakah bisa mempercayainya, Detektif Koo terdiam. Nyonya Kim heran karena detektif Koo yang tidak menjawab dan kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Detektif Ko pikir tidak ada gunanya baginya untuk mengatakan kalau bisa memercayainya.
“Jika Anda benar mempercayaiku, maka Anda akan percaya Tapi jika Anda tidak yakin bisa memercayaiku, maka berikanlah kepada orang lain.Itu hal yang benar. Sekian.” Ucap Detektif Ko
“Ada seorang berandal yang ditahan karena melakukan penipuan pada tahun 2001 dan mendekam dua tahun di penjara. Aku ingin kau menyelidiki kehidupannya.” Kata Nyonya Kim. Detektif Koo mengerti.
“Cari tahu di mana tempat tinggalnya, apa pekerjaannya, dan semuanya.” Kata Nyonya Kim
“Siapa nama penipu itu?” tanya Detektif Koo, Nyonya Kim menjawab  namanya Yang Shi Chul.

Jung Kook masuk ke sebuah restoran heran Hoo Ja yang  ingin bertemu di Tempat yang ini terlihat sangat mahal dan berpikir kalau itu artinya tempat ini kosong. Hoo Ja mengaku  Tempat ini kosong karena ia menyewanya.
“Kau pernah melihatnya di drama.” Kata Hoo Ja. Jung Kook tak percaya mendengarnya.
“Apa Kau menyewa seluruh restoran ini? Kenapa?” tanya Jung Kook. Hoo Ja pikir mereka bisa bicarakan itu perlahan sambil makan malam.
“Kami pesan dua porsi menu biasanya.” Ucap Hoo Ja pada pelayan agar membawa makanan.
“Kau pasti sering datang ke sini. Karena kau meminta "menu biasanya". “ komentar Jung Kook
“Tidak. Ini kali keduaku dalam lima tahun.” Ucap Hoo Ja. Jung Kook tak percaya mendengarnya.
“Lalu kenapa kau meminta menu biasanya?” tanya Jung Kook penasaran sambil makan steaknya.
“Kau harus meminta menu biasanya di tempat-tempat seperti ini agar mereka tidak melecehkanmu. Coba Lihat. Seluruh menunya ditulis dalam bahasa Inggris walaupun kita berada di Korea. Apa? Mereka bahkan menulis minumannya dalam bahasa Inggris. Para bedebah itu tidak ingin kita memahaminya.” Kata Hoo Ja lalu memanggil pelayan.
“Aku juga pesan minuman biasanya. Lalu Bagaimana kampanyemu?” tanya Hoo Ja. Jung Kook mengaku Menyenangkan.
“Aku harus melakukannya, jadi, lebih baik kunikmati.” Akui Jung Kook terlihat sudah mulai nyaman.
“Kudengar kamu dan Mi Young bekerja sama.” Kata Hoo Ja. Jung Kook membenarkan.
“Ya. Dia bilang itu menyenangkan setelah dia menyelaminya. Dia juga suka bertemu dengan orang-orang.” Kata Jung Kook. Hoo Ja pikir itu Bagus.
“Tapi bagian terbaiknya adalah... Ini agak memalukan, tapi...” kata Jung Kook mengingat yang dikatakan Hoo Ja. 



Flash Back
“Menghabiskan waktu bersamaku, Pergi ke banyak tempat bersamamu. Aku tahu itu hanya di sekitar lingkungan ini... Menghabiskan sepanjang hari denganmu, bisa saling bertemu, tertawa bersama, makan bersama, dan hal-hal seperti itu. Fakta bahwa aku bisa menghabiskan setiap hari bersamamu membuatku sangat bahagia. Itu juga mengingatkanku pada saat kita berkencan.” Ucap Hoo Ja.
“Itu yang dia katakan... Aku juga merasakan hal yang sama. Karena itu kami memutuskan untuk melupakan masa lalu sampai pemilu berakhir. Kami memutuskan untuk tertawa dan bersenang-senang sampai pemilu berakhir. Dan melupakan kesulitan untuk saat ini.” Ucap Jung Kook penuh semangat.
“Jika aku menjadi diriku sendiri, aku akan mengatakan apa yang ingin kukatakan, mandi, dan tidur sekarang. Tapi aku tidak bisa melakukan itu hari ini. Entah kenapa terasa sulit dan tidak nyaman untuk membicarakan ini.” Kata Hoo Ja.
“Kenapa? Apa yang ingin kau katakan kepadaku?” kata Jung Kook. Hoo Ja pikir sikap tapi bukan seperti Jung Kook.
“Bersikap perhatian dan semacamnya tidak sepertiku, kan?” kata Hoo Ja. Jung Kook tak mengerti maksudnya.

“Apa kau... Apa kau baru saja mengatakan "perhatian"?” ucap Jung kook tak bisa menahan tawanya. Hoo Ja tahu kalau pasti terdengar lucu.
“Bagiku juga lucu setelah kupikirkan. Kau membuatku tertawa terbahak-bahak. Seseorang tidak seharusnya berusaha berubah.” Kata Hoo Ja. Jung Kook tertawa sampai menangis dan meminta tisu.
“Aku akan menjadi diriku sendiri. Dengarkan... Jung Gook. Mundurlah dari pemilu sekarang.” Kata Hoo Ja. Jung Gook melotot kaget mendengarnya.
Bersambung ke Episode 22


Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar