PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 17 Juni 2018

Sinopsis What's Wrong with Secretary.Kim Episode 4 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Sung Yeon masuk ke gedung tanpa sadar berpapasan dengan Mi So, lalu melihat papan nama diatas meja adiknya  "Wakil Ketua Lee Young Joon" lalu berkomentar kalau Young Joon terlihat seperti orang yang berbeda di kantor dengan mengejek kalau berpikir akan menjadi adik bayi selamanya.
“Tadi telepon ada apa kemari? Kupikir Aku sudah menyapa dan menyambutmu.” Kata Young Joon dingin
“Aku hanya ingin berkunjung. Aku mengadakan rapat dengan penerbitku karena buku baruku dan kurasa Aku harus mampir. Dan Mereka memberiku beberapa salinan buku baruku. Apa kau Mau satu?” ucap Sung Yeon memberikan sebuah bku.
“Ah Benar... Kau bahkan tidak akan membacanya. Ini kisah cinta yang tidak Kau minati... Hei Young Joon, Kau juga harus berkencan. Kau perlu belajar apa itu cinta untuk benar-benar memahami dunia.” Saran Sung Yeon
“Ada banyak hal lain yang perlu kupelajari.” Balas Young Joon. Sung Yeon berkomentar adiknya itusangat dingin.
“Aku ingin Kau pergi... Kau Bisa dilihatkan, sekarang Aku agak sibuk.” Kata Young Joon Sinis. Mi So pun memilih untuk pergi dan akan ketemu lagi lain kali.


Mi So bergegas masuk tanpa sengaja bertabrakan dengan Sung Yeon didepan pintu. Keduanya mengingat tentang Tali sepatu, Young Joon mengaku Senang bertemu kembali. Mi So merasakan hal yang sama dan bergegas pamit pergi. Sung Yeon menahanya untuk tak pergi.
“Aku menyesal tidak menanyakan nomor ponselmu. Nyatanya kita bertemu lagi seperti ini membuatku berpikir kita mungkin ditakdirkan sesuatu.” Ucap Sung Yeon
“Maaf, tetapi Aku sedang sibuk sekarang.” Kata Mi So akan bergegas pergi tapi Sung Yeon tetap menahanya.
“Aku juga sibuk... Aku cemas berpikir mungkin  bisa kehilangan kesempatan lain untuk mendapatkan nomormu.” Kata Young Joon mengoda. Akhirnya Mi So menuliskan nomor telp lalu bergegas pergi.
“Wah.. Apa ini?.. Sepertinya Nomor ini dibuat-buat.” Komentar Young Joon melihat nomor Mi So mudah diingat.
“Pria itu sangat ulet. Aku akan memberinya nomor ponselku jika dia adalah Morpheus.” Kata Mi So saat menunggu lift. 


Mi So membawa semua makan yang minta dibungkus. Young Joon mengakutidak menginginkannya. Mi So hanya bisa melonggo karena sebelumnya meminta agar membeli sesuai dengan perintahnya. Young Joon mengaku kalau suasana hatinya berubah. Mi So pun tak bisa berkata-kata lalu keluar dari ruangan.
Di luar ruangan Mi So melihat Young Joon hanya melamun seperti merasa khawatir. 

Ji Ah berjalan dengan Ye Na seperti tak percaya  harus duduk dalam rapat itu. Se Ra menekankan kalau sekarang Ini situasi darurat jadi meminta agar Jangan membodohi diri sendiri di rapat itu dan harus dalam posisi terbaik. Ji Ah menganguk mengerti kalau akan berhati-hati.
“Jantungku berdegup kencang karena Aku khawatir akan melakukan kesalahan.” Kata Ji Ah
“Astaga, jantungku juga berdetak kencang.” Ungkap Se Ra melihat Sosok Tuan Ko
“Astaga, Assisten Manajer Ko terlihat sangat lelah. Apa akhir-akhir ini dia stres tentang pekerjaan?” ucap Se Ra.
“Oh ya. Bukannya Kau bilang dia gila kerja?” ucap Ji Ah mendengar cerita dari temanya.
Seorang wanita datang mendekati Tuan Ko untuk minum kopi karena akan membuat membuat bersemangat. Tuan Ko pikir dengan berkerja adalah cara terbaik untuk membuatnya bersemangat, menurutnya Tidak ada yang merangsang otaknya lebih bersemangat kecuali ada tugas baru.
“Kawan-kawan, ayo pergi minum-minum malam ini. Itu akan membantu kita menghilangkan stres. Apa Kau mau ikut, Asisten Ko?” ucap Atasanya.
“Aku membebaskan stresku dengan bekerja, bukan dengan minum-minum. Tidak ada yang lebih membebaniku daripada tidak menyelesaikan semuanya dalam daftar tugas harianku.” Ucap Tuan Ko.
Se Ra yang mendengarnya semakin terkesima dengan Tuan Ko,  lalu mendengar kalau Tuan Ko membeli 10 setelan jas yang sama persis dan tidak memakai apapun lagi karena lebih suka menyelesaikan pekerjaan tepat waktu daripada harus memutuskan apa yang akan dikenakan. Ji Ah tak percaya mendengarnya.
“Kuharap dia terobsesi denganku daripada bekerja.” Kata Se Ra lalu bergegas pergi karena menerima telp. Ji Ah menatap Tuan Ko merasa heran karena ada nasi yang nempel. 



Sung Yeon pulang ke rumah langsung memeluk ibunya yang baru datang. Nyonya Lee terlihat senang bertemu dengan anaknya. Sun Yeon pikir ibunya akan pulang minggu depan tapi malah datang lebih awal. Nyonya Lee pikir Putrany kembali ke rumah setelah 3 tahun di luar negeri jadi harus buru-buru kembali.
“Anakku, Kau jadi lebih tampan.” Ucap Nyonya Lee. Sung Yeon pun membalas ibunyasemakin cantik.
“Tentu saja... Dia menghabiskan banyak uang.” Komentar Tuan Lee. Nyonya Lee hanya melirik sinis.
“Hanya mereka yang terlahir dengan tampang bagus yang dapat manfaat dari prosedur semacam itu. Wajah sepertimu tidak bisa ditolong bahkan jika kita menghabiskan semua uangmu.” Komentar Nyonya Lee sinis.
“Oh ya. Apa Kau ada waktu menemui Young Joon belum?” tanya Tuan Lee mengalihkan pembicaran.
“Ya, dia masih membenciku.” Kata Sung Yeon. Nyonya Lee membalas kalau anaknya tidak membenci kakaknya tapi Young Joon bukan orang yang ramah.
“Kurasa dia tidak ingin berteman denganku. Young Joon jauh lebih baik daripada Aku dalam banyak hal.” Komentar Sung Yeon. Nyonya Lee dan suaminya hanya bisa saling berpandangan. 


Mi So menerima telp dari seseorang. Mereka menelepon balik karena pesan ditinggalkan, yaitu dari agensi Morpheus. Mi So pun terlihat bersemangat mendengarnya. Agensi Morpheus meminta maaf,  karena tidak tertarik dengan kegiatan umum apapun.
“Ahh...Bisa Anda tetap meneruskan proposal kami kepadanya?” kata Mi So. Agency tetap tak bisa lalu menutup telpnya.
Mi So melihat Young Joon keluar dari ruangan dan melihat jas yang belum dipakai lalu membantunya. Young Joon terlihat gugup tapi membiarkan Mi So membantunya. Mi So tersenyum melihat Young Joon sudah terlihat rapi.
“Sekretaris Kim, bagaimana dengan makanan Italia untuk makan siang?” kata Young Joon.
“Maaf, tapi hari ini Aku agak sibuk dengan acara pembukaan untuk perpustakaan.” Kata Mi So
“Aku tidak pernah memintamu untuk makan denganku. Aku cuma ingin memberitahumu untuk makan makanan Italia jika Kau merasa begitu dan bayar dengan kartu kredit perusahaan.” Kata Young Joon. Mi So mengucapkan Terima kasih. 


Mi So menemui seorang reporter, seorang wanita dengan sinis berpura-pura kalau pernah mewawancarai Morpheus secara langsung. Mi So mengatakan kalau itu melalui e-mail. Si wanita mengaku kalau mengiriminya email pertanyaan wawancara dan Morpheus mengirim jawaban.
“Lalu Apa Aku bisa mendapatkan alamat e-mailnya?” kata Mi So
“Sama sekali tidak boleh. Aku berjanji padanya kalau Aku tidak akan pernah memberikan alamat e-mailnya. Aku harus menepati janjiku padanya karena Aku punya sopan santun. Anda mengerti, kan?” ucap si wanita dengan nada sinis
“Ya, tentu saja... Tapi... Apa kau ingat tidak bagaimana Kau hampir dituntut karena menggali kehidupan pribadi atasanku? Aku membantumu menyelesaikannya sehingga tidak dibawa ke peradilan. Anda belum lupa, kan?” ucap Mi So akhirnya bergantian melipat tangan didada. Si wanita mulai melepaskan lipatan tangan didada.
“Mereka yang punya sopan santun selalu membalas kebaikan yang mereka terima. Anda mengerti, kan?” ucap Mi So dan si wanita bergegas mencari alamat email, Mi So dengan senang hati menerimanya. 


Mi So akhirnya menatap email Morpheus merasa kalau sekarang hanya menggunakan keterampilannya lal menuliskan email  “Aku Sekretaris Wakil Ketua Grup Yumyung, Kim Mi So” wajahnya terlihat sangat bahagia. Sementara Young Joon terlihat bahagia melihat gelas winenya.
“Apa Kau menyukai wiski yang kupilih?” tanya Tuan Park bangga. Young Joon mengaku kalau suka pantulan wajahnya di gelas. Tuan Park terlihat kesal mendengarnya.
“Kudengar Kau sudah memutuskan untuk mempercepat pembukaan pusat seni. Bagaimana Kau sangat termotivasi? Kejadiannya saat Aku sedang dalam perjalanan dinas, dan kudengar juga ada pemadaman listrik tanya Pasti membuatmu menderita”kata Tuan Park
Young Joon mengingat kenangan dengan Mi So saat meneranginya dengan senter bahkan bergandengan tangan, menurutnya sangat menyenangkan. Tuan Park binggung, Young Joon terlihat gugup mencoba mengalihkan pembicaraan kalau tidak akan ada lagi pemadaman listrik di pusat seni. Tuan Park pun memastikan kalau tidak akan terjadi lagi. Young Joon pun hanya bisa tersenyum mengingat kenanganya. 


Se Ra memarahi Ji Ah yang tak melakukan dengan benar karena semua terpotong saat memfotokopi dokumen, tapi saat itu nada ucapanya berubah saa melihat Tuan Ko masuk ke dalam ruangan. Ji Ah hanya bisa tertunduk takut.
“Jangan ragu untuk memberitahuku jika ada yang membuatmu stres, Ji Ah.” Kata Se Ra. Saat itu Tuan Ko mendekat memberikan sebuah USB.
“Ini presentasi untuk proposal acara pembukaan.” Kata Tuan Ko. Se Ra langsung menerimanya
“Aku akan memastikan Sekretaris Kim menerimanya.” Kata Se Ra. Tuan Ko pun pamit pergi. Saat itu Ji Ah masih melihat ada sisa nasi yang nempel. 

Se Ra langsung terpana melihat Ko Kwi Nam terlihat lebih tampan di pagi hari. Semua membahas kalau Gwi Nam punya 10 setelan baju yang sama persis dan memakai yang berbeda setiap hari. Bahkan  Gwi Nam lebih suka menyelesaikan pekerjaan daripada khawatir soal apa yang harus dikenakan.
“Kurasa itu tidak benar... Kurasa dia mengenakan setelan yang dikenakannya kemarin...Butiran beras yang sama...” kata Ji Ah
“Hei! Beraninya Kau menjelek-jelekkan dia... Haruskah Aku menguliahimu?” ucap Se Ra kesal. Ji Ah pun hanya bisa meminta maaf. 


Mi So memberikan berkas proposal departemen perencanaan untuk acara pembukaan, kalau Tidak ada yang baru atau berganti. Young Joon ingin tahu apakah ada informasi  terbaru soal ide konser buku yang dikatakan sebelumnya. Mi So meminta maaf karena masih memeriksanya.
“Wakil Ketua, izinkan Aku memperbaiki dasi Anda.” Kata Mi So melihat dasi Young Joon yang tak rapih. Saat Mi So mendekat, Young Joon kembali merasakan sesuatu. Keduanya saling menatap dengan jarak yang dekat.
“Tidak apa-apa. Hari ini, Biar Aku saja yang perbaiki.” Kata Young Joon gugup. Mi So akhirnya meminta izin keluar dari ruangan.
“Kenapa tiba-tiba jantungku Seperti ini? Aku harus segera menemui dokterku. Pasti ada yang salah dengan jantungku.” Ucap Young Joon memegang dadanya yang terus berdebar. 

Nyonya Lee meminta maaf pada Mi So karena meminta bertemu di hari yang sibuk. Mi So pikir tak masalah dan ingin tahu alasan ingin bertemu denganya. Nyonya Lee memberikan sebuah tas untuk Mi So. Mi So merasa kalau Nyonya Lee tak perlu melakukanya.
“Aku membelinya saat berbelanja sendiri. Tapi Ngomong-ngomong, Young Joon sangat sibuk hari ini?” tanya Nyonya Lee.
“Dia cukup sibuk karena pusat seni akan dibuka lebih awal dari yang dijadwalkan.” Kata Mi So
“Maka, mungkin dia tidak dalam suasana hati yang baik. Jika Aku memintanya untuk makan malam denganku malam ini, dia mungkin kesal padaku, kan?” ucap Nyonya Lee
“Tidak, harusnya tidak masalah Dan dia tidak ada jadwal malam ini.” Kata Mi So. Nyonya Lee terlihat penuh semangat mendengarnya dan langsung berdiri.
“Apa Anda ingin pulang ke rumah, Nyonya? Haruskah Aku menyiapkan mobil?” kata Mi So.
Nyonya Lee menjawab tidak,  menurutnya bisa pergi menemui Young Joon sekarang. Mi So terlihat gugup karena ternyata Nyonya Lee ingin bertemu dengan anaknya. 


Nyonya Lee bertemu dengan anaknya merencanakan seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam. Young Joon langsung menolaknya, Nyonya Lee ingin tahu alasanya karena tahu dari Mi So kalau  anaknya tidak ada rencana untuk malam ini.
“Apa Ibu bertemu dengan Sekretaris Kim lagi?” ucap Young Joon dengan nada kesal
“Aku memintanya untuk bertemu denganku karena punya hadiah untuknya. Aku cemburu pada Sekretaris Kim. Dia dapat hadiah. Ibu juga ingin hadiah. Jadi Young Joon, bisa Kau memberi Ibu hadiah yang kuinginkan? Aku akan mencintai seluruh keluarga kita, termasuk dirimu, Makan malam...” kata Nyonya Lee yang langsung disela oleh anaknya.
“Tidak, Aku tidak bisa.” Tegas Young Joon tetap tak ingin makan malam dengan kakaknya.
“Apa Kau tahu, Ibu sadar kalau aku tidak terlihat seusia Ibu, tapi Aku semakin tua sekarang. Kau dan Sung Yeon satu-satunya putra yang miliki, namun keluarga kita jarang menghabiskan waktu bersama saat dia tinggal di luar negeri. Aku penasaran berapa kali lagi kita akan berkumpul di satu tempat sebelum Aku meninggal. Ayo makan malam bersama, oke?” ucap Nyonya Lee berusaha membujuk. Young Joon hanya bisa meminta maaf pada ibunya karena tak bisa mengabulkanya. 


Nyonya Lee keluar ruangan dengan wajah sedih, Mi So bertanya Apa pembicaraannya tidak berjalan dengan baik. Nyonya Lee membenarkan karena menurutnya Ini bukan kesempatan yang Young Joon suka dan juga tidak akan berubah pikiran jika  mencoba membujuknya. Mi So pun merasa tidak punya pilihan.
“Omoo, Aku baru sadar kalau sepatuku ada debu yang menempel.” Ucap Nyonya Lee tiba-tiba
“Apa Anda ingin sesuatu untuk menyeka debunya?” kata Mi So membungkuk mencari tissu dan tiba-tiba Nyonya Lee hilang dihadapanya “Kemana Nyonya Lee pergi tanpa tasnya?”ucap Mi So binggung lalu menerima telp dari ibu Young Joon yang meninggalkan tas Anda.
“Aku tahu. Tolong beri tahu Young Joon untuk membawanya pulang malam ini.” Ucap Nyonya Lee. Mi So pun menuruti perintah Nyonya Lee. 
Mi So membawakan tas pada Young Joon diruangan. Young Joon langsung menyuruh agar Tuan Yang mengantarnya. Mi So mengatakan tidak bisa melakukan itu, karena Nyonya Choi bilang  untuk memastikan kalau Young Joon yang harus membawanya.
“Lalu Siapa atasanmu? Apa yang perintah ibuku lebih penting bagimu?” kata Young Joon sinis
“Tidak. Tentu tidak, Anda lebih penting bagiku... Itu sebabnya Aku memberitahumu ini... Anda terganggu karena ibumu... Aku tidak tahu kenapa Anda sangat keras kepala. Tetapi jangan lakukan sesuatu yang akan Anda sesali.” Kata Mi So lalu bergegas keluar dari ruangan. 



Keluarga Lee akhirnya makan bersama, Nyonya Choi menatap Sung Yeon dengan senyuman sumringah. Sung Yeon melihat ibunya memberikan sepotong lauk. Nyonya Choi pikir tak perlu melakukan itu untuknya. Sung Yeon mengoda ibunya kalau tak ingin mendengar "Aku merasa kenyang saat melihatmu makan."
“Tidak. Ibumu sedang diet hari ini... Dia makan sedikit sekali di malam hari. Komentar Tuan Lee. Nyonya Choi melirik sinis.
“Kau tidak bisa mempertahankan bentuk tubuh ini tanpa kerja keras... Young Joon. Seharusnya, Aku juga mengundang Mi So. Benarkan?” kata Nyonya Choi. Sung Yeon bertanya siapa itu Mi So. 
“Dia adalah sekretaris Young Joon. Dia satu-satunya orang... yang Young Joon percaya dan andalkan. Aku sangat bersyukur dan senang kalau Sekretaris Kim berada di sisinya.” Ucap Nyonya Choi
“Bahkan bukan namanya saja yang cantik.” Komentar Sung Yeon
“ Wajahnya juga cantik. Sebelum pulang, ayo kita undang Sekretaris Kim kesini dan makan.” Kata Nyonya Choi
Young Joon seperti tak ingin membahas Mi So memilih untuk memberitahu tentang membuka pusat seni lebih awal dari jadwal. Tuan Lee langsung bersemangat kalau Young Joon yang  memutuskan karena Grup UK. Young Joon mengatakan kalau semua sudah diurus dengan baik.
“Kau mendapat semangat kompetitif dariku. Tapi jika Kau tiba-tiba mengubah jadwalnya, tidakkah kekhawatiranmu banyak sekali?” kata Tuan Lee.
“ Ibu khawatir Kau akan kelelahan.” Kata Nyonya Choi. Tuan Lee meminta agar anaknya agar bisa menjaga diri baik-baik.
“Kesehatanmu adalah segalanya bagi perusahaan kami.” Ucap Tuan Lee. Young Joon pikir tak perlu mengkhawatirkan itu.
Sung Yeon seperti terisih dengan kedua orang tuanya karena memperhatikan adiknya. Nyonya Choi bahkan memberikan lauk untuk Young Joon agar bisa makan dengan lahap dengan daging. 


Sung Yeon memberikan segelas kopi untuk adiknya. Young Joon pikir nanti saja karena sedang berkerja. Sung Yeon mulai membahas tentang Mi So  karena benar-benar ingin tahu tentangnya.Ia ingin tahu Bagaimana Mi So bisa mengatur dirinya sendiri selama 9 tahun bekerja dengan adiknya.
“Dia gadis seperti apa? Karena Kau terus menjauhkannya dariku, sepertinya Kau sengaja menyembunyikannya dariku. Kenapa? Apa Kau takut saat Aku bertemu dengannya, karena Aku akan mengencaninya?” ucap Sung Yeon mengoda. Young Joon dengan sinis menyuruh kakaknya keluar.
“Aku benar-benar tidak bisa mengerti dirimu. Aku merangkulmu dan mencoba yang terbaik di sini. Bukankah seharusnya Kau bersyukur?” ucap Sung Yeon tak bisa menahan rasa amarah
“Kenapa Aku harus bersyukur padamu?” komentar Young Joon sinis
“Kau masih saja egois. Apa kau Tahu kenapa? Sudah kubilang Aku memaafkanmu. Aku bersedia untuk melupakan masa lalu... dan berpura-pura tidak ada yang terjadi. Untuk seseorang yang bersedia memaafkanku, Apa Kau pikir tidak memalukan?” kata Sung Yeon sinis
“Itu sesuatu yang bahkan Aku tidak ingat, yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu.” Balas Young Joon
Sung Yeon heran dengan adiknya yang sangat membencinya. Young Joon menegaskan tidak membenci kakaknya tapi hanya jijik. Sung Yeon menahan amarahnya, menahan adiknya yang ingin pergi meminta agar Jangan merasa tidak peka.
“Jika bukan karena apa yang Kau lakukan, maka Aku akan berada di posisimu sekarang.” Kata Sung Yeon
“Apa kau sungguh berpikir seperti itu? Hyung lemah dan tidak kompeten. Untuk melindungi diri sendiri, maka Kau menyiksa orang lain. Bahkan jika itu tidak terjadi, maka Kau tidak akan pernah sampai sejauh ini.” Ucap Young Joon.
Sung Yeon akhirnya memberikan pukulan dengan keras. Young Joon melihat bibirnya sudah berdarah dan ingin membalasnya. Tiba-tiba terdengar suara ayahnya meminta agar mereka berhenti. Young Joon menahan kepalan tanganya, Nyonya Choi menangis melihat anaknya  agar berhenti.



Sung Yeon akhirnya kembali ke kamar seperti menahan amarah lalu menerima telp dari agensinya kalau sudah mengirim proposal promosi publikasi ke email  karena sangat mendesak, jadi harus segera memeriksanya. Sung Yeon mengerti dan akan segera memeriksanya.  
Ia membuka email “Proposal promosi” dengan subjet (Kim Mi So, Sekretaris Wakil Ketua Grup Yumyung) Wajah Sung Yeon kaget dan merasa memiliki sebuah rencana. 

Young Joon mengemudikan mobilnya, lalu turun dan melihat Mi So berjalan dengan senyuman sambil menatap telp. Wajah Young Joon tak bisa disembunyikan karena merasa bahagia.  Mi So berjalan begitu saja tanpa melihat Young Joon ada didepan rumah. Young Joon merasa diabaikan langsung menarik tangan Mi So. Mi So kaget langsung menjatuhkan semua barang belanjaanya.
“Apa yang Kau pikirkan sampai sebegitunya... Apa Kau bahkan tidak lihat ada orang tepat di hadapanmu?” ucap Young Joon kesal
“Ada apa kemari, Wakil Ketua Lee?” tanya Mi So lalu melihat kalau hanya sisa satu telur yang tidak pecah.
“Kenapa Kau tiba-tiba datang... Ada apa dengan wajah Anda?” kata Mi So tersadar melihat wajah Young Joon.
Young Joon mengaku Bukan apa-apa. Mi So tahu kalau Young Jon dari rumah orang tuanya jadi berpikir terjadi sesuatu di jalan. Young Joon mengaku baru saja dari rumah dan meminta agar jangan bertanya lagi. Mi So sangat khawatir menarik Young Joon agar masuk rumah untuk dibersihkan karena nanti akan ada bekas luka. 


Young Joon terlihat binggung, membiarkan Mi So menariknya. Mi So masuk ke dalam rumah panik karena ternyata semua berantakan, lalu mendorong Young Joon keluar agar menunggu 1 menit saja. Young Joon pun menunggu di depan rumah.
Mi Soo bergegas membersikan baju yang berserakan, buku-buku, bahkan pakaian dalam disembunyikan dibalik boneka sapi lalu membuka pintu membiarkan Young Joon masuk. Young Joon melihat sekeliling ruangan. Mi So merendah kalau rumahnya itu kotor.
“Tidak.... Tapi Sangat jorok.” Komentar Young Joon seperti tak ingin memuji Mi So lalu merasa kalau lukanya tak masalah.
“Aku yang tidak baik-baik saja. Ada begitu banyak kesempatan dimana Anda akan difoto. Jika ada yang tidak beres, orang akan menyalahkanku. Anda tahu 'kan? Jadi Ikuti Aku.” Ucap Mi So sudah membawa kotak obat ditanganya.
Young Joon akhirnya duduk didepan Mi So untuk diobati. Mi So kebingungan karena jarak mereka yang jauh dan meminta supaya lebih dekat lagi. Young Joon akhirnya mendekat dan keduanya kembali merasakan gugup karena berdekatan, Mi So pun bergegas mengambil plester untuk meredakan rasa gugupnya.

“Jangan pakai plester di wajahku. Menurutmu, pakai plester tidak sesuai dengan wajahku, kan?” ucap Young Joon. Mi So pun mengikuti perintah bosnya.
“Ngomong-ngomong, bagaimana Anda bisa terluka? Ini Tidak tampak seperti luka yang barusan terjadi. Apa Anda bertengkar dengan seseorang?” tanya Mi So penasaran.
“Bukankah Aku memberitahumu jangan bertanya lebih lagi?” ucap Young Joon. Mi So meminta maaf karena tak sadar untuk bertanya.
“Lalu Apa Anda... mau makan ramyun?” tanya Mi So. Young Joon kaget karena seperti artinya Mi So mengajaknya agar menginap dirumahnya. “Saat Anda merasa sedih, semangkuk mie pedas langsung menaikkan suasana hati Anda. Aku akan menaruh telur yang tidak pecah di dalam mie Anda.” Kata Mi So penuh semangat. 


Akhirnya Mi So memasak air dalam panci. Young Joon melihat buku yang ada diatas meja, tertulis note “Aku benci Direktur Pelaksana Senior Lee.” Lalu slogan Mi So “Pertaruhkan Hidupmu untuk menghafalkan ini.” Ia melihat buku berjudul "Setiap Kenangan adalah Dirimu" seperti tak percaya kalau buku itu ada dirumah Mi So juga.
“Apa yang Anda tahu? Anda bahkan tidak tahu cinta.” Ejek Mi So
“Lalu, Sekretaris Kim Apa kau tahu cinta? Kau tak berkencan sepanjang hidupmu.” Balas Young Joon.
“Aku banyak membaca tentang itu di buku dan Itu hebat.” Komentar Mi So lalu bergegas ke dapur karena melihat air sudah mendidih.

Young Joon lalu melihat boneka sapinya tertelungkup dan ingin membalikanya. Mi So panik karena dibaliknya ada pakaian dalam, saat kaan menarik Young Joon tubuhnya malah jatuh diatas tubuh bosnya. Keduanya kembali berada diposisi yang sama untuk kedua kalinya. Mi So ingin berdiri tapi Young Joon sudah lebih dulu menarik dan memeluknya.
“Hanya sebentar... Aku mohon Sebentar saja biarkan Aku tetap seperti ini... Mulai sekarang, Aku akan jatuh cinta... padamu.” Ucap Young Joon yang membuat Mi So kaget mendengarnya.
Bersambung ke episode 5

13 komentar:

  1. Semangat mbak!!! Drama ini bagus.. Bakal hits

    BalasHapus
  2. Part 1 nya kok gak bisa kebuka mbak? Btw MAKASIh mbak ❤

    BalasHapus
  3. Part 1 nya g bisa ke buka mbak..ga sabar nuunggu eps selanjutnya

    BalasHapus
  4. ok banget nih.semangat ya

    BalasHapus
  5. Ditunggu lanjutannya mbak...semangat

    BalasHapus
  6. jadi penasarannnn.. Pengen nonton filmnya hahaha

    BalasHapus
  7. Toppppp banget, ditunggu episode 5nya kak...

    BalasHapus
  8. Ditunggu seri berikut nya trimakasih

    BalasHapus
  9. Lanjuttt kakkk.... mksih ya...😚

    BalasHapus
  10. Lanjuttt kakkk.... mksih ya...😚

    BalasHapus
  11. Iya, part 1 gak bisa kebuka.
    Kenapa y?

    BalasHapus
  12. Ga sabar ...mau baca dan terus baca...penasaran😍

    BalasHapus