Jumat, 15 April 2016

Sinopsis Descendants of the Sun Episode 16 Part 1

Mo Yun berjalan sambil menatap Shi Jin yang berjalan didepanya, merasa tak percaya dengan yang dilihatnya. Shi Jin berjalan dengan gagah dengan memegang seragam tentaranya, Mo Yun berlari ingin cepat mendatangi Shi Jin, tapi malah terjatuh.
Shi Jin pun berlari menolong Mo Yun untuk berdiri, dengan mata berkaca-kaca menyapa sang pacar yang sudah lama tak bertemu. Mo Yun masih tak percaya Shi Jin itu ternyata masih hidup. Shi Jin  mengaku sempat kesulitan menjaga janjinya untuk tetap selamat lalu memeluk erat pacarnya.
Mo Yun berulang-ulang mengatakan “Kau masih hidup” seperti masih tak percaya Shi Jin itu masih hidup. Shi Jin mengelus rambut Mo Yun dengan air mata mengalir di pipi meminta maaf. Mo Yun terus memeluk Shi Jin yang selama ini tak pernah ditemuinya.
Tiba-tiba Mo Yun melepaskan pelukanya, sambil mengumpat kesal tak akan memaafkan begitu saja lalu berjalan menjauh dari Shi Jin, sambil berjongkok dan menangis. Shi Jin hanya bisa diam melihat pacarnya menangis. Beberapa saat kemudian, Mo Yun sudah memukul dada Shi Jin, sambil mengungkapkan perasaan yang sangat merindukanya.
Tak sedetikpun aku lewatkan tanpa aku merindukanmu.” Akui Mo Yun sambil menangis.
Setelah itu, Mo Yun kembali membalikan badanya, mengatakan tak membutuhkan Shi Jin, akan hidup sendiri menjadi seorang biarawan. Tapi setelah itu langsung memeluk Shi Jin dengan tangisanya sambil berkata “Aku mencintaimu.” Shi Jin hanya bisa memeluk Mo Yun dengan erat tanpa bisa berkata apapun. 


Ki Bum sedang makan ramyon merasa kagum karena di Urk turun salju. Myung Joo melihat ke jendela turun salju yang cukup lebat. Ki Bum tahu di Urk akan turun salju tiap 100 tahun sekali. Myung Joo keluar dengan menatap langit lalu mengulurkan tangan untuk merasakan salju yang jatuh ketanganya.
Hari itu, Myung Joo berkata, "Untuk pertama kalinya dalam 100 tahun, salju akhirnya turun." Dan...dia juga berkata, "Dia dating di tengah turunnya salju."
Dae Young tiba-tiba berjalan dengan tangan yang patah disanggah dengan kain, wajahnya terlihat kusam. Myung Joo terdiam melihat Dae Young selama ini dianggap orang-orang sudah meninggal ada didepanya. Dae Young berjalan dan terus mendekat, keduanya saling menatap tanpa bicara. Air mata Dae Young mengalir dipipinya.
Jawabanku ini... mungkin sangat terlambat. Aku tak akan melepaskanmu. Bahkan jika aku harus mati, aku tak akan pernah melepaskanmu.” Ucap Dae Young dengan nada bergetar, Myung Joo memberikan pukulan didada Dae Young sambil menangis.
Dae Young akhirnya memberikan ciuman untuk Myung Joo, tapi Myung Joo melepaskan dan kembali memukul Dae Young seperti perasaannya campur aduk. Dae Young perlahan kembali mencium Myung Joo. Tangan Myung Joo meremas pundak Dae Young dan keduanya berciuman dibawah salju yang hanya turun 100 tahun sekali di Urk. 

Ki Bum berjalan di dalam ruang tidur tentara junior, seperti layaknya komandan memberitahu prajurit yang tak bisa melindungi dirinya sendiri maka tak akan bias melindungi bangsanya juga.
Kalian harus mengingat satu hal dalam melaksanakan misi. Apa itu?” ucap Ki Bum
Jangan mati dan jangan terluka.” Jawab tentara junior dengan serempak
Bagus.... Kalian memiliki waktu 5 menit untuk mengenakan perlengkapan musim dingin.” Kata Ki Bum, Semua tentara junior mengerti dan langsung bergeras untuk menganti baju. 

Dae Young berjalan masuk, Ki Bum seperti menahan tangis didepan dua tentara junior yang belum keluar. Dae Young memberikan senyumannya, Ki Bum akhirnya tak bisa menahan tangis melihat Dae Young yang berjalan mendekatinya. Dua tentara junior pun hanya bisa diam, Dae Young menarik kepala Ki Bum agar bersadar dibahunya, tangis Ki Bum benar-benar tak bisa terbendung lagi.
Hei, apa wakil platoon bias menangis di depan pasukannya begini?” goda Dae Young, Ki Bum mengangkat wajahnya walaupun masih menangis.
Bagaimana dengan ujian GED-mu?” tanya Dae Young menatap Ki Bum yang tertunduk menangis.
Aku berhasil lulus dan sudah mendapat ijazah SMA.” Kata Ki Bum sambil menangis tersedu-sedu, Dae Young kembali membiarkan Ki Bum menangis di dadanya. 

Di dapur
Myung Joo memakaikan kembali kalung tentara milik Dae Young, lalu mengoleskan form untuk mencukur jengot dan kumisnya. Mata Dae Young tak  berkedip melihat Myung Joo duduk didepanya, lalu berjanji  tak akan mati lagi dan tak akan pernah lagi melakukan kesalahan yang sama.
Aku tak percaya padamu Tapi, aku mohon jangan mati. Salju turun untuk pertama kalinya dalam 100 tahun Dan kau akhirnya bisa kembali. Aku mengucapkan satu-satunya keinginanku, dan keinginanku itu hanyalah kau.” Kata Myung Joo, Dae Young memegang tangan Myung Joo mengangguk mengerti.
Tapi, bagaimana kau bisa ada di sini? Lalu Bagaimana dengan Shi Jin-sunbae?” tanya Myung Joo
Saat kami pergi melapor ke markas bahwa kami masih hidup, mereka memberitahuku. Kami meninggalkan markas dan aku langsung menuju ke sini, lalu Kapten pergi ke Albania.” Cerita Dae Young
Apa yang terjadi pada kalian? Kau dan juga Shi Jin-sunbae Kalian tewas dalam serangan bom dan mayat kalian tak ditemukan.” Ucap Myung Joo, Dae Young mengambil handuk untuk membersihkan berkas form di wajahnya.
Kelompok liar itu datang lebih cepat selangkah daripada serangan bom. Sebelum serangan bom itu, kami diseret ke sebuah tempat asing. Kami di bawa ke ruang bawah tanah yang sangat asing, Sekitar hari ke-150 atau 155. . .” cerita Dae Young 


Flash Back
Mata Shi Jin terlihat bengkak sampai tak bisa terbuka, wajahnya babak belur dengan pakaian tentaranya. Sementara Dae Young duduk diam dengan wajah yang kusam, beberapa orang datang menuju lorong tempat keduanya disekap, dengan senjata laras panjang dan mengunakan masker wajah.
Bunuh mereka.... Kita harus cepat pergi.” Ucap dua orang didepan penjara siap dengan pistolnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan yang membuat keduanya mati, salah seorang dengan mengunakan masker mengambil kunci dan membuka maskernya, dia adalah tentara Korea utara Ahn Jung Joon.
Ketika di hotel Jung Joon berjanji akan membalas hutang cookie di kehidupan selanjutnya dan dengan yang dilakukan membebaskan keduanya sudah membalas hutang Cookiesnya dan berharap keduanya selalu beruntung. 

Shi Jin berbaring dengan tangan di gips, menceritakan temanya sudah membantunya, yaitu  teman yang sangat jauh. Mo Yun duduk disampinganya mengatakan sudah mengobatinya, merasa heran wajah Shi Jin yang babak belur seperti itu padahal ia ingin dirinya yangmerusaknya sendiri.
“Beruntunglah pacarku adalah dokter. Karena Pacarku lah yang merawatku, jadi, aku tak perlu khawatir.” Goda Shi Jin sambil mencoba untuk duduk.
Aku sangat merindukan leluconmu.” Akui Mo Yun lalu memeluk Shi Jin dengan erat sambil memujinya yang sudah bekerja keras.
Shi Jin menjerit kesakitan, mengatakan jarum infusnya. Mo Yun pun melepaskannya sambil meminta maaf. Shi Jin tersenyum menurutnya bukan Mo Yun yang meminta maaf tapi dirinya, Mo Yun menatap Shi Jin yang terlihat melamun. 

Shi Jin mengingat sebelumnya pernah disandera dengan tangan di ikat, karena pihak penyandera ingin tahu kode untuk radio US. Lalu bagian pinggangnya harus terkena pisau saat bertemu dengan tentara Korea utara. Sempat terkena tembakan Argus ketika menyelamatkan Mo Yun dari sandera, ketika menjadi pengawal kemanann,nyawanya sempat melayang ketika mengejar orang-orang yang menyandera Jung Joon. Dan yang terakhir nyawanya hampir melayang setelah tertembak musuh sebelum pergi tempat konflik.
Aku tak akan mengulanginya lagi.” Ucap Shi Jin berjanji
Wah... sepertinya aku selalu saja percaya pada ucapanmu.” Komentar Mo Yun
Sejak tadi aku penasaran. Itu benda apa?” tanya Shi Jin menunjuk beberapa tumpukan buah dan wine disudut tenda
Itu  makanan untuk kematianmu. Hari ini adalah peringatan untuk hari kematianmu. Aku ini pacar yang baik, bahkan menyiapkan.... “ kata Mo Yun lalu terdiam sejenak
“Apakah... Kau ini manusia?” tanya Mo Yun merasa kalau yang dilihatnya itu arwah dari Shi Jin. 

Seorang pria bule datang untuk mengembalikan pisau bedah, Mo Yun mendekatinya bertanya apakah pria itu bisa melihat sosok pria yang sedang duduk. Pria itu mengangguk dan memuji pria itu tampan, berpikir itu pacar Mo Yun. Mo Yun mengucap syukur karena sebelumnya seperti sedang melihat roh. Pria itu pun pergi meninggalkan tenda.
Aku merasa mati dua kali sekarang. Apa si dokter ini menganggapku roh gentayangan? Apa kau percaya tahayul?” keluh Shi Jin kesal
Salahmu sendiri yang muncul pada peringatan kematianmu Kau ini roh atau tidak, karena aku sudah menyiapkannya, jadi makanlah. Minum anggurnya juga, Aku tak bisa membawa Cheongju ke sini.” Kata Mo Yun sambil mendorong meja penuh buah
Kau ternyata menyiapkan banyak hal meski sedang di luar negeri.” Ejek Shi Jin langsung mengigit apel dengan ukuran besar. 

Ponsel Mo Yun berbunyi, sambil duduk dikursi menerima video call dari teman-temanya. Ji Soo memarahi Mo Yun yang lama sekali baru mengangkat telp dan membuat khawatir. Mo Yun meinta maaf karena sebelumnya sangat sibuk. Ji Soo mengejek kesibukan apa yang dilakukan temanya itu, Chi Hoon berteriak gembira memanggil Seniornya, begitu juga Mi Jin dan yang lainya.
Kenapa harus video call-an seperti ini? Aku merasa jadi artis saja.” Ucap Mo Yun
Coba cari angle yang lain agar aku bisa melihat wajahmu itu.” Pinta Ji Soo
Mo Yun mencari mengeser kamera ponselnya agar bisa terlihat wajahnya. Semua terdiam melihat bayangan seseorang yang sedang memakan buah untuk upacara kematian. Chi Hoon bertanya apakah bukan hanya dia saja yang melihat roh. Mi Jin mengatakan juga melihat roh Shi Jin yang sedang makan buah. Ji Soo khawatir menanyakan keadaan temanya, lalu bertanya apakah ia melihatnya juga. Mo Yun binggung apa maksud temanya sambi melihat kebelakang, Shi Jin sedang membuka botol anggur.
Ja Ae  tahu Hari ini adalah hari peringatan kematian Kapten Yoo, Chi Hoon mengerti yang diatas meja makanan untuk peringatan itu, Mo Yun menahan tawa mendengar temanya yang terlihat shock. Sang Hyun yakin roh Shi Jin datang untuk memakan makanannya lalu pingsan. Semua menjerit ketakutan dan smart phone terlepas dari tangan Ji Soo. 

Mo Yun tertawa melihat semua teman-temanya ketakutan, Shi Jin mengeluh sekarang merasa sudah mati 3 kali  dan membuat Mo Yun Menyenangkan. Mo Yun malah bertanya balik, Shi Jin yang tak mau menakuti teman-temanya, tapi menurutnya timnya itu sangat lucu. Lalu ponsel kembali berdering, Mo Yun yakin teman-temanya itu pasti sudah lebih tenang sekarang, kali ini Chi Hoon yang memegang tab.
Sunbae, dengarkan aku baik-baik sekarang. Tolong jangan tanya apa alasannya.” Ucap Chi Hoon, Mo Yun menanyakan kenapa
Aku sangat mencintaimu dan merindukanmu. Tolong lapangkan hatimu... Agar dia tak perlu bergentayangan lagi di dunia ini.” kata Chi Hoon dengan semua yang menahan tangisnya. Mo Yun menahan tawanya kembali.
Meskipun kau tak bisa percaya, tapi Kapten Yoo sudah tenang di sana. Tolong biarkan dia untuk hidup di dunianya sendiri.” Kata Chi Hoon
Mo Yun tertawa mengunkapkan semua gila karena teman-temannya meminta Shi Jin untuk hidup tenang di dunianya, lalu sengaja mendekatkan video call ke arah Shi Jin yang sedang asik makan.
Aku bisa marah jika kalian mengusirku dengan cepat begini. Apa kabar, semuanya?” ucap Shi Jin melambaikan tangan ke kamera, semua menjerit bahkan sampai merinding,
Nah, Kapten Yoo sekarang ada di sini Jadi, kalian pasti tahu kan betapa bahagianya aku malam ini? Aku akan menceritakannya saat aku pulang nanti. Tak usah menggangguku lagi.” Kata Mo Yun lalu menutup ponselnya.
Semua langsung menjerit tak percaya yang dilihat itu Shi Jin bukan hantu, Sang Hyun yang tadinya terbangun akhirnya kembali pingsan.

Dae Young dan Shi Jin menaiki tangga ke markas tentara di Seoul, semua tentara menyambutnya dengan tepukan tanganya. Shi Jin ingin melakukan laporan tapi Letnan Yoon langsung memeluk keduanya dan mengucapkan terimakasih dengan mata berkaca-kaca.
Terima kasih sudah kembali dengan selamat.” Ucap Letnan Yoon dengan memeluk erat keduanya.
Letnan lain juga memberikan jabatan tangan pada keduanya yang berhasil kembali. Byung Soo maju kedepan mengakui sangat kesal saat mengingat sikap kurang ajar kalian sambil menahan tangisnya,
“Aku memang mendapat promosi menjadi Kolonel, aku ternyata bisa berhasil” ucap Byung Soo dengan memejamkanya dan menangis
Beberapa tentara kembali masuk ke dalam markas, terdengar terteriakan memanggil Shi Jin. Woo Geum dkk datang, berteriak bahagia melihat keduanya kembali sambil berpelukan dan berputar-putar.  Byung Soo masih menutup matanya karena menangis bahagia merasa bangga bisa masuk Koran dan menurutna keduanya adalah pasukan yang... lalu tersadar hanya bisa sendirian.
Yoo Si Jin dan Seo Dae Young diperintahkan menulis laporan dan Laporan itu harus setebal kitab suci.” Ucap Byung Soo memberikan hukuman, Woo Geum dkk melepaskan pelukan tak mau ikut dapat hukuman. 

Shi Jin meraba bagian pinggir kertas, Dae Young heran melihat tingkah kaptenya. Shi Jin merasa lebih takut pada A4 daripada C4 dan meminta Dae Young melihat sudut tajamnya, menurutnya Jika sudut ini mengirisnya maka pasti akan sangat sakit.
Di pergelangan tangan kelompok liar itu, ada tato Spetsnaz. (Spetsnaz: Mantan Pasukan Soviet).” Cerita Dae Young sambil melipat tangan didada.
Mereka ahli dalam bersenjata. Tapi, tidak keren jadinya jikakita menulis bahwa kita dipukuli terus, jadi, kita tulis saja dilaporan bahwa seminggu sekali kita melakukan serangan balasan Dan kita berusaha melarikan diri tiap 1 bulan sekali. Kita coba tulis begitu saja.” Ucap Shi Jin,
“Jadi Maksudmu, 2 kali sebulan, 'kan? Lagipula, mereka tak akan pergi untuk mengkonfirmasi laporan kita” kata Dae Young

Melihat situasi kita, mereka pasti akan percaya, tapi masalahnya kita harus menulis laporan yang seimbang, antara realiti dan drama. Bagaimana jika kita mengikuti prosedur Rambo?” saran Shi Jin
Tapi, prosedur itu terjadi saat Perang Vietnam dan Senjatanya tak cocok. Kita lebih baik menggunakan Bourne saja, karena Letnan Yoon menyukai Matt Damon. ” Kata Dae Young
Shi Jin merasa itu ide yang sempurna lalu pamit pergi. Dae Young bertanya kemana temanya itu akan pergi.  Shi Jin menyuruh Dae Young saja yang menulisnya karena apabila mereka berdua yang menulis mungkin saja akan ada cerita yang tak sesuai satu sama lain.
Dae Young bertanya kembali alasan dirinya yang harus menuliskan laporan. Shi Jin menegaskan Letnan Yoon ada di Urk jadi pasti Dae Young lebih semangat dalam menulisnya. Dae Young hanya bisa melonggo menerima tugas dari kaptenya. 


Di kedai kopi
Shi Jin bertanya apakah Mo Yun masih ingat ditempat itu memutuskanya, Mo Yun mengingatnya dan merasa Mungkin saja hal itu akan terulang lagi. Shi Jin sempat kaget, berpikir ucapan pacarnya itu tak serius karena tempat itu sedikit membuatnya trauma. Mo Yun mengatakan kalau ia sangat serius Karena salah satu alasan mereka datang ke tempat itu.
Sekarang dan juga nanti, kau akan tetap pergi ke "Mall", 'kan? Apa kau melakukannya karena kau ini seorang pahlawan?” kata Mo Yun
Jika menjadi pahlawan dan harus mati, sepertinya tentara tak akan suka. Benarkan? Kami hanya melindungi perdamaian dan tempat yang harus dilindungi.” Jelas Shi Jin
Sepertinya, kau akan terus melakukan tugas itu meski aku keberatan?” ucap Mo Yun
Apa kau keberatan?” tanya Shi Jin, Mo Yun pikir Shi Jin menganggap jawabanya itu tidak.
Mungkin, suatu hari kau tak akan mungkin bias kembali lagi, tapi... jangan khawatir. Aku tak akan keberatan. Percuma saja aku melarangmu. Bahkan jika kau mengungkapan rasa penyesalan padaku, kau akan tetap pergi. Dan aku akan tetap mendukungmu meskipun aku tak menyukainya. Maka jika begitu, aku juga akan memilih untuk menjaga perdamaian Dan tentu saja, persetujuanku ini adalah perdamaian khusus untukmu.” Ucap Mo Yun
Shi Jin mengucapkan terimakasih sekaligus permintaan maafnya, dan yang bisa dikatakan hanya kata “maaf”, Mo Yun pikir karena ia tak akan memutuskan Shi Jin lalu mengajaknya itu pergi memancing besok karena itu sebagai terapi untuk emosi dengan bangga meminta Shi Jin tak kaget melihat bakatnya besok serta tak usah sedih karena akan membuatnya tersenyum selain itu harus bersyukur memiliki pacar seperti dirinya. 


Di pingir danau
Shi Jin duduk dikursi bisa melihat Pemandangan yang indah dan hatinya merasa damai jadi merasa hatinya mulai sembuh sekarang. Mo Yun seperti tak peduli memilih untuk meminum air dalam botolnya, mengeluh Sudah 2 jam, tapi tak berhasil memancing 1 pun ikan lalu meremas botol minumnya dengan lirikan sinis.
Emm... apa kau mau memberiku trauma yang baru agar trauma lamaku itu menghilang?” ucap Shi Jin heran
Aku bisa stres jika begini terus.” Kata Mo Yun sambil mencari sesuatu dari ponsel jam tanganya.
Arboretum ada di dekat sini. Lebih baik Perubahan rencana. Kita bisa pergi menghirup udara segar saja.” Ucap Mo Yun
Apa kau tahu, berapa total kilometer yang sudah kulewati dalam 1 tahun itu?” keluh Shi Jin
Mo Yun seperti tak peduli menyarankan pergi ke geraja saja, Shi Jin kembali mengingatakan berapa bulan harus terjebak dengan sekumpulan pria. Mo Yun bertanya apa yang dinginkan Shi Jin sekarang. Shi Jin mengatakan ingin melakukan Kegiatan yang tradisional dengan Cuaca yang dingin dan pancing yang tak kunjung digigit ikan.
Apa kau tak ingin berlama-lama lagi? Atau bermain, "Hanya ada 1 kamar."?” Ajak Shi Jin menunjuk tenda yang dibelakangnya. Mo Yun memperingatakan Shi Jin untuk tak melewati garis
Tapi, apa itu artinya kita bisa sekamar?” ucap Shin Jin, Mo Yun menjawab itu sudah pasti
Tapi, bukannya kau pernah bilang, kau tak mau seranjang dengan pria.” Kata Shi Jin,
Itu bukan aku,  Apa Kau tak ingat? Dia adalah wanita yang muda setahun daripada kau” goda Mo Yun
Shi Jin tersenyum mendengarnya, lalu mengejek tak suka wanita muda itu. Mo Yun langsung berdiri ketika melihat kailnya dimakan ikan, Shi Jin menarik tangan Mo Yun mengatakan harus menyelesaikan diskusinya, sambil menanyakan pilihan dirinya atau ikan bakar. Mo Yun melepaskan tangannya memilih untuk mengambil ikanya. 

 Mo Yun memakai sarung tanganya, sambil mengejek Shi Jin seorang tentara tapi tak berani memegang ikan yang masih hidup. Shi Jin dengan merasa takut melihat ikan yang masih hidup akan berusaha menepati janjinya untuk tak mati dan terluka, tapi mengakui tak bisa menyentuh ikan.  Mo Yun tertawa mendengarnya sambil memuji Shi Jin yan imut dan bisa memaafkanya.
Kita akan memulai "membedah" ikannya, aku minta pisau bedah.”ucap Mo Yun, Shi Jin pun memberikan pisaunya.
Dasar wanita yang tak berperasaan.” Keluh Shi Jin melihat Mo Yun yang berani memotong ikan hidup-hidup. 

Didalam tenda
Mo Yun melihat gambar dari hotel-hotel di ponselnya, Shi Jin berkomentar  Hotel itu bagus dengan Kasurnya juga besar dan nyaman. Mo Yun mengumpat Shi Jin bodoh karena Kasur yang kecil yang bagus. Shi Jin bertanya siapa bajingan yang memberitahu hal seperti itu dengan nada marah.
Pria brengsek yang bernama Yoo Shi Jin. Aku hidup seperti ini saat pria itu tidak ada. Apa aku harus menaruh batu ini di sana Ataukah membawanya? Apa Harusnya, aku bisa melupakan semuanya. Saat aku bisa melupakan semuanya, aku harus melempar batu ini. Aku pernah memesan tiket dan juga hotel, tapi aku membatalkannya. Bahkan Aku pernah meminta cuti tapi aku membatalkannya juga.”jelas Mo Yun dengan batu putih ditanganya.
Ya, Pria bernama  Yoo Shi Jin ini memang brengsek.” Akui Shi Jin karena membuat Mo Yun galau beberapa bulan belakangan ini.
Apa menurutmu, kita bisa kembali ke sana?” tanya Shi Jin

Shi Jin bertanya dengan siapa Mo Yun akan pergi, Mo Yun menegaskan kalau sudah pasti dengan pacarnya itu. Shi Jin tersenyum mendengarnya lalu bertanya kapan mereka akan pergi. Mo Yun juga tak tahu mereka bisa melihatnya saja nanti dan memperingatakan Shi Jin tak usah berjanji karena mereka hanya bisa melihat situasinya sekarang. Shi Jin setuju karena akan menganggapnya sebagai hukumannya.
Mo Yun pikir Shi Jin harus setuju kapan pun itu meskipun sedang sibuk jadi harus menyediakan passportnya. Shi Jin mengangguk setuju, lalu sedikit bergeser bertanya garis mana yang tak boleh dilewatinya agar bisa tahu supaya tak melewatinya. Mo Yun heran Shi Jin seperti tak mengetahuinya.

Shi Jin sengaja menyadarkan kepalanya di bahu Mo Yun karena merasa kedinginan sekarang jadi mau mencari kehangatan. Mo Yun mengejek Shi Jin itu bodoh mengatakan garisnya itu adalah Tatapannya dan juga usaha pacarnya. Shi Jin tersenyum dengan bibir siap untuk memberikan ciuman, Mo Yun memalingkan wajahnya merasa waktunya bukan sekarang.
Kepala Shi Jin pun terjatuh sambil berteriak kesal karena Mo Yun adalah wanita yang jua mahal. Mo Yun mengusap kepala Shi Jin dengan tatapan ke arah ponselnya. 
Dae Young mengerjakan laporannya, lalu ponselnya berdering sangat keras. Myung Joo bertanya apakah laporan yang dibuatnya itu sudah selesai.  Dae Young merasa sudah menjadi seorang penulis sekarang. Myung Joo bertanya apakah Dae Young tahu cara mengaktifkan font Korea. Dae Young pikir dirinya tak mungkin sebodoh itu.
Aku hanya memikirkanmu sebagai seorang pria sejati.”akui Myung Joo dengan suara merengek
“Apa Kau tak sibuk? Aku senang bisa sering mendengar suaramu.” Ungkap Dae Young
Tiap aku terbangun, aku selalu bertanya pada Ki Bum, apakah ini mimpi? Pada akhirnya Ki Beom yang duluan datang padaku dan berkata, "Sersan Seo bukanlah mimpi." Meskipun aku sudah tahu, tapi aku ingin selalu memastikannya. Aku merasa tenang saat mendengar suaramu.” Cerita Myung Joo
Kau bisa meneleponku kapan saja Bahkan saat aku sedang tidur. Tapi, sepertinya besok aku tak bias mengangkatnya karena kedatangan VIP.” Kata Dae Young, Myung Joo bertanya tamu VIP siapa

Shi Jin sudah mengunakan earphonenya, mulai berbicara dengan bertanya Apakah VIP sudah tiba. Chul Hoo dengan senapan laras panjangnya melapor “Piccolo… Mobilnya sudah mendekat.” Dengan melihat sebuah mobil berjalan dari atas gedung.
Woo Geum juga melaporkan “Snoopy. Tak ada gerakan yang aneh.” Shi Jin menerima semua lapora meminta semuanya jangan sampai gegabah karena akan mengurus kursi VIP. Giliran Dae Young yang memberikan laporang “Wolf... Big Boss harus standby di lokasi. Snoopy dan aku akan bertugas di pintu keluar VIP.” Lalu meminta Woo Geum membuka pintu mobil, beberapa wanita cantik dan muda dengan pakaian merah turun dari mobil. Terdengar suara Shi Jin “Wow! Dasar pria licik. Kalian cepat sekali, ya? Aku sampai tak menyangkanya.” 

Semua tentara menjerit bahagai melihat wanita-wanita muda cantik diatas panggung, girl band Red velvet menyapa semuanya dan tak lupa memberikan hormatnya, Dae Young dan Shi Jin berjalan ke depan panggung membalas hormatnya.
Dae Young langsung mengikuti gerakan Red Velvet saat mulai menyanyi sambil menari. Shi Jin terlihat kesal memberikan balon agar Dae Young tak menari tapi tetap saja Dae Young seperti hilang akal terus saja menari. Semua tentara menjerit bahagia melihat cantik didepan mereka. Shi Jin tak bisa menahan lagi dengan mengangkat papanya dan mengoyangkan pinggulnya.
Semua tentara ikut menyanyi seperti sangat hafal dengan lirik, Shi Jin tak menyia-nyiapka kesempatan dengan selfie bersama Dae Young, dengan Red velvet yang sedang menari diatas panggung. Byung Soo yang terlihat kaku juga ikut mengoyangkan badan melihat wanita cantik didepanya. 

Chi Hoon sedang menonton videp menjerit dan langsung menutup mulutnya takut Mo Yun mendengarnya, Sang Hyun dan Mi Jin ingin tahu apa yang membuat Chi  Hoon menjerit. Dalam video terlihat Shi Jin dan Dae Young berdiri paling depan menonton Red Velvet.
Mi Jin yang melihatnya langsung berlari kemeja Mo Yun agar bisa melihat videonya. Mo Yun melihat Shi Jin dengan mengangkat papan lalu berteriak “Kami mencintaimu, Kang Seul Gi.... Selama-lamanya.” Mi Jin tahu Tanggal konsernya 23 dan itu sama dengan hari keberangkatan Kapten Yoo. Ja Ae merasa ini adalah "misi" yang hebat. Sang Hyun dengan bahagia menyetujuinya karena menonton konser girl band sama saja misi untuk menjaga perdamaian. Mo Yun mengatakan kalau itu bukan Shi Jin lalu meremas botol minumnya. 

Mo Yun memoles wajahnya dengan bedak dan melihat kalung pemberian dari Shi Jin, lalu meminta waktu sejenak pada perias wajahnya. Disampingnya duduk seorang wanita cantik juga, Mo Yun menyapanya lebih dulu meminta bantu yang tidak ada didalam skrip, wanita itu meminta apa yang ingin dikatakanya.
Apa tak masalah jika aku membahas pacarku dalam talk show nanti?” kata Mo Yun
Si wanita mulai acara Sehat bersama Kang Mo Yeon" dengan Topiknya adalah hyperlipemia, dengan mulai membahas seseorang yang ingin mengetahui hubungan cintanya lalu bertanya “Apakah anda sudah punya pacar?
“Ahh.. Pertanyaan anda begitu tiba-tiba. Pasti akan menyenangkan memiliki pacar, bisa diajak untuk berolahraga. tapi sayangnya aku tak punya karena Aku sangat sibuk.”kata Mo Yun dengan senyuman menatap ke arah kamera. 

Shi Jin dengan wajah cemberut  sudah melihat acaranya tadi lalu menyindir Mo Yun yang mengatakan tak punya pacar karena sibuk dan menanyakan dianggap apa dirinya itu. Mo Yun hanya melirik dengan wajah cemberut juga. Shi Jin pikir dirinya itu dianggap sebagai teman dekat, hanya teman tentara.
Pacarku juga berteriak seperti anak ABG yang tak punya pacar. Aku juga melihat acara itu, teriakanmu sungguh membahana.” Ucap Mo Yun yang membuat Shi Jin menegakan badanya karena kaget.
Di Urk
Myung Joo terlihat marah sambil makan dan menelp, tak percaya Prajurit 1 dan 2 datang bahkan tak tahu pacarnya itu penari yang hebat. Dae Young berdalih semua salah paham dan Mungkin editor yang salah mengedit video-nya.

Mo Yun pun mengartikan dari penjelasan Shi Jin kalau semua disalahkan pada Editornya, Shi Jin mengaku hanya berteriak untuk menyemangati Komandan Batalion tapi, editor-nya salah memasukkan video-nya. Mo Yun menyimpulkan Shi Jin berteriak seperti anak ABG pada Komandannya, lalu menyindir  Komandannya itu  ternyata punya kulit yang mulus
Di markas
Dae Young mengaku  Komandan memang biasanya punya kulit yang mulus. Myung Joo mengebrak meja makan lalu berdri mengancam akan membunuhnya karena Dae Young sangat menyukai Red Velvet. Dae Young meminta Myung Joo tak melupakan janjinya untuk tak akan pernah melepaskanny.
Myung Joo tak ingin dirayu lagi karena sudah melihat semuanya dan mengatakan akan kembali 157 hari lagi jadi selama 157 hari itu, akan menyusun rencana pembunuhan Seo Dae Young. Dae Young yang mendengarnya hanya bisa menjatuhkan kepalanya diatas keyboard. 

Shi Jin merasa sikap Mo Yun itu berlebihan, karena "Aku tidak membunuh seseorang?" adalah kalimat yang hanya bisa diucapkan anak ABG, tapi dirinya itu berbeda dengan akan mencoba yang tebaik. Mo Yun mempersilahkan Shi Jin untuk menunjukan usahanya terbaik dari seorang kapten. Shi Jin mengatakan semua bukan salah Red Velvet tapi kesalahan dirinya, Mo Yun kesal merasa Shi Jin ingin mati hari ini lalu memukul pacarnya dengan bantal. Shi Jin berusaha menghindar meminta Mo Yun menahanya.

“Yang perlu kau tahu, aku bukan lah Kapten lagi.”kata Shi Jin
Memangnya kenapa kalau kau bukan Kapten lagi? Apa kau dipecat?” tanya Mo Yun panik
Bukan begitu.... Aku akan naik jabatan.” Ucap Shi Jin dengan wajah bangga,
Mo Yun terlihat tersenyum bahagia mendengarnya, Shi Jin bertanya kenapa Mo Yun bisa terlihat sangat bahagia. Mo Yun mengartikan gaji Shi Jin akan naik juga. Shi Jin kembali bertanya kenapa Mo Yun terlihat bahagia bahkan dari matanya terlihat sangat berbinar-binar, Mo Yun mengingatkan tatapannya itu adalah usaha pacarnya, Shi Jin mengejak sikap pacarnya itu yang cepat sekali berubah. 
bersambung ke  part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



2 komentar: