Jumat, 01 April 2016

Sinopsis Descendants of the Sun Episode 12 Part 1

Woo Geum bertanya apakah terjadi sesuatu. Dae Young merasakan firasat akan terjadi sesuatu yang buruk dengan melihat pakaian tentara, pistol dan juga kalung Shi Jin ada diatas tempat tidur.
Shi Jin sudah menaiki mobil sambil memperbaiki kaca spion didepannya, lalu menelp pengawal presiden yang pernah untuk mengunakan kartu terakhir, yaitu membutuhkan sebuah helikopter untuk kencan lagi. Mobilnya terus melaju menuju perbukitan. 

Myung Joo masih dirawat terbangun melihat Dae Young sudah berdiri didepanya, dengan sedikit senyuman memberitahu sudah sedikit baikan karena obatnya berkerja dengan baik. Dae Young pun mengucapkan syukur. Myung Joo baru sadar Dae Young mengunakan pakaian yang tak biasa.
Apa kau mau pergi ke suatu tempat?” tanya Myung Joo khawatir
Sekarang, kita kehilangan kontak dengan Dr. Kang dan Big Boss. Dr. Kang yang tak dapat dihubungi, karena dia telah diculik, Big Boss yang tak bisa dihubungi karena... sepertinya dia memulai gerakan "One-man".” Jelas Dae Young, Myung Joo berpikir sekarang apa yang akan dilakukan Dae Youg
Kau bilang, kau akan memberiku hadiah, apa aku bisa menggunakannya sekarang?” ucap Dae Young
Myung Joo terdiam, Dae Young mendekat lalu mencium kening Myung Joo dengan lembut. Setelah itu melepaskan kalung tentaranya dan menaruh ditelapak tangan Myung Joo, berharap agar pacarnya itu cepat sembuh.
Jika kau kehilangan name tag ini, kau tahu kan aku harus membelinya lagi?” ucap Dae Young
Kau juga tahu kan, kau harus kembali?” balas Myung Joo dengan menatap Dae Young menahan air matanya yang hampir tumpah. Keduanya memberikan saling memberikan sedikit senyuman. 

Dae Young mengajak tiga anak buahnya, Woo Geum, Kwang Nam dan Chul Ho memberitahu kalau mereka akan melakukan gerakan misi "Black". Dengan melawan musuh yang memiliki senjata, dan tak ada bantuan lain selain pasukan kita sendiri.
Ini adalah misi "Tanpa Seragam", dan mungkin kita tak akan selamat. Jika ada yang tak ingin ikut, kau akan tetap dimaafkan. Ada pertanyaan?” ucap Dae Young, Semua menjawab tidak ada
Baiklah.... Istirahat kita sudah berakhir. Mulai saat ini, Tim Alpha akan beraksi.” Tegas Dae Young
Semua mempersiapkan tembakan khusus yang disimpan dalam gudang dan menganti pakain mereka dengan serba hitam, topi dan jaket anti peluru. Pisau, senjata laras panjang dan juga bom sudah siap mereka persiapkan sebelum berangkat.
Diruang rapat korea selatan, beberapa petinggi korea siap berkumpul. Terlihat wajah sangat tegang dari Letnan Yoon yang mengizinkan anak buahnya melakukan penyelamatan tanpa mengunakan seragam tentara. 


Sebuah CCTV  merekam semua kejadian didepan gedung, terlihat bayangan hitam yang memanjat dinding. Pengawal di pintu depan bersiaga dengan senapan panjangnya, dari belakang lehernya dijerat oleh tali dan pingsan seketika. Shi Jin berhasil masuk dengan membawa senapan panjangnya.
Diruang CCTV, seorang penjaga sedang asik main games melihat sesuatu yang mencurigakan keluar dengan membawa pistol. Sebuah tali terulur dari lantai atas kebawah. Shi Jin langsung menarik tangan si pria bule yang membuatnya jatuh dan ia berhasil naik ke lantai dua.
Perlahan Shi Jin masuk ke dalam ruangan dan sempat bersembunyi dibalik dinding, sebelumnya berhasil melawan satu penjaga dan masuk keruangan lainnya dengan siap pistol ke arah depan, betapa kagetnya melihat beberapa anak kecil yang disandera didalam kamar. Ia meminta agar anak-anak tak bersuara lalu sengaja menembak CCTV. 

Tommy melakukan transfer dari dalam laptopnya, lalu memberitahu  Kesepakatan dengan Urk Utara sudah selesai dan pihak Urk sudah mentransfer uangnya. Argus pun mengucapkan selamat tinggal dengan memasukan laptopnya ke dalam akuarium, sambil menari-nari merasa bahagia karena mendapatkan uang.
Dibalik lukisan terdapat brangkas, Mo Yun melihat ada tumpukan uang dolar yang banyak didalamnya dan juga ada berlian yang dikeluarkan oleh Argus. Tommy bertanya bagaimana dengan nasib anak-anak yang di sandera. Argus Mengatakan untuk menyuruh Tommy menembak segala sesuatu yang tak muat dalam koper, dengan mengunakan walkie talkie memerinthakan agar mengurus anak-anak itu.
Pria berkulit hitam dan dua pria lainnya sedang main kartu, menerima perintah Tommy. Dilayar CCTV sudah tak ada lagi rekaman dari ruang penyanderaan. Keempatnya langsung turun dan sudah banyak asap gas air mata, Shi Jin dengan cepat menembak semua pria yang menyandera anak-anak.
Tiba-tiba dari belakang seseorang memerintahkan untuk menurunkan pistolnya, Pria hitam dan tinggi besar sudah memegang seorang anak sebagai ancaman, Shi Jin mengangkat tangan dan saat itu juga pria hitam kena tembak dari belakang. 

Shi Jin kaget melihat Dae Young yang menembak si pria hitam, dan beberapa anak buahnya juga datang. Ia bertanya kenapa mereka ada ditempat itu juga. Dae Young malah baik bertanya kenapa Shi Jin mengangkat tanganya tadi.
Aku hanya gugup karena sendirian... jadi, aku hanya mau menyambut kalian dengan mengangkat tanganku.” Ucap Shi Jin
Tak perlu gugup, kami sedang dalam misi Tim Alpha sekarang.” Kata Dae Young
Terima kasih, karena mereka sudah mau bergabung dalam tim. Kapten Big Boss, aku akan memberikan perintah sekarang.” Ucap Shi Jin dengan senyuman mengambil alih tanggung jawab.

Piccolo, Harry Potter, lindungi anak-anak dan keluar dari dengan cepat.” Perintah Shi Jin pada Kwang Nam dan Chul Ho, keduanya mengerti dan langsung berjalan masuk ke lorong.
Wolf dan Snoopy, kalian ikut denganku dalam misi penyelamatan sandera.” Kata Shi Jin pada Woo Geum dan Dae Young, kedunya pun mengerti, Shi Jin siap memberikan perintah agar keduanya siap melaksanakan tugas. 


Di korea selatan
Kepala Urusan Luar Negeri dan Kemanan Nasional kaget menanyakan siapa yang memulai misi itu. Letnan Yoon mengatakan Pada pukul 20:20 waktu Korea, Pasukan Khusus Republik Korea telah melaksanakan misi "Black
Tapi, tunggu! Letnan Kepala Yoon! Memangnya siapa yang mengijinkan mereka?” teriak Kepala Urusan Luar negeri sambil berdiri
“Ini Sungguh menyebalkan. Tentara AS telah berjanji untuk menyelamatkan sandera dalam waktu 24 jam.” Tegas Kepala Urusan Luar Negeri sambil melotot
Orang yang ingin tentara kita aselamatkan adalah warga negera Korea. Aku tak tahu alasan apa yang membuat anda tidak mengerti.” Kata Letnan Yoon
Ini bukanlah masalah penyanderaan yang sederhana. Bagaimana jika kita terlibat dan mengacaukan gerakan CIA? Siapa yang akan bertanggung jawab?” kata Kepala Urusan Luar Negeri marah
Letnan Yoon menegaskan dirinya itu sangat mengerti tentang sistem politik, Kepala Urusan Luar Negeri menyuruh Letnan Yoon untuk berhenti  memotong perkataannya, Letnan Yoon yang sedari tadi mengarahkan pandanganya ke depan dengan berani menatap wajah Kepala Urusan Luar Negeri.

Ini adalah masalah keamanan nasional yang harus ditangani dengan cara politik dan diplomatik. Jadi, kita serahkan saja penyelamatan ini pada tentara AS. Dan kita bisa mulai meningkatkan penjagaan dan mengontrol press....” ucap Kepala Luar negeri yang kembali dipotong oleh Letnan Yoon.
Hei, Pak Pejabat...” kata Letnan Yoon berani berbicara dengan nada mengejek, Kepala Luar Negeri tak percaya Letnan Yoon memanggilnya seperti itu berpikir kalau ia salah dengar.
Jika kau salah dengar, maka dengarkan aku baik-baik sekarang. Mungkin, bagi kalian, keamanan Nasional adalah hanyalah omongan diplomatik yang bertele-tela di depan kamera press, tapi bagi pasukanku, ini adalah perlindungan negara dan mengorbankan masa muda mereka dan juga mempertaruhkan hidup mereka dalam melaksanakan tugas!” tegas Letnan Yoon dengan nada tinggi dan mata melotot
Alasan mereka tetap melindungi Negara yang bahkan tak mengenal nama mereka, rela melakukan misi yang mungkin saja meregut nyawa mereka karena mereka percaya bahwa keamanan warga adalah Keamanan Nasional. Sebagai Letnan Kepala, aku yang akan bertanggung jawab, jadi, kau bisa mencabut seragamku dan mengumpulkan press serta  bicara di depan kamera dengan sombong!” kata Letnan Yoon menyindir, Kepala Luar Negeri tertawa mengejek mendengarnya,
Kau mau bertanggung jawab, 'kan? Jadi, kau rela melepas seragammu?” ucap Kepala Luar Negeri
Jika itu demi kehormatan, aku bisa melepasnya kapan saja.” Tegas Letnan Yoon sangat yakin. 


Ki Bum memberitahu kalau itu adalah obat herbal yang sudah dibuat oleh Ye Hwan dan Myung Joo harus minumnya sekali teguk, Myung Joo menerima semangkuk obat herbal merasa sudah  membuat banyak orang khawatir lalu memulai meminum obat herbal sampai habis.
Meskipun, ini bukanlah pertanyaan yang pas ditanyakan saat ini, tapi... Apa terjadi sesuatu pada Dr. Kang? Apa sudah ada kabar dari Sersan Seo?” tanya Sang Hyun penasaran, Min Ji juga menanyakan apakah Mo Yun memang benar diculik
Apa Kapten Yoo dan mereka pergi untuk menyelamatkan Dr. Kang?” tanya Ae Ra juga ikut penasaran,
Jangan khawatir. Dia pasti akan menyelamatkan Dr. Kang, bagaimanapun caranya.” Kata Myung Joo, Min Ji bertanya cara seperti apa yang dimaksud.
Kau pasti tak ingin tahu.” Ucap Myung Joo, semua terlihat semakin tegang mendengarnya. 

Mo Yun duduk dengan tangan di ikat pada kursi, dua pengawal dengan badan besar menjaga disampingnya. Argus melihat jam dengan uang dollar sudah ada didalam koper, dengan senyuman mengejek kalau waktunya sudah habis.
Kita lihat, apakah pacarmu itu menepati janjinya. Ayo bersiap dan berangkat.” Kata Argus lalu membawa Mo Yun keluar dari ruangan dan terlihat dari CCTV.
Woo Geum sudah menyendera orang yang menjaga CCTV, Dae Young melihat Agus masih ada di dalam gedung jadi mereka harus cepat bergerak. Shi Jin mengatakan kalau mereka memulai misinya sekarang. Sebuah helikopter tepat berada diatas rumah yang ditempati Argus. 

Shi Jin sudah berada dilorong ketika Argus datang, memberitahu  sudah menyiapkan rute rahasia, seperti yang diminta. Argus tahu hanya meminta hal itu tapi ingin Shi Jin mengantarkan juga kesana. Shi Jin menegaskan dirinyas udah menepati janjinya jadi Argus juga harus menepatinya dan meminta agar melepaskan sandera. Mo Yun keluar melihat Shi Jin yang datang, dari kejauhan Shi Jin melihat wajah Mo Yun dan langsung mengangkat pistolnya.
Apa kau memukulnya?” ucap Shi Jin marah, lalu dengan bahasa korea agar  penembak jitu bersiap. Dae Young mengatakan  Wolf sudah siap dan sudah membidiknya dari luar jendela.
Shi Jin melihat Mo Yun yan memakai bom rakitan serta Argus yang memegang tombolnya, ia meminta agar Dae Young menahan tembakanya. Lalu bertanya pada Woo Geum apa ia tahu jenis bom yang melekat pada sandera.
Dari bentuknya, itu adalah rompi bom waktu yang biasa. Tapi, pemicunya ada ditangannya, jika dia melepasnya, bomnya akan meledak.” Ucap Woo Geum
Bagaimana jika aku memotong pergelangannya saja?” kata Dae Young sudah tak sabar menembak
Tahan! Jika kau menembaknya, rompi akan meledak.” Kata Woo Geum

Shi Jin bertanya apakah tak ada cara lain, Woo Geum mengatakan akan segera datang. Mo Yun yang mengeri ucapan Shi Jin berusaha untuk menahan ari matanya dan agar tetap kuat. Terdengar suara mesin helikopter diatas gedung.
Berhenti bermain-main dan suruh helikopternya mendarat.” Ucap Argus dari jendela melihat lampu helikopter yang berkedap kedip
Lepaskan dia dulu, atau... kau tak akan pergi.” Kata Shi Jin dengan terus menodong kan pistolnya.
Aku harus berada di tempat yang aman, atau dia akan mati.” Ucap Argus samibil memeluk Mo Yun sebagai ancaman
Pasti ada wireless yang terhubung pada pemicunya, jadi ulur waktunya.” Ucap Woo Geum datang dan berdiri dibelakang Shi Jin.
Argus yang tak mengerti bahasa korea bertanya pada Mo Yun apa yan dikatakan mereka. Mo Yun berbohong mengatakan  tentang cuaca hari ini adalah hari yang indah. Argus langsung menaruh pistol dikepala Mo Yun karena berbohong dan sudah ingin mati saja. Tiba-tiba tembakan mengenai pistol Argus dan membuat pistolnya terjatuh. Argus melotot marah karena Shi Jin itu sudah gila.

Kau bisa anggap begitu. Jadi, jangan menakut-nakutinya. Jangan menyentuhnya.... Jangan berbicara padanya.... Kau hanya punya urusan denganku... Bawa aku saja.” Ucap Shi Jin
Tidak, terima kasih. Akan Lebih menyenangkan untuk bepergian dengan wanita cantik.” Kata Argus sambil mengambil kembali pistol yang terjatuh.
Woo Geum memberitahu  Wireless sudah ditemukan, yaitu Lampu hijau yang kedap kedip di bahu sebelah kanan dan sangat yakin. Shi Jin melihat ada lampu kedap pada bahu Mo Yun, akhirnya ia menurunkan pistolnya dan berbicara dengan Mo Yun.
Maaf karena datang terlambat. Jangan bergerak, tetap berdiri di tempatmu. Kau percaya padaku, 'kan? Jangan sampai bergerak.” Ucap Shi Jin lalu mengangkat kembali pistolnya.
Argus bertanya apa yang akan dilakukan Shi Jin sekarang, Shi Jin menjawab dengan bahasa korea akan melakukan tembakan. Peluru meluncur tipis di arah bahu Mo Yun dan langsung ditembakan pada dinding, Dae Young juga langsung menembak dari jarak jauh pada anak buah Argus. Beberapa kali Shi Jin melepaskan tembakan sampai mengeluarkan api dan Argus tak bisa bergerak. 



Disisi lain, Woo Geum berusaha melepaskan bom yang dipakai oleh Mo Yun. Shi Jin bertanya berapa banyak waktu yang tersisa. Woo Geum mengatakan hanya satu menit dan yakin bias melepasnya dalam waktu 1 menit dan meminta agar tak bergerak.
Aku memang tak mau bergerak dan sedang mencobanya, tapi...” ucap Mo Yun karena merasaka semua tubuhnya bergetar.
Apa kau masih ingat leluconku waktu kita di Padang Ranjau itu? Kau memintaku memanggil penjinak bom, 'kan? Aku sudah berkecimpung di dunia militer selama 15 tahun, dan aku tak pernah lihat Staf Sersan Choi gagal dalam menjinakkan bom. Dia adalah yang terbaik dalam tim kami. Jadi, jangan khawatir Dr. Kang, kau tak akan mati.” Ucap Shi Jin berusaha menenangkan dengan menatap Mo Yun
Tapi... waktunya tinggal 30 detik. Sebelum bomnya meledak, cepat pergi ke tempat yang jauh!” kata Mo Yun menyuruh Shi Jin pergi.
Kau tak tahu apa yang bias kita lakukan dalam waktu 30 detik itu.”ucap Shi Jin tenang.
Woo Gum bisa memotong kabelnya dan akan melepaskan rompinya, Shi Jin pikir Mo Yun bisa percaya padanya sekarang. Woo Geum memberitahu bisa  melepas rompinya, tapi tak bisa menjinakkannya lalu meminta semua berlindung dan melepar keluar gedung. Shi Jin memeluk Mo Yun, terjadi ledakan cukup besar dihalaman gedung dan Dae Young berlindung dibalik tembok. 

Mo Yun melihat tangan Argus yang bergerak untuk mengambil pistol, terdengar suara dari Walkie talkie memberitahu Shi Jin disisi kirinya. Shi Jin merasakan tembaka dibagian belakangnya karena sengaja melindungi Mo Yun.
Argus ingin pergi dengan membawa koper uangnya, Dae Youn bisa menembaknya tapi sedikit meleset karena Argus bisa menghindar. Shi Jin berbaring sengaja menutup mata Mo Yun yang ada dipelukanya, meminta agar melupakan kejadian itu.
Beberapa kali Shi Jin sengaja menembakan pelurunya kearah Argus dengan air mata yang mengalir, Mo Yun tak melihat tapi bisa mendengarnya suara pistol yang tertembak. Salah satu peluru mengenai tangan Argus dan akhirnya jatuh diatas tumpukan uang dollar dengan darah. 

Keduanya naik helikopter yang sudah tersedia, Seseorang memberitahu ada telp dari Letnan Yoon untuk Shi Jin. Shi Jin melaporka Misi telah selesai dan dalam perjalanan kembali ke barakTarget sudah dilumpuhkan serta sandera sudah selamat. Mo Yun menatap Shi Jin yang sedang berbicara dengan Letnan Yoon.
Aku akan mematikan radio dan segera bersiap dan akan menjalani proses hukuman.” Ucap Shi Jin bersedia menerima hukuman setelah menyelamatkan Mo Yun
Kau sudah bekerja keras dalam misi Kau tak akan menerima pernghargaan apapun dan juga tak akan menerima hukuman. Tapi, anggap itu penghargaanmu” ucap Letnan Yoo, Kepala Urusan Luar Negeri yang mendengarnya berteriak marah
Jangan khawatirkan apapun dan istirahatlah, hanya itu saja.” Kata Letnan Yoon lalu menutup telp. Kepala urusan luar negeri mengeje  Pasukan Letnan Yoon sungguh kacau.
Apa sekarang kita bisa anggap ini adalah misi di bawah perintahmu?” ucap Kepala Urusan Luar Negeri, Letnan Yoon membenarkan karena i juga menginginkan hal itu.
Mungkin akan ada masalah nantinya, tapi berkat kau, semuanya akan selesai. Blue House telah merundingkan tentang masalah ini, jadi, apa yang akan terjadi nantinya....” kata Kepala Urusan Luar Negeri terhenti karena seseorang masuk memberitahu Presiden datang. Kepala Luar Negeri kaget karena Presiden datang ke tempatnya.
Semua langsung berdiri ketika Presiden Korsel masuk ke dalam ruangan, Presiden mengatakan sudah melihat laporannya sebelum datang jadi meminta semuanya untuk kembali duduk. Kepala Luar Negeri memberikan tempat duduknya untuk Presiden.
Kudengar, sanderanya sudah aman.” Kata Presiden pada Kepala Luar Negeri
Ya, tapi CIA awalnya yang ingin melakukan misi penyelamatan ini.” jelas kepala urusan luar negeri
Sekarang kita menghadapi masalah diplomatik. Masalah ini juga akan mengganggu negosiasi perdagangan.” Kata Presiden

Sebelum masalah ini juga mengganggu ke bagian administrasi, anda harus segera menghukum orang yang mengeluarkan perintah dalam misi ini.” saran kepala Luar negeri
Presiden menatap Letnan Yoon, bertanya apakah ia setuju dengan hal itu. Letnan Yoon memperkenalkan dirinya lebih dulu sebagai Komandan Pasukan Khusus, Yoon Gil Joon dan menyetujui dengan saran Kepala Urusan Luar Negeri serta bersedia untuk bertanggung jawab. Presiden berkata lain kalau ia tak setuju.
Kenapa kita harus menghukum pasukan yang berhasil dalam misi. Sandera sudah aman. Sekarang adalah masalah politik dan diplomatik. Itu artinya, semua  adalah tanggung jawabku. Aku akan mengurusnya sekarang.” Kata Presiden, Kepala Urusan Luar Negeri terlihat panik
Susun semua masalah yang mungkin akan timbul akibat masalah ini.” perintah Presiden lalu berdiri dari tempat duduknya dan semua pun ikut berdiri.
Terima kasih karena telah menyelamatkan warga kita. Kudengar, mereka juga menyelamatkannya tanpa cedera.” Ucap Presiden membungkukan badanya. Letnan Yoon membalasnya dengan memberikan hormat sebagai tentara. 


Kalung Dae Young masih ada digenggam tangan Myung Joo, ketika mendengar suara helikopter mendarat Myung Joo langsung melepaskan infus dan berlari keluar ruang rawat, langkahnya hampir terjatuh ketika menuruni tangga dan seseorang pun menahanya agar tak terjatuh. Dae Young sudah datang kembali dan menyelamatkan Myung Joo yang akan terjatuh, Myung Joo seperti tak percaya memegang wajah Dae Young yang pulang dengan selamat.
Mo Yun berjalan di reruntuhan bangunan, melihat Shi Jin duduk sendirian, ditanganya memegang sebuah foto dengan tatapan sedih. Mo Yun hanya diam saja melihat Shi Jin yang mengeluarkan korek api lalu membakarnya. 

Ae Ra membersihkan luka di pundak Mo Yun, Mi Jin berkomentar selama ini  belum pernah melihat luka tembak. Sang Hyun pikir  Luka tembak  sangat lumrah di tempat mereka sekarang. Ae Ra memberitahu Mo Yun akan menerima beberapa jahitan. Mo Yun mengangguk mengerti.
Sang Hyun mengeluarkan sesuatu meminta Mo Yun mengigitnya karena  akan mendapatkan vodka dan mereka akan mengingat pengorbanannya. Ae Ra langsung memukulnya, Sang Hyun heran kenapa harus dipukul karena ia itu adalah cara para tentara untuk mengatasi luka tembak dan mengejek Ae Ra itu tak pernah nonton film.
Dalam film horror, orang yang cerewet lah yang duluan mati. Kau saja yang gigit pena itu.” Ucap Ae Ra kesal, Mo Yun tak bisa menahan rasa sedihnya dan langsung menangis.
Kau sudah berusaha keras. Kami sangat khawatir.” Ucap Sang Hyun menepuk pundak Mo Yun yang menangis. Mi Jin bertanya yang harus dilakukanya Sang Hyun meminta agar Mo Yun bisa mengigit pulpennya. Ae Ra langsung berteriak marah. 

Semua tentara olah raga lari dengan bertelanjang dada dipagi hari, Dae Young pun berteriak meminta semua anggotanya mengucapkan "Pria Perkasa" sambil berlari. Ae Ra, Mi Jin dan perawat lainya terkesima melihat semua tentara dengan badan yang bagus berlari didepan mereka. Semua tentara juga sedang bisa dilihat oleh para wanita.
Sang Hyun yang ada didepan tentara berteriak memanggil Dae Young yang berlari dengan anak buahnya. Dae Young menghampiri Sang Hyun yang mengajaknya bicara. Sang Hyun mengatakan sudah berusaha untuk diam, tapi otak pintarnya tak bisa menahannya lagi.
Kenapa kita harus melihat adegan "tak senonoh" ini tiap pagi? Ini adalah pengaruh yang berbahaya.” Keluh Sang Hyun, Dae Young hanya tersenyum lalu menepuk pundak Sang Hyun dan pergi menyusul anak buahnya yang sudah berlari. 

Mo Yun berjalan sedikit ke arah bukti dan melihat Shi Jin yang berjalan kearahnya, dengan menaruh tangan di ban pingangnya, Shi Jin bertanya bagaimana dengan luka tembak Mo Yun di bahunya. Mo Yun tahu  kemarin terlalu syok untuk bisa bertanya.
Bagaimana dengan Fatima?” tanya Mo Yun
Dia baik-baik saja dan sedang dirawat di Markas Komando. Mereka bilang, dia akan sepenuhnya pulih.” Kata Shi Jin, Mo Yun terlihat tak begitu percaya, Shi Jin heran Mo Yun bisa meragukan jawabanya
Kau selalu saja berbohong padaku. Kau bilang, anak-anak dari Desa Berhantu sudah aman. Tapi, ternyata mereka semua disandera bersamaku.” Ucap Mo Yun Shi Jin meminta maa karena sudah berbohong karena hanya tak ingin Mo Yun menjadi khawatir.
Apa lagi yang kau sembunyikan, agar aku tidak khawatir?” tanya Mo Yun penasaran 

Shi Jin mengingat saat pertama kali bertemu dan Mo Yun menjahit lukanya bertanya kenapa bisa mendapatkan luka itu, jawabanya berbohong mengatakan kalau ia terluka saat menjadi buruh. Ketika pulang dari markas, Mo Yun menanyakan keadaanya apakah ia terluka, Shi Jin mengatakan baik-baik saja dan berbohong kalau Hanya kecelakaan mobil saja, lalu balik bertanya apakah semua baik-baik saja.
Ketika pergi ke kota, Mo Yun bertanya apakah terjadi sesuatu. Shi Jin mengatakanharus pergi ke Markas besar padahal ia bertemu dengan Argus dan sempat mengangkat pistolnya.
Tidak ada... Sudah tak ada kebohongan lainnya.” Akui Shi Jin, Mo Yun Sudah tahu kalau Shi Jin itu berkata bohong lagi.
Apa alasan kenapa kau selalu berbohong? Sekarang aku mengerti. Kebohongan yang selalu kau katakan... Bukanlah hal yang bias aku keluhkan ataupun pertengkarkan. Kebohongan ini adalah... tentang hidup dan mati seseorang, Politik dan diplomasi, dan masa depan seluruh bangsa.” Ucap Mo Yun menatap Shi Jin dengan mata berkaca-kaca

Kau selalu saja bercanda.. untuk menutupi apa yang tak bisa kau katakan padaku. Kau akan selalu bercanda... agar aku tak mengetahui sesuatu yang tak seharusnya kuketahui. Dan aku tak akan percaya padamu. Lalu pada akhirnya, kita... tak bisa mengatakan apa-apa.” Ucap Mo Yun dengan Shi Jin hanya bisa diam saja.
Aku hanya ingin... Bercerita tentang saat aku marah saat orang mengambil 2 slot parkir. Bercerita tentang kebingunganku memilih makan siangku Atau cerita tentang paketku yang terlambat. Itu adalah hal-hal biasa yang bisa diceritakan.”akui Mo Yun dengan tertunduk menahan tangisnya,
Kalau begitu, katakan. Semua yang kau katakan itu sangat penting untukku.” Kata Shi Jin
Aku tahu itu. Aku percaya... Tapi... Aku tak bisa mengatakan hal-hal yang seperti itu pada seseorang yang melindungi orang lain dari tembakan peluru.” Kata Mo Yun
Shi Jin pikir Mo Yun ingin memutuskan hubungan lagi dengan mata berkaca-kaca, Mo Yun menatap mata Shi Jin dalam-dalam,mengatakan ingin tahu, apakah Shi Jin adalah seorang pria yang bisa menemaninya, lalu berjalan meninggalkan Shi Jin.
Di pikiran Mo Yun mengingat ucapan Argus saat disandera ”Big Boss.... Dia cerdas, Lucu Dan misterius. Tapi... Dia punya banyak rahasia dan akan menghilang, setelah itu sulit untuk dihubungi. Lalu, suatu hari... Dia tak akan pernah kembali."
bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar