Selasa, 04 November 2014

Sinopsis Birth of Beauty Episode 8 Part 1


"Dokter...apa kau mencintaiku?" tanya Sa Ra dengan mata melotot, Tae Hee buru-buru menutup laptopnya dan memalingkan wajahnya, ia tak percaya Sa Ra bisa melihat hasil tes psikologinya yang selama ini ia sembunyikan. 

Beberapa menit kemudian, Tae Hee berani menatap Sa Ra yang masih melotot kaget. Dia menjelaskan tentang sindrom tangan alien, dimana otak kiri dan otak kanan itu tidak cocok. Dia memperagakan seperti tangan paruh bebek ke arah Sa Ra lalu menahannya. 

"Salah satu tangan bergerak secara tidak sadar. Aku tidak mau bergerak.. Tapi ini..." tangan Tae Hee mencoba menahan lalu mengarah pada Sa Ra seperti mematuk kepalanya. 

Sa Ra kesakitan, Tae Hee menjelaskan itu semua bukan dia yang melakukannya tapi itu adalah tangannya. Dan itu yang ia sebut sebagai sindrom tangan alien. 

"Ketika aku melakukan penilaian di depan detektor kebohongan, tanganku tiba-tiba bergerak atas kemauannya sendiri. Itu sebabnya Hasil yang tidak masuk akal ini keluar Jangan dipikirkan." ucap Tae Hee dengan tanganya yang bergetar. 

Dia menganggap Sa Ra itu perempuan atau pria tapi termasuk ke dalam jenis kelamin yang ketiga dan ia melihat Sa Ra itu hanya seorang ahjumma. 

Sa Ra seperti tak percaya, Tae Hee menegaskan kembali kalau mereka itu rekan kerja yang bergabung karena alasan yang sama dan tak mungkin ia memiliki perasaan padanya. Sa Ra terlihat sedikit cemberut. 

"Bagiku kau juga jenis kelamin ketiga, yang bukanlah pria atau perempuan. kau hanya seorang Dokter. Aku juga tidak punya perasaan apapun." tegas Sa Ra

Lalu Tae Hee merasa mereka itu sama dan tak ada bedanya, lalu ia menyuruh Sa Ra untuk cepat berkerja. Sa Ra yang terlihat kesal ikut memperagakan tangan alien yang dimiliki oleh Tae Hee dengan mematuk-matuk di depan wajah Tae Hee. 

Dia pergi berjalan meninggalkan Tae Hee dari sorot matanya seperti kesal pada Tae Hee yang tak mau mengakui perasaannya. 


Beberapa menit kemudian, Tae Hee sudah membuka laptopnya. Ia menyesal karena Sa Ra bisa melihat hasil psikologinya. Tiba-tiba Sa Ra menuruni tangga dengan baju pelayan da sarung tangan brokatnya. 

"Dokter.....Aku mau bersih-bersih." ucap Sa Ra dengan nada mengoda. 

Sa Ra mulai mengunakan vacum cleanernya untuk membersihkan semua ruangan sambil bernyanyi. Tae Hee mengumpat karena Sa Ra seorang ahjumaa dan bernyanyi musik trot pula. Sa Ra mulai membersihkan kolong meja dan menyuruh Tae Hee mengangkat kakinya. Tae hee pun menurut. 

Lalu ia menganti ujung vacumnya menjadi runci dan mulai menyedot debu di sofa, Tae Hee yang sedang berbaring mencoba untuk menghindar dari tatapan Sa Ra. Dia menyuruh Sa Ra menjauh dan tidak mendekatinya. 


"Siapa yang peduli? Aku bukan pria atau perempuan, tapi jenis kelamin ketiga." ucap Sa Ra santai 

Ia terus menyedot debu dibagian kepala Tae Hee dan sedikit lebih mendekatkan dirinya, akhirnya ia melihat wajah Tae Hee lebih dekat. beberapa saat kemudian keduanya saling menatap satu sama lain cukup lama. Tapi akhirnya Tae Hee yang memalingkan wajah terleih dulu dengan membalikan badannya. 


Sa Ra selesai mandi dan membersihkan wajahnya, ia berbicara sendiri kalau tadi itu ia sengaja melakukannya untuk mengoda Tae He tapi sekarang ia merasakan sesuatu yang aneh. 

"mengapa membuatku marah dengan mengatakan bahwa aku jenis kelamin ketiga?" umpat Sa Ra kesal. 

Sementara Tae Hee masuk kekamarnya dengan membanting pintunya, ia merasa Sa Ra itu sedang mengejeknya. Dengan wajah kesal, ia yakin seseorang tak akan mungkin tahan melihat dirinya yang sangat jenius. Terlihat wajah Tae Hee yang memiliki cara untuk membalas dendam. 


Sa Ra sudah siap-siap untuk tidur, Tae Hee datang dengan mengunakan celana panjang dengan kaos dalam. Tiba-tiba ia bisa melepas celananya dan melempar ke arah Sa Ra untuk mencucinya. 

"Kenapa kau tiba-tiba melepas pakaian?" ucap Sa Ra panik. 

"Kau mendekatiku ketika sedang membersihkan. Aku bukan seorang pria bagimu, bukan? Aku hanya Dokter bukan pria atau perempuan" kata tae hee menantang 

Sa Ra pikir seharusnya Tae Hee tak perlu melepaskan pakaian didepan matanya seperti ini. Tae Hee merasa Sa Ra itu sedang memandanginya. Sa Ra menyuruh Tae Hee untuk cepat keluar dari kamarnya. Tae Hee malah mendekati Sa Ra seperti saat Sa Ra mencoba mendekatinya. 

Akhirnya Sa Ra mendorong Tae Hee untuk keluar dari kamarnya, Tae Hee berteriak menyuruh Sa Ra untuk mencuci celananya. Sa Ra mengerti, ia akan mencuci celanannya. Tae Hee akhirnya menuruni tangga dengan celana pendek dan kaos dalamnya 

"Kau berani menggodaku? Aku ini si jenius Han Tae Hee." ucapnya bangga dengan gagap berani. 

Setelah itu ia merasakan sangat kedinginan dan buru-buru memasuki kamarnya untuk menyalakan pemanas. 

Sementara di kamar Sa Ra, ia berdiri di depan cermin dengan wajah Kesal. 

"Apa yang dia pikirkan tentang para ahjumma Korea?" umpatnya. Matanya melirik seperti memikirkan rencana balas dendam. 


Tae Hee sudah duduk di kamarnya dengan mengunakan pakaian tidurnya, ia melihat kotak cincin di depan matanya. 

Ia mengingat saat Sa Ra mengadaikan cincin pernikahannya dan akan menebusnya kalau ia sudah menikah lagi dengan Kang Joon. 

Wajah Tae Hee terlihat sedih karena impian itu tak akan tercapai. Suara Sa Ra terdengar memanggilnya, ia buru-buru menutup kotak cincin milik Sa Ra. 


Tae Hee kesal karena Sa Ra datang ke tempatnya, tapi ia sedikit kaget karena Sa Ra mengunakan topeng scream dengan meyenteri wajahnya. Sa Ra membuka topengnya dengan tertawa bahagia. Tae Hee mengumpat karena bercandannya kali ini sangat kekanak-kanakan. 

"Kau merasa takut, kan? Jangan melawanku. Aku seorang atlet jadi aku sangat kompetitif." tegas Sa Ra. 

Sa Ra melihat kotak yang jatuh terlempar saat ia berusaha menakuti Tae Hee. Ia mengambilnya dan melihat itu adalah kotak cincin penikahan yang ia tinggalkan di pegadaian. Tapi ia binggung kenapa cincin itu sekarang ada pada Tae Hee. 

"Aku mengambilnya kembali. Kau bilang cincin pernikahan penting untukmu. Kupikir kau akan menangis jika
orang lain membelinya." akui Tae Hee 

Tapi yakin cincin iu sudah tidak berarti lagi apapun untuknya tapi ia pikir Sa Ra tetap harus menyimpannya. Wajah Sa Ra tersenyum bahagia ia melihat Chae Yoon bodoh karena tidak memilih Tae Hee sebagai pasangannya. 

"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Tae Hee binggung 

"Meskipun kau terlihat seperti Kim Sundal si pembohong, kau tipe ideal yang sebenarnya. Kau bersikap dingin. Tapi kau benar-benar hangat. Bagaimana bisa dia menolak seorang pria seperti itu?" puji Sa Ra . 



Sa Ra tetap menganggap Chae Yoon itu adalah wanita bodoh. Tae Hee terlihat bangga karena mendapat pujian, ia meminta Sa R itu melihat poin yang baik dalam dirinya. 

"Kau cerdas. Tidak ada yang tidak kau tahu. Kau hebat dalam berkelahi." ucap Sa Ra

Dia memperagakan saat Tae Hee melawan pria-pria di restoran, ia yakin ada banyak wanita yang akan jatuh cinta kepadanya. Tae Hee juga memuji Sa Ra, ia memperagakan gaya tamparan keras pada Kang Joon yang tak mungkin setiap wanita bisa melakukannya. 

Tae Hee menganggap Sa Ra itu versi perempuan dari Hwang Bi Yong. Ia memperagakan versi kuda-kuda dan geraka Yudho yang dibiasa di lakukan Sa Ra menurutnya para wanita itu tak bisa melakukannya. Sa Ra tersenyum sumringah mendengar pujian Tae Hee. 


Keduanya sudah pindah ke meja makan sambil minum bersama dan setumpuk kripik di depan mereka. Sudah tidak ada dendam yang ada mereka tertawa bersama. 

Tae Hee meminta Sa Ra mulai memujinya lagi. Sa Ra mengeluarkan kaca pembesar melihat kearah matanya Tae Hee. 

"Kau punya bulu mata yang panjang. Ketika kau melihat ke bawah kau terlihat keren dan kesepian." puji Sa Ra 

Tae Hee memperagakan saat matanya melihat kebawah lalu menatap seseorang, ia bahagia karena Sa Ra ikut tertawa melihatnya. Lalu ia meminta Sa Ra melihatnya lagi, Sa Ra melihat ke arah bibir Tae Hee, menurutnya bibirnya itu seksi saat mengerut. Tae Hee mencoba mengerutkan bibirnya seperti memberikan gaya duck face. 

Sa Ra berteriak kalau Tae Hee itu benar-benar Seksi. Sekarang Tae Hee yang mengambil kaca pembesar dari tangan SaRa. Ia meminta supaya Sa Ra melotot padanya. 

"Aku benar-benar terpikat. Kebanyakan wanita cantik itu lemah.Tapi kau cantik dengan kekuatan" ucap Tae Hee tertawa. 

Dia melihat Sa Ra itu seperti ahjumaa dengan wajah yang cantik dan benar-benar menarik. Dia melihat ada kharisma yang tak terduga dari diri Sa Ra yang ia pelajari selama ini. Tae Hee melihat Sa Ra itu penuh daya tarik dimatanya. 

"Bagaimana aku di mata mertuaku? Ketika aku melakukannya dalam segala hal?" tanya Sa Ra. 

"Benar-benar seksi! Sangat menarik!" jerit Tae Hee dengan wajah sumringahnya. 

Lalu Tae Hee meminta Sa Ra itu menatap sinis padanya lagi, ia tertawa dan menilai Sa Ra itu sudah terlihat seperti ahjumma yang jahat. 


Tae Hee menganggap Sa Ra itu seperti bola yang berkharisma, Sa Ra pun merasa sekarang dirinya itu sangat Hebat. 

"Kau yang paling karismatik, wanita yang tidak terduga di dunia!" tegas Tae Hee yang sedikit memajukan wajahnya. 

"Dokter....Kau pembicara paling keren di dunia!" ucap Sa Ra sambil ikut mendekatkan wajahnya. 

Keduanya saling menatap, terlihat seperti ada suasana tak biasa. Tae Hee melihat mata Sa Ra yang sangat dekat di depannya, ia memberanikan diri untuk mendekat dan ingin menciumnya. Sa Ra sudah memejamkan matanya dan Tae Hee juga sudah memejamkan matanya.  

Belum sempat Tae Hee menciumnya, suara ponsel membuat Tae Hee kembali duduk di kursinya. Sa Ra melihat suaminya yang menelpnya. 


"Sara... Aku lelah karena bekerja keras hari ini. Aku memikirkanmu." ucap Kang Joon 

"Apa hari mu sangat sulit?" tanya Sa Ra berpura-pura untuk simpatik. 

Kang Joon pikir Sa Ra tak perlu tahu, dia ingin mengistirahatkan kepalanya dan mengajak Sa Ra untuk berkencan besok. Sa Ra agak panik karena Kang Joon mengajaknya pergi ke luar kota. Tae Hee yang mendengar pembicaraan Sa Ra memberikan tangannya supata Sa Ra menyetujuinya. 

"Baiklah.Mari kita pergi bersama dan membawa makan siang." ucap Sa Ra sebelum menutup telpnya, 

Wajah Tae Hee berubah serius, ia memikirkan rencana besok untuk menjatuhkan Kang Joon kembali. 


Setelah itu anak buahnya datang memberikan hormat padanya. Kang Joon menanyakan tentang Ibu Geum Ran sekarang. Anak buahnya memberitahu kalau sekarang Ibu Geum Ran sudah di rawat dirumah sakit sesuatu perintahnya. 

Kang Joon memejamkan matanya dan menyuruh anak buahnya keluar, sepertinya ia merasa ada kelegaan sekarang. Saat membuka matanya seperti terlihat mata orang yang sangat jahat dan kejam. 


Ibu Geurm Ran binggung karena ia sudah berganti pakaian dan harus mendapatkan pengobatan mental padahal ia merasa baik-baik saja. 

"Kau kehilangan putrimu dan mentalmu lemah." jelas dokter 

"Putriku memang  meninggal dunia. Tapi aku baik-baik saja. Siapa yang mengirimku ke sini?" tanya ibu Geum Ran . 

Dokter memberitahu kalau Kang Joon anak menantunya itu karena anaknya sudah tidak ada lagi jadi Kang Joon adalah sebagai walinya sekarang. Ibu Geum Ran mengumpat Kang Joon sebagai bajingan jahat. 

"Dokter...Biarkan aku menghubungi teman putriku." pinta ibu Geum Ran . 

"Anak menantumu...meminta agar kami melarang semua panggilan telepon." jelas Dokter 

Ibu Geum Ran terlihat semakin panik karena ia tak bisa meminta bantuan pada siapapun. 


Ji Hoon mempersiapak makanan untuk adiknya, ia melihat wajah adiknya itu sangat mengerikan sekarang. Chae Yoon sekarang ia sedang tak ada di rumah keluarga Lee tapi tak ada satupun yang menelpnya untuk mencarinya. 

"Aku akan menemui Kang Joon. Dia hanya perlu datang menjemputmumu, benar kan? " ucap Ji Hoon menenangkan adiknya. 

"Dia...mempunyai seorang wanita lain." ucap Chae Yoon jujur 

Ji Hoon terlihat kaget karena adiknya itu baru saja menikah tapi suaminya sudah memiliki wanita lainnya, Chae Yoon menceritakan seorang wanita yang menurutnya sangat mencurigakan. 

"Kurasa dia ada kaitannya dengan istri pertama Kang Joon. Aku harus mencari tahu untuk memastikan." tegas Chae Yoon dengan mata sinisnya. 


Tae Hee dan Sa Ra bertemu lagi di ruang bawah tanah. Tae Hee memberitahu kondis mereka yang memburuk karena Chae Yoon sudah tahu kalau mereka saling mengenal dan pasti Chae Yoon akan mencari tahu. 

"Sebelum itu, kita harus mendapatkan pengakuan dari suamiku" tegas Sa Ra. 

"Tentu saja. Mari kita mengakhirinya di  hari ini." ucap Tae Hee penuh semangat 

Ia memainkan keretanya dan memlakukan pemberhentian pada rumah hantu. Sa Ra menatap rencana rumah hantu yang akan mereka jalani sekarang. Tae Hee menatap Sa Ra yang melotot menatap kereta yang akan membuat Kang Joon melakukan pengakuan. 

"Ini akan segera berakhir. Setelah Lee Kang Joon masuk penjara, kita...menempuh jalan masing-masing." gumam Tae Hee dengan wajah sedihnya. 


Ibu Min Hyuk membawa segelas susu untuk anaknya. Min Hyuk melihat ibunya yang seharusnya sudah pergi kerumah peristirahatan karean jaksa sudah mengeluarkan surat panggilan untuk nenek. Dengan wajah sinisnya, ia tak ingin melewatkan saat madam park itu di panggil.

"Aku akan melihatnya dengan mataku sendiri. Orang yang harus melarikan diri bukan aku. Tapi wanita tua itu." ungkap ibu Min Hyuk

Min Hyuk mengerti, ia membiarkan ibunya ada di dalam rumah. Seorang pelayan datang memberitahu kalau madam Park sudah menunggunya dibawah. 


Min Hyuk menurni tangga dan menemui neneknya. Madam Park menanyakan kenapa pihak kejaksaan itu harus memanggilnya. Min Hyuk menjelaskan dewan HBS itu menemukan korupsi dia yayasan budaya. Dan ia tahu neneknya itu yang menangani yayasan budaya. 

"Yayasan budaya adalah penghormatan untuk almarhum ayahmu dan Dong Geul. Yang memimpin jalan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Kau tahu dengan sangat baik."

" tapi sayangnya dewan HBS tidak berpikir begitu." ucap Min Hyuk santai

Madam Park tahu HBS itu adalah anak perusahan dari Winner Grup dan kenapa mereka harus menyeretnya dalam kasus ini. Tapi sekarang itu tahu alasan Min Hyuk itu mengakusisi HBS dan memberikan jabatannya pada kaki tangannya Lee Kang Joon. 

"Itu semua bagian dari rencanamu. ternyata keraguanku itu terlihat menjadi nyata sekarang" ungkap madam park kesal. 

Ibu Min Hyuk datang memberitahu anaknya itu sudah terlambat ke kantor. Madam Park ingin memberikan tamparan tapi Min Hyuk langsung menahannya dengan memegang tangan neneknya dengan keras. Matanya mendelik penuh emosi dan kejahatan.

"Berhenti melawan...sudahi pertempuranmu. Selama adik tiriku, cucumu, Dong Geul, tidak kembali dari kematian nasibmu di tanganku" ancam Min Hyuk. 

Madam Park melepaskan tangannya dengan kesal, Min Hyuk pergi berkerja. Neneknya itu kesal melihat tingkah cucunya yang semakin berulah, ia menatap Ji Sook yang terlihat seperti nyonya rumah dan menatapnya dengan pandangan sinisnya. 


Tae Hee membuka kotak yang ia bawa sebelumnya, ia melihat alat perekam untuk mendapatkan pengakuan Kang Joon lalu ia memperlihatkan alat rekam dengan suara Geum Ran dan juga kunci mobil yang bisa mengingatkan kembali kecelakan yang sudah dibuat Kang Joon. 

"Lee Kang Joon. Kau harus membayar atas apa yang kau lakukan pada ahjumma. Hari ini hari terakhirmu." gumam Tae Hee penuh amarah.



Sa Ra menatap cermin dengan tatapan kejam dan penuh amarah. 

"Lee Kang Joon si pembunuh. Ini keputusan terakhirmu." gumamnya 

Lalu Sa Ra menuruni tangga kamarnya, Tae Hee juga keluar dari kamarnya. Keduanya saling menatap satu sama lain. 

"Apa kau siap untuk menangkap...Lee Kang Joon?" tanya Tae Hee

"Ya.....Aku siap." tegas Sa Ra 

Tae Hee mengajak Sa Ra untuk pergi bersama memberikan pelajaran untuk Kang Joon. 


Kang Joon dan Sa Ra memulai kencan mereka dengan pergi ke supermarket. Sa Ra mengungkapkan perasaanya dengan berbelanja bersama, ia merasa seperti mereka itu sudah menikah. Ia melihat ada tumpukan buah kiwi dan ia tahu Kang Joon itu suka dengan kiwi. 

" Bagaimana kau tahu aku suka kiwi ?" ucap Kang Joon sediki binggung 

Sa Ra agak panik akhirnya ia memberitahu kalau dirinya penyuka buah kiwi. Kang Joon tersenyum, ia merasa selera mereka itu memang sama. Dari kejauhan Tae Hee memberikan jempol pada Sa Ra yang berhasil membuat rencana mereka berjalan lancar. 

Keduanya pergi ke lorong permen, Sa Ra memilih dan memasukan ke dalam keranjang. Ia menyarankan mereka untuk pergi jalan-jalan ke Yangsuri karena menurutnya dengan berpiknik di dekat air itu akan menjadi sangat romantis. 

"Jika aku tahu, kita pergi kesana, seharusnya aku memberitahumu untuk berpakaian hangat. Angin sungai begitu dingin." ungkap Kang Joon penuh perhatian. 


"Aku akan membelikan pakaian untukmu setelah kita selesai berbelanja" ucap Kang Joon

Sa Ra tersipu malu karena mereka akan membeli pakaian yang sama seperti pasangan yang sudah menikah. Kang Joo tersenyum lalu ia memberika ciuman di keningnya dan memeluknya, Tae Hee yang melihatnya mengumpat Kang Joon si penzina yang berani-berani menyentuh Sa Ra. 

"Lepaskan! Pergi dari ahjumma!"

 "Kau membunuhnya. Beraninya kau menyentuhnya dan memeluknya." bisik Tae Hee kesal 

Dengan kedua tangannya ia mencoba memisahkan keduany dari jauh, setelah itu ia bisa melihat keduanya tidak berpelukan dan pergi menjauh, tapi saat itu anak kecil dengan seorang wanita melihat aneh kepadanya. 

Tae Hee menjelaskan dirinya itu sedang bermain dengan menyanyikan lagu pororo. Ibu dan anaknya itu pergi dengan wajah ketakutan. Tae Hee hanya bisa menghela nafas karena ia di anggap orang gila.

"Apa aku cemburu dalam rencana untuk menangkap Si pembunuh?" ucap Tae Hee bertanya-tanya dalam dirinya

Lalu ia menyakinkankalau itu tidak mungkin, menurutnya itu adalah sikap ksatria yang melihat pembunuh mencium korban dan saat itu sikap ksatriannya muncul tanpa disadari. Tapi setelah itu ia terlihat bersedih karena sebenarnya ia memang cemburu melihat Sa Ra di peluk Kang Joon. 


Min Hyuk berjalan melihat tayangan Sa Ra dengan tagline  [Lahirnya si cantik tukang makan], dengan senyuman bahagianya, ia bertanya dengan anak buahnya menanyakan tentang wanita yang ada di TV. 

"Orang-orang memperhatikannya karena dia cantik. Tapi namanya, alamat, dan pekerjaan tidak ada yang tahu" jelas pegawainya. 

"Bagaimana bisa seperti itu? Aku sudah melihatnya di sini dua kali." ucap Min Hyuk

Pegawainya juga memberitahu kalau pihak stasiun TV juga sedang mencarinya karena wanita itu sudah menjadi sensasi dan seseorang akan sesegra menemukannya. Min Hyuk mengelengkan kepalanya, ia menyuruh anak buahnya menemukan wanita itu. 

"Aku harus menemukannya terlebih dahulu." ungkap Min Hyuk dengan wajah sumringahnya. 


Sa Ra dan Kang Joon pergi ke toko untuk membeli jaket pasangan, Sa Ra memilih warna pink dan menanyakan pendapatnya. Kang Joon mengatakan kalau merah mudah itu cocok untuk Sa Ra. 

Mata Sa Ra mencari Tae Hee, ternyata Tae Hee menyamar menjadi patu dan menutup kepalanya. Setelah melihat Tae Hee, Sa Ra pun pergi unuk mencobanya. Tae Hee pergi kebalik patung, ia melihat ponsel Geum Ran yang sudah rusak. 

Tapi ia memiliki ponsel yang lain dengan nomor yang sama ia akan segera mengirimkan pesan dengan mengunakan nomor Geum Ran. 

"Dia akan pingsan karena berpikir istrinya yang sudah mati hidup kembali." gumam Tae Hee dan melihat Kang Joon yang berdiri tak jauh darinya. 


Kang Joon membuka ponselnya, matanya melotot kaget karena ia mendapatkan pesan dari Geum Ran dan ia yakin itu adalah nomor ponsel dari istrinya. 

"Kau bersama wanita lain selain Gyo Chae Yoon hari ini. apakah itu perselingkuhan lainnya?" 

Wajah Kang Joon panik melihat pesan yang di tulis Geum Ran. Sa Ra menatap sinis melihat Kang Joon yang buru-buru memasukan ponselnya. Kang Joon mencari-cari siapa sebenarnya yang berani mengirimkan pesa itu ke dalam ponselnya. 

Sa Ra datang sudah mengunakan jaket pinknya, wajah Kang Joon masih terlihat panik. Ia pikir Kang Joon itu tak suka dengan pilihan jaketnya. Kang Joon mengeleng, ia berusaha tersenyum memberitahu kalau Sa Ra terlihat cantik dengan jaket itu. 


Sa Ra sedang membayar pakaian yang dia beli dikasir. Sementara Kang Joon menjauh, ia menelp seseorang memasikan ibu Geum Ran itu sudah masuk ke rumah sakit karena ia mendapatkan ancaman lagi. Tapi sepertinya pegawainya memberitahu mereka sudah memasukan ibu Geum Ran ke rumah sakit jiwa. 

Di depan kasir Sa Ra dan Tae Hee saling melirik akan melanjutkan rencana yang lainnya. Kang Joon masih berpikir siapa sebenarnya yang membuat ancaman itu padanya. 


Mereka akan pergi ke Yangsuri, Saat menyetir Kang Joon mencoba menyakinkan kalau Geum Ran itu tak mungkin masih hidup jadi ia bertanya-tanya siapa yang berani melakukan ancaman itu padanya. 

Sa Ra menanyakan apakah Kang Joon ingin makan karena ia memiliki kue kenari, ia mengambil satu kantung di belakang. Dari belakang, Tae Hee mengikuti keduanya. 

"Apa ini? Ini kotak cincin.Ini foto pernikahanmu...dan seorang wanita." ucap Sa Ra pura-pura kaget 

Ia membuka kotak cincin yang ada ditangannya, Kang Joon melirik melihat cincin kawin yang sudah ia lepaskan saat ada di rumah sakit bersama Geum Ran. 


Kang Joon terlihat ketakutan dan tanpa berpikir panjang langsung membantingkan stir ke kanan. Sa Ra pun menjerit ketakutan, untungnya saja satu mobil bisa menghindari kecelakaan dan mereka sudah ada di pinggir jalan. 

Tae Hee sedikit panik melihat mobil Kang Joon yang berhenti tiba-tiba, ia mengkhwatirkan Sa Ra yang ada di dalamnya. 

Sa Ra dan Kang Joon tidak mengalami luka hanya sedikit sakit, Kang Joon melirik dengan wajah takut karena foto dan cincin di tangan Sa Ra itu membuat dirinya berpikir kalau Geum Ran itu masih hidup. 

"Apa kau baik-baik saja?  Kau tampak lelah....Beristirahatlah." ucap Sa Ra penuh kekhawatiran. 

Kang Joon menatap foto pernikahanya dengan ketakutan, wajah Sa Ra kembali sinis dan bergumam kali ini suamianya itu akan berakhir di tangannya tapi ia mengizinkan suaminya itu beristirahat lebih dulu. 

Tae Hee yang khawatir akan turun, tapi Sa Ra sudah mengirimkan pesannya lebih dulu. 

"Aku baik-baik saja. Aku akan mendapatkan pengakuan pembunuhan." tulis Sa Ra

Dan Tae Hee bisa sedikit bernafas lega di dalam mobilnya, tapi dari wajahnya tidak bisa menutupi rasa kekhawatirannya. 

Bersambung ke part 2  

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar