Minggu, 09 November 2014

Sinopsis Birth of Beauty Episode 21 Part 1


Tae Hee duduk di depan meja kerjanya sambil memegang jam tangan sebagai barang bukti saat terjadi ledakan di pabrik. Ia menduga-duga pria yang ia lihat dari belakang sebelum terjadi ledakan tapi ia juga belum begitu yakin.
Ia mengingat kembali suara yang terekam saat mendengar telp dari pria yang melakukan penyerangan.
“Apa yang terjadi?”
“Siapa yang tahu aku yang menyuruh penyerangan itu?”
“Kenapa kau tidak menjawab?” 


Chae Yoon dan Ji Hoon duduk di ruang keluarga apartement. Wajahnya tertunduk sementara bunyi ponselnya terus saja berbunyi, Ji Hoon mengambil ponsel adiknya memberitahu itu telp dari PD Yeo, Chae Yoon enggan untuk mengangkatnya.
“aku oppanya Chae Yoon, Gyo Ji Hoon. Sekarang dia tidak bisa bicara. Akan kusampaikan pesanmu padanya.” ucap Ji Hoon yang mengangkat telpnya.
Air mata Chae Yoon mengalir mendengar ucapan Jin Hoon dengan PD Yeo. Setelah menutup telpnya, Chae Yoon tahu kalau itu dari acara Birth of Chef. Ji Hoon pikir kalau memang sudah seharusnya adiknya itu mengundurkan diri.
“Dari mana aku hidup sekarang?” ucap Chae Yoon sambil terus menangis
“Begitu banyak hal sulit dalam hidup ini dan Kau masih muda dan sehat. Kumpulkan lagi kekuatanmu dan pikirkan bagaimana cara untuk hidup.” pesan Ji Hoon menasehati adiknya.
Chae Yoon semakin menangis karena sekarang karirnya terpuruk karena Sa Ra. 


Kyung Joo melihat berita dalam ponselnya, kalau Chae Yoon sudah keluar dari semua program dan ia pikir karirnya sebagai selebriti benar-benar berakhir. Ibu Geum Ran merasa itu pantas karena ia melakukan perzinahan.
“Cukup mengerikan dia bertingkah tidak melakukannya.” komentar Ibu Geum Ran
“Dan sekarang tak ada lagi yang mencaci maki Geum Ran.” cerita Kyung Joo melihat komentar Netizen
“Kalau begitu... Geum Ran akan baik-baik saja?” ucap Ibu Geum Ran
“Ya, sekarang dia sudah tak punya masalah. Sebaliknya, dia menjadi musuh publiknya Gyo Chae Yoon.” jelas Kyung Joo
Ibu Geum Ran tersenyum lalu mengajak Kyung Joo datang menemuinya. Kyung Joo setuju karena ia yang akan menelp Sa Ra segera. 


Tae Hee kembali mengulang kembali panggilan pada direktur, mendengar dengan jelas suara dari orang yang di duga sebagai orang yang menyerangnya bersama Sa Ra di meja makan.
“Apa yang terjadi?”
“Siapa yang tahu aku yang menyuruh penyerangan itu?”
“Kenapa kau tidak menjawab?”
Setelah itu memberhentikan rekaman dan yakin benar kalau ia pernah mendengar suara tersebut saat ledakan pabrik kimia. Dengan ini semua Tae Hee memutuskan untuk menemui neneknya. Sa Ra mengangguk setuju, ponselnya berbunyi. 


Ibunya menelp menanyakan keadaannya. Tae Hee mendengar pembicaraan keduanya sebelum pergi. Ibu Geum Ran menginginkan untuk datang, Sa Ra yang merasa tak enak merasa seharusnya dia saja yang menemuinya.
“Tidak, panggil Ibu datang. Bagaimanapun aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian.” ucap Tae Hee yang memilih supaya ibu Geum Ran datang kerumahnya.
Sa Ra tersenyum mendengarnya lalu memberitahu ibunya untuk datang bersama Kyung Joo kerumahnya. Sementara Tae Hee pergi menemui neneknya.
***
Sa Ra masuk ke dalam kamar Tae Hee untuk menaruh beberapa jaket dan kotak P3K yang kemarin dipakai. Ketika memasuk ke dalam laci, ia melihat kotak cincin dan saat membukanya, sepasang cincin masih di simpan oleh Tae Hee.
Ia teringat dengan cincin yang ia kembalikan pada Tae Hee dan meminta untuk putus saja. Sa Ra kembali menaruh kembali kotak cincin di dalam laci, matanya tak sengaja melihat kotak besar yang ada didekatnya, ia membuka dan di dalamnya adalah gaun pengantin yang pernah ia pakai untuk pernikahannya.

“Aku punya keinginan lama saat Natal. Aku ingin merayakan Natal bersama keluargaku. Sekarang keinginan itu menjadi kenyataan. Aku menikahi pengantin yang cantik.” ucap Tae Hee saat melihat Sa Ra yang mencoba gaun pengantinnya.
Sa Ra menatap sedih gaun pengantin yang seharusnya ia pakai untuk menikah dengan Tae Hee. Terdengar bunyi bel rumahnya, Sa Ra kembali menutup kotaknya dan keluar dari kamarnya.


Ibu Geum Ran dan Kyung Joo datang dan duduk di meja makan bersama Sa Ra
“Kau melakukannya dengan baik, Geum Ran. Sekarang kau bisa tenang.” ucap Ibu Geum Ran dengan bangga pada sikap anaknya.
“Benar, para wartawan di depan rumah juga sudah tak ada. Semua tuduhan padamu berbalik mengarah pada Gyo Chae Yoon.” cerita Kyung Joo, Sa Ra ikut tersenyum mendengarnya.
“Aku menipu orang itu memang benar, jadi Aku tak bisa mengharapkan pengampunan dari semua orang.” ucap Sa Ra merendah
Kyung Joo bertanya keberadaan Tae Hee karena ia pikir bisa bertemu dengannya dan menduga keduanya bisa kembali seperti dulu lagi. Sa Ra pun mengakui dirinya yang tak bisa hidup tanpa Tae Hee.
“Jika kau bahagia,..Ibu tak masalah.” ujar Ibunya yang mendukung Sa Ra untuk Tae Hee
“Terima kasih, Ibu. Kali ini, aku takkan mengecewakanmu Semua yang pernah kulakukan hanya menerima dari Han Tae Hee. Sekarang... aku ingin memberi kembali.” cerita Sa Ra.
“Rupanya kau punya rencana yang sudah disiapkan.” goda Kyung Joo pada sahabatnya. 


Tae Hee sudah bertemu dengan neneknya, Madam Park meminta Tae Hee tidak keluar sampai Rapat Umum Pemegang Saham dan bertanya kenapa Tae Hee datang menemuinya. Tae Hee tersenyum mengatakan dirinya yang mengkhawatirkan neneknya.
“Mungkinkah... nenek mengenali jam ini?” tanya Tae Hee menyerahkan barang bukti yang ia simpan.
“Jam ini... milik pegawai Grup Winner.” ucap Neneknya yang melihat jam yang dibawa oleh Tae Hee
“Dulu, jam ini diberikan sebagai hadiah pada pegawai. Inisialnya mewakili huruf pertama dari nama pegawai itu.” cerita Nenek sambil melihat huruf yang tertera di samping jam tangan
“ Huruf "J"... apa nenek tahu siapa pemiliknya?” tanya Tae Hee penasaran
“Ada beberapa penerima.” jawab neneknya


Direktur Kim datang menemui Tae Hee, Nenek memperkenalkan Direktur Kim pada Tae Hee karena ini baru pertama kalinya keduanya bertemu.
“Aku melihatmu sekilas di rapat direksi tapi tak punya kesempatan untuk bicara. Aku Direktur Kim Joon Chul.” sapa Direktur Kim
Tae Hee mengingat suara yang sama saat ada di pabrik dan juga suara dari rekaman itu. Direktur Kim memberikan dokumen tambahan pada nenek untuk pesidangan nanti. Ponsel Tae Hee berbunyi, Ketua Choi memberikan kabar padanya.
“CEO. Aku sudah tahu siapa di telpon itu. Direktur Grup Winner, Kim Joon Chul.” ucap Ketua Choi
Terlihat wajahnya Tae Hee yang kaget berusaha untuk tetap tenang lalu menatap Direktur Kim yang berdiri didepannya. Direktur Kim sempat menatapnya setelah itu ia kembali menatap nenek. 


Tae Hee kembali kerumah, di dalam mobil ia tak percaya kalau Direktur Kim adalah orang yang menyuruh orang untuk melakukan penyerangan. lalu berpikir sebenarnya apa yang terjadi sekarang.
Sa Ra selesai menuliskan kartu lalu tersenyum sendiri melihatnya, ia menelp Tae Hee yang belum pulang.
“Kau dimana, Dokter? Apa Kau telat? Aku sedang menunggumu.” ucap Sa Ra malu-malu
“ 20 menit lagi aku tiba. Aku akan segera tiba.” balas Tae Hee menerima telp dengan Hands Free


Tae Hee masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil Sa Ra tapi ia malah melihat lantai rumah yang sudah di beri taburan bunga dan lilin saat ia masuk, saat berjalan terlihat balon-balon yang sudah berjejer juga. Ia berjalan mengikuti jalur terlihat arahnya kearah kamar dan tangga juga diberikan lilin.
Ia masuk ke dalam kamarnya, melihat sudah ada lilin dan juga balon dengan bertuliskan “i love you” lalu matanya melihat ada sebuket bungan berwarna ungu dan boneka sepasang pengantin. Tae Hee mendekati bunga lalu mengambil surat yang terselip sana.
“Arti dari bunga stratis adalah cinta yang abadi. Kulihat kau masih menyimpan cincin dan gaun pengantinnya.”


Gambar Flash back saat Tae Hee yang menemani Sa Ra saat sedang menangis histeris karena Kang Joon yang tega mengusir ibunya dari rumah yang selama ini mereka tinggali. Ketika Tae Hee bisa melihat Sa Ra dengan tubuh Geum Ran dan ia tetap mencintainya.
Lalu ia memberikan ciuman sebagai hadiah ulang tahu Sa Ra dan juga Sa Ra yang menyenderkan kepalanya pada bahunya setelah Tae Hee menceritkan semua tentang keluarganya.
“Aku pernah gagal sekali... dan putus denganmu sebelumnya memang benar aku jadi lebih enggan. Tapi tetap, aku ingin menanyakan ini padamu. Maukah kau menikah?”
Sa Ra datang setelah suratnya dibaca oleh Tae Hee. Keduanya saling menatap satu sama lain.
“ Kali ini... aku ingin melamarmu.” ucap Sa Ra terus menatap Tae Hee.
“Kalau begitu, kali ini giliranku yang menjawab?” tanya Tae Hee, Sa Ra pun mengangguk.
Tae Hee memberikan jawabannya,  ia dengan  memberikan jeda waktu beberapa lama. Akhirnya ia memberikan jawaban “Yes... Mari kita menikah.” Sa Ra tersenyum mendengar jawaban Tae Hee lalu Tae Hee memeluknya dengan erat, ia pun berbisik mengucapkan terimakasih pada Sa Ra. 

Jin Young dan Min Young pulang kerumah, sang ayah yang duduk di ruang keluarga bertanya tentang ibunya dan apa kata dokter.
“Karena shock soal Kang Joon, jadi dia kena serangan panik. Untuk sementara, dia harus nginap di rumah sakit.” cerita Jin Young
“lalu Dimana oppa?” tanya Min Young
“Dia buronan polisi. Tapi masih belum tertangkap.” jawab ayahnya.
Ayah Kang Joon berkaca-kaca memikirkan nasib anak dan keluarganya, begitu juga Jin Young dan Min Young karena keluarga mereka yang semakin kacau. 



Tae Hee memakai jaketnya lalu bercermin di dalam matanya. Ia duduk kembali melihat bunga pemberian dari Sa Ra dan wajahnya tersenyum sumringah. Tapi ia mengingat kembali dengan ajakan Kang Joon.
“Sara istriku yang sah. Han Tae Hee tak peduli betapa kau menginginkannya, kalian tak bisa menikah. Aku akan membebaskan Sara. Ayo bernegosiasi.”
Tae Hee terlihat sedih memikirkan apa sebenarnya yang dikatakan Kang Joon padanya.
Kang Joon yang ada didalam kamar hotel yang berbeda, menelp Tae Hee ternyata Tae Hee yang ada di dalam kamar memang sudah menunggu telp darinya. Kang Joon mengejek Tae Hee yang tak sabar untuk menikahi Geum Ran.
“Apa yang kau inginkan?” tegas Tae Hee
“Aku butuh paspor palsu, sebelumnya Kau pernah memalsukan identitas, Aku yakin Kau pasti bisa melakukannya dan juga Uang, Aku butuh sedikit uang untuk tinggal di luar negeri.” ucap Kang Joon dengan tatapan liciknya
“bagaimana dengan dokumen perceraiannya?” tanya Tae Hee
“Bawakan sekalian. Setelah mendapat uang dan paspor, aku akan segera menandatanganinya.” ujar Kang Joon.
Tae Hee menutup telpnya dengan wajah tegang, Kang Joon juga menutup telp dengan wajah liciknya ia bergumam.
“Tapi Han Tae Hee... kau harus mati setelah semua ini selesai” gumam Kang Joon. 


“Kenapa menelpon saat kau ini buronan?” usik Min Hyuk dengan wajah dinginnya saat menerima telp Kang Joon.
“Kau mau Han Tae Hee, kan? Aku memanggilnya keluar ke lokasi rahasia. Sebaliknya, tolong bantu aku. Aku berencana untuk kabur. Tolong bantu aku menetap di luar negeri.” pinta Kang Joon.
“Baiklah..  Sebaliknya, pastikan beresi dia untuk selamanya. Aku yang putuskan waktu dan tempatnya.” tegas Min Hyuk.
Wajah Min Hyuk semakain sinis dan dingin untuk bisa menyingkirkan Tae Hee. 


Min Hyuk dan Direktur Kim bertemu dalam mobil. Min Hyuk meminta Direktur Kim untuk mengurus Tae Hee sebelum Rapat Umum Pemegang Saham besok,
“Ini takkan mudah dengan Rapat Umum Pemegang Saham yang semakin dekat. Banyak mata yang mengawasi.” jelas Direktur Kim enggan.
“Han Tae Hee punya kelemahan abadi yaitu Sara. Kang Joon akan menggunakan Sara sebagai umpan untuk memanggil Han Tae Hee. Saat itu... buatlah ledakan lain seperti di pabrik kimia. Dalam pengalamanku, ledakan itu sempurna.” ucap Min Hyuk.
Direktur Kim kaget karena Min Hyuk menginginkan hal yang sama saat ia membuat ledakan di pabrik kimia untuk membunuh ayah dan Ibu Tae Hee. Min Hyuk melirik pada Direktur Kim untuk menjalankan semua perintahnya. 


Direktur Kim sedang ada di lorong menerima telp dari Tae Hee. Sementara Tae Hee yang sedang ada diruangannya mengajaknya untuk bertemu. Mereka bertemu di ruangan Tae Hee. Lalu Tae Hee memperlihatkan jam sebagai barang bukti saat ledakan pabrik. Direktur Kim bertanya apa sebenarnya yang diberikan Tae Hee padanya.
“20 tahun yang lalu, ini jam tersangka yang ditemukan di lokasi ledakan pabrik. Ini milikmu, kan?” ucap Tae Hee. Direktur Kim tak menjawab sambil memalingkan wajahnya.
“Saat itu aku memang masih kecil. Tapi aku mengingat suaramu. Nenek menganggapmu layaknya keluarga. Bagaimana bisa kau melakukannya?” kata Tae Hee tak percaya.
Direktur Kim tetap saja terdiam, Tae Hee mengeluarkan foto yang menyerangnya.
“Kau mengenal pria ini, kan? Kau menggunakan pria ini untuk menyerangku. Aku takkan segera melaporkanmu ke polisi, demi mendapatkan pelaku sebenarnya dari ledakan itu. Han Min Hyuk, Son Ji Sook. Mereka berdua yang menyuruhnya, kan?” tanya Tae Hee mencoba mencari informasi.
“Aku tak tahu apapun.” ucap Direktur Kim
Tae Hee menilai Direktur Kim tak mudah berbicara, jadi dengan begitu ia sendiri yang akan mencari tahu. Direktur Kim hanya melirik Tae Hee tanpa memberikan sepatah katapun. Setelah keluar dari ruangan Tae Hee, ia menelp seseorang mengajaknya bertemu karena ada masalah yang serius. 


Direktur Kim kembali bertemu dengan Ji Sook.
“Han Tae Hee... tahu mengenaimu?” teriak Ji Sook kaget.
“Di hari kecelakaan itu, dia punya jam tanganku yang hilang.” cerita Direktur Kim.
Ji Sook menyuruh Direktur Kim untk menyangkalnya, Direktur Kim mengatakan bukan itu saja karena anak buahnya yang menyerang Tae Hee sudah menangkapnya. Lalu Tae Hee juga bertanya padanya kalau ia dan Min Hyuk yang menyuruh ledakan itu. Ji Sook pun kaget mendengar cerita Direktur Kim.
Direktur Kim meminum Winenya untuk menangkan diri. Ji Sook meminta Direktur Kim untuk bertahan sekali lagi karena besok adalah Rapat Umum Pemegang Saham.
“Sebelum rapat,... singkirkan Tae Hee dan buat Min Hyuk menjadi CEO. Dengan begitu, kita akan menjadi tim selamanya.” pinta Ji Sook.
“Hentikan!!! Dalam situasi begini, kau sama sekali tidak mengkhawatirkanku. Ledakan pabrik itu terjadi karena dirimu.”ucap Direktur Kim terlihat kesal 


Ji Sook pun menemui anaknya di kantor kalau ada  masalah besar karena Direktur Kim sudah semakin gelisah dan ia tak bisa mengendalikan lagi. Ia semakin panik karena Tae Hee bisa secepat itu mengetahui.
“Besok... akan ada ledakan di gudang Winner Food dan Han Tae Hee targetnya. Suruh orang lain selain Direktur Kim.” ucap Min Hyuk yang terlihat tenang
“Bagaimana dengan pria yang tertangkap itu?” tanya ibuny merasa masih belum tenang
“Kita akan mencarikanpengacara dan mengeluarkannya. lalu Direktur Kim sepenuhnya diasingkan.” perintah Min Hyuk. 


Direktur Kim datang ke kantor polisi memberikan kartu namanya kalau ia adalah Kim Joon Chul dari Grup Winner.
“Aku datang untuk menugaskan pengacara untuk Kim Kwang Mo.” jelas Direktur Kim
“Dia sudah punya pengacara dan Pengacara yang ditunjuk oleh Grup Winner.” jawab Detektif Oh
Direktur Kim binggung karena ada orang dari Grup Winner, pikirannya langsung tertuju pada Min Hyuk yang sudah melakukannya. 


Ji Hoon menegur adiknya yang mau keluar dari rumah. Chae Yoon merasa akan gila karena terus menerus berada di rumah. Ji Hoon bertanya kemana Chae Yoon akan pergi menurutnya lebih baik adiknya itu istirahat saja.
“Aku mau mencari Tae Hee oppa.” ucap Chae Yoon .
“Kenapa kau mencari hyung?” tanya Ji Hoon
“Aku mau memintanya menolongku dan Tae Hee oppa takkan menolakku.” tegas Chae Yoon sombong
“Chae Yoon. Seharusnya sekarang ini kau instropeksi diri dengan benar Atau kau selamanya takkan pernah membaik.” balas Ji Hoon mencoba menyadarkan adiknya.
Chae Yoon yang sombong tak mau mendengarkan omongan kakaknya memilih untuk pergi. Ji Hoon hanya melonggo melihat adiknya yang pergi begitu saja. 


Sa Ra masuk ke dalam Gedung sambil menelp Tae Hee memberitahu kalau ia mengantarkan makan siang penuh cinta dan mengataka ia baru saja dari Studio dan berada di depan lift. Chae Yoon yang baru masuk mendengar Sa Ra yang sedang berbicara di dengan Tae Hee.
“Aku juga mau menemui Tae Hee oppa.” ucap Chae Yoon yang berdiri disamping Sa Ra
“Kau mau bergantung padanya? Gyo Chae Yoon, kau tidak berubah.” sindir Sa Ra, keduanya saling menatap di depan lift.
“Bagaimana kau bisa begitu percaya diri? Kau juga berbohong dan bersalah. Kenapa orang hanya toleran padamu? Ini tidak adil.” ucap Chae Yoon sinis dengan mata berkaca-kaca.
"Mereka bukan hanya toleran padaku. Aku mengakui kesalahanku dan meminta pengampunan. Apa aku dimaafkan atau tidak, bukan keputusanku. Yang bisa kulakukan adalah melakukan sebaik mungkin. Sebaliknya kau masih belum mengakui kesalahanmu."
"Aku mengakui masa laluku dan melangkah maju. Kau bahkan tak bisa mengakui kesalahanmu dan berkubang dengan masa lalu. Itulah perbedaan diantara kita." jelas Sa Ra
Bibir Chae Yoon bergertar mendengar ucapan Sa Ra, pintu lift terbuka. Sa Ra masuk ke dalam dan Chae Yoon hanya menatapnya dengan menahan air matanya. Setelah pintu lift tertutup, air matanya pun mengalir di pipinya. 


Sa Ra membuka bekal buatannya di meja Tae Hee.
“Bagaimana kau bisa tahu pria berimajinasi kekasih mereka membawakan makanan untuk mereka? Aku senang 100x  karena aku menikahimu.” puji Tae Hee bangga
“Apa hanya Karena bekal makan siang saja ? Ayo Coba cicip.” ucap Sa Ra dengan mata yang mengoda Tae Hee.
Tae Hee tertawa mendengarnya, lalu Sa Ra menyuapi sandwich yang ia bawa untuk Tae Hee. Dengan wajah sumringah, Tae Hee mengangkat jempolnya memuji masakan Sa Ra yang sesuai dengan dugannnya. Sa Ra tersenyum lalu ikut mencoba saat Tae Hee menerima telp. 


“Aku sedang rapat, jadi Langsung saja.” ucap Tae Hee
“Besok jam 11 pagi... datang ke gudangnya Winner Food.” perintah Kang Joon.
Tae Hee terlihat gelisah dan mengatakan ia mengerti, setelah menutup telpnya ia masih binggung tapi di depan Sa Ra ia berusaha tersenyum dan menerima suapan kembali dari calon istirnya. 


Min Hyuk memberitahu ibunya kalau Han Tae Hee besok akan ke gudang. Ji Sook bertanya bagaimana dengan Rapat umum Pemegang Saham Besok. Min Hyuk menegaskan Tae Hee tak akan hadir karena saat itu mungkin Tae Hee tak akan bisa hidup.
Keduanya memang lurus dengan tatapan licik dan penuh keyakinan rencana mereka akan berhasil tanpa bantuan dari Direktur Kim. 


Pagi hari
Di dalam kamar Tae Hee sudah menyiapkan uang dalam tas untuk Kang Joon. Ia juga mempersiapkan paspor yang ia simpan dalam saku jasnya dan juga surat “Pengajuan Perceraian” dalam amplop.
Kenapa harus sebelum Rapat Umumu Pemegang Saham? Pasti ada tujuan lain.”gumam Tae Hee melihat surat cerai yang akan di tandatangi oleh Kang Joon. 


Ketukan pintu terdengar, Sa Ra masuk ke dalam kamarnya. Ia datang dengan wajah tersenyum, memasangkan saputangan kuning di kantung jas Tae Hee.
“Kau berzodiak Aquarius, jadi warna kuning untuk keberuntungan. Jadi Kau akan menerima berita baik.” ucap Sa Ra berharap
Lalu ia melihat dasi Tae Hee yang miring dan segera memperbaikinya. Tae Hee merasa seperti mendapatkan dukungan dari seorang istri, ia jadi tahu alasan orang itu menikah. Sa Ra tersenyum mendengarnya. Tae Hee bertanya kemana rencana Sa Ra hari ini.
“Bumbu alaminya Winner Food sudah selesai. Aku mau periksa.” ucap Sa Ra
“kau akan pergi Sendirian?” tanya Tae Hee yang terlihat sangat khawatir.
“Biasanya juga aku bekerja sendiri.” kata Sa Ra
“Pergilah ke Sewondang. Aku mau kau bersama nenek. Aku harus mampir ke gudang sebelum Rapat Umum Pemegang Saham. Hari ini Aku sangat sibuk, jadi Kau harus di Sewondang agar aku tak khawatir. Dan juga... aku akan memberimu sebuah surat. Berikanlah pada nenek.” pesan Tae Hee. Sa Ra mengangguk mengerti. 


Direktur Kim duduk sendirian didalam mobilnya, ia teringat saat ada dirumah Nenek Park
Flash Back
“Ibumu punya demensia... ...pasti berat bagimu. Sakit berkepanjangan tidak baik buat anak. Jagalah dia baik-baik.” ucap Madam Park sambil menyerahkan amplop pada Direktur Kim.
“Aku... sudah kehilangan keluargaku. Sekarang Fakta kau masih punya keluarga untuk dijaga... membuatku iri.” ungkap Madam Park sangat sedih.
Direktur Kim menatap Madam Park dengan mata berkaca-kaca, tapi Madam Park menatapnya dengan penuh senyuman yang tulis.
Flash Back end
Direktur Kim mengingat kebaikan Madam Park padanya tanpa mencurigainya sedikit pun. Ponselnya berbunyi, ia melihat itu adalah telp dari Madam Park dengan rasa gelisahnya ia memilih untuk menutup ponselnya tanpa mengangkatnya. 


Madam Park binggung karena Direktur Park tak bisa di hubungi, ia bertanya pada seketaris yang lainnya kalau Direktur Kim itu tidak pergi ke Rapat Umum Pemegang Saham. Seketarisnya membenarkan bahkan bagian kantor juga tak bisa menghubungi Direktur Kim.
“Jadi Sebenarnya kenapa dia tidak menjawab telpon?” teriak nenek kesal
Sa Ra datang menemui Nenek memberitahu kalau ia datang itu diutus oleh Tae Hee. Nenek Seperti masih belum bisa menerima Sa Ra tapi mendengar Tae Hee yang menyuruhnya ia seperti tak bisa marah.
“Dia ingin aku memberikan surat ini pada nenek.”ucap Sa Ra memberikan surat pada Nenek. Dengan helaan nafasnya nenek menerima surat dari tangan Sa Ra 


Tae Hee menyetir mobil dengan sedikit gelisah, ia melihat paspor, surat cerai dan tas sudah ia siapakan untuk Kang Joon. Sepertinya ia berusaha untuk tenang dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Akhirnya disampai ke gudang milik Winner Food, Kang Joon sudah menunggunya di dalam. Tae Hee membawa permintaan Kang Joon.
“Serahkan dulu uang dan paspornya. Baru dokumen perceraian.” perintah Kang Joon, Tae Hee melempar begitu saja uang didalam tas.
“Aku sudah mengisi tas ini dan Ini paspornya.” ujar Tae Hee memberikan paspos palsu buatanya.

Kang Joon melihat paspor palsu buatan Tae Hee dengan nama Park Gyung Chul dengan foto dirinya, ia pun tersenyum karena Tae Hee sudah membuat paspor palsu untuk dirinya. Tae Hee mengeluarkan surat cerai yang sudah ia bawa meminta untuk Kang Joon menandatanginya. Kang Joon malah tersenyum licik padanya.
“cepat Tanda tangan.” perintah Tae Hee dengan mata yang serius.
“Baiklah. Aku harus menepati janjiku.” ucap Kang Joon membubuhkan tandatangannya pada kertas yang dibawa Tae Hee.
“Dengan ini, Sa Geum Ran dan aku... mengakhiri pernikahan kami? Ahh.... Sayang sekali. Beritahu Geum Ran untuk berbahagia.” pesan Kang Joon dengan nada mengejek.
Tae Hee merasa dirinya tak ingin bertemu lagi dengan Kang Joon, dan Kang Joon juga berharap tak akan bertemu lagi. Ketika Tae Hee akan pergi, Kang Joon berteriak beberapa orang keluar dari persembunyiannya. 
Beberapa orang langsung mengepung Tae Hee, Kang Joon mengambil tas dan berjalan mendekati Tae Hee.
“Ini bukan aku yang rencanakan. Tapi Han Min Hyuk tak bisa membiarkanmu hidup. Maaf. Aku pergi dulu.” ucap Kang Joon meninggalkan Tae Hee sendirian.

Tae Hee semakin terdesak karena empat orang pria semakin mendekatinya. 


Nenek yang ada dirumah membawa surat dari Tae Hee yang dibawa oleh Sa Ra
“Nenek... Saat kau membaca surat ini jika kau tak bisa menghubungiku hubungi Detektif Oh di Kantor Polisi Seongbuk. Direktur Kim Joon Chul adalah pelaku peledakan pabrik 20 tahun yang lalu. Jam tangan yang kutunjukkan padamu miliknya Kim Joon Chul.”  tulis Tae Hee pada suratnya.
Nenek Park kaget membaca surat dari Tae Hee lalu bertanya keberadaan Tae Hee. Sa Ra memberitahu Tae Hee akan pergi gudang Winner Grup sebelum datang ke Rapat Umum Pemegang Saham. Nenek Park mengumpat Direktur Kim yang berkhianat padanya, Sa Ra binggung tak mengerti kenapa nenek terlihat sangat marah.
Direktur Kim datang menemui Madam Park, dengan mata penuh amarah Madam Park menatap Direktur Kim yang datang dengan mata berkaca-kaca. Direktur Kim langsung berlutut di depan Madam Park dan rela untuk di bunuh oleh Nenek Park.
“Tae Hee sedang dalam bahaya. Mereka memintaku untuk melakukan ledakan yang sama dengan 20 tahun yang lalu.” ujar Direktur Kim jujur.
Sa Ra melotot kaget dan Nenek Park masih sangat marah karena Direktur Kim adalah penyebab ledakan yang terjadi di pabrik kimia. 


Min Hyuk dan Ji Sook masuk ke dalam gedung untuk datang ke Rapat Umum Pemegang Saham. Terlihat wajah Ji Sook yang tegang, Min Hyuk meminta ibunya untuk santai karena ia nanti akan menjadi CEO tanpa ada halangan apapun.
“Aku gugup. Banyak pemegang saham yang berbalik arah. Kita tak tahu apa yang mungkin Han Tae Hee katakan.” ucap Ji Sook sedikit panik. Min Hyuk berhenti melangkah.
“Han Tae Hee... takkan datang.” ucap Min Hyuk dengan wajah tlicik.
“Meskipun begitu, cobalah konfirmasi, Min Hyuk” pinta ibunya yang khawatir.
Min Hyuk pun mengambil ponselnya dari Sek. Jung menelp di bagian gudang. Anak buahnya memberitahu mereka sudah berhasil. Ji Sook yang mendengarnya tersenyum karena rencana untuk menyingkirkan Tae Hee selamanya berhasil.
Bersambung ke Part 2  

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar