Jumat, 07 November 2014

Sinopsis Birth of Beauty Episode 15 Part 1


Kang Joon melihat surat laporan genetika.
“Setelah membandingkan 2 sampel DNA,... Sa Geum Ran dan Sara adalah orang yang sama.”
Ia masuk mencari Sa Ra di restoran, sampai ke lantai atas ia melihat Tae Hee yang sedang memberikan ciuman di kening  Sa Ra melamarnya.
“Sa Geum Ran. Istriku... ...menikahi pria lain?” gumamnya dengan tatapan sinis. 



 Sebelumnya Sa Ra memakaikan gelang di tangan Tae Hee, dengan wajah tersenyum ia memberitahu tentang gelang india yang baru ia beli.
“Selama gelang ini tidak putus, kita juga takkan terpisahkan” ucap Sa Ra
“Kau memilih gelang yang terlihat erat. Untuk memutuskannya, kau harus memanggil pemain sumo.” ungkapTae Hee melihat gelang yang ada tangannya.
Ia megang tangan Sa Ra dan saling tersenyum dan terus berpandangan. Sa Ra menyadari Tae Hee sedang dalam masalah besar dan tak akan mungkin bisa kabur.
“Haruskah kita secara resmi... memulai persiapannya? Pesta tunangan.” usul Tae Hee
Sa Ra tersenyum, Tae Hee mengubah usulnya untuk langsung menikah saja dan tak usah berbelit-belit lagi. Ponsel Tae Hee berbunyi, Sa Ra menyuruh Tae Hee untuk mengangkatnya saja.
Tae Hee enggan dan tetap ingin mengenggam tangan pacarnya itu. Sa Ra tahu pekerjaan Tae Hee sangat sibuk jadi ia meminta Tae Hee untuk menjawab telp lebih dulu. Tae Hee tersenyum, ia mengungkapkan dirinya itu sangat bahagia.
Sa Ra kembali tersenyum, Tae Hee menerima telp dari Ketua Choi yang memberitahu tanggal pengadilan nenek yang sudah keluar.  Lalu ia menanyakan kapan supaya ia bisa memberitahu perngacara Park. Setelah itu ia meminta Sa Ra menunggu sebentar karena ia akan pergi menerima telp keluar.


Sa Ra menatap cincin yang ada ditangannya dengan wajah tersenyum, seperti ia sudah membayangkan akan bahagia menikah bersama Tae Hee. Tiba-tiba ia kaget dengan kedatangan Kang Joon yang berdiri dekatnya.
“Kau Mau menikah dengan Han Tae Hee? Sayangnya..... Kau tak bisa melakukannya tanpa seijinku!!!!” ejek Kang Joon dengan sinis
Dengan mata melotot Sa Ra rasa merasa tak butuh izin dari Kang Joon untuk menikah.  Kang Joon pikir ada sesuatu yang harus ia beritahu, senyum liciknya terlihat lagi. Sa Ra mulai terlihat ketakutan.
Tae Hee datang, melihat Kang Joon sudah ada di dalam ruangan. Ia langsung mendorong Tae Kang Joon untuk menjauh, dengan lirikan sinisnya Kang Joon memberitahu kalau ia hanya mampir ke restaurant.
Lalu ia menanyakan mereka akan menikah pada Tae Hee dengan tatapan sinisnya. Tae Hee tak takut mengatakan itu bukan urusannya lalu menyuruhnya keluar. Kang Joon tersenyum licik keluar dari ruangan. 


“Terkait insiden nenek,... aku akan melakukan tindakan disiplin pada Lee Kang Joon di rapat direksi HBS. Jika para direksi membuat keputusa, aku mempertimbangkan suspensi atau mengalihkan jabatannya.” ucap Tae Hee memegang pundak Sa Ra yang terlihat berkaca-kaca.
Tae Hee merasa tak perduli dengan apapun, karena ia akan menjauhkan Sa Ra dengan Kang Joon jadi ia meminta Sa Ra tak perlu khawatir. 
Kang Joon melirik ke arah kaca yang melihat Tae Hee dan Sa Ra yang sedang berpelukan, terlihat matanya yang licik lalu pergi meninggalkan restoran. 



Rumah Tae Hee.
Tae Hee memperlihatkan kalender yang sudah diberi tanda olehnya pada Sa Ra.
“Apa Natal?” ucap Sa Ra binggung.  
“Ahjumma. Kau akan menikahiku, kan?” tanya Tae Hee
Sa Ra menjawab dengan cincin yang masih ia pakai di jarinya. Tae Hee tersenyum, melihat cincin dan lamarannya yang sudah di terima oleh Sa Ra.
“ Kalau begitu... gimana kalau menikah di hari Natal?” saran Tae Hee.
Sa Ra kaget karena itu empat hari lagi. Tae Hee tahu tentang itu tapi ia berusaha menyakinak kalau mereka menikah di hari natal maka tiga generasi akan berbahagia dan hal seperti itu sudah diketahui umum. Sa Ra terlihat tak percaya akan seperti itu.
“Mari kita cari tahu. Kita akan menikah dan lihat apa 3 generasi berbahagia.” ucap Tae Hee yang berusaha membujuknya. Sa Ra tersenyum mendengarnya. 


“Aku ingin kau segera menjadi istriku dan tak ingin melihatmu cemas karena Lee Kang Joon.” ungkap Tae Hee dengan wajah khawatir.
Tae Hee rasa tak perlu di tunda lagi. Sa Ra mengangguk setuju, tapi ia merasa banyak yang perlu mereka persiapkan dan rasanya itu tak mungkin juga. Tae Hee rasa itu mungkin untuk 4 hari ke depan, mereka hanya perlu bersiap dengan baik.
“Kita akan membuat daftar yang harus dilakukan. Dan melakukannya bersama. Gimana menurutmu?” ajak Tae Hee dengan wajah tersenyum.
“Baiklah. Mari kita lakukan.” ucap Sa Ra dengan penuh keyakinan.
Tae Hee tersenyum mendengarnya lalu ia mengajak Sa Ra untuk berjabat tangan seperti siap panco. Sa Ra menyambutnya dan keduanya saling menatap dan tersenyum. 


Kang Joon duduk di kamarnya,  matanya melihat kearah meja kerjanya yang ada tergeletak kertas Laporan Hasil DNA.
“Sa Geum Ran. Kau meninggalkan suamimu dan menikah lagi?” ucap Kang Joon
Ia mengambil ponselnya dan menelp seseorang. 


Sa Ra melihat ponselnya dengan ketakutan, lalu mengangkat telpnya dengan mata melotot. Kang Joon mengajak mereka bertemu berdua saja besok.
“Tak ada alasan untuk bertemu denganmu.” tegas Sa Ra
“Aku punya alasan.” ucap Kang Joon
Sa Ra merasa ia sama sekali tidak memiliki alasan untuk bertemu dan ia akan menutup telpnya. Lalu Kang Joon memberitahu dia sendiri yang akan mencarinya dengan nada mengancam.
Senyuman liciknya terlihat lagi seperti sudah memiliki rencana membalas dendam untuk Sa Ra. Sementara  Sa Ra yang menutup ponselnya terlihat ketakutan dan memikirkan apa yang akan dilakukan Kang Joon padanya. 


Chae Yoon masuk ke dalam kamar, ia melihat di atas meja ada Laporan Genetika. Matanya melirik Kang Joon yang ternyata sudah melakukan tes DNA. Ia pura-pura terkejut mengetahui Sa Ra itu  Geum Ran.
 “Selama ini kita dibodohi. dan kita sudah dibodohi sepenuhnya.” jelas Kang Joon
“Kalau begitu, bagaimana dengan kita. Geum Ran menjadi Sa Ra untuk membalas dendam dengan mereka.” ucap Chae Yoon yang terlihat pura-pura panik.
Kang Joon terdiam, Chae Yoon meminta Kang Joon untuk memikirkan dengan yang ia lalu dan Kang Joo tak bisa hanya diam saja.  
“Aku menemukan sesuatu yang menarik. Mana mungkin aku diam saja? Selama ini aku dibodohi. Sekarang giliranku.” tegas Kang Joon.
Chae Yoon tersenyum licik karena Kang Joon yang akan membantunya untuk membalas dendam paa Sa Ra. 


Gedung Winner Grup.
Sa Ra baru selesai meeting dan sedang membereskan kertas-kertas di meja. Tiba-tiba tangannya di tarik oleh Kang Joon yang sudah ada di dekatnya. Matanya melotot kaget melihat kaget.
“Sayang. Sa Geum Ran. Sudah lama aku tak memanggil namamu.” ucap Kang Joon dengan tatapan sinisnya.
“Apa maksudmu mengatakan itu ?” ucap Sa Ra pura-pura tak mengerti.
Kang Joon menceritakan ia sudah menemukan rambut yang ada di sisir yang suka di pakai Geum Ran dan juga Rambut Sa Ra. Kemudian ia sudah melakukan tes DNA. Sa Ra semakin kaget mendengar pengakuan Kang Joon.
“Sa Geum Ran dan Sara... adalah orang yang sama. Kau benar-benar cantik. Tak heran aku tak bisa mengenalimu. Selama ini membodohiku, seberapa menyenangkan bagimu? Aku dan keluargaku, semuanya kau bodohi kau senang?” sindir Kang Joon
Sa Ra terlihat ketakutan, Kang Joon juga memberitahu kalau Sa Ra sudah membodohi seluruh dunia dan bahkan akan menikah dengan pria lain.
“Kau tak bisa melakukannya karena Kau masih istriku.” ucap Kang Joon dengan senyuman liciknya.
Pria yang tadi rapat datang kembali memberitahu kalau ia akan memulai kolom reguler untuk mengajak diskusi. Kang Joon memilik untuk pergi, Sa Ra melirik Kang Joon yang pergi. Sementara Si pria mengajak Sa Ra untuk melakukan jenis makanan yang akan di rekomendasikan lebih dulu. 
Sa Ra melihat Kang Joon yang berdiri dan menatapnya dari jendela, Kang Joon memberikan senyuman liciknya pada Sa Ra. 


Sa Ra duduk di ruang make up, ia teringat dengan kata-kata Kang Joon kalau ia masih menjadi istrinya.
Tiba-tiba Tae Hee datang mengagetkannya dan memperlihatkan daftar keinginannya pada Sa Ra. Ia meminta punya Sa Ra untuk bisa mengabungkannya. Sa Ra mengeluarkan wish listnya pada Tae Hee dari tasnya.
Tae Hee melihat lembaran pertama milik Sa Ra adalah pergi shopping bersama lalu foto selfie. Ia teringat kalau mereka belum pernah foto bersama seperti pasangan lainnya. Sa Ra pikir karena itulah ia ingin foto bersama.
“Mungkin itu Karena dari awal kita selalu bersama, jadi kita merasa tak butuh foto untuk dilihat.” ungkap Tae Hee.
Tapi akhirnya ia setuju untuk foto bersama, Sa Ra tersenyum karena Tae Hee mengambulkan permintaannya. Tae Hee melihat lembar berikutnya, wajahnya terlihat bingung karena Sa Ra ingin melakukan sumpah pernikahan.
“ternyata kau punya kepekaan yang sensitif.” goda Tae Hee tersenyum, lalu membalik-balikan lembaran berikutnya.
“Dokter. Persiapan pernikahan kita... bisakah kita menundanya sebentar?” pinta Sa Ra.
Tae He menanyakan alasannya, Sa Ra mengatakan ada sesuatu, dan ia merasa waktu mereka tidak cukup. Lalu Tae Hee merasa dalam keadaan seperti ini ada aksinya, sambil mengangkat wish list miliknya mereka akan melakuan perlahan dan satu persatu bersama-sama.
“Aku akan melakukan semuanya. Nah, selanjutnya...” ucap Tae Hee melihat wish list Sa Rae dengan tersenyum
“Dia begitu senang.” gumam Sa Ra yang melihat Tae Hee dan terlihat sangat bahagia. 


Keduanya pergi ke sebuah tempat penjual topi, Tae Hee memilih topi santa clause dan memakainnya pada Sa Ra. Begitu juga Sa Ra memasangkan topi santa clause untuk Tae Hee.
“Nah, konsep Natal dan Santa kita sudah berjalan. Pertama mari lakukan hal pertama di daftar keinginan.” ajak Tae Hee yang sudah mengeluarkan cameranya.
Ia mengajak Sa Ra untuk foto Selfie bersama seperti keinginannya, Sa Ra dan Tae Hee tersenyum dan melakukan beberapa kali untuk foto bersama. Kemudian mereka pergi ke toko Toppoki dan kue ikan, saling menyuapi odeng satu sama lain, Tae Hee tertawa karena ada cap listik di odeng yang ia pegang.
Setelah itu mereka juga melakukan kencan dengan jalan bersama dan saling berpegangan tangan, wajah mereka tersenyum bahagia


Tae Hee duduk bersama, memberi tanda wish list yang sudah mereka lakukan yang terakhir adalah kencan bersama ada di kertas Sa Ra. Keduanya tersenyum, Tae Hee melihat wish listnya adalah “Gaun pengantin dan tuksedo.”
“Bagaimana kita bisa memilih gaun pengantin? Kita akan menikah di luar negeri.” tanya Sa Ra binggung
“Akan ku urus masalah itu, jadi kita tinggal bawa saja ke pesawat.” jelas Tae Hee.
Sa Ra tersenyum mendengarnya, Tae Hee yang ingin minum tehnya ikut tersenyum karena mereka melakukan wish list satu persatu. 


Tae Hee sedang melihat-lihat majalah, pegawai memberitahu Calon pengantin sudah siap untuk dilihat. Wajahnya mengarah ke depan dan pintu terbuka, terlihat Sa Ra yang sudah memakai Gaun Pengantin yang cocok ditubuhnya.
Sa Ra memberikan senyumannya pada Tae Hee, begitu juga Tae Hee yang memberikan senyumannya pada Sa Ra yang terlihat cantik. keduanya berjalan mendekat bersama.
“Sudah lama aku punya keinginan di hari Natal.” ungkap Tae Hee
“Apa itu keinginanmu?” tanya Sa Ra
“Aku ingin merayakan Natal dengan keluargaku. Sekarang keinginan itu terwujud. Aku bisa menikah dengan pengantin yang cantik.” cerita Tae Hee
Sa Ra mengerti alasan Tae Hee ingin menikah di hari natal. Tae Hee tersenyum dan mengangguk. Pegawai toko memberitahu kalau pengantin pria bisa memilih tuksedo. Tae Hee tersenyum karena itu gilirannya untuk mencoba tuksedo pengantinnya. 


Pegawai datang memberitahu ada telp untuknya, Sa Ra melihat nama Kang Joon yang menelpnya. Dengan tatapan ketakutan ia mengangkat telpnya, Kang Joon menyindir Sa Ra yang sedang mengunakan Gaun Pengantin.
Mata Sa Ra melotot karena Kang Joon mengetahuinya, ia melihat Kang Joon sudah ada di depan pintu toko sambil menelp melihat ke dalam dengan tatapan sinisnya.
“Istriku menikahi pria lain dan memakai gaun pengantin? Aku merasa kehilangan. Jangan terlalu senang.” ucap Kang Joon dengan nada sinisnya.
Sa Ra melotot dengan wajah panik, Kang Joon mengancam kalau mereka berdua tidak akan pernah bisa menikah lalu ia menutup ponselnya.
Kang Joon memberikan senyuman sinisnya, Sa Ra terlihat matanya memerah dan berusaha untuk tenang walaupun ia sebenarnya ketakutan dengan apa yang akan dilakukan Kang Joon pada mereka. 


Tae Hee datang dengan Tuxedonya dan wajah tersenyum, Sa Ra masih melihat keluar karena Kang Joon masih berdiri melihatnya dari luar. Beberapa saat kemudian Kang Joon pergi, Tae Hee yang melihat perubahan wajah Sa Ra menanyakan apakah terjadi sesuatu.
Mata Sa Ra terus melihat ke keluar, Tae Hee  melihat keluar tak ada orang disana lalu melihat Sa Ra dengan binggung. Akhirnya Sa Ra tertunduk dan terlihat merasa khawatir. 


Di mobil, Sa Ra masih saja terlihat diam dan binggung, Tae Hee yang sedang menyetir terlihat tersenyum.
“Kau terlihat lelah. Pulanglah ke rumah istirahat. Aku akan mengurus... yang di daftar keinginan.” ucap Tae Hee
“Kau pulang telat?” tanya Sa Ra khawatir
Tae He tersenyum dan mengatakan tidak akan segera kembali dalam waktu satu jam lagi. Sa Ra hanya terdiam, wajah Tae Hee terlihat khawatir melihat Sa Ra yang duduk disampingnya tanpa ada senyuman. 


Sa Ra  berdiri di depan rumah yang sudah tertutup salju di jalan depan rumah. Wajahnya terlihat khawatir menunggu seseorang, sesekali ia menengok melihat ke arah jalan. Tae Hee datang dengan membawa kotak besar memanggil Sa Ra
“Ahjumma! cuara Dingin seperti ini . Kenapa kau di luar?” tanya Tae Hee yang terlihat ngos-ngosan.
“Ini sudah lebih dari sejam.” ucap Sa Ra khawatir.
Lalu ia melihat apa yang dibawa Tae Hee ke dalam rumah. Tae Hee memberitahu ia membawa pohon natal sesuai dengan daftar keinginannya. Dengan wajah tersenyum mengajak Sa Ra masuk ke dalam karena diluar sangat dingin.
Sa Ra membuka pintu dan Tae Hee membawa masuk ke dalam pohon natalnya, saat masuk ke dalam Sa Ra sempat melihat keluar seperti ketakutan Kang Joon mengikutinya. 


Keduanya mengunakan bando tanduk rusa, Tae Hee menempel beberapa hiasan untuk pohon natal. Sa Ra melihat ada banyak kartu yang tertempel, Tae Hee langsung mengambilnya karena Sa Ra belum boleh melihat kartu itu.
.”Keinginanku tertulis disini. Jika kau menggantung keinginanmu di pohon dan menyalakannya,... keinginanmu akan terwujud Dengan begitu semuakeinginanku akan terwujud.” ungkap Tae Hee gembira
“Semua ini keinginanmu? Kau begitu serakah.” ejek Sa Ra
Tae Hee merasa tak ada yang bisa dilakukan dan membandingkan dengan polisi yang tidak melakukan apapun karena punya banyak keinginan.


Sa Ra tersenyum menanyakan apakah ada  yang miliknya, Tae Hee memperlihatkan sebuah boneka.
“Mirip siapa boneka ini ?” tanya Tae Hee, Sa Ra menjawab itu mirip dengan Tae Hee.
“ Itu benar. Ini Boneka kekhawatiran yang mengkhawatirkanmu. Orang Indian meletakkan ini di bantal anaknya yang cemas dan tak bisa tidur.” cerita Tae Hee memilih bonek itu.
“Di toko baju pengantin kemarin, aku melihatmu terlihat sedih. Biasanya memang wanita yang akan menikah selalu khawatir. Tapi mulai sekarang, tinggalkan semua kekhawatiranmu pada boneka ini. Tenanglah.”  jelas Tae Hee
Sa Ra tersenyum karena Tae Hee selalu saja memberikan perhatian padanya, lalu ia mengantungkan boneka itu di pohon natal dan matikan lampu ruangan. Ia meminta Sa Ra menyalakan lampu.
Dengan tangan kirinya, Sa Ra menyalakan lampu pohon natal. Wajahnya tersenyum melihat pohon natal di depannya terlihat terang benderang. Tae Hee ikut tersenyum melihat Sa Ra yang tersenyum, keduanya saling menatap dengan sinar yang terang dari pohon natal.


Sa Ra mondar mandir di dalam kamar dengan wajah gelisah. Ia mengingat ucapan Kang Joon yang mengetahui ia akan menikah dengan Tae Hee.
Ia teringat pertama kali mereka bertemu di restoran saat Tae Hee melamarnya untuk menikah. Lalu kedua kalinya Kang Joon menarik tangannya dan mengakui kalau ia sudah tahu kalau Sa Ra adala Geum Ran. Dan yang terakhir saat Kang Joon mengikutinya dan melihat dirinya yang sedang mencoba gaun pengantin.
 “Jangan terlalu senang. Kalian berdua...takkan pernah bisa menikah.” ancam Kang Joon padanya.

Sa Ra bertanya-tanya kenapa kejadian seperti ini harus sekarang, lalu matanya menatap cermin yang ada di depannya. 
Ia teringat saat pertama kali wartawan mengetahui keberadannya di God restaurant. Lalu ia mengikuti kompetisi birth of chef dan memakan tuna dengan saus kacang walaupun ia tahu alergi kacang. Setelah itu ia melakukan pemotretan untuk majalah.

“Aku bukan korban tak berdaya, Sa Geum Ran. Aku takkan... menjadi korban lagi!!! Takkan pernah.” gumam Sa Ra dengan tatapan pada cermin. 


Sa Ra melihat ponselnya, menelp Kang Joo dengan mata melotot. Kang Joon menanyakan ada apa karena Sa Ra menelpnya padahal sudah larut. Sa Ra meminta Kang Joon untuk berhenti menguntitnya.
“Jika kau mau bicara,... ...ayo bertemu.” tegas Sa Ra
“Nadamu berubah. Kau merindukanku?” ejek Kang Joon yang sedang ada di kantornya.
“Akan kuberitahu waktu dan lokasinya, Besok..” balas Sa Ra seperti tak mau menanggapi ucapan Kang Joon.
Kang Joon menegaskan kalau waktu dan tempat mereka bertemu ia sendiri yang akan menentukan dan ia mengejek Sa Ra hanya mengikuti semua keputusannya dengan gemetaran ketakutan
“Kenapa aku harus gemetar ketakutan?” tanya Sa Ra merasa tak takut menghadapi Kang Joon.  
“Kau membodohi seluruh dunia. Kau penipu.” ungkap Kang Joon
“ Kau pembunuh.” balas Sa Ra
“Itu bukan pembunuhan. Karena kau masih hidup. Aku tidak bersalah.” tegas Kang Joon
Sa Ra melihat Kang Joon sangat percaya diri sekali dan tak peduli kalau tak  terbongkar. Dengan wajah beraninya ia seperti setuju dengan ucapan Kang Joon. Setelah menutup ponselnya, Sa Ra menatap dengan tatapan sinisnya. 


Rumah keluarganya Kang Joon.
Ibu Kang Joon menelp anaknya untuk cepat pulang kerumah karena mereka kedatangan tamu. Kang Joon binggung, tamu siapa yang datang dimalam hari . Ibu Kang Joon menatap kerarah sampingnya dan memberitahu kalau Sa Ra yang datang kerumah mereka.
“Ada yang ingin dikatakannya saat kau pulang ke rumah.” ucap ibunya
Kang Joon melempar ponselnya begitu saja di atas meja, wajahnya binggung karena Sa Ra sekarang sudah ada di rumahnya lalu ia buru-buru keluar dari ruangannya. 


“Kang Joon ditahan karena dugaan... membunuh Sa Geum Ran.” ucap Sa Ra
Jin Young  kaget karena mengetahui Kang Joon pernah ditahan. Sa Ra merasa keluarga harus tahu hal itu. Ia tahu kalau sikapnya ini lancang untuk memberitahunya. Ayah Kang Joon terdiam sambil memejamkan matanya.
“Kang Joon... membunuh Geum Ran?” ucap ibu Kang Joon tak percaya
“Siapa yang bilang? Ya ampun, berita seperti apa ini?” teriak Jin Young tak terima dengan ucapan Sa Ra
Min Young merasa mual mengetahui Kang Joon karena kaget Ibu Kang Joo tak percaya dan  menurutnya yang dituduhkan Sa Ra serius. Ayah Kang Joon hanya terdiam, Ibu Kang Joon merengek pada suaminya untuk mengatakan sesuatu.
AyahKang Joon hanya menghela nafas saja tanpa berbicara. Istrinya menyangka suaminya itu sudah tahu semuanya. Sa Ra tersenyum karena dengan ucapanya itu membuat Kang Joon terlihat buruk di mata keluarganya. 


Kang Joon akhirnya pulang, matanya terlihat sangat geram melihat Sa Ra yang sudah duduk diruang keluarganya.
“Kang Joon, apa yang dikatakannya, Kau membunuh Geum Ran, apa itu benar?” teriak Ibunya menanyakan langsung pada anaknya.
Jin Young ingat waktu itu Kang Joon mengatakan kemungkinan Geum Ran itu masih hidup. Min Young juga ingat hal itu, Sa Ra masih tersenyum puas karena membuat keluarga Kang Joon tak percaya.
 “Kalau begitu... ...jika ipar babi masih hidup, apa maksudnya dengan dibunuh?” tanya Min Young kebingungan.
“Ya ampun. Sebenarnya apa yang terjadi? Geum Ran masih hidup Atau mati? Bukannya dia bunuh diri? Sebenarnya ada apa ini?” teriak ibu Kang Joon yang binggung sambil memegang kepalanya.
“Seseorang menuduhku dengan tujuan jahat. Ini jebakan. Kalian tak perlu khawatir.” tegas Kang Joon
Wajah Min Young dan Jin Young terlihat khawatir, Ayah Kang Joon masih saja terdiam dengan menutup matanya tanpa berkomentar. Sa Ra tersenyum karena ia berhasil membuat keluarga Lee Panik.
Kang Joon menatap geram pada Sa Ra yang berhasil membuat kelurganya panik mengetahui tentang yang ditahan karena tuduhan membunuh Sa Ra. Lalu ia mengajak Sa Ra untuk berbicara sebentar.  Sa Ra melirik sinis tanpa terlihat ketakutan. 


Kang Joon menarik Sa Ra kelantai atas, lalu mendorongnya sampai terduduk di sofa.
“Apa yang kau lakukan sekarang?” ucap Kang Joon dengan mata melotot.
“Ini baru permulaan. Kau tak bisa mencampakkan istri pertama 8 tahunmu, jadi kau mencoba membunuhnya. Kenapa aku harus takut dengan orang seperti itu? Aku tak bisa melakukan itu terjadi” tegas Sa Ra dengan terus menatap Kang Joon.
Kang Joon menanyaakan apa yang akan dilakukan Sa Ra sekarang. Sa Ra juga sudah mengetahui Kang Joon yang menulis wasiatnya dan mencuri banguannya.
“Keluarga harus tahu apa yang kau lakukan. Kau adalah kebahagiaan dan kebanggaan keluarga. Apa yang akan ayah katakan jika dia tahu?” sindir Sa Ra
Sa Ra mengatakan kalau Kang Joon yang pertama kali ingin menghancurkan dirinya dengan ingin membongkar identitasnya dan ia tak akan tinggal diam dan hanya melihat saja.
“Rumah ini......dan bangunan, keduanya milikku. Kau dan keluargamu akan di jalan sana. Pikirkan soal itu. Kau dan aku siapa diantara kita yang lebih hancur?” ucap Sa Ra dengan nada mengancam.
“Sa Geum Ran.... Kau bukan Sa Geum Ran yang kukenal. Bukan hanya wajahmu yang berubah.” komentar Kang Joon
“Istri pertamamu yang kau kenal sudah tak ada. Jadi Berhati-hatilah. Aku takkan menjadi korban untuk kedua kalinya.” tegas Sa Ra
Lalu ia bangun dari sofa dan pergi, saat akan turun tak sengaja ia bertemu dengan Chae Yoon yang baru pulang. Keduanya saling menatap sinis tanpa berbicara, lalu Sa Ra memilih untuk menuruni tangga. 


Chae Yoon melihat Kang Joon yang terdiam di depan pintu kamar mereka.
“Apa yang Sara katakan pada keluargamu?” tanya Chae Yoon yang terlihat panik.
Kang Joon hanya terdiam dengan mata sinisnya tak percaya Sa Ra berani melawannya seperti sekarang. 


Tae Hee keluar dari kamar dengan pakaian tidurnya, ia berteriak memanggil Sa Ra apakah ia sudah tidur. Tapi tak ada jawaban, akhirnya ia menaiki tangga masuk ke dalam kamar, tak ada Sa Ra di dalam.
“Ini aneh. Sudah hampir jam 11 malam. Kemana dia pergi?” ucap Tae Hee kebingungan
Terdengar Sa Ra yang memanggilnya dari bawah. Tae Hee berlari menuruni tangga, ia memarahi Sa Ra yang pergi tanpa memberitahunya dan membuatnya khawatir. Sa Ra terlihat tersenyum sumringah di depannya.
Tiba-tiba Sa Ra memelukanya dan mengungkapkan dirinya sekarang merasa lebih baikan dan merasa sangat lega. Tae Hee binggung tapi berusaha tersenyum karena mendapat pelukan dari Sa Ra.
Ia bertanya Sa Ra pergi kemana, lalu ia menduga Sa Ra pergi ke kamar mandi. Sa Ra merasa akan menganggap seperti itu makanya ia merasa lega sekarang.
“Ahjumma.....Aku senang ekspresi mendadak begini.” ungkap Tae Hee tersenyum bahagia.
Mereka berpelukan di depan terangnya lampu pohon natal di depan meja makan. 


Tae Hee memperlihatkan ponselnya, dengan tulisan D-2. Sa Ra tahu kalau itu artinya hari minus dua untuk pernikahan mereka. Tae Hee tersenyum mengatakan kalau lusa mereka akan menjadi suami istri dan rasanya seperti mimpi saja.
“Rasanya seperti mimpi dan aku gugup.” ungkap Sa Ra tersenyum bahagia.
“Kenapa wajahmu terlihat khawatir? Takut terjadi sesuatu?” tanya Tae Hee
Sa Ra mengangguk,ia masih merasa apakah tidak masalah kalau mereka menikah itu yang selama ini ia pikirkan. Tae Hee bertanya kenapa Sa Ra merasa seperti itu.

“Aku ini palsu. Semuanya menganggap aku ini cantik luar biasa. Tapi, aku ini hasil operasi plastik. Identitasku juga palsu. Bisakah aku hidup begitu selamanya?” ungkap Sa Ra yang terlihat khawatir. 

 “ Jika aku punya anak,... seberapa banyak... ...yang kuberitahu pada anak itu? Pemikiran itu selalu ada di dalam kepalaku.” cerita Sa Ra.
Tae Hee menegaskan kalau Sa Ra itu tidak palsu walaupun penampilan berubah tapi ia tetap hatinya itu adalah Geum Ran. Ia juga mengerti Geum Ran yang sebenarnya dan ia menikahinya karena ketulusannya.
Sa Ra menatap Tae Hee dengan penuh haru, Tae Hee merasa Sa Ra itu berada dalam keadaan yang benar dan orang yang asli jadi cukup dia saja yang tahu akan hal itu. Sa Ra tersenyum, Tae Hee juga memberikan senyumannya.


Sa Ra melihat lembaran kertas untuk syuting bersama PD lalu menanyakan tentang besok adalah syuting terakhir di tahun ini. PD membenarkan karena mereka akan libur natal dan tahun baru. Lalu ia menanyakan apakah Sa Ra ingin berpergian dengan wajah sumringah.
“Aku mau ke luar negeri.” jawab Sa Ra dengan tersenyum malu-malu.
“Sepertinya ada hal baik.... Ahhh Cincinmu!” teriak PD yang melihat ada cincin yang melingkar di jari manis Sa Ra.
Chae Yoon datang, PD merasa Sa Ra itu sudah bertunangan, ia menanyakan apa rencana Chae Yoon untuk natal dan memberitahu kalau Sa Ra akan pergi keluar negeri ada sesuatu hal yang terbaik akan terjadi.
“Keluar negeri? Ada apa?” tanya Chae Yoon penasaran dan mencoba terlihat ramah.
“Itu urusan pribadi.” jawab Sa Ra tanpa mau melihat Chae Yoon.
“Kau bisa tahu dari sekali lihat. Dia punya cincin. Perjalanan pertunangan atau jangan-jangan, menikah. Demi privasi seorang selebriti, pergi keluar negeri tidak buruk.” cerita PD
Sa Ra buru-buru menutupi cincin yang ada di jari manisnya dengan tangan kanannya, Chae Yoon melirik tajam karena ia sudah melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Mata Chae Yoon melotot sinis dan Sa Ra tertunduk karena rencananya ketahuan oleh Chae Yoon. 


Chae Yoon sudah ada di ruangan Kang Joon dengan melipat tangannya di dada. Kang Joon tak percaya Sa Ra akan pergi keluar negeri untuk merayakan natal.
“Untuk wanita dengan identitas palsu,... itu tindakan berani. Sayang kau tahu sesuatu?” tanya Chae Yoon
“Aku melihatnya memakai gaun pengantin.” cerita Kang Joon. Chae Yoon kaget mengetahui Sa Ra sedang mencoba gaun pengantin. 


Chae Yoon buru-buru menelp Ji Hoon untuk meminta tolong mencari tahu jadwal liburan Tae Hee. Jin Hoon yang sedang ada diruang praktek memberitahu ia sudah bicara dengan Tae Hee.
“Aku memintanya untuk merayakan Natal bersama tapi dia mau keluar negeri. Sepertinya sementara dia akan tinggal disana.” ucap Ji Hoon 

Chae Yoon melotot kaget mengetahui Tae Hee akan pergi keluar negeri saat natal. Dia yakin keduanya akan menikah di luar negeri. Kang Joon tersenyum mengejek karena rencana mereka untuk menikah di luar negeri.
“Sa Geum Ran. Hidupku hancur karenamu. Kau mau berbahagia setelah merebut Tae Hee oppa? Kau pikir itu mungkin?” gumam Chae Yoon penuh dendam


Sa Ra dan Tae Hee bertemu dengan pegawai di gudang Winner Food. Tae Hee memberitahukan tentang rencana bisnis produk baru winner Food. Sa Ra juga memberitahukan Bahan-bahan nasi kepal yang dibuat saat Birth of Chef.
Beberapa orang melihat rencana produk baru yang akan dikeluarkan oleh Winner Food, Sa Ra menjelaskan kalau itu produk yang akan dirilis oleh Winner Food nanti.
“Jika serikat buruh berhenti mogok dan kembali bekerja,kita bisa langsung proses ke produksinya. Mohon percaya pada kami.” ucap Tae Hee berusaha untuk serikat pekerja pada mereka.
Pekerja yang melihat rencana Tae Hee terlihat mengangguk mengerti, Sa Ra juga berjanji akan melakukan yan terbaik jadi ia memohon untuk membantu mereke memproduksi produk baru untuk Winner Food.
***
Sa Ra dan Tae Hee masuk ke dalam ruangan, Ketua Choi dengan wajah tersenyum memperlihatkan selembar kertas pada Tae Hee dan Sa Ra, lalu ia memberikan pada Tae Hee. Ia memberitahu kalau itu adalah tiket pesawat mereka.
“Yang perlu kalian lakukan lusa hanyalah berangkat.” jelas Ketua Choi lalu keluar dari ruangan. 


Tae Hee memberikan satu tiket untuk Sa Ra dengan wajah tersenyum. Sa Ra melihat tiket pesawatnay, ia merasa setelah mereka akan menikah lalu mereka terlalu sibuk kesana kemari.  
“Semuanya berjalan begitu cepat. Bisakah kita... naik pesawat ini?” tanya Sa Ra yang terlihat masih khawatir.
“Jangan khawatir. Lusa...kita punya akhir yang bahagia.” ungkap Tae Hee dengan tersenyum dan penuh keyakinan.
Sa Ra tersenyum, ia ingat sudah saatnya mereka pergi ke toko pengantin. Ia menanyakan apakah Tae Hee akan ikut bersamanya. Tae Hee pikir kalau ia pasti ikut karena ini terakhi kalinya ia akan melihat Sa Ra mengunakan Gaun pengantinnya.
PD datang meminta izin untuk meminjam Sa Ra selama satu Jam karena berkaitan dengan kontrak Birth of Chef. Sa Ra dan Tae Hee saling melirik, lalu Tae Hee mengangguk dan menegaskan kembali kalau PD hanya meminjamnya satu jam saja.
Tae Hee memberitahu ia akan pergi lebih dulu dan berpesan Sa Ra pergi dengan perlahan saja menyusulnya. Sa Ra mengangguk dengan tersenyum. 


Sa Ra kaget mengetahui dirinya akan di panggil oleh Departemen Perencanaan Strategis.
“Kau bekerja dengan Winner Food dan termasuk pelanggaran kontrak dengan HBS serta Grup Winner.” jelas PD
Sa Ra binggung dengan Pelanggaran kontrak dan artinya ia tak bisa berkerja dengan Winner Food. PD berbisik meminta Sa Ra untk mendengarkan lebih dulu dari pihak HBS.
“Orang yang mau kau temui sekarang adalah Direktur Perencanaan Strategis. Dia pemegang saham kedua terbesar di Grup Winner. Dia adalah orang dalam.” cerita PD. Wajah Sa Ra terlihat khawatir kalau ia  tidak bisa bergabung dengan Winner Food.
Bersambung Ke Part 2  

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar