PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 29 Desember 2019

Sinopsis Crash Landing On You Episode 5 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

 
[SEOJAEGOL, ZONA BOTONGGAK, PYONGYANG]
Seorang penjaga heran melihat mobi datang semalam ini dengan nada sinis langsung bertanya ada urusan apa. Jung Hyuk memperlihatkan wajahnya, si penjaga ketakutan dan langsung membuka jalan. Jung Hyuk masuk rumah yang cukup luas dan terhenti saat terdengar bunyi suara burung unta.
“Jung Hyuk. Kau tak bilang mau datang... Apa kau sudah makan?” tanya Ibu Jung Hyuk melihat anaknya yang datang.
“Sudah. Tapi kenapa ada burung unta?” tanya Jung Hyuk heran. Ibunya pikir Sekarang pelihara burung unta lebih bagus dari anjing.
“Ini Tren baru... Lebih lantang daripada anjing.” Jelas Ibu Jung Hyuk. Jung Hyuk mengerti dan langsung menanyakan keberadan ayahnya. Ibunya memberitahu ada didalam dan mengajaknya masuk. 

Tuan Ri duduk dengan wajah dinginya, Ibu Jung Hyuk menceritakan kalau Dan juga berkunjung dua hari lalu menurutnya wanita itu tampak makin cantik. Tuan Ri langsung memutuskan agar mereka adakan pernikahan pada tahun ini.
“Tahun ini? Bukankah terlalu dini?”kata Ibu Jung Hyuk kaget.  Jung Hyuk hanya diam saja.
“Mereka sudah tunangan tujuh tahun. Apa Terlalu dini?” ucap Tuan Ri dingin.
“Tapi Dan baru pulang dan Jung Hyuk bekerja di garis perbatasan. Dia juga tak kerja di Pyongyang. Saatnya belum tepat.” Kata Ibu Jung Hyuk
“Aku turuti Ayah... Bolehkah aku meminta sesuatu?” ucap Jung Hyuk dengan wajah serius. 


Akhirnya semua keluar rumah, Nyonya Na yang sudah mabuk mengeluh agar Berhenti memegang lengannya. Nyonya Yang menyuruh agar Jalan lurus tapi Nyonya Na seperti sangat mabuk. Nyonya Ma masih didepan rumah berbicara dengan Se Ri.
“Sam Suk, jika butuh bantuan soal hubunganmu dengan Jung Hyuk, hubungi aku saja, aku siap membantu.” Kata Nyonya Ma. Se Ri kaget kalau bisa meminta bantuan.
“Sebenarnya... Jika Kapten Ri dapat promosi dan makin sukses, orang tuanya mungkin akan bermurah hati.” Kata Se Ri. Nyonya Ma kaget mendengarnya.
“ Contohnya, jika dia mendapat Bintang Preferensi yang menghubungkan Gyeonu dan Jiknyeo.” Jelas Se Ri
“Kini aku paham maksudmu. Jangan khawatir. Akan kuberi tahu suamiku.” Kata Nyonya Ma. Se Ri tak percaya mendengarnya dan langsung memanggilnya “Unnie” . tiba-tiba Nyonya Na berteriak marah. 

“Hei! Putuslah dengannya! Jangan menikahinya! Sebaiknya pacarmu tetaplah menjadi pacarmu. Begitu menikah, pria yang kau cintai akan tiada. Dia akan menghilang. Jika kau mencintainya, simpan saja dia di dalam hatimu! Dengan begitu, dia takkan menghilang!”teriak Nyonya Na
“Kau ini kenapa? Kau mabuk?” keluh Nyonya Ma. Nyonya Yang pun meminta maaf. Se Ri pun hanya diam saja dan kaget melihat Nyonya Na berani memegang wajah Nyonya Ma.
“Yeong Ae... Apa Kau sungguh suka suamimu? Apa Kau menyukainya karena dia Kolonel Senior? Selain Kolonel Senior, apa yang hebat darinya? Dia cuma rakun tua.” Teriak Nyonya Na. Nyonya Ma marah Nyonya Na berani mengatakan itu.
“Kalian sedang apa? Seret dia.” Ucap Nyonya Ma kesal. Nyonya Yang terus meminta maaf mencoba menutup mulut Nyonya Na.
“Dia cuma rakun tua. Kenapa aku tak boleh bilang kalau dia cuma rakun tua?” teriak Nyonya Na. Mereka akhirnya mencoba mengotong Nyonya Na yang mabuk.
Nyonya Ma akhirnya bergegas pulang seperti menahan rasa malu. Se Ri pun menghela nafas panjang dan melihat ke arah jalan seperti menunggu Jung Hyuk yang belum pulang. 


Se Ri minum sampai pagi hari dan saat itu Jung Hyuk datang, Ia langsung mengeluh Jung Hyuk yang tidur di luar. Jung Hyuk mengakutak tidur di luar rumah dan tak menginap. Se Ri pikir tetap tak pulang semalama jadi tak ada bedanya. Jung Hyuk akan masuk
“Bisakah kau tak melewati garisnya? Anggap itu garis perbatasan dan jangan lewati garis itu. Itu yang kau mau juga.” Ucap Se Ri dan Jung Hyuk melihat kaleng bir yang berjejer dilantai seperti garis.
“Kau menginjak garisnya. Selama kita tak melewatinya, takkan ada perang. Jadi, berhati-hatilah.” Tegas Se Ri.
“Apa Kau marah?” ejek Jung Hyuk. Se Ri mengelak menurutnya untuk apa marah.
“Jika kau tak marah...” kata Jung Hyuk dan Se Ri menegaskan tak marah dengan mengangkat pisaunya. Jung Hyuk panik meminta Se Ri agar meletakkan pisau itu dahulu?
“Aku tak bisa tidur semalaman, jadi, aku menghitungnya. Kau pergi sebelum pukul 20.00, kau seharusnya sampai di Pyongyang pukul 22.00. Anggaplah kau minum kopi. Maka kau pergi pukul 23.00, dan kembali pukul 01.00 atau 02.00.” kata Se Ri
“Sekarang pukul berapa? Astaga, 07.30. Kau bilang, "Aku akan kembali" dan tak pulang.” Keluh Se Ri. Jung Hyuk mengaku ada urusan. Se Ri tahu itu  Pasti.
“Aku menjadikanmu anggota tim nasional yang ikut serta kompetisi trek internasional.” Kata Jung Hyuk.
Se Ri kaget mendengarnya. Jung Hyuk memberitahu kalau Se Ri bisa ke Eropa dengan pesawat terbang. Se Ri tersenyum karena Jung Hyuk  yang mencari cara itu dan Seharusnya bilang dan mengaku jadi merasa bersalah. Jung Hyuk akhirnya masuk rumah. 




“Tapi... Aku memang cukup atletis dan bisa berlari. Tapi tak cukup baik untuk menjadi tim nasional...” kata Se Ri kaget.
“Kau anggota cadangan, jika ada yang cedera. Kau tak perlu berlari sungguhan. Begitu kau sampai sana, kau akan menghilang.” Kata Jung Hyuk.
“Lalu setelahnya?” tanya Se Ri. Jung Hyuk mengatakan Se Ri akan pulang. Se Ri ingin tahu Kapan penerbangannya?
Jung Hyuk menjawab “Senin depan.” Tuan Jung terus mendengarnya dengan seksama. Se Ri senang karena mungkin bisa menghadiri rapat pemegang saham walaupun Mungkin tak cukup waktu untuk bersiap, tapi tak masalah.
“Kau harus ambil foto untuk membuat paspor.” kata Jung Hyuk. Se Ri ingin tahu setelah itu.
“Pyongyang tak seperti di sini. Kau harus ubah beberapa hal jika tak ingin tampak mencurigakan.” Kata Jung Hyuk menatap Se Ri. 



Se Ri melonggo melihat salon di korea utara dengan nama “SALON ILDANGBAEK dengan style rambut yang benar-benar sangat kuno. Ia pun bertanya apakah hanya ini pilihan rambutnya. Nyonya Jung membenarkan dan memberitahu kalau  semuanya gaya rambut khas.
Se Ri melihat model rambut GAYA MANSUDAE, GAYA DIIKAT GAYA CAMAR, GAYA PERPISAHAN. Nyonya Na terlihat sedang frustasi mengeluh sebaiknya mencukur semua rambutknya saja Lalu Yeong Ae mungkin akan memaafkannya.
“Dia takkan memaafkanmu... Jangan sia-sia mencukur rambutmu.” Kata Nyonya Yang.
“Baiklah... Aku pilih Gaya Perpisahan. Aku akan berpisah dari negara ini.” Ucap Se Ri. Nyonya Yang pikir itu  Pilihan tepat.

Se Ri keluar dari salon terlihat malu dengan rambutnya dan merasa Rambutnya jadi tipis. Mungkin karena itu dinamakan Gaya Perpisahan. Sementara ibu yang lain merasa kalau Se Ri tampak cantik. Akhirnya mereka pergi ke pasar memilih pakaian baru.
Se Ri mencoba beberapa baju dan mencoba terlihat lebih stylist dengan sweater yang hanya dikalungkan pada lehernya. Se Ri akhirnya mencoba baju yang lainya, Nyonya Na memberikan jaket hitam tapi Se Ri hanya menaruh di pundaknya.
“Kenapa pakai itu di jaket?” komentar Nyonya Na. Nyonya Yang pikir Se Ri itu memang aneh.
“Aku suka ini. Ini agak murahan, tapi tampak trendi.” Kata Se Ri  mencoba celana di pinggangnya dan benar-benar terlihat stylist.
“Ah.. Kurasa aku lihat celana kerja ini di Pekan Mode New York. Pola ini...” ucap Se Ri melihat celana yang digantung.
“Hei, lihat. Ada yang kurang.. Coba Kenakan ini. Kau seolah-olah bisa menghadapi wanita Pyongyang itu. Pergilah ke Pyongyang dan hajar dia.” Ucap Nyonya Na memberikan syal untuk penutup kepala pada Se Ri.
“Kau lihat, aku tak perlu berdandan untuk membuatnya sadar. Begitu kami bertemu kemarin, maka aku menghajarnya dengan wajahku.” Ucap Se Ri yakin. Keduanya melonggo ketakutan.
“Tidak. Dia tak dihajar... Tapi Aku hanya menatap dingin” kata Se Ri lalu melihat pakaian yang bagus.
“Indahnya. Berapa harganya?” tanya Se Ri. Si bibi dengan sinis memberitahu kalau harganya mahal.
“Jika tak mau beli, tolong kembalikan, Nanti Bisa kotor.” Kata  Bibi sinis.  Se R ingin tahu seberapa mahal jaket ini?
“Harganya 15.000 won.” Kata si bibi. Nyonya Na dan Nyonya Yang melonggo karena hargaya sangat Mahal sekali.
“Apa Kau punya uang?” tanya Si penjual. Se Ri mengaku  tak pernah bilang ini seumur hidupnya.
“Kau benar. Aku tak punya uang.” Ucap S Ri terlihat sangat menyedihkan. 


Nyonya Hyun mengajak ke sebuah tempat memberitahu kalau mereka menawarkan harga terbaik. Se Ri pun mengikutinya, Nyonya Yang dan Nyonya Na hanya melihat dari kejauhan. Si pria melihat Nyonya Yag kembali dan bertanya apa ada yang ingin digadai.
“Bukan aku pelangganmu hari ini. Aku bawa orang. Dia dari Divisi 11. Pernah tinggal di Korea Selatan, dia punya barang bagus..” Ucap Nyonya Hyun menunjuk pada Se Ri.
“Apa yang mau kau gadaikan?” tanya Si pria penasaran. Se Ri memegang kalungnya seperti ragu akhirnya melepaskan jam tanganya.
“Ini salah satu dari lima koleksi FW 2019 edisi terbatas. Aku membelinya langsung dari desainernya di butik utama. Aku membeli salah satu dari lima, tebak siapa pembeli lainnya. Kau akan terkejut mendengar namanya. Paris Hilton, Miranda Kerr, dan...” ucap Se Ri dan melihat si pria hanya melhat jam tanga dan menimbangnya.
“Apa Kau mendengarkan aku?” keluh Se Ri. Si pria mengatakan Jamnya ringan.
“Tepat sekali. Kau tahu apa ini. Saat kau pakai, kau takkan merasakannya.” Jelas Se Ri
“Jangan sia-siakan waktu bernegosiasi.Aku tawarkan seperempat harga. Dua puluh ribu dolar... Perunggunya 10.000 won, kulitnya 7.000 won, dan 2.000 won biaya pekerjanya. Aku berikan 19.000 won.” Kata Si pria.
“Dia temanku. Jadikanlah 20.000 won.” Kata Nyonya Hyun. Si pria setuju akan memberikan  20.000 won.
“Aku tak bilang 20.000 won... Aku bilang 20.000 dolar. Bagaimana bisa...”ucap Se Ri kaget. 


Seorang pria datang membawakan gesper dan akan mengadaikanya. Si pria menimbangnya dan langsung memberikan harga 35.000 won. Se Ri tak percaya kalau jam tanganya lebih murah daripada sabuknya padahal Ini jam desainer dan Edisi terbatas.
“Itu tak ada artinya... Hitung dari berat. Seharusnya pakai kulit lagi. Ini terlalu ringan.” Ucap Si pria.
“Membuatnya ringan seperti ini adalah teknologinya. Tak semua orang bisa buat seperti ini dan barang ini tak ternilai.” Kata Se Ri sedikit marah
“Kau benar. Kami tak bisa nilai. Jika tak mau tinggalkan untuk 20.000 won, pergi saja.” Ucap Si pria marah
“Bukan itu maksudku... Maksudku, seharusnya lebih mahal 5.000 won.” Kata Se Ri. Si pria setuju akan membayar 25.000 won.
“Terima kasih. Syukurlah... Biasanya dia tak sebaik ini.” Kata Nyonya Hyun bahagia.
Se Ri hanya bisa tersenyum terpaksa harus merelakan jam kesayangny lalu meminta agar Jangan dijual dan akan ambil kembali. Ia tiba-tiba melihat ada jam pria dan itu asli lalu bertanya kenapa ada ditempat itu juga dan berpikir kalau Pasti ada orang yang sepertinya.
“Dia bahkan tak mau uangnya. Tapi Dia ingin aku menyimpannya. Bahkan Sudah lama, dia tak kembali.” ucap Si pria. Se Ri pun tak curiga. 

Tuan Jung melapor pada Tuan Jo tentang penyadapanya. Tuan Jo memastikan kalau Se Ri meninggalkan negara ini Kamis depan. Tuan Jung membenarkan, Tuan Jo mengetahui kalau Menyamar sebagai anggota tim nasional dengan pesawat terbang dan berpikir kalau Se Ri punya paspor palsu.
“Kurasa tidak... Dia ke Hotel Pyongyang dan ambil foto untuk paspor. Mereka bilang, dia akan ke Factory 926. Berarti dia punya paspor asli, bukan yang palsu. Aku dengar orang-orang Divisi 11 menyamar agar bisa pergi diam-diam.” jelas Tuan Jung sedikit gugup.
“Apa Kau sungguh berpikir dia anggota Divisi 11?”kata Tuan Jo sinis. Tuan Jung terlihat makin gugup.
“Ya, bisa lihat dari transkripnya, kami tak temukan apa pun yang mencurigakan.” Jelas Tuan Jo. Tuan Jung seperti masih tetap curiga.
“Baik. Jika veteran bilang begitu, berarti memang benar.” Kata Tuan Jung akhirnya percaya. Tuan Jo pun mengucapkan Terima kasih dan akan pergi.
“Kamerad Jung... Menurutmu kenapa kita tak bisa temukan jam Ri Mu Hyuk? Kita cari di rumahnya, di kamp, dan semua kenalannya, tapi di manakah jam itu berada?” kata Tuan Jo.
Tuan Jung hanya bisa diam saja dan dan teringat saat dirinya seperti sedang dipukul dan Mu Hyuk mengulurkan tanganya dan terlihat jam tangan yang digunakan kakak Jung Hyuk. Itu sama dengan ada di toko gadai. 

“Entahlah.” Kata Tuan Jung gugup. Tuan Jo pikir Siapa pun yang memilikinya, maka orang itu dalam masalah besar.
“Tapi aku khawatir... Jika itu jatuh ke tangan Jung Hyuk, maka tamatlah riwayat kita berdua. Jadi Berhati-hatilah.” Pesan Tuan Jo. Tuan Jung menganguk mengerti. 



Apel dimulai, Pemimpin Hwang melapor Kompi Lima tidak datang saat latihan sore. Jung Hyuk mengaku tak melihat beberapa anggota kompi. Petugas Hwang memberitahu Sersan Utama Pyo Chi Su, Letnan Pertama Park Gwang Beom, Sersan Staf Kim Ju Meok, dan Privat Kelas Pertama Geum Eun Dong dipanggil oleh Badan Keamanan.

Di ruangan Eun Dong berjongkok sambil menangis ketakutan. Tuan Jo melihat Eun Dong mengejek kalau Investigasi belum dimulai tapi sudah  menangis. Ia lalu melihat profile Eun Dong yang punya ibu dan empat adikdi kampung halamannya.
“Begini, rencanaku adalah menyelamatkan satu dari empat orang. Orang yang melaporkan kebenarannya kepadaku. Kau takkan dapat kesempatan kedua. Jika kau bicara, kau akan hidup. Jika tidak, yang lain akan hidup. Kau harus selamatkan dirimu, 'kan?”ucap Tuan Jo
“Beri tahukan apa yang kau ketahui. Siapa identitas wanita yang mengaku dari Divisi 11? Kenapa dia di sini? Apa yang Kapten Ri sembunyikan? Apa yang dia rencanakan di rumah dengan bawahannya dengan alasan pembangunan saluran air? Bicaralah saat sudah siap.” Kata Tuan Jo penasaran.
“Letnan Komandan Jo.... Aku yang terakhir, 'kan?”kata Eun Dong. Tuan Jo terliha bingung.
“Sudah lama sekali sejak Sersan Utama Pyo Chi Su, Letnan Pertama Park Gwang Beom, dan Sersan Staf Kim Ju Meok dipanggil. Aku yang terakhir, 'kan? Tapi kau masih tak tahu apa pun. Jadi Aku juga tak tahu apa pun.” Kata Eun Dong 



Tuan Jo langsung marah besar dan memukul Eun Dong sampai terpelanting. Saat itu Jung Hyuk masuk ruangan melihat anak buahnya terkapa. Tuan Jo marah melihat Jung Hyuk kalau tak melihat sedang menginvestigasi dan menyuruhnya Keluar.
“Jika penasaran soal aku, tanya saja langsung.” Kata Jung Hyuk melindungi anak buahnya.
“Sayangnya, aku tak bisa. Investigasi ini mengenaimu. Jadi Pria yang terlibat takkan berkata jujur.” Kata Tuan Jo
“Cara berpikirku berbeda. Hanya yang terlibatlah yang bisa berkata jujur. Kalau begitu, katakan sejujurnya mengenai semua hal yang telah kau lakukan.” Tegas Jung Hyuk. Tuan Jo bingung apa maksud ucapan Jung Hyuk itu. 

Saat itu telp berdering dengan keras. Tuan Jo mengangkatnya. Terdengar teriakan dari Kolonel Senior  “Apa maksud semua ini? Bukankah sudah kau tutup kasus kecelakaan truk itu? Aku menerima permintaan resmi dari Badan Keamanan untuk mengirim para sopir dan kau.”
“Tapi mereka ingin aku juga? Aku tidak terlibat! Bukankah kau janji akan bertanggung jawab penuh? Kenapa aku harus dipanggil? Datang ke ruanganku!” teriak Kolonel Senior. Saat itu Tuan Jo melirik seperti takut Jung Hyuk mendengarnya.
“Dengar, Ri Jung Hyuk.” Kata Tuan Jo. Jung Hyuk langsung memotongnya kalau melihat Tuan Jo sibuk jadi Akan mebawa anak buahnya.
Saat keluar ruangan Jung Hyuk melihat Tuan Jung datang dengan membawa berkas. Tuan Jung panik melihat Jung Hyuk dan langsung menyembunyikanya. Jung Hyuk pun akhirnya perg, ditangan Tuan Jung sudah ada lembaranTRANSKRIP. 

Beberapa orang sedang berkerumun mengejek anak yang dianggap “Anak Pengkhianat” dan menyurhnya pergi.  Se Ri melihat kalau Tampaknya perundungan itu ada di Utara dan Selatan. Beberapa anak terus menyuruh si anak pengkhianat pergi.
“Hei! Dasar berandal cilik!.. Dengarlah. Kenapa kalian merundungi satu anak?” teriak Se Ri memisahkan mereka.
“Kau siapa?”ujar salah satu anak. Se Ri dengan sangat yakin kalau ia dari Pasukan Khusus.
“Aksen Selatanku bagus, 'kan? Jika tahu apa yang kulakukan di Selatan, kalian pasti takut.” Kata Se Ri mengancam.
“Ayahnya pengkhianat!” teriak si anak. Se Ri mengeluh mendengar kata Pengkhianat.
“Semua pekerjaan itu terhormat. Tak peduli apa pekerjaan ayahnya. Apa peduli kalian? Jika terus merundungi yang lemah, maka kalian akan jadi seperti Pyo Chi Su.” Kata Se Ri.
“Siapa Pyo Chi Su?”tanya si anak bingung. Se Ri menjawab kalau dia adalah  pria jelek.
“Jika kalian merundunginya lagi, maka akan kulaporkan ke Ri Jung Hyuk.” Kata Se RI. Si pria ingin tahu siapa Jung Hyuk itu.
“Dia bisa bertarung dengan baik. Jika dia dengar soal ini, kalian bisa kena masalah. Jadi Bubar. Bubarlah!”teriak Se Ri. Semua pun berlari bubar. 

Se Ri membantu U Pil berdiri sambil mengelh karena membiarkan mereka memukulinya padaha seharus melawan agar mereka tak merendahkannya. U Pil mengaku mendengar harus bersikap baik pada teman-temannya. Se Ri mengeluh siapa yang mengatakan hal itu.
“Ayahku.” Kata U Pil. Se Ri pikir ayah U Pil pasti ayahnya itu pria yang hebat.
“Tapi dunia ini bukan kebun bunga. Jangan bersikap baik kepada yang memukulimu. Mereka yang memukul tak tahu sakitnya dipukul. Hanya penerimanya yang tahu. Jika ada yang mau merundungmu, pukul saja lebih dahulu.” Kata Se Ri
“Apa Kakak melakukan itu?” tanya U Pil . Se Ri membenarkan saat melakukannya Lalu mereka berhenti merundungnya.
“Mereka Juga berhenti mendekat... Kesepian lebih baik daripada kesakitan.. Ayo Pakai tasmu lagi.” Ucap Se Ri.

Tuan Park dan Sek Hong masuk ruangan dengan wajah gugup, Seorang pria mengaku sebenarnya suatu pagi, mendengar sesuatu saat bersih-bersih beberapa hari lalu Tapi suaranya tak begitu jelas Dan ada banyak protofon di frekuensi yang sama.
“Apa kalian Masih mau dengarkan?” tanya si pria. Keduanya menganguk dengan wajah tegang.
Terdengar suara “Ini Se-ri, ganti.” Keduanya kaget dan Tuan Park pikir Sek Hong bisa mendengar juga dan bertanya apakah berpikir itu suarany Sek Hong yakin itu suaranya, Tuan Park seperti baru mendapatkan anugerah karena mendengar suara Se Ri.
“Kudengar suara itu pagi dan malam... Astaga, aku merinding. Aku merinding saat dengar suara itu. Kurasa tubuhku mengingatnya.” Kata Sek Hong
“Berikan kami diska lepasnya. Jika kami lapor ke polisi dan lacak transmisi ini,maka kami bisa menemukannya.” Ucap Tuan Park. Si pria menganguk mengerti. 

Nyonya Do turun dari mobil menelp Suaminya kalau baru sampai di rumah Ibudan sudah memikirkannya, serta menyadari bahwa harus tunjukkan kesetiaannya bukan berdoa.
Akhirnya Nyonya Do masuk menemui Nyonya Han, sang ibu mertua mengaku  minta maaf atas kejadian terakhir jadi Suaminya menyuruh agar mengunjungi Ibu karena terlalu malu. Nyonya Han hanya diam sambil meminum teh. 

“Ibu tahu dia membangun resor di Bali, 'kan? Begitu Ayah pensiun, maka kami akan buat satu gedung pribadi untuk digunakan Ibu dan Ayah. Itu ideku.” Kata Nyonya Do
“Bali? Ide bagus.. Apa Kau mau mengusir kami?” ucap Nyonya Han sinis. Nyonya Do panik mengaku bukan begitu.
“Aku hanya ingin Ibu dan Ayah menikmati waktu romantis...” ucap Nyonya Do
“Apa Kau tahu kami sudah pisah ranjang selama 20 tahun?” kata Nyonya Han. Nyonya Do kaget mendengarnya.
“Kenapa?” tanya Nyonya Do. Nyonya Han menjawab tak tahu. Nyonya Do pikir Ibu pasti begitu kesepian.
“Benar.. Kau pasti lelah. Sebaiknya kau pergi... Aku harus istirahat.” Kata Nyonya Han.
“Ibu! Kami akan pindah ke rumah ini. Rumah ini besar. Pasti sepi jika kalian berdua di kamar terpisah. Jangan anggap aku sebagai menantu. Tapi Aku akan menjadi putri Ibu. Ibu sudah tak punya putri.” Ucap Nyonya Do
“Kau bilang apa?  Apa Aku tak punya putri?” kata Nyonya Han marah
“Ibu pernah punya putri. Tapi tidak punya lagi, jadi...” kata Nyonya Do. Nyonya Han tak percaya kalau dianggap Se Ri sudah mati.
“Ibu, kenapa berkata begitu? Se-ri belum mati! Dia tetap hidup di hati kita selamanya.” Kata Nyonya Do terus mencoba menjilat.
Nyonya Han terus menyuruh pergi saja dan Nyonya Do mengaku ada satu hal lagi. Nyonya Han menyuruh agar mengataan saja. Nyonya Do tahu Ibunya punya saham perusahaan. Delapan persen jadi meminta agar bisa mendukung mereka.
“Jika digabung dengan saham pendukung kami, kami punya kesempatan. Bagaimana?” kata Nyonya Do dengan wajah melas. 



Nyonya Do menelp suaminya memberitahu kalau tidak berhasil dan Ibu mertuanya bahkan makin marah kepadanya. Se Joon pun ingin tahu apa yang dikatakan istrinya. Nyonya Do mengaku tak bilang apa-apa tapi hanya bilang akan jadi putrinya.
“Kepribadiannya aneh... Pantas mereka pisah kamar! Atau Apa karena pisah kamar? Entahlah. Dan Kau apa sudah tangkap si penipu itu? Kau harus tangkap dia! Tamat sudah jika adikmu yang menangkapnya!” teriak Nyonya Do 

SHENYANG, TIONGKOK
Seorang pria sudah jatuh tersungkur di lantai, Se Hyung duduk di sebuah gudang bertanya apakah pria itu sudah bicara Anak buahnya mengatakaan Tuan Oh tetap menutup mulut. Se Hyun mengeluh Tuan Oh  tidak buka mulut padahal tak selamatkan Korea.
“Aku tak tahu apa pun.” Kata Tuan Oh. Se Hyung bertanya apakah sudah membahas uang. Anak buahnya menjawab belum.
“Karena itulah dia bungkam. Mari kita akhiri ini. Kau Dapat berapa dari Gu Seung Jung ? Akan Kuberi 10 kali lipat.” Kaat Se Hyung. Tuan Oh langsung melotot tajam. 

Tuan Chun menerima telp dari Tuan Oh,  kalau tak bisa bawa dia ke Tiongkok. Ia pikir walau bisnis mereka ilegal, tapi pasti ada etika bisnis karena mereka sudah menjanjikan perlindungan jadi Bagaimana bisa begitu.
“Apa? Sepuluh kali? Apa Dia sungguh akan bayar?” teriak tuan Chun dan melihat Seung Jung keluar kamar dan berpikir akan menghubunginya nanti. “Aku sungguh bosan... Ayo ke Pyongyang besok. Ayo ke Okryu-gwan dan kasino.” Rengek Seung Jung.
“Baiklah.... Kita ke Pyongyang besok.” Kata Tuan Chun. Seung Jung tak percaya dan wajahnya langsung tersenyum bahagia.
Bersambung ke Part 3

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar