Minggu, 10 Januari 2016

Sinopsis Yong Pal Episode 9 Part 2


Keduanya menuruni jalanan hutan, Yeo Jin yang digendong yakin ia pasti berat, Tae Hyun mengodanya dengan mengeluh Yeo Jin itu sangat berat. Yeo Jin meminta supaya diturunkan saja. Tae Hyun tersenyum karena hanya bercanda dan mengatakan Yeo Jin itu tak berat
“Aku menggendong So Hyun di punggungku sejak ia masih kecil jadi aku sudah terbiasa.” cerita Tae Hyun
“Apa So Hyun sakit sejak lahir?” tanya Yeo Jin
“Tidak.... Aku yang membuatnya seperti itu.” akui Tae Hyun, Yeo Jin pun kaget. 

Flash Back
Tae Hyun menceritakan waktu mereka masih kecil ayah Ibu dan bekerja jadi selalu pulang terlambat dan ia yang harus mengurus adiknya. Saat itu So Hyun terbaring dan ia menyuruh adiknya untuk bangun.
So Hyun yang terlihat lesu mengatakan sakit. Tae Hyun pun meminta adiknya untuk makan setelah itu minum obat,
“Ketika aku berpikir tentang hal itu, aku bertindak seperti ibu yang ceroboh Atau seperti dokter.” cerita Tae Hyun
Setelah makan Tae Hyun mencari obat dikotak obat lalu memberikanya pada sang adik. So Hyun menolak tapi Tae Hyun memaksa agar adiknya minum obat

“Aku memberikan asetaminofen padanya, padahal dia tidak mau. Itu adalah pereda nyeri yang biasa diminum ayahku.Tapi menyebabkan kerusakan akut pada hati ketika seorang anak mengkonsumsinya. Tapi aku melihat tampak sama seperti obat yang biasa diberikan ibu padanya ketika aku jatuh sakit dan demam.” cerita Tae Hyun 
Beberapa saat kemudian, So Hyun masih saja terbaring dan Tae Hyun memaksa adiknya untuk bangun, tapi So Hyun tetap saja diam. Akhirnya Tae Hyun memeriksa dahi adiknya dan sangat ketakutan berlari ke tempat dokter dengan mengendor-gedor pintu meminta supaya menolong adiknya.
“Berapa lama dia seperti ini?” tanya dokter yang memeriksa mata So Hyun
“Sejak dia minum obat.” ucap Tae Hyun
Dokter bertanya obat apa yang diberikanya, Tae Hyun memperlihatkan botol obat yang diberikanya. Dokter langsung meminta Tae Hyun membantunya untuk membawa So Hyun pergi. 
Dirumah sakit
So Hyun sudah dirawat dengan infus yang menempel ditanganya, Tae Hyun hanya bisa menangis melihat adiknya. Dokter disana mengatakan tidak yakin So Hyun akan baik-baik saja.

Ayah dan Ibu Tae Hyun datang, keduanya panik melihat So Hyun yang ada disana. Sang ibu menangis sambil menatap Tae Hyun karena membuat adiknya malah sakit. 


Keduanya sudah berjalan menunju bukit, Yo Jin mengerti, itu salah satu alasan Tae Hyun menjadi seorang dokter supaya bisa menyelamatkan So Hyun. Tae Hyun mengatakan ingin menjadi kaya  dan berkuasa.
“Kemiskinan tidak bisa mengobati So Hyun tapi Kemiskinan mengubah ayahku menjadi pemabuk. Aku tidak menyukainya. Tapi pada akhirnya Aku menjadi seorang penjahat dengan banyak utang. Semakin aku mencoba untuk menjadi berkuasa. Apa aku akan berakhir dengan lebih menyedihkan? Apa aku tidak tahu tempatku sendiri?” cerita Tae Hyun sedih
“Kita semua tampak lemah bagi orang lain, bahkan tidak tahu betapa menyedihkannya kita.” komentar Yeo Jin, Tae Hyun pikir mungkin memang seperti itu.
“Tapi kau menyelesaikan kulihamu sendiri dan menjadi seorang dokter., lalu kau juga menyelematakan So Hyun. Kau sudah melakukan yang terbaik. Jika saja aku punya kakak sepertimu.” komentar Yeo Jin merasa iri.
Tae Hyun hanya melirik, lalu melihat mereka sudah ada tepat diatas bukti dengan pemandangan yang sangat indah lalu menurunkan Yeo Jin agar bisa melihatnya. Yeo Jin benar-benar merasakan pemandangan yang indah sekali.

“Ini adalah Bukit Angin. Jika orang yang saling mencintai berciuman disini...”ucap Tae Hyun  memeluk Yeo Jin yang berdiri didepannya. Yeo Jin langsung membalikan badanya dan mencium Tae Hyun.
“.... mereka akan kembali ke sini lagi. Dan jika mereka kesini lagi lalu berciuman maka mereka tidak akan pernah terpisahkan.” kata bisik Tae Hyun
Yeo Jin memegang pundak Tae Hyun lalu mengajaknya supaya besok bukti itu lagi bersama. Tae Hyun mengangguk, lalu keduanya kembali berciuman. 


Dr Lee mondar mandir didalam ruangan, terlihat wajah gelisah dan teringat dengan ucapan Yeo Jin sebelum membunuhnya “Kau pembunuh. Kau juga akan mati di tangan Han Do Joon.”
Akhirnya ia memilih untuk ke tempat Direktur, saat itu melihat seorang perawat pria yang baru keluar dari kamar Direktur tapi ia tak pernah melihat pria itu sebelumnya, si pria langsung kabur begitu saja.
Dr Lee pun masuk ke dalam ruang rawat direktur, terlihat direktur yang duduk dengan mata terbuka. Dr Lee mendekat lalu memeriksa denyut nadi dileher, betapa paniknya mengetahui Direktur sudah tak bernyawa. Ia ingin memanggil suster tapi diurungkan niatnya. 

Akhirnya ia memilih untuk bersikap tenang keluar dari ruangan dokter, lalu masuk kembali keruangan dengan nafas terengah-engah. Awalnya ia ingin buru-buru memakai jasnya, tapi akhirnya mencari paspor dilacinya.
Dr Lee keluar ruangan, beberapa CCTV merekamnya terus gerak geriknya, Perawat Lee yang melihat Dr Lee bertanya mau kemana sekarang. Dr Lee beralasan ada pengunjung dilantai bawah lalu meminta menghubunginya saja ketika ada keadaan yang mendesak.
Sebelum pergi, Dr Lee sempat melirik pada perawat pengganti Perawat Hwang, terlihat si perawat yang melirik sinis padanya. Dr Lee buru-buru meninggalkan lantai 12 menuju lift. Di dalam lift, Dr Lee mencoba bersikap santai dengan merapihkan dasinya, agar terekam dari CCTV. Akhirnya sampai di pakiran dan langsung membuka jas dokter lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah sakit. 


Tae Hyun kembali mendorong Yeo Jin melewati jembatan tempat anak-anak bermain disungai lalu bertanya apakah mereka akan tidak lapar. Anak-anak berteriak mereka lapar. Tae Hyun memberitahu akan mentraktir mereka semuanya.
Semua makan dengan nikmat disebuah restoran, Yeo Jin menyuruh semuanya untuk makan daging. Pendeta terlihat sangat berterimakasih pada Tae Hyun atas semuanya. Tae Hyun merasa kalau ini dilakukan karena merasa senang. 


Tae Hyun melihat Yeo Jin yang makan dengan lahap,  merasa curiga dan  bertanya-tanya apa Yeo Jin itu benar-benar dari keluarga kaya, karena setiap hari Yeo Jin hanya meminta sup kedelai dan kimbap saja. Yeo Jin hanya tersenyum lalu kembali makan. 


Perawat Lee membawakan makan siang untuk Direktur ke dalam kamar, lalu melihat Direktur Lee hanya diam tapi matanya terbuka. Perawat Lee mencoba memanggilnya tapi Direktur tak menyahut. Nampan berisi makanan pun jatuh, Perawat Lee langsung menjerit histeris mengetahui Direktur sudah tak bernyawa. 


Ali berlari menyeberangi jembatan lalu mengedor-gedor pintu dekat gereja. Pendeta kaget melihat Ali yang datang dimalam hari dengan penuh keringat bercucuran. Ali meminta supaya pendeta menelp seseorang untuk membantu ibunya.
Tae Hyun terbangun dari tidurnya, Ali menangis meminta supaya mereka datang kerumahnya agar bisa menolong ibunya. Tae Hyun melihat Ali teringat dengan dirinya saat meminta tolong adiknya pada dokter saat itu. Akhirnya ia kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya lebih dulu. 

Dengan mobil Tae Hyun, semua sampai didepan rumah Ali. Tae Hyun membawa koper lalu meminta supaya Yeo Jin menunggu didalam mobil. Beberapa ibu-ibu yang ada disana, panik melihat Tae Hyun yang datang. Pendeta memberitahu Tae Hyun itu seorang dokter.
Tae Hyun memeriksa mata ibu Ali yang tengah hamil, lalu bertanya kapan perkiraan melahirkannya, suaminya mengatakan masih satu bulan lagi. Tae Hyun mulai memeriksa tekanan darahnya, Biarawati melihat air ketuban dari ibu Ali sudah pecah. 
“Tidak bisa disini, Kita harus membawanya ke rumah sakit. Ini preeklamsia.”ucap Tae Hyun
“Tidak bisa. Aku tidak bisa pergi ke rumah sakit. Jika aku pergi, maka aku akan berada dalam masalah besar.” kata ibu Ali, Tae Hyun binggung

“Mereka adalah penduduk ilegal. Jika dia pergi ke rumah sakit, dia mungkin akan dideportasi, Itu sebabnya dia tidak bisa pergi.” jelas pendeta, Tae Hyun pikir lebih baik mereka pergi daripada mati.
“Bagi mereka, itu bisa lebih buruk daripada kematian. Jika dia pergi ke rumah sakit, maka dia mungkin tidak bisa melihat keluarganya lagi. Jika seluruh keluarganya dideportasi, nanti keluarganya akan dalam masalah karena utang yang mereka miliki.” cerita pendeta
Ibu Ali pasrah apabila mati tapi meminta supaya Tae Hyun menolong bayinya, suaminya tak ingin sang istri berkata seperti itu. Biara yang memegang perut ibu Ali, memberitahu bayinya mulai bergerak Pendeta menyuruh ibu lainya membawa Ali keluar, Ali merengek ingin tetap ada disana bersama ibunya.
Tae Hyun mengingat saat ia berada didepa ibunya yang harus dioperasi tapi tak ada dokter yang menanganinya dan ia hanya bisa menangis karena tak bisa menolong ibunya dan akhirnya meninggal didepan matanya. Lalu menenangkan Ali supaya tak perlu khawatir karena ibunya tak akan khawatir. 

Tae Hyun keluar rumah, Yeo Jin bertanya apakah hasilnya. Tae Hyun memberitahu ibu Ali melakukan operasi, Yeo Jin panik bertanya operasi apa yang dibutuhkan. Tae Hyun memberitahu harus melakuka operasi caesar, Yeo Jin tak yakin akan melakukan dirumah.
“Kita tidak punya pilihan. Jika kita tidak melakukannya sekarang, baik ibu dan bayinya bisa mati.” jelas Tae Hyun
“Bagaimana jika ada kesalahan?” ucap Yeo Jin khawatir
Tae Hyun yakin itu tak mungkin lalu berjalan kebagasi melihat tas yang biasa dipakai menjadi Yong Pal, awalnya ia terlihat ragu tapi akhirnya ia mengeluarkanya dan kembali masuk kerumah. Yeo Jin berpikir Tae Hyun sudah gila melakukan itu. 



Tae Hyun meminta semua yang ada dikamar itu keluar, menaruh meja ditengah dan menaruh papan diatasnya setelah itu memberikan alas taplak dan plastik. Lampu yang ada disana pun didekatkan dan biara membantu mengantungkan kantung infus.
Ibu Ali pun dibaringkan diatas meja, pendeta tak percaya Tae Hyun membawa itu semua dalam tasnya. Tae Hyun menanyakan pada biara apakah ia yakin  membantunya. Biara memberitahu kalau dulu seorang Perawat Prajurit Tentara jadi Tae Hyun tak perlu khawatir.
Tae Hyun meminta bantuan untuk memiringkan tubuh pasien, lalu mencari dibagian tulang rusuk, setelah sudah yakin memberikan tanda dengan kuku jarinya lebih dulu. Lalu menusukan sebuah jarum, Ibu Ali sempat menjerit beberapa saat kemudian terlihat ada cairan yang keluar.
Setelah selesai Ibu Ali kembali dibaringnkan, Biara mengoleskan betadine dibagian perut dan Tae Hyun memakai sarung tangannya dan meminta supaa dibagian bawah saja diberi betadine karena keadaan darurat maka mereka akan membuat sayatan vertikal.
“Kau ahli bedah, tetapi apa kau pernah melakukan bedah Caesar?”tanya biara, Tae Hyun tak menjawab karena ini adalah pertama kalinya, lalu melihat jam, Biara memberitahu gerakan bayi melambat. 
Yeo Jin yang ada didalam mobil terlihat sangat gelisah akhirnya memilih untuk turun dari mobil dan mencoba berjalan.
Di dalam rumah, Ibunya Ali memberitahu anestesiya sudah bekerja jadi memohon supaya menyelamatkan bayinya. Tae Hyun bergumam kalau ini belum waktunya dan apabila meneruskannya sekarang maka ia bisa mengalami shock. Ibu Ali tetap meminta supaya menyelamatkan bayinya. 


Tae Hyun lalu meminta pisau bedah pada Biara, dan membedahnya dalam hati bergumam kalau hanya harus melakukan satu kali sayatan. Yeo Jin sampai didepan rumah tak percaya Tae Hyun bisa melakukan operasi ditempat yang sangat minim.
Sementara Tae Hyun lalu meminta penjepit, Biara memberikannya agar perut bisa terbuka dan Tae Hyun bisa kembali menyayat bagian dalam dan dengan tangannya mengeluarkan sang bayi dari dalam perut.
Yeo Jin berkaca-kaca melihat bayi yang bisa dikeluarkan, Tae Hyun pun meminta gunting dan memotong tali pusarnya. Biara dan pendeta menyelimutinya dengan handuk agar hangat.
Tae Hyun bergumam Bayinya terlalu kecil jadi mereka perlu inkubator, matanya melirik keluar baru menyadari Yeo Jin ada didepan pintu dengan mata haru, ia pun memberikan senyumanya. Ibu Ali terlihat terengah-engah, Tae Hyun langsung memeriksanya kembali lalu bergumam terkena Emboli
“Kita harus membawanya ke rumah sakit.” ucap Tae Hyun, Pendeta mengatakan tak bisa pergi kesana. Tae Hyun melirik Yeo Jin dan berkata ada satu rumah sakit yang bisa menerima.


Perawat So datang menemui Kepala Perawat berbisik menanyakan apakah mendengar tentang direktur. Kepala Perawat tahu Seluruh rumah sakit dalam kekacauan jadi semua orang pasti tahu tentang hal itu.
“Bukankah itu mencurigakan? Dia begitu sehat., tiba-tiba Mendadak serangan jantung. Perawat Hwang juga mati mendadak. Dan Direktur...” kata Perawat So yang sedikit menaikan volume suaranya. Kepala Perawat memperingatkan agar tak keras-keras saat berbicara.
“Dr. Kim Tae Hyun tidak boleh kembali. Apa Kau sudah menghubunginya?” tanya Perawat So khawatir. Kepala perawat memberitahu kalau ponselnya tak aktif. 


Pendeta membawa bayi dan ibu Ali didudukan didalam mobil, Tae Hyun meminta maaf pada Yeo Jin untuk kembali ke gereja dengan biara. Yeo Jin bertanya kenapa harus seperti itu. Tae Hyun memberitahu akan pergi kesuatu tempat. Yeo Jin bertanya dimana tempatnya, Tae Hyun terdiam.
Yeo Jin melihat ke mobil memutuskan untuk ikut, Tae Hyun menolak karena Yeo Jin tak bisa kesana. Yeo Jin memaksa supaya Tae Hyun memberitahunya, Tae Hyun memberitahu akan pergi ke Rumah Sakit Hanshin. Yeo Jin pikir Tae Hyun sudah gila.
Tae Hyun memegang tangan Yeo Jin memintanya agar tak khawatir, karena hanya akan mengantar ibu itu ke lantai 12 lalu kembali. Yeo Jin tetap tak ingin Tae Hyun pergi, Tae Hyun meyakinkan akan segera kembali.
“Kami tidak punya waktu untuk ini. Jika aku tidak segera pergi,maka ibu dan bayinya akan mati.”kata Tae Hyun, Yeo Jin melihat Ibu Ali yang sudah ada didalam mobil
“Berjanjilah... bahwa kau akan segera kembali.” pinta Yeo Jin, Tae Hyun pun tersenyum mendengarnya.
“Baiklah.... Setelah aku melihat So Hyun pergi ke Amerika, maka aku akan kembali.” kata Tae Hyun.
Yeo Jin mengerti lalu berpesan supaya Tae Hyun hati-hati. Tae Hyun menatap Yeo Jin memberikan senyuman supaya pacarnya itu tak khawatir karena akan segera kembali lalu memeluk dengan erat. 


Tae Hyun masuk ke dalam mobilnya, memberikan senyuman agar Yeo Jin tak khawatir. Tapi Yeo Jin masih saja ada raut wajah khawatir dengan kepergian Tae Hyun. Perawat mendekati Yeo Jin yang terus melihat mobil Tae Hyun pergi meninggalkan desa.
“Jangan khawatir, Aku yakin Tuhan akan melindunginya. Dia pasti malaikat yang dikirim Tuhan untuk  kita.” kata Biara yakin.
Yeo Jin melihat kembali mobil Tae Hyun yang semakin menjauh, Tae Hyun melihat ke arah spion dari sorot matanya seperti sudah tahu ancaman yang akan dihadapi didepan mata.

bersambung ke episode 10 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar