Rabu, 20 Januari 2016

Sinopsis Cheese In The Trap Episode 6 Part 1

Hong Sul menatap langit-langit, didepanya sudah ada Yoo Jung dengan jasnya duduk seperti sedang dimeja makan, lalu bertanya kenapa Yoo Jung ada ditempat itu juga. Yoo Jung terlihat tertunduk dengan wajah dinginya, Hong Sul pikir seharusnya mereka  tak bertemu seperti ini.
Apa kau memang punya hobi berdebat? Kaulah yang selalu menilaiku dan salah padam padaku. Sejak awal, saat pesta itu dan insiden pendaftaran kelas Sang Chul.” Ucap Yoo Jung, saat itu juga meja keduanya seperti memajang dan makin memisahkan jarak yang semakin jauh.
Kenapa kau selalu saja melebih-lebihkan sesuatu? Kenapa kau selalu ingin berdebat denganku?” ucap Yoo Jung, meja mereka kembali memanjang dan jarak semakin jauh.
Kenapa sekarang kau malah menyudutkanku?” balas Hong Sul tak terima

Ataukah, seharusnya aku berbuat salah saja? Tapi, tidak seperti itu ‘kan. Aku selau mencoba yang terbaik. Aku melepas beasiswa itu, membantumu mendapatkan tutor, pekerjaan dan tugasmu. Jadi, apanya yang salah dari itu?” teriak Yoo Jung kesal, meja mereka makin jauh bergeser membuat tubuh Hong Sul dan Yoo Jung sempat terpental.
Tapi, bukan itu yang aku inginkan!” tegas Hong Sul berdiri dari tempat duduknya,
Jadi, kau tak suka kebaikanku? Jujurlah. Kau menyukainya, 'kan? Pikirkan baik-baik. Kau sudah menikmati semuanya, dan kau anggap aku ini jahat? Memangnya kau ingin aku menjadi pria sempurna seperti apa?” teriak Yoo Jung, lampu diatas meja makan bergoyang dan akhirnya jatuh, meja pun kembali memanjang dan Hong Sul pun harus terpental kembali dengan kursinya kebelakang.
Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau akan terus membuat jarak kita semakin jauh begini?” tanya Yoo Jung, Hong Sul terdiam dengan mata berkaca-kaca 


Hong Sul tertidur dengan mimpi hubunganya dengan Yoo Jung, bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya membuatnya terbangun. Bo Ra mengirimkan pesan “Hong, ayahku sudah keluar dari rumah sakit. Aku akan mentraktirmu nanti.Akhirnya Hong Sul duduk diatas tempat tidurnya berbicara sendiri kalau Yoo Jung didalam mimpinya pun selalu mengatakan yang ingin dikatakanya. 

Di cafe
Bo Ra tak percaya Hong Sul itu tak menghubungi Yoo Jung, padahal kalau itu dirinya mungkin rela menari hula di Gwangwamun demi dapat pacar seperti Yo Jung. Hong Sul hanya bisa diam mendengar komentar temanya.
Apa kau tak tahu, kau itu sangat beruntung?” ungkap Bo Ra
Tapi, aku tak suka dengan caranya dan Aku takut akan terbiasa.” Jelas Hong Sul
Jadi, kau mau apa? Lanjut atau Putus? Aku tahu memang sikapnya itu agak aneh Dan kau tak suka dengan sikapnya itu. Tapi, apa yang kau rasakan? Apa kau ingin putus dengannya?” tanya Bo Ra yang membuat Hong Sul terlihat binggung. 

Hong Sul bersadar ditempat lesnya sambil mengirimkan pesan untuk Yoo Jung Sunbae, aku ingin bertemu...Aku ingin bertemu dan bicara denganmu. Apa kau...Kau punya waktu besok? wajah Hong Sul saat menulis pesan terlihat gugup.
In Ho sedang berjalan dilorong, pesan dari kakaknya kembali masuk Uangku sudah habis. Kirimkan aku uang. Membaca pesan yang kakak membuat amarah In Ho memuncak dengan mengumpat adiknya itu gila.
Kenapa dia selalu minta uang padaku? Memangnya aku ini Bank? Kapan dia bisa sadar ? Aku juga tak punya uang dan Aku kan baru saja memberinya uang.” Jerit In Ho mengomel sambil berjalan ke tempat foto copy

Saat itu Hong Sul yang sedang bersadar melihat In Ho mengomel sendiri bertanya ada apa dengan temanya.  In Ho mengungkapkan sedang dapat masalah serius. Hong Sul bertanya masalah apa itu. In Ho merasa binggung kapan si rambut Anjing mentraktirnya makan. Hong Sul hanya bisa menghela nafas mendengarnya.
Sudahlah. Aku bosan terus mengingatkanmu. Tapi, sayang juga sih jika rejeki tidak diterima. Mungkin inilah perasaan saat seseorang meminjam uang pada kita. Aku jadi tahu sekarang.” Ungkap In Ho menyindir
Kenapa kau selalu saja membahas makanan jika bertemu denganku? Kau pasti hanya mengejekku, 'kan?” keluh Hong Sul
Kau kan yang bilang mau mentraktir karena insiden batu bata itu? WAH! Sekarang kau mau pura-pura lupa, ya? Kau memang "hebat"!” jerit In Ho mengejek, Hong Sul terlihat benar lupa dengan janji mentraktir In Ho
Akhirnya Hong Sul memutuskan akan mentraktirnya hari ini. In Ho tak percaya, Hong Sul menyakinkan akan mentraktirnya. In Ho pun memperingatkan agar Hong Sul tak kabur darinya. Hong Sul pikir tak akan kabur karena sudah janji. 

Yoo Jung mengosok gigi sambil melihat ponselnya, membuka percakapanya dengan Hong Sul [Aku sudah sampai rumah, kau sedang apa?] akhirnya ia memilih untuk menghapusnya. Ia melihat kebagian atas ada banyak pesan dan memilih untuk menghapus semuanya.
Lalu terdiam saat melihat wallpapernya masih ada fotonya dengan Hong Sul, pesan dari Hong Sul masuk Sunbae, aku ingin bertemu dan bicara denganmu. Apa kau punya waktu besok?Membaca pesan Hong Sul, Yoo Jung langsung dengan cepat menyelesaikan sikat giginya, masuk ke kamar mandi. 

Hujan turun sangat deras, In Ho sudah menunggu didepan minimarket, Hong Sul mengirimkan pesan akan telat 10 menit. Membaca pesan Hong Sul, In Ho mengeluh seharusnya Hong Sul tak perlu mengirimkan pesan kalau memang hanya telat 10 menit saja.
Lalu terdengar suara wawancara yang ada diTV, In Ho mendekat melihat siaran TV tentang seseorang yang menceritakan seperti mutiara di padang pasir dan pembaca acara menanyakan bagaimana menemukan mutiara itu. In Ho terdiam melihat pria yang ada di TV.
Ya, dia sudah bersinar sejak pertama aku melihatnya. Dia memiliki bakat dan keterampilan yang tinggi. Yang perlu dia lakukan hanyalah terus berlatih saja. Rasanya bisa bertemu dengan anak yang memiliki bakat yang besar adalah suatu kehormatan dalam hidup saya ini.” ungkap sang Maestro, In Ho menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan membiarkan bajunya basah kuyup. 

Flash Back
In Ho memainkan piano, seorang memberitahunya harus tulus di depan pianonya. In Ho terus saja memainkan piano dengan kemauannya, pria yang berdiri disampingnya mengomel karena In Ho mungkin akan main-main saat di atas panggung.
Aku sudah siap dan sangat serius.” Ungkap In Ho lalu kembali memainkan pianonya.
jangan bersikap angkuh begitu di depan pianomu.” Tegas gurunya, In Ho mengerti dan langsung menganti irama pianonya dengan beat cepat. Gurunya pun memuji permainan piano In Ho.
Penonton akan bertepuk tangan jika permaiananmu bisa seperti ini. Tepuk tangan itu seperti pisau dan pujian itu seperti racun. Kau pasti akan mengerti maksud perkataanku ini. Kau tahu kan kau adalah murid kesayanganku?” kata gurunya, In Ho mengerti dengan mengacungkan jempolnya lalu kembali memainkan piano dengan irama cepat dan membanggakan kalau dirinya hebat.

Sang guru datang ke rumah sakit, meminta In Ho masuk ke ruang rehabilitasi saja. In Ho berbaring dirumah sakit dengan luka lebam di wajahnya, sang guru yang anak muridnya itu pasti bisa sembuh. In Ho menatap tangan kirinya yang di gips dan tak mungkin bisa bermain piano lagi. 


In Ho membiarkan tangan kirinya kena air hujan, seperti masih membayangkan tanganya itu bisa bermain piano lagi, lalu menatap ke TV ada anak murid dari gurunya yang bermain piano.
Hong Sul berlari dengan memakai payung, lalu berhenti melihat In Ho yang terus menatap TV sedang menyiarakan pemaianan piano. In Homengusap wajahnya yang basah karena air hujan dan tangisnya yang tumpah. Hong Sul ikut sedih melihat In Ho yang menangis karena tak bisa bermain piano lagi.
In Ho ingin pergi dengan mata memerah, dan tersadar Hong Sul sudah berdiri didekatnya. Hong Sul berpura-pura tak melihat lalu berlari dengan memayungi In Ho yang sudah basah kuyup. In Ho mengomel karena Hong Sul datang terlambat jadi membuatnya basah kuyup kehujanan.
Hong Sul mengikuti In Ho yang berjalan lebih dulu, In Ho pun akhirnya memegang payung yang dibawakan Hong Sul mengajaknya minum saja karena hujan turun dengan deras. Hong Sul terdiam sejenak, In Ho menyuruh Hong Sul untuk cepat mengikutinya.
Sementara Yoo Jung menunggu Hong Sul didepan rumahnya, seperti berharap pacarnya itu terkejut melihatnya. Lalu melihat ada siput yang berjalan diatas daun, pelahan memindahkan siput ke tanganya. Ia seperti gemar dengan binatang yang merayap didedaunan dan berjalan ditanganya. 

In Ho memakan pancake dan juga meminum soju, Hong Sul hanya diam menatap In Ho dengan baju yang sudah kering. In Ho menegur Hong Sul tak ikut minum, Hong Sul mengaku tak kuat minum jadi ingin pelan-pelan saja. In Ho mengejek menurutnya  selain belajar tak ada lagi yang bisa Hong Sul lakukan.
Dan kau pasti bangga bisa melakukan semuanya kecuali malas belajar.” Balas Hong Sul mengejek
Apa? Aku tak mau berdebat. Apa kau melihatku, Yang tadi itu?” tanya In Ho
“Yang mana ? Saat kau kehujanan?” kata Hong Sul sambil menuangkan soju dan berpura-pura tak melihatnya. In Ho hanya bisa tersenyum karena Hong Sul menutupinya.
Yoo Jung tiba-tiba datang melihat Hong Sul ternyata ada dibar itu, lalu duduk disamping Hong Sul. In Ho dan Hong Sul binggung melihat Yoo Jung datang. Yoo Jung ingat pernah datang dengan Hong Sul jadi mampir ke tempat itu dan ternyata pacarnya itu ada ditempat itu juga. Hong Sul hanya bisa diam karena harus bertemu Yoo Jung saat dengan In Ho.
Ah... situasinya bisa menjadi seperti ini? Aku merasa seperti sedang mencuri dan langsung ketahuan. Tapi, kan aku yang seharusnya marah? gumam Hong Sul binggung.
Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya sudah kubilang untuk tak mengganggu hidupku? Kau sungguh keras kepala.” Ucap Yoo Jung dingin menyindir In Ho
Oh, iya ya? Tapi, aku harus bagaimana? Si Bulu Anjing punya utang padaku. Jadi, aku tak bisa menurut padamu. Jika kau tak suka, kau bisa pulang saja.” Kata In Ho, Hong Sul pun memilih untuk meminum soju saja.
Baiklah, aku akan ikut jika memang Sul yang teraktir.” Balas Yoo Jung lalu meminta satu gelas lagi pada pelayan. 

Sepertinya kau punya banyak waktu luang, ya? Tapi, kau seharusnya terus bekerja untuk menghidupi kakakmu itu. Jangan santai begini terus.” Sindir Yoo Jung menuangkan soju pada gelas In Ho
Brengsek! Kaulah yang telah membuat situasinya jadi seperti ini. Tak usah selalu menyangkutkan kakakku.” Tegas In Ho kesal sambil mengebrak meja
Jadi, menurutmu akulah yang salah di sini? Kenapa? Bukannya kau kembali lagi karena mau bertemu denganku?” balas Yoo Jung, Hong Sul menyuruh keduanya berhenti bertengkar ketika bertemu.
In Ho mengadu kalau Yoo Jung memang seperti itu orangnya dan mencoba melupakanya dengan meminum soju kembali, menurutnya lebih enak lagi apabila kakaknya ikut bergabung. Hong Sul terdiam dengan wajah sedih bergumam kalau In Ha itu adalah kakak dari In Ho dan menurutnya sangat cantik, lalu menatap Yoo Jung dan keduanya saling menatap.
Apa hubungannya dengan Sunbae?gumam Hong Sul penasaran
Terima kasih sudah mau mengirimkan pesan padaku.” Kata Yoo Jung, Hong Sul pun hanya bisa mengangguk dengan sedikit menahan soju yang ingin ditelanya.
Apa dia yang mengajakmu minum duluan?” tanya Yoo Jung, In Ho membenarkan lalu mengeluh Yoo Jung yang selalu curiga padanya. Hong Sul menjelaskan kalau ia sudah berhutang pada In Ho.
Kenapa kau tak pernah memberitahuku?” ucap Yoo Jung, Hong Sul mengingatkan mereka itu kemarin sedang bertengkar.
“jadi Kalian bertengkar? Ahh.... Lucu sekali. Kalian sungguh tidak romantic, seharusnya berkencan itu saling berciuman dan berpelukan. Lebih baik Putus saja! Kalian tidak cocok.” Ejek In Ho, Yoo Jung menyuruh temanya itu diam saja.


"Apa kau mau tahu dia ini seperti apa dulunya? Dia ini playboy karena banyak wanita suka dengan uangnya. Jika kau gabungkan air mata wanita yang diputuskannya, akan jadi Sungai Han. Dia pasti akan memutuskan mereka saat sudah jenuh. Jika dia sudah putus, dia pasti langsung punya pacar baru Dia ini pria yang tak setia sama sekali dan juga pilih-pilih tentang wanita. Dia suka yang modist.” Cerita In Ho mengebu-gebu
Yoo Jung menyuruh In Ho menyudahi ceritanya, In Ho pikir dirinya tak salah. Hong Sul menuangkan soju, dengan menopang kepalanya berkata kalau Yoo Jung itu playboy dan suka wanita cantik, lalu bertanya apakah Yoo Jung itu pernah berpacaran dengan In Ha juga. Keduanya sama-sama menjerit kalau itu tak mungkin.
Hong Sul binggung keduanya terlihat kompak padahal hanya ingin bertanya saja dan mengetahui keduanya sudah berteman sejak kecil. In Ho menegasakan Yoo Jung itu tak pernah pacaran dengan kakaknya, lalu berpikir Hong Sul itu baru pernah pacaran sekarang.
Aku pernah pacaran waktu SMA, Dia sangat tampan. Semua orang iri padaku karena dia sangat tampan.” Cerita Hong Sul yang mulai mabuk, In Ho menebak pasti pria itu anak gereja.
Oh, bagaimana kau bisa tahu? Dia jago main drum” kata Hong Sul bangga 

Kau pasti selalu mengikutinya dan akhirnya malah diputuskan, iyakan?” tebak In Ho, Hong Sul menyangkalnya. In Ho yakin pasti seperti dugaanya, Yoo Jung menegus In Ho yang gampang sekali membuat gossip.
In Ho pikir menyenangkan seperti itu, Yoo Jung menatapnya dengan mata dinginnya, In Ho kembali mengomel karena Yoo Jung menatapnya seperti mengajaknya berkelahi. Yoo Jung menegaskan dirinya tak takut, Hong Sul mengeluh keduanya kembali bertengkar lagi.
Pria yang suka gym sepertimu tak akan menang melawan pria bebas sepertiku. Jika kau mau, kau bias kutendang sampai langit.” Ejek In Ho
Kau sungguh kekanak-kanakan. Lalu, aku harus bilang apa sekarang? Agar otakmu itu bisa mencernanya.” Balas Yoo Jung
Kau bilang apa? Aku ini seorang tutor, kau tahu? Mencerna apanya? Otakku ini sangat hebat” tegas In Ho dengan nada tinggi
Otakmu itu jauh di bawah otakku.” Komentar Yoo Jung sambil menuangkan soju kedalam gelasnya. In Ho semakin kesal, Hong Sul akhirnya mengebar meja menyuruh keduanya diam, lalu berdiri dengan sempoyongan.

Apa kalian ini masih anak SD? Aku berhutang apa memangnya? Yang satu ini orangnya pemarah dan yang satunya selalu minta diteraktir.” Jerit Hong Sul sambil memukul dua pria didepanya.
In Ho melihat si bulu anjing sudah mambuk, Hong Sul tak terima dengan panggilan itu, lalu memberita adalah rambut ikal alami dan sangat tebal. Yoo Jung dan In Ho melonggo melihat Hong Sul sudah mulai mabuk. Yoo Jung melihat Hong Sul kembali minum meminta berhenti lalu menarik bangku agar Hong Sul kembali duduk.
Hanya karena aku diam, kau pikir aku tak penasaran? Banyak hal yang ingin aku ketahui.” Kata Hong Sul, Yoo Jug bertanya apa yang ingin diketahui pacarnya.
Apa...kau pernah pacaran dengan kakak Baek In Ho?” tanya Hong Sul, keduanya kembali bersama mengatakan “Tidak”. Hong Sul mulai cekukan lalu mengucap syukur kalau memang tak pernah dan akhirnya tak sadarkan diri dengan membanting kepalanya dimeja. 

Yoo Jung akhirnya mengendong Hong Sul, sementara In Ho membawa payung dan juga tas sambil mengomel pada Hong Sul tak bisa bangun karena mabuk. Yoo Jung pikir untuk apa In Ho mengikutinya kalau memang terus mengomel. In Ho memberi alasan kalau takut Yoo Jung melakukan sesuatu yang aneh pada Hong Sul lalu memperingatkan Yoo Jung dengan tangan tangan yang mengendong Hong Sul.
Aku ramah padamu karena Seol ada. Jadi, tak usah bercanda lagi dan pulanglah.” Tegas Yoo Jung, In Ho pikir tak akan menurutinya dan kembali berjalan bersamaan.
Oh ya... Apa kau sungguh... tak merasa bersalah padaku?” kata In Ho memulai perbicaran serius.
Bagaimana denganmu?” ucap Yoo Jung balik bertanya, keduanya saling menatap cukup lama. In Ho pun memutuskan tak akan bertanya lagi.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan lemparan botol minum langsung mengenai dahi In Ho, Pria muda, memarahi keduanya yang berani melakukan sesuatu pada kakaknya dan menyuruh agar menurunkannya. In Ho memegang kepalanya yang kesakitan masih binggung.
Kau siapa, brengsek?! Kau siapa hingga berani melemparku botol?” teriak In Ho kesal
Turunkan kakakku cepat!” teriak Hong Joon, adik dari Hong Sul lalu menyuruh kakaknya bangun dan turun dari pundak Yong Jung
Hong Sul sedikit membuka matanya bisa melihat kalau adiknya yang datang. Hong Joon terus saja mengomel kakaknya yang mabuk dan pulang dengan pria. Hong Sul tiba-tiba ingin muntah, ketiganya panik menyuruh Hong Sul untuk menahanya dan membawanya masuk ke dalam rumah. 

Hong Sul terbangun dari tidurnya dan binggung melihat ada sosok pria dikamarnya, Hong Joon bermain games melihat kakaknya yang sudah bangun. Hong Sul berteriak menanyakan kenapa adiknya bisa ada dikamarnya dan kapan datang. Hong Joon memiringkan badanya mengatakan sudah hampir semingguan.
Bagaimana dengan sekolahmu?” ucap Hong Sul
Aku tak mau bersekolah. Ayah sudah berhenti kerja dan ibu sedang membuka toko mie. Bagaimana mungkin aku bias dengan santainya belajar di Amerika?” kata Hong Joon, Hong Sul bertanya apakah ayah dan ibunya sudah tahu.
Seol, ayah yang memberikan memar ini. Dia kejam sekali pada anaknya, jadi Aku akan tinggal di sini sementara.”kata Hong Joon sambil menunjuk memar di pipinya.
Hong Sul menarik bantal guling yang menyanggal kepala adiknya dimeja, kepala Hong Joon langsung terbentur keras. Hong Sul memukul adiknya dengan bantal guling, sambil mengumpat adiknya anak nakal dan egois. Hong Joon membalas kakaknya itu sudah gila. Hong Sul tak terima diejek sudah gila.
Pukulan Hong Sul terhenti ketika ada pesan masuk, dengan kesal adiknya itu bisa beruntung sekarang. Pesan dari Yoo Jung masuk Apa tidurmu nyenyak? Perutmu sudah tak sakit lagi?? Hubungi aku jika kau sudah bangun. Hong Sul mengaruk kepalanya karena tak mengingat kejadian tadi malam.

Diantara mereka, yang mana pacarmu? Si Preman atau si Mahasiswa Keren itu? Mereka berdua tampan, Tapi, semoga bukan si Mahasiswa itu.” Kata adiknya, Hong Sul menanyakan alasan adiknya
“Apa Kau tak ingat? Seol, kau muntah di kepalanya semalam.” Ungkap Hong Joon,
Hong Sul panik dengan menutup wajahnya, Hong Joon bernyanyi dengan mengoda kakaknya kalau ia berbohong dan memberitahu kakaknya muntah didepan pintu dan mengungkapkan itu sangat jorok jadi mungkin saja akan segera diputuskan oleh pacarnya. Hong Sul mengucap syukur karena yang ditakutanya tak terjadi, lalu kembali memukul adiknya karena sudah membuatnya kaget.
Sang adik membela diri kalau hanya bercanda. Hong Sul berguling-guling dikamarnya dengan frustasi berjanji tak akan minum alkohol lagi sekarang. Hong Joon semakin mengejek kakaknya itu tadi malam sangat berantakan didepan pacarnya.


Hong Sul sambil menelp keluar dari tempat kostnya memberitahu adiknya akan menginap ditempatnya beberapa hari jadi tak perlu khawatir. Joo Yong sibuk mengeluarkan barang-barangnya dari tempat kost, menyapa Hong Sul yang akan pergi. Hong Sul menanyakan apa yang sedang dikerjakan Joo Yong.
Joo Yong memberitahu akan pindah, Hong Sul pikir pemilik rumah belum datang. Joo Yong menjelaskan tak bisa menundanya sekarang. Hong Sul ingin tahu alasanya, tapi Joo Yong memohon bantuan agar Hong Sul tak membicarakan Tentang hubungan dirinya dan Yoon Seob. Hong Sul mengatakan Joo Yong tak perlu khawatir dan berjanji tak akan memberitahu siapapun. Joo Yong mengucapkan terimakasih dan meminta maaf apabila selama selalu saja membuat keributan lalu kembali masuk ke dalam untuk mengeluarkan semua barangnya. 

Yoo Jung dan Hong Sul duduk bersama di depan cafe, wajah Hong Sul terlihat tegang, dalam hatinya kembali bergumam Kami bertengkar karena aku tak suka dengan sikapnya dan Soju adalah musuhku. Lalu memulai pembicaran dengan bertanya jam berapa Yoo Jung sampai rumah. Yoo Jung mengatakans udah memikirkanya, Hong Sul menyela meminta agar tak salah paham, seperti takut kalau mereka akan putus
Seol, jangan pernah pergi minum-minuman sendirian lagi. Mengerti?” kata Yoo Jung, Hong Sul langsung mengangguk mengerti.
Apa aku jadi gila kemarin?” tanya Hong Sul terlihat malu
Apa kau sungguh ingin tahu?” goda Yoo Jung, Hong Sul langsung mengelengkan kepalanya. Yoo Jung mengungkapkan sikap Hong Sul kemarin sangat lucu. Hong Sul menceritakan tetangganya itu akan pindah, Yoo Jung menanggapinya dengan wajah datar.
Sunbae.... Maaf, karena aku hanya memikirkan dari sisi Asdos Heo dan marah padamu. Aku tahu kau tak punya niat buruk. Jadi, aku akan mengerti kali ini. Tapi, tolong berjanjilah kau tak akan mengulanginya. Jika memang hal itu berkaitan denganku, tanyakan padaku dulu.” Pinta Hong Sul, Yoo Jung berjanji akan melakukanya.
Hong Sul bisa tersenyum sumringah lalu mengajak Yoo Jung untuk makan dan nonton film setelah ini, Yoo Jung terlihat tak percaya Hong Sul mengajaknya lebih dulu. Hong Sul menceritakan sudah memilih film yang akan ditontonya. Yoo Jung merasa banyak melakukan kesalahan kemarin seperti tak enak hati kalau mereka nonton film hari ini. Hong Sul mengaku sudah memaafkanya kali ini. Yoo Jung tersenyum menatap pacarnya yang sangat baik hati. 

In Ho berjalan dan merasakan ada seseorang yang mengikutinya, lalu menengok kebelakang tak melihat ada yang mencurigakan, akhirnya ia berteriak menyuruhnya keluar karena sudah melihatnya. Sang Keun keluar dari persembunyianya menyapa In Ho.
Bagaimana kau bisa tahu aku di sini? Apa Presdir yang menyuruhmu?” kata In Ho panik, Sang Keun mengelengkan kepala
Aku selalu membantu saat kau berada dalam kesulitan uang Dan begini caramu berterima kasih?” keluh In Ho
Bukan begitu.... Aku ke sini, setelah aku melihat brosur ini.” jelas Sang Keun memperlihatkan gambar In Ho menjadi model untuk les bahasa inggris.
In Ho menyuruh temanya itu membuang saja, Sang Keun menceritaka kalau Presdir sudah tahu jadi In Ho harus cepat kabur. In Ho mengumpat kesal, Sang Keun meminta agar In Ho memberitahu nomor telpnya yang baru. In Ho hanya bisa mengaruk-garukan kepalanya.
Sang Keun mengajak In Ho untuk makan bersama karena sudah lama tak bertemu, In Ho mengumpat temanya itu bisa makan dalam keadaan seperti ini lalu menyuruhnya untuk pulang saja sambil menendangnya. Sang Keun setuju dan menyuruh In Ho segera bersembunyi. In Ho menyuruh Sang Keun cepat pulang saja.
Bagaimana mereka bisa tahu? Apa aku harus pindah lagi? Padahal aku sudah suka dengan tempat ini. Apa aku harus ganti nomor dan pindah rumah lagi? Dan bagaimana dengan Baek In Ha? Kupikir, hidupku bias menjadi tentram sekarang.” Jerit In Ho kebingungan 

In Ha seperti sedang menentramkan dirinya dengan melakukan teknik yoga lalu dengan mata melotot melirik ponselnya dan langsung menelp seseorang. Dengan suara ramah menyapa pria mengungkapkan sengaja menelp karena sedang merindukannya.
Apa kau punya waktu besok? Apa kita bisa bertemu?” ucap In Ha mengoda
Kenapa? Apa uangmu sudah habis? Ataukah stok pacarmu sudah habis?? Tapi, bagaimana ini? Aku ada kencan besok.” Ejek si pria diseberang telp
Dasar sial! Aku hanya merasa bersalah telah memutuskanmu.” Jerit In Ha
Akulah yang harus merasa kasihan padamu.< Aku tahu kau akan jadi miskin begitu. Jika kau sudah putus asa, pacari saja pecundang itu.Jangan hubungi aku lagi.” Balas si pria
In Ha hanya bisa menjerit kesal lalu melihat isi dompetnya hanya tinggal beberapa lembar uang saja. Setelah itu pasti mencoba menelp adiknya walaupun tahu kalu nanti pasti akan dipukul karena meminta uang lagi. In Ho menghela nafas menerima telp dari adiknya lalu memberitahu kalau sudah tak memiliki uang. In Ha tak percaya, In Ho meminta agar kakaknya tak menghubunginya karena ingn bersembunyi dan akan segera menganti nomor telpnya.
Sang kakak binggung berpikir adiknya itu melakukan masalah lagi, In Ho pikir kakaknya tak perlu peduli karena tak mungkin bisa membantunya lalu segera menutup telpnya dan kembali berkerja. 

Yoo Jung mengantar Hong Sul pulang, berkomentar film dan makana yang dipilihkan pacarnya sangat baik. Hong Sul pun mengucap syukur, Yoo Jung bertanya kapan Hong Sul akan pindah dari tempat kostnya. Hong Sul pikir saat kuliah dimulai.
Ya, semuanya akan selesai. Les bahasa Inggris, tinggal di sini dan juga liburan semester ini. Aku jadi sedih rasanya.” Ungkap Hong Sul
Tapi, tidak dengan hubungan kita. Kita akan tetap sering bertemu bahkan jika perkuliahan dimulai.” Kata Yoo Jung,
Hong Sul tersipu malu membenarkanya lalu memberikan sebuah kotak hadiah karena tahu Yoo Jung menyukai jam tangan. Yoo Jung tak percaya Hong Sul bisa memberikan hadiah itu padanya. Hong Sul merasa malu kalau mungkin jam tangan itu tak sesuai dengan seleranya.
Yoo Jung membuka kotak hadiah lalu menatap Hong Sul tanpa bicara apapun. Hong Sul bertanya apakah Yoo Jung menyukainya, saat itu lampu jalan mati dan kembali hidup kembali. Yoo Jung hanya menatap jam tangan pemberian pacarnya. Hong Sul pikir Yoo Jung tak menyukainya. Yoo Jung menatap kembali jam tanganyanya lalu memeluk Hong Sul membisikan kalau sangat menyukainya dan mengucapkan terimakasih. 

Yoo Jung pulang kerumah dengan wajah sumringah, langsung membuka kotak hadiah dan mengeluarkan jam dari kotaknya. Setelah itu melepaskan jam yang dipakainya lalu menganti dengan jam pemberian Hong Sul. Ditatapnya jam tangan yang terlihat biasa tapi pemberian Hong Sul dengan senyuman, lalu menyimpan jam tangan miliknya dilaci. Ia kembali menatap jam tanganya seperti dengan memakain jam tangan dari Hong Sul membuatnya jadi dekat dengan sang pacar.
bersambung ke part 2  

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


3 komentar:

  1. Sweet sweet sweet yg lagi jatuh cinta kkkk Suka deh sama hbungan mereka :)
    Kasian in ho hidupnya kayak gk pernah tenang apa lagi punya kakak yg super nyebelin hahhaha #emosi

    BalasHapus