Kamis, 14 Januari 2016

Sinopsis Remember Episode 9 Part 1

In Ah mendatangi sebuah toko klontong, menanyakan pada kasir apakah ia mengenali pria yang ada di foto. Paman melihat tiga foto yang berbeda, sepertinya tak mengenali pria itu. Pria tambun bermata sipit ke kasir menyelonong membayar makanan karena harus terburu-buru. In Ha melihat tangan dari si pria bertatto kalajengking.
Matanya langsung melotot, teringat ucapan Jin Woo tentang ciri-ciri pelaku “Berdarah Korea-Cina, 30-an! Tato kalajengking di tangan kanannya.” Jin Woo melihat tiga orang dengan foto berbeda, tapi dengan mata yang jeli mengatakan kalau semua adalah orang yang sama, dengan alamat hanya beda blok saja dan langsung bisa tahu Pembunuhnya tinggal di Serimdong.
In Ha mengikuti pria yang keluar dari toko klontong, pergi ke jalan 33 Saerim-ro, lalu menelp Jin Woo memberitahu kalau sudah menemukan pria itu dan ingin mengatakan alamatnya, tapi pria itu sudah menghilang dibelokan. Si pria sudah ada dibelakang In Ha dan langsung memukul kepalanya dengan batu, seketika In Ha langsung terkapar ditanah dan tak sadarkan diri.
Jin Woo yang menerima telp In Ha berteriak karena tak mendengar suaranya lagi, Dibelakang Dong Ho turun dari mobilnya. Dengan kacamata hitam seperti mencari-cari seseorang, In Ha masih dibiarkan saja tertungkup ditangan oleh si pelaku. 

Dong Ho berjalan di jalan yang bersebelahan dengan Jin Woo berdiri, sementara Jin Woo mengingat seluruh jalan yang pernah dilaluinya, mulai dari 18 Saerim-ro, Hangang-gu, Seoul sampai terakhir bertemu dengan pria itu berpapasan ketika ingin kerumah saksi.
Jika kau tak sibuk, aku mau meneraktirmu makan malam. Kutunggu di Gombo Restaurant. Depan tukang jam itu, kita akan pesta.
Jin Woo ingat dengan ucapan pelaku yang berbicara di telp, dalam kelapanya seperti membuat sebuah peta alamat yang berbeda-beda oleh si pelaku. Jin Woo langsung berlari bisa menemukan restoran dan ada toko jam didepanya. Dong Ho tetap berjalan disamping jalan yang dilalui Jin Woo. 

In Ha masih tak sadarkan diri, ponselnya bergetar Jin Woo berusaha terus menelpnya. Pelaku dengan sengaja merejectnya, In Ha tersadar, menegakan tubuhnya, wajahnya pucat dan bergetar melihat si pelaku mendekatinya.
Apa kau pikir bias bebas selamanya?  Siapa yang menyuruhmu? Siapa yang memintamu untuk menjebak Seo Jin Woo?” teriak In Ha,
Si pelaku mengeluarkan benang dari jamnya dan menjerat leher In Ha, Di depan toko jam Dong Ho baru datang memeriksa pintu terkunci. Pelahan mundur dan langsung memecahkan kaca jendela dengan alat pemadam kebakaran. Jin Woo terus berlari sambil menelp In Ha.  

Si pelaku melepaskan talinya dan melihat Dong Ho masuk ke dalam tokonya, lalu bertanya siapa yang berani datang ke tempatnya. Dong Ho melepaskan kaca matanya, lalu bertanya apakah Seok Joo yang memerintahkanya dan menyuruh untuk melepaskan wanita itu karena In Ha tak ada hubungan dengan masalah ini.
Pria itu tak peduli, berpikir Dong Ho ingin mati juga lalu memberikan pukulanya, Dong Ho bisa menangkis lalu membanting kepalanya di lemari, setelah itu memelintir tanganya diatas meja. Jin Woo masuk langsung menghampiri In Ha yang tak sadarkan diri. Ia berusaha menyadarkan In Ha, Dong Ho bisa melihat In Ha yang perlahan-lahan membuka matanya. In Ha melihat Jin Woo datang menyelamatnya. 

Kantor polisi
Si pelaku berada di dalam sel, Joo Il datang dengan suara berbisik memerintahkan hanya perlu menutup mulutnya dan ia yang akan mengurus semuanya jadi tinggal menunggu saja. Deketif Gwan melirik keduanya, dengan sinis menyuruh untuk Cepat mengurus masalah lalu mengumpat Joo Il  gangster bodoh. Joo Il sempat melirik tapi memilih untuk menahan amarahnya. 

Depan kantor Polisi
Pengacara Song bahagia melihat Jin Woo keluar dengan selamat, karena selama ini sangat mengkhawatirkanya. Jin Woo menatap In Ha didepanya, menanyakan keadaanya. In Ha mengatakan baik-baik saja dengan senyuman dan bertanya balik. Jin Woo mengatakan keadaanya baik-baik saja.
Manager Yoon berkomentar Jin Woo sedang syuting film action tadi, Pengacara Song pikir tak sehebat itu. Jin Woo memilih tak membahasnya, dengan senyuman mengajak semuanya untuk pulang.
Di dalam mobil, Sek Ahn menelp Gyu Man memberitahu Jin Woo sudah bebas, kalau Jaksa In Ah telah menangkap pelaku yang sebenarnya. Gyun Man tak percaya kalau In Ha itu ikut campur lagi dalam masalahnya. 

Tiba-tiba mobil menyalip didepan Gyu Man membuatnya harus sedikit menginjak rem, tertulis kalau sedang belajar dan mengunakan lampu hazard. Sek Ah melaporkan Seo Jin Woo juga terbebas dari daftar buronan sekarang. Gyu Man tak ingin mendengar lagi memilih untuk melempar hands freenya, lalu sengaja menyalip dan memberhentikan mobil didepan mobil merah yang tadi  menyalipnya.
Aku bingung, kenapa tak ada orang yang bisa dengan becus bekerja? Aku sungguh tak mengerti. Ini Menyebalkan sekali!!!!” ucap Gyu Man dingin, keluar dari mobil memakai sarung tangan dan mengeluarkan stick golf dari bagasinya.
Wanita yang ada didalam mobil, melotot dengan wajah ketakutan. Gyu Man melambaikan tangan dengan senyuman pembunuh berdarah dingin, lalu menaik ke atas kap mobil dan melonggokan wajahnya didepan kaca depan.
Ahjumma.... Apa kau bisa seenaknya hanya karena kau pemula? Kau telah salah memilih teman bermain. Mood-ku sedang jelek hari ini. Jangan keluar, oke? Kau bisa terluka nantinya.” Ucap Gyu Man
Setelah itu Gyu Man melampiaskan amarahnya, memukul kaca depan dengan stick golf, terdengar jeritan wanita tua didalam mobil. Gyu Man langsung melempar stick golf dan berteriak penuh amarah, lalu turun dengan tertawa bahagia karena sudah melampiaskan amarahnya. Dengan santai menelp Dong Ho, melaporkan kalau ia membuat masalah lagi jadi meminta agar cepat mengurusnya. 

Joo Il masuk keruangan dengan wajah penuh amarah, memarahi Dong Ho yang harus bertindak sejauh itu dan tak tahu alasan dirinya setuju melakukan perintah dari Gyu Man,
Aku tak ingin lagi... kau membunuh demi mereka.” Tegas Dong Ho, Joo Il berteriak kesal, Dong Ho pun berdiri dengan memukul meja.
Kenapa...kau harus mengotori tanganmu itu demi perintah orang lain? Apa kau tak bisa hidup sebagai manusia mulai dari sekarang?” ucap Dong Ho menyadarkan Joo Il sudah mulai kelewatan
Dengarkan aku baik-baik. Aku... tak pernah membuat keputusan yang akan aku sesali nantinya Bahkan jika aku harus membunuh seseorang, akan kupastikan bahwa keputusan itu adalah benar.” Tegas Joo Il, Dong Ho memohon kakaknya sudah berlebihan.

Apa kau tahu... ada lebih dari 150 mulut yang harus aku berikan makan? Putuskanlah. Apa kau akan terus melindungi Jin Woo, ataukan hidup di bawah naungan keluarga Nam bersamaku?” ucap Joo il lalu berjala keluar ruangan.
Langkahnya terhenti, mengucapkan harapannya agar mereka bisa berjalan  di jalan yang sama lalu membalikan badanya. Dong Ho menatap Joo Il dengan wajah sedih, karena harus melakukan sesuatu yang kotor hanya demi perintah orang dan uang. 


Jin Woo berjalan masuk ke dalam kantornya, membahas tentang In Ah yang berani mengejar si pelaku sendirian. In Ha pikir sudah Tak ada pilihan lain kaena harus menangkapnya dan membersihkan nama Jin Woo sebagai pelakunya. Jin Woo meminta agar In Ah tak melakukan lagi. In Ah menganguk mengerti.
Seorang wanita keluar dari kantor Jin Woo dengan wajah tertunduk. Jin Woo dan In Ah seperti tak mengenal siapa wanita yang datang. 

Jin Woo duduk bersama si wanita dan In Ah menanyakan tujuannya datang ke kantornya. Si wanita sudah mendengar bahwa pembunuh sebenarnya sudah tertangkap lalu mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menaruh diatas meja.
Ibuku bilang, jika terjadi sesuatu... Aku harus memberitahu dunia... tentang video ini. Tapi, sepertinya, kau yang pantas menyebarkannya. Aku tahu ini sudah terlambat, tapi aku harap ayahmu bisa dibuktikan tak bersalah dan dibebaskan. Aku minta maaf... atas nama ibuku. Aku sungguh minta maaf.”kata si anak dari Nyonya Kim, Jin Woo menatapnya seperti mengerti perasaan anaknya.

Dong Ho turun dari mobil melihat seorang wanita yang sedang menelp dengan kaca depanya yang retak, tanganya langsung menurunkan telpnya lalu memberikan amplop berisi uang yang sangat tebal.
Jadi, aku mohon kejadian ini tak akan tersebar di dunia maya. Mohon kerja samanya.” Ucap Dong Ho, Si wanita melihat isi amplop, Dong Ho membuka pintua lalu menyuruh si wanita itu untuk pulang saja.
Masalah macam apa lagi ini?” keluh Dong Ho dengan helaan nafas. 

Jin Woo dan In Ah menonton Video rekaman Nyonya Kim.
Aku adalah... Kim Hyun Ok. 4 tahun yang lalu, dalam siding pembunuhan mahasiswi Seochon, aku telah memberikan kesaksian palsu. Aku tak pernah melihat Seo Jae Hyuk, menyembunyikan sesuatu di ruang pegawai” ucap Nyonya Kim dengan menahan tangisnya
Jin Woo menatap video tak percaya, disampingnya masih tersimpan foto dengan ayahnya.
“Pada tanggal 2 Desember.... Hari itu, Seo Jae Hyuk bahkan tak masuk bekerja. Yang telah aku katakan ini adalah kebenarannya.Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf” kata Nyonya Kim sambil menangis
Hakim Kang ikut menonton video pengakuan Nyonya Kim sebagai bukti, dengan memikirkan dua pilihan cap didepanya, lalu memilih cap yang bertuliskan Persidangan Ulang Diterima

Berita di SBC disiarakan
Persidangan ulang atas pembunuhan mahasiswa Seochon pada November 2011 telah diterima. Alasan pengadilan menyetujuinya adalah karena saksi mengakui kebohongannya selama persidangan.
Gyu Man masuk kedalam ruangan melihat ayahnya sedang menonton TV, Jin Woo sedang ditanyai wartawan saat keluar pengadilan, tentang perasaan setalah Kasus pembunuhan mahasiswi Seochon telah dibuka kembali.
Orang yang tak bersalah sekarang berada dalam penjara. Kasus ini bermula karena ada seseorang yang telah memainkan hukum. Kami tak hanya membela klien kami, tapi untuk keadilan Negara dan tak akan pernah menyerah.” Tegas Jin Woo,
Terdakwa adalah ayah anda. Apa anda memiliki rencana khusus?” tanya wartawan
Seperti biasa, kami akan mencoba yang terbaik untuk membebaskan klien kami. Tak ada rencana lain hanya karena dia adalah ayah saya. Ketidakbersalahan terdakwa dan kebenarannya akan terungkap.” Tegas Jin Woo dengan menatap ke kamera.

Tuan Nam langsung mematikan TV dengan wajah sinis, Gyu Man langsung berlutut didepan ayahnya, mengatakan akan mengurusnya, dengan yakin pasti akan menang dalam persidangan. Tuan Nam sangat marah menatap anaknya lalu pergi keruangan kerjanya, akan mengambil tongkat. Gyu Man kembali mengikutinya dan berlutut, memohon agar memberikan kesemapatan.
Sampai kapan aku harus membersihkan masalahmu itu? Sampai kapan?” teriak Tuan Nam
Aku pasti tak akan mengecewakan ayah.” Janji Gyu Man
Jika kau tak mau bernasib seperti ibumu, menangkan kasus ini. Apabila nama ayah tercemar karena masalah bodoh ini, Aku tak akan memaafkanmu.” Tegas Tuan Nam mengancam, Gyu Man mengerti berjanji pasti memenangkannya.

In Ah memeriksa berkas kasus Nyonya Kim dengan melihat hasil otopsi, Jaksa Hong masuk kedalam ruangan, buru-buru In Ah langsung menutup berkasnya. Jaksa Hong marah merasa In Ah pikir dirinya bercanda. In Ah hanya bisa tertunduk.
Aku sudah menugaskanmu kasus lain, kenapa kau menyelidiki kasus Saerim-dong?” ucap Jaksa Hong marah
Aku menyelidikinya, karena kasus ini juga terkait dengan Jungsan-dong.” Jelas In Ah
Apa kau tahu aturan tentang bekerja dengan polisi? [Jaksa harus menuruti perintah Kepala Jaksa.] “ sindir Jaksa Hong
Sebagai jaksa, aku tak bisa diam saja....” tegas In Ah membela diri
Jaksa Hong menyela kalau In Ah itu harus menaati aturan jadi harus mengingatnya. Lalu memperingatikan kalau sekarang masih dimaafkan, tapi kalau terulang lagi maka tak akan tinggal diam. In Ah sebagai bawahan hanya bisa tertunduk diam mengerti dengan perintah atasanya. Jaksa Hong pun keluar ruangan. 

Ponsel In Ah bergetar, Polisi sengaja menjauh berbicara dengan In Ah melaporkan ada yang ingin cepat menutup kasus Jungsan-dong. In Ha terlihat kaget, Polisi menjelaskan Surat perintahnya sedang dalam proses. Disisi lain Detektif Gwan melirik polisi yang sedang menelp. In Ah menutup telp dan mengumpat Detektif Gwan itu memang sangat licik. 

Di ruangan kerjanya, Tuan Nam terdiam memikirkan masalah anaknya lalu mengambil ponselnya. Jaksa Hong mengungkapkan sudah menunggu teleponnya. Tuan Na meminta agar dipilihkan "anak kudanya". Jaksa Hong mengerti memberitahu seseorang penerima beasiswa Il Ho Grup dan pasti Tuan Nam akan menyukainya.

Pengacara Song pergi ke Penjara Hongseong, melihat sesuatu seperti mau syuting drama, memberitahu Jin Woo kalau si tua yang duduk di kursi roda adalah Ketua hosan Group. Beberapa wartawan langsung mengerubiti pria yang menutup wajahnya dengan masker dan terlihat sakit dengan duduk dikursi roda.
Dia adalah pelaku korupsi $30 juta dan hanya dipenjara selama 5 tahun. Dia bisa mendapat 5 tahun penjara bukan 10, karena uangnya juga, dia bias dibebaskan 5 bulan lebih awal, Selain Dia juga berpura-pura menderita penyakit Parkinson. Pria itu memang aktor yang hebat.” Ucap Pengacara Song dengan penuh amarah. Jin Woo tak banyak komentar milih untuk masuk ke dalam penjara.

Tuan Seo berjalan perlahan keruang pertemuan, Jin Woo tersenyum melihat ayahnya tapi kaki ayahnya seperti diseret ketika berjalan. Tuan Seo duduk dengan wajah tertunduk. Jin Woo dengan senyuman memberitahu Pengadilan ulang telah diterima dan kasusnya  akan dibuka kembali. Tuan Seo mengatakan  tak mau melakukannya. Jin Woo terlihat sedih
Aku... Pria itu, dia memberitahuku bahwa aku telah membunuh seseorang.” Ucap Tuan Seo mengingat ucapan Gyu Man saat datang mengunjunginya Kau pasti merasa beruntung bisa melupakan kejahatanmu, 'kan?
Dia yang membunuhnya, Pria yang mengatakan itu pada anda.” Kata Jin Woo sudah tahu pasti Gyu Man yang menyudutkan ayahnya. Tuan Seo seperti masih tak percaya
Anda tidaklah bersalah. Jadi, jangan khawatir Dan terimalah persidangan ini.” tegas Jin Woo meyakinkan
Apakah... aku... tidak membunuhnya?” tanya Tuan Seo masih tak percaya dan menahan rasa sakit dibagian perutnya.
Tidak… Aku telah menunggu hari ini selama 4 tahun. Jadi, percayalah.” Jelas Jin Woo, Tuan Seo berani menatap Jin Woo, mengucapakan berterimakasih pada pengacaranya sambil menahan sakit. Jin Woo melihat ayahnya menahan rasa sakit. 

Jin Woo masuk ke dalam ruang dokter penjara, memberitahu Tuan Seo tak mengenali anaknya dan Penyakit Alzheimer-nya semakin parah. Dokter merasa tak peduli menanyakan maksud Jin Woo datang keruanganya. Jin Woo mengeluarkan selembar kertas, Dokter menyindir Jin Woo mendapatkan surat itu dari mana.
Hasil ini menunjukkan bahwa dia menderita sakit perut parah. Jika penundaan eksekusi tidak bisa, setidaknya dia harus menerima perawatan.” Jelas Jin Woo
Apa kau memintaku memberikan perlakukan khusus pada ayahmu? Hanya karena sakit perut Pada tahanan hukuman mati?” sindir Dokter
Aku mengajukan permohonan ini bukan sebagai anaknya tapi pengacaranya. Aku tak meminta perlakuan khusus. Tapi, ini adalah aturan untuk tahanan.” Tegas Jin Woo
Lalu, bagaimana dengan tahanan yang baru saja anda bebaskan itu? Orang yang hanya berpura-pura sakit, sementara orang yang sungguhan sakit tak menerima pengobatan. Apa ini adil?” teriak pengacara Song menyindir dokter.
Si Dokter berdiri mengejek keduanya itu bukan dokter, karena tahan tadi memang sakit dan dibebaskan serta keputusannya bukan darinya tapi dari Jaksa. Pengacara Song ingin melawan, Jin Woo menahanya dengan tatapan kesal melihat Dokter yang sangat licik memperlakukan ayahnya. 

In Ah masuk ke kantor polisi menemui Detektif Gwan,  menanyakan alasan mereka yang sudah ingin menutup kasus Jungsan-dong, padahal Pembunuhnya sudah tertangkap dan buktinya juga sudah jelas.
Inilah prosedurnya... Memangnya apa yang salah, Jaksa?” kata Detektif Gwan
Dia adalah pembunuh bayaran, Pasti ada yang memerintahkannya.” Tegas In Ah ingin polisi menyelidiki lebih dalam.
Sepertinya anda salah tempat... Mengeluhlah pada atasan anda, bukan aku. Bukannya jaksa yang memiliki wewenang dalam penyelidikan ini? Aku hanya mengikuti perintah Kepala Jaksa.” Tegas Detektif Gwan, In Ah bisa tahu ternyata semua itu perintah Kepala Jaksa Hong Moo Suk

Di ruang rahasia, Jin Woo memberikan dokumen yang menunjukkan aliansi antara Il Ho dan Hong Moo Suk. In Ah melihat berkas dari tahun 2013 tentang  Keputusan Penutupan Kasus seperti masih tak percaya Hong Moo Suk menutup semua kasus itu. Jin Woo menjelaskan selama ini Jaksa Hong yang membantu kasus Il Ho Grup. In Ah melihat semua berkas tak percaya jadi selama ini kasus Il Ho tak bisa didalami karena campur tangan Jaksa Hong. 

Malam hari, Tuan Seo merintih kesakitan diruang dokter penjara, Dokter datang dengan membawa majalah dan duduk dengan santai. Tuan Seo meminta tolong karena perutnya terasa sangat sakit sekali, Dokter memanggil Tuan Seo dengan panggilan Tahanan 3729, meminta agar berhentilah berpura-pura.
Tuan Seo berkaca-kaca, mengatakan kalau ia benar-benar sakit, jadi meminta obat. Dokter menyuruh perawatnya untuk memberika obat penghilang rasa sakit setelah itu membawanya keluar. Perawat menaruh obat ditanganya, Tuan Seo masih merintih kesakitan memohon untuk memeriksanya, Dokter melepaskan tangan Tuan Seo dan menyuruh penjaga untuk membawanya. 

Setelah itu dengan senyuman licik dan berbicara di telp dengan tawa bahagia. Sek Ahn menerima telp dari Dokter penjara, melaporkan pada Gyu Man bahwa Dokter tak memberikan obat yang memperlambat penyakit Alzheimer-nya. Gyu Man pikir Tuan Seo bahkan tak ingat untuk minum obat. Sek Ahn menganguk setuju.
Syukurlah dia mengidap Alzheimer. Bahkan lebih menyenangkan jika dia mengidap hyperthymesia. Bukannya begitu?” ungkap Gyu Man kejam, Sek Ahn berusaha setuju walaupun terlihat gugup.
Mau bagaimana lagi? Dia adalah orang miskin.” Ejek Gyu Man sombong, Sek Ahn melirik mata Gyu Man yang benar-benar tak punya hati manusia. 

Dong Ho melamun dalam ruangan, Gyu Man datang memberikan tepuk tangan karena pengacaranya itu membuat masalahnya langsung selesai. Dong Ho berdiri mengungkapan bukan masalah besar yang tadi diselesaikanya. Gyu Man menyindir Dong Ho tak bisa sehebat itu dalam mengurus kasus Jungsan-dong, padahal ia  sudah berusaha sangat keras untuk menghancurkan Seo Jin Woo.
Aku sedikit sensitif belakangan ini karena pengajuan sidang Seo Jin Woo. Pengacara Park Dong Ho, jadilah anjing yang baik, dan tangkap mangsaku cepat. Aku... bisa membunuh anjing yang tak berguna. Kau harus ingat itu.” Tegas Gyu Man memberikan ancaman dengan menepuk pundak Dong Ho, setelah itu kelur ruangan. 

Jaksa Tak datang  ke restoran dengan seseorang, lalu melihat Dong Ho sedang makan sendirian lalu memilih untuk bergabung. Dong Ho menuangkan soju, pada pria tua yang sudah mengetahui kalau ia adalah teman sekampung Jaksa Tak. Pria itu mencaritakan bukan seperti itu tapi ada alasan dirinya jadi teman sekampung Jaksa Tak. Jaksa Tak yang mendengar ocehan temanya, memberitahu kalau temanya itu sudah mulai mabuk.
Aku, Bae Joong Sik, adalah detektif terhebat di Seoul dan hanya aku ditugaskan ke kampung itu saja, lalu Aku bertemu dia di sana.” Cerita Detektif Bae
Dia memang cerewet saat mabuk. Jangan pedulikan dia.” Jelas Jaksa Tak, Dong Ho melihat Detektif Bae itu sangat kesal
Hidupku pasti akan damai jika bukan karena kasus kecelakaan lalu lintas itu,” kata Detektif Bae, Dong Ho menanyakan kasus apa yang membuatnya dipindahtugaskan
Kecelakaan biasa saja, Tapi, dia terlalu dalam menggalinya. Menurutku, aku tak yakin karena itu alasan penugasannya.” Jelas Jaksa Tak
Kau ini! Sudah berapa kali aku bilang, itu bukanlah kecelakaan biasa. Apa kau pernah melihat  pria mabuk mengantar anaknya?” teriak Detektif Bae, Dong Ho menatap Detektif Bae dengan wajah penuh arti. 

Flash Back
Dong Ho remaja berdiri dikantor polisi yakin Ayahnya tidak mabuk. Detektif yakin Tuan Park itu pasti mabuk, karena itu kabur dari tes kesadaran jadi membuat berkendara ugal-ugalan.
Apa kau pernah melihat pria mabuk mengantar anaknya? Pak Polisi, ayahku bahkan tak minum setetes soju. Bagaimana mungkin dia mabuk?” ucap Dong Ho memohon.
Sudahlah. Kasus ini telah tutup.” Kata Detektif melepaskan tanganya. 

Pengadilan Seoul, Tuan Nam dan Gyu Man berjalan masuk ke dalam, Jaksa Hong dan beberapa pegawai lain menyambutnya. In Ha melihat Tuan Nam dan Jaksa Hong berjabat tangan, Tuan Nam pun berjabat tangan dengan seorang wanita yang berdiri disamping Jaksa Hong.
Setelah selesai bertemu, Gyu Man memberitahu ayahnya dengan Jaksa Hong akan pergi minum bersama, dengan gaya merayu melihat wanita didepanya itu akan melindungi dengan sepenuh jiwa dan raga, jadi menurutnya harus menyuruh wanita itu. Wanita itu setuju dan akan memilihkan tempat yang enak. Gyu Man setuju karena Tim pendukung juga ada di sana.

Dong Ho masuk ke dalam ruang pertemuan, Gyu Man memperkenalkan wanita didepanya bernama Jaksa Chae dan sebaliknya, memperkenalkan Pengacara Park yang akan membelanya. Pengacara Park langsung duduk disamping Jaksa Chae,walaupun dengan wajah tak suka. Gyu Man binggung melihat keduanya tak mau saling menyapa. Jaksa Chae menceritakn mereka sudah berteman sejak  pelatihan.
Baguslah... Sebentar lagi sidang akan dimulai. Kau akan membantu, Jaksa Chae, 'kan?” ucap Gyu Man sambil menuangkan soju ke gelas Dong Ho
Aku mungkin tak bisa membantu banyak.” Kata Dong Ho dingin,
Apa maksudmu? Peranmu sangat penting dalam sidang pertama itu. Peran pentingmu itu akan terulang, 'kan?” sindir Gyu Man
Kita tak akan tahu, takdir apa yang akan mendatangi kita.” Tegas Dong Ho, jaksa Chae melirik sinis, Gyu Man seperti tak peduli dan meminum sojunya. 

Gyu Man pulang lebih dulu setelah makan, Dong Ho berkomentar hidup itu sangat dramatis, menurutnya kelas Chae itu dulu atas kelasnya saat pelatihan dan nama panggilanya itu Dike sebagai simbol keadilan dan bermimpi menjadi jaksa paling adil di Korea, menurutnya hidup memang merubah seseorang yaitu dirinya dan juga Jaksa Chae.
Jangan anggap aku sampah hanya karena pertemuan ini. Kau percaya keadilan bisa dibeli dengan uang. Bukannya begitu? Apa sekarang kau menjualnya lagi? Kau masih tak berubah, Sementara aku tak serendah kau.” Tegas Jaksa Chae membela diri
Tapi, kau membantu Keluarga Nam, jadi Kau sama saja denganku.” Balas Dong Ho
Tapi, aku tak akan mengubah arahku di pengadilan sepertimu dulu.” Ucap Jaksa Chae lalu meninggalkannya, Dong Ho melihat jaksa Chae memang tak pernah berubah.
bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar