PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 16 Juni 2019

Sinopsis Perfume Episode 7

PS : All images credit and content copyright : KBS

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Sek Park teringat dengan Min Ye Rin si Wanita Jatuh, lalu melihatnya berlari ke dalam toilet dan berteriak mengajaknya bicara. Tapi Ye Rin bergegas masuk, Sek Park pikir Ye Rin tak mendengarnya.  Ia pun tak melihat Ye Rin keluar dari toilet.
Akhirnya Sek Park melihat rekaman CCTV saat di depan toilet, melihat Ye Rin yang masih dan tak keluar dari toilet. Ia malah melihat seorang ahjumma dengan tubuh tambun yang keluar lalu bergegas pergi. Ia merasa sudah menduganya.
“Setelah Ye Rin masuk,  satu-satunya orang yang keluar dari kamar kecil adalah pesuruh... Min Jae Hee. Min Ye Rin... Apa Doppelganger? Mereka ada Dua...” ucap Sek Park panik karena wajah Ye Rin sama dengan Jae Hee saat masih
“Astaga, entahlah. Alih-alih melakukan ini, aku akan langsung mengonfrontasi Ye Rin... Empat mata!” kata Sek Park mengebu-gebu.
Ye Rin yang sedang berubah menjadi Jae Hee mengendong Yi Do seperti pasangan beauty and the beast. Wajah Jae Hee terlihat sangat bahagia, sampai akhirnya Sek Park datang berteriak “Siapa kau? Apa sebenarnya kau?” dengan wajah ketakutan. Jae Hee pank melihat Sek Park yang datang.
“Letakkan dia sekarang... Aku akan menelepon polisi.” Kata Sek Park mengancam. Jae Hee memohon agar jangan melakukan.
“Aku akan memberitahumu segalanya.” Ucap Jae Hee pasrah tentang perubahan dirinya. 


Akhirnya mereka bertemu diatap gedung, Sek Park menatap sinis pada Jae Hee mengaku sudah melakukan banyak riset untuk tahu apa yang terjadi Jadi memperingatkan jangan coba-coba kabur dari masalah ini. Akhirnya Jae Hee mengaku kalau dirinya adalah Min Ye Rin.
“Tapi bagaimana itu masuk akal?” ucap Sek Park bingung. Jae Hee mengaku  Memang tidak masuk akal.
“Aku juga sulit mempercayainya. Entah bagaimana itu terjadi. Dan Ini kunci dari rahasiaku.” Ucap Jae Hee memperlihatkan parfum ditanganya.
Akhirnya Jae Hee mengoleskan parfum pada urat nadinya, Sek Park memperhatikan tanpa berkedip, saat itu juga awan berubah menjadi hitam dan petir menyambar. Sek Park panik dan ketakutan, langsung memohon maaf merasa membuat kesalahan, Sek Park bingggung bertanya Apa yang terjadi.
“Ini aku... Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Aku kebetulan memakai parfum ini yang kebetulan menjadi milikku, dan aku kembali ke penampilan lamaku.” Ucap Ye Jin akhirnya berubah. Sek Park tak percaya.
“Dengar. Kumohon... Tolong rahasiakan ini... Ini keajaiban terakhir untuk jiwa malang yang hidupnya terjebak dalam keburukan ini.” Kata Ye Rin berlutut memohon.
“Ini tidak masuk akal..” kata Sek Park dan akhirnya langit kembali cerah. 


Sementara Yi Do sedang terbaring dikamarnya, seperti mengingau berkata “Ayo mendekat... Ayo mendekat.” Sek Park  mengaku tidak tahu apakah ini keajaiban, sihir, atau sulap. Tapi bagaimanapun, Ia menegaskan tidak bisa membiarkan Ye Rin tinggal di sini lagi jadi menyuruhnya agar keluar sekarang.
“Tolong abaikan ini sekali saja. Kumohon... Tidak. Kumohon... Tolong tunggu satu tahun saja... Aku tidak akan melukai siapa pun... Tolong aku ingin menjadi model saja.” Kata Ye Rin memohon.
“Tapi itu tidak masuk akal... Dengar, aku akan menutup mataku dan berpura-pura tidak melihat apa pun, jadi, bawa ini dan pergi sekarang!” ucap Sek Park melempar parfum begitu saja.
“Celaka... Parfumku yang berharga... Dasar pembunuh.” Ucap Ye Rin menatap sinis.
“Maaf. Aku tidak bermaksud..... Tunggu. Tapi tetap saja... Apa maksudmu "pembunuh"?” kata Sek Park binggung.
“Begitu parfum ini habis, aku akan mati... Kau baru saja mengurangi separuh sisa waktuku, dasar pembunuh berdarah dingin.” Kata Ye Rin marah
“Apa? Kau akan mati begitu parfumnya habis? Apa kau serius?” ucap Sek Park panik.
“Aku ingin menjalani kehidupan manusiawi yang kudambakan. Apa itu salah? Apa yang telah kulakukan padamu sampai kau sekejam ini terhadapku? Sekarang, sisa waktuku tinggal setengah tahun lagi.” Ucap Ye Rin sambil menangis.
“Maaf... Aku... Aku tidak tahu... Aku tidak akan melakukannya jika tahu.” Ucap Sek Park merasa bersalah.
“Jika kau punya hati nurani sedikit saja, kau akan membantuku membalaskan dendamku sebelum aku mati, kan? Jika aku mati seperti ini,maka aku akan menjadi roh jahat dan menghantuimu selamanya. Aku akan mengutukmu.” Ucap Ye Rin mengancam.
“Baik! Kau lebih baik Mundur! Jangan mendekat! Aku akan merahasiakannya.” Ucap Sek Park ketakutan melihat Ye Rin yang mendekat.
“Baik. Tapi aku ingin kau menjanjikan sesuatu kepadaku.” Kata Sek Park
Ye Rin melihat Yi Do yang masih tertidur, teringat yang dikatakan Sek Park tentang Yi Do “Dia mengalami hidup yang menyedihkan. Dia mungkin sudah dewasa, tapi dia seperti anak kecil yang terluka.”
“Jangan biarkan dia tahu bahwa kamu akan segera meninggal. Serta, tolong pergi sebelum kau meninggal. Menghilanglah tanpa jejak dari hidupnya.” Perintah Sek Park
Ye Rin baru selesai mengelap wajah Yi Do yang berkeringat lalu menyuruh agar Bangun dan ganti pakaiannya. Tapi Yi Do masih tak bergeming, Ye Rin akhirnya membuka kancing baju Yi Do untuk menganti bajunya. Ia melihat bagian abs Yi Do yang bagus.
“Aku pikir dia memang lemah, tapi dia lebih bugar daripada kelihatannya.”komentar Ye Rin dan tiba-tiba Yi Do membuka matanya.
“Dasar setan. Apa yang hendak kau lakukan? Apa kau dipenuhi dengan nafsu jasmani lagi?” teriak Yi Do mendorong Ye Rin.
“Tidak... Pakaianmu basah, jadi, aku hendak mengganti...” ucap Ye Rin kesal
“Enyah. Jika kau menyentuhku lagi, maka aku akan membuatmu menyesalinya.”ucap Yi Do
“ Sekalipun aku haus nafsu, aku tidak menginginkan pria yang sakit... Ganti piamamu. Lagi pula itu tidak akan rusak jika aku melihatnya. Jadi Tidak usah panik.” ucap Ye Rin kesal lalu keluar kamar.
“Dari mana dan bagaimana dia kerasukan arwah vulgar itu?”keluh Yi Do marah 

Ye Rin baru saja menjemur baju, terdengar bunyi alarm lalu berlari masuk ke dalam kamar bertanya Apa merasa sakit lagi. Yi Do mengaku kedinginan. Akhirnya Ye Rin terpaksa memasangkan plester agar tak kedinginan dipunggung Yi  Do sambil menepuknya kencang. Yi Do pun terasa senang. 

Ye Rin baru saja memasang masker, terdengar suara alarm lagi, lalu mengeluh karena Alarm itu ada di mana-mana. Ia bersumpah akan mengurung orang menyebalkan itu dalam rumah sakit jiwa terbengkalai sebelum mati.
“Tolong selamatkan aku... Aku demam. Seluruh tubuhku terasa seperti meleleh.” Ucap Yi Do dengan wajah yang memerah karena demam.
Ye Rin akhirnya membawa Yi Do ke kamar mandi membersihkan hidungnya, sambil mengejek itu menjijikan. Yi Do mengelak kalau tidak pernah ingusan. Ye Rin menyuruh diam dan memastikan dahi kalau demam Yi Do sudah turun.
“Semua ini salahmu... Salahmulah pria dewasa sepertiku tidak bisa menjaga kesehatanku sebelum acara besar. Salahmu jugalah bahwa seseorang secermat aku minum alkohol secara berlebihan di balkon yang dingin. Semua ini karena kau membuka kotak Pandora yang terkunci itu.” Ucap Yi Do menyalahkan Yi Do
“Apa Kau tahu itu? Kau roh jahat yang penuh dengan dosa.” Tegas Yi Do sinis
“Pandora atau bukan, bangunlah sebelum aku menjerumuskanmu ke akhirat.” Kata Ye Rin tak mengubris ucapan Yi Do . 


Ye Rin akhirnya akan tidur, tapi bunyi alarm kembali terdengar. Ia menjerit kesal sambil memukul udara diatasnya. Yi Do sedang berbaring mengaku tidak bisa tidur, tapi matanya sakit jadi menyuruh Ye Rin agar membacakan sesuatu untukknya.
“Baca dari jilid dua, halaman satu.” Perintah Yi Do, Ye Rin minta bayaran dengan Biayanya 50 dolar per jam.
“Tidak ada diskon. Bayar secara tunai.” Tegas Ye Rin. Yi Do menyetujuinya menyuruh Yi Do agar membaca dengan jelas.
"Love in the Time of Cholera, Jilid Dua. Hari ketika Florentine Ariza melihat Fermina Daza di dalam atrium Katedral, pada kehamilannya yang berusia enam bulan, dan sepenuhnya mampu menghadapi kondisi barunya sebagai wanita di dunia ini, dia membuat keputusan tegas untuk meraih popularitas dan kekayaan agar layak mendapatkannya." Ucap Ye Rin
“Kurasa Fermina adalah mantan pacar Florentine? Kurasa mantan pacarnya menikahi pria kaya.” Komentar Ye Rin
“Dia bukan mantan pacarnya, tapi cinta pertamanya.” Tegas Yi Do lalu membayangkan cerita yang dibacakan Ye Rin. 
Yi Do terlihat sangat charming, menatap seseorang lalu meninggalkan buku gambarnya.
Ye Rin kembali bercerita "Dia bahkan tidak berhenti memikirkan tentang halangan status pernikahannya karena di saat bersamaan dia memutuskan, seakan-akan itu tergantung pada dirinya saja, bahwa Dokter Juvenal Urbino harus mati."
“Jadi, apakah pria ini mencoba membunuh suami mantan pacarnya? Aneh sekali.” komentar Ye Rin
“Bukan mantan pacar. Cinta pertama! Dan dia tidak berniat membunuhnya.” Keluh Yi Do
“Itu yang dikatakan di sini, bahwa Dokter Juvenal Urbino harus mati.” Kata Ye Rin
“Artinya dia akan menunggu sampai suami cinta pertamanya mati.” Tegas Yi Do
“Tapi kapan itu akan terjadi? Berapa lama dia harus menunggu?” tanya Ye Rin. Yi Do menjawab 53 tahun, tujuh bulan, 11 hari.
“Aku pikir penulis ini memenangkan Penghargaan Nobel Perdamaian. Aku tahu ini fiksi, tapi agak berlebihan. Ini sangat tidak realistis.” Komentar Ye Rin
“Masalahnya bukan menunggu. Sang protagonis mampu menunggu karena orang satunya mampu mempertahankan harga diri dan keeleganannya sambil terus hidup. Sebagaimana dia hidup ketika sang pria jatuh cinta kepadanya.” Kata Yi Do. Ye Ri masih memegang buku  "Love in the Time of Cholera, Jilid 2"
“Pada kenyataannya, orang-orang tidak seperti itu. Kau hanya menjadi lemah, tunduk, dan bodoh seiring pertambahan usia.” Ucap Yi Do
“Kau tidak bisa melindungi harga diri dan keelegananmu hanya dengan berusaha. Kita, manusia, terluka dan hancur seiring waktu. Bagaimana denganmu? Apa kau melindungi harga diri dan keelegananmu selagi terus hidup dengan kuat?” ucap Ye Rin
“Seperti yang bisa kau lihat, aku juga sudah benar-benar hancur.” Kata Yi Do dengan tatapan kosong. 

CEO menerima telp sementara Min Suk sibuk bermain games. Ia memberitahu kalau Rapat dengan Yi Do hari ini tertunda karena Dirut Seo sakit. Min Suk kaget seperti tak percaya mendengarnya. CEO mengaku tak tahu tapi yang didengar kalau Yi Do sakit flu.
“Kudengar Yi Do baru-baru ini pindah dari hotel kembali ke rumahnya... Hei, ayo ke rumah Yi Do.” Ucap Min Suk penuh semangat.
“Hei, apa yang kau rencanakan?”tanya CEO panik. Min Suk pikir  Mengganggu Yi Do saat sakit adalah hal paling menyenangkan dengan senyuman jahilnya. 

Ye Rin sedang membersihkan rumah mendengar bunyi bel ingin tahu siapa yang datang. Min Suk terlihat diinterkom menyapa lebih dulu mengaku datang untuk menemui Dirut Seo. Ye Rin panik karena “Min Suk-ku” datang ke rumah Yi Do.
“Apa yang harus kulakukan? Astaga.” Ucap Ye Rin binggung melihat yang masih mengunakan celemek.
“Min Ye Rin? Kenapa kau ada di rumah Yi Do?” kata Min Suk saat masuk melonggo kaget. 

Ye Rin akhirnya tak bisa berbohong kalau sebenarnya bekerja di rumah Yi Do. Min Suk tak percaya kalau Ye Rin  benar-benar Gadis Makanan atau benar-benar pelayannya. Ye Rin pun tak menyangkalnya. Min Suk ingin tahu keadaan Yi Do sekarang.
“Dia baru saja tertidur setelah minum obatnya.” Ucap i. Ye Rin dengan santai
“Omong-omong, kenapa kau melakukan pekerjaan ini?” tanya Min Suk. Ye in mencoba memikirkan jawabanya.
“Ekonomi tengah mengalami resesi berkepanjangan. Untuk menyeimbangkan pengeluaranku dalam masa pertumbuhan negatif ini, aku harus melakukan dua pekerjaan.” Jelas Ye Rin
“Tapi tetap saja, kenapa kau sendirian di rumah dengan seorang pria? Kau tahu seperti apa Pak Seo.” Ucap Min Suk
“Akulah masalahnya.” Ucap Ye Rin. Min Suk ingin tahu kenapa bisa seperti itu.
“Begini, aku memberikan banyak panas tubuh. Aku juga romantis. Aku tidak tahu kapan harus berhenti.” Ungkap Ye Rin membuat lelucon.
“Kau benar-benar lucu. Semua yang kau katakan benar-benar tepat. Kurasa kita memiliki selera humor yang sama. Apa kau mau berteman?” ucap Min Suk.
Ye Rin kaget tiba-tiba Min Suk mengajak berteman dan langsung menganguk setuju mengaku Sudah lama  tidak mendengar sesuatu sehangat itu dan benar-benar tidak punya teman. Min Suk menegaskan Mulai sekarang akan menjadi temannya, lalu menyapanya.
“Tapi apa hubungan antara dirimu dengan Dirut Seo? Aku tahu dia membenci semua makhluk hidup selain dirinya, tapi dia terutama lebih kesal kepadamu.” Ucap Ye Rin penasaran. 


“Kami musuh bebuyutan yang tidak bisa hidup di bawah langit yang sama.” Ucap Yi Do dengan kasar menendang Min Suk sampai jatuh karena duduk dikursinya.
“Apa kau serius? Kenapa kau sangat kasar padahal aku menjengukmu?” keluh Min Suk. Ye Rin hanya bisa melonggo melihat tingkah Yi DO.
“Apa? "Kasar"? Berani-beraninya kau melawan seseorang yang lebih tua darimu! Jangan lancang dan pergi dari sini. Keluar dari rumahku!” ucap Yi Do marah
“Tidak... Lalu kau mau apa?” ucap Min Suk menantang. Yi Do langsung menyemprotkan sesuatu. Mi Suk pun mengaduh kesakitan sambil memegang matanya. Yi Do pun tersenyum licik. 

Yi Do sedang mengambar tapi beberapa kali merasa idenya hilang dan akhirnya merobek kertas beberapa kali. Ye Rin melihat dari kejauhan terlihat kasihan, Yi Do tiba-tiba berjalan ke arah meja Ye Rin menyuruh minggir karena akan bekerja di sini.
“Bukankah kau membuat sketsa? Kenapa harus melakukannya di sini? Kau punya tempat di sana.” Keluh Ye Rin
“Ini rumahku, aku bisa melakukan apa pun sesukaku.” Kata Yi Do. Ye Rin memberitahu kalau  harus menyelesaikan ini dalam dua hari ke depan.
“Apa itu? Dari mana kau mendapatkan lap menjijikkan itu?” ejek Yi Do melihat gaun yang dibuat Ye Rin
“Aku menemukannya di toko pakaian bekas. Apakah desainnya benar-benar buruk?” kata Ye Rin bangga
“Itu sangat buruk sampai membuatku hampir muntah.” Komentar Yi Do sinis.
“Tugas kitalah untuk menginterpretasi ulang dongeng dan untuk mengolah dan memotret sesuai tema. Seperti yang kau ketahui, aku tidak punya pakaian. Aku pikir bisa membuat Putri Salju dari ini.” Ucap Ye Rin menunjukan gaunya.
“Apakah ayah Putri Salju membuat negerinya bangkrut? Walaupun sebuah negeri bangkrut, seorang yang waras tidak akan pernah memakai sesuatu seburuk itu.” Ejek Yi Do
“Aku tidak punya uang maupun pakaian. Jadi Berhentilah mengejekku.” Keluh Ye Rin kesal.
Yi Do menyuruh Ye Rin agar menarik tirai yang ada dibelakang,  Ye Rin melihat ada banyak bahan, lalu meminta izin agar bisa meminjamkanya.  Yi Do bertanya apakah Ye Rin akan membayarnya jika dipinjamkan, karena pasti tak tahu harga bahan yang dimilikinya.
“Serta, apakah kau tahu cara menggunakan mesin jahit?” ejek Yi Do
“Tentu saja aku tahu. Aku memakai beberapa mesin jahit di pusat budaya sebelumnya.” Kata Ye Rin dengan bangga 



Akhirnya Ye Rin mengambar baju putri salju yang biasa. Yi Do yang melihatnya mengeluh kalau ini sangat menyebalkan meliahtanya. Ia tak percaya kalau Ye Rin menganggapnya itu interpretasi ulang dan baju itu seperti  Reformasi Gabo tahun 1894 dan Ye Rin pasti bukan wanita modern.
“Dengar... Orang-orang dalam bidang mode harus menjadi pembuat tren. Pakaian bukan sekadar pakaian... Kita harus mengirim pesan lewat pakaian. Polos, patuh, dan berdedikasi. Apa pesan itu yang ingin kau sampaikan di abad ke-21?” ucap Yi Do
“Tidak, Pak!” jawab Ye Rin dengan serius mendengar ucapan Yi Do. Yi DO menjelaskan Pesan patriarki dan anakronistis ini dibuat oleh pria-pria bodoh selama ribuan tahun karena takut didominasi oleh wanita.
“Kita harus mengakhiri hal ini! Sia-sia saja mengkhawatirkan cara terlihat lebih cantik di depan pria inferior. Kau harus mencari solusinya secara proaktif. Aku lihat kau menyadari perhatian orang lain. Itu membuatmu menyedihkan, jadi, perbaiki itu. Aku ingin kau memimpin paradigma kecantikan baru!” ucap Yi Do
“Baik, Pak! Aku percaya kepadamu!.. Seo Yi Do! Aku percaya kepadamu! Seo Yi Do, kamu penyelamatku!” ungkap Ye Rin bangga.
“Memuji dan memuja kecemerlanganku adalah hal yang wajar, tapi kau tidak boleh melihatku sebagai seorang pria. Bawa pergi nafsumu itu dan kuburkan di bawah tanah. Jangan berani-berani jatuh cinta kepadaku!” tegas Yi Do
“Jangan khawatir. Aku berjanji tidak akan jatuh cinta. Omong-omong, ada seorang teman yang ingin aku bantu. Bisakah kau menggambar untukku sekali lagi?” ucap Ye Rin 



Ye Rin memberikan sesuatu pada Jin Kyung, karena tahu anaknya melakukan Tinkerbell untuk proyek inijadi membuat pakaian untuknya sembari membuat miliknya. Jin Kyung terdiam seperti tak percaya Ye Rin membantunya.
“Kau tidak perlu memakainya jika tidak suka.” Ucap Ye Rin yang hanya ingin membantu anaknya.
“Kenapa kau sangat baik kepadaku?” tanya Jin Kyung heran, Ye Rin menjawab  karena Jin Kyung satu-satunya temannya.
“Karena kau putriku.” Gumam Ye Rin bangga bisa membantu anaknya. 

Ye Rin keluar dengan baju yang dibuatnya dengan nuansa hitam. Tuan Kim tahu kalau konsep foto Ye Rin itu Putri Salju tapi menurutnya bajunya itu terlalu gelap. Ye Rin menjelaskan kalau ia adalah Putri Salju jahat yang mengendalikan tujuh kurcaci.
“Apa aku berlebihan?” ucap Ye Rin. Tuan Kim mengaku tidak dan sangat menyukainya.
“Bagaimana kau bisa menciptakan konsep seperti itu? Apa kau membuat ini sendiri? Hasilnya bagus sekali.” kata Tuan Kim
“Aku menjahit semuanya, tapi aku mendapat sedikit bantuan dengan desainnya.” Akui Ye Rin. Tuan Kim mengerti dan mengajak mereka mulai foto. 
Ye Rin terlihat sangat pintar membuat matanya terhanyut dalam konsel foto putri salju yang mengendalikan 7 kurcaci. Tuan Kim pun terlihat bangga dengan Ye Rin yang sangat pandai bergaya didepan kamera. Tuan Kim melihat Aura Ye Rin  sangat intens, seakan-akan mampu melahap dongeng itu.

Ye Rin melihat papan pengumuman "Posisi kedua, Min Ye Rin" "Posisi pertama, Kim Jin Kyung" wajahya terlihat bahagai karean Jin Kyung di posisi pertama lalu memuji Putrinya memang yang terbaik... Saat itu Jin Kyung datang dan langsung meminta maaf.
“Kau membuatkan pakaian itu untukku, tapi aku meraih posisi pertama.” Kata Jin Kyung. Ye Rin mengaku tak masalah.
“Kau meraih posisi pertama karena kamu aktris yang lebih baik.” Kata Ye Rin santai.
“Hei... Wanita Jatuh dan Leher Kura-kura... Apa Kalian sedang menikmati waktu ibu-anak? Kalian tampak manis bersama. Kurasa orang yang mirip memang selalu bersatu.” Ejek beberap model yang tak suka pada keduanya.
Ye Rin ingin membalas tapi Jin Kyung menahanya agar tak macam-macam. 


Mereka berlatih tarian dasar dengan mengoyangkan pinggul dan badanya. Jin Kyung terlihat masih kaku dan Ye Rin bisa mengikutinya. Ji Na akhirnya masuk ruangan setelah latiha membahas mereka pasti sudahmelihat pengumumannya.
“Kita akan menjalani lokakarya semalam akhir pekan ini, jadi, anak di bawah umur harus membawa formulir persetujuan orang tua mereka.” Ucap Ji Na. Semua menganguk mengerti. Jin Kyung seperti tak semangat.
“Serta, kami akan memilih dua model baru dalam pemotretan untuk koleksi foto musim depan. Yang terpilih adalah Jin Kyung dan Ye Rin karena mereka meraih posisi pertama dan kedua dalam tes terakhir.” Ucap Jin Na. Model lain yang mendengarnya terlihat iri.
“Ye Rin, Jin Kyung, kami akan memberi kalian sertifikat hadiah. Lakukanlah perawatan wajah.” Kata Ji Na. Keduanya menganguk mengerti tapi model lain terlihat mengumpat kesal. 


Yi Do baru saja pulang ke rumah, mendengar suara nyanyian dalam rumahnya berpikir kalau itu pasti suara CD. Saat ia masuk rumah tak percaya kalau Ye Rin sedang membersihkan rumah sambil menyanyi dengan suara merdu.
Ye Rin terus menyanyi sampai akhirnya Yi Do seperti dibawa ke era 80an, Ye Rin duduk sambil menyanyi dan Yi Do menatapnya seperti curiga pandang. Setelah itu mereka dansa bersama. Akhirnya Yi Do duduk di meja kerjanya tapi seperti tak bisa konsetrasi.
“Kenapa lagu buruk ini terus...Ahh.. Sial...” ucap Yi Do dan kembali membayangkan dirinya menari bersama dengan Ye Rin.
Saat itu juga ide-ide Yi Do langsung keluar dari tanganya, gambarnya design bajunya pun bisa tercipta dalam hitungan menit. 


Ji Na melihat hasil gambar Yi Do seperti tak percaya kalau karena berpikir Yi Do sedang terpuruk dan bertanya Kapanmenggambar semua ini, karena menurutnya ni i menyegarkan dan provokatif, serta sangat bagus. Yi Do menegaskan Keterpurukan bagi seorang genius bagaikan persiapan yang penting untuk mendorong evolusi.
“Maaf. Aku membahas subjek yang tidak bisa dipahami oleh manusia biasa seperti dirimu.” Kata Yi Do
“Hentikan itu, dan jujurlah kepadaku.” Ucap Ji Na. Yi Do ingin tahu masalah apa.
“Siapa inspirasimu?” tanya Ji Na penasaan. Yi Do mengelak tapi diotaknya memikirkan Ye Rin  dan Ye Rin senang melakkan pemotretan.
Bersambung ke episode 8

Cek My Wattpad... Stalking 


      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar