PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 26 Juni 2020

Sinopsis Oh My Baby Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Ha Ri membungkus semua badanya dengan selimut, dengan malu meminta agar Yi sang pergi dulu kalau sudah berpakaian. Yi Sang hanya diam saja. Ha Ri menyuruh Yi Sang segera keluar merasa sangat malu sekarang. Yi Sang mengejek tidak mau.
“Ini kesempatanku melakukan apa pun yang kumau, jadi, untuk apa?” kata Yi Sang mengoda
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Ha Ri panik. Yi Sang bertanya apakah Ha Ri ingin Ia melakukan sesuatu?
“Jangan lakukan itu sepagi ini.” Ucap Ha Ri malu. Yi Sang merasa Ha Ri tidak tahu apa yang akan dilakukan.
“Mungkin itu sesuatu yang sepadan dengan kecupan atau ciuman.” Kata Yi Sang. Ha Ri terlihat bingung.
Yi Sang memperlihatkan sebuah kalung di tanganya. Ha Ri tersenyum melihatnya. Yi Sang pun memasangkan kalung pada Ha Ri dan ingin membisikan sesuatu, tapi Ha Ri langsung berbaring dengan wajah bahagi. Yi Sang hanya bisa menahan malu.
Ha Ri pun mengucapkan Terima kasih. Yi Sang pun tersenyum. Ha Ri pun menyuruh Yi Sang untuk pergi sekarang. Yi Sang pun akhirnya keluar kamar dengan senyuman agar Ha Ri bisa memakai pakaian. 


Yi Sang memberikan tumpukan roti selai untuk Ha Ri agar bisa menghabiskan semuanya. Ha Ri mengeluh kalau tidak bisa makan semuanya karena Terlalu banyak. Yi Sang mengejek Ha Ri itu harus makan lebih banyak karena sangat kurus dan khawatir akan terbawa angin.
“Kenapa kau duduk di sampingku?” tanya Ha Ri heran. Yi Sang mengaku Lebih nyaman seperti ini.
“Apa Kau malu sekarang? Coba Lihat aku. Ayolah. Kenapa kau tidak mau menatapku? Lihat aku.” Kata Ha Ri. Yi Sang mengaku  Bukan begitu.
“Aku tidak mau mengganggu makanmu. Itu sebabnya aku tidak melihat.’ Kata Yi Sang membela diri. Ha Ri hanya bisa tersenyum malu.
“Tunggu... Apa Kau malu sekarang? Coba Lihat aku...” kata Yi Sang mengoda.
“ Lihat ke depan. Nikmati sarapanmu dengan pemandangan alam terbuka.” Kata Ha Ri
“Kurasa seperti inilah kekasih yang melihat ke arah yang sama.” Ucap Yi Sang
“Mari saling menatap dari depan, dari samping, dari belakang, dan dari semua arah.” Ucap Ha Ri. Yi Sang setuju. Keduanya menikmati sarapan dengan wajah bahagia. 


Di dalam mobil, Yi Sang melihat Ha Ri yang duduk disampingnya lalu perlahan memegang erat tanganya. Ha Ri pun tersenyum karena Yi Sang memegang erat tanganya.
Saat sampai rumah, Ha Ri ke lantai satu memanggil ibunya. Jae Young melihat Ha Ri yang datang dengan wajah terdiam. Ha Ri bertanya apakah ibunya tak ada di rumah.
Jae Young mengingat kejadian semalam, saat akan mengetuk pintu akhirnya mengurungkan niatnya. Ia kembali ke mobil memutuskan tak mengangu Ha Ri, walaupun dari jendea terlihat Ha Ri dan Yi Sang seperti pasangan yang tak bisa dipisahkan. 


Ha Ri ingin membahas kemarin, tapi saat itu suara Do Ah menangis. Jae Young tanpa banyak bicara langsung masuk kamar. Ia hanya bisa terdiam didepan pintu seperti merasa hatinya sakit. Do Ah kembali menangis, Jae Young tersadar lalu mengendong anaknya. 
Nyonya Lee bertemu dengan Tuan Jang di lorong memberikan amplop dan memberitahu kalau Totalnya 10.000 dolar jadi ambil saja. Tuan Jang mengeluh kalau hanya butuh 5.000 dolar dan Kenapa memberinya 10.000 dolar.
“Kau tidak perlu membayarku. Ambil ini dan jangan hubungi Ok-hee lagi.” Kata Nyonya Lee
“Astaga.. Kau bicara seolah-olah uangnya akan kubawa lari.” Ucap Tuan Jang
“Pak Jang Tae-seob, aku tidak mau bicara denganmu. Kau tidak tahu malu, tapi ini keterlaluan. Beraninya kau memintainya uang.” Keluh Nyonya Lee
“Seputus asa itulah aku.” Kata Tuan Jang. Nyonya Lee langsung memperingati.
“Meski kau sekarat karena tidak punya 5.000 dolar, jangan menemui Ok-hee atau kami. Melihatmu membuatku muak.” Ungkap Nyonya Lee
“Apa yang telah kulakukan padamu?” tanya Tuan Jang heran. Nyonya Lee membalas dengan nada sinis
“Kenapa berkata begitu? Kau tahu penderitaanku karenamu.” Ucap Nyonya Lee kesal
“Kau baik-baik saja.” Kata Tuan Jang. Nyonya Lee pikir bicara dengan Tuan Jang jadi Tidak ada gunanya.
“Apa Ha-ri baik-baik saja?” tanya Tuan Jang. Nyonya Lee heran kenapa menanyakan dia
“Kenapa lagi? Aku merindukan putriku.” Kata Tuan Jang. Nyonya Lee menegaskan kalau Ha-ri tidak punya ayah.
“Kau lebih buruk dari orang asing baginya. Meski dia sudah dewasa, kau akan menyakitinya. Jika menurutmu dia putrimu dan kau manusia yang baik, jangan coba menghubunginya.” Tegas Nyonya Lee. 


Ha Ri menerima telp ibunya, bertanya apakah sudah pulang dan bisakan pulang sekarang. Ha Ri membuka pintu heran melihat ibunya datang padahal tidak pernah telepon sebelum pulang. Nyonya Lee tak tahu kegiatan Ha Ri dengan pacarnya.
“Kupikir itu alasan Ibu memberiku kamar di lantai atas.” Goda Ha Ri. Ibunya meminta agar anaknya bisa Berhati-hati
“Ibu akan berusaha keras untuk menghindari situasi terburuk.” Kata Nyonya Lee mencuci barang di dapur.
“Ibu akan membuatnya lagi? Aku bisa memasak sendiri.” Kata Ha Ri melihat membawa ramuan
“Kau tidak punya waktu untuk memasak. Biarkan ibu memasak dan makanlah. Di mana tekonya?” kata Nyonya Lee. Ha Ri memberikan teko pada ibunya.
“Kau tidak bisa menunggu lama karena sakit. Kau harus segera menikah. Apakah harus Yi-sang? Tidak ada orang lain yang kau sukai?” kata Nyonya Lee
“Tidak ada ruang di hatiku untuk orang lain.” Ucap Ha Ri dengan senyuman
“Kau tidak keberatan memberi meski itu menyakitimu. Kau memberikan seluruh hatimu kepada orang yang kau sukai. Ibu harap kau lebih dingin, lebih licik, dan lebih egois.” Ucap Nyonya Lee
“Apa Ibu tidak menyukai Yi-sang?” tanya Ha Ri. Nyonya Lee mengaku tidak menyukai Ha Ri karena sangat lembut.
“Ibu ingin kau sangat dicintai  oleh suamimu. Tidak seperti ibu.” Ucap Nyonya Lee. Ha Ri hanya bisa terdiam.
[Episode 13, Alasan Hidup Memberi Kita Rasa Sakit]


Yi Sang berjalan dan melihat dietalase, baju pengantin Wajahnya terlihat bahagia karena berpikir akan menikah dengan Ha Ri. Sementara Ha Ri berjalan di kantor. 
Hyo Joo baru turun dari mobi melihat Ha Ri lalu menghampirinya dan berkomentar kalau datang lebih awal. Ha Ri mengejek kalau Hyo Joo yang datang lebih awal. Hyo Joo mengaku selalu datang pukul sebegini.
“Kenapa datang pagi-pagi?” tanya Ha Ri. Hyo Joo mengaku Matanya terbuka karena tidak sabar untuk bekerja.

Saat masuk lobby, Mereka bertemu dengan Eu Ddeum. Eu Ddeum lebih dulu menyapa Ha Ri. Wajah Hyo Joo penuh semangat bertemu dengan Eu Ddeum. Eu Ddeum memberikan sesuatu pada Ha Ri mengaku selalu ingin memberikannya tapi baru sekarang bisa memberikannya.
“Ini jus delima... Apa Kau mengkhawatirkan kesehatanku? Terima kasih. Ayo.” Ucap Ha Ri
“Tunggu sebentar... Aku harus bicara dengan Eu-ddeum. Aku akan segera ke sana.” Kata Hyo Joo dengan wajah cemberut. Ha Ri pun pergi lebih dulu. 

Hyo Joo ingin tahu alasan Eu Ddeum  menyukai Nona Jang dan apakah menyukai wanita yang lebih tua. Ia pikir kalau dirinya itu lebih cantik. Eu Ddeum blak-blakan mengaku kalau Nona Jang lebih cantik. Hyo Joo mengeluh kesal kalau Eu Ddeum itu masih membuang-buang waktu.
“Bersikaplah realistis dan akhiri saja. Maka, kau bisa melanjutkan hidup.” Kata Hyo Joo
“Aku senang sudah menyerah.Tapi Aku belum pernah merasa seperti itu. Andai tidak menyerah, bisa buruk.” Ungkap Eu Ddeum tersenyum. 
“Bagaimana bisa cinta sepihak berakhir dengan baik?” keluh Hyo Joo heran
“Menyenangkan memiliki perasaan padanya dan hanya karena dia tidak menerimanya, bukan berarti aku tidak serius. Akhirnya tidak akan buruk.” Kata Eu Ddeum lalu pamit pergi.
“Pria ini...Aku ingin dia menjadi milikku.” Gumam Hyo Joo dengan wajah bahagia.
Hyo Joo akhirnya masuk ruangan dengan senyuman bahagia langsung duduk bertopang dagu dan melihat sandal yang ada dilaci. Ia mengingat saat membuangkan ke tong sampah, tapi mengambilnya kembali. Hyo Joo akhirnya memakai kembali dengan senyuman bahagia. 


Tuan Nam sibuk mengambil foto pasangan,lalu meminta agar berganti pakaian. Yi Sang meihat di layar hasil foto Tuan Nam, Tuan Nam yakin Yi Sang itu terkejut bahkan pandai mengambil foto pernikahan. Ia dengan bangga kalau Keahliannya sebagai fotografer sangat bervariasi.
“Apa Sebaiknya aku melakukannya juga?” kata Yi sang. Tuan Nam kaget kalau Yi Sang akan menikah
“Aku mau, dan harus melakukanya” kata Yi Sang. Tuan Nam mengartikan kalau Yi Sang sudah siap akan diomeli istri.
“Kedengarannya manis.” Komentar Yi Sang dengan senyuman. Tuan Nam bingung dengan komentar Yi Sang.
“Artinya kau akan kesulitan mencari uang untuk biaya sekolah anakmu sepertiku.” Kata Tuan Nam
“Aku ingin bertanggung jawab sepertimu.” Kata Yi Sang. Tuan Nam hanya bisa berkomentar “Terima kasih.” Dengan nada menyindir.
“Kau tidak akan pernah mencoba semua hal baru yang belum pernah kau lakukan.” Kata Tuan Nam
“Aku bisa melakukannya dengan dia. Apa Menurutmu Ha-ri tidak akan tertarik?”ucap Yi Sang
“Menikahlah. Itu tidak akan seperti yang kau pikirkan.” Ucap Tuan Nam agar Yi Sang bisa merasakanya.
“Aku memang mengeluh bahwa pernikahan itu sulit, tapi tidak sesulit itu. Pernikahan bisa sulit. Cintaku kepada Ha-ri tidak tahu malu dan egois. Aku harus membahagiakannya, apa pun yang terjadi.” Ucap Yi Sang yakin
Ia membayangkan Ha Ri yang mengunakan gaun pengantin lalu mereka foto bersama di studio. 



Nyonya Lee baru saja selesai belajar gitar dan kaget melihat Jae Young yang datang dan bertanya kenapa datang. Jae Young pikir ini hari yang indah dan mengajaknya berkencan. Keduanya akhirnya datang ke sebuah restoran steak.
“Aku selalu datang ke tempat seperti ini. Tiap kali datang ke sini, menurutku mahal tanpa alasan. Kenapa kau membuang-buang uang di tempat seperti ini?” ucap Nyonya Lee
“Perbincangan kita beralih ke omelanmu dengan lancar. "Aku menerimamu, menumpangimu, memberimu makan, mencuci pakaianmu, dan menjaga anakmu. Tapi hanya ini yang bisa kau belikan?" Seharusnya kau katakan itu.” Kata Jae Young
“Kenapa aku harus mengeluh saat kau membelikanku makanan mahal? Apa Kau bisa pergi selama ini untuk makan siang? Apa Kau tidak ada pasien di klinik?” tanya Nyonya Lee 
“Entah ini bagus atau tidak. Aku terus mendapatkan pasien. Aku berniat mentraktirmu banyak makanan lezat dengan semua penghasilanku. Aku akan sering berkunjung. Lalu, mari berkencan lagi.” Ucap Jae Young
“Apa Kau akan pindah?” tanya Nyonya Lee. Jae Young mengaku harus pindah karena tidak bisa bertemu Ha-ri sekarang dan Tidak banyak yang bisa dilakukan.
“Jae-young... Aku sangat menyukaimu untuk Ha-ri. Aku akhirnya menyakitimu karena keserakahanku.” Akui Nyonya Lee
“Tidak, Bi Ok-ran. Aku hanya serakah karena menginginkan Ha-ri. Kau tahu? Kau dan ibuku seharusnya berjanji untuk menikahkan kami saat kami masih di kandungan. Orang lain selalu melakukannya Kenapa tidak melakukannya?.” Kata Jae Young
“Seharusnya aku melakukan itu.Itu cukup umum saat itu. Seharusnya aku menikahkannya saat dia berusia 20 tahun.” Kata Nyonya Lee
“Kami akan saling membenci, berselisih, dan bertengkar, tapi tetap akan akrab.” Ucap Jae Young
“Kalian akhirnya saling jatuh cinta. Tapi karena itu perjodohan, kalian akan saling salah paham dan putus.” Ucap Nyonya Lee
“Lalu, kami akan mengetahui perasaan satu sama lain dan kami akan menikah dengan saling mencintai. Cerita yang basi dan membosankan. Setelah aku membicarakannya, kedengarannya tidak menyenangkan.”ungkap Jae Young
“Benar. Ini tidak menyenangkan.” Kata Nyonya Lee sambil tertawa. Jae Young pun meminta Nyonya Lee agar Makan yang banyak.



Ha Ri melihat Yi Sang  yang sedang minum obat dari kejauhan. Tuan Nam yang melihatnya berbisik kalau Yi Sang minum vitamin tapi kenapa  menatapnya dengan tatapan sedih. Ha Ri yakin Tuan Nam itu tahu Yi Sang  meminumnya untuk pengobatannya.
“Dia melakukannya karena ingin. Jangan sedih.” Bisik Tuan Nam. Ha Ri tak percaya kalau Tuan Nam mendukungnya lalu mengucapkan Terima kasih.
“Tidak, aku selalu mendukung kalian.” Kata Tuan Nam. Ha Ri tersenyum bahagia.
Ha Ri pun menghampiri Tae-rin, model anak untuk berganti pakaian. Tae Rin tiba-tiba memanggi Ha Ri “Ibu” Ha Ri terdiam karena baru pertama kali dipanggil ibu. Diam-diam Yi Sang menatap dari kejauhan seperti tahu impian Ha Ri memiliki anak.
“Apa Kau pikir aku ibumu? Di mana ibumu? Mari kita cari dia bersama.”ucap Ha Ri dan melihat seorang wanita datang. Tae Rin pun berlari memanggil ibunya. Yi Sang terus menatapnya seperti ingin segera memberika anak untuk Ha Ri. 


Ha Ri membawa barang lalu teringat dengan Kartu identitas dan meminta agar anak buahnya  Putar balik. Yeon Ho mengelu karena Ha Ri meninggalkannya di studio dan mereka terpaksa memutar arah karena tangga yang sempit.
“Bukankah seharusnya kau membeli cincin dahulu?” ucap Tuan Nam berbicara dilantai atas.
“Aku tidak tahu ukurannya. Bagaimana cara mengukur diam-diam?” tanya Yi Sang bingung
“Hei... Itu misi tersulit dalam menikah. Saat kau melihat jarinya, dia akan segera tahu. Lalu Di mana kau akan melamar dia?” kata Tuan Nam
“Bagaimana dengan katedral? Rasanya sakral dan bisa diandalkan. Ha-ri juga mengingatkanku akan Bunda Teresa.” Akui Yi Sang
“Itu ide baru bagiku. Hei, kenapa kau tidak melamarnya di katedral dan menikah di sana?” kata Tuan Nam. Yi Sang pikir Ide bagus.
“Salah... Ide buruk. Jika Ha-ri beragama Buddha, itu tidak baik untuk Ha-ri.” Ucap Tuan Nam. Saat itu Ha Ri dkk mendengar semua pembicaran, Ha Ri hanya bisa melonggo
“Kalau dipikir-pikir, aku bahkan tidak tahu agamanya. Lalu, di mana aku harus melamar dia?” ucap Yi Sang bingung
“Ini rumit. Ini seperti persamaan lanjutan.” Kata Tuan Nam juga ikut mengeluh. 

 Mereka akhirnya keluar dari studio, Yeon Ho langsung menjerit bahagia karena Ha Ri akan dilamar dan mengaku hanya Mendengar kata "melamar" saja membuatnya bersemangat. Hyo Joo pikir ini bocoran untuk Nona Jang
“Karena mendengarnya, kau harus mempersiapkan diri! "Menikahlah denganku." Astaga.”jerit Yeon Ho
Ketiga langsung mengejek Ha Ri kalau Yi Sang akan mengatakan "Maukah kau menikah denganku?" Yeon Ho pun mengajak mereka pergi sambil memikirkan Gaun Ha Ri nanti, tapi Ha Ri terlihat hanya melonggo bingung lalu duduk dibangku taman dan berpikir yang akan dilakukan. 

Ha Ri keluar dari kantor melihat Yi Sang sudah menunggu didepan mobil. Yi Sang melambaikan tangan dengan wajah bahagia. Ha Ri bergumam dengan wajah panik berpikir Tidak mungkin hari ini.
“Bagaimana jika aku membuka bagasi mobil, lalu melihat balon muncul dan ratusan mawar? Tidak mungkin, bukan? Tidak mungkin dia melamar di depan kolegaku.” Ucap Ha Ri panik melihat sekeliling takut banyak orang yang melihatnya.
“Tunggu.” Ucap Yi Sang. Ha Ri melihat Yi Sang ke arah belakang mobil dan wajahnya langsung panik sambil bertanya dalam hati Kenapa dia membuka bagasi.
“Jangan lakukan itu! Kita tepat di depan kantor.” Ucap Ha Ri. Yi Sang mengaku akan segera selesai. Ha Ri makin panik.
“Aku membersihkan jendela.” Ucap Yi Sang mengeluarkan lap kaca. Ha Ri menahan malu.
“Begini, kau mencemari udara di sekitar kantor.” Kata Ha Ri berdalih. Yi Sang berkomentar kalau Ha Ri jelas mencintai perusahaan ini lalu menyuruhnya agar masuk. 

Ha Ri duduk di mobil lalu melihat ke arah belakang dan memastikan kalau Yi Sang tidak akan melamar sekarang di mobil. Yi Sang bingung melihat Ha Ri menatap ke arah belakang, lalu memastikan apa yang dilihat pacarnya itu. Ha Ri mulai memikirkan Bagaimana menjawabnya.
“Hore!.. Ahhh.. Aku seperti pesepak bola yang baru mencetak angka... Kalau aku bilang “Terima kasih?” Ah.. Itu juga terdengar tidak benar.</i> Lantas, ayo?” gumam Ha Ri bingung.
“Bisa bantu aku membukanya?”kata Yi Sang menujuk laci dibagian depan . Ha Ri panik dan langsung menolaknya. Yi Sang kaget mendengarnya.
“Buka saja ini untukku.” Kata Yi Sang. Ha Ri menolak mengaku belum siap. Yi Sang makin bingung.
“Bisa turunkan aku di sana?” ucap Ha Ri. Yi Sang kaget dan bertanya apakah Ha Ri tidak mau makan malam dengannya.
“Aku memesan tempat di restoran yang sangat bagus.” Kata Yi Sang. Ha Ri menebak Ini restoran dengan piano besar
“Dan kebetulan tidak ada yang makan di sana malam ini, bukan?” ucap Ha Ri. Yi Sang kaget Ha Ri bisa mengetahuinya.
“Aku memesan tempat di restoran dengan satu meja. Tapi kurasa tidak ada piano besar di sana. Kurasa ada piano tua berwarna cokelat.” Kata Yi Sang
“Turunkan aku di sana... Aku akan menemui seseorang. Kita makan malam lain kali saja.” Ucap Ha Ri. Yi Sang akhirnya menepikan mobilnya.
“Maaf karena aku pergi seperti ini. Aku sungguh akan memikirkan ini dengan sepenuh hatiku. Lakukanlah hal yang sama dan tanyai dirimu apa ini yang terbaik bagi kita.” Kata Ha Ri lalu berjalan pergi.
“Dia tidak suka bunga atau restorannya?  Apa salahku kali ini?” gumam Yi Sang bingung membuka laci ternyata berisi buket bunga. 



Eun Young berkomentar Ha Ri menjadi ragu. Ha Ri tak mengerti ingin tahu alasanya. Eun Young menjelaskanSaat rasa takut memengaruhi Ha Ri  sebelum menikah. Ia yakin Ha Ri  tahu hidupnya benar-benar berubah saat menikah
“Hatimu menyuruhmu kabur dari itu.” Ucap Eun Young. Ha Ri bingung Kenapa harus kabur
“Aku tidak terlalu berharap, tapi menginginkannya selama 39 tahun.” Ucap Ha Ri
“Saat menginginkan sesuatu, kau ingin yang paling ideal. Itu berbeda dari kenyataan. Kau menginginkan utopia yang memesona, menyeberangi lautan dan gurun, hanya untuk mengetahui bahwa kau telah mencapai tanah kosong. Kau takut itu akan terjadi.” Jelas Eun Young
“Aku selalu menginginkan keluarga normal, tidak ada yang istimewa. Hanya membesarkan anak-anakku dengan suamiku, menikmati keluargaku yang bahagia, seperti orang lain.” Kata Ha Ri
“Hidup seperti orang lain adalah hal tersulit untuk dilakukan. Mungkin kau sangat membayangkan tentang keluarga normal karena tidak mendapatkannya.” Ucap Eun Young
“Apa, ayahku? Kau benar juga. Tapi aku tidak punya kenangan buruk tentang ayahku. Dia sangat menyayangiku. Dia mengajariku naik sepeda dan mengajakku ke danau saat musim panas untuk mengajariku berenang.” Cerita Ha Ri mengingat kenangan dengan ayahnya.
“Dia membelikanku camilan tanpa sepengetahuan ibuku. Tapi dia pergi. Aku tahu Yi-sang kuat. Dia bukan tipe orang yang akan pergi, tapi kenapa aku masih tidak antusias dengan lamarannya dan malah melarikan diri?” ungkap Ha Ri bingung
“Mungkin kau hanya takut dia akan melakukan lamaran yang aneh.” Ucap Eun Young. Ha Ri pun berpikir seperti itu juga.
“Tapi saat kau mulai gugup, pikirkan saja. Itu kesempatan terakhir untuk objektif di tengah masa paling bahagia dalam hidupmu.” Ucap Eun Young. Ha Ri mengucapkan Terima kasih.
“Kau wanita yang kuat.” Puji Eun Young. Ha Ri hanya bisa tersenyum mendengarnya. 



Selembar kertas ditempel di tiang listrik, “Pemadaman Listrik Pukul 1-3, 24 Juni 2020” Ha Ri melihat  Jae Young keluar rumah langsung memanggilnya, tapi Jae Young tak menyahut hanya mendorong Do Ah pergi. Ha Ri  pikir Jae Young marah karena tidak membantu pencarian rumahnya.
“Mau kutemani akhir pekan ini?” ucap Ha Ri. Jae Young tetap diam seperti memendam emosinya
“Jae-young, temanku, berhentilah marah kepadaku. Aku sangat mengkhawatirkan sesuatu dan dengarkan aku sambil kita makan gopchang. Aku juga akan mendengarkan ceritamu.” Ucap Ha Ri. Jae Young tetap diam saja.
“Teman!” teriak Ha Ri. Jae Young mengeluh kalau mengerti jadi meminta agar bisa menghentikanya.
“Kurasa aku tidak bisa menjadi temanmu sekarang.” Tegas Jae Young lalu melangkah pergi. Ha Ri pun akhirnya melangkah pergi ke arah sebaliknya. 

“Jika kau benar-benar peduli padaku, kau seharusnya memberitahuku saat dia meminta bantuan. Aku tidak akan menyuruhmu menutup toko, jadi, jangan terima dia lagi.” Keluh Nyonya Lee pada temanya
“Kenapa dia meminta nomor Ha-ri? Jangan berikan padanya! Apa Dia harus menemui Ha-ri?” kata Nyonya Lee panik. 

[Dachae Media]
Ha Ri dan Yi Sang berjaan bersama, Yi Sang membahas Ha Ri akan segera mewawancarai pasangan mandul, Ha Ri membenarkan menurutnya  Ji-hye kemungkinan besar akan keguguran dan itu sulit bagi mereka. Yi Sang bertanya Apa itu buruk
“Ini bukan hal yang buruk. Tidak mungkin buruk.” Kata Ha Ri
“Kau tidak keberatan mewawancarai pasangan mandul?” tanya Yi Sang heran.
“Kenapa? Apa Kau pikir aku akan takut dan lebih khawatir?” ucap Ha Ri
“Aku takut kau akan kesulitan, tapi tidak menunjukkannya.Itulah yang kukhawatirkan.” Ucap Yi Sang. Ha Ri hanya bisa tersenyum. 

Keduanya keluar dari kedai kopi, Yi Sang meminta Ha Ri agar menjanjikan sesuatu yaitu Berjanjilah akan memberitahu saat kesulitan atau saat merasa tidak sehat. Ia meminta agar Ha ri mengatakan agar bisa memeluknya.
“Kenapa kau terus bilang akan memelukku? Apa Kau selalu ingin memelukku erat setiap kali bertemu denganku?” ucap Ha Ri
“Kau pernah mempertimbangkan menjual rumahmu dan pindah ke sakuku?”goda Yi Sang
“Bagaimana rayuanmu bisa membaik setiap hari?” ejek Ha Ri. Yi Sang meminta agar Ha Ri bisa memikirkan saja.
“Apa Kau tidak mau bersamaku setiap hari?” tanya Yi Sang lalu meminta menunggu dan langsung berlutut.
“Apa Kau akan lakukan di sini? Ada orang yang lewat.” Ucap Ha Ri panik berpikir Yi Sang akan melamarnya.
“Tunggu sebentar.” Kata Yi Sang. Ha Ri meminta agar Yi Sang Jangan lakukan ini di sini lalu bergegas pergi
“Ke mana lagi aku harus pergi untuk mengikat sepatuku?” ucap Yi Sang bingung.
“Ha-ri! Aku tidak akan melakukannya di tempat ramai!” teriak Yi Sang
“Kenapa kau melakukannya di tengah jalan?” ucap Ha Ri panik. Yi Sang bingung Di mana lagi harus melakukannya
“Entahlah. Aku tidak bisa melakukan ini.’ Ucap Ha Ri. Yi Sang bingung Apa mengikat sepatu di jalan adalah hal memaluka dan merasa Ha Ri sangat pemilih.


Ha Ri sampai di gedung dengan nafas terengah-engah bingung dengan sikapnya yang seperti ini. Yi Sang kembali ke studio. Tiba-tiba Yeon H dkk seperti sudah menunggu langsung menghampirinya. Yeon Ho memberitahu kalau Ukuran cincin Ha-ri 11.
“Dia tidak religius, jadi, jangan di katedral.” Kata Hyo Joo. So Yoon memberikan selembar kertas pada Yi Sang agar menyimpanya. Yeon Ho pikir mereka bertiga sudah selesai dan mengajak pergi.
Yi Sang melonggo bingung dan langsung membaca kertas yang diberkan So Yoon “Kau boleh minta konseling lamaran. Boleh bertanya soal acara kejutan. Tapi jangan setelah jam kerja.” Wajah Yi Sang hanya bisa tersenyum. 

Hyo Joo pergi ke ruangan Eu Ddeum, diam-diam menatapnya dengan penuh senyuman. Ia seperti benar-benar jatuh cinta dengan Eu Ddeum. Eu Ddeum seperti tak sadar membahas dokumen dengan Tuan Jin.
Hyo Joo akhirnya menemui Eu Ddeum di cafe ingin menanyakan sesuatu. Eu Ddeum pun mempersilakan. Hyo Joo memastikan kalau Eu Ddeum itu bukan cucu Pimpinan.  Eu Ddeum bingung.
“Apa kau menyembunyikan latar belakangmu dan mempelajari bisnis ini dengan memulai dari posisi rendah?” tanya Hyo Joo. Eun Ddeum mengaku tidak.
“Aku sudah memberitahumu tentang pekerjaan orang tuaku.” Kata Eu Ddeum santai.
“Orang tuamu hebat, tapi ada kemungkinan kau berbohong untuk menyembunyikan identitasmu. Jika tidak, lupakan saja.” Ucap Hyo Joo
“Ada apa?” tanya Eu Ddeum bingung. Hyo Joo ingin Eu Ddeum tahu bahwa Ia merelakan impiannya dan membuat keputusan besar.
“Lupakan saja. Mari makan malam hari ini.” Kata Hyo Joo mengalihkan pembicaraan.
“Jika ini karena kejadian di kantor polisi, tidak perlu. Kau tidak berutang makan padaku.” Ucap Eun Ddeum
“Aku yang membayar makanan dan kau yang membayar hidangan penutup, setuju?” ucap Hyo Joo tiba-tiba melakukan Aegyo. Eu Ddeum hanya bisa tertawa merasa tak percaya Hyo Joo melakukan hal itu.
“Tunggu. Aku tidak menyangka ini.” Kata Eu Ddeum mengeluarkan ponselnya. Hyo Joo pikir Eu Ddeum akan memesan tempat
Eu Ddeum melihat di ponselnya dan pesan masuk ke ponsel Hyo Joo “Hadiah telah tiba” Hyo Joo ingin tahu Restoran mana yang dipesan lalu bergegas membuka ponsenya “Choi Kang Eu-ddeum mengirimimu kopi dan paket hidangan penutup”
“Aku mengirimimu makanan penutup. Kau tidak perlu mentraktirku makan.” Ucap Eu Ddeum dengan gaya imut. Hyo Joo hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Eu Ddeum .
**
Bersambung ke part 2


Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar