PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 14 April 2020

Sinopsis When the Weather is Fine Episode 13 Part 2

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Salah seorang bibi datang ke tempat toko kue beras memberitahu kalau Kimchi lobak air ini sangat matang dan lezat. Ibu Bo Yeong pun mengucapakan Terima kasih banyak. Si bibi pikir rumah Bo Yeong hangat jadi meminta agar membuatkan minyak wijen.
“Baik, aku akan membuatnya, jadi, ambillah besok.” Ucap Ibu Bo yeong. Bibi pun mengucapkan terimakasih.
“Omong-omong, kamu sudah dengar? Putri Rumah Hodu datang ke sini.” Kata si bibi
“Putri keluarga itu selalu tinggal di sana.” Ucap ibu Bo Yeong. Si bibi mengaku bukan dia. Saat itu Bo Yeong datang
“Kamu tahu, putrinya... Putrinya yang membunuh suaminya. Bisakah kau memercayainya? Bagaimana bisa dia kembali ke sini setelah membunuh suaminya? Wanita dari keluarga itu sangat pendendam. Bahkan ibu mereka kejam.”kata si bibi
“Kedua putrinya sama seperti dia. Bagaimana bisa orang yang dendam membunuh suaminya...” ucap si bibi lalu melihat Bo Yeong yang mendengarnya.
“Oh Benar juga, bukankah kau dekat dengan cucunya?”kata sang bibi. Bo Yeong hanya bisa diam saja.
“Bo Yeong, apa yang kau lakukan? Pergilah ke kamarmu.” Kata ibunya. Bo Yeong bergegas keluar mengaku harus ke akademi. 


Bo Yeong berjalan keluar toko hanya bisa menatap kosong mengingat yang dikatakan Hye Won terakhir kali.
“Kau berjanji tidak memberi tahu siapa pun.” Kata Hye Won marah. Bo Yeong mengaku memercayai Joo Hee.
“Dan aku memercayaimu.” Kata Hye Won karena Bo Yeong yang membuka rahasianya. 

"Toko Buku Good Night"
Hye Won melihat laptop menemukan beberapa foto lalu melihat dibagian samping ada bagian  "Pengumuman, Perkenalan, Daftar Buku Baru, Persyaratan" . Ia tiba-tiba menemukan bagian  "Buku Harian Toko Buku" yang tak terkunci.
Dengan rasa penasaran, Hye Won membukanya dan melihat postingan tulisan Eun Seob "Surat cinta pertamaku untukmu, posisi ke-133"
"Malam ini, aku ingin mengajakmu ke pondok" wajah Hye Won tersenyum membaca tulisan Eun Seob. 

Eun Seob terbangun dari tidurnya memanggil Hye Won lalu turun ke bawah dan langsung panik melihat Hye Won sedang membaca laptop dan langsung mengambilnya.  Hye Won tertawa memastikan kalau Irene adalah dirinya padahal Eun Seob bilang itu Hwi.
“Kalau begitu, gantungan kunci itu sungguh dariku?” kata Hye Won. Eun Seob mencoba menyangkal
“Berapa... Berapa banyak yang kamu baca?” kata Eun Seob panik. Hye Won pun ingin tahu  apa arti "Selamat malam, Irene"
“Tidak... Itu hanya dari lirik lagu yang kusukai.” Kata Eun Seob. Hye Won pun ingin tahu alasan dinggap Irene.
“Itu karena kau memberiku gantungan kunci itu.” Ucap Eun Seob. Hye Won mengejek kalau Eun Seob bilang ia yang membuatnya.
“Aku tidak tahu kamu menulis buku harian, Eun Seop. Manis sekali.” goda Hye Won.
“Tapi berapa banyak yang kamu baca?” tanya Eun Seo panik. Hye Won mengaku tak tahu.
“Jadi, kamu yang memberiku serangga itu saat kita masih kecil.” Kata Hye Won mengingatnya. 


Flash Back
Eun Seob memberikan kumbang ditangan Hye Won, Hye Won ketakutan meminta agar Eun Seob mengambilnya karena tidak mau. Eun Seob hanya bisa melonggo bingung melihat Hye Won yang pergi.
Eun Seob mengaku Itu karena berpikir Hye Won itu anak laki-laki. Hye Won kaget kalau Eun Seob yang mengira anak laki-laki. Eun Seob mengaku Karena Hye Won yang  menutupi wajahnya dengan topi. Hye Won tak percaya menurutnya Ini luar biasa.
“Selain itu, kau bahkan tidur di rumahku.” Ucap Hye Won. 

Flash Back
Hye Won menuruni tangga dan melihat sosok anakn yang tertidur di ruang tamu, lalu bertanya siapa. Eun Seob menatap Hye Won seperti untuk kesekian kalinya jatuh cinta dengan Hye Won.
“Itu karena Hwi tiba-tiba sakit. Orang tuaku membawanya ke RS di Seoul, jadi, aku menginap.” Akui Eun Seob
“Jadi, kau jatuh cinta lagi dengan peri sepertiku. Ini sangat menyenangkan, Eun Seop.”goda Hye Won bahai.
“Kau sudah membaca semuanya?” tanya Eun Seob. Hye Wo mengaku tidak tapi Hampir semuanya.
“Sekarang akhirnya aku tahu rahasia insiden Sungai Nakdong. Aku bingung saat bibiku datang menemuiku. Ternyata Kau yang menghubunginya. Aku bahkan tidak tahu itu dan hampir mempercayai takdir.” Ucap Hye Won menahan tawa.
“Astaga... Tidak apa-apa, Eun Seop. Aku tidak akan menggodamu. Bibirku terkunci. Ayolah, jangan sedih.” Kata Hye Won.
“Habislah aku.” Ucap Eun Seob langsung menelungkupkan wajahnya. Hye Won memanggilnya
 "Hari itu, Irene bertanya. Di sana. "Benda yang mirip marshmallow. "Apa namanya?" kata Hye Won mengoda
“Kubilang hentikan... Diam! Tidak, berhenti! “ jerit Eun Seob akhirnya berlari menaiki tangga.
Saat itu telp berdering, Hye Won mengangkat telpnya lalu terlihat terkejut. 


"Stasiun Hyecheon"
Bibi Sim melihat Tuan Cha yang datang lalu mengeluh Sedang apa di sini lagi. Tuan Cha beralasan kalau Bibi Sim yang memberitahunya tentang jadwal kereta. Bibi Sim akhirnya mengaku pada Tuan Cha kalau sudah kehilangan harapan.
“Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Jadi, jangan mengharapkan apa pun dariku.” Ucap Bibi Sim lalu melangkah pergi.
“Shim Myeong Yeo... Rambutmu baunya seperti sampo "Charming" yang biasa dipakai ibuku.”akui Tuan Cha 

Flash Back
Bibi Sim duduk di perpustakaan, lalu mengingatk rambutnya. Tuan Cha yang duduk disampingnya langsung menatap terpesona mencium wangi rambut bii Sim dan juga tatapan matanya.
“Matamu mengingatkanku pada malam sebelum badai hujan. Aku sangat menyukai hal itu darimu.” Akui Tuan Cha.
“Jadi apa Bisa beri tahu aku? Itu semua tidak benar?” ucap Tuan Cha seperti masih  tak percaya
“Apa yang tidak benar?” tanya Bibi Sim. Tuan Cha pikir  Semuanya.
“Apa Rumor bahwa kakakku membunuh suaminya karena berselingkuh denganku? Manusia bisa memercayai sesuka mereka. Hasilnya tidak akan berubah. Entah aku berselingkuh dengan kakak iparku atau tidak, dia sudah mati, dan itu tidak akan berubah.” Jelas Bibi Sim.
“Entah kakakku membunuhnya atau tidak, dia dipenjara. Meskipun dia tidak dipenjara, aku akan tetap menjadi orang yang kacau seperti sekarang. Jadi, itu tidak penting. Yang kau percaya itu benar.” Ucap bibi Sim.
“Tidak.” Ucap Tuan Cha. Bibi Sim pikir itu yang sebenarnya, Tuan Cha akhirnya mulai bicara.
“Meskipun itu benar, kau seharusnya memberitahuku bahwa itu tidak benar. Setidaknya itu yang bisa kau lakukan untukku. Apa aku salah?” kata Tuan Cha.
“Maafkan aku... Aku tidak pengertian.” Kata Bibi Sim lalu melangkah pergi. Tuan Cha memanggilnya.
“Aku... Aku sudah layu.” Kata Bibi Sim. Tuan Cha pikir mereka semua seperti itu.
“Hanya aku yang benar-benar layu... Hanya aku yang benar-benar mati, Yun Taek.” Ucap Bibi Sim membuka kacamatanya. Tuan Cha melotot kaget. Bibi Sim pun akhirnya melangkah pergi.
"Aku akan memotong ujung lima jariku dan menggambar dengan darahku. Aku akan sendirian malam ini, tapi tidak akan kesepian. Dan akan menangis. Gelas pertama untukmu, yang meninggalkanku.”
“Gelas kedua untukku, yang sudah sangat menyedihkan. Segelas lagi untuk cinta abadi kita. Dan gelas terakhir untuk Tuhan yang meramalkan dan memutuskan semuanya lebih dahulu."

"Toko Buku Good Night"
Jang Woo terlihat gugup, Eun Sil menyapa semua anggota dengan senyuman lebar mmberitahu kalau bekerja di Balai Kota Gangneung. Da sedang cuti kerja karena acara it jadi itu alasanya datang lalu meminta semua agar memberikan Tepuk tangan
“Astaga, beberapa anggota baru bergabung dengan kita belakangan ini.” Kata bibi Choi. Tuan Bae mengaku Itu membuat semangat.
“Jang Woo, kau tampak agak bingung hari ini.” Komentar Hyun Ji. Jang Woo menyangkalnya.
“Jang Woo... Apa Kau minum minuman panas?” tanya Tuan Bae. Jang Woo mengaku hanya minum es Americano sambil menahan malu 

"Saat aku sadar belum sempat memberitahumu bahwa aku mencintaimu sepenuh hati, kau sudah jatuh cinta dengan orang lain. Aku membungkam serenade bergairah di dalam hatiku saat kamu menjauh dariku.” Ucap Eun Sil
“Kau menyuruhku melupakan semuanya sebelum senyum manismu hilang dan hanya mengingat kecantikanmu, tapi bagi seorang pria, seorang wanita menandakan kebahagiaan atau kesedihan." Kata Eun Seil
"Cinta" oleh Cho Chi Hun.” Ucap Young Soo. Hwi bertanya  Apa itu. Young Soo menjawab Ini puisi.
“Hatiku sakit tiap kali mendengarnya.” Ucap Bibi Choi. Seung Ho beranya Kenapa hati Bibi sakit
“Apa cinta menyakitkan?” tanya Seung Ho.  Eun Sil mengaku kalau dirinya tak seperti itu tapi tak tahu dengan yang lainya.
“Jang Woo, apa cinta menyakitkan bagimu? Apa pujaan hatimu yang menolakmu menghancurkan hatimu?” ucap Eun Sil
Jang Woo yang sedang minum langsung tersedak, lalu meminta Eun Seob agar mengambilkan tissue. Hye Won pikir kalau ia saja yang mengambilkanya. 


Akhirnya Hye Won ke lantai atas mengambil kotak tissue lalu melihat laptop Eun Seob terbuka. Ia pun kembali membaca  "Buku Harian Toko Buku" dibagian "Kisah ke-130" dengan judul "Toko Buku di Laut"
"Hae Won, aku mengerti kau akan meninggalkan tempat ini suatu hari"
Wajah Hye Won langsung berubah membaca tulisan Eun Seob. Saat itu Hwi memanggil kalau ada telepon. Hye Won bingung bertanya Siapa. Hwi hanya mengatakan kalau dia bilang namanya Bo Yeong. Hye Won kaget dan akhirnya mengerti. 

“Begini... Kurasa Jang Woo mungkin...” ucap Eun Seob. Jang Woo langsung menyela kalau itu Tidak mungkin.
“Tidak, aku tidak pernah patah hati karena cinta. Aku bersumpah demi jalan sawah yang kulewati tiap hari.” Ucap Jang Woo terbata-bata. Semua pun hanya bisa tertawa mendengarnya.
“Tapi cinta bertepuk sebelah tangan itu menyedihkan.” Kata Seung Hoo. Semua bersorak mendengarnya.
“Itu yang kupelajari dari buku.” Akui Seung Ho. Semua langsung mengoda kalau tahu banyak hal.
“Seung Ho, kamu punya pacar?” ejek Bibi Choi. Seung Ho mengaku tidak.  Tapi bibi Choi pikir Seung Ho mengatakan hal itu. Seung Ho mengaku itu tak benar.
“Siapa gadis ini? Wajahmu memerah.” Ejek Tuan Bae. Seung Ho mengaku  - tidak punya pacar.

Pagi hari
Hwi sudah bersolek menunggu seseorang di pinggir jalan, saat itu Young Soo datang dengan sepedanya lalu Hwi pun langsung duduk di kursi belakang. Young Soo dengan wajah terpaksa akhirnya mengayuh sepeda. Hwi menyuruhnya agar lebih cepat lagi mengayuhnya.
Saat dijalan, Hwi pun meniupkan bunga terlihat seperti pasangan idaman remaja. Sesampai disekolah, Hwi pun penuh dengan semangat meminta agar semua memberikan jalan padanya. Beberapa anak terkena hukuman dan Hwi menyapa gurunya. Sang guru hanya bisa melonggo meihat Hwi berboncengan dengan Young Soo. 

Sebuah bus berhenti di "Pertigaan Bukhyeon" terlihat jurusan "Bukhyeon-ri, Pusat Kota Hyecheon, Desa Seohyeon" Hye Won duduk dibangku belakang lalu berkomentar kalau belum pernah meminta orang untuk bertemu di bus.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” ucap Hye Won melihat Bo Yeong yang duduk diujung bus.
“Aku memikirkan ucapanmu... Tentang betapa gila aku... Kau benar. Aku seperti itu... Aku sangat membencimu... Maksudku, pikirkanlah. Kau memutuskan hubungan denganku setelah satu serangan.” Ucap Bo Yeong
“Karena satu kesalahan... Kau bahkan tidak mau mendengarkanku.” Kata Bo Yeong mengingatnya. 

Flash Back
Bo Yeong mencoba mengejar Hye Won agar bisa menjelaskanya,  Hye Won tak peduli meminta agar melepaskan tanganya.
“Sekeras apa pun usahaku, kau bahkan tidak mau menatapku. Saat kudengar kau di sini, aku pergi menemuimu.” Akui Bo Yeong.
Flash Back
“Lalu.. Maksudmu kau masih tidak bisa memaafkanku?” ucap Bo Yeong saat mengejar Hye Won keluar dari cafe.
“Jadi, aku mulai menunggu.” Ucap Bo Yeong. Hye Won ingin tahu  Menunggu apa

“Menunggu berakhirnya pengampunanmu. Lalu kau akan menjadi orang yang picik dan dingin, dan aku akan menjadi orang yang menyedihkan, yang dikasihani semua orang” ucap Bo Yeong
“Kau bilang "Satu serangan"? Bo Yeong... Mungkin hanya satu serangan bagimu, tapi bagiku, itu fatal. Aku memberitahumu rahasia terbesar dalam hidupku, dan kau tidak merahasiakannya.” Tegas Hye Won
“Kau mungkin mencoba membela diri dengan mengatakan kau hanya memberi tahu Joo Hee, tapi karena kau bilang bahwa satu orang...” ucap Hye Won
“Aku tidak berpikir seperti itu... Maafkan aku... Tapi aku terus berpikir bahwa itu hanya satu kesalahan. Jadi, aku membencimu. Aku yakin kamu tidak membenciku. Kau hanya tidak menyukaiku.” Ucap Bo Yeong
“Apakah berbeda?” tanya Hye Won. Bo Yeong mengaku itu berbeda.
“Kau bisa tidak menyukai siapa pun, tapi kau hanya bisa membenci seseorang yang kamu sukai. Aku sangat menyukaimu.” Akui Bo Yeong. 

Flash Back
Bapak guru memberitahu kalau Ada murid pindahan baru yang namanya Namanya Mok Hae Won dari Seoul. Bo Yeong langsung menyukai sosok Hye Won saat datang pertama kali ke kelas memujinya cantik.
“Penggilingan dan penginapan berbeda?” tanya Hye Won saat pertama kali berbicara dengan Bo Yeong.

“Kau sangat manis. Pasti karena itu, aku terus berusaha keras dan menemuimu. Meski kamu memutuskan untuk tidak menyukaiku dan tidak pernah memberiku kesempatan kedua karena kamu hanya begitu peduli kepadaku.” ucap Bo Yeong lalu akhirnya menuruni bus membiarkan Hye Won sendiri. 


Flash Back
Bo Yeong pun mengajak kenalan pertama kali pada Hye Won. Ia pun mengajak Hye Won satu tim bersama saat olahraga. Bo Yeong pun memberikan payung untuk Hye Won karena tinggal di dekat sini, jadi bisa langsung pulang.
Hye Wo memanggilnya, tapi Bo Yeong sudah berjalan dengan menutupi kepalanya dengan tas memlambaikan tangan akan bertemu esok. 

"Toko Buku Good Night"
Eun Seob mengangkat telp di toko lalu terlihat kaget mendengar nama  Jung Gil Bok. Ia bergegas pergi ke rumah sakit pergi recepitionist  mengaku datang untuk menemui Pak Jung Gil Bok lalu melihat Seung Ho berdiri sendirian.
Akhirnya Eun Seob pergi menemui Seung Ho dan melihat Tuan Jung berbaring dengan alat bantu nafas.  Perawat memberitahu kalau Tetangganya menemukan Tuan Jung di jalan dan membawanya kemari.
“Ini bukan masalah serius, tapi dia harus dirawat beberapa hari. Tapi dia bersikeras untuk pulang Kurasa dia mengkhawatirkan biaya rumah sakitnya.” Ucap Perawat. Eun Seob menatap Tuan Jung.

Seung Ho hanya bisa tertunduk di ruang tunggu. Eun Seob meminta agar Seung Ho Jangan terlalu khawatir karena kakeknya akan segera sembuh. Seung Ho bercerita kalau pernah punya kelinci di sekolah.
Flash Back
Semua teman-teman Seung Ho bermain dilapangan, tapi Seung Ho sibuk memberikan makan kelinci yang ada dikandang.
“Mereka manis sekali... Tapi mereka sudah mati. Bagaimana jika hal yang sama terjadi kepada kakekku?” ucap Seung Ho menangis sedih
“Dia akan baik-baik saja... Aku berjanji... Aku akan membantumu...” Ucap Eun Seob memeluk erat Seung Ho. 
Eun Seob mengantar Seong Ho ke rumah Hye Won, Seung Ho terdiam didalam mobil. Eun Seob pun menyakinkan akhirnya keduanya pun turund dari mobil lalu mengantarkanya pada Hye Won. 


Di malam hari, Hye Won dan Seung Ho memakai krim bersama-sama. Seung Ho terlihat bahagia bisa bermain dengan Hye Won dengan menepuk wajahnya. Keduanya akhirnya turun ke lantai bawah. Ji Yeon menyiapkan piring meminta agar bibi Sim mengeluarkan selimut nanti
“Ya, Ji Yeon, tapi aku bukan Bibi. Aku Kak Myeong Yeo.” Ucap Bibi Sim.
“Itu benar... Panggil Kak Myeong Yeo dengan nama depannya. Jangan panggil dia Bibi.”kata Seug Ho
“Dewasalah. Apa salahnya dipanggil Bibi?” keluh Hye Won kesal. Bibi Sim berkomentar kalau Orang tua Eun Seop masih memperlakukan Hye Won  seperti gadis SM padahal lulus SMA beberapa tahun lalu.
“Itu karena aku masih seperti gadis SMA.” Ucap Hye Won bangga. Ji Yeon mengeluh Hye Won itu masih punya kulit gadis SMA dan ingin tahu rahasianya.
“Seung Ho, buku apa itu?”tanya Ji Yeon. Seung Ho menjawab "Burung Hantu di Rumah". Ji Yeon pun meminta izin agar bisa melihatnya. Seung Ho pun memberikanya.
“Itu kisah tentang Teh Tetes Air Mata.” Ucap Hye Won. Seung o membenarkan.
“Tiap kali burung hantu memikirkan hal sedih dan menangis, dia mengumpulkan air matanya dalam cerek dan membuat Teh Air Mata. Ini cerita tentang cara burung hantu melupakan kesedihannya.” Cerita Seung Ho
“Kalau begitu, apa kita buat Teh Air Mata juga?” ucap Bibi Sim. Seung Ho tak percaya bibi Sim sungguh punya Teh Air Mata. Bibi Sim mengaku punya.
“Tunggu. Kamu menyebut Eun Seop sebagai paman, tapi memanggil Bibi Myeong Yeo "Kakak"?” ucap Eun Sil heran 
“Tepat sekali... Aku merasa jauh lebih baik sekarang... Bibi, kami sangat risih.” Keluh Hye Won
“Sekali teman, tetap teman. Benar kan?”kata Bibi Sim. Seung Ho menganguk setuju.
“Seung Ho, bukankah tidak nyaman memanggilnya "Kakak"?” kata Hye Won. Seung Ho mengaku tidak.
“Kamu harus jujur... Matamu gemetar.” Kata Hye Won. Bibi Sim pikir kalau Seung Ho hanya takut pada kacamata hitamnya.
“Kami akan memanggilmu "Kakak" juga.” Ejek Ji Yeon. Mereka akhirnya minum teh bersama dan meminta agar Jangan ganggu Seung Ho.



Bibi Sim duduk didepan laptopnya seperti ingin mulai menulis lalu teringat dengan yang dikatakan Tuan Cha sebelumnya.
Flash Back
“Apa Bisa beri tahu aku? Itu semua tidak benar?” ucap Tuan Cha.
“Jadi, itu tidak penting. Apa pun yang kamu percaya itu benar.” Kata Bibi Sim. Tuan Cha pikir bukan seperti itu.
“Ya. Itu yang sebenarnya, Cha Yun Taek.” Kata Bibi Sim. 

Pagi hari
Eun Seob menjemput Seung Ho dirumah Hye Won. Hye Won pun mengantarnya lalu melambaikan tanganya. Ji Yeon berteriak dari dalam agar memanggil bibi Sim karena saatnya sarapan.
Hye Won mengetuk pintu kamar bibinya, lalu masuk ke dalam karena tak ada sahutan. Ia kaget melihat bibinya yang sudah tergeletak dilantai. Ia pun mencoba membangunkan bibinya.
Bibi Sim membuka sedikit matanya dan Hye Won melihat satu mata bibinya yang buta. Hye Won histeris mencoba membangunkan bibinya yang tak sadarkan diri.
“Aku mengerti kau akan meninggalkan tempat ini suatu hari nanti. Aku sudah siap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi. Namun, saat kau meninggalkan tempat ini, Kuharap kau tidak pergi dengan berat hati. Kuharap kau bisa pergi sambil tersenyum bahagia. Kuharap... Kuharap kamu tidak terluka sama sekali. Kuharap begitu.” 

"Unggahan Blog Pribadi Toko Buku Good Night"
"Irene melihat buku harian pribadiku. Sial.. Kurasa dia melihat kategori buku harian toko buku. Aku tidak yakin seberapa banyak yang dia baca. Karena dia mengejekku soal kisah marshmallow”

“Kurasa dia membacanya sampai bagian dia tiba di Bukhyeon-ri. Berapa banyak yang dia baca setelah itu?. Tidak akan ada yang terjadi meski dia membaca semuanya. Tapi aku hampir gila karena malu"
Bersambung ke episode 14

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar