PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 01 April 2020

Sinopsis When the Weather is Fine Episode 10 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


Eun Seob sibuk membuat sesuatu lalu memanggil Hye Won. Hye Won langsung melonggo dari belakang. Eun Seo memberitahu kalau harus membungkuk dan mengambilnya. Hye Won pun mempersilahkan. Eun Seob bingung karena posisinya yang tak tepat.
“Ya, kau bisa membungkuk.” Ucap Hye Won. Eun Seob pun menncoba tapi posisinya yang sangat memepet tak bisa membungkuk. Hye Won hanya bisa tertawa.
“Kau menggodaku, bukan?” ucap Eun Seob. HyeWon menyangkal karena hanya ingin dekat dengannya.
“Aku tidak sebodoh itu.” Kata Eun Seob. Hye Won sudah tahu dengan menahan senyumanya.
“Jang Woo adalah orang cerdas.” Ucap Hye Won. Eun Seob juga berpikir seperti itu. Keduanya pun saling menatap dan bibir mereka akan saling menempel tapi terikan Hwi membuat keduanya langsung mendorong dengan wajah panik. 


Hwi bergegas masuk memanggil kakaknya tapi melihat Eun Seob dan Hye Won seperti gugup setelah melakukan sesuatu. Hye Won pun mencoba tenang menyapa adik dari Eun Seob. Tapi Hwi melihat keduanya bertanya Apa-apaan itu tadi, Apa yang terjadi di sini. Hyun Ji pun datang bertanya apa maksud ucapnya.
“Hyun Ji, kurasa aku baru saja melihat sesuatu yang aneh.” Ucap Hye Won. Hyun Ji ingin tahu apa yang dilihat oleh Hwi.
“Eun Seop dan Hae Won...”ucap Hwi. Eun Seob langsung menyangkalnya dengan wajah panik.
“Kurasa mereka makan sesuatu... Aku mencium sesuatu.” Ucap Hwi. Euns Seob dan Hye Won hanya bisa menahan senyuman.
“Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi Kak Eun Seop, Hwi diusir dari toko sepeda hari ini.”kata Hyun Ji.
“Hei, jangan beri tahu dia.” Keluh Hwi. Tapi Hyun Ji tetap membahas kalau Eun Seob pasti tidak tahu betapa bodohnya Hwi itu.
“Dia pikir sadel 300 dolar hanya seharga 30 dolar.”ucap Hyun Ji. Hwi menyuruh temanya untuk tetap diam. Eun Seob hanya bisa tersenyum melhat tingkah adiknya.
“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Hyun Ji. Hwi mengaku  ingin mencuri dompet Eun Seop, tapi karena kakaknya di sini, jadi tidak bisa lagi.
Eun Seob menganguk dengan senyuman, Hyun Ji mengerti dan mengajak pergi saja. Hwi setuju karena sangat lapar mereka juga harus makan lalu keluar toko. Hye Won pun mengajak Eun Seob duduk dipangkuanya untuk melanjutkan yang tadi. Eun Seob hanya bisa tertawa. 


"Episode 10, Mari Mengadakan Acara"
Di depan "Terminal Bus Hyecheon" beberapa orang turun dan akhirnya seorang pria berjalan dikota dan melihat beberapa orang sedang mengobrol lalu bertanya Apa tahu di mana Pak Lim Jong Pil tinggal. Si pria memastikan namanya. Lim Jong Pil
“Lim Jong Pil... Apa Maksudnya, Jong Pil?” kata Si pria. Pria lain pun merasa memang oran itu yang dicari.
“Kenapa kamu ingin menemuinya?”ucap Si pria. Pria yang wajahnya seperti ayah Eun Seob hanya menatapnya. 

Di sebuah toko pekakas yang memberitahu kalau mereka punya segala macam sekrup, saat itu ponsel berdering.  Si pemilik pun mengangkatnya, pria diseberang telp memberitahu Ada yang mencari Jong Pil.  Si pemilik kaget ada yang mencari Tuan Im.
“Jong Pil? Bukankah itu... Nama ayah Eun Seop? Siapa yang mencarinya?” ucap si pria. Pengunjung toko mendengarnya seperti merasakan sesuatu.

Tuan Im sedang bermain billiard dengan teman-temanya dan bolanya tak masuk, salah seorang pria sedang mencatat dibukunya kalau Kosmos... Harganya 17 dolar lalu meminta agar memberikan tanda tangan pada pemilik billiard.
“Hei, ambil kotak pengantaranmu dari meja biliar.” Kata si Pemilik. Si kurir pun mengerti.
“Hei.. Bedebah... Cepat sodok.” Teriak Tuan Im kesal melihat temanya yang tak mulai juga memainkan bola
“”Tunggu sebentar. Aku harus menghitung sudutnya.” Kata si pria yang sebelumnya sangat marah pada Tuan Im.
“Apa yang harus dihitung? Sodok saja.” Keluh Tuan Im. Si pemilik melihat kurir yang menatap orang yang adu mulut menyuruh agar mengambilnya dan pergi
“Bukankah itu Jong Pil? Seseorang mencarinya.” Ucap si kurir jajangmyung. Tuan Im dan temanya masih saja terus adu mulut. 

Si pemilik kaget mengetahuinya, akhirnya memanggilnya Jong Pi agar mendekatinya. Tuan Im pun diberitahu kaget kalau Seseorang mencarinya. Si pemilik membenarkan kalau orang itu Di terminal bus. Tuan Im ingin tahu siapa.
“Mereka menyebutkan dia terlihat seperti pria itu. Kau tahu, Eun Seop...” ucap Si pria dan terhenti karena temanya keluar dari billiard.
“Hei, jangan berpikir kau bisa kabur. Kita akan pergi ke kedai Jin Ju untuk minum lagi.” Kata si pria dan mengajak Tuan Im agar pergi.
Tuan Im hanya bisa diam saja lalu bergegas pergi sambil mengucapkan terimakasih. 

Hyun Ji menunggu didepan rumah, memanggil Hwi tapi belum juga keluar rumah.  Ia mengeluh Hwi yang lama sekali keluar dan kembali memanggilnya sambil membuat puisi singkata “Lim seperti dalam "limbo". Hwi seperti dalam "siulan"!
“Hei, Kwon Hyun Ji!” panggil Hwi akhirnya keluar saat Hyun Ji akan pergi sambil mengeluh kalau dingin sekali.
“Hei... Siapa pria itu?”tanya Hyun Ji melihat sosok pria seperti ayah Eun Seob yang berjalan dengan wajah dingin.
“Astaga, apa kau menyukaiku? Hei...tu tidak bagus.” Ejek Hwi mencoba mengalihkan lalu menatap si pria yang merasa kalau wajahnya pernah dilihatnya. Hyun Ji bertanya ada apa. Hwi mencoba tak mengubrisnya.
 “Bukankah ini kali pertama kita mengunci lengan seperti ini?” ejek Hwi. Hyun Ji mengeluh agar temanya diam saja. 

Hye Won terbangun di pagi hari menatap wajahnya dicermin lalu membuka perhiasanya untuk dipakai. Sesampai ditoko buku melihat Eun Seob masih tertidur pulas disofa, lalu mencoba membangunkanya. Eun Seob masih saja tak membuka matanya.
“Eun Seop... Bangunlah dan bermain denganku... Aku bosan. Kumohon?” ucap Hye Won. Eun Seob masih saja terdiam.
Hye Wo akhirnya bermain-main dengan rambut Eun Seob membela tengah rambutanya dan membuatnya tertawa. Eun Seob masih saja tertidur lelap.
Akhirnya Hye Won pun mengusili Eun Seob dengan memakain tangan Eun Seob menyentuh lubang hidung lalu menyentuh ke arah mulutnya. Eun Seob akhirnya terbangun. Hye Won pun tertawa melihatnya. Eun Seob kaget melihat Hye Won sudah ada ditoko.
“Apa itu enak? Bagaimana rasanya?” ucap Hye Won dengan tawa bahagia. Eun Seob mengeluh apa yang dilakukan tapi ikut tertawa sambil mengelus kepala Hye Won.
“Rasanya aneh.” Ucap Eun Seob. Hye Won masih saja tertawa menyuruh bangun. Eun Seon mengeluh Hye Won itu jahat tapi hanya bisa tertawa.


Eun Seob membuat kopi melihat Hye Won yang sedang berlatih jarinya yang memainkan musik klasik dari depan laptop. Ia lalu berkomentar kalau Hye Won memang bersinar. Hye Won tak mendengarnya. Eun Seob pun malu tak mau membahasnya.
“Eun Seop. Apa Mau kumasakkan sesuatu?” ucap Hye Won. Eun Seob tak percaya Hye Won akan masak.
“Kenapa reaksimu seperti itu? Aku pandai memasak. Setidaknya aku lebih baik daripada bibiku... Aku serius. Aku tidak memasukkan ham ke doenjang-jjigae...” ucap Hye Won 

Sementara bibi Sim masih saja memasak seperti sedang belajar dan melihat kalau masakan itu terlalu amis dan bertanya-tanya Apa yang salah. Saat itu telp rumahnya berdering, Tuan Cha  berbicara kalau Hampir mustahil mendapatkan nomor teleponnya.
“Kau jelas sangat serius ingin melindungi kehidupan pribadimu.” Ucap Tuan Cha.
“Jangan basa-basi, Cengeng.”ejek Bibi Sim. Tuan Cha mengaku  menelepon soal kontraknya dan bertanya Apa yang akan dilakukan
“Aku tidak bisa menunggu terus.” Ucap Tuan Cha. Bibi Sim mengerti dan Tuan Cha ingin tahu keputusan Bibi Sim seperti sedang mengetes saja.
“Apa kamu akan melakukannya atau tidak?” ucap Tuan Cha. Bibi Sim langsung memutuskan akan melakukanya. Tuan Cha kaget mendengarnya.
“Tidak perlu jika kau keberatan.” Ucap Bibi Sim. Tuan Cha mengaku bukan seperti  itu dan tidak keberatan.
“Kirimkan kontraknya lewat surat tercatat, Cengeng.. Dalam sepekan.” Ucap Bibi Sim.
“Hei, tunggu.. Begini, biasanya kami tidak mengirim kontrak lewat surat tercatat.” Jelas Tuan Cha.
“Lalu apa yang kau pakai? Pos merpati?” ucap Bibi Sim. Tuan Cha  menjelaskan Budaya perusahaan mereka
“Kami semua suka bertemu dengan orang-orang. Itu sebabnya aku selalu bertemu langsung. Bagaimana kalau kau... Mampirlah ke kantorku kapan pun kamu sempat. Aku sangat sibuk, tapi akan meluangkan waktu untukmu. “ ucap Tuan Cha.
“Ada di Hoedong-gil di Paju... Pukul 6.18 pagi. Pukul 9.18,12.18, 15.18, 18.18, dan 21.18. Itu waktu kereta menuju kotaku.” Kata bibi Sim dingin
“Hei, maksudmu... Apa Aku harus datang ke tempatmu?” kata Tuan Cha tak percaya.
“Kurasa kau tidak mengerti. Orang yang meminta bantuan yang seharusnya pergi.” ucap Bibi Sim dan langsung menutup telp. Tuan Cha tak percaya Bibi Sim langsung menutup telpnya. 

Saat itu Hye Won datang bertanya apakah Bibi menandatangani kontrak untuk buku. Bibi Sim kaget bertanya kapan Hye Won masuk.  Hye Wo mengaku Baru saja dan bertanya lagi Bibi menandatangani kontrak untuk buku. Bibi Sim membenarkan.
“Tapi Bibi bersikeras tidak ingin menulis lagi. Bibi bilang tidak bisa memikirkan apa pun untuk ditulis. Bibi terus bicara soal kreativitas Bibi mengering. Ada apa dengan Bibi?” ucap Hye Won heran.
“Saat kau terpuruk, satu-satunya cara adalah naik. Bibi pernah dilanda kemiskinan. Omong-omong, kenapa kau mengambil itu? Bibi melihat kamu memegang wortel, kentang, dan tomat milik Bibi. Itu sangat mengganggu Bibi.” Ucap Bibi Sim curiga.
“Ohh.. Ini? Aku membeli ini.” Kata Hye Won mencoba menutupi bahan makanannya. Bibi Sim tak percaya Hye Won membeli bahan makananya.
“Aku membelinya saat tinggal di tempat Eun Seop. Ini milikku.” Kata Hye Won. Bibi Sim bisa mempercayai kalau Hye Won membelinya.
“Harus kuakui, aku sangat penasaran dengan buku baru Bibi. Terlepas dari hal lain, aku adalah penggemar novel Bibi. Saat buku itu terbit, mari kita...” ucap Hye Won. Bibi Sim pun menyela.
“Hei... Musim dingin akan segera berakhir Bukankah seharusnya kau bangun dari hibernasi? Bukankah awalnya kau bilang akan kembali saat musim semi?” ucap Bibi Sim. Hye Won hanya diam saja. 



Ibu Hwi kaget bertanya siapa. Tuan Im menjawab  Ayah kandung Eun Seop. Ibu Hwi terlihat shock. Saat itu Hwi keluar kamar berteriak bertanya di mana kaus olahraganya. Ibu Hwi langsung menjawab  Ada di laci bawah agar Hwi tak mendengarnya.
“Tapi dia sudah mati... Lalu siapa lagi?Apa Pamannya?” ucap Ibu Hwi. Tuan Im rasa seperti itu.
“Tapi semua orang di desa menggosipkan kembalinya ayah kandung Eun Seop.” Ucap Tuan Im
“Apa? Mereka menggosipkan itu? Astaga... tempat sialan ini. Aku tidak pernah menyukai tempat ini... Kota kecil ini... Saat sesuatu terjadi, orang-orang berkumpul dan bergosip.” Keluh Ibu Hwi marah
“Mereka bergosip tentang gelandangan yang tinggal di gunung. Saat dia datang ke kota untuk bekerja, mereka juga bergosip tentang hal itu. Entah pria itu punya anak laki-laki atau tidak, itu juga menjadi topik gosip mereka.” Ungkap Ibu Hwi makin emosi.
“Begitu pula jika kita menerima anak itu atau tidak. Mereka bergosip tentang segalanya! Maksudku, pria itu sudah mati bertahun-tahun lalu. Aku tidak percaya orang-orang ini masih ingat wajah pria itu. Astaga, aku muak dan lelah dengan hal ini.” Ucap Ibu Hwi.
“Omong-omong, kenapa pria itu mencarimu?” kata Ibu Hwi. Tuan Im pikir  Sepertinya dia ingin bertanya di mana Eun Seop.
“Tapi dia belum datang... Jadi, mungkin dia sudah pergi ke toko buku.” Kata Tuan Im.
“Untuk apa dia ke sana? Kenapa? Mau apa dia di sana? Apa lagi sekarang? Apa Untuk memeras uang dari Eun Seop lagi? Bahkan kali terakhir, dia mengambil banyak uang dari Eun Seop, dengan alasan dia ingin membeli perahu.” Kata Ibu Im kembali emosi.
“Saat kakinya terluka, dia butuh uang untuk membayar rumah sakit. Alasan apa yang akan dia berikan kali ini?.. Astaga, Eun Seop bahkan tidak punya banyak uang. Kenapa dia terus muncul?” ucap Ibu Hwi.
“Astaga, tidak mungkin... Aku yakin dia tidak akan begitu lagi.” Kata Tuan Im yakin
“Baiklah. Uang tidak penting. Tapi dia terus... Dia terus mengajak Eun Seop ke laut bersamanya...” ucap ibu Hwi terhenti karena Hwi datang untuk pamit berangkat ke sekolah. Ibu Hwi pun mempersilahkan agar pergi. 



Hwi mengayuh sepedanya lalu berhenti sejenak dan mengingat yang dikatakan ibunya. “Apa maksudmu? Tapi dia sudah mati. Lalu siapa lagi? Pamannya?” Ia lalu mengingat saat melihat pria yang mirip dengan ayah Eun Seob dimalam hari jadi merasa yakin pasti orang itu. 

"Toko Buku Good NIght"
Hye Won datang melambaikan tanganya pada Eun Seob yang menunggu didepan tko. Senyuman Eun Seob pun terlihat, melihat Hye Won datang dengan bahan makanan. Tapi saat itu si pria datang dengan tatapan dingin memanggil Eun Seob.
Eun Seob langsung berubah wajahnya, seperti tak suka melihatnya. Hye Won pun heran melihat Eun Seob yang menatap pria yang tak dikenalnya dan sangat dingin. 

Eun Seob pun membuat kopi untuk pamanya. Sang paman berpikir sudah lima tahun yaitu sebelum Eun Seob menjalani wajib militer dan iytu kali terakhir mereka bertemu, Eun Seob berpikir seperti itu.
“Apa sudah membeli kapal?” tanya Eun Seob. Si pria mengaku belum. Eun Seob terlihat menahan rasa kecewa.
“Tapi... Aku menemukan ini... Apa Kau punya ini juga? Foto itu diambil pada hari yang sama...Aku yang mengambil foto ini.” Ucap Paman Eun Seob. Eun Seob mengeluarkan foto dengan ayahnya juga yang masih disimpan.
“Ikutlah denganku sekarang.” Kata si paman. Eun Seob bertanya Ke mana. Si paman mengaku itu agak jauh dari sini.
“Jika kita harus berlayar, aku...” ucap Eun Seob yang langsung disela oleh pamanya.
“Begini... Kurasa hal seperti itu. Jadi Sadarlah, Nak. Hanya aku keluargamu.. Apa Kau tidak lihat? Darah yang mengalir di nadimu sama dengan darah yang mengalir di nadiku. Karena itulah kita terhubung.” Ucap Paman Eun Seob. Eun Seob pun hanya diam.
“Kau kembali demi ibumu... Kau merawatnya selama tiga tahun, bukan? Kau tahu apa artinya? Pada akhirnya, yang penting adalah keluarga. Apa Kau mengerti? Kau tetap bersikap sopan dan dengan hormat kepada orang tuamu, kan?” ucap Paman Eun Seob.
“Kau seperti itu karena mereka bukan keluarga aslimu. Karena mereka bukan keluarga aslimu.” Ucap Paman. Eun Seob hanya diam saja. 



Di depan toko, Hwi mencoba menguping ingin tahu"Asli" apa maksudnya. Lalu berteriak kesal pada anjing yang menggonggong. Hye Won datang melihat Hye Won. Hwi kaget melihat Hye Won yang sudah ada di belakangnya.
“Sedang apa kau di luar?” tanya Hye Won dan saat itu paman dan Eun Seob keluar dari toko. Hwi panik langsung bergegas pergi.
“Apa Anda sudah selesai bicara?” tanya Hye Won menyapa dengan ramah, tapi si pria langsung menatap dingin.
“Hye Won.. Aku...” ucap Eun Seob ragu. Hye Won meminta Eun Seob agar mengatakan saja.
“Aku harus pergi ke suatu tempat.” Ucap Eun Seo. Hye Won bertanya Ke mana
“Hanya ke suatu tempat... Aku mungkin tidak akan kembali hari ini. Apa Tidak apa-apa?” ucap Eun Seob. Hye Won menjawab tidak boleh. Si paman langsung menatap sinis.
“Tapi silakan.” Kata Hye Won ketakutan. Eun Seob pikir mereka juga harus bersiap untuk pasar loaknya.
“Aku akan mencoba menyiapkannya sendiri.” Ucap Hye Won akhirnya mempersilahkan pergi.
“Lim Eun Seop! Jangan pergi, tidak boleh pergi! Tetap di sana! Tamatlah riwayatmu jika pergi!” teriak Hwi lalu bergegas pergi. Hye Won bingung Ada apa dengannya.
“Dia tampak cukup kesal.” Ucap Eun Seob. Hye Won pun hanya bisa diam saja. 


Hwi bergegas masuk kedalam rumah memanggil ibunya, Ibu Hwi melihat anaknya pulang langsung memarahi anaknya yang  kembali dari sekolah dan bolos sekolah lagi. Hwi mengaku bukan dan meminta agar ibunya bisa mendengarnya.
“Sudah ibu bilang... Setidaknya rajin di sekolah jika nilaimu tidak bagus. Apa yang kau pikirkan?” ucap Ibu Hwi. Hwi memohon agar ibunya menunggu sebentar.
“Eun Seop akan kabur.” Ucap Hwi. Ibu Hwi kaget dan ingin tahu memastikanya.
“Paman itu, atau siapa pun dia, datang dan menyuruh Eun Seop ikut dengannya.” Ucap Hwi
“Apa Dia tidak meminta uang?” tanya Ibu Hwi. Hw mengeluh ibunya membahas Uang apa.
“Ini lebih gawat daripada uang. Dia akan membawa Eun Seop ke suatu tempat. Mereka membahas keluarga dan darah.” Ucap Hwi dan saat itu Tuan Im datang
“Apakah Eun Seop benar-benar mengikutinya?” tanya Ibu Hwi. Hwi mengaku Eun Seob mengikutinya tanpa ragu.
“Akan lebih baik jika dia mengambil uang dari kita. Aku kesal sekali!” ucap Hwi kesal lalu keluar dari rumah.  Tuan Im hanya bisa diam saja mengetahui keadaanya sekarang. 


Eun Seob akhirnya mengikuti pamanya pergi naik bus "Hyecheon, Gangneung”  Di halte bus, datang sebuah bus jurusan “Bukhyeon-ri, Pusat Kota Hyecheon, Desa Seohyeon" Beberapa orang melihat selembaran yang tertempel yang membahas tentang Pasar loak yang Kedengarannya menyenangkan.
Flash Back
"Beberapa hari lalu"
Bibi Choi mengusulan untuk mengadakan acara. Tuan Bae ingin tahu acara apa. Bibi Choi menjawab Pasar loak. Jang Woo mendengar "Pasar loak" berpikir kalau memberikanya ide untuk acara balai kota.  Bibi Choi mengaku memikirkan skala yang lebih kecil.
“Apa itu "pasar loak"?” tanya Seung Hoo. Hwi mengaku tahu kalau  Ini seperti berbagi, bertukar, dan menggunakan barang bekas.
“Tidak, bukan itu, Hwi.” Ucap Hyun Ji. Hwi langsung terlihat cemberut.
“Su Jeong, pasar loak menjual barang yang tidak kau pakai.” Jelas Tuan Bae. Nyonya Choi membenarkan.
“Itu tidak bagus. Aku menggunakan semua yang kumiliki.” Kata Bibi Choi mulai memikirkanya.
“Kau juga bisa menjual barang yang bisa kamu buat. Bukan begitu, Eun Seop?” kata Hye Won mengoda. Eun Seob membenarkan dengan senyuman. 


Spanduk bertuliskan "Sampai musim semi datang setelah musim dingin,” dan juga ada “Pasar Loak Toko Buku Good Night" Sudah banyak orang yang berkumpul dan cukup ramai dalam tenda. Jang Woo sibuk mengambil gambar dengan cameranya.
Seung Ho dan kakeknya menjual makan yang dibakar dan juga permen. Hyun Ji duduk di bawah tenda dengan wajah cemberut. Jang Woo mengeluh dengan Hyun Ji terlihat sangat marah jadi meminta agar bisa cerita sedikit.
“Bagaimana kalau menjual pai atau selimut, Bibi Su Jeong? Kurasa banyak orang akan membelinya.”saran Hye Won
Bibi Choi pu menjaul makanan dengan harga  Lima dolar saja. Hyun Ji pun ingin tahu apa yang akan dijual nanti saat pasar loak itu. Hwi langsung menyarankan temanya pilih kaligrafi saja karena pandai melakukan itu.
Ji Yeon datang ke tenda Hyun Ji dengan wajah sumringah. Hyun Ji ingin tahu apa yang harus dituliskanya. Ji Yeon meminta agar Hyun Ji menuliskan untuk putranya yaitu "Jun Yeong, ibu menyayangimu."
“Apa Ayahnya tidak menyayanginya?” tanya Hyun Ji dingin. Ji Yeon terlihat bingung. Akhirnya Hyun Ji menuliskan"Jun Yeong, ibu menyayangimu, Ayah tidak menyayangimu"
Seung Ho pun ingin tahu apa yang akan dilakukan dengan kakeknya dan bertanya pada Hye Won. Di pasar loak Seung Ho menjual makanan  yang dibakar dan kakeknya membuat permen.  Seung Ho memberitahu kalau ia juga membuat  bubur kacang merah dan juga daun bawang panggang.
“Aku bisa menjual lampu yang ada di gudang dengan harga murah.” Ucap Tuan Bae.
Tuan Bae membawa semua jenis lampu dalam tenda lalu memberitahu kalau akan memberi diskon apabila membelinya. Hwi disudut tenda hanya diam saja dengan wajah ditekuk. Seorang wanita bertanya ingin tahu harganya. Hwi tak mengubrisnya.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia diam saja?” ucap dua orang wanita akhirnya memilih untuk pergi.
“Hwi, berapa banyak yang sudah kau jual?” tanya Jang Woo mendekat. Hwi meminta agar Jang Woo menjaganya  karena akan pergi ke toko buku
“Apa Kamu mau ke toko buku, dan aku harus mengambil alih? Hwi!” teriak Jang Woo bingung akhirnya terpaksa menjada tenda buku.
Saat ada pembeli bertanya harganya, Jang Woo terlihat binggung memberikan hargnya. 
“Aku tidak pernah merencanakan acara sesempurna ini seumur hidupku. Itu membuatku bertanya-tanya...”
Jang Woo melihat seseorang turun dari mobil, si Pria memuji Jang Woo kalau sudah bekerja dengan baik. Jang Woo pun mengucapkan Terima kasih.
“Bagaimana jika Wali Kota terkesan dan mempromosikanku menjadi wakil wali kota?” ucap Jang Woo dengan wajah bahagia.
“Halo, Pak... Meski 50 juta orang di negara ini menghadiri acara itu,kurasa itu tidak akan terjadi.” Ejek Hyun JI
“Hyun Ji, apa kau membenciku, kan? Kita harus bicara... Kita harus bicara serius.” Ucap Jang Woo kesal. Hyun Ji pikir tidak dan semua pun tertawa.
“Apa semuanya sudah ditentukan?” tanya Eun Seob. Hyun Ji pikir belum karena mereka belum memutuskan apa yang akan dijual Hae Won.
“Begini.....Aku akan menjual buku karena bekerja di toko buku.” Ucap Hye Won.
“Dengan siapa?” Hwi. Hye Won pikir Siapa lagi sambil menatap Eun Seob. Hwi dan Seung Ho terlihat bingung. 


Ditoko buku terlihat sangat ramai, beberapa orang melihat buku-buku yang tampak menarik. Mereka melihat bagian buku yan uni muliai dari "Buku untuk orang modern yang depresi" lalu ada "Buku untuk dibaca di kamar mandi", "Buku untuk direkomendasikan kepada mantanmu" Bahkan ada "Buku untuk dibaca sambil minum kopi panas di hari musim dingin"
“Berapa harga yang ini?” tanya salah satu pembeli. Hye Won  memberika harganya.
“Ada yang bisa kubaca saat butuh istirahat dari sekolah?” tanya pembeli yang lain. Hwi yang sedari tadi dia saja langsung memberikan buku dengan harga 4 dolar 20 sen.
“Kau pandai melakukan ini.” Puji Hye Won dengan senyuman. Hwi dengan tatapan kosong mengajak Hye Won bicara.
“Apa menurutmu Eun Seop akan kembali?” tanya Hwi. Hye Won pikir tidak.
“Hae Won Unnie... Eun Seop akan pergi... Dengan pria itu. Ke tempat yang sangat jauh.” Ucap Hwi terlihat frustasi.
“Tidak. Dia bilang akan pulang malam ini. Katanya, dia menelepon ibumu untuk mengabarinya... Jadi, kamu tidak perlu khawatir...” ucap Hye Won seperti tak begitu khawatir.
“Unniie.. Eun Seop agak berbeda kali ini. Kurasa dia tidak akan kembali lagi. Aku yakin itu.” Ucap Hwi. Hye Won pun hanya bisa terdiam. 


Di tepi pantai, Paman Eun Seob mengatakan akan tinggal bersama Eun Seob mulai sekarang. Eun Seob hanya bisa terdiam. Sang Paman mengaku  ingin berhenti bekerja di kapal nelayan dan merasa mereka memang sudah lama tak bertemu.
“Kau sudah dewasa sekarang. Mereka membesarkanmu, dan kau tetap bersama mereka selama ini. Aku yakin kau sudah cukup berusaha.” Ucap si paman. Eun Seob ingin bicara tapi pamanya lebih dulu menyela,
“Apa Kau lihat gedung kecil di sana? Sewaktu kecil, kau adalah kutu buku. Tiap kali aku mengunjungimu, aku akan membawa buku, dan kau akan berkata...” ucap Pamanya
Di dalam rumah terlihat seorang wanita yang membacakan buku pada anaknya.  "Pada suatu hari, ada gunung yang besar, seorang anak laki-laki... Dan ibunya."
“Mereka sama seperti kita... Kau akan senang sekali. Karena itulah aku membelinya.” Ucap Paman. Eun Seob melhat papan nama yang akan dipasang "Toko Buku Good Night"
“Dengan uang yang kau kirimkan kepadaku selama bertahun-tahun, dan uang yang kuhasilkan untuk bekerja di kapal.” Cerita Paman
“Apa Kau membelinya? Bangunan itu?” tanya Eun Seob. Pamanya langsung berkata seperti sang ayah.
“Beberapa orang ditakdirkan hidup sendirian dari lahir sampai mati. Ayahmu adalah salah satunya. Dan Aku juga. Lalu Kamu juga.” Ucap Paman menyakinkan.
Saat itu Eun Seob melihat sang ayah yang duduk sendirian didepan rumah, seperti hanya hidup sendiri. Si ibu yang membacakan buku untuk anaknya akhirnya hanya duduk sendirian seperti sangat frustasi dan menatap sang anak yang lucu tapi wajahnya tak bisa tersenyum.
“Masalahnya, kita tidak bisa tinggal dengan siapa pun... Di sini... Pada akhirnya, ibumu menyerah dan pergi juga.” Ucap sang paman. Ibu Eun Seob seperti tak bisa tinggal dihutan akhirnya meninggalkan anaknya yan masih balita.
“Sifat itu mengalir di darah kita... Darah kita. Kita ditakdirkan hidup sendirian seumur hidup kita. Kita ditakdirkan seperti itu. Itu sebabnya aku ingin tinggal bersamamu sekarang. Pada akhirnya, kita berdua akan pergi. Bukankah kita harus tetap bersama sampai saat itu?” Ucap sang paman. Eun Seob hanya diam saja.
“Dengan begitu, kita tidak perlu terluka.Apakah menurutmu kamu berbeda?” kata sang paman.
Bersambung ke part 2



 Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar