PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 18 April 2019

Sinopsis My Fellow Citizens Episode 11

PS : All images credit and content copyright : KBS
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 



Jung Kook masuk ke dalam sebuah gedung dengan jas rapih berjalan ke ruangan "Pendaftaran Kandidat" dan menyerahkan berkas  "Yang Jung Gook, Independen". Wajah Jung Kook terlihat sangat serius, akhirnya Tim pemilu mengatakan Pendaftarannya sebagai  kandidat sudah diterima.
Joo Myung sudah ada di ruang kemenangan, Jung Kook datang dengan satu koper. Joo Myung berkomentar kalau Barang Jung Kook tidak banyak padahal ia sudah punya empat tas.
“Apa Kau sudah menyerahkan pendaftaranmu?” tanya Joo Myung. Jung Kook mengangguk sudah melakukanya.
“Kalau begitu, apa lagi yang kamu tunggu? Kau harus mulai berlomba.” Ucap Joo Myung. Jung Kook mulai berpikir. 

Jung Kook naik ke atas podium didepan wartawan dengan spanduk. "Konferensi pers pemilu sela 24 April" Ia dengan sangat yakin menyapa semua  Masyarakat Seowon, mengaku sebagai Warga Pemberani, bernama  Yang Jung Gook.
“Politisi kita telah mengecewakan masyarakat dengan perpecahan dan ketidakkompetenan. Aku juga, sebagai warga Korea, kecewa oleh para politisi negara kita. Aku merasakan kebutuhan atas politis yang bisa memahami masyarakat.” Ucap Jung Kook. Joo Myung duduk menonton melihat respon wartawan.
“Aku akan mengubah politik Korea yang dinodai dengan ketidakkompetenan. Aku akan makin mendekati dan berempati kepada masyarakat. Aku akan berubah..” kata Jung Kook. 

Nyonya Kim yang menonton saat makan siang terlihat shock karena Jung Kook tiba-tiba mencalonkan diri dari siaran TV.  Sang Jin yang melihat pidato Jung Kook hanya bisa tersenyum tak percaya melihatnya.
Dua anak buah Sang Jin pun tak bisa percaya kalau adik ipar ikut menjadi calon parlemen. Di dalam ruangan, Hoo Ja bisa tahu isi pidato yang akan dibacakan oleh Jung Kook.
“Aku akan berubah dari Warga Pemberani menjadi Politisi Pemberani. menjadi Politisi Pemberani. Jadi, aku, Yang Jung Gook” ucap Hoo Ja bisa mengingat semua yang akan dikatakan Jung Kook.
“Jadi, aku, Yang Jung Gook ingin memberi tahu kalian bahwa aku akan mengikuti pemilihan Anggota Majelis untuk mewakili Seowon dalam pemilu mendatang.” Ucap Jung Kook. 

Didalam ruangan, Siaran Press Jung Kook ditayangkan kalau Jung Kook akan menjawab pertanyaan wartawan. Mi Young mencoba untuk tak peduli dengan suaminya. Detektif Lee menonton TV terlihat santai. Detektif Na memanggil Mi Young kalau harus melihatnya. Sementara di TV, Jung Kook sedang menjawab pertanyaan wartawan.
“Aku Yoo Jae Hee dari KBC. Sebagai kandidat dengan pengalaman unik yaitu Warga Pemberani, kenapa Anda memutuskan untuk mengikuti pemilihan?” tanya wartawan
“Aku tertarik dalam politik sebelumnya... Setiap kali aku melihat penderitaan yang dialami orang-orang dari dekat...” ucap Jung Kook, sementara Mi Young melihat layar komputer milik Detektif Na.
“Ini dari kamera lobi Baekkyung Capital. Tanggal 3 April pukul 1.00..” ucap Detektif Na. Mi Young terlihat kaget wajah suaminya terekam CCTV.
Jung Kook terus menyakinkan kalau menjadi anggota majelis adalah kesempatan untuk membantu. Mi Young menatap wajah suaminya dilayar seperti tak percaya, melihat berita kalau Jung Kook akan mencalonkan diri menjadi anggota majelis.
“Aku So Min Kyung dari DBC Kang Soo Il dengan Partai Minjin dan Han Sang Jin dengan Partai Nasionalis juga mengumumkan diri mereka sebagai kandidat.” Ucap Wartawan.
Mi Young terdiam seperti tak percaya yang dikatakan Hoo Ja “Suamimu adalah penipu.” Jung Kook terlihat sangat percaya diri didepan podium.
“Mungkin mengejutkan karena aku kurang pengalaman dalam politik, tapi aku yakin itu mungkin juga menjadi kelebihanku. Aku yakin kalian akan memperlihatkan kepadaku bahwa aku bisa memercayai kalian terkait hal ini. Aku yakin jika aku memercayai kalian, dan memperlihatkan janji serta ketulusanku berdasarkan hal itu, aku punya peluang untuk menang.” Jelas Jung Kook meminta wartawan lain mengajukan pertanyaan. 


Mi Young dan Detektif Na duduk di kantin, beberapa polisi datang menyindir Mi Young kalau Suaminya  mengikuti pemilihan di Majelis dan akan menjadi istri Anggota Majelis. Mereka mengejek kalau  Tidak sembarang orang bisa menjadi Anggota Majelis.
“Dia mirip suamiku.” Kata Mi Young mencoba mengabaikan rekan kerja polisi lain, Detektif Na terlihat binggung hanya bisa terdiam.
“ Pria di video keamanan itu. Bukankah dia mirip dengan suamiku?” ucap Mi Young. Detektif Na mengaku  tidak yakin.
“Bagaimana mungkin? Dia sama persis dengannya. Bukankah karena itu kau menunjukkannya kepadaku?” ucap Mi Young
“ Aku yakin mereka hanya mirip saja. Bahkan keamanan di real estat palsu itu pasti bingung.” Kata Detektif Na.
“Keamanan apa? Siapa? Apa yang membuatnya bingung?” kata Mi Young yang kali ini binggung.
“Bukankah Detektif Lee sudah memberitahumu?” kata Detektif Na. 
menegaskan Mi Young tidak perlu mencemaskannya menurutnya utu adalah omong kosong seorang pria tua dan ia yang menilai itu. Mi Young ingin tahu apa yang dikatakan oleh pria itu.
Flash Back
Detektif Lee dan Mi Young tak sengaja bertemu dengan Hoo Ja saat akan menangkap penipu rumah dengan ruangan yang sudah kosong dan keduanya saling menatap dingin.
“Beberapa hari setelah mereka ditipu, aku pergi ke kantor keamanan gedung itu, berharap si Pelaku tertangkap kamera atau semacamnya. Tapi dia mengatakan mereka tidak punya rekaman. Seorang pria datang dan...” cerita Detektif Lee
Saati itu petugas keamanan kaget melihat seseorang yang datang langsung merusak CPU komputer. Si petugas keamanan terlihat kaget dan binggung.
“Dia menghancurkan komputernya dan mengambil diska keras atau sesuatu. Jadi, aku bertanya apakah dia melihat wajah pria itu. Aku bertanya kepadanya seperti apa rupanya, dan dia bilang pria itu tampak sama persis seperti suamimu, Warga Pemberani Yang Jung Gook.” Cerita Detektif Lee.
Jung Kook mengambil semua rekaman CCTV, lalu berjalan pergi. Si petugas mengintip dari balik pintu dan melihat sosok wajah Jung Kook dengan setalan jas panjang. Jung Kook akhirnya mendekati si petugas yang terlihat ketakutan.
“Maaf. Hanya ini uang tunai yang kumiliki.” Ucap Jung Kook memberikan uang pada sipetugas lalu pergi sambil menelp.
“Aku sudah mengurus rekaman kamera itu. Bersembunyilah sampai kau mendengar kabar dariku.” Kata Jung Kook di telp lalu berjalan pergi. 


Detektif Lee memberitau  kalau Itu sebabnya yang tidak memberitahu Mi Young. Detektif Lee pikir  Itu hanya omong kosong menurutnya untuk apa suaminya melakukan hal itu karena dalam yakin Jung Kook Itu Warga Pemberani. Mi Young hanya bisa terdiam, Detektif Lee hanya bisa tertawa seperti tak percaya. 

“Pemilu sela tinggal dua pekan lagi. Pemilu ini berlangsung di 12 wilayah dan menerima banyak perhatian di seluruh negeri. Apa Kau memprediksi apa yang akan terjadi?” ucap MC
Sang Jin pergi dari rumah dengan sepedanya, sementara Tuan Kim pergi dengan mobil dan terlihat tinggal di komplek mewah. Acara bincang-bincang pun membahas tentang Pemilu.
“Karena pemilu ini akan memengaruhi mayoritas partai di Majelis Nasional, aku menduga akan ada perang besar karena tidak ada yang bisa mundur. Terutama Seowon, satu-satunya kota besar yang mengadakan pemilu sela akan menjadi medan pertempuran.”
Sang Jin terlihat sangat menikmati mengemudikan sepeda, mobil Tuan Kang mengerem mendadak karena ada yang menyeberang jalan, Tuan Kang  langsung mengumpat marah.
“Itu wilayah penting. Seowon mungkin akan menjadi ekuator rakyat Korea.”
Sang Jin akhirnya sampai di gedung dengan sepeda lalu menyambut semua timnya dengan memperkenalkan diri. Ia menjabat semua tim kemenanganya dengan sangat ramah. Tuan Kang masuk ke gedung dan banyak yang terlihat segan dan membungkuk memberikan hormat.
“Karena itu pilihan Partai Nasionalis tidak biasa. Alih-alih Bae Min Yong, Pembicara di Majelis Kota Seowon, mereka menominasikan Han Sang Jin, pendatang baru dalam politik berusia 40 tahun. Sebaliknya, Partai Minjin menominasikan Kang Soo Il, yang menghabiskan bertahun-tahu sebagai pemimpin kota di dalam Seowon. Apa pendapatmu tentang pemilu di Seowon?”
“Aku memprediksi itu akan menjadi duel antara seorang politisi berpengalaman berusia 60-an dengan politisi baru berusia 40-an. Bagaimanapun, masih ada variabel. Pemilu adalah pertempuran melawan variabel.” Kata pengamat politik. 


Mi Young yang ada diruangan seperti ingin memastikan lagi dengan CCTV yang diduga mirip dengan suaminya.
“Saat kau mengatakan "variabel", apa kau merujuk kepada Yang Jung Gook?” tanya MC
“Ya, benar... Dia tidak punya pengalaman dalam politik dan masuk tanpa partai politik apa pun. Itu mungkin menjadi kekurangan baginya, tapi bukan hanya itu yang dibutuhkan dalam pemilu. Kelebihan terbesar Yang Jung Gook adalah kepercayaan orang-orang di dalam distrik.” Kata Pengamat politik.
Sementara Jung Kook mengemudikan mobilnya dan anak buah Hoo Ja terus mengikutinya bahkan sempat memberikan jempol untuk Jung Kook.
“Dia memiliki kepercayaan dan keyakinan publik, yang tidak bisa didapatkan oleh sebagian besar politisi. Tapi dia mendapatkannya melalui dua perbuatan baik yang konklusif.”
Jung Kook berjalan masuk ke lobby gedung, lalu masuk ke dalam lift terlihat poster wajah dirinya di nomor lima sebagai calon majelis.
“Berhubungan dengan itu, menurutku pemilu di Seowon akan menjadi pertarungan di antara mereka bertiga termasuk Yang Jung Gook. Menurutku, kandidat yang dapat bereaksi dengan cepat terhadap variabel akan menang.
Jung Kook masuk ruangan melihat timnya, Chalres, Seung Yi, Hoo Ja, Sek Par dan Tuan Choi.  Setelah itu mengajak mereka mulai rapat. Jung Kook duduk dibagian tengah, lalu terlihat standing bannernya bertuliskan "Seowon yang Diimpikan Masyarakat"

Dalam Tim Sang Jin, seorang wanita memberikan tabnya agar Sang Jin melihat lalu menjelasakan Pria yang mengatakan dan melakukan apa yang menjadi tugasnya, yaitu Talenta muda Han Sang Jin dan itu menurut pendapatnya.
“Bagaimana dengan "pekerja muda", alih-alih "talenta muda"? "Talenta" mungkin membuatku terkesan terlalu elite. Menurutku "pekerja" lebih baik... Bagaimana menurutmu?”ucap Sang Jin
"Pekerja" lebih baik. Pria yang mengatakan dan melakukan apa yang menjadi tugasnya. Pekerja muda, Han Sang Jin. Itu sempurna. Bukan begitu?” kata si pria. Mereka pun setuju dengan slogan tentang Sang Jin.
“Baik. Mari kita ganti menjadi "pekerja". Haruskah kita mendikusikan politik?” kata Sang Jin yang terlihat sangat bisa disegani anggotanya. 

Sementara di ruangan Tuan Kang, Seorang pria tua memberitahu Tuan Kang  akan membangun gedung tengara yang mewakili Inbuk-dong, yaitu Bangun sebuah pencakar langit dan sebuah taman di seberangny untuk menciptakan sebuah tempat untuk keluarga...
“Hei... Jangan bodoh. Ada taman di mana-mana. Kenapa kita membutuhkan area perbelanjaan lagi?.. Lupakan. Lupakan semuanya! Cari sesuatu yang bisa kugunakan melawan Han Sang Jin.” Ucap Tuan Kang marah
“Pemilu di Korea sangat sederhana. Kau cengkeram leher lawanmu dan gigit serta bertarung sampai mati!” tegas Tuan Kang


Si pria berkomentar tentang Sang Jin kalau  Itu negatif dan meminta agar mendengarkan dan Pikirkanlah, memberitahu Kang Soo Il adalah tambang emas, karena Tuan Kang itu menggunakan koneksi untuk menghindari wajib militer, mendaftarkan alamat-alamat palsu, dan pernah mengemudi saat mabuk.
“Dia melakukan semua hal kecuali pembunuhan. Kang Soo Il adalah penjahat sungguhan.” Kata si pria
“Tetap saja, jangan membahas itu. Itu kampanye kotor. Kita harus menang dalam isu-isu itu. Itu yang diinginkan masyarakat dari kita. Apa kau Paham? Mari kita kembali ke Waduk Inbuk.” ucap Sang Jin. 

“Kenapa kita membahas waduk? Tidak ada yang pergi ke sana! Itu selalu banjir dan bau. Jangan membuang-buang waktu untuk hal itu. Gali kekurangan Han Sang Jin saja! "Han Sang Jin mengatakan ini." "Orang tua Han Sang Jin mengatakan ini." "Saudara Han Sang Jin mengatakan ini." "Mereka mengatakan ini, mereka mengatakan itu." Itu yang aku inginkan!” jerit Tuan Kang marah.
“Hei... Apa ini kampanye pertamamu? Bagaimana jika kamu...” keluh Tuan Kang pada tim kemenanganya. 

“Akan kujelaskan dengan sederhana agar kau bisa mengerti. Pertama, kita gali lebih rendah ke dalam waduk itu seperti garasi bawah tanah untuk meningkatkan volumenya.” Kata Sang Jin dengan rencananya.
“Kita harus memasang banyak pompa untuk mencegah meluapnya air limbah.” Kata si wanita. Si pria pikir  Lalu itu tidak akan selalu banjir lagi Dan tidak akan bau.
“Benar. Jika kita menyingkirkan limbahnya, air bisa mengalir dengan aman sehingga orang-orang bisa berjalan di sana. Kemudian kita bisa membangun pusat kebugaran, perpustakaan, dan gedung konser...” ucap Sang Jin lalu disela oleh temanya.
“Hei..  Kompleks budaya terpadu.” Kata si pria dengan wajah senang menurutnya itu ide yang bagus dan memilih itu.
“Ide yang bagus... Ini awal yang bagus... Mari kita teruskan seperti ini. Berikutnya, mari kita diskusikan perumahan sangat sederhana. Apakah ada yang punya komentar?” ucap Sang Jin. 


Sementara Jung Kook diruangan yang akan memulai rapat hanya terdiam dan tak ada yang mulai berbicara. Tuan Kang yang ada diruangan mengeluh tentang Perumahan sangat sederhana, menurutnya itu bukan sebuah janji, menurutnya Orang-orang di area itu tidak akan menerimanya.
“Mereka akan marah dan melawan jika kita mencoba membangun perumahan sangat sederhana. Dasar bodoh. Orang-orang di sini memiliki hidup yang baik. Jangan mencemaskan mereka.” Ucap Tuan Kang
“Kita negatif. Negatif dalam semua aspek. Kita membutuhkan strategi dan taktik negatif...” tegas Tuan Kang. 

Si wanita yakin Tuan Kang akan menyerang dan akan menarik serangan negatif. Ia yakin Tuan Kang akan mengatakan "Han Sang Jin tidak memedulikan nilai properti. Dia akan mengusir orang-orang yang punya rumah ke jalanan untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak punya rumah."
“Siapa yang mengusir orang-orang ke jalanan? Dan memiliki perumahan sangat sederhana tidak akan menurunkan nilai properti. Semuanya hanya statistik.” Ucap si pria.
Sementara Jung Kook yang masih belum memulai rapat mengajak mereka untuk makan dulu. Hoo Ja dkk pun setuju. Seung Yi langsung mengeluarkan ponsel untuk memesan makanan.
“Kita tidak membicarakan statistik. Begitulah perasaan orang-orang. Apartemen bukan sekadar rumah orang lagi. Merek apartemen adalah reputasi mereka dan luasnya adalah gaji mereka.” Jelas si wanita. Sang Jin hanya bisa diam saja.
“Sang Jin, mari kita pikirkan kembali tentang perumahan sangat sederhana. Jika kamu membahasnya ke sebuah lingkungan orang kaya, maka kau akan digantung. Itu hal tepat untuk dilakukan. Aku tahu itu, tapi itu tidak bagus. Mari kita pilih hal-hal yang tampak bagus. oke?” kata si wanita menyakinkan.
“Menurutku kita harus mendengar pendapat semua orang. Tolong beri tahu aku pendapatmu tentang ini. Siapa yang belum bicara?” kata Sang Jin. 

Sementara Seung Yi sibuk memesan makan, Jung Kook mengatakan ingin makan jajangmyun. Sang Jin sedang mendengarkan pendapat memuji timnya memberikan ide yang bagus dan ingin tahu pendapat lainya.
Seung Yi menyebut ingin makan Jjamppong. Sang Jin pikir ucapan anggota lainya seperti benar  dan ingin mendengar yang lain.  Tuan Choi mengatakan ingin tahu mapo. Sang Jin baru saja mendengar ucapan berkomentar  Itu pendekatan yang berbeda tapi bagus dan meminta pendapat lain.
“Jjajang. Bukan. Jjamppong... Tidak. Separuh untuk keduanya.” Ucap Charles.
“Semua warga Korea merasakan hal yang sama.” Komentar Sang Jin meminta semua pendapat  yang lainya.
Seperti keadaan berbanding terbalik dengan Jung Kook yang memesan makanan sementara Sang Jin sedang rapat. Sementara Tuan Kang terlihat sangat marah menurutnya semuanya negatif, Sang Jin berkomentar kalau itu tampak keluar dari topik dan meminta pendapat lain.
Hoo Ja ingin memesan makanan, tapi Sek Kang menyela kalau Semua orang harus menyantap makanan yang sama karena itu akan datang lebih cepat. Sang Jin pikir pendapat yang lainya itu yang paling masuk akal lalu mengucapkan Terima kasih.
“Apakah semua orang sudah mendapat kesempatan? Mari kita akhiri diskusi di sini untuk saat ini dan beri aku waktu untuk memikirkannya kembali. Akan kupikirkan dengan sangat serius. Mari kita akhiri rapat di sini, Rapat diselesai.” Ucap Sang Jin terlihat sangat bersahaja berbanding terbalik dengan Jung Kook.  


Jung Kook dkk akhirnya makan terpisah, Seung Yi dkk makan Menu cina sementara Hoo Ja dan bersama dengan Tuan Choi makan mapo tahu. Charles heran karena Kim Joo Myung tidak hadir dan berpikir kalau sedang melarikan diri
“Untuk apa melakuan itu ? Dia akan datang. Pasti ada kemacetan.” Ucap Jung Kook yakin.
“Sun Hee ada di kantor.” Kata Sek Park memberitahu kakaknya. Wajah Hoo Ja terlihat tegang.
“Mari pergi begitu Kim Joo Myung datang. Kau tinggal di sini.” Perintah Hoo Ja pada Tuan Choi.
Joo Myung akhirnya datang mengeluh masuk ruangan yang bau makan dan menyuruh agar segera membuka jendela. Hoo Ja mengeluh Joo Myung yang datang terlambat. Joo Myung mengaku kalau terjebak kemacetan. Hoo Ja pun menyuruh Joo Myung agar berangkatlah lebih awal mulai besok. Joo Myung menganguk mengerti.
 “Mulailah bekerja.” Kata Hoo Ja menatap Jung Kook dkk lalu beranjak pergi. 
“Dia berbicara seperti memberikan perintah. Bedebah tidak sopan itu.” Keluh Joo Myung. Tuan Choi langsung menghadang mendengarnya.
“Apa yang kamu lihat? Apa kau marah karena aku menghina bosmu? Berhentilah membelalak kepadaku, Berandal. Matamu akan sakit. Penjahat selalu membelalak seperti itu. Mereka semua sama.” Ucap Joo Myung marah
“Ini Park Wang Go... Dia keponakanku Dia akan membantumu selama kampanye. Cepat Sapa dia.” Ucap Joo Myung pada Jung Kook. Wang Goo pun menyapa Jung Kook dengan saling berjabat tangan.

“Hei, dia mungkin terlihat seperti ini, tapi dia lulusan Harvard. Jurusan ekonomi. Dia pandai.” Ucap Joo Myung memuji. Jung Kook pun memujinya kalau itu sangat Keren.
“Tidak... Belajar adalah hal termudah.” Ucap Wang Go dan Joo Myung menyela agar mereka bisa mengobrol nanti jadi mengajak mereka bekerja.
“Bisakah kau melakukan apa yang kuperintahkan?” ucap Joo Myung. Jung Kook menganguk.
“Bisakah aku memercayaimu?” kata Joo Myung. Jung Kook yakin bisa mempercayainya. Akhirnya Joo Myung pun bisa mempercayai Jung Kook.
“Jadi, kau percayalah kepadaku... Percayalah hanya kepadaku sampai pemilu berakhir.” Tegas Joo Myung. Jung Kook menganguk mengerti.
“Kau harus Ingat ini... Ini Kim Young Sam dan ini Kim Dae Jung Hanya cengkeram ini, dan hanya lihat ini.” Ucap Joo Myung mengenggam satu tangan dan juga tangan satunya menunjuk ke arah atas.
“Maka kamu akan memenangkan pemilu dengan mudah.” Tegas Joo Myung. Jung Kook menganguk mengerti. 


Hoo Ja datang melihat Soo Hee sudah ada dalam ruangan lalu bertanya alasanya datang ke kantornya.  Soo He mengaku hanya Ingin saja karena sedang ada di dekat kantornya. Hoo Ja pikir mereka tidak cukup akrab hingga Soo Hee  mampir hanya karena kebetulan ada di dekat sini.
“Kenapa kau datang ke sini?” tanya Hoo Ja sudah tahu dengan sikap kakaknya yang terlihat licik
“Jin Hee bebas. Dia menerima pembebasan bersyarat. Dia bilang itu membutuhkan kurang dari sebulan. Hoo Ja kecil kita yang malang. Apa yang akan kau lakukan sekarang?” ejek Soo Hee.
“Langsung ke intinya saja... Kenapa Nomor Dua mengkhawatirkan hal tidak penting?” kata Hoo Ja dingin
“ Aku takut. Tapi bagaimanapun, aku tidak akan pernah bisa menghadapimu. Jin Hee satu-satunya yang bisa menjinakkanmu. Begitu dia bebas, aku akan meminta dia mengajari tata krama kepada Nomor Empat yang tidak sopan.” Kata Soo Hee pada Hoo Ja lalu melangkah pergi.
“Nomor Lima... Kau juga harus berhati-hati.” Ucap Soo Hee pada Sek Park. 


Sek Park melihat Sun Hee panik bertanya apa yang akan mereka lakukan sekarang.  Hoo Ja mengajak untuk pergi ke Cheongju nanti. Sek Park ingin tahu alasanya. Hoo ja pikir  Nomor Satu akan bebas jadi harus menyapa dia.

Mi Young berada didalam mobil terlihat gugup berada didepan gedung dengan spanduk besar bertuliskan "Lima, Yang Jung Gook" Didalam ruangan, Joo Myung memulai akan menganalisis sikap Jung Kook terhadap politik.
“Kami harus mengenalimu agar bisa menyusun strategi. Jawab dengan jujur, ya?” kata Joo Myung. Jung Kook menganguk mengerti.
“Pertama, apa pendapatmu tentang presiden?” ucap Wang Goo . Jun Kook memastikan kalau yang dimaksud Presiden negara mereka. Wang Goo membenarkan.
“Untuk apa dia menanyakan presiden negara lain?” keluh Joo Myung kesal.
“Aku tidak punya pendapat tentang... Aku belum pernah bertemu dengannya. Jadi...” ucap Jung Kook santai.
“Apa kau harus menemui orang itu untuk memikirkannya? Meski tidak pernah bertemu dengannya, maka kau bisa memikirkan seperti apa sosoknya. Lagi pula dia presiden.” Tegas Joo Myung kesal
“Haruskah aku mulai berpikir sekarang?” ucap Jung Kook. Joo Myung pikir lebih baik melupakan.
“Apa gunanya? Dia terpilih bertahun-tahun yang lalu... Hei. Lupakan soal orang. Mulailah membahas kebijakan... Dia tidak pernah bertemu dengan Kim Jong Un atau Trump.” Ucap Joo Myung
“Apa pendapatmu tentang deregulasi pasar tenaga kerja?” tanya Wang Goo. Jung Kook terdiam.
“Apa itu deregulasi?” tanya Seung Yi berbisik. Charles mengaku  tidak tahu.
“Mungkin itu cara membunuh pekerja. Aku belum pernah menggunakan metode itu.” Komentar Charles. Joo Myung bisa mendengar keduanya.
“Hei, kalian. Tutup mulut.  Kita mendikusikan deregulasi pasar, dan apa? Pembunuhan? Kau juga tidak tahu, kan?” ucap Joo Myung kesal
“Aku tidak seburuk mereka, tapi aku akan belajar. Berikan itu kepadaku.” Kata Jung kook mencoba membela diri. 



Di luar gedung, Mi Young terlihat ragu untuk masuk dan sempat keluar masuk dari mobilnya. Tapi akhirnya memberanikan diri masuk ke gedung tempat kemenangan Jung Kook. Sementara di ruangan, Joo Myung terlihat kesal menurutnya Tidak ada yang perlu ditanyakan karena Jung Kook tidak tahu apa-apa.
“Apa kau tahu presiden kita saat ini yang ke berapa?” ucap Joo Myung. Jung Koo menyebut Ke-21. Wang Goo memberikan tepuk tangan  membernakn.
“Mana mungkin itu benar?” keluh Joo Myung, saat itu Mi Young sudah masuk lobby dan naik lift dengan melihat poster foto suaminya.
“Beri tahu aku. Berapa?” ucap Joo Myung, Jung Kook menyebut ke 20. Joo Myung memastikan Joo Kook yakin. Charles meminta agar memberikan petunjuk.
“Hei. Keluarlah, paham? Apa kau tidak punya rencana?” sindir Joo Myung. Charles akhirnya menyebut presiden ke 72.
“Itu berarti Raja Sejong adalah Presiden pertama kita.” Komentar Wang Goo. Joo Myung yang kesal memilih untuk minum saja. 


Mi Young naik lift ke tempat Jung Kook dkk berkumpul Seung Yi dengan sangat yakin kalau sekarang Presiden keempat. Wang Goo berkomentar kalau Itu berarti Korea menjadi demokrasi 20 tahun yang lalu. Tuan Choi mengejek dengan tawanya kalau keduanya memang  Orang bodoh.
“Hei. Kami bisa mendengarmu.” Kata Seung Yi marah, Tuan Choi mengaku kalau memang  Itu tujuannya.
“Jangan meremehkan kami. Kau juga tidak tahu.” Ucap Seung Yi. Tuan Choi mengaku tahu kalau sekarang yang ke-16.
“Ke-19! Presiden ke-19!” ucap Charles melihat dari internet. Jung Kook yang mengeluh karena sudah melewatkan satu. Mi Young pun akan menuju ke lantai 5
“Hei. Kurasa pencarianmu salah... Dia benar. Memang yang ke-21. Itu yang kupelajari di Harvard.” Kata Wang Goo. Joo Myung tak ingin membahasnya meminta mereka berhenti.
“Jika dia mempelajarinya di Harvard, dia pasti benar.” Kata Jung Kook. Joo Myung kembali meminta agar berhenti membahasnya.
“Jadi, apakah ke-19 atau ke-21?” ucap Seung Yi. Jung Kook pikir  Harvard mengatakan yang ke-21, jadi, pasti 21.
“Sialan Sudah cukup!.. Kalian Keluar. Semua orang selain Jung Gook, keluar. Menjauhlah dariku!” ucap Joo Myung marah. Wang Goo akan ikut pergi.
“Kenapa kau pergi? Kau ajudannya.” Keluh Joo Myung, Wang Goo berdalih kalau hanya melakukan peregangan.
“Hamstring-ku tiba-tiba terasa keras. Astaga.” Kata Wang Goo sambil mengangkat kakinya. Seung Yi dan Charles sudah berjalan pergi.
“Kenapa kau tidak pergi, Penjahat?” kata Joo Myung pada Tuan Choi yang hanya duduk diam dikursi
“Aku di sini untuk mengawasinya. Siapa yang akan mengawasinya jika aku pergi?” ucap Tuan Choi
“Aku tidak peduli. Dengarkan aku, paham? Biarkan aku bekerja!” teriak Joo Myung marah. 


Sementara Charles dan Seung Yi akan keluar tetap membahas Presiden sekarang yang ke 19, lalu Charles kaget melihat Mi Young sedang melihat banner yang ada diujung lorong. Jung Gook sedang berbicara dengan Joo Myung.
“Aku tidak bisa menganalisis pendirian politikmu. Kau bukan Kiri maupun Kanan!” ucap Joo Myung. Charles memanggil Jung Kook tapi Jung Kook tak mendengarnya.
“Mi Young datang... Mi Young ada di luar!” kata Charles berbisik. Jung Kook akhirnya bisa mendengar dan melotot kaget.
“Kau benar-benar bodoh. Bagaimana aku bisa menganalisis pendirian politikmu? Kau Harap diam dan Tutup mulutmu.” Ucap Joo Myung marah.
“Istriku datang... Mi Young datang! Chul Soo, Seung Yi, sembunyi. Sembunyilah sekarang!” kata Jung Kook panik
“Apa Kau pikir dia akan mengenaliku? Kita bisa berpura-pura tidak tahu...” kata Seung Yi akan duduk santai.
“Bagaimana bisa kau melakukan itu? Dia melihatmu saat kita mencoba menjual gedung itu. Dia tahu kau penipu. Jadi, sembunyilah!” kata Jung Kook.
Joo Myung hanya bisa diam saja, sementara Wang Goo bingung melihat yang dilakukan tuan Choi, Seung Yi dan Charles mencari tempat persembunyian.  Jung Kook meminta dua temanya agar segara bersembunyi sebelum Mi Young datang.
**
Bersambung ke episode 12

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar