PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 26 Mei 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 10

PS : All images credit and content copyright : SBS
“Terima kasih atas semua yang kau lakukan padaku selama ini. Karena aku tidak memiliki apapun, tetapi hanya hati yang penuh terima kasih.., aku akan membalas kebaikanmu di masa mendatang.”
Ji Wook membaca note yang dituliskan Bong Hee padanya, lalu melihat Bong Hee yang membereskan semua makanan di dapur, seperti sangat teratur. Bong Hee meminta agar Ji Wook  makan kacangnya tiap hari karena akan membantumu melawan insomnia. Bong Hee menaruh beberapa kacang agar Ji Wook memakanya, Ji Wook ke dapur tak melihat Bong Hee di dapurnya.
“Kudengar tidak bagus meminum minuman keras sebelum tidur. Aku juga meninggalkan teh untuk insomnia.” Ucap Bong Hee. Ji Wook melihat tempat teh dan merasa kalau rasa tidak enak.
“Aku mengatur sayuran di kulkas.” Pesan Bong Hee. Ji Wook melihat kulkasnya dan merasa kalau sangat benci wortel dan menurutnya sangat Sia-sia.
Bong Hee membereskan semua barang ditas dan akan pergi, Ji Wook seperti bisa melihatnya dan bayangan Bong Hee pun hilang. Ji Wook seperti mulai merasakan kehilangan Bong Hee yang meninggalkan rumahnya.
“Kalau begitu...Selamat tinggal.” Ungkap Bong Hee. Ji Wook berkomentar Bong Hee yang meninggalkan kamar hingga bersih lalu melihat bedak yang ditinggalkan diatas meja, merasak kalau Bong Hee  selalu melupakan barang.
Ji Wook memasak seperti biasa, lalu ingin menyajikan dua piring. Tapi teringat kalau sekarang hanya sendirian dan menyajikan hanya satu piring. Saat makan seperti nafsu makanya hilang, Ji Wook mengingat saat makan bersama Bong Hee. Wajah Bong Hee selalu tersenyum bahagia saat makan bersamanya. 



Ji Wook memberikan surat resmi pengunduran dirinya jadi meminta agar bisa menerimanya. Tuan Byun tahu kalau Ji Wook pasti akan membuka praktek firma. Ji Wook membenarkan. Tuan Byun mengatakan akan berinvestasi di prakteknya itu.
“Tidak, aku tidak mau menerima uang gelap.” Kata Ji Wook
“Hei, kunyuk. Orang-orang mungkin salah kira saat mereka mendengar ini. Apa Aku ini preman, semacamnya, atau mafia?” kata Tuan Byun kesal 

Ji Wook keluar dari ruangan Tuan Byun, tiga orang pengacara menguping mengatakan agar memberikann catatan percobaan. Ji Wook membalikan badanya lalu menegaskan kalau menyerahkan surat pengunduran diri karena mereka.
“Aku tahu dengan sangat baik kalian tidak mau melihatku. Karena itulah aku ingin bekerja setiap hari dan menunjukkan wajahku ke kalian. Aku kecewa jadi berubah seperti ini.” Ucap Ji Wook lalu pergi meninggalkanya dengan senyuman. Tiga pengacara binggung melihat tingkah Ji Wook.

Ji Wook menarik Tuan Bang menuruni tangga di kantor pengadilan lalu berbicara di bawah tangga.  Ia memberitahu kalau sudah meninggalkan firma dan membuka praktek sendiri.
“Aku butuh seorang manajer dan butuh seseorang sepertimu Kepala Bang.” Kata Ji Wook
“Apa Kau merekrutku untuk sebuah pekerjaan? Apa Kau mau aku keluar dari pekerjaan ini?” keluh Tuan Bang
“Tidak, aku tidak pernah bilang kau harus keluar. Aku bilang jika aku harus punya manajer, maka aku mau orang sepertimu.” Tegas Ji Wook lalu saling merahasiakan dan pamit pergi.
“Apa yang dia ingin aku lakukan? Kenapa dia melakukan itu lagi? Dia kelihatan baik untuk sementara.” Ungkap Tuan Bang melihat Ji Wook dengan wajah kebingungan. 

Rumah Ji Wook di ubah beberapa barang dikeluar dari ruangan dan dibersihkan. Ji Wook membersihkan sendiri rumahnya. Dibagian tengah sengaja dibuat kosong.
Ia mengemudikan mobilnya pergi ke Asosiasi Pengacara Distrik Seoul  untuk Melaporkan pembukaan praktek ke Asosiasi. Barang-barang kantor pun dibawa masuk dalam ruangan,
Tuan Byun diam-diam melihat kedalam rumah saat Ji Wook yang membereskan ruangan bawah sebagai kantor barunya. Ji Wook akhirnya melihat ruangan bawahnya sudah seperti kantor pada umumnya dan duduk di meja dengan papan namanya pun dibuat “Pengacara Noh Ji Wook”. 


Tuan Byun bicara dengan Eun Hyuk, Eun Hyuk bertanya apakah  sungguh akan keluar. Tuan Byun pikir tak mungkin Ji Wook mengatur firmanya sendiri bahkan takkan bisa mendapatkan uang untuk seumur hidupnya, menurutnya Ji Wook lebih cocok memberikan seluruh uangnya ke seluruh tempat.
“Ternyata ini bagus. Baru-baru ini, orang-orang mengatakan kau kehilangan perebutan kekuasaan...di firma ini.” Kata Eun Hyuk. Tuan Byun tak mengerti maksud ucapanya.
“Ini bagus karena ada alasan kau keluar dari firma. Ji Wook akhirnya melakukan dengan benar karenamu.” Ejek Eun Hyuk. Tuan Byun mengumpat dengan perkataan Eun Hyuk.
“Haruskah aku datang juga?”kata Eun Hyuk. Tuan Byun bertanya apakah Eun Hyuk juga ingin datang.
“Setidaknya harus ada satu pengacara yang menguntungkan sepertimu.” Kata Tuan Byun. Eun Hyuk memikirkan apakah Ji Wook  akan memperkerjakanya.
Tuan Byun pikir tak ada alasan kalau Ji Wook yang mau menerimanya, karena tahu mantan pengacaranya itu berencana mau mempekerjakan beberapa pengacara dan akan merekrut seseorang suatu hari. Eun Hyuk tak percaya tapi merasa sangat bersemangat mendengarnya. 


[Studio Taekwondo Lee Ho]
Bong Hee berdiri didepan para murid-murid masih kecil mengajak Taekwondo, lalu berjalan memperbaiki gerakanya dan tiba-tiba jatuh lemas. Pikiran melayang mengingat kenangan dengan Ji Wook selama beberapa minggu tinggal bersama.
Pertama saat Bong Hee datang ingin tinggal dirumah Ji Wook tapi memikirkan alasanya, tapi tiba-tiba Ji Wook sudah ada dibelakangnya yang membuatnya kaget dan membuatnya hampir terjatuh dan membuat kakinya sedikit terkilir.
Ji Wook meminta maaf karena tidak tahu akan sekaget ini, lalu memastikan kalau keadaan baik-baik saja dan tidak terluka. Bong Hee mengaku kalau dirinya baik-baik saja. Ji Wook memberitahu kalau dirinya mabuk.
Setelah itu Ji Wook melihat Bong Hee dengan kaki digips mengendongnya sampai masuk kamar, lalu mengobati kakinya bahkan mengambilan cemilan juga minuman, melayani seperti ratu.
Ji Wook pun datang dengan wajah panik mengetahui Bong Hee yang bertemu dengan si pelaku. Bong Hee yang melamun mengingat semua kenangan dengan Ji Wook, terkena pukulan dari anak didiknya. Ia pun jatuh tergeletak di lantai. 


Bong Hee membereskan semua perlengkapan di ruangan, temanya datang menanyakan apakah Bong Hee sungguh mau keluar padahal  Pekerja paruh waktu bahkan belum ada yang datang.
“Akan bagus jika kau membantuku sampai pengiriman tiba. Tapi kau sungguh baik-baik saja dengan ini?” kata temanya.
“Haruskah aku lanjutkan ini jika akan menambah utangku? Aku harus mundur sekarang.” Ucap Bong Hee.
“Coba Lihat, Mendapat lisensi instruktor jadi berguna. Apa Kau tidak setuju denganku? Hei. Lakukan sesuatu dengan kacamata itu.” Ucap temanya.
“Aku tidak pakai lensa kontak. Kosmetik dan shampoku juga mau habis. Aku menabrak bantalan yang dibeli dalam jumlah besar. Rasanya semuanya bertabrakan dalam satu waktu.” Ucap Bong Hee melepaskan kacamtanya lalu memberitahu temanya kalau ada orang tua yang ingin berkonsultasi.

Temanya menyapa pria yang baru datang. Ji Wook menyapa dengan senyumanya. Temanya merasa Ji Wook terlalu muda untuk jadi orang tua dan berpikir mau berlatih. Ji Wook mengatakan kalau  ingin berkonsultasi dengan instruktur yang ada di depanya. Bong Hee memakai kacamatanya dan kaget Ji Wook datang menemuinya. Keduanya pun duduk bersama ditaman.
“Jadi, apa kau sudah tidak jadi pengacara lagi sekarang?” tanya Ji Wook. Bong Hee mengaku hanya sementara.
“Bukankah kau berpikir kau menyerah dengan mudahnya?” kata Ji Wook. Bong Hee mengaku kalau mungkin Tidak mudah juga.
“Sulit untuk menyerahkan segalanya, apalagi jika itu pekerjaan atau hubungan.” Kata Bong Hee
“Aku tidak paham. Meskipun mudah menyerah, maka kau tidak boleh menyerah. Kenapa kau menyerah jika itu keputusan yang sulit dibuat?” kata Ji Wook 

Bong Hee pikir kali ini waktunya untuk berkompromi. Ji Wook berpikir kalau itu artinya menolak proposalnya. Bong Hee binggung apa maksudnya. Ji Wook pikir kalau Bong Hee sedang membuangnya. Bong Hee semakin binggung.
“Aku sudah bilang kepadamu sebelumnya. Aku ingin kau kembali dan bekerja denganku.” Kata Ji Wook
Flash Back
Ji Wook keluar dari cafe meminta agar bisa kembali dan berkerja untuknya. Bong Hee pikir kalau tidak paham apa yang dikatakan, dan saat itu tiba-tiba Ji Wook jatuh di pelukan karena mabuk.
“Bukankah itu cuma tingkahmu saat mabuk?” kata Bong Hee. Ji Wook mengaku kalau itu sangat bersungguh-sungguh
“Kau tidak sedang bermain denganku, kan?” ucap Bong Hee memastikan. Ji Wook mengkau tidak sedang bermain. 

Bong Hee tiba-tiba mendekati Ji Wook yang membuat Ji Wook kaget dengan yang dilakuan. Bong Hee mengaku kalau  tidak bisa membaca wajahnya jadi tidak bisa tahu ini lelucon apa bukan. Ji Wook pun membiarkan Bong Hee memastikanya. Akhirnya Bong Hee pun yakin kalau Ini bukan lelucon.
“Pokoknya, aku akan membayar di muka. Jadi, ayo beli lensa kontak.” Kata Ji Wook.
“Jadi Kau ingat... Aku pikir kau tidak ingat karena kau mabuk. Lalu, apa kau ingat yang terjadi selanjutnya?” kata Bong Hee sengaja memancing,

Ji Wook mengingat kejadian saat dimalam itu, lalu mengaku kalau  Yang terjadi selanjutnya tidak ingat. Bong Hee mengerti kalau Ji Wook tidak ingat dengan senyuman malu-malu.
“Hei... Jangan bertingkah malu-malu... Bawa barang-barangmu juga.” Ucap Ji Wook
“Aku mengapresiasi penawaranmu..,tapi aku takkan menerimanya. Ini.. membutuhkan keberanian besar untuk menyerah. Jika aku harus kembali lagi setelah kembali padamu.., lalu, itu akan sangat sulit untukku. Yang terpenting.., jika aku pergi, nanti akan merepotkanmu. Nanti aku akan kelihatan tidak tahu malu. Terima kasih karena datang menemuiku.” Kata Bong Hee pamit pergi.

“Bong Hee... Kau unik karena kau tidak tahu malu. Tapi jika kau memutuskan untuk tak menjadi orang yang tidak tahu malu.., Maka apa yang akan menjadikan perbedaanmu dengan orang lain? Kau harus pikirkan itu.” Kata Ji Wook lalu berjalan memikirkan kalau gayanya sedikit terlalu keren.

Bong Hee duduk dengan wajah gelisah diruangan, lalu guling-gulingan di lantai. Ia merasa hampir tidak bisa mengumpulkan keberaniannya, bahkan Sangat susah baginya untuk menyerahkan kerja dan Ji Wook dan kembali guling-gulingan.
Temanya terlihat di depan jendela depan, lalu memberikan tanda untuk menyetujuinya. Bong Hee tersenyum bahagia melihat temanya yang mendukungnya. 

Bong Hee membawa kopernya keluar dari gedung, terdengar suara klakson dan Ji Wook keluar dari mobil seperti sengaja menunggunya. Ji Wook mengejek kalau ini lebih cepat dari harapan karena hanya memakan waktu 7 menit.
“waktu 7 menit itu sangat lama.” Kata Bong Hee kesal. Ji Wook memasukan koper di bagasi lalu menyuruh Bong Hee masuk ke mobilnya. Bong Hee tersenyum bahagia dan keduanya pun menaiki mobil bersama.
“Aku lupa memberitahumu ini... Bong Hee, kau terkadang harus merepotkan. Tapi bukan hanya itu, yaitu Jaminan. Kau juga jaminan. Untuk membantuku menangkap pelaku.., maka kau harus berada di sisiku.” Jelas Ji Wook. Bong Hee mengerti kalau ini Jaminan wajahnya tersenyum bahagia. 

Ji Wook membawa koper Bong Hee ke rumahnya, Bong He sempet terdia. Ji Wook bertanya apakah Bong Hee tidak mau masuk. Bong Hee tersenyum kalau akan segera masuk.
Di dalam rumah, sudah ada Tuan Bang, Eun Hyuk dan Tuan Byun menyambutnya. Ji Wook mengeluh ketiganya yang masuk tanpa ijin. Bong Hee pun menyapa semuanya dengan kacamatnya. Eun Hyuk merasa sudah sangat lama tak melihat Eun Hyuk mengunakan kacamatanya itu.
“Kurasa aku pernah melihatmu sebelumnya” kata Tuan Byun. Tuan Bang pikir Pengacara Eun adalah pengacara yang ingin di rekrut Ji Wook.
“Kami sudah ditakdirkan. Aku akan melakukan yang terbaik.” Kata Bong Hee.


Ji Wook memberitahu meja kerja Bong Hee, Tuan Byun merasa pernah melihat Bong Hee sebelumnya. Bong Hee ingin memperkenalkan diri, tapi  Tuan Byun meminta agar tak mengatakan dan mengingat Bong Hee pembunuh itu. Bong Hee langsung cemberut mendengarnya.
“Dia dibebaskan karena kurangnya bukti. Dia yang membunuh anaknya Moo Young, kan?” kata Uan Byun
“Siapa pria itu? Siapa dia memfitnahku seperti itu?” bisik Bong Hee pada Ji Wook. Ji Wook mengaku kalau tak mengenalnya.
“Dia adalah Ketua Byun and Partners.” Ucap Eun Hyuk memperkenalkanya. Bong Hee merasa Tuan Byun tidak kelihatan tahu presumsi dan orang yang tak bersalah. Tuan Bang setuju dengan hal itu.


Kali ini Tuan Byun yang marah dan ingin tahu apa yang akan dilakukan Bong Hee di kantor Ji Wook. Bong Hee memberitahu kalau Pengacara Noh datang sendiri untuk merekrutnya. Ji Wook mengeluh Bong Hee yang mengatakan hal itu. Tuan Byun makin marah berpikir Ji Wook sudah gila. Ji Wook menegaskan kalau dirinya tak gila
“Kita akan keluar bisnis jika dia ada di sini. Itu kemungkinan besar. Apa yang dia pikirkan?” teriak  Tuan Byun
“Kepala Byun.. Jangan khawatir. Aku akan mendapatkannya.” Kata Eun Hyuk.

Ji Wook berteriak kesal menyuruh mereka keluar karena sangat berisik sekali, padahal hanya mengubah pikiran dan akan bekerja sesuai keinginanku. Ia menegaskan takkan bekerja dengan salah satu dengan mereka. Tuan Byun mengatakan tetap ingin tinggal bersama Ji Wook, Eun Hyuk sambil memeluk Ji Wook kalau akan membantunya.
Tapi beberapa saat kemudian, Ji Wook mendorong Eun Hyuk keluar dari rumahnya. Ji Wook seperti masih sangat marah. Eun Hyuk tersenyum mengatakan kalau tidak terluka jadi jangan khawatir, karena bisa terbangun setelah bergulingan.
“Semuanya akan berjalan lancar. Aku suka tempat duduk Pengacara Eun.” Teriak Eun Hyuk. Ji Wook memilih segera masuk ke dalam rumah. 


Bong Hee mengeluarkan semua barang-barang diatas meja, setelah itu mengingat ucapan Ji Wook yaitu Sebuah jaminan dan ia sebagai  jaminan.
“Aku tidak tahu kalu kata "jaminan" akan terdengar romantis dan seksi. Dari manusia jadi jaminan.” Ungkap Bong Hee merasa sudah naik tingkat dan berguling-gulingan di kasurnya. 

Bong Hee keluar kamar sudah menganti pakaiannya, Ji Wook berada di dapur untuk minum, lalu bertanya apakah Bong Hee lapar. Bong Hee mengaku tidak tapi bosan, maka penasaran apa ada yang bisa dimakan. Ji Wook mengejek kalau itu artinya Bong Hee lapar. Bong Hee mengaku tidak seperti itu. Ji Wook memberitahu kalau Ada roti dan buah.
“Omong-omong, apa Kepala Bang bekerja dengan... ketua Byun yang bekerja dengan kita?” tanya Bong Hee. Ji Wook mengaku Mungkin.
“Bagaimana dengan Pengacara Ji?” tanya Bong Hee. Ji Wook tak ingin membahasnya memberitahu kalau Ada es krim di kulkas.

Ji Wook keluar dari rumah, Eun Hyuk masih menunggu mengajak Ji Wook agar bisa bicara.  Ji Wook menyuruh Eun Hyuk agar Jangan halangi jalannya. Eun Hyuk meminta agar bisa meluangkan waktu untuknya. Ji Wook langsung menolaknya.
“Aku ingin menjelaskan tentang diriku sendiri.” Kata Eun Hyuk.
“Sudah terlambat.”balas Ji Wook dingin. Eun Hyuk memohon agar  Tolong dengarkannya. 

Keduanya akhirnya duduk ditaman berduah, Eun Hyuk bertanya apakah Ji Wook ingat mereka mengubur kapsul waktu saat muda. Ji Wook pikir kalau saat itu mereka belum dewasa. Bong Hee mengajak Ji Wook agar membuka kapsul waktu itu.
“Berhenti bicara begitu dan langsung ke intinya saja. Kau takkan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.” Kata Ji Wook. Eun Hyuk mengerti ingin menjelaskan.
Tiba-tiba sebuah putung rokok terjatuh didepan Eun Hyuk, Eun Hyuk berteriak memanggil keduanyam memarahi karena masih terlalu muda untuk merokok di taman,bahkan berani membuang putung rokok di depan orang dewasa.
“Hei.. Bagaimana jika ini mengenai wajahnya? Kau akan dibebankan karena melukai seseorang. Apa Kau tahu itu?” ucap Ji Wook
“Aku pernah dengar suaranya sebelumnya.” Kata si anak yang dulu meminta pembelaan darinya. Ji Wook pun menyapa si anak sambil menanyakan kabar ibunya.
“Hei, aku bilang padamu tentang pengacara sombong itu kan?” kata si anak pada temannya. 


Ji Wook dan Eun Hyuk marah berdiri dari tempat duduknya,keduanay tiba-tiba panik karena melihat dua remaja didepanya lebih tinggi dari mereka. Eun Hyuk akhirnya merasa kalau Pasti ada kesalahpahaman dan hanya lewat tadi jadi tidak punya maksud untuk mengganggu mereka. Ji Wook setuju.
“Kalian harus berhenti merokok dan akan jadi pukulan hebat.” Kata Ji Wook dan keduanya akan pergi tapi dua orang lain datang didepan mereka.
“Jika kita mengangkat kepalan kita dulu, maka kita akan terbebani juga.” Bisik Eun Hyuk. JiW Wook setuju karena Untuk melindungi diri sendiri
“Mereka harus memukul duluan. Kita juga tidak bisa memukul mereka sebanyak yang mereka lakukan.” Kata Eun Hyuk
“Mereka bisa menginap di RS setidaknya 3 minggu. Jangan pukul mereka terlalu banyak.” Balas Ji Wook
“Tapi tak ada CCTV untuk membuktikannya.” Ucap Eun Hyuk melihat sekeliling.
“Kalau begitu, kita hanya harus...Bertarung dengan siswa sekolah dan dibebankan Atau.. Berlaku adil dan terus terang.” Ucap Ji Wook yang sudah siap berkelahi.
Mereka pun akan siap bertarung dan akhirnya memilih untuk berlari kabur, tapi didepan mereka ternyata ada anak remaja lainya. Mereka berkelahi mencoba melawan anak remaja, tapi kalah juga karena kalah orang yang melawan anak remaja. 

Keduanya akhirnya berbaring di trotoar dengan wajah babak belur. Eun Hyuk menatap temanya lalu bergumam kalau ada yang ingin dkatakanya, kalau ia yang suka lebih dulu.
Flash Back
Eun Hyuk membawa sebuket bunga dan berlatih berbicara pada Yoo Jung kalau menemuikan di jalan dan Yoo Jung ada dalam hatinya. Tapi saat akan sampai didepan rumah, melihat Yoo Jung sedang berbicara dengan Ji Wook.
“Ji Wook. Bagiku, kau lebih dari teman tapi kau adalah pria.”akui Yoo Jung. Ji Wook binggung yang dikatakan Yoo Jung.
“Apa Mau kencan denganku Atau kau takkan pernah melihatku lagi?” kata Yoo Jung memberikan pilihan.
Eun Hyuk melihat dari kejauhan seperti kecewa, Ji Wook kebingungan dan akhirnya mengaku kalau memilih untuk berkencan.
“Cerita itu sangat jelas. Kupikir... aku bisa menyerah akan perasaanku kepadanya.” Gumam Eun Hyuk. 


Saat ada di perpustakaan, Ji Wook dan Yoo Jung duduk bersama saling mengambar hati. Eun Hyuk duduk didepanya melihat kedekatan keduanya seperti merelakan keduanya.
Ji Wook yang duduk di taman dan Yoo Jung datang memberikan kecupan di pipinya. Saat itu Eun Hyuk duduk didekat mereka, Ji Wook pun bertanya apakah sudah makan. Eun Hyuk mengaku belum. Keduanya akan makan, Yoo Jung pun mengajak Eun Hyuk untuk makan bersama. Eun Hyuk pun menolaknya dan hanya bisa menatap sedih.
“Kupikir aku sudah menyerah akan perasaanku. Tetapi... Aku gagal.” Gumam Eun Hyuk
Saat Ji Wook datang ke rumah Yoo Jung yang baru keluar dari kamar, Eun Hyuk memakain kemejanya dan sama-sama kaget melihat Ji Wook yang datang. Ji Wook pun merasa sakit hati karena dikhianati oleh pacarnya dan juga temanya.
“Aku tak bisa menyerah... dan hanya ada itu.” Gumam Eun Hyuk. 

“Setelah kupikirkan tentang ini dan aku sadar bukan di tempat untuk dapat maaf darimu, Ji Wook.” Ucap Eun Hyuk duduk
“Aku takkan... pernah memaafkanmu.”kata Ji Wook ikut bangun lalu berjalan pergi. Eun Hyuk sudah mengetahuinya dengan tertunduk sedih. Ji Wook menatap musuhnya yang duduk sendirian.
“Meskipun itu semua telah terjadi., aku tak bisa melepaskan ikatan dengan Eun Hyuk... dan... benar-benar membenci Yoo Jung karena...” gumam Ji Wook 



Flash Back
Ji Wook menangis di rumah duka saat ayahnya meninggal, Yoo Jung dan Eun Hyuk sebagai temanya masih kecil menemaninya.  Ji Wook terus menangis dan dua temanya menenangkanya.
Saat remaja Ji Wook dan Eun Hyuk berjalan bersama, saat itu Yoo Jung datang merangkul keduanya tersenyum bahagia. Keduanya mengeluh Yoo Jung agar tak melakukanya. Ketika mereka kuliah, Eun Hyuk mengajarkan Yoo Jung untuk mengocok soju, dan mereka minum bersama dengan senyuman bahagia.
“Ini karena mereka berarti...segalanya bagiku. Karena hanya mereka temanku.” Gumam Ji Wook mengingat kenangan pada dua temanya. 


Bong Hee melihat Ji Wook yang baru pulang, Ji Wook ingin masuk ke kamar dengan menutupi wajahnya mengunakan hoddie.  Bong Hee ingin melihat wajahnya. Ji Wook menolak ingin segera naik keatas. Bong Hee bisa menahan dan memegang Ji Wook dan kaget melihat wajahnya babak belur.
“Ini Tanding 30 banding 2.  Itu pertandingan yang sangat sengit. Mereka memukulku 30kali saat aku memukul hanya 2kali.” Kata Ji Wook
“Astaga, brengsek macam apa yang melakukan ini padamu?” ucap Bong Hee marah. Ji Wook pikir Bong Hee tak perlu tahu karena lawanya  hanya brengsek.
“Kau harus Panggil aku lain kali. Kau tahu aku ini masternya taekwondo.” Kata Bong Hee. 

Bong Hee akhirnya memberikan obat pada Ji Wook kalau pasti sangat perih. Ji Wook tak bisa menahan sakit di bibirnya, Bong Hee meminta Ji Wook agar menahan sedikit lagi. Ji Wook mengeluh kalau Bong Hee harus lebih halus mengolesinya. Bong Hee akhirnya meminta agar sisi pipi lainya agar diobati. Beberapa saat kemudian Ji Wook sudah tertidur lelap di sofa.
“Terkadang, dia tidak kelihatan menderita insomnia.” Gumam Bong Hee tersenyum bahagia melihat Ji Wook. 

Tuan Byun memberitahu kalau  akan melakukan adegan besar dan berbaring di lantai dan Tuan Bang hanya membalik mejanya saja. Tuan Bang pikir tak perlu mengkhawatir hal itu. Tuan Byun pikir mereka akan lihat perkembangan situasinya dan jika perlu Tuan Bang  ikut berbaring.
“Aku hampir masuk ke departemen drama saat kuliah.” Kata Tuan Bang bangga
“Aku senang kau akan bekerja bagus.” Ungkap Tuan Byun senang, mereka pun segera masuk rumah Ji Wook. 

Ji Wook turun dari kamarnya dengan pakaian kerjanya, Tuan Byun langsung mengancam Ji Wook agar memperkerjakan Eun Hyuk lalu berbaring di lantai. Ji Wook tak peduli memilih untuk pergi ke ruangan kerjanya. Tuan Bang ingin membalikan meja tapi kesusahan.
“Hei, berikan posisi kepadanya sekarang. Jika tidak, bisnismu tidak akan lancar. Tidak bisakah kau dengar aku? Pekerjakan Eun Hyuk!” teriak Tuan Byun. Ji Wook tak peduli memilih pergi ke ruanganya.  Tuan Byun mengumpat Ji Wook yang tak peduli walaupun sudah berbaring dilantai. 

“Berita selanjutnya. Pelaku dari pembunuhan Koki Yang Jin Woo... telah terungkap. Polisi mengirim sidik jari dan jejak kaki dari TKP... ke Badan Forensik Nasional untuk dianalisis dan berencana mempersempit pelaku secepatnya. Baru saja jadi bintang chef karena wajahnya yang tampan.., kabar ini mengejutkan para penggemarnya”
Bong Hee yang menonton berita sedih karena penggemarnya juga. Eun Hyuk ikut melihat kenapa Bong Hee menyukainya. Bong Hee melihat si chef itu tampan. Ji Wook yang mendengarnya terlihat kesal, menurutnya itu tak tampan dan mengejak Bong Hee itu standarnya rendah sekali. Eun Hyuk pun setuju makanya tidak bisa tahu wanita.

Si pelaku menonton TV berita tentang pembunuh berjudul "Kematian Koki Terkenal Meninggalkan Tekanan Besar" senyuman pembunuh berdarah dingin pun terlihat
“Tidak lama setelah itu..,pelaku dari pembunuhan Yang Jin Woo tertangkap.”
Seorang pria berjalan keluar rumah, dua polisi memanggilnya Jung Hyun Soo ditangkap atas pembunuhan Yang Jin Woo serta punya hak atas pengacara dan hak untuk diam. Tuan Jung binggung karena tiba-tiba ditangkap oleh polisi.
“Dia bisa saja dijadikan tersangka yang salah sepertiku. Dia adalah klien pertama kami.” 

Epilog
Bong Hee dengan kacamata besarnya berteriak memanggil ibunya. Sang ibu sedang berolahraga dengan tetanganya binggung lalu menduga sesuatu. Bong Hee akhirnya memberitahu kalau lulus ronde dua ujian bar. Ibunya berteriak bahagia akhirnya Bong hee berlari.
Tapi Bong Hee menghampiri teman ibunya yang ikut bahagia dan saling berpelukan. Ibu Bong Hee menyadarkan kalau ibunya, mereka pun akhirnya berpelukan dan berputar-putar berteriak bahagia bersama Bong Hee.
Bersambung ke episode 11

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

1 komentar: