Selasa, 23 Mei 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Tahun 2006
Seorang pria melakukan teknik Muay Thai dan diikuti oleh dua pelajar sampai akhirnya suara buku yang dijadikan samsak untuk memukul dan terdengar sampai keseluruh ruangan.
Guru yang menjelaskan di depan kelas bisa mendengarnya, lalu menyuruh dua muridnya untuk bangun. Ko Dong Man dan Kim Joo Man tertunduk dan pura-pura tak terjadi sesuatu.  Si guru pun bertanya apakah tak ada yang mengaku. Keduanya tetap diam tak ingin mengaku sampai akhirnya sebuah kapur terlempar ke arah duanya. Keduanya pun akhirnya berdiri 

“Hei... Lihatlah seragam kalian. Apa kalian Ahjumma yang mau hiking? Apa kau mencoba untuk menampilkan semua warna pelangi?” ucap Guru
“Pak, Kami hanya punya satu kata... Maafkan kami.” Kata Dong Man
“Dong Man dan Joo Man. Man Brothers.. Jika kalian menjawab pertanyaannya, bisakah aku memukul kalian?” kata guru
“Jangan membuat kesepakatan dengan siswa. bermurah hatilah sedikit Saya berpikiran sama” kata Joo Man.
“Baiklah, ku pukul saja kalian. Majulah.” Ucap gurunya geram. Dong Man akhirnya setujua akan mencobanya
“Kalian dengarkan baik baik, Ada 20% kemungkinan kau akan tahu pertanyaannya. Kau punya peluang 40% untuk menjawab salah. Jadi berapa persen kau akan aman?” ucap Gurunya.

Dong Man mengeluh dengan pertanyaan seperti itu dan ingin mengulanginya, gurunya langsung melirik sinis. Dong Man akhirnya langsung menjawab dengan perasaanya kalau jawabanya 50%. Guru pun meminta anak murid lainya agar memberikan tepuk tangan pada keduanya.
“Aku akan memberikan kalian hadiah. Majulah.” Ucap Guru. Dong Man tersenyum bahagia karena akan maju untuk hadiahnya

“Kalian berdua, berbalik.. Karena kalian yakin jawabannya 50, aku akan memukul kalian 50 kali.” Ucap Guru. Senyuman keduanya pun hilang.
“Aku rasa kami punya 1%” kata Joo Man berusaha mengurangi pukulan.  Guru menyuruh keduanya segera berbalik dan menanyakan adakah yang mengetahui jawabanya. Park Moo Bin berdiri dan mengangkat tangannya.
“Jawabanya 11%” ucap Moo Bin setelah menghitung dengan cepat. Guru pun membenarkan. Joo Man mengeluh dengan Moo Bin yang berkicau lagi. Keduanya pun akhirnya mendapatkan pukulan dari guru mereka. 


 [SMA Wanita Pungwoon, Seosan 2006]

Choi Ae Ra dan Baek Seol Hee kena omel oleh guru mereka. Guru memarahi keduanya seperti orang yang ingin tampil orang-orang. Ae Ra memberitahu kalau immimpinya untuk menjadi penyiar. Si guru melihat Seol Hee yang berdandan meminta agar memberikan bando padanya.
“Tidak bisakah Anda membiarkannya sekali saja? Kalau aku jadi penyiar, aku akan mencari ibu acara ... dan Cari jodoh.” Ucap Ae Ra
“ Ae Ra... Kau harus... Belajar giat dulu jika ingin menjadi penyiar.” Kata gurunya. Seol Hee membela kalau temanya sudah belajar dengan giat
“Kemarin dia rangking 29 Dari 35 siswa” kata Seol Hee membela
“Apa kau mau jadi penyiar juga seperti Ae Ra?” ucap Gurunya murka. Seol Hee mengaku mau jadi ibu rumah tangga yang baik.
“Sudah cukup bicaranya. Bersihkan auditorium jika kalian tidak ingin barang-barang kalian disita.” Kata gurunya.  Ae Ra panik meminta agar tak meminta melakukan hari ini. Gurunya seperti tak peduli. 

Seorang wanita mengingat rambutnya dan siap bermain dengan membalikan koin. Seorang pria yang kalah ingin mengambil satu koin, Si wanita langsung memperingati kalau akan mematahkan tanganya. Seorang wanita datang memberitahu kalau seorang. Moo Bin datang memanggil Boo Ram lalu memberikan kopi susu kotak yang sudah dibeli di luar sekolah.
“Jangan lakukan ini lagi. Ibumu akan memarahiku lagi.” Ucap Boo Ram kesal melihat ada nama di kotak minumanya.
“Kau akan datang hari ini, kan?” ucap Moo Bin
“Tidak bisa. Aku mau bolos sekolah untuk pergi ke Gangnam.” Kata Boo Ram. Moo Bin kagetm menanyakan alasan Boo Ram pergi kesana.
“Itu bukan urusanmu.” Kata Boo Ram sinis dan melihat Dong Man berjalan dengan Joo Man bersama buru-buru melepaskan ikatan rambutnya. 


Dong Man dan Joo Man makan bersama masuk kelas, Joo Man menceritakan Ahjumma itu dalam kesulitan karena rasanya seperti kesemek. Dong Man mengejak Joo Man itu bukan seorang koki karena lidahnya seperti sangat sensitif.
“Baunya seperti burger.  Sudah kubilang dengannya jangan pakai Oven yang sama” kata Joo Man lalu mengeluh melihat temanya yang mengunakan kaos merah pada hari ini.
“Untuk mencocokkannya” kata Bong Man bangga memperlihatkan sepatu merah yang digunakanya.
“Kau belum seperti pria dari kota. Bisakah setidaknya kau bertindak seperti kau dari Seoul? Seperti aku yaitu Potongan rambut serigala” kata Joo Man bangga dengan potongan rambutnya.
“Apa kau mau menyatakan perasaanmu?” tanya Joo Man. Dong Man binggung Menyatakan pada siapa.
Joo Man menyebut nama Jang Bo Ram. Dong Man binggung kenapa harus melakukanya. Joo Man menjelaskan kalau Dong Man sebagai  pemimpin dari pria  dan Boo Ram pemimpin dari wanita lalu berpikir kalau mereka bisa  bertunangan. Bong Man makin binggung temanya yang meminta bertunangan.
“Jadi, Apa dia bilang dia suka padaku?” tanya Dong Man terlihat bangga.
“Tidak bisa kau lihat dari kopi susu ini? Apa kau tahu betapa sulitnya mendapatkan kopi susu di sekolah kita ini?” kata Joo Man melihat nama Boo Ram pada kotak minuman yang diberikan pada Dong Man.
“Tapi aku tidak ingin terlibat dengan  pria berbaju merah compang-camping seperti kau” kata Dong Man lalu melihat Moo Bin membuka baju dalamnya.


Keduanya mendekati Moo Bin. Seol Hee sempat memanggil nama “Park Mose.” Tapi akhirnya menganti nama jadi Park Moo Bin lalu meminta agar bisa menSponsori mereka dengan meminjamkan baju mahalnya karena teman sekelasnya lolos menuju Pekan Olahraga Nasional.
“Dia mau ke Gangnam. kau akan mendapatkannya kembali  sebelum Kelas malammu” jelas Joo Man, Moo Bin kaget mendengar nama  Gangnam
“Di situlah pertandingan taekwondo nya. Dia akan datang dan melepas seragamnya untuk bertanding. Jika dia menunjukkan siapa sponsornya di bagian pundak maka dia akan terlihat seperti anak dari Seoul.” Kata Joo Man menyakinkan. Dong Man memberikan kotak minuman sebagai imbalan.
“Coba Lihatlah apa yang dia berikan.Itu karunia yang berharga. Aku tidak bisa mengabaikan pertandingan itu Ini menyangkut nasib ku.” Kata Dong Man menyakinkan.  Moo Bin melihat kotak minuman yang diberikanya. 

Di toilet
Ae Ra bertanya pada Seol Hee  lalu  Jam berapa pertandingannya. Seol Hee menjawab itu jam enam dan berpikir bisa memesan kereta jam 3:00. Ae Ra piki Sudah pasti bisa lalu bermake up dan terlihat sangat sempurna.
Keduanya masuk ke ruang guru, Seol Hee memberitahu temanya yang  sakit parah dan mereka yang menderita flu jadi perlu perawatan dan meminta izin untuk pulang. Gurunya melihat Bibir keduanya sangat pucat lalu mengusapkan lipstik pada baju keduanya. 

Ae Ra dan Seol Hee pun tak bisa berkata apapun karena ketahuan, akhirnya hanya bisa membungkuk dan meminta maaf. Tapi keduanya kembali masuk mengaku menderita penyakit konjungtivitis akut “Peradangan selaput bening mata” Salah seorang guru pria merasa  bisa mencium salep nyeri.
“Jangan meletakkannya di sekitar matamu. kalian bisa buta nanti” kata Gurunya. Keduanya pun tak bisa mengelabuhi guru mereka
“Saya tertabrak shuttlecock waktu kelas olahraga Sakitnya seolah-olah aku pukul oleh Hyeon Jeong Hwa.” Kata Ae Ra memperlihatkan makanya yang bengkak.
“Hyeon Jeong Hwa itu pemain tennis meja, Kau mencoba terlalu keras.” Kata gurunya. 

Keduanya terlihat lesu karena semua Tidak ada yang berhasil lalu berpikir pergelangan kaki mereka terkilir. Saat itu terdengar bunyi suara alarm mobil. Sang guru keluar tergesah-gesah karena ada yang menyentuh mobilnya. Seol Hee tersenyum dan merasa punya ide bagus lalu meminta Ae Ra mengikutinya.

Keduanya masuk ke ruang guru mencari Mic plastik dengan banyak barang sitaan yang diambil oleh gurunya. Seorang guru pria melihat keduanya langsung memarahi keduanya yang menyuruh agar keduanya meletakanya kembali. Keduanya memilih segera kabur setelah menemukan mic.
“Heeii.. Kalian mau kemana? Jaket merah muda dan Kuning , Aku melihat mu!” teriak si guru.
“Choi Ae Ra, Baek Sul Hee!” teriak Gurunya yang baru saja kembali mematikan alarm. Seol Hee dan Ae Ra berlari keluar dari sekolah
“Kenapa kau mengambilnya? kau pikir apa yang akan terjadi besok? Bagaimana dengan besok?” ucap Seol Hee panik
“Tidak, aku tidak akan memikirkan hari esok” kata Ae Ra tak peduli. 


 [Kukkiwon, Seoul, 2006]
Keduanya sudah berada di stadium, Ae Ra membahas alasan Ahjussi-Ahjussi itu bersama dengan teman kampung halamannya. Seol Ok pikir kalau itu Untuk minum bersama. Ae Ra menjelaskan Itu karena orang kampung tidak boleh terintimidasi.
“Kita sudah mengenal dia sejak kita berusia enam tahun jadi harus mendukung dia.” Kata Ae Ra sudah siap dengan perlengkapan dengan dukungan. 

Dalam ruangan pertandinga, Dong Man sudah bertanding melawanyanya. Pelatihnya Hwang Jang Ho memberikan perintah agar Dong Man  Jaga jarakmu lalu mengunakan kakinya. Di bangku penonton pun riuh menontonya.
“Tendang dia! Tendang dia!” teriak Ae Ra kesal dengan mengunakan mic yang bisa terdengar di seluruh arena. Dong Man sampai menoleh dan mengeluh Ae Ra melakukan itu.
“Gadis yang membawa mic itu di sini lagi.” Ucap Pelatih Hwang heran. Ae Ra terus bicara dengan micnya agar Dong Man bisa menendang lawanya.
 [Round 1.  Ong-Bak, Baek Ji Yeon]

Dukungan Ae Ra dan Seol Hee terus memberikan pada Dong Man dengan micnya. Boo Ram dan temanya terlihat terganggu dengan teriakan keduanya. Salah satu teman Boo Ram meminta agar bisa menyuruh mereka tenang.
“Apa kau tahu betapa menakutkannya gadis dari selatan? Kenapa mereka itu?” kata Boo Ram sedikit kesal. Tiba-tiba Moo Bin datang memanggil Bo Ram. Bo Ram kaget Moo Bin datang.
“Kenapa kau memberikan susu yang  ku berikan dengan Ko Dong Man?” ucap Moo Bin kesal
“Apa Kau datang ke sini untuk menanyakan hal itu? Apa kau tidak sekolah?” kata Bo Ram heran
“Apa mungkin kau menyukainya?” tanya Moo Bin 

Saat itu ditengah lapangan, Dong Man berhasil menang dari lawanya. Ia pun berlari membuka bajunya dan melempar baju seragamnya pada penonton saat itu Ae Ra yang berhasil mendapatkan bajunya. Bo Ram terlihat kesal tak bisa mendapatkan baju Dong Man.
“Mulai sekarang, Kau harus Bilang kalau kau punya pacar.” Ucap Dong Man menunjuk ke arah penonton. Ae Ra melongo dan Bo Ram terlihat kesal.
“Berkencanlah denganku, Jang Bo Ram!” teriak Dong Man. Bo Ram pun langsung tersipu malu mendengarnya seperti tak percaya Dong Man menyatakan cinta padanya.
Ae Ra melonggo mendengarnya dan cemberut mendengarnya.  Dong Man dengan bangga mengakan mereka bisa bertunangan sekarang. Bo Ram mendengarnya binggung apa maksud ucapan Dong Man. Temanya pikir Dong Man itu mengajak jalan Bo Ram.
“Beraninya kau memberikan seragammu?” kata pelatih Hwang langsung menjewer telinga Dong Man. Dong Man menjerit kesakitan meminta agar melepaskanya lebih dulu. 


“Dia dikirim ke Seoul untuk berlatih dan lihat apa yang dia lakukan.” Ucap Ae Ra marah
Sementara di bangku bawah, Bo Ram dengan bangga mengibaskan rambutnya kekanan dan kiri. Ae Ra melihat dengan sinis kalau Bo Ram sok cantik.
“Apa kau benar-benar akan berkencan dengannya?” kata Moo Bin marah. Bo Ram membenarkan menurutnya tak ada yang salah.
“Beritahu saja ibuku.” Kata Bo Ram tak peduli. Moo Bin pun akan memberitahukanya

“Dia bahkan tidak bisa menghitung peluang dan selalu dipukuli di kelas. Dia bahkan memakai jaket merah, kenapa dia??” kata Moo Bin tak bisa terima. Bo Ram menegaskan bahwa Dong Man itu yang terbaik.
“Aku hanya berkencan dengan yang terbaik.” Kata Bo Ram. Moo Bin keluar dari arena dengan menutupi wajahnya yang menangis.
Saat itu dengan sengaja Ae Ra keluar dari arena dan meyenggol kepala Bo Ram dengan balon yang dibawanya.  Bo Ram pun marah, Seol Hee berpura-pura tak sadar kalau sudah menjatuhkanya. Ae Ra meminta maaf dengan bahasa inggris. Bo Ram kembali berteriak. Ae Ra akhirnya ikut berteriak meminta maaf. 

“Apakah wanita bodoh legendaris itu ... benar-benar menjadi legenda?” gumam Ae Ra
Ae Ra berjalan dengan masuk dengan kacamata hitam dan segelas kopi ditanganya, seperti seorang kaya masuk ke dalam mall, meminta maaf agar diberikan jalan. Beberapa ibu-ibu yang sudah mengantri berpikir kalau Ae Ra itu pelanggan VVIP karena masuk sebelum mall buka.
Beberapa pelanggan pun menyapa Ae Ra yang berjalan dan beberapa saat kemudian Ae Ra sudah mengunakan seragam merahnya. Dan menyapa semua pelanggan di depan meja receptionist yang baru datang.
“Gadis mic yang ingin menjadi penyiar berita itu menjadi petugas informasi”
Dong Man berjalan dengan gagah mengunakan jubah putihnya, lalu menanyakan kamar mana yang harus dimasukinya. Petugas memberitahu di bagian penthouse.
“Atlet taekwondo ajaib yang ingin menghancurkan dunia ...” gumam Dong Man
Ia mengunakan jubah seperti dokter membawa sebuah alat yang mengeluarkan asap memberitahu akan menyingkirkan semua kutu dan menyemprotkan phytoncide untuk memastikannya
“Dia jadi pembasmi kutu.” 

Seol Hee berjalan dengan telp di telinganya, sebagai Gadis merah muda yang ingin menjadi istri yang baik. Seol Hee duduk di meja kerja dengan earphone yang menempel di kepalanya dan mulai menyapa pelanggan.
“Dia sekarang menjadi layanan pelanggan.”
Joo Man berjalan dengan beberapa dibelakangnya, seperti bos dan juga anak buahnya. Mereka tahu Joo Man menjadi pencinta makanan. Joo Man dengan tegas memerintahkan agar bisa memotong 5 sen untuk 2.000 kue
Setelah itu bicara pada manager produksi agar bisa memberi diskon  lima sen untuk 2.000 kue ikan. Si Manager mengaku tak bisa melakukanya. Joo Man pun mencicipi makanan di sebuah toko makanan.
“Dia seorang pembeli dari pusat perbelanjaan.”

Ae Ra berdiri dengan wajah tersenyum pada pelangan yang masuk mall dengan sepatu heel sengaja dilepaskanya. Semua memiliki cita-cita yang tak bisa digapai olehnya.
“Legenda nyata ini ... bermula dari "4 orang menakjubkan yang bodoh" Fantastic 4” 


Ae Ra menyapa semua pelanggan yang masuk, lalu mengirimkan pesan “Bagaimana hasilnya?” tapi pesanya tak dijawab bahkan tidak mengangkat teleponnya. Ia pun mengirimkan pesan dengan nada kesal “Moo Ki! Jawab panggilanku” lalu beprikir kalau pria itu gagal lagi
Tiba-tiba seorang wanita mengenali wajah Ae Ra didepan Mall. Ae Ra panik langsung menutupi wajahnya dengan topi. Ae Ra berpura-pura bicara denga earphonenya kalau harus pergi sekarang. Chan Sook yakin kalau itu pasti Ae Ra.
“Ini aku. Kim Ju Ha Ke-2.. Apa Kau tidak ingat aku?” kata Chan Sook. Ae Ra pun mau tak mau mengangkat wajahnya menyapa temanya. 
Keduanya duduk dicafe, Chan Sook menyingkirkan topi Ae Ra dan mengambil foto selfie. Ia dengan menyindir kalau Ae Ra sudah lama berkerja di mall tapi tak pernah datang ke cafe.
“Aku juga pertama kalinya kesini, berkat kartu pacarku. Jangan merasa terlalu terintimidasi denganku” ucap Chan Sook bangga lalu mengirim gambar dengan caption (Lucky Department Store, tas Designer)
“Tapi, bagaimana bisa kita bertemu hari ini? Senang bertemu denganmu” ungkap Chan Soon seperti basa basi. Ae Ra sudah tahu kalau itu Tidak mungkin.
“Aku akan menikah... Dia seorang dokter.” Kata Chan Soon memberikan undanganya. Ae Ra dengan sinis mengatakan kalau tidak bertanya.
“Kami akan menikah di Diamond Hall dan pindah ke Istana Dogok. Cincinnya 2,5 karat. Bulan madu kami di...” ucap Chan Soon pamer dan langsung disela oleh Ae Ra. Ae Ra sudah bisa menduga kalau akhirnya akan seperti ini. 


Di sebuah cafe lantai dua bagian balkon. Dong Min menceritakan dengan penuh semangat kaalu bersorak untuk tim sepak bola Korea dan naik di atas mobil lalu masuk berita, ibunya melihat dan langsung keluar. Semua pelanggan menatap heran. Dong Mi sadar kalau terlalu berisik dan meminta maaf.
“Dan Juga, ketika aku kelas lima, Aku 1 kelas di dengan Do Joom dari personil Beast. kau tidak tahu kan? Wah, saat itu, aku ... lebih baik dan lebih populer ...” ungkap Dong Man bangga.
“Tidak perlu bicara tentang masa lalu, bagaimana dengan yang sekarang. Kyung Koo bilang kau spesialis.” Kata si wanita seperti sedang kencan buta.
“Iya. Aku mendedikasikan hidupku untuk kesehatan masyarakat.” Kata Dong Man
Si wanita pikir Dong Man itu seorang dokter. Dong Man memberitahu kalau ia juga membantu mengobati eksim (peradangan kulit). Si wanita langsung bersemangat berpikir kalau Dong Man Dermatologi. Dong Man pikir menurutnya Dermatologi itu suatu kehormatan lalu menunjukan sebuah mobil di bawah kalau baru saja punya mobil baru.  Si wanita terlihat lesu melihat mobil dengan banyak spanduk di sekelilingnya.
 “Kau kelihatannya bersemangat.” Komentar Si wanita berusaha tersenyum.
“Aku pria bermobil dan akan mengantarmu nanti.” Kata Dong Man. Si wanita langsung menolaknya.
“Ketika aku mau ke toilet, aku pergi ke Subway. biaya sewa apartemen studioku sangat mahal. Ketika kau membayar sewa perbulan, tidakkah kau merasa seperti kau sedang dirampok?” ucap Dong Man sedikit mengeluh
“Aku menyewa pertahun” ucap si wanita. Dong Man sedikit kaget karena wanita itu bisa membawa sewa selama 1 tahun dan pasti kaya.
“Apa Kau tidak punya bakat/hal lain? Aku dengar kau ahli di bidang olahraga” tanya Si wanita. Dong Man sempat memikirkan itu Olahraga...
“Aku tidak ahli olahraga.” Akui Dong Man seperti menyembunyikan sesuatu. 


Chan Sook memakan kue samblie membahas Ae Ra yang  menyerah menjadi Baek Ji Yeon Ke-2 Karena tidak bisa melakukanya.  Ae Ra pikir kalau Chan Sook bakal menjadi Kim Ju Ha Ke-2 tapi menurutnya kenapa haus bergantung dengan kartu kredit pacarnya. Chan Sook menegaskan kalau itu cinta.
“Kau juga harus menikah sebelum terlambat.” Kata Chan Sook mengejek
“Aku punya pacar.. Dia seorang jaksa ...” kata Ae Ra tak mau kalah. Chan Sook sempat terkejut tapi Ae Ra mengaku kalau itu baru dalam pelatihan.
“Sulit mendukung orang yang masih belajar, kan?” ejek Chan Sook
“Hei, kenapa kau tidak memberitahu usia pacarmu itu. Apa mungkin... 30-an? Atau 40-an?” kata Ae Ra bisa membalasnya.

Chan Sook pikir calon suaminya itu sangat muda untuk usianya. Ae Ra n pun berpikir kalau itu pasti terlihat muda. Chan Sook pikir Ae Ra juga harus bersiap-siap dan akan menemukan seseorang . jika  menurunkan standar yang sejajar denganya, dengan menyindir kalau sepatu jerami saja pasangannya juga sama.
“Apa dia datang ke pernikahanmu? Pria Yang itu.. Leher berputar” balas Ae Ra memberikan serangan. Chan Sook pikir untuk apa pria itu datang.
“Kau berpikir aku akan datang menghampirinya , kan? Tapi kau tahu, Aku peduli dengan penampilan orang-orang. Dia berada di level yang sama sepertimu.” Kata Ae Ra
“Hei. Aku bahkan lebih cantik daripada kau” teriak Chan Sook tak bisa menahan amarahnya sampai membuat semua pelanggan bisa mendengarkan suaranya. 


Seol Hee menerima telp dari ibunya tak diangkat dan kembali melayani telp pengaduan dari pelanggan. Ia berbicara dengan lemah lembut dengan membahas selimut yang diterima  baunya seperti kentut seseorang dan mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
Saat itu managernya datang dengan sengaja menyalakan speaker. Terdengar teriakan pelanggan yang sangat marah. Seol Hee mencoba bicara agar bisa tenang tapi si pelanggan terus saja berteriak marah.Akhirnya manager yang mengambail alih pelanggan yang marah-marah. 

Saat itu Seol Hee dibawa ke ruangan oleh managernya. Jong Man melihatnya lalu mendekati Ye Jin dengan membuat fotokopi berkas lalu bertanya apakah Ini untuk ruang konferensi. Ye Jin membenarkan. Joo Man pikir akan segera melakukannya.
Yee Ji tak percaya kalau Joo Man akan melakukanya karena harus membuat 100 set. Joo Man mengaku kalau suka melakukan ini.

Dream Home Shopping
Seol Hee meminta maaf pada managernya. Si manager bertanya apakah Seol Hee tidak punya pacar. Seol Hee mengaku kalau sudah punya pacar.  Manager menyuruh Seol Hee langsung nikah saja, karena Para pekerja full time memandang rendah perkerjaa mereka dan orang-orang seperti Seol Hee membuatnya lebih buruk.
Joo Man masuk ruangan memberitahu kalau ada rapat di ruangan itu. Sang manager pun meminta maaf mengatakan kalau sudah selesai, setelah itu berbisik pada Seol Hee agar Bekerjal dengan benar. Seol Hee hanya bisa tertunduk meminta maaf.
Setelah manager pergi, Seol Hee langsung memeluk Dong Man dengan erat. Dong Man panik karen takut ada orang yang melihat. Seol Hee meminta agar sebentar saja karena butuh diberikan “charger” pada tubunya. Joo Man pun membiarkan Seol Hee memeluknya dengan erat.


“Kau datang karena aku, kan? Rapatnya dua jam lagi” ucap Seol Hee bahagia.
“Apa lagi sekarang? Apa kau membuat masalah? Berhenti membuat masalah seperti ini” keluh Joo Man
“Sayang. Haruskah aku.. Langsung menikah saja?” kata Seol Hee. Joo Man kaget mendengarnya permintaan Seol Hee yang ingin menikah dan berpikir kalau sedang PMS.
“Aku tidak mencoba untuk memulai perkelahian. Kita sudah berpacaran selama enam tahun.” Kata Seol Hee sedih. Joo Man seperti tak bisa berbuat apa-apa. 

Ae Ra melihat kartu undangan ditanganya, wajahnya terlihat sedih. Lalu mengeluarkan ponselnya wajahnya terlihat kesal karena pacarnya itu    mengabaikan semua SMSnya dan berpikir kalau gagal lagi.
“Maafkan aku, sayang” ucap Kim Moo Ki. Ae Ra kesal Moo Ki yang   tidak pernah lulus lalu menanyakan keberadaanya.
“Aku makan sendirian. Tapi sayang Aku sedang berpikir untuk pergi ke mana saja” ucap Moo Ki
“Apa kau bilang akan pergi ke mana saja? Apa kau punya waktu untuk pergi?” kata Ae Ra kesal
“Aku akan bersepeda dan menyegarkan pikiranku.” Kata Moo Ki
“Kalau kau lulus. Setidaknya kau menggunakan pikiranmu, kau harus menyegarkannya”kata Ae Ra kesal menutup telpya.
“Padahal kukiran dia bakal lulus. Bagaimana bisa aku mendukungnya sekarang?” kata Ae Ra terlihat benar-benar kecewa. 

Dong Man sedang kencan buta menanyakan apa yang mereka makan saat makan siang dan mengetahui Ada mie yang enak di dekat sini. Si wanita menolak karena ada urusan mendadak dan harus pergi sekarang. Dong Man pikir akan mengantar dengan mobilnya. Si wanita menolak dan langsung memanggil taksi yang lewat.
Akhirnya Dong Man pun menghentikan taksi yang akan pergi, meminta agar bicara dengan wanita itu. Di depan jendela Dong  Man meminta nomornya. Si wanita berkata kalau  akan memberikannya dengan Kyung Koo.  Dong Man membahas kalau  sudah membayar kopi tadi.
“Bagaimana kalau kau yang traktir Soju jum'at besok? Ada tempat di Sillim-dong yang terkenal . Mereka akan memberikan 3 piring dengan harga 9,90 dolar. jadi...” kata Dong Man dan langsung diberikan uang pada tanganya.
“Hei, Anggap saja aku yang bayar kopi hari ini. Jadi aku tidak perlu ... membeli soju Jumat ini, kan?” kata si wanita dan bergegas pergi. 


Dong Man terlihat sedih gagal berkenala dengan wanita dan menerima telp dari Ae Ra, lalu mengeluh kalau tak ada alasan harus pergi ... jauh ke sana untuk makan dan menolaknya. Tapi saat mengetahui makan iga sapi dan wajahnya tersenyum bahagia.
Sesampai di Mall, Dong Man kesal dengan Ae Ra padahal ingin makan siang tapi malah tidak menjawab telponnya. Saat itu Chan Sook sedang berjalan sambil menelp pada calon suaminya harus mendapatkan transplantasi rambut sebelum pernikahan dan harus terlihat semuda mungkin.
“Aku bahkan memotong tulang pipiku untukmu, Kau bahkan tidak mau men-transplantasi rambut?  Aku tutup teleponnya” ucap Chan Sook kesal akan keluar dari mall tapi malah terjebak didalam pintu berputar dengan beberapa pelangan termasuk Dong Man. 

“Tunggu. Aku akan mencoba untuk memperbaikinya.” Ucap Dong Man mencoba mendorong pintu, saat itu Chan Sook langsung terpesona melihat Dong Man dengan wajah tanpa dan jas putih.
“Kau pasti seorang dokter... Kau punya rambut yang tebal.” Ucap Chan Sook. Dong Man hanya mengangguk saja saat itu petugas datang membantu mereka keluar dari pintu. Ae Ra sedari tadi melihat keduanya terlihat marah. 
“Kenapa kau terlambat? Jam makan siang hampir berakhir.” Ucap Ae Ra kesal
“Hei, aku datang tepat waktu. Kau saja tidak ada ditempatmu” balas Dong Man.

Ae Ra melihat Chan Sook yang tersipu malu dengan wajah memerah. Chan Sook mengelak lalu bertanya apakah mengenal pria itu dan ingin dikenalkan. Ae Ra pun mengenalkan keduanya. Ae Ra dengan gaya centil mengangkat tangan seperti wanita yang ingin mengajak berdansa.
“Apa kau mau mencium tangannya?” ejek Ae Ra. Dong Pan pun hanya memegang tangan sambil menyebutkan namanya.
“Dia bukan pacarmu kan” kata Chan Sook menyakinka. Dong Man menegaskan kalau itu tak akan dan tidak mungkin.
“Jadi kau temannya? Hanya teman?” kata Chan Sook. Dong Man mengaku kalau itu “Mungkin”. Chan Sook terlihat tak bisa terima begitu saja.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar