Kamis, 25 Mei 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 9

PS : All images credit and content copyright : SBS
Ji Wook kaget melihat Yoo Jung tiba-tiba sudah ada didepan rumahnya. Yoo Jung pun menyapa Ji Wook yang Sudah lama tak bertemu. Ji Wook terdiam menatap Yoo Jung yang sudah lama tak bertemu. Bong Hee baru selesai menelp melihat keduaanya saling menatap tanpa bicara.
“Aku langsung bisa menyadarinya... Dia mantan pacarnya.” Gumam Bong Hee mengingat kejadian sebelumnya. 

Flash Back
Ji Wook menyakinkan Bong Hee ketika mabuk mengatakan kalau Saat sesuatu seperti itu terjadi, maka orang-orang akan salah paham. Ia tahu kalau Bong Hee akan berpikir "Apa aku membuat kesalahan?" "Apa aku membosankan? Apa aku sesuatu yang tidak mereka sukai?"
“Itu Bukan seperti itu. Kita tidak melakukan kesalahan. Ini adalah salah dari orang yang mengkhianati kita.” Tegas Ji Wook yang pernah merasakan hal yang sama dengan Bong Hee di khianati oleh pacarnya.

“Dia adalah wanita yang mengkhianati dan meninggalkannya.” Gumam Bong Hee menatap keduanya yang masih saja menatap tanpa bicara. Diam-diam Bong Hee berjalan pergi tanpa disadari oleh keduanya.
Yoo Jung pun menanyakan kabar Ji Wook lebih dulu. Ji Wook hanya diam saja. Yoo Jung malah bertanya apakah Ji Wook tak ingin menanyakan alasan dirinya datang ke rumahnya. Ji Wook mengaku Tidak perlu karena  tidak terlalu penasaran.
“Apa Kau mau meneriaku aku? Kau bisa menyumpahiku dan bilang kepadaku kalau aku kurang ajar. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Aku akan menerima celaanmu.” Kata Yoo Jung menerimanya. Ji Wook pikir itu tak perlu.
“Tak ada alasan bagiku untuk melakukan itu, dan bahkan aku tidak mau. Katakan saja cepat padaku mau apa kau ke sini.” Kata Ji Wook seperti enggan bertemu dengan Yoo Jung lebih lama.
“Kita tidak perlu suatu urusan untuk saling bertemu.” Komentar Yoo Jung.
“Entahlah. Aku tidak terlalu tertarik untuk membicarakan masa lalu.” Kata Ji Wook
“Kau sangat dingin, Ji Wook.” Ungkap Yoo Jung.  Ji Wook balik bertanya apa yang tertinggal diantara mereka
Ji Wook akan pergi dan Yoo Jung menahan tangan mantan pacarnya. Ia meminta agar Ji Wook jangan melakukan ini. Bong Hee mengintip dari dinding parkiran, seperti penasaran dengan keduanya.
“Mari... Kau dan aku... Kita tidak boleh melupakan dan move on semudah ini.” Ucap Yoo Jung yang sangat ingin kembali pada Ji Wook.
“Jangan salah paham, Yoo Jung. Bagiku.., ...kau sudah tidak berarti apapun.” Kata Ji Wook
“Ji Wook... Apa yang harus kulakukan? Aku tahu kau ingin mengakhiri perasaan bersalahmu itu setelah memperlakukanku dengan dingin seperti ini.” Ucap Yoo Jung 
Saat itu Ji Wook ingin berbicara, tiba-tiba Bong Hee datang berteriak sambil memanggil Ji Wook “sayang”. Ji Wook menatap binggung. Bong Hee mengaku sudah menunggu lama tapi Ji Wook yang tak datang juga. Yoo Jung kaget dan bertanya siapa wanita yang memanggil Ji Wook “sayang”

“Aku pacarnya.” Kata Bong Hee dengan percaya diri. Ji Wook menatap sinis. Bong Hee memberi kode kalau untuk diam saja. Yoo Jung seperti tak percaya kalau Bong Hee sebagai pacarnya.
“Ah... Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?” ucap Yoo Jung mengingat Bong Hee yang pernah bertemu sebelumnya.
“Astaga, kau benar. Kita pernah bertemu.” Kata Bong Hee seperti tak terlalu terkejut. Ji Wook binggung keduanya yang sudah saling mengenal.

Bong Hee membenarkan tapi mengunakan bahasanya formal, lalu buru-buru mengubah dengan kembali memanggil Sayang. Ji Wook pikir kalau  Yoo Jung harus pergi dan mengajak Bong Hee untuk pergi denganya.  Yoo Jung ingin memastikan lebih dulu sebelum keduanya pergi.
“Apa dia...benar pacarmu.., Ji Wook?” tanya Yoo Jung. Ji Wook dengan ketus menjawab kalau itu bukan urusan Yoo Jung. Bong Hee sengaja merangkul lengan Ji Wook dan menyadarkan kepala di pundaknya.
“Aku tiba-tiba pusing. Kurasa ini karena... karena kita menghabiskan waktu malam yang gila kemarin. Kurasa kita melakukannya terlalu jauh. Aku pusing sekali.” Ungkap Bong Hee. Yoo Jung terdiam mendengar ucapan Bong Hee. Ji Wook tak ingin banyak bicara memilih untuk segera pergi dengan Bong Hee. 

Di tempat parkiran
Bong Hee masih tetap merangkul tangan Ji Wook. Sampai didepan mobil Ji Wook melirik sinis dan membuat Bong Hee buru-buru melepaskan tanganya. Ji Wook mengeluh dengan yang dilakukan Bong Hee Dengan memegang lengannya dan bertingkah seolah menjadi pacarnya.
“Dan apa kau bilang "malam yang gila"? Astaga, Bong Hee.” Ucap Ji Wook kesal masuk ke dalam mobil lebih dulu. Bong Hee panik buru-buru segera ikut masuk ke dalam mobil.
“Aku hanya selalu mencoba membalas kebaikanmu.” Jelas Bong Hee. Ji Wook binggung apa maksudnya.
“Apa Kau tidak ingat? Kau melakukan hal yang sama saat situasi seperti itu.” Ucap Bong Hee. Ji Wook tak mengingatnya dan bertanya Kapan melakukannya.
Saat bertemu dengan Hee Joon dan Ji Hae yang mengejek Bong Hee. Ji Wook menyelamatkan Bong Hee dengan mengelus kepalanya mengaku walaupun jorok tetap cantik.  Ji Wook mengingat kejadian tersebut meminta tissue basah karena merasa tiba-tiba tanganya merasa kotor. Bong Hee pun buru-buru memberikan tissue basah.
“Kau mengingatnya dan Kau mengelap tanganmu saat itu.” Kata Bong Hee.
“Aku ingat dengan jelas.” Ucap Ji Wook sambil membersihkan tanganya. Bong Hee mengaku juga sangat mengingatnya.
“Kau menyelamatkan wajahku... di depan mantan pacar yang mengkhianatiku. Aku takkan pernah melupakan itu.” Kata Bong Hee.
“Lupakan saja.” Pinta Ji Wook. Bong Hee menolak dengan tegas. Ji Wook tetap ingin Bong hee melupakanya.
“Ini kan ingatan dan pilihanku.” Balas Bong Hee. Ji Wook mengaku  tidak mau jadi bagian ingatannya.
“Jangan pernah membalas budi dengan melakukan ini lagi.” Perintah Ji Wook. Bong Hee heran dan ingin tahu alasan tak boleh melakukanya.
“Apa Kau tidak tahu? Jika kau terus melakukan ini, maka aku takut kau mungkin akan mengatakan...” ucap Ji Wook terdiam
Bong Hee bisa menembak kalau nanti akan mengaku sebagai istrinya, Ji Wook membernakan. Bong Hee dengan santai kalau bisa mengatakan kalau Ji Wook adalah ayah dari anaknya. Bong Hee mengeluh kalau Bong Hee  Lebih baik tidak mengatakan itu. Bong Hee pikir bisa melihatnya nanti.



Si pelaku pembunuh Hee Joon bisa masuk ke sebuah rumah dan saat itu seseorang sudah tergeletak dilantai dengan darah ditubuhnya. Seperti korban sudah tak sadarkan diri. Setelah itu si pelaku keluar rumah dengan santai dan terlihat di sisi rumah lainya melihat si pelaku. 

[Episode 9 -Manusia Menjadi Jaminan.]

Yoo Jung masuk ke dalam mobilnya, terlihat masih kesal mengingat Ji Wook yang masih menolaknya. Ia mengingat kejadian masa keberasaanya dengan Ji Wook.
Flash Back
Ji Wook dan Yoo Jung duduk diperpustakaan, keduanya terlihat sangat mesra dengan saling mengambar tanda cinta dibuku seperti perasaan cinta yang mengebu-gebu.
Ditaman, Ji Wook duduk menunggu. Yoo Jung datang dan keduanya saling menatap bahagia, lalu Yoo Jung memberikan ciuman di pipinya. Ji Wook tersipu malu dan meminta agar Yoo Jung memberikan lagi. Yoo Jung pun dengan senyuman bahagia memberikan ciman di pipi untuk Ji Wook. 

Bong Hee menaiki mobil lalu melihat kantornya itu sudah lewat dan meminta agar bisa turun. Tapi Ji Wook terlihat mengemudi sambil melamun dan tak berbicara apapun. Akhirnya Bong Hee pun membiarkan sampai mereka berhenti di kantor Ji Wook, ketika turun dari mobil Ji Wook membalikan badanya.
“Bong Hee, kenapa kau di sini? Kau mengikutiku ke sini ya?” ucap Ji Wook seperti tak sadar kalau ia yang membawanya. Bong Hee pun melihat Ji Wook seperti sedang frustasi memilih untuk membenarkan saja.
Saat Ji Wook pergi, Bong Hee pun kebinggungan keberadaan dirinya. Eun Hyuk baru saja dengan mobilnya memanggil Bong Hee. Bong hee pun kaget melihat teman Eun Hyuk yang datang. Eun Hyuk bertanya kenapa Bong hee Hee datang berpikir itu untuk bertemu denganya.
“Memang aku tidak boleh ke sini? Ini tanah pribadi atau apa? Kenapa orang-orang bertanya kenapa aku di sini? Aku tidak datang ke sini karena aku ingin.” Ucap Bong Hee mengomel lalu tersadar dengan ucapanya.
“Maafkan aku. Aku tidak seharusnya melampiaskan kemarahan padamu.” Kata Bong Hee. Eun Hyuk yang mendengarnya malah bisa mengucap syukur. Bong Hee binggung kenapa Eun Hyuk malah mengucap syukur.
“Karena kau bukan marah kepadaku. Kau boleh datang untuk melampiaskan kemarahan padaku. Aku punya banyak pengalaman di bidang itu.” Ucap Eun Hyuk
“Aku akan terus menggunakanmu kalau begitu.” Kata Bong Hee dengan senang hati lalu pamit pergi. 


Ji Wook duduk di cafe dengan wajah lesu, Ketua Byun menceritaka kalau dirinya sebagai kepala dari firma hukum Tapi brengsek-brengsek itu selalu tidak mengajaknyadi setiap pertemuan,karena alasan  mereka mau perhatian.
“Tapi mereka pikir aku ini bodoh atau apa? Mereka memandang rendah aku karena mereka pikir aku sudah tua.” Ucap Ketua Byun melampiasakan amarahnya. Ji Wook hanya diam saja karena diotaknya juga punya banyak masalah.
“Memang aku menindih atau apa? Apa aku berbicara melawan sebagai dinding?” kata Ketua Byun. Ji Wook yang melamun hanya menjawab “Ya” seperti biasa.
“Kau bilang "Iya"?” ucap Ketua Byun marah. Ji Wook menyadarkan dirinya kalau yang dimaksud adalah tidak. 

Eun Hyuk baru datang menyapa kepala Byun berpikir kalau Ji Wook yang membuatnya marah lagi dan berpikir untuk memarahi Ji Wook untuk membantunya. Ketuan Byun dengan sinis mengatakan  akan mengomeli Eun Hyuk duluan.
“Kenapa kau sangat terlambat?” keluh ketua Byun, Eun Hyuk melihat gelas Ji Wook yang kosong dan ingin mengisinya. Ji Wook mengambil botol dan ingin mengisinya gelasnya sendiri.
“Kenapa kau kelihatan sangat sedih? Memang kau sedang ada di pemakamanku ya? Ini pesta ulang tahunku dan hari ini ulang tahunku.” Kata Tuan Byun. Ji Wook tetap saja lesu.
“Ini hadiah ulang tahunnya. Sebotol wine kesukaanmu.” Kata Eun Hyuk memberikan hadiahnya. Ketua Byun terlihat bahagia menerimanya.
“Bagaimana denganmu? Apa Kau tidak bawa apa-apa?” ejek Ketua Byun. Ji Wook mengatakan sudah membawanya memberikan sekotak hadiah dan juga surat.
Tuan Byun terlihat bahagia menerima sebuah surat dari Ji Wook menurutnya sangat Mengejutkan, Pandangan matany sudah memburuk jadi ingin mengunakan kacamata bacanya. Saat membuka dikejutakan kalau isinya Surat Pengunduran Diri, Ketua Byun kesal Ji Wook yang berani menulis surat pengunduran diri. Ji Wook hanya diam tanpa rasa bersalah, Eun Hyuk pun tak bisa berkata—kta dengan yang dilakukan temanya. 

Keduanya mengantar Ketua Byun sampai di mobil. Ketua Byun mengucapkan terimakasih atas malam ini karena merayakan ulangtahunya. Ji Wook akan berjalan pergi, Eun Hyuk bertanya apakah sudah memanggil supir pengganti. Ji Wook mengatakan sudah
“Kenapa kau tiba-tiba menulis surat pengunduran diri?” tanya Eun Hyuk
“Hei, apa aku harus memberitahumu segalanya?” kata Ji Wook sinis lalu berjalan pergi.
Eun Hyuk melihat ponselnya nama “Cha Yoo Jung” terlihat nama Yoo Jung lalu menatap Ji Wook dan bisa mengetahui ternyata wanita itu sudah kembali.

Yoo Jung masuk ruangan lalu bertanya pada Ji Hye, Apa mungkin tahu pengacara bernama Eun Bong Hee. Ji Hye sedang makan kimbap mengumpat kalau Bong Hee bukan pengacara tapi  aib di dunia hukum dan tersangka pembunuhan.
“Hei.. Kau Makan dulu. Aku tidak mengerti yang kau katakan.” Kata Yoo Jung. Ji Hye pun mencoba menelan makanan sampai habis.
“Dia tersangka utama dari kasus pembunuhan anak Pengacara Distrik.., Hee Jun.” Kata Ji Hye. Yoo Jung kaget mendengarnya. 

Ji Hye memperlihatkan berita Bong Hee saat jadi tahanan "Pegawai Yudisial Magang yang Membunuh Mantan Pacarnya". Yoo Jung seperti tak percaya kalau di foto itu Pengacara Eun Bong Hee karena terlihat berbeda.
“Inilah sebenarnya dia.” Ungkap Ji Hye sinis. Yoo Jung mengaku kalau sudah menyukai Bong Hee.
“Kenapa aku terus bertemu dengannya di situasi yang tidak menyenangkan?” keluh Yoo Jung. Ji Hye sekarang tak percaya kalau Yoo Jung bisa menyukai Bong Hee.
“Kau bukan hakim bersifat bagus.” Komentar Ji Hye.
Saat itu Yoo Jung bertanya-tanya apakah Bong Hee memang pacarnya. Ji Hye pun bertanya-tanya siapa pacarnya Bong Hee lalu mengejek Orang bodoh macam apa yang mau pacaran dengannya. Yoo Jung melirik sinis karena Ji Hye berarti mengejek Ji Wook itu bodoh. 

Bong Hee duduk diam di kamarnya menatap kartu nama Jaksa Cha Yoo Jung tapi tak bisa berbuat banyak karena sudah membuat kecewa dan membuatnya berpikir menjadi pacar Ji Wook.
Pesan dari ibunya masuk “Aku sudah mengirim resume ke banyak tempat tapi tidak ada jawaban.” Seperti ada nada kesedihan.
“Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Semoga berhasil!” balas Bong Hee pada ibunya
“Baik, semoga berhasil juga. Jangan lewatkan makan. Semoga berhasil, Puteriku!” balas Ibunya. 

Terdengar suara bunyi pintu terbuka, Bong Hee mengetahui kalau Ji Wook sudah pulang. Ji Wook yang lesu langsung menaiki tangga ke lantai atas. Bong Hee sengaja mengintip dari belakang  lemari karena Ji Wook yang duduk memejamkan mata sambil mendengarkan musik dari piringan hitam.
“Aku sudah banyak mendengar musik beberapa tahun ini... agar bisa mencari melodi pelakunya. Tapi musik yang kudengarkan sekarang terdengar seperti musik paling menyedihkan di seluruh dunia.” Gumam Bong Hee
Saat itu tiba-tiba Ji Wook melihat Bong Hee sedang melihatnya, Bong Hee buru-buru akan pergi dengan melangkah perlahan. Tapi Ji Wook sudah ada dibelakangnya, bertanya ada apa, apakah merasa lapar. Bong Hee binggung tiba-tiba Ji Wook mengatakan hal itu.
“Apa Mau aku buatkan sesuatu?” tanya Ji Wook. Bong Hee langsung mengangguk setuju. 

Ji Wook memasakan di dapur membuat mandu goreng, Bong Hee memberekan meja dengan piring dan juga sumpit. Tiba-tiba Ji Wook merasa heran kenapa ia harus melakukan ini. Bong Hee binggung.
“Kenapa aku... selalu membuatkan makanan untukmu?” kata Ji Wook
“Karena kau lebih jago masak dariku.” Ucap Bong Hee. Ji Wook pun tak berkata-kata lagi. 

Bong Hee menatap Ji Wook sambil makan mandu dan minum bir. Ji Wook langsung memperingatkan agar Jangan bertanya. Bong Hee sedang makan merasa  tidak mengatakan apapun.
“Kau menanyakan kepadaku dengan matamu itu.” Ucap Ji Wook. Bong Hee pun memutuskan akan jawab dengan mulut.
“Kenapa... kalian berdua putus?” tanya Bong Hee ingin tahu. Ji Wook menerawang menjawab pertanyaan Bong Hee.
“Suatu hari..,aku pergi ke rumahnya Yoo Jung... Aku pergi ke rumahnya. Lalu... Aku melihatnya bersama laki-laki lain.” Kata Ji Wook yang masih mengingat saat datang melihat Yoo Jung baru keluar kamar dengan seorang pria dikamarnya.
“Dasar jalang... Aku sudah tahu itu... Orang yang melakukan itu di suatu hubungan...harus disapu ke suatu tempat dan dipukuli sampai jadi bubur kertas. Mereka sungguh sampah.” Ucap Bong Hee dengan penuh amarah
“Pasti karena inilah orang-orang melampiaskan ke orang lain. Untuk mendapatkan seseorang satu sisi denganku.” Kata Ji Wook tersenyum mendengar Bong Hee seperti membelanya.
“Haruskah aku lebih mengutuk mereka? Sampah tidak berguna itu...” ucap Bong Hee. Ji Wook pikir cukup Bong Hee mengumpat karena  Tidak cocok untuknya.
“Kau boleh menggunakanku saat kau mau menyumpahi seseorang. Jangan sungkan. Kau boleh menggunakannya tanpa batas.” Kata Bong Hee. Ji Wook seperti sangat senang melihat Bong Hee. 


Seorang wanita menekan bel rumah, tapi tak ada yang membuka pintu. Saat masuk rumah jeritan histeris terdengar. Di depan rumah pun sudah diberikan garis polisi dengan banyak wartawan yang ingin mengambil gambar.
Petugas forensik mulai masuk dalam TKP, si pembunuh yang bertugas sebagai tim forensik pun menutup wajah dengan senyuman dingin karena tak ada yang tahu sebagai pembunuh.
“Berita selanjutnya. Seorang Koki, Tn. Yang, yang terkenal karena acara TV ditemukan tergeletak meninggal di rumahnya. Memikirkan bahwa ini adalah pembunuhan, polisi menginvestigasi orang-orang di sekitarnya dan mengecek rekaman CCTV dengan tujuan untuk melacak pelaku.”
Bong Hee sedang ada direstoran menonton sambil bertanya ada dimana kejadiannya. Si pelaku yang sedang berada di depan Bong Hee sedikit binggung dengan pertanyaan Bong Hee. Bong Hee pikir kalau si pria itu  menginspeksi TKP itu. Mereka melihat berita  ["Koki Selebriti Ditemukan Tewas di Rumahnya"] 

“Menurutmu apa alasannya? Kenapa orang membunuh orang lain?” kata Bong Hee heran
“Entahlah... Mungkin tiap orang punya situasi dan alasan berbeda.” Ucap Si pelaku
“Situasi apa yang dapat menyebabkan membunuh? Aku mencoba untuk paham dan menganggap di sana ada suatu situasi. Lalu, apakah yang membunuh Hee Jun dan menjadikanku tersangka memliki situasi juga?” kata Bong Hee.
“Aku tidak bisa jawab itu.” Ucap si pelaku tak ingin membahasnya. Ji Wook pun mengerti.
Keduanya pun keluar bersama, Si pelaku bertanya apa yang akan dilakukan sekarang, karena meeka tidak menemukan dari sepatu atau sesuatu yang lain bahkan si pelaku meninggalkan pesan peringatan.

“Aku yakin dia akhirnya akan mengungkapkan diri.  Akan kupastikan aku menangkap dia tidak peduli berapa lama itu.” Kata Bong Hee yakin
“Itu mungkin akan menempatkanmu dalam bahaya.” Kata si pelaku
“Aku takkan menyerah apapun yang terjadi.” Tegas Bong Hee. Si pelaku merasa Bong Hee itu  yang tidak kenal takut.
“Yang lebih kutakutkan adalah tidak bisa menangkap pelaku dan hidup sebagai kunci tersangka seumur hidup.” Tegas Bong Hee.
Si pelaku memberikan tas yang berisi sebuah sepatu, Bong Hee pun menyakinkan kalau pasti akan menangkapnya, lalu pamit pergi dan mengucapkan terimakasih. Suasana tiba-tiba terasa tegang, si pelaku menepuk pundak Bong Hee yang akan pergi.
“Aku akan memberi tumpangan.” Kata si pelaku, Bong Hee pikir tak perlu. Tapi si pelaku tetap ingin mengantarnya. Bong Hee pun tak bisa menolaknya. Suasana kembali tegang karena si pelaku seperti ingin melakukan sesuatu. Tiba-tiba tangan Bong Hee ditarik  membuatnya menjerit ketakutan, tapi saat melihatnya ternyata Ji Wook yang datang. 

“Pengacara Noh.... Kau mengagetkanku... Kenapa kau di sini?”kata Bong Hee kaget melihat Ji Wook yang menarik tanganya. 
“Kepala Bang bilang padaku kau akan ada di sini. Kenapa kau pergi sendiri? Kan sudah kubilang kita akan menangkap pembunuhnya bersama-sama.” Ucap Ji Wook. Si pelaku melihat keduanya seperti sinis.
Bong Hee binggung, Ji Wook menyapa si pelaku dengan ramah  membahas kalau tidak ada sidik jari maupun DNA yang ditemukan yang artinya pelakunya adalah orang yang cukup teliti dan punya pengetahuan banyak mengenai forensik. Bong Hee menatap Ji Wook seperti tak percaya teringat kembali ucapan Ji Wook.
“Mari tangkap pelakunya...bersama. Ayo tangkap dia bersama.” Ucap Ji Wook seperti ingin Bong Hee bersama. Bong Hee menatap tak percaya kalau Ji Wook ternyata memang benar melakukanya. 

Keduanya pun berjalan pulang bersama. Bong Hee bertanya apakah Ji Wook  sadar kalau jadi lebih baik secara halus. Ji Wook mengaku kalau sudah jelas baik kepadanya. Bong Hee ingin tahu alasanya. Ji Wook balik bertanya apakah itu jadi Masalah untuknya.
“Yah, aku hanya ingin tahu alasannya. Apa mungkin, kau...” ucap Bong Hee tersipu malu. Ji Wook tiba-tiba memegang kepala Bong Hee.
“Ini adalah cinta untuk kemanusiaan.” Kata Ji Wook. Bong Hee binggung apa maksud ucapanya. Sementara Ji Wook lebih dulu masuk ke dalam rumah.
“Kemanusiaan, apakah manusia maksudnya?” ucap Bong Hee binggung.
Akhirnya sampai di kamar Bong Hee mencari keyword “Cinta untuk kemanusiaan” lalu menemukan artinya Cinta untuk seluruh manusia. Wajah Bong Hee terlihat kecewa karena Ji Wook yang tak bisa membalas cintanya. 


Bong Hee baru saja keluar dari Pengadilan Daerah Goyang, salah seorang anak datang dengan membawa es krim tiba-tiba langsung menabrak Bong Hee. Si bapak yang melihat anaknya malah tak meminta maaf sama sekali dan masuk begitu saja ke dalam pengadilan.
“Anak kasar itu jadi manusia. Ayah dari anak itu juga jadi manusia.” Ucap Bong Hee lalu melihat dua brengsek yang juga jadi manusia.
“Kalian berdua terlihat cocok bersama. Apa Kalian pacaran?” ejek Bong Hee. Keduanya langsung mengumpat marah kalau Bong Hee sudah gila.Bong Hee menatap keduanya.
“Mengecewakan bahwa kalian manusia juga. Itulah yang kupikirkan juga saat aku melihatmu.” Kata Bong Hee. Ji Hae tak mengerti maksud ucapanya.
“Apa maksudmu kami tidak pantas jadi manusia?” kata Ji Hae kesal
“Ini menunjukkan betapa tidak pentingnya kata-kata dalam mengerti sesama.” Balas Bong Hee.
Hee Kyu ingin marah, Bong Hee tak takut menantang Hee Kyu yang ingin bicara. Hee Kyu seperti anak anjing melangkah mundur. Ji Hye menceritakan baru saja bicara tentang Bong Hee dan betapa lucunya  bertemu langsung setelah itu.
“Kami menyebut ini "sinkronisasi". Itu kata besar. Lebih sederhananya, aku bilang, "Bicara tentang iblis."” Kata Ji Hye
“ Orang-orang mungkin berpikir ini adalah "ngomong di belakang".” Balas Bong Hee.
“Kami hanya berbagi fakta.” Ucap Ji Hye. Bong Hee membenarkan kalau itu memang fakta.
“Wawancara kerja kau kemarin dan Pengacara Noh kacau.” Ucap Hee Gyu.
Bong Hee marah langsung mencengkram leher Hee Kyu karena  membawa-bawa Pengacara Noh. Ia menegaskan kalau yang membuat kacau mererka tapi bukan dirinya. Hee Kyu pikir mereka bisa bicara tanpa mengangkat kerah. Ji Hae ingin membela diri tapi Bong Hee lebih dulu memegang tanganya. 


Ji Wook berjalan masuk, tiga pengacar lain menyap Ji Wook yang mendengar mau keluar dan mengejeknya kalau itu keren. Ji Wook tak mengubrisnya dan berjalan pergi. Salah satunya makin mengejek kaalu Ji Wook itu sudah pasti takkan bisa melawannya dan akan pergi, tapi saat itu Eun Hyuk ada di sudah ada didepan mereka.
“Kau tahu, aku cukup banyak informasi. Kudengar kalian akan dipecat juga. Angka pengacara mencapai 20.000, dulu. Kalian terlihat percaya diri, sampai mengkhawatirkan orang lain dan harus khawatir terhadap diri sendiri. Kalian sedang di ambang batas akan kehilangan pekerjaan.” Kata Eun Hyuk. Ketiganya terlihat panik. 

Di dalam ruangan
Ji Wook melihat berkas perkara yang masuk, Eun Hyuk menatapnya dan hanya bisa menghela nafas melihatnya. Dirumah Ji Wook masak dalam diam, Bong Hee menatap Ji Wook merasa kasihan.
“Kudengar Pengacara Noh tidak peduli dengan firmanya sama sekali. Itu pasti akan terjadi. Dia membebaskan tersangka dari kasus pembunuhan Pengacara Distrik. Di atas itu, dia beradu argumen dengan DA. Dia adalah musuh jaksa. Ada rumor kalau dia menyerahkan surat pengunduran diri. Dia melakukan itu untuk menyelamatkan wajahnya. Tapi yang pasti dia akan dipecat.” Gumam Bong Hee. 

Ibu Ji Wook melihat dari tabnya. Tuan Byun memberitahu  Jika Ji Wook membuka firmanya sendiri, maka akan bangkrut. Ibu Ji Wook merasa Tuan Byun berharap Ji Wook mendapat skenario terburuk yang bisa terjadi.
“Aku hanya khawatir dengan dia.... Bok Ja, kau harus menghentikan dia berhenti bekerja.” Kata Tuan Byun ingin agar ibu Ji Wook merayu
“Aku takkan melakukan sesuatu untuk berdiri di jalan anakku. Dia pintar dan suka membeda-bedakan. Aku yakin dia bisa mengurus segalanya sesuai keinginannya.” Ucap Nyonya Hong Bok Ja tersenyum bahagia.
“Dia tidak bisa.” Tegas Tuan Byun. Nyonya Hong mengeluh Tuan Byun itu berisik sekali.
“Jangan coba hentikan dia. Daripada itu, dukung dia saja. Mau kemana kau pergi dengan semua uangmu? Kau harus menggunakannya untuk membuka jalan bagi individu muda.” Kata Nyonya Hong.
Tuan Byun pikir kalau memang membuka firma, Nyonya Hong langsung menghentikanya menyuruh Tuan Byun agar makan pizza lebih dulu setelah itu membeli beberapa box pizza lainya.
“Astaga. Aku bahkan tidak segitunya suka pizza.” Keluh Tuan Byun. Sementara Nyonya Hong sibuk melihat lamaran kerja.
Ia menemukan nama  Park Young Soon dengan wajah ibu Bong Hee. Wajah Nyonya Hong tersenyum bahagia seperti meihat Nyonya Park seperti memohon agar bisa memperkerjakanya. Beberap saat kemudian Nyonya Park datang dan mengatakan akan menemuinya bulan depan. Di balik dinding, Nyonya Hong tersenyum bahagia karena bisa membuatnya jadi satu perkerjaan. 


Bong Hee menerima pesan dari ibunya “Bong Hee, aku dapat pekerjaan. Mereka ingin aku mulai bekerja bulan depan.”  Bong Hee pun membalas pesannya mengucapkan selamat.
Saat itu ia sedang membuat membereskan semua barang dengan papan nama Pengacara Eun Bong Hee ke dalam kardus. Seorang pria sudah melihat barang-barang yang ada di ruangan Bong Hee.
“Aku akan memberimu 350 dolar untuk semua perabot di kantor ini.” Ucap si pria
“Apa Kau tahu betapa banyaknya aku membayar untuk perabot yang ada di kantor ini? Bagaimana bisa Anda memberiku harga rendah?” kata Bong Hee.
“Aku sebenarnya harus membawa seluruh perabotnya.” Ucap si pria. Bong Hee pun tak bisa berbuat apa-apa. 


Akhirnya Bong Hee pergi ke bagian agen properti dan tak mendapatkan uang deposit karena habis untuk membayar sewa yang belum dibayar. Bong Hee menatap sedih nama papan yang ada di depan pintu [Firma Hukum Eun Bong Hee] dan hanya bisa memeluknya dengan erat.
Bong Hee berbelanja di supermarket dengan trolly dan penuh barang, tak sengaja menabrak trolly didepanya. Ternyata Ji Wook juga sedang berbelanja. Bong Hee merasa senang karena bisa bertemu tapi Ji Wook seperti tak suka memilih untuk pergi. 

Bong Hee mengikuti Ji Wook memuji kalau pertemuan itu keren sekali. Ji Wook pikir tak keren karena  supermarket ini adalah bahan makanan yang ada di dekat rumahnya. Bong Hee tak percaya melihat Ji Wook yang  belanja sendiri.
“Jika bukan aku, menurutmu siapa yang selama ini memberimu makan?” keluh Ji Wook
“Aku diperlakukan dengan cara terbaik selama ini. Bagaimana caranya aku membalas budi?” kata Bong Hee
“Aku takut dengan caramu membalasnya, jadi tidak harus melakukanya.” Ucap Ji Wook
“Aku akan membalasnya. Jika kau butuh sesuatu yang lain, letakkan saja di keranjang dorongnya.” Kata Bong Hee.
“Aku akan senang karena butuh banyak barang.” Ucap Ji Wook memasukan semua barang yang dibutuhkan sampai trollynya penuh. Bong Hee pun tersenyum melihat Ji Wook yang bersemangat seperti memang ingin membalas semua kebaikannya.
Bersambung ke episode 10

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar