Rabu, 31 Mei 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Pembawa acara memulai pertandingan “RFC Lightweight Pro Fight.” Dan meminta agar memberikan tepuk tangan pada Kim Tak Su. Dong Man yang mendengarnya kaget melihat pria dengan rambut blonde keluar mengunakan jubah dan terlihat sangat bangga.
“Pelatih... Bukankah yang kau lakukan kepadaku ini kejam?” ucap Dong Man penuh amarah.
“Hei... Bukankah kau kejam terhadap dirimu sendiri? Coba Lihatlah, kau harus Lihat dia.Tontonlah bagaimana dia hidup sekarang. Kalian melakukan hal bodoh bersama. Kenapa kau harus menggantungkan kepalamu? Itulah yang kau sebut "kemenangan".” Jelas Pelatih.  Dong Man hanya terdiam. 

Tak Su sudah ada didalam ring setelah diperiksa seluruh badan sebelum bertanding, pembaca acara memberitahu Tak Su yang memiliki Catatan MMA profesional, 23 menang dan 4 kalah, serta MMA Tiger dengan kemampuan spesial dalam taekwondo dan menjadi Petinju kelas ringan kebanggaan Korea.
Akhirnya Tak Su mulai bertanding, Dong Man terdiam melihat kaki taksu yang sama ketika bertanding Taekwondo denganya. Tak Su memberikan tendangan memutar pada leher lawan dan membuat si lawan terjatuh.
“ Kemenangan KO lainnya untuk Kim Tak Su. Sebuah kemenangan KO hanya dengan satu menit pertandingan. Dia memakai keistimewaannya, tendangan roundhouse. Kurasa tak ada orang yang bisa mengalahkannya. Tak Su cukup mengesankan dan begitu kuat.” Ucap si pembawa acara. Tak Su yang bangga langsung naik ke atas ring meminta penonton bersorak itunya.
 “Itu milikmu. Dia dari semua orang, bukanlah orang yang seharusnya menggunakan kemampuan spesialmu.” Ucap Pelatih Hwang pada Dong Man 

Flash Back
[Seleksi TimnasTaekwondo, 2007]
Pelatih Choi  menemui Dong Man mengaku tak ingin membuat ini jadi lebih susah baginya, jadi apabila Dong Man  terlalu lelah saat pertandingan, maka tidak harus bangun. Dong Man hanya diam saja dengan memakai kain ditanganya.
“Kenapa kau membuat hal jadi susah bagi semua orang? Jika kau menyerah.., maka kita semua bisa bahagia.” Ucap pelatih Choi
“Tidak... Tak ada yang akan bahagia... Tak orang ada di keluarga... ingin aku kalah. Aku akan menang medali emas..,membayar utang ayahku dan membuat ibuku hidup lebih baik. Lalu aku akan mengurus pengobatan Dong Hee. Jadi aku takkan kalah.” Tegas Dong Man lalu keluar dari ruangan. 

Pelatih Hwang bertanya pada Dong Man apakah merasa sangat gugup Dong Man terlihat sedikit gugup. Pelatih Hwang menasehati agar Dong Man Jangan gugup karena berlatih keras ia pun meminta agar melangkah dengan ringasn setelah takluk Tak Su dan pergi ke Beijing, pemerintah pun menerbangkan tim nasional dengan pesawat kelas bisnis.
Dong Man terlihat tak percaya mendengarkanya,  Pelatih Hwang pikir Dong Man belum pernah terbang dengan kelas bisnis, yaitu kursinya yang dibisa di baringkan seperti tempat tidur.  Saat itu Tuan Ko datang, pelatih Hwang pun menyapa ayah Dong Man yang jarang datang ke turnamen.
“Kau harus Menang, oke? Apabila Kalah,maka aku akan membunuhmu.” Ancam Tuan Ko.
“Aku takkan kalah.... Anak Ayah tidak akan kalah.” Ucap Dong Man yakin meminta ayahnya agar menonton saja nanti.
“Ko Dong Man akan pergi ke Beijing!” teriak Dong Man bangga dan sangat yakin. 

Tuan Ko memilih untuk mengisap rokok di luar Institusi Taekwondo Nasional. Petandingan Dong Man dan Tak Su pun dimulai, Pelatih Hwang pun memberikan arahan agar Dong Man bisa melakukan dengan baik.
Beberapa kali Dong Man bisa menyerang sampai Tak Su seperti mulai menyerah. Dong Man terus bisa memberikan serangan pada Tak Su, tiba-tiba terdengar suara “Dong Man, kau bisa melakukannya.” Dong Hee duduk dibangku penonton dengan ibunya memberikan semangat serta kursi roda yang ada disampingnya.

Dong Man melamun dan saat itu Tak Su mendapatkan kesempatan memberikan tendanganya. Dong Man pun langsung terjatuh, Pelatih Hwang kaget sambil mengumpat menyuruh Dong Man agar segera bangun. Akhirnya Dong Man kembali bangun sebelum dinyatakan K.O.
Pikiran Dong Man kembali melayang mengingat perkataan seseorang “Kudengar adiknya Dong Man bisa berjalan jika dia bisa dioperasi. Aku sudah membayar tagihan RS yang belum dibayar untuk adiknya Dong Man”
Tak Su kembali memberikan tendangan dan saat itu juga Dong Man langsung terjatuh tak sadarkan diri. Wasit kembali menghitung, Pelatih berteriak menyuruh Dong Man bangun. Dong Hee juga ikut berteriak sambil menangis mengancam kakaknya.

“Oppa! Bangun! Jika kau tidak bangun.., maka aku takkan berjalan untukmu lagi! Aku tak mau bermain denganmu!”teriak Dong Hee pada kakaknya. Dong Man tetap diam saja. Tuan Ko pun melihat anaknya yang tergeletak di arena pertandingan. 

 Flash Back
Pelatih Choi datang ke rumah, Ibu Dong Man memberitahu akan  membayar besok jadi meminta agar memberikan nomor rekeningnya, Pelatih Choi menegaskan Jika mereka akan membiarkan Tak Su memenangkan tempat di timnas maka ayahnya yang kaya akan membayar utang suaminya juga.
Tuan Ko yang mendengarnya langsung mengambil tempat sampah dan menuangkanya tepat diatas kepal Pelatih Choi. Ia tak habis pikir Pelatih Choi itu yang ingin membuat anaknya itu kalah untuk uang dan mengusirnya agar keluar dari rumahnya.
Dong Man duduk dikamarnya, melihat dikalender dengan bertuliskan “Ko Dong Man memimpin ke Beijing!” Sebelum bertanding ayahnya meminta agar Dong Man menang dan akan membunuhnya kalau kalah. Dong Man pun menyakinkan kalau dirinya tak akan kalah.  

Wasit pun memutuskan kalau Tak Su menang dan akan dikirim ke Beijing, Pelatih Hwang terlihat kesal melepaskan jasnya. Sementara Dong Man hanya bisa menangis dan berteriak histeris diarena pertandingan. Sang ayah hanya melihatnya dari kejauhan.  

Beberapa wasit berkumpul merasa kalau mereka harus bicara. Salah satu wasit merasa Ada sesuatu yang aneh padahal Tak Su hanya menyerempetnya tapi malah membuat Dong Man tak bisa bangun. Menurutnya Ini bukan karena Dong tidak bisa bangun tapi karena tidak mau bangun.
 Di ruang Konferensi Pers : Penetapan Kualifikasi Timnas, semua wartawan sudah berkumpul.  Dua orang wartawan saling mengobrol bertanya Apa dia tidak diperbolehkan ikut kompetisi lagi. Wartawan lain pun membenarkan, mereka pun mengeluh dengan anak muda sudah memikirkan uang. 

Tak Su dengan sombong menyuruh Dong Man agar masuk sendiri saja dan mendapatkan bayaran. Pelatih Hwang berteriak marah padaTak Su. Pelatih Choi menahan agar Pelatih Hwang tak memukul.
“Kita ketahuan karena dia terlalu jelas. Aku akan diberi tindakan pendisiplinan juga karena dia.” Ucap Tak Suk
“Hei, Pelatih Choi. Kenapa keparat satu ini brengsek sekali? Apa katamu barusan? Kau kekurangan keterampilan, membayar dengan caramu, dan menyakiti Dong Man. Beraninya kau menyalahkannya?” ucap Pelatih Hwan membela
“Ayah Tak Su akan ikut pemilu tahun depan.., jadi dia tidak ingin Tak Su mendapat perhatian karena ini.” Jelas Pelatih Choi
“Jai Apa Kau ingin Dong Man jadi rompi anti pelurunya?” kata Pelatih Hwang marah
“Hei... Apa Kau tidak mau melakukannya? Dong Man, kau takkan melakukannya?! Kalau begitu kembalikan uangnya. Aku takkan masuk timnas jadi bayarlah tagihan RS adikmu.” Ucap Tak Su mendekati Dong Man yang hanya diam saja. Pelatih Choi akhirnya menarik Tak Su keluar dari ruangan.

“Pelatih... Maafkan aku.” Ucap Dong Man yang sedari tadi diam saja. Pelatih Hwang mengumpat menyuruh Dong Man lebih baik diam saja karena


“Hei. Bagaimana bisa kau membuat pelatihmu jadi terlihat bodoh seperti ini? Bagaimana bisa kau melakukan ini tanpa mendiskusikannya denganku? Apa Aku ini hanya sekadar pelatih bagimu? Begitukah menurutmu?” ucap Pelatih Hwang kesal
“Kau tidak tahu apa yang terjadi dan akan disalahkan untuk hal yang tak kau lakukan. Aku akan pergi sendiri. Kau harus...pergi saja  Jika wajahmu muncul di koran, kau tidak bisa mengajar.” Ucap Dong Man berdiri dari tempat duduknya.
Pelatih Hwang makin kesal dengan tingkah Dong Man, lalu mengajaknya pergi keluar ruangan dan didepan ruangan sudah banyak wartawan yang ingin mengajukan pertanyaan pada Dong Man. 

Dong Man menunggu didepan mobil, mengeluh pada Pelatih Hwang yang belum keluar dan berpikir kalau berencana untuk melihatnya sendirian. Saat itu Tak Su baru keluar dengan pelatih dan assitantnya, beberapa wartawan memujinya yang sangat keren. Pelatih Choi menjauhkan Tak Su dari wartawan dan berjanji akan membuat pengumuman publik.
“Hei... Bukankah kau Ko Dong Man?” ucap Tak Su melihat Dong Man yang berdiri didepan truk. Pelatih Choi seperti kaget melihatnya, sementaa Yang Tae Hee bertanya apakah mengenal pria itu.
“Lama tidak jumpa.” Ucap Dong Man menyapa. Tak Su pun menyapa balik dengan gaya sombongnya.
“Ada perlu apa kau kemari? Kenapa kau di sini?” tanya Tak Su. Dong Man mengaku kalau Seseorang memberiknan sebuah tiket untuk pertandingannya.
“Jadi kenapa kau menonton pertandingan?” tanya Tak Su sinis. Pelatih Choi menenangkan Tak Su kalau Dong Man itu boleh menonton pertandingan.
“Apa kau kemari... untuk menemuiku? Kenapa? Apa Kau butuh uang lagi?” ejek Tak Su
Pelatih Choi memperingatkan Tak Suk kalau banyak orang melihatnya, Tak Su dengan bangga berpikir karena dirinya yang memiliki uang maka Dong Man mau mengambil sisa-sisa, Dong Man membenarkan dengan menahan amarahnya. Tak Su mengejak kalau Kepribadiannya memang takkan pernah berubah dan mengaku kalau setiap kali melihatnya maka merasa jijik.
“Jadi jangan berkeliaran di sekitarku, oke? Jangan datang ke octagon. Jika kau muncul dan bertingkah lagi maka kau akan menyia-nyiakan hidupku lagi.” Ucap Tak Su
“Hyung... Apa kau takut?  Kenapa kau bertele-tele? Dasar Memalukan.” Ejek Dong Man
Tak Suk mengeluh dengan yang Dong Man katakan tadi dengan berani mengejeknya.  Dong Man bertanya apakah Tak Suk itu takut ia akan kembali bertarung. Tak Su mengingatkan Dong Man itu  hanya ace 10 tahun lalu mendorongnya merasa Dong Man ternyata masih punya mulut. Pelatih Choi memberitahu kalau banyak kamera. Tak Suk tak peduli
“Kau harus menghancurkan pengecut ini dengan benar. Ahhh, aku hampir lupa. Apa yang terjadi dengana adikmu? Apa Dia bisa jalan sekarang?” ejek Tak Su lalu berjalan pergi.
“Kim Tak Su!” teriak Dong Man marah. Tak Su marah mendengar namanya yang dipanggil tanpa panggilan “Hyung”.  Dong Man mengeluarkan jurusnya dan memberikan pada Tak Su sampai Tak Su terjatuh.
“Jika kau mau menyalin gerakanku, maka lakukan dengan benar.” Teriak Dong Man marah. Tak Su kaget melihat Dong Man lalu mengumpat kalau sudah gila.
“Jangan takut.. Ini hanya permulaan. Jika kita bertemu di ring, maka kau mati.” Tegas Dong Man lalu berjalan pergi. Tak Su masih terjatuh dan wartawan langsung mendekat untuk mengambil gambar. 



Ae Ra berjalan di depan depan studio foto, tiba-tiba ia terhenti melihat spanduk bertuliskan “Foto ID untuk kru kabin dan penyiar” dengan beberapa pose yang diperlihatkan. Ae Ra terdiam seperti impianya yang belum bisa tercapai sebagai penyiar. 

Beberapa wartawan melihat dibagian truk merasa kaalu  black boxnya bekerja. Pelatih Hwang tak jauh dari pintu masuk binggung melihat banyak orang yang berkumpul di depan truknya, merasa  tidak melakukan kesalahan.
“Permisi. Aku mau pergi dengan trukku.” Ucap Pelatih Hwang mendekati truknya.
“Apa kau pemilik truk sundae ini?” tanya wartawan. Pelatih Hwang mengangguk. Wartawan lain bertanya apa kamera black boxnya masih bekerja.
Pelatih Hwang membenarkan dan bertanya kenapa mereka menanyakanya,  Wartawan meminata agar meminta untuk mengirimkan  rekaman kameranya. Pelatih Hwang binggung apakah terjadi sesuatu. Wartawan memberitahu kalau Kim Tak Su  dikalahkan di depan truknya. Pelatih Hwang kaget mendengarnya lalu mengemudikan mobilnya dan menonton video saat membuat Tak Su terjatuh.

Dong Man berdiri didepan zebra cross, semua orang sedang melihat ponsel dan video tentang Dong Man pun menyebar di internet, postingan berita pun mulai keluar “Kim Tak Su dibuat tak berdaya.”
Telp Dong Man berdering, Dong Man langsung meminta maaf dan berjanji  akan memperbaiki dirinya sendiri. Managernya mulai mengumpat marah, dan berntanya ada di unit mana saat wamil.
“Aku hanya...akan melakukan dengan lebih baik lain kali.” Ucap Dong Man yang berdiri di tengah jalan trotoar. Managernya bertenya dimana keberadaanya sekarang. Dong Man mengingat saat managernya yang memukul bagian dadanya karena mengertakan giginya.
Lalu Tak Su yang memperingatkan agar Jangan datang ke octagon. Ae Ra mengatakan kalau ses orang memang harus melakukan apa yang mereka cintai, lalu mengaku bahagia sekarang dan melakukan sesuatu dengan intens
“Kurasa aku tidak bisa melakukan kerja dengan bagus. Kau selalu bilang kepadaku untuk berhenti jika hanya itu yang bisa kulakukan. Tapi kau tahu.., hanya itu sehebat yang bisa kulakukan karena aku tidak suka pekerjaan itu. Jadi Apa kau tahu? Aku akan berhenti! Aku berhenti kerja! Aku tidak peduli sekarang!” teriak Dong Man sambil menangis lalu menyebrang jalan 

[Ronde 4: Lakukan Saja Itu!]
Dong Man berlari menemui pelatihnya. Pelatih Hang kaget melihat Dong Man yang datang bertanya darimana saja setelah membuat kericuhan. Dong Man memanggil pelatihnya “Hyung”. Pelatihnya langsung memukul kepala Dong Man.
“Aku mau melakukannya... Aku sungguh ingin melakukannya! Aku akan melakukan seni bela diri! Aku akan melakukannya!” teriak Dong Man sudah memutuskanya. Pelatih Hwang kaget merasa kalau Dong Man sedang bercanda.
“Aku tidak peduli apapun. Akan kulakukan saja. Kau bilang kepadaku untuk tidak peduli dan tidak biarkan ini pergi.” Ucap Dong Man yakin
“Kau tidak bilang karena mabuk kan?” kata Pelatih Hwang menyakinkan. Dong Man pun menganguk lalu pelatih Hwang memeluk anak didiknya setuju agar mereka melakukanya. 

Ae Ra melihat foto Idnya dengan senyuman bahagia seperti sudah ingin melamar jadi penyiar. Tiba-tiba sebuah mobil lewat dan memanggilnya. Ae Ra kaget melihta Moo Bin merasa kalau  seperti penguntit. Moo Bin pikir kalau  wanita itu memang suka kejutan seperti ini.
“Wanita tidak suka saat ada pria yang muncul pada saat tidak diharapkan.” Komentar Ae Ra sinis.
“Ini hanya karena aku merindukanmu setiap waktu. Aku punya tiga jam istirahat. Tapi aku sudah memakai sejamnya untuk menunggumu jadi Aku hanya punya dua jam tersisa.” Ucap Moo Bin dan mengajak Ae Ra untuk masuk ke mobilnya. Ae Ra seperti tak menolaknya. 

Di restoran daging panggang, untuk makan malam kantor. Manager Choi pun meminta agar mendengarkan beberapa kata dari para calon pegawai. Seorang pria bernama Kim Chan Ho dari tim penjualan, lalu Jang Ye Jin. Berdiri meminta dukunganya. Seol Hee sibuk membakar daging didepan Joo Man.
“Permisi, Ahjumma. Tolong berikan kami 2 botol soju, 3 botol bir, sayuran, dan tisu basah.” Kata Seol Hee. Manager Choi yang melihatnya mulai berkomentar
“Sun Hee...ternyata sangat cepat memesan” komentar Manager Choi. Sul Hee membenarkan namanya itu Sul Hee bukan Sun Hee.
“Bukankah katamu ortumu...menjual kaki babi di pasar di pelosok sana? Kurasa karena inilah dia pintar memotong daging. Kita harus selalu membawanya saat pesta makan malam tim.” Kata Manager Choi seperti ingin mencari manfaat.
Seol Hee pun menyetujinya, sementara Joo Man yang melihatnya merasa kasihan karena hanya Seol Hee yang memanggang daging. Yee Jin ingin menuangkan soju, Manager Choi langsung menahanya merasa Yee Jin tidak perlu melakukan itu.
“Siapa yang membuat wanita jadi yang menuangkan minuman di jaman sekarang? Harusnya akulah yang menuangkannya.” Ucap Manager Choi
“Tidak perlu, aku yang akan menuangkannya. Biar aku yang menuangkan minumanmu” ucap Joo Man mengambil botol dari tangan Manager Choi.
“Aku tidak begitu bisa minum, jadi tuangkan sedikit saja.” Kata Yee Jin malu-malu. Ae Ra hanya bisa diam saja melihat Joo Man menuangkan minuman untuk wanita lain.
Manager Choi melihat wajah Yee Jin  jadi merah setelah Joo Man menuangkannya minum. Yee Jin pun tersipu malu mendengarnya. 


Di toilet
Joo Man memperingatkan Manager Choi kalau tidak boleh membuat pekerja wanita menuangkan minuman jaman sekarang. Manager Choi mulai membahas kalau Joo Man yang tak memiliki pacar, dan seharusnya sudah menikah. Joo man mengaku kalau harus punya uang dulu.
“Bagaimana menurutmu dengan Jang Ye Jin, calon pegawai baru? Kurasa dia menyukaimu. Jika kau berkencan dengannya, maka kau bisa berhenti sekarang. Keluarganya menjual kaki babi yaitu "Kaki Babi Nenek Park". Keluarganya punya brand itu.” Ucap manager Choi
Joo Man terlihat tak begitu tertarik, keduanya keluar dari toilet dan melihat punggung Ye Jin dan Seol Hee. Manager Choi berkomentar kalau Yang satu kelihatan seperti TV hitam putih dan yang satunya kelihatan seperti TV berwarna. Joo Man yang mendengarnya terlihat kesal saat Manager Choi melepaskan sepatunya, dengan sengaja membuangnya salah satunya. 


Moo Bin mengemudikan mobil dengan Ae Ra yang duduk disampingnya sambil bergumam “Aku tidak suka fakta kalau pangeran berwibawa mengantarku pulang.” Lalu GPS memberitahu kalau mereka sudah sampai tujuan setelah Moo Bin menghentikan mobilnya.
“Harusnya kau mengantarku ke stasiun saja.Kau tidak harus mengantarku sampai ke rumah.” Ucap Ae Ra merasa tak enak hati
“Jadi, Apa rumahmu beneran ada di sini?” kata Moo Bin seperti tak yakin. Ae Ra sedih heran dengan pertanyaan Moo Bin seperti merendahkanya, lalu akhirnya akan pamit pergi.
“Apa Sudah mau pergi? Kita baru saja sampai.” Ucap Moo Bin menahanya. Ae Ra pun bertanya apakah Moo Bin mau makan ramyeon di rumahnya.
Moo Bin kaget seperti itu ajakan orang yang sedang berkencan untuk mengingap. Ae Ra malah mengejak Moo Bin yang kelihatan sangat takut, menurutnya Moo Bin itu lebih suka jjolmyeon, bukan ramyeon. Moo Bin mengaku sangat suka ramyeon dan jjolmyeon. Ae Ra mengerti kalau Moo Bin suka keduanya.
“Apa Kau tahu, kalau ini asik untuk menggodamu, Moo Bin? Kau pasti punya waktu sulit saat di sekolah.” Kata Ae Ra
“Apa maksudmu dengan asik mengggodaku?” ucap Moo Bin, Ae Ra kembali memuji Moo Bin yang terlihat imut.
“Aku tidak imut... Aku tidak mau jadi imut.” Kata Moo Bin lalu sengaja memegang tangan Ae Ra.
Ae Ra pun membiarkanya, tapi saat itu suara GPS terdengar “ Anda sudah keluar jalur.” Seperti memperingatkan keduanya.  Ae Ra hanya bisa mengumpat kesal di dalam hati karena sudah bisa mengerti tanpa diberitahu. 


Joo Man melihat Manager Choi yang mengunakan alas kaki lain dengan berkomentar kalau pencuri sepatu masih aktif jaman sekarang. Manager Choi kesal karen pencuri hanya mencuri sebelah dan berpikir kalau itu orang mesum. Salah seorang pria bertanya Siapa pemilik kendaraan 0824. Ye Jin langsung mengangkat tanganya.
“Apa Anda memanggil layanan supir pengganti?” tanya si pria. Ye Jin pun membenarkan. Manager Choi melihat sebuah mobil sedan merah terparkir didepan mereka.
“Joo Man Sunbaenim..,bukankah kau tinggal di Oksu-dong? Aku akan lewat sana. Haruskah aku memberimu tumpangan?” kata Yee Jin. Manager Choi langsung mendorong Joo Man akan bisa naik mobil saja.
“Tidak, tidak usah. Aku ada rencana setelah ini.” Kata Joo Man, Manager Choi mengeluh Joo Man itu cukup keras kepala.

Ae Ra akhirnya turun dari mobil. Moo Bin merasa lebih baik setelah melihatnya masuk rumah. Ae Ra menunjuk kalau rumahnya ada di lantai dua jadi Moo Bin tak perlu melihatnya.  Moo Bin melihat kalau memang Ae Ra tinggal dilantai dua dan mengartikan kalau baju yang dijemur itu miliknya.
“Bukan. Aku tinggal di sana...” kata Ae Ra malu, Moo Bin lalu melihat dibagian atas dan berpikir Ae Ra suka emas.
“Kenapa pemilik bangunan meletakkannya di situ?” gumam Ae Ra kesal melihat ada patung singa emas di balkon.
“Ae Ra, jangan menyapa penyewa di lantai dua. Aku punya firasat buruk mengenai pria itu.” Ucap Moo Bin. Ae Ra binggung kenapa Moo Bin bisa berpikir ada pria yang tinggal di lingkungan rumahnya. 


Dong Man datang berteriak memanggil Ae Ra dengan wajah bahagia. Ae Ra kaget sambil mengeluh kalau harus datang sekarang. Dong Man yang bahagia langsung memeluk Ae Ra dan berputar-putar. Ae Ra langsung menjauhkan sambil mengomel kalau tidak melakukan hal itu.
“Aku berhenti bekerja. Aku akan melakukan seni bela diri sekarang.” Ucap Dong Man, Ae Ra tak percaya mendengarnya.
“Dengan karir sebagai seniman bela diri ini, aku akan membuat hidup yang baik bagi IBu, Ayah, Dong Hee, Pelatih, dan kau. Aku akan memutar hidup kita.” Kata Dong Man kembali memeluk Ae Ra dengan erat. 

Moo Bin melihat Ae Ra di peluk langsung keluar dari mobil. Ae Ra mengaku kalau Dong Man hanya temanya dan menjaukanya. Dong Man kaget melihat Moo Bin yang datang ke area rumah mereka. Moo Bin kaget berpikir mereka tinggal bersama.
“Dia tinggal di seberang rumahku. Bukan rumah yang sama, tapi Dia tinggal di sebelah. Tapi Omong-omong, apa kalian saling kenal?”ucap Ae Ra binggung.
“Kami alumni sekolah yang sama. Tapi, kenapa kau ada di depan rumah kami?” ucap Dong Man
“Aku mengantar Ae Ra dan juga akan pacaran dengannya secara resmi.” Kata Moo Bin menarik tangan Ae Ra untuk mendekat.
Ae Ra merasa tak nyaman melepaskan tangan Moo Bin karena  tidak perlu sampai seperti itu. Moo Bin memperingatkan Dong Man agar jangan memeluk Ae Ra seperti itu. Ae Ra merasa Moo Bin salah paham dan menjelaskan kalau hubungan dengan Dong Man itu teman baik.
“Ae Ra, pria dan wanita tidak bisa berteman. Itu adalah alasan yang kau buat untuk menjaga temanmu dalam jangkauanmu karena kau tidak ingin kencan dengannya. Aku tidak suka kau berteman dengannya.” Ucap Moo Bin
“Kami tidak hanya teman... Dia dan aku sudah seperti saudara.” Ucap Ae Ra meyakinkan.
“Kita kan... tidak ada hubungan saudara” kata Dong Man, Ae Ra kaget mendengar ucapan Dong Man
“Kami bukan saudara, Aku tidak suka itu juga. Aku tidak ingin kau, mengencaninya baik itu resmi maupun tidak.” Kata Dong Man menatap Ae Ra
“Kau tak pernah ikut campur dengan pacaranku sebelumnya.” Komentar Ae Ra binggung. Dong Man mengaku juga tak mengetahuinya dan dirinya  tidak suka sekarang.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


1 komentar:

  1. Sebenernya awalnya suka banget liat moo bin sama Ae Ra. Kesemsem abis sama moo bin nya. Huff ternyata fakta berkata lain.
    Sinopsis nya keren 👍

    BalasHapus