Minggu, 21 Mei 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 7

PS : All images credit and content copyright : SBS
Seorang pria masuk ke dalam ruangan sengaja menaruh sebuah kotak di atas meja dengan papan nama [Pengacara Eun Bong Hee] . Saat itu melihat sesuatu yang menarik dan melihat buku harian yang dituliskan Bong Hee. “Ia membaca tulisan Bong Hee “Kurasa Pengacara Noh Ji Wook tahu kalau aku sedang menguntit dia.” Lalu membaca buku lainya, melihat sebuah catatan bukti dari pelaku yang membunuh Hee Joon. 

Saat itu Bong Hee masuk ke dalam ruangan, Si pria langsung bersembunyi di balik pintu. Bong Hee sedih dengan hubungan bersama Ji Wook yang tak mungkin bisa berkencan, lalu mengeluh berapa kali akan putus dengan hubungan asmaranya.
Ia bangun lalu melihat sebuah kotak berisi sepatu dan pesan yang tertulis [Jika kau terus mencariku, maka aku akan mencarimu.] Ia mengingat saat meninggalkan spanduk pesan untuk si pelaku.  Wajah Bong Hee terlihat gugup menerima pesan dari si pelaku. 

Ji Wook kembali pulang mengemudikan mobilnya mengingat ucapan Bong Hee “Jika itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ataupun murni kebetulan.., maka aku takkan mendekatimu dari radius 100 meter. Aku tidak menyukaimu. Aku Sungguh dan Serius. Percaya padaku.”
“Astaga, dasar. Apa yang dia pikirkan ?” keluh Ji Wook dengan tingkah Bong Hee yang mengatakan hal itu.
Bong Hee yang ketakutan mencoba menelp Ji Wook dengan panik memberitahu kalau Ada seseorann g di kantornya. Ji Wook binggung, Bong Hee mengatakan Pria itu ada di kantornya lalu pergi. Ji Wook terlihat tak mengerti maksud Bong Hee mengatakan hal itu.
“Pelaku sesungguhnya yang membunuh Hee Joon.” Ucap Bong Hee.
“Hei, apa yang kau katakan? Siapa yang di kantormu lalu pergi?” kata Ji Wook berpiki Bong Hee itu bercanda.
“Kurasa...dia mungkin... masih di sini.” Kata Bong Hee lalu melihat bayangan seseorang yang keluar dari balik pintu dan keluar dari ruangan. Bong Hee segera bergegas pergi.
“Heii Bong Hee... Jangan bertingkah bodoh. Aku akan segera ke sana. Jadi berhati-hatilah.” Teriak Ji Wook tapi Bong Hee lebih dulu meninggalkan ponselnya, akhirnya ia pun bergegas memutar balik mobilnya. 


Bong Hee berlari ke lorong yang gelap lalu melihat pria yang berdiri di dekat tangga, lalu menyakinkan kalau pria itu pelakunya. Pria itu melirik Bong Hee dengan mengunakan masker, lalu berlari pergi. Bong Hee pun mengejarnya.
Sesampai didepan gedung Bong Hee mencari-cari si pelaku dengan banyak orang yang lalu lalang di depan gedungnya. Ji Wook akhirnya datang  dengan wajah panik menanyakan keadaan Bong Hee. Bong Hee masih tersu mencoba mencarinya.
“Hei..Bong Hee.. Aku tanya apa kau baik-baik saja.” Kata Ji Wook memegang tubuh Bong Hee dengan wajah panik.
“Aku kehilangan jejak dia di depan mataku. Ini Membuat jengkel dan marah saja.” Ucap Bong Hee dengan wajah kecewa. Ji Wook terdiam melihat Bong Hee yang berani pergi sendiri menemui si pelaku. 

[Episode 7 - Reuni dan Reuni]
Tuan Bang berbicara di telp mengeluh kalau sekarang  sudah terlalu larut dan mengusulkan untuk memanggil tim forensik besok. Ji Wook menyuruh agar memanggil saja, Bong Hee yang ada disamping ikut mendengar pembicaraan keduanya.
“Tapi, kau tidak yakin kalau dia pelakunya.” Kata Tuan Bang. Ji Wook mengaku kalau ia mungkin saja yakin.
“Omong-omong, ini sudah lama sekali semenjak kau tidak jadi jaksa. Sudah saatnya kau bertindak seperti jaksa yang menyelidiki sebuah kasus.” Ejek Tuan Bang
“Kau yang harus berhenti mengomeliku, dan nikmati malammu saja! Tolong!” teriak Ji Wook kesal sampai membuat Bong Hee kaget.
Bong Hee pun langsung bertanya apakah forensik akan datang, lalu mendorong Ji Wook yang duduk dimeja. Ji Wook mengeluh dengan sikap Bong Hee seperti mengusirnya. Bong Hee memberitahu kalau  Sidik jari pelaku mungkin diatas meja lalu menanyakan tentang  tim forensik. Ji Wook dengan nada kesal mengaku tak tahu.
Sementara Tuan Bang yang menerima telp dari Ji Wook mengoceh sendiria kalau mantan atasanya itu Dharus tahu kalau kritik bagus dan bertanya-tanya apakah masih menyelidiki kasus itu. 

Bong Hee menceritakan kejadian dengan penuh semangat,  kalau sedang melihat sekeliling kantor lalu  tiba-tiba seluruh tubuhnya merinding. Dan Saat itulah tahu mungkin ada pembunuh atau hantu di kantornya. Lalu ia  mendengar pintunya tertutup Jadi, aku pelan-pelan berbalik.
“Aku membiarkan pintunya terbuka, tapi saat itu tertutup. Aku hampir pingsan tapi aku mendorong diriku dan dengan cepat mengejarnya.  Tapi bajingan itu bersembunyi di tengah kerumunan orang banyak. Ada banyak orang bahkan di malam hari, jadi aku tidak bisa tahu yang mana. Semua orang terlihat seperti si pelaku” ucap Bong Hee dengan melihat wajah Ji Wook hanya diam saja dengan tatapan melas.
“Aku takut kalau dia mungkin memukulku dari belakang atau menusukku dengan pisau.” Kata Bong Hee dengan menyakinkan kalau ceritanya itu  tidak bercanda.
“Tentu, kau tidak bercanda. Tepatnya... kelihatannya seperti lelucon.” Komentar Ji Wook
“Hei... Siapa yang membuat lelucon?” kata Bong Hee polos. Ji Wook langsun menunjuk Bong Hee. Bong Hee seperti tak yakin Ji Wook malah menganggapnya lelucon. 


“Kau terlihat tertarik sekali sekarang.” Kata Ji Wook, Bong Hee binggung dan tiba-tiba Ji Wook berjalan mendekat seperti ingin mengoda Bong Hee.
Ji Wook berjalan merasa Bong Hee itu tak mengerti kedaaanya sekarang apakah itu berbahaya atau tidak, bahkan tak sadar mungkin benar-benar bisa terluka. Bong Hee menatapnya, Ji Wook pun merasa Bong Hee itu bicara seolah sedang melihat film thriller dan kelihatan seperti anak yang gelisah.
“Apa kau mengatakan ini karena kau khawatir kepadaku?” ucap Bong Hee. Ji Wook  membenarkan.
“Setiap orang bisa saja ada di situasi seperti ini. Aku akan merasakan hal yang sama jika orang asing mengalaminya juga.” Kata Ji Wook. Bong Hee terlihat sedikit kecewa dan ingin tahu alasan sikap Ji Wook
“Karena aku harus jadi jaksa yang memerangi tindak kriminal.” Kata Ji Wook. Bong Hee pikir itu benar.
“Kehadiran pelaku secara tiba-tiba membuatku lupa akan...janji...kalau aku harus membuat diriku tidak menyukai pria ini.” Gumam Bong Hee menatap Ji Wook yang ada didepanya.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” ucap Ji Wook heran, Bong Hee langsung memukul kepalanya agar sadar. 

Ji Wook makin binggung dengan sikap Bong Hee yang aneh. Bong Hee mengaku kalau sedang bicara dengan dirinya sendiri, lalu membahas Ji Wook yang mengatakan kalau dirinya itu kelihatan sangat tertarik dan mengaku kalau itu memang benar dan terlihat memang sangat alami.
“Aku bisa melihat pelaku yang sudah kutunggu-tunggu selama 2 tahun. Ini adalah kesempatan untuk membersihkan namaku.” Kata Bong Hee sengaja berjalan menjauh dari Ji Wook.
“Kau mungkin bisa mati.” Kata Ji Wook. Bong Hee merasa tak masalah karena nanti juga dirinya pasti mati. Ji Wook merasa Bong Hee itu pasti sedang bercanda.
“Aku sudah sedekat ini dengan kematian karena lapar.” Ucap Bong Hee. Ji Wook menegaskan kalau itu berbeda dari dibunuh.
“Apa perbedaannya? Coba Lihatlah kondisi kantorku. Aku sudah mau bangkrut. Aku nekat bekerja karena harus hidup. Tapi tak ada yang mau mempekerjanku.” Cerita Bong Hee dengan mata berkaca-kaca. Ji Wook pun menanyakan alasanya.
“Karena aku pembunuh yang membunuh anak Pengacara Distrik. Aku sudah benar-benar dikucilkan. Saat aku membuka firma hukum ini, ada sebuah artikel dengan judulnya..., "Pembunuh Terkenal Menjadi Pengacara". Ibuku berpura-pura dia baik-baik saja saat bersamaku.” Cerita Bong Hee yang membuat Ji Wook terdiam.
“Tapi dia menangis saat aku tak ada bersamanya,  karena dia marah anaknya telah disalahkan. Jadi aku harus menyelesaikan kasus ini tidak hanya untuk diriku sendiri..,tapi juga untuk ibuku dan kau, yang kehilangan pekerjaan karenaku. Aku hanya bahagia karena pelakunya muncul.” Ungkap Bong Hee.
“Baik... Mari tangkap pelakunya...bersama.” kata Ji Wook. Bong Hee kaget mendengarnya.
Ji Wook mengulang kembali kalau mengajak Bong Hee agar menangapk pelakunya bersama setelah itu mengajaknya pergi. Bong Hee binggung kemana Ji Wook akan mengajaknya pergi. Ji Wook mengatakan kalau aka mengantarnya ke rumah. Bong Hee memberitahu kalau kantornya itu adalah rumahnya. 


Keduanya sampai di depan rumah, Ji Wook heran melihat Bong Hee hanya diam saja. Bong Hee menegaskan lebih dulu kalau datang ke tempat Ji Wook karena mantan atasanya itu yang memohon terus tapi tak tahu apakah ia harus masuk rumah itu atau tidak.
“Apa kau bilang ? Kapan aku memohon kepadamu?”keluh Ji Wook
“Aku sudah bilang kepadamu, kalau akan jaga jarak minimal 100m. Tapi kau bilang, "Aku tak bisa meninggalkanmu di tempat berbahaya."” Kata Bong Hee.
“Ini sungguh tidak masuk akal. Kapan aku bilang itu?” ucap Ji Wook merasa tak mengatakan hal itu
“Tapi Kau adalah orang yang bersikeras dan menyeretku kesini.” Tegas Bong Hee. Ji Wook merasa Bong Hee itu sedikit mendramatisasi ini
“Jadi aku tidak bertanggung jawab atas apapun yang mungkin terjadi mulai sekarang.” Kata Bong Hee lalu masuk ke dalam rumah. Ji Wook binggung bertanya apa sebenarnya maksud perkataan Bong Hee tadi.  

Keduanya akhirnya masuk rumah, Bong Hee melihat Tak banyak yang berubah dan rumah Ji Wook itu sama seperti dengan dua setengah tahun yang lalu. Ia masih ingat segalanya walaupun hanya datang sekali saja. Ji Wook melepaskan jaket dan dasinya saat Bong Hee mulai bicara.
“Aku ingat sofa ini dan bahkan lemari yang ada di sana itu. Kita benar buang-buang malam itu, jadi...” kata Bong Hee lalu terdiam mengingat saat mabuk berani mengoda Ji Wook dengan mendorongnya disofa dan memberikan ciuman.
Ji Wook memilih untuk pergi ke dapur seperti enggan membahasnya, Bong Hee kebingungan kemana harus pergi, menghilangkan rasa canggungnya. 


Akhirnya keduanya makan ramen bersama di meja makan,  Ji Wook pun mulai membahas kalau mereka itu ada beberapa hal untuk dibicarakan. Bong Hee pikir itu juga.
“Kita harus mengklarifikasi sesuatu” ucap Ji Wook. Bong Hee juga harus meluruskan sesuatu. Ji Wook pun merasa kalau akhirnya  mereka berpikir sama dan ingin membahasnya tapi Bong Hee lebih dulu bertanya.
“Apa kita tidur bersama?” ucap Bong Hee. Ji Wook mengeluh dengan pertanyaan Bong Hee.
“Apa Bukan ini topiknya?”kata Bong Hee. Ji Wook menegaskan kalau memang bukan itu. Bong Hee mengaku kalau dirinya juga salah.
“Tapi Kurasa cuma itu yang perlu diklarifikasi.” Kata Bong Hee dan langsung kembali makan. Ji Wook melihat Bong Hee makan menyuruh makan kimchinya juga. 


Tuan Bang masuk ruangan memberikan tepuk tangan mengetahui Ji Wook yang datang kesiangan, lalu Eun Hyuk melihat temanya baru datang ingin tahu apa rahasianya sampai bisa ketiduran dan mengetahui kalau Ji Wook itu punya insomnia.
“Saat orang lelah berada di level dimana dia tidak bisa menanganinya.., maka aku tahu bahwa akhirnya dia tersingkir.” Ucap Ji Wook
“Kenapa? Apa yang membuatmu begitu lelah?” goda Eun Hyuk
“Kau tidak perlu tahu dan Tidak usah bertanya dan Jangan bicara padaku. Jadi Enyah sana.” Ucap Ji Wook kesal
“Yah, omong-omong.., mungkin hanya kau pria yang diberi selamat karena terlambat.” Komentar Tuan Bang bangga melihat Ji Wook yang datang terlambat.
“Berarti mungkin kau juga satu-satunya bos yang memberi selamat kepada pekerjanya karena terlambat.” Kata Ji Wook lalu mendorong bos dan juga Ji Wook yang duduk diatas meja.
Tuan Bang mengeluh dengan Ji Wook yang berani mendorongnya. Lalu mengingat kalau sebenarnya datang ingin memarahinya.  Ia memberitahu kalau Ji Wook itu mendapatkan banyak komplain bahkan para pekerja bahkan tidak mau bertatap muka dengannya, karena menganggap pengacara itu perkerjaan rendah.
“Kurasa mereka tidak benar-benar bodoh.” Kata Ji Wook. Eun Hyuk juga merasakan hal yang sama. 
“Kau tidak bisa melakukan ini dan harus bersosialisasi dengan orang-orang. Terkadang kau juga harus mengambil kasus yang tidak kau sukai. Kau akan dipecat pada tingkatan ini.” Ucap Tuan Bang. Ji Wook mengangguk mengerti dengan tatapan kosong seperti pikiran melayang.
“Aku menduduki pin dan jarum karena aku bersungguh-sunguh merekrutmu.” Kata Tuan Bang. Ji Wook mengiyakan.
“Kau tidak mendengarkanku, kan?” kata Tuan Bang. Ji Wook membenarkan. Tuan Bang langsung mengumpat marah
“Kapan kau mulai melihatku, Bong Hee?” gumam Ji Wook memikirkan tentang Bong Hee. 

Bong Hee mengetuk pintu kamar memberitahu Ji Wook kalau sudah terlambat dan Mataharinya sudah mulai naik tapi tak ada sahutan. Akhirnya Bong Hee membuka pintu yang tak kunci dan melihat Ji Wook yang masih tertidur nyenyak.
Akhirnya Bong Hee masuk ke kamar memandang Ji Wook yang tertidur pulas dengan wajah sangat terkesima dengan ketampananya. Tiba-tiba Ji Wook membuka matanya, Bong Hee panik langsung berlari keluar dari kamar tapi malah membuatnya jatuh karena terselengkat. Ji Wook pun hanya bisa memandangnya. 

Bong Hee mengingat kejadian sebelumnya mengumpat kesal pada dirinya yang sangat membuat malu, Seorang pria dari forensik pun bertanya apa yang dikatakan Bong Hee. Bong Hee mengelengkan kepala kalauhanya bicara dengan diri sendiri.
“Aku ucapakan Terima kasih banyak. Apa Kau mendapat sesuatu?” tanya Bong Hee mendekati petugas forensik.
“Aku tidak yakin. Banyak orang yang sudah mengunjungi kantor ini.., jadi aku tidak tahu apa yang akan kita dapat.” Kata si pria
“Tolong lakukan yang terbaik dan bantu aku. Aku harus dapat sesuatu dari ini, apakah itu sidik jari ataupun DNA.” Kata Bong Hee.

“Apa kau sudah mengecek rekaman CCTV?” tanya Si pria
“Dia memakai topi dan dengan pintar menyembunyikan wajahnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya di rekamannya.” Kata Bong Hee.
“Kalau begitu kau harus membuat sketsa komposit... Kau pasti melihat wajahnya.” Ucap si pria terlihat sedikit tegang
“Sayangnya, aku juga tidak melihat wajahnya.” Keluh Bong Hee kesal. Si pria terlihat bisa bernafas lega.

Saat itu si pria bisa tersenyum dan panik melihat sesuatu dibawah meja, Bong Hee pikir bisa membantunya. Si pria buru-buru meminta  segelas air. Bong Hee pun bergegas mengambilkanya,  Si pria mengambil kartu dibawanya, lalu memegangnya ditangan.
Bong Hee seperti melihat si pria mengambil sesuatu lalu bertanya apakah menemukan sesuatu. Si pria mengelengkan kepala dengan menyembunyikan kartu ditanganya dan mengambil gelas dengan tangan kiri, tapi karena gemetar malah membuatnya gelasnya jatuh. Bong Hee merasa tak perlu khawatir karena akan membersihkanya.
Si pria keluar dari gedung dengan senyuman di depan gedung Firma Hukum Eun Bong Hee, dengan membawa kartu yang bisa menjadi bukti.  


Bong Hee mencatat pada buku harianya “Investigasi forensik di kantor” lalu mulai bertanya-tanya Kenapa pelaku muncul di malam hari. Lalu terdengar bunyi ketukan pintu. Bong Hee mengingat ucapan Ji Wook sebelumnya berkata “Aku akan mampir nanti jika bisa.”
Akhirnya Bong Hee merapihkan rambutnya lalu menyuruh untuk masuk, Tuan Bang masuk dengan senyuman bahagia dan penuh semangat. Bong Hee tersenyum lebar dan berubah saat melihat Tuan Bang yang datang bukan Ji Wook.
“Ya, aku sangat sibuk, tapi karena permintaanPengacara Noh, jadi aku ambil waktu.” Kata Tuan Bang. Bong Hen mencoba tersenyum bahagia dan mengucapkan terimakasih.
“Aku berbicara dengan petugas perbaikan di jalan. Mereka mematikan listrik malam ini.” Kata Tuan Bang
“Apa?!! Mereka mematikan listrik Malam ini? Mereka kejam.” Keluh Bong Hee. Tuan Bang mendengar kalau Bong Hee itu paling telat membayar sewa dan kebutuhan lainya dan mengingkan Bong Hee yang segera keluar. Bong Hee pun tak bisa berbicara apapun. 

Seorang pegawai memberikan  rekaman CCTV dari hari kejadian. Bong Hee dan Tuan Bang pun mengucapkan terimakasih atas kerja samanya. Keduanya pun keluar dari toko, Bong Hee mengaku tidak bisa tahu wajahnya bahkan dengan melihat rekaman CCTV dan mungkin tidak bisa mendapat daftar pelanggannya. Tuan Bang juga pikir Bong Hee tidak boleh melakukan itu.
“Hei, tak apa. Aku sangat berterima kasih karena sudah membantuku. Tapi, Kepala Bang, kau kelihatan dingin kepadaku hari ini. Aku melakukan sesuatu salah, kan?” ucap Bong Hee
“Tidak, ini adalah hukuman karena telah kecewa setelah melihatku.” Kata Tuan Bang ternyata tahu melihat senyuman Bong Hee yang hilang saat masuk kantornya.
“Hei, aku hanya kecewa akan diriku sendiri. Aku mencoba untuk tak mempunyai perasaan ke seseorang tapi aku terus menunggunya.” Cerita Bong Hee.
“Kurasa aku tahu siapa itu..  Noh Ji Wook kan? Kudengar kau menguntit dia dari jauh.” Kata Tuan Bang.
Bong Hee kaget dan merasa tak percaya ternyat terlihat Jelas sekali. Tuan Bang pikir Bong He tak perlu khawatir karena Ji Wook itu tidak tahu. Bong Hee pikir Ji Wook itu pasti  tahu karena Tuan Bang saja sudah mengetahuinya.
“Dulu, pekerja di kantor kami ada yang cinta sepihak dengannya selama dua tahun. Semua orang tahu kecuali dia. Dia tajam dalam segala hal, tapi tidak sama halnya dengan wanita.” Cerita Tuan Bang
“Astaga, kuharap dia tahu perasaanku.” Ucap Bong Hee. Tuan Bang yakin Ji Wook itu takkan pernah tahu.
“Astaga,  Kurasa dia tahu kalau aku menguntit dia.” Ungkap Bong Hee. Tuan Bang mengajak bertaruh 50,000 won kalau Ji Wook tidak tahu.
“Turunkan jadi 30,000 won, Ingatlah anti suap dan menipu daya.” Kata  Bong Hee. Tuan Bang pun langsung setuju. 

Ji Wook menatap ke arah depan seperti menyakinkan diri lebih dulu. Sementara di dalam ruangan, Jaksa Jang menanyakan tentang  Noh Ji Wook dan Eun Bong Hee bersama. Anak  buahnya membenarkan. Jaksa Jang mendengar mereka tidak berinteraksi selama 2 tahun. Ankan buahnya juga berpikir seperti itu  tapi mereka kelihatan sedikit dekat kemarin.

Ji Wook berjalan di lorong dan tak sengaja melihat anak buah Jaksa Jang dan akhirnya masuk ke dalam ruangan. Jaksa Jang pun duduk bersama Ji Wook mengaku sedang berpikir untuk memanggilnya tapi ternyata Ji Wook yang datang lebih dulu. Ji Wook tak ingin berbasa basi lagi karena ingin bicara pada intinya.
“Aku tidak punya alasan mengunjungi Kantor Pengacara Eun Bong Hee semalam.” Kata Ji Wook. Tuan Jang seperti tak percaya. Ji Wook menyakinkan.
“Dan aku melihat mobil di depan.” Kata Ji Wook. Jaksa Jang terdiam memdengarnya. 


Flash back
Ji Wook melihat Bong Hee yang pamit pergi masuk ke gedung, saat itu melihat anak buah Jaksa Jang dalam mobil. Lalu Ia berpikir awalnya hanya mobil parkir di trotoar tapi berhenti berpikiran begitu setelahnya. Saat keduanya keluar dari gedung melihat pelaku, mobil itu masih terparkir dengan gedung.
“Itu sesuatu menggangguku, jadi aku melihat nomor platnya. Apa Anda boleh memakai kendaraan daerah seperti itu?” sindir Ji Wook
“Aku mengecek wanita yang membunuh putraku dari waktu ke waktu. Dan terkadang, aku menyuruh seseorang untuk mengawasinya. Sebagai ayah yang kehilangan anaknya, Apa tidak boleh aku melakukan itu?” kata Jaksa Jang
“ Tapi itu adalah investigasi ter...” kata Ji Wook yang langsung disela oleh Jaksa Jang kalau ternyata Ji Wook datang ingin meributkan masalah hal itu.
“Tidak, kenapa juga membahas hal itu? Aku hanya ingin bertanya apakah ada blackbox di mobil Anda. Aku perlu rekaman pada jam itu dan hanya mobil Anda yang diparkir di area itu.” Kata Ji Wook

“Kenapa kau butuh rekaman blackbox?” tanya Jaksa Jung. Ji Wook mengaku kalau telah menangkap seseorang.
“Sayangnya, tak ada kamera blackbox di mobilku” kata Jaksa Jang
“Aku tahu orang elit biasanya terlibat pertukaran rahasia di dalam mobil jadi aku mengerti kalau Anda tidak punya. Aku mengerti. Terima kasih atas waktunya.” Ucap Ji Wook beranjak pergi.
Jaksa Jang pun menanyakan apa yang cari oleh Ji Wook dan Apa pelaku yang dikatakan Eun Bong Hee datang. Ji Wook membenarkan. Jaksa Jang pun ingin menanyakan lagi,
“Apa kau pernah melihat pelaku yang dibicarakan Eun Bong Hee?” kata Tuan Jang. Ji Wook mengelengkan kelapa.
“Lalu kenapa kau mempercayainya?” kata Tuan Jang. Ji Wook mengatakan kalau ini bukan soal percaya kepada Bong Hee tapi mempercayai bukti.
“Bagaimana jika kau salah?” kata Tuan Jang menyindirnya.
“Jika aku salah, berarti pembunuh bernama Eun Bong Hee sedang berkeliaran di jalan. Tapi bagaimana jika Anda salah?” balas Ji Wook 

Jaksa Jang pikir sekarang Eun Bong Hee bebas menurutnya tak masalah. Ji Wook tak merasa kalau itu bebas, sambil mengingat perkataan Bong Hee semalam “Aku akan bangkrut Dan harus menemukan pekerjaan agar bisa bertahan hidup. Tapi tak ada yang mau mempekerjakanku Karena aku pembunuh yang membunuh anak Pengacara Distrik Aku benar-benar dikucilkan.”
“Itulah yang kupikirkan juga Tapi aku tahu dia tidak benar-benar bebas. Jika Eun Bong Hee tidak bersalah, maka Anda akan membayarnya. Karena berencana membuat bukti palsu dan membuatnya menjadi pelaku.” Kata Ji Wook

“Dan jika sebaliknya, kau yang akan membayarnya.” Balas Jaksa Jang, Ji Wook seperti tak takut dan keluar dari ruangan. 
Ji Wook berjalan di lorong bertemu dengan mantan atasanya, Keduanya binggung melihat Ji Wook ada di kantor kejaksaan. Ji Wook pikir Jaksa a Distrik Jang akan memberitahunya dan pamit pergi. Keduanya binggung lalu bertemu dengan Jaksa Jang diruanganya. 


“Sebarkan rumor, Kalau Noh Ji Wook datang mencariku dan mendatangkan malapetaka Lalu aku marah karenanya.” Kata Jaksa Jang
“Apa yang akan terjadi jika rumornya disebarkan?” tanya anak buahnya.
“Pengacara yang berkaitan dengan Noh Ji Wook akan menyalahkannya tiap kali mereka kehilangan percobaan. Mereka akan melupakan fakta bahwa mereka tidak hanya belum cukup mampu. Mereka akan berpikir kehilangan percobaan karena Noh Ji Wook. Semua orang akan benci Noh Ji Wook.” Ungkap Jaksa Jang dengan senyuman licik, sementara Ji Wook keluar dari kantor kejaksaan tanpa rasa curiga. 

Si pegawai melihat Nyonya Noh sedang memilih bunga berpikir kalau untuk suaminya. Nyonya Noh mengaku kalau tidak punya suami. Si Pegawai berpikir kalau itu pasti untuk pacarnya. Nyonya Noh mengatakan tidak punya pacar dan itu hadiah Untuk wanita. Si pegawai pikir kalau itu pasti untuk putrinya.
“Aku tidak punya putri.” Kata Nyonya Noh, Si pegawai binggung untuk siapa karena harus tahu jenis kelamin dan umur untuk membuat rekomendasi.
“Dia seumuran denganku.” Kata Nyonya Noh, Si pegawai merasa yakin itupasti temanya dan ingin menunjuk bunga yang cocok.
“Dia musuhku, bukan teman. Dia mencoba setia dengan pelanggan karena kemampuan memijitnya. Tapi Dia tidak punya waktu untukku karena pertengkaran terakhir kali. Dia bilang sudah full. Apakah aku sungguh harus mengirim bunga hanya untuk pijat?” ungkap Nyonya Noh sangat kesal meluapkan amarahnya. 
Sementara Ibu Bong Hee pamit pergi pada teman kerjanya dan berjanji akan kembali lagi. Semua mengaku pasti akan merindukan Ibu Bong Hee dengan memberikan sebuah hadiah. Ibu Bong Hee menolak merasa tak enak, tapi temannya memaksa karena itu tak banyak.
“Kau harusnya beli yang lebih bagus saat sedang seperti ini.” Ejek Ibu Bong Hee. Semua pun tertawa mendengar lelucon manager mereka. Bong Hee juga tersenyum mendengar ibunya yang mengoda temanya. 


“Mereka biasanya sangat hemat dengan duitnya.” Cerita Ibu Bong Hee berjalan keluar dengan anaknya.
“Itu artinya kau hidup disiplin. Kau sangat populer dan bahkan dapat hadiah.” Kata Bong Hee. Ibu Bong Hee tak yakin tapi menurutnya tak ada orang yang tidak menyukainya. Bong Hee membenarkan.

“Astaga, bagaimana dengan tanganmu? Tangannya rusak.” Kata Bong Hee kasihan. Nyonya Eun mengaku kalau itu normal kalau sudah tua. Bong Hee meminta agar ibunya tak berkerja dan menyakinkan akan sukses.
“Tak apa. Aku akan tetap bekerja, tapi tidak dengan tanganku. Aku akan terus bekerja Itulah rahasia awet muda.” Kata Ibu Bong Hee menyakinakn anaknya. 


Nyonya Noh datang ke tempat spa dengan sebuket bunga kaget mengetahui Ibu Bong Hee yang berhenti bekerja. Si pegawai heran karena Nyonya Eun yang tidak memberitahu Nyonya Noh padahal mengatakan kalau sudah memberitahu semua member VIP.
“Apa? Kenapa dia melewatkanku? Kenapa dia tidak meneleponku? Apa itu masuk akal?” ucap Nyonya Noh benar-benar marah. 

Nyonya Noh dalam sebuah kedai pizza menelp anaknya sambil menangis menceritkan tak pernah kehabisan kata-kata dalam hidupnya bahkan  tak pernah diperlakukan seperti ini. Ji Wook dengan dingin meminta agar ibunya jangan menangis hanya karena hal itu dan menyuruhnya Minum teh hangat sebelum tidur lalu menutup telpnya. Saat itu Tuan Bang datang melihat Ji Wook yang duduk sendirian minum soju.
“Apa kau membuat kesalahan lain? Kudengar kau ada perkelahian dengan Pengacara Distrik Jang.” Kata Tuan Bang
“Bagaimana dengan CCTV toko sepatu?” tanya Ji Wook. Tuan Bang pikir  itu tidak penting.
“Itu penting.” Kata Ji Wook. Tuan Bang memberitahu tak ada orang di rekaman.
“Mungkin saja dia minta orang lain untuk membelinya Atau mungkin dia ke toko lain.” Kata Ji Wook
“Wow, kalau begitu bagaimana aku harus mencarinya? Ini tidak mungkin Dan kita tidak bisa dapatkan tim investigasi untuk membantu.” Kata TuanBang
“Yah, aku harus menemukan cara.” Kata Ji Wook. Tuan Bang heran melihat Ji Wook yang tiba-tiba bertingkah seperti ini.
“Kurasa kau bertakdir buruk. Kenapa kau membuka lagi kasus ini?” ucap Tuan Bang
“Pemikiran tiba-tiba muncul di benakku. Jika aku tidak menuntut Eun Bong Hee kembali maka..” kata Ji Wook dan Tuan Bang bisa menebak kalau Orang lain yang melakukannya.
“Tapi...Aku punya hati nurani yang baik. Aku lebih tanpa ampun dengan diriku sendiri. Aku jujur terhadap hukum.. Aku merasa... seperti penjaga Eun Bong Hee, dan itu menggangguku.” Kata Ji Wook
“Tapi kau tidak kelihatan terganggu bahkan Kelihatannya kau menikmatinya.” Ucap Tuan Bang
Ji Wook pikir Htidak mungkin, menurutanya Hidupnya sedang semakin sibuk jadi tak mungkin tertarik, bahkan Tuan Jang tahu betapa bencinya berurusan dengan Eun Bong Hee. Tuan Bang mengaku tak begitu yakin dengan hal itu dan melihat Ji Wook minum banyak karena diganggu oleh Bong Hee. 


Flash Back
“Dua tahun terakhir tanpa Eun Bong Hee dalam hidupku rasanya aman dan damai...”
Ji Wook hanya melamun saat mendapatkan klien dengan masalah yang tak bisa tidur dan merasa teraniaya. Lalu menikmati teh di rumahnya dengan tenang, tapi esoknya kembali menangani klien yang tak membuatnya bersemangat. Ia pun makan di kantin dengan wajah sendu.
“Garis antara kemarin dan hari ini dan garis antara hari ini dan esok hari samar-samar. Kemarin terasa seperti hari ini dan hari ini terasa seperti esok hari, hari demi hari. Tak ada yang melanggarku dan tak ada yang ikut campur dengan hari damaiku itu.” 

“Tapi setelah bertemu dengan Eun Bong Hee...semuanya jadi sia-sia.Aku sudah bertemu dengan penguntit dan Pelaku muncul.”
Ji Wook yang menangani kasus yang sama dengan Bong Hee membanting si penguntit lalu pelaku datang membuat sedikit panik melihat Bong Hee yang mengejar si pelaku.
“Tempat pribadiku dilanggar.”
Ji Wook melihat Bong Hee yang datang ke rumahnya bahkan masuk ke dalam kamarnya dan akhirnya terjatuh didepan kamarnya. 

Ji Wook pulang dan melihat Bong Hee yang berdiri di depan rumahnya dengan membawa koper.
“Ini berbahaya dan membosankan, tapi tak pernah membosankan dengan Eun Bong Hee.”
Bong Hee bicara sendiri kalau Ji Wook yang mengatakan bisa tinggal di rumahnya sampai hasil investigasi keluar. Lalu merasa kalau itu pasti sudah dipermalukan. Ji Wook berjalan sengaja mendekati Bong Hee untuk mendengarkan yang dikatakan.
“Ini bukan waktunya untuk malu. Aku sedang mau mati. Baiklah, aku akan memainkan kartu simpatinya. Aku akan tinggal di kantor, tapi tak ada listrik maupun air. Aku bisa hidup tanpa cahaya, tapi susah jika tidak ada air.” Kata Bong Hee lalu akhirnya dikagetkan dengan Ji Wook sudah ada dibelakangnya.
“Aku tidak tahu kau akan sekaget itu.” Ucap Ji Wook melihat Bong Hee yang hampir jatuh karena heelsnya, lalu berpikir kalau Bong Hee terluka dibagian kakinya.
“Tidak, tak apa... Aku baik-baik saja.” Kata Bong Hee merasakan kakinya terkilir. 
“Tapi aku mabuk.” Ucap Ji Wook. Bong Hee binggung.
Bersambung ke episode 8

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar