Jumat, 12 Mei 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 3

PS : All images credit and content copyright : SBS
Bong Hee menuliskan surat untuk atasanya di meja belajar.
“Untuk Jaksa No Ji Wook... Selama 3 bulan terakhir, aku telah belajar banyak darimu. Aku belajar tentang tujuan hukum. Kau memberiku keberanian dan  kebijaksanaan untuk memenuhi tujuan hukum...”
Bong Hee sadar seperti tak sadar menurutnya  Ada batasan seberapa jauh bisa berbohong, menurutnya ini diluar batas dan sudah terlalu jauh.
Akhirnya ia membuka diary melihat nama  “No Ji Wook” dan membaca tulisan “Hari ini, No Ji Wook menyebalkan seperti biasanya.” Akhirnya ia merasa kalau Ji Wook itu pasti sangat menyebalkan.

Bong Hee mengingat dengan ucapan Ji Wook “Lagu kutukan bukanlah cara yang tepat untuk membalas mantanmu. Abaikan saja dia. Jadi lebih baik dan  hiduplah dengan benar.”
Akhirnya ia merasa kalau Ji Wook itu memang keren dan menuliskan dib diarynya. Bong Hee sadar membaca tulisan, lalu berpikir kalau dirinya itu gila bahkan menuliskan 'dia keren'.
Ia mengingat kembali saat mabuk mengoda Ji Wook dengan memberikan bibirnya, Ji Wook seperti terhanyut dan ingin mendekati Bong Hee. Bong Hee dengan posisi terjatuh di lantai terlihat kesal karena tidak ingat yang terjadi selanjutnya.
“Kenapa aku tidak ingat sisanya?” keluh Bong Hee lalu tiba-tiba merasa suasana dirinya kepanasan karena jantungnya yang berdegup dengan cepat.Akhirnya ia pun berdiri ingin membuka jendela kamarnya.
“Selalu ada sebab dan akibat di setiap kejadian. Ini kebenaran yang diketahui  semua orang, tapi masalahnya...”

Bong Hee membuka jendela merasakan udara malam yang masuk membuatnya terasa sejuk. Terlihat diseberang gedung, pria membawa sesuatu diatap gedung seperti bungkusan mayat. Ia melihat sosok Bong Hee yang berada tak jauh darinya, seperti mengetahui apa yang sedang dilakukanya. Ia pun buru-buru menyembunyikan mayat di tower air.
“Di sinilah masalahnya dimulai. Terkadang kita tidak dapat mengetahui penyebabnya. Sesuatu pasti terjadi, tapi kita tak bisa menemukan alasan kenapa hal ini terjadi, sama seperti aku yang tidak mengetahuinya.”
Bong Hee pun keluar dari rumah untuk membeli bir dengan lampu yang mati. Hee Joon datang ke rumah menekan bel tapi tak juga dibuka lalu berpikir kalau Bong Hee sudah tidur. Akhirnya ia mencoba masuk dengan menekan password pintu.
“Aku tahu itu, Bong Hee. Kau bahkan tak mengubah kode. Kau mungkin menyangkal perasaanmu,  tapi alam bawah sadarmu menungguku.” Ucap Hee Joon dengan bangga masuk ke dalam rumah, tapi saat itu pintu di tahan oleh seseorang.
Hee Joon merasakan ada orang yang datang dan melihat pelaku yang menusuknya.
Bong Hee baru pulang berjalan pulang setelah membawa bir, sampai akhirnya si pelaku yang mengemudikan sepeda mengetahui Bong Hee yang seharusnya di serang. Bong Hee merasakan sesuatu yang aneh saat si pria yang bersiul lalu ingin melihatnya, Si pria memilih untuk segera pergi meninggalkan Bong Hee. 
Bong Hee pulang dengan wajah bahagia membawa bir, lalu tersandung sesuatu. Ia kaget melihat Hee Joon tergeletak di lantai dengan badan penuh darah, saat itupun lampu di lingkungan Bong Hee kembali menyala. Ambulance pun datang, Bong Hee yang shock hanya bisa duduk di pojong ruangan dengan air mata mengalir.
“Akibat yang mendekatiku yang tidak aku ketahui penyebabnya. Ini adalah kecelakaan yang sial, kasar, dan mendadak.” 


Bong Hee duduk di dalam kantor polisi menatap tanganya yang masih penuh darah seperti masih shock. Polisi akhirnya melanjutkan interogasi,
“Bahkan jika itu benar-benar gelap  karena pemadaman listrik, kau masih pergi ke toko untuk membeli bir.” Ucap Polisi, Tapi Bong Hee seperti hanya bergema mendengarnya suara polisi.
“Jika kau tidak mengendalikan dirimu  sekarang, kau mungkin dalam masalah. Jika terjadi kecelakaan, bersihkan setelahnya! Respon awal itu penting. Sadarlah.” Gumam Bong Hee langsung memukul kepalanya agar sadar. Polisi sempat ketakutan melihatanya.
“Aku sekarang tersangka, bukan saksi ‘kan?” ucap Bong Hee yang tahu tentang dugaan dirinya. Polisi pikir mereka lebih baik menyelidiki  tanpa dugaan apa pun dan tidak mau langsung menarik kesimpulan.
“Biasanya, pelaku adalah seseorang  yang dekat dengan korban atau orang pertama  yang menemukan mayatnya. Ditambah tempat kejadian dan kondisiku sekarang. Mungkin saja kalau aku terlihat seperti pelaku.” Ucap Bong Hee
“Kau baru mengakuinya.” Ucap Polisi
“Aku bilang itu mungkin, bukan berarti aku pelaku. Tolong dengarkan aku baik-baik. Jika kau menunjuk orang yang tidak bersalah sebagai tersangka, penyelidikan awal akan gagal total. Pelaku sebenarnya adalah orang lain  dan kau harus menemukan orang itu, tapi jika kau menahan orang yang tidak bersalah sepertiku, apa yang akan terjadi pada pelaku sebenarnya?” ucap Bong Hee. Dua polisi pun saling menatap.
“Tersangka akan menghilang. Kau akan kehilangan bukti dan saksi.” Kata Bong Hee menyakinkan. 


Saat itu Ji Hae masuk sambil marah menuduh Bong Hee yang akhirnya melakukannya. Polisi melihat Ji Hae yang menerobos masuk langsung bertanya Apa Ji Hae orang terakhir yang bicara dengan Jang Hee Joon. Ji Hae mengangguk.
“Kenapa kau membunuhnya?”ucap Ji Hae marah, Bong Hee menegaskan bukan ia yang melakukanya.
“Yah memang Benar... Hee Jun mencampakkanmu. Apa Itu alasanmu membunuhnya?  Kau terus bernyanyi bahwa kau akan membunuhnya. Ada begitu banyak saksi. Haruskah aku panggil teman sekelas?” ucap Ji Hae yang membuat para polisi semakin yakin dengan Bong Hee.
“Aku hanya mengatakannya dan tidak bermaksud begitu.” Kata Bong Hee membela diri.
“Berhenti membodohi dirimu, Kembalikan Hee Jun....Kembalikan Hee Jun, dasar kau!” teriak Ji Hae marah, Bong Hee kebinggungan karena dituduh sebagai pelaku. Ji Hae langsung ditarik polisi dengan berteriak akan membunuh Bong Hee sebagai balasanya.
Bong Hee akhirnya dibawa oleh polisi lainya karena dianggap sebagai tersangka. Ia berusaha menyakinkan kalau berusaha tidak melakukannya tapi akhirnya ia di foto sebagai tersangka dengan papan. 
“Jika...aku bisa memberi spoiler tentang  hidupku pada diriku di masa lalu, maka aku akan beritahukan pada diriku "Bong Hee, hati-hati dengan pria. Pria hanya membawa masalah dalam hidupmu.” Tapi Aku harus hati-hati dengan apa?” 


Seorang biksu menjawab yaitu “wanita” menurutnya jika  pria bertemu dengan wanita  yang salah dan sebaliknya, maka hidupnya bisa ditakdirkan dalam sekejap. Ia melihat ada satu orang seperti itu dalam takdirnya, ia yakin anak itu akan dapat masalah  jika terlibat dengannya.
“Wanita itu benar-benar akan menghancurkan hidupmu.” Ucap Si Biksu. Anak kecil yang duduk disampingnya bertanya siapa wanita itu. 

Ji Wook terbangun dari tidurnya seperti baru saja bermimpi. Tuan Bang melihatnya memberitahu kalau Ji Wook memejamkan mata hanya 17 menit. Ia melihat Ji Wook yang berjuang melawan insomnia, bukan melawan kejahatan.
“Jika seseorang bisa membantuku tidur nyenyak, maka aku bersedia memberi tubuh dan jiwaku kepada orang itu.” Ucap Ji Wook
“Kudengar kau bisa kena insomnia jika tempat tidurmu terlalu besar. Kau mungkin bisa tidur seperti bayi  saat kau bertemu wanita yang baik.” Kata Tuan Bak
“Bukan itu... Aku mimpi soal tidak boleh terlibat dengan wanita.” Kata Ji Wook
“Kau bilang, Wanita yang tidak boleh terlibat denganmu?” ucap Tuan Bang binggung. Ji Wook mengangguk.
“Saat aku masih kecil, ada biksu palsu di lingkunganku. Dia mengatakan sesuatu yang konyol pada saat itu. Aku sudah lupa soal itu, tapi dia muncul dalam mimpiku.” Cerita Ji Wook
Tuan Bang terlihat serius mendengarnyanya, Ji Wook mengingat tengan wanita yang tak seharus di temuinya, lalu melihat ponselnya bergetar dan menyebut nama Eun Bong Hee. Tuan Bang pikir wanita yang tak boleh ditemui Ji Wook adalah Bong Hee saat masuk kecil. Tapi Ji Wook heran melihat Bong Hee yang menelpnya dimalam hari. 

Bong Hee menelp dengan ponsel yang dipegang oleh polisi, dengan gugup saat telp diangkat. Ji Wook tak ingin membuang waktu menyuruh Bong Hee bicara ke intinya saja. Bong Hee memberitahu kalau telah ditahan tanpa surat perintah. Ji Wook kaget mendengarnya lalu berpikir Bong Hee minum dan sedang mabuk.
“Aku tidak minum sama sekali.” Ucap Bong Hee
“Dan Apa kau ditahan tanpa surat perintah? Apa yang kau lakukan? Penyerangan? Pencurian? Kemalasan?” ucap Ji Wook. Bong Hee mengatakan bukan semuanya. Ji Wook pun ingin tahu apa alasanya ditahan.
“Pembunuhan.” Ucap Bong Hee. Ji Wook kaget begitu juga Tuan Bang yang melihat raut wajah Ji Wook.
Suasana hening sejenak, sampai akhirnya Ji Wook tertawa seperti tak percaya dengan ucapan Bong Hee. Bong Hee pun juga ikut tertawa, Tuan Bang dibuat binggung dengan melihat Ji Wook tiba-tiba tertawa. Ji Wook menutup telp dan langsung menatap Tuan Bang dengan tatapan shock mengetahui Bong Hee. 


Sementara Hee Joon sudah terbaring kaku di ruang mayat, Tuan Jang Moo Young melihat dengan tatapan sedih melihat anaknya yang mati terbunuh. Salah satu pegawai melihat Tuan Jang mengenal sebagai Jaksa wilayah  Sunho.
“Kudengar mereka telah menangkap tersangka.”ucap Tuan Jang dingin, seperti sangat marah dengan orang yang membunuh anaknya.
Bong Hee sudah ada di dalam sel penjara, Ji Wook datang dengan Tuan Bang langsung mengomel dengan perbuatan anak buahnya, lalu ingin memukul Bong Hee dengan memasukan tanganya ke dalam sel. Bong Hee yang ketakutan pun menjauh, tapi Ji Wook bisa masuk dengan mengancam ingin membunuhnya. 

“Kupikir...Aku terkena masalah, tapi...” ucap Bong Hee berdiri di pojok. Ji Wook bertanya Bong Hee berpikir melakukan sesuatu.
“Pasti ada yang salah. Aku tahu itu masalah, tapi aku tidak tahu apa salahku. Aku sungguh tidak tahu.” Ucap Bong Hee memalingkan wajah ketakutan.  Ji Wook menyuruh Bong Hee agar berani menatapnya.
“Tidak mau.  Kenapa aku harus menatapmu?” ucap Bong Hee
“Biar kulihat wajah tak tahu malu itu. Lihat aku.” Kata Ji Wook memaksa. Akhirnya Bong Hee pun menatap Ji Wook.
“Meskipun aku tidak pernah menginginkan hal itu terjadi, itu benar terjadi. Katakanlah itu salahku. Tapi, yang kulakukan adalah keluar untuk membeli bir karena aku haus. Saat aku kembali, semuanya sudah terjadi. Aku tidak tahu kenapa  hal seperti itu harus terjadi. Aku tidak percaya, dan takut. Tapi kaulah satu-satunya  yang bisa kuandalkan.” Ucap Bong Hee menyakinkan Bong Hee
“Kenapa kau mengandalkanku?  Jangan lakukan.” Kata Ji Wook menolak tapi Bong Hee tetap akan melakukannya.
“Aku akan mengandalkanmu. Kau satu-satunya orang di sekitarku yang paham  hukum dan punya kuasa.” Ungkap Bong Hee yakin
Ji Wook pun melihat Bong Hee dengan mata berkaca-kaca dan langsung menyuruh agar melepaskan bajunya. Bong Hee ketakutan menutupi badanya. Ji Wook menjelaskan kalau Bong Hee harus bersih-bersih dan Pakaiannya itu harus diserahkan sebagai bukti.
“Tn. Bang akan bawakan pakaian ganti untukmu jadi Bersihkan dulu dirimu.” Jelas Ji Wook. Tuan Bang mengangguk membenarkan. 


Bong Hee mencuci tanganya lebih dulu yang menempel darah Hee Joon yang terbunuh. Ia mengingat kembali saat pertama kali menemukan Hee Joon yang terbunuh dengan darah ada ditanganya.
“Saat itulah akhirnya mengenaiku... Hee Jun sudah mati.” Gumam Bong Hee lalu akhirnya menangis tersedu-sedu.
“Ya, aku sangat menyukaimu. Meskipun kau mengkhianatiku, mencampakkanku, dan menyakitiku. Aku tak pernah benar-benar berharap kau salah. Kumohon, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan berdoa dengan tulus untukmu.” Gumam Bong Hee mengingat saat melihat Ji Wook yang berselingkuh didepanya.

“ Berdoa adalah satu hal, tapi kenapa kau harus mati di tempatku? Dari semua tempat di dunia yang luas ini, kenapa kau harus mati di tempatku? Apa kau begitu bertekad mengacaukan hidupku? Apa yang sudah kulakukan padamu  sampai mengalami ini? Kau brengsek.” Umpat Bong Hee dalam hati sambil menangis tapi akhirnya meminta maaf pada Hee Joon yang sudah meninggal masih memakinya.
“Kenapa kau harus... Kau seharusnya tidak mati. Kenapa kau mati? Aku sungguh berharap kau tidak mati.” Jerit Bong Hee dalam hati terus menangis. 

“Berita berikutnya. Semua orang dikejutkan dengan pembunuhan seorang peserta pelatihan dari Lembaga Penelitian dan Pelatihan Yudisial. Fakta bahwa korban adalah putra jaksa wilayah saat ini telah menyebabkan kegemparan.Tersangka utama, Nn. Eun, yang telah ditangkap, tidak dapat menerima kenyataan  bahwa korban putus dengannya. Dia menguntit dan mengancamnya setiap hari. Korban...”
Ji Wook menonton berita memilih untuk mematikanya, saat itu Tuan Bang menerima telp lalu dikagetkan dari Kantor kejaksaan.
“Pertarungan tak menyenangkan biasanya benar.” Gumam Ji Wook. 

Jaksa Jang duduk bersama dengan Ji Wook dan dua petinggi lainya. Dua orang petinggi menyakinkan Jaksa Jang kalau  Fakta bahwa pengacara menyebutnya sebagai jaksa terburuk, jadi berarti tersangka dan pengacara membencinya.
“Dengan kata lain, dia selalu mendukung para korban.” Ucap petinggi pada Jaksa Jang tentang Ji Wook
“Ya, betul. Kalau menyangkut kasus kriminal,  No Ji Wook adalah jaksa terbaik. Dia sangat baik dalam menyeret pengakuan, dan memiliki tingkat keyakinan tertinggi.” Kata petinggi lainya.
“Harap selidiki secara adil dan buktikan bahwa keadilan masih hidup.” Kata Jaksa Jang pada Ji Wook.
“Ini adalah situasi terburuk yang mungkin terjadi... Aku bisa bayangkan ini” gumam Ji Wook 

Bong Hee dibawa dengan masuk ke kantor jaksa, saat itu ada banyak wartawan yang sudah menunggunya. Bong Hee mengunakan kacamata dan juga masker diwajahnya. Semua wartawan mengajukan pertanyaan dengan polisi yang menahan agar tak mendekati Bong Hee.
“Apa itu direncanakan atau dilakukan secara mendadak? Apa kau mengakuinya? Tolong singkirkan rambutmu dari wajahmu.” Ucap wartawan dan saat itu tangan wartawan melepaskan kacamata yang dipakai Bong Hee.
Kacamata Bong Hee pun terjatuh, lalu maskernya pun ditarik oleh wartawan. Saat itu wajah Bong Hee pun terlihat, Bong Hee hanya bisa tertunduk dengan banyak lampu dari kamera yang mengarah padanya. Kacamata Bong Hee pun terinjak dan hancur. 

Bong Hee duduk di ruang interogasi, Ji Wook akhirnya datang mengingatkan kalau sudah mengatakan sebelumnya bahwa  Jangan muncul di hadapannya sebagai tersangka.
“Aku... Aku jaksa tanpa ampun.” Tegas Ji Wook dan akan memulai interogasinya.
“Kau saat ini diselidiki atas pembunuhan Jang Hee Jun. Kau memiliki hak untuk tetap diam... untuk pertanyaan apa pun yang mungkin merugikanmu.” Ucap Ji Wook dengan wajah serius sambil mengingat kejadian sebelumnya setelah melihat wajah Bong Hee. 

Flash Back
Dua atasanya memerintahkan Ji Wook agar membuat Bong Hee mengaku dan menuntutnya dengan pasal pembunuhan secepatnya. Ia pun diancam kalau sampai gagal  menuntutnya dengan hukuman maksimal, maka akan dipecat.
“Kau bahkan takkan bisa bekerja sebagai pengacara. Jika kau beruntung, kau bisa bekerja di pedesaan yang jauh.” Ucap petinggi lain memperingatinya.
“Apa kau mengakui bahwa situasi saat ini memaksa kita untuk menganggapmu sebagai pelaku? Ini pernyataan pekerja paruh waktu di toko. Dia ingat seorang pelanggan datang ke toko malam itu, tapi dia tak ingat wajah orang itu, jadi Dia tidak mengingatmu.” Jelas Ji Wook memperlihatkan berkasnya.
“Maaf... Aku tak bisa mendengarmu.” Kata Bong Hee. Ji Wook menghela nafas mendengarnya. 

“Malam itu terjadi pemadaman. CCTV juga rusak. Itu berarti tak ada yang bisa membuktikan kau ada di luar untuk sementara waktu di tengah malam.” Teriak Ji Wook sambil bertanya apakah Bong Hee masih tak mendengarnya.
“Tepatnya, aku tak bisa melihatmu. Mereka tidak mengizinkanku memakai lensa kontak, dan orang brengsek. Beberapa wartawan memecahkan kacamata beberapa waktu yang lalu. Jadi aku tidak bisa melihat dengan baik.” Ungkap Bong Hee.
“ Ini aneh, tapi kalau aku tidak bisa melihat, dan aku juga tidak bisa mendengar.  Aku tak bisa melihat ekspresi wajahmu. Sulit bagiku untuk memikirkan bagaimana perasaanmu, atau apa yang kau pikirkan.” Jelas Bong Hee. Ji Wook pun ingin tahu apa yang harus dilakukan sekarang. 

Akhirnya Ji Wook duduk berdekatan dengan Bong Hee, mengunakan nada lemah lembut mengatakn kalau Bong Hee itu pasti mengetahui situasinya sekarang.
“Aku juga tahu, Jang Hee Jun selingkuh darimu. Aku benar-benar mengerti betapa hancurnya perasaanmu malam itu. Jadi...” kata Ji Wook
“Ini takkan berhasil. Aku melihatmu menginterogasi orang berkali-kali. Kau mencoba menenangkan dengan berbicara baik-baik.” Ucap Bong Hee. 

Ji Wook pun mengunakan cara bicara dengan nada tinggi, kalau  Selain polisi dan tim medis yang ada di lokasi, dan mereka tak dapat menemukan DNA orang lain di rumah Bong Hee. Hanya milik Hee Joon dan Bong Hee.
“Apa kau masih akan menyangkalnya?” teriak Ji Wook
“Ini juga tidak akan berhasil.” Kata Bong Hee. Ji Wook pikir memang taka kan berhasil karena akan tetap dituntut
“Motifnya jelas, dan kau tidak punya alibi. Dia terbunuh di rumahmu, dan tak ada tersangka lain. Bukankah itu cukup untuk menuntutmu?” kata Ji Wook
“Tapi aku benar tidak membunuhnya.” Ungkap Bong Hee. Ji Wook mengatakan kalau itu tak penting. Bong Hee kaget mendengarnya.

“Entah kau bersalah atau tidak, kau akan berakhir mendapat hukuman maksimal yang diizinkan oleh hukum. Itulah satu-satunya cara, aku bisa menyelamatkan karirku.” Gumam Ji Wook menatap Bong Hee.
Bong Hee pikir Ji Wook itu percaya padanya, karena ia mempercayai Ji Wook.  Ia percaya Ji Wook yang ada disisinya dan satu-satunya  harapan yang dimiliki sekarang. Ji Wook terdiam mengingat perkataan Biksu.
“Tapi dari apa yang bisa kulihat,  ada satu orang seperti itu dalam takdirmu. Kau akan mendapat masalah jika kau berurusan dengannya. Wanita itu benar-benar akan menghancurkan hidupmu.” Kata Biksu.
“Aku jadi tidak beradab.” Ucap Ji Wook. Bong Hee binggung mendengarnya. Ji Wook kembali mengulangi perkataanya.

“Karena kau, aku hampir percaya ucapan biksu palsu itu.” Ucap Ji Wook kembali mengingatnya.
Ji Wook kecil bertanya Siapa wanita itu. Lalu Biksu itu menjawab kalau Ji Wook itu tahu siapa wanita saat bertemu denganya dan mengatakan "Pasti wanita itu."
“Dia bilang aku akan tahu saat aku bertemu wanita itu. Sekarang aku tahu siapa itu. Itu... Eun Bong Hee, kau...”ucap Ji Wook dengan saling menatapnya. 


Sementara Tuan Byun melihat berita Bong Hee menjadi terpidana, lalu merasa pernah melihanya di suatu tempat. Eun Hyuk mengaku pernah melihatnya dalam kehidupan nyata, menurutnya Bong Hee terlihat mengintimidasi.
“Ya... Dia itu keren... Aku penasaran apa dia  sudah menyewa pengacara.” Ucap Eun Hyuk.
“Korbannya adalah anak dari Jaksa Jang. Jadi Siapa yang mau membelanya? Itu cuma membuat mereka dipandang buruk oleh jaksa.” Komentar Tuan Byun
“Kurasa mereka akan menyewa pengacara publik.” Komentar Eun Hyuk
“ Mereka mungkin akan memilih  pengacara yang tidak kompeten di negara ini.” Kata Tuan Byun
Eun Hyuk menatap ponselnya terlihat tak percaya, Tuan Byun heran menanyakanya. Eun Hyuk memberitahu kalau itu Ji Wook yang menelepon, dengan menyimpan nama “Ji Wook-ku” Tuan Byun binggung kenapa Eun Hyuk terlihat bersemangat.
“Ji Wook meneleponku. Sudah lama dia tak menelepon.” Ungkap Eun Hyuk dan meminta izin agar mengangkatnya lebih dulu. 

Ji Wook berbicara ditelp meminta bantuanya. Tuan Bang yang mendengarnya merasa tak percaya kalau Ji Wook itu menelp Eun Hyuk padahal sangat membencinya. Ji Wook tiba-tiba langsung berteriak geli seperti habis memegang  serangga.
“Rasanya seperti ada serangga yang merayap di tubuhku.” Jerit Ji Wook lalu mengajak Tuan Bang pergi. 

Bong Hee menemui ibunya dengan kacamata baru, merasa bersyukur karena tidak membuang kacamata lamanya, lalu bertanya pada ibunya bagaimana bisa menemukannya. Ibunya pikir kalau Kacamata tidak punya kaki jadi pasti bisa menemukannya.
“Seharusnya aku memberimu kacamata baru yang bagus.” Kata Ibunya.
“Aku hanya menggunakannya sebentar. Itu pasti sia-sia.” Kata Bong Hee. Ibunya pun yakin karena anaknya akan  segera keluar dari penjara.
“Omong-omong, kacamata ini mengingatkanku pada masa lalu.” Ungkap Bong Hee. Ibunya juga ingat kalau anaknya yang  giat belajar dengan kacamata itu
“Dan kau mendukungku sepanjang perjalanan ini. Jangan cemaskan aku.” Kata Bong Hee
“Ini bukan pertama kalinya. Waktu ayahmu...” kata Ibu Bong Hee dan langsung terdiam.
Ibunya seperti tak ingin membahasnya dengan menanyaka paakah makana dipenjara rasanya enak. Bong Hee tahu kalau Memijat itu melelahkan untuk ibunya. Ibunya pun menutupi tanganya, merasa  Semua orang  juga hidup susah seperti dirinya. Bong Hee mengeluh pada ibunya yang tak membeli koyo malah membagikanya.
“Aku bisa gunakan di tempat  yang berbeda kalau seperti ini. Omong-omong, bagaimana teman  di selmu? Apa mereka baik? Apa ada yang jahat?” tanya Ibu Bong Hee khawatir.
“Aku ini ketua di sel itu, Cuma aku yang kasusnya pembunuhan.  Yang lainnya dituduh atas pencurian, penggelapan, penipuan, dan perjudian. Tapi aku dituduh atas pembunuhan,  jadi mereka takut padaku.” Cerita Bong Hee
Ibunya pikir itu bagus, petugas pun memberitahu kalau Waktu sudah habis. Ibu Bong Hee mengeluh dengan waktu berlalu begitu cepat. Bong Hee meminta agar  besok tidak usah datang, serta Jangan mencemaskanya dan tetap semangat. Ibu Bong Hee pun memberikan semangat pada anaknya, keduanya pun berpisah dengan raut wajah kesedihan. 


Di ruangan
Eun Hyuk gelisah menunggu seseorang yang belum datang. Bong Hee masuk ruangan tak sengaja membentur kepala Eun Hyuk yang berdiri dibelakang pintu. Eun Hyuk pun mengaduh kesakitan. Bong Hee langsung meminta maaf, Eun Hee pikir Bong Hee yang kembali membenturkan kepalanya.
“Aku sangat pintar, jadi tak apa jika sel otakku mati sedikit.” Komentar Eun Hyuk bangga , Bong Hee pun mengangguk mengerti. Keduanya pun duduk bersama.
“Aku ditunjuk sebagai pengacaramu. Jadi, penunjukkan pengacara publik akan dibatalkan.” Kata Eun Hee, Bong Hee binggung kenapa itu bisa terjadi padanya.

“Kacamatamu... Aku tidak bilang itu lucu. Tapi sepertinya itu menetralisir  wajahmu yang mengintimidasi. Itu Bagus dan Taktik yang hebat.” Komentar Eun Hyuk menahan tawanya. Bong Hee mengucapkan terimakasih atas pujianya.
“Aku yang harus terima kasih.” Kata Eun Hyuk. Bong Hee binggung kenapa Eun Hyuk yang mengucapkan terimakasih.
“Berkat kau, Ji Wook meneleponku. Jadi Ada hubungan apa antara kau dan Ji Wook?” tanya Eun Hyuk
“Dia mentor-ku, dan sekarang dia adalah jaksa yang bertugas di kasus ini.” Jelas Bong Hee
Eun Hyuk pikir bukan masalah itu tapi apakah ada  hal lain dalam hubungannya dengan Ji Wook. Bong Hee balik bertanya apakah Eun Hyuk itu tidak punya pertanyaan untuknya. Eun Hyuk mengaku ada.
“Apa kau membunuh Jang Hee Joon?”kata Eun Hyuk, Bong Hee mengaku tidak melakuanya.
“Aku tahu semuanya sekarang” kata Eun Hyuk seperti bisa melihat tatapan Bong Hee. 

Ji Wook dan Tuan Bang melihat CCTV rusak. Tuan Bang menjelaskan kalau Tempat yang mereka datangi sedang dibangun,  jadi ada banyak rumah kosong dan juga ada pemadaman malam itu. Mereka pun berjalan bersama.
“Maaf, tapi sepertinya ini tempat yang bagus untuk melakukan pembunuhan.” Kata Tuan Bang. Ji Wook merasa tak tahu lalu melihat gedung apartement.
“Tapi tempat ini memang cocok untuk Eun Bong Hee.” Komentar Ji Wook lalu bertanya tentang pencarian senjata.
“Mereka mencari di seluruh tempat, tapi belum menemukan apa-apa.” Jelas Tuan Bang
“Bagaimana dengan yurisdiksi lain?” tanya Ji Wook. Tuan Bang  menjelaskan kalau sudah hubungi setiap kantor  polisi di Seoul dan Prov. Gyeonggi.
“Aku minta mereka untuk melapor  jika menemukan senjata yang panjangnya 13cm dan lebar 3.5cm.” kata Tuan Bang, Ji Wook memuji Tuan Bang yang sudah berkerja dengan baik
“Tapi kenapa kau berusaha keras?” tanya Tuan Bang sediki heran. Ji Wook pikir hanya terbuka untuk kemungkinan.
“Seperti kata Eun Bong Hee,  pelakunya mungkin orang lain. Tentu saja, itu belum pasti.” Kata Ji Wook. Tuan Bang pikir  Akan lebih bagus, jika itu benar.


Keduanya pun masuk ke tempat tinggal Bong Hee. Ji Wook berdiri di balkon sambil mengingat Bong Hee berkata kejadianya sekitar pukul 12:30 dinihari lalu melihat ke luar jendela karena merasa panas.
“Aku tidak lihat apa-apa karena tidak pakai kacamata. Aku hanya merasakan angin sepoi-sepoi, dan memang  seperti itu” ucap Bong Hee. Ji Wook membayangkan saat Bong Hee berdiri didepan kamarnya.
“Jika dia menyaksikan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang dia lihat. Itu sebabnya saksi...” kata Ji Wook lalu berusaha menyakinkan kalau tak mungkin dengan yang dipikirkanya lalu masuk ke dalam ruangan.

“Tn. Bang, kau memeriksa semua kejadian yang terjadi di sekitar lingkungan ini pada malam itu, kan?” ucap Ji Wook. Tuan Bang membenarkan.
“Aku menyelidiki pelaku kejahatan  seksual dan mantan napi di sekitar. Tapi aku tidak dapat apa-apa.” Jelas Tuan Bang
Ji Wook meminta agar Tuan Bang memeriksa  keberadaan warga sekali lagi untuk berjaga-jaga. Tuan Bang mengangguk mengerti. Ji Wook akhirnya berjongkok didepan tempat garis mayat Hee Joon terbunuh sambil membayangkan kejadian yang terjadi, saat Hee Joon yang kaget lalu terjatuh karena ditusuk dari depan pintu.
“Siapa pun pembunuhnya,dia pasti masuk ke rumah  dan menikam korbannya.” Ungkap Ji Wook
Akhirnya Ji Wook pergi mencari-cari sesuatu lalu menemuka foto Bong Hee saat masuk kecil dan merasa pernah melihatnya dari suatu tempat karena memiliki wajah yang khas.
“Tapi ini terasa agak tidak nyaman Memeriksa rumah seseorang  yang kita kenal sebagai TKP, membuatku merasa seperti 'membongkarnya'.” Komentar Tuan Bang melihat buku agenda milik Bong Hee dan melihat nama No Ji Wook. 

Ia mulai membaca “Hari ini, No Ji Wook menyebalkan seperti biasanya.” Dan buru-buru menutupnya. Ji Wook bisa melihatnya dan meminta agar memberikanya. Tuan Bang mengelengkan kepala sambil menyembunyikanya tapi Ji Wook tetap ingin melihat dan mulai membacanya.
“Saat kau baca ini, itu membuatmu berpikir, dia mungkin mau membunuhmu, kan Tn. Jang.” Ucap Tuan Bang mencoba tertawa menahan amarah Ji Wook.
Ji Wook seperti tak peduli memilih untuk menaruhnya dan mencari ke tempat lain. Tuan Bang pun menerima telp, Ji Wook melihat sesuatu di bawah kulkas. Tuan Bang lalu memberitahu  Senjata pembunuhan telah ditemukan yaitu di tempat  yang berjarak 7km dari sini.
“Seorang pejalan kaki yang sedang lewat  menemukannya dan melaporkannya.” Ucap Tuan Bang dengan seorang pria menemukan saat berjalan membawa anjingnya.
“Panjangnya 13cm dan lebar 3.5cm. Senjata itu sesuai dengan ukuran luka tusuk pada Jang Hee Jun.” Kata Tuan Bang, Ji Wook melihat pisau yang ada dibawah kulksa lalu bisa mengetahui kalau pisau itu pasti sama dengan yang ditemukanya. Tuan Bang kaget melihat pisau yang sama.

Bersambung ke Episode 4

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


Tidak ada komentar:

Posting Komentar