Kamis, 11 Mei 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 2

PS : All images credit and content copyright : SBS

Bong Hee mengeluh melihat Hee Joon si Bajingan itu tidak meneleponnya sekali pun dan melihat semuanya berantakan, sampai  bahkan tak tahu apa tidur  dengan si mesum di kereta atau tidak. Akhirnya ia masuk ke dalam kelas.
“Kudengar kau tidur dengannya.... Dengan orang asing.” Ucap teman yang duduk disampingnya. Bong Hee kaget teman itu bisa tahu lalu berpikir kalau terlihat jelas.
“Kudengar kau kencan satu malam, jadi Hee Joon mencampakkanmu.” Kata temanya
“Aku tidak selingkuh, dia...” ucap Bong Hee membela diri tapi temannya memberitahu kalau itu dibahas di obrolan grup.

Bong Hee melihat tatapan para mahasiswa seperti berkomentar tentang dirinya, [Hee Joon malang, Apa itu sebabnya dia mencampakkannya?] [Dia ketahuan selingkuh di hotel. Apa itu sebabnya?] [Memalukan. Bagaimana bisa dia begitu? Kasihan Hee Joon.] Ia melihat tatapan teman-temanya merasa gila dengan pikiran orang tentangnya.
“Kita juga pejabat publik yang hidup dari uang pembayar pajak. Dan sebagai orang yang bukan mahasiswa dengan kehidupan pribadi yang gila...Bukankah dia malu? Kupikir kita harus menyingkirkan orang yang kencan satu malam.” Sindir si wanita duduk disamping Bong Hee
Dua pria langsung berbisik binggung wanita itu mengetahui tentang mereka. Si pria satunya pikir wanita itu tidak bicara soal mereka jadi lebih baik diam saja.
“Dia tidak tahu itu memalukan.” Ucap Na Ji Hye.
“Kenapa aku harus merasa malu padanya? Jadi Hentikan, Na Ji Hye.” Kata Bong Hee memperingatinya.
“Kenapa?  Apa Itu mengganggumu?” balas Ji Hye, Bong Hee menegaskan bukan seperti itu.
“Jangan bicara seolah kau tahu segalanya.” Tegas Bong Hee memperingati.

“Aku akan lakukan apa yang kumau.” Ucap Ji Hye. Keduanya saling menatap dengan sinis terlihat aliran petir keluar dari mata mereka. 


Bong Hee terlihat kesal keluar dari kampus dan tak sengaja bertemu dengan Hee Joon bersama dengan temanya. Keduanya saling menatap dingin. Bong Hee bersiap-siap dan  langsung berlari dan memberikan tendangan tepat di wajah Hee Joon.
Hee Joon pun jatuh tersungkur dan kaget melihat Bong Hee yang memberikan tendangan padanya. Tapi semua hanya khayalan Bong Hee, hanya tanganya yang mengepal menahan amarah. 

“Hey, Jang Hee Joon, kita sudah berakhir...” ucap Bong Hee tapi langsung disela oleh Hee Joon.
“Malam itu, aku mencampakkanmu di hotel. Jadi Saat itulah berakhir.” Kata Hee Joon, Bong Hee pikir ia yang melakukanya.
“Aku sangat kecewa padamu, Eun Bong Hee.” Ejek Hee Joon tak ingin terlihat rendah di mata temanya lalu berjalan pergi.
Bong Hee langsung mengumpat marah, Hee Joon tak memperdulikanya dan langsung pergi. 

Akhirnya Bong Hee pulang dan melihat lampu jalan tiba-tiba mati dengan menghela nafas merasa kalau lingkuanganya Begitu gelap, sama seperti hidupnya. Bong Hee bangun pagi memegang pipinya dan mengingat kejadian semuanya.
Flash Back
Ji Wook memegang pipinya dengan mabuk mengatakan kalau alasan Bng Hee yang dicampakan pacarnya karena sangat bodoh. Ia punmersa kalau dirinya yang tak punya otak karena saking bodohnya. 

Bong Hee merasakan pipinya sakit berpikir kalau baru saja di pukul. Tiba-tiba Ibunya sedang membuka kulkas bertanya apakah anaknya itu dipukul dan bertanya siapa yang memukulnya. Bong Hee mengelengkan kepala mengaku kalau hanya mimpi.
“Tidak, entah itu mimpi atau bukan.” Pikir Bong Hee juga binggung.
“Itu lebih masuk akal. Kau tidak akan dipukul tapi Kaulah yang memukul. “ kata Ibunya, Bong Hee pun bertanya kapan ibunya datang. Ibunya berkata kalau baru datang kemarin.
“Kau demam. Kau tidak ingat aku memberimu obat, kan?” ucap Ibunya memegang kepala anaknya.  Bong Hee mengaku baik-baik saja.
“Ibu.... Ahh... Bukan apa-apa...” kata Bong Hee seperti enggan membahas dengan ibunya.
“Cobalah tipu orang lain.” Ucap Ibunya merasa tak bisa di bohongi oleh anaknya.
“Aku gagal di ujian.” Akui Bong Hee. Ibunya pun bertanya apakah hanya itu saja yang membuatnya demam.
“Sementara anak lain pergi ke RS  10 kali, kau tidak pergi sekali pun. Tetangga kita selalu bilang padakum kalau aku punya blok baja sebagai putriku.” Cerita Ibu Bong Hee
“Apa maksudmu?  Ini sangat sulit. Kupikir aku harus lulus ujian, tapi aku  harus belajar lebih giat lagi sekarang. Tidak pernah berakhir.” Kata Bong Hee 



Ibu Bong Hee membenarkan,  karena Tidak ada yang berakhir dan Tak ada akhir untuk apa pun lalu bertanya apakah Hee Joon membuatnya kesal. Bong Hee mengaku kalau sudah mencampakkan pacarnya. Ibu Bong Hee memuji kerja anaknya karena harusnya membuangnya yang buruk lebih awal.
“Ibu... Mulai sekarang, aku akan fokus belajar dan bekerja. Aku akan jadi pengacara dengan gaji  besar dan mencukupi kebutuhanmu.” Ucap Bong Hee memeluk ibunya dari belakang.
“Kupikir aku harus menulisnya.” Ejek Ibu Bong Hee. Bong Hee pikir mereka bisa langsung mensahkan saja. Ibu Bong Hee pun menyukainya, keduanya pun tersenyum bahagia. 

[3 bulan kemudian]
Bong Hee menelp ibunya kalau sedang masa percobaan dan akan magang di bawah jaksa, hakim, dan pengacara selama 2 bulan, lalu meminta ibunya juga agar bisa menjaga kesehatanya.
Dua teman Bong Hee berjalan didepannya, Bong Hee langsung menyapa keduanya. Pria yang satu kampus dengan Bong Heee menujuk pada Hee Joon dan Ji Hye sedang berjalan bersama.
“Mereka membuat pertunjukan sekarang.” Ucap si pria kesal
“Mereka bilang ke semua orang, cuma pendekatan.” Kata si wanita membela
“Apa Kau tidak tahu?  Itu Sudah cukup lama. Apa yang harus kita lakukan dengannya? Heii.. Bong Hee, apa kau mau aku kencan denganmu?” kata si pria tak ingin Bong Hee sedih.

Bong Hee langsung pamit pada keduanya lalu berjalan menatap Hee Joon dan Ji Hye yang berjalan berdampingan lalu bergumam dalam hati.
“Aku menjadi wanita yang kencan satu malam dan dicampakkan. Ini Sulit untuk menanggung rumor yang sudah menyebar.  Jadi aku memutuskan untuk menjadi wanita gila.” Gumam Bong Hee
Akhirnya ia sengaja berjalan di tengah-tengah keduanya sambil menyindir kalau pasti sangat Menyenangkan, lalu menyanyikan lagu dengan lirik “Lihatlah aku saat aku mengutukmu... Jangan lupakan itu, karena  aku akan membunuhmu.” Keduanya pun tak membalas dan membiarkanya. 

Bong Hee melihat papan nama bertuliskan [Jaksa No Ji Wook] lalu berpikir akan mengakhiri status gilanya dan sebagai awal yang baru. Ia akhirnya masuk menyapa dua rekan kerja Ji Wook dengan senyuman bahagia.
Tuan Bang melihat Bong Hee memberitahu Ji Wook kalau Pegawai magang yang baru datang dan sangat ceria. Ji Wook menampakan wajahnya dari balik tumpukan berkas dengan kacamatanya.
Bong Hee mengingat Ji Wook adalah pria yang sebelumnya diajak tidur bersamanya, dan Ji Wook pun menyetujuinya. Teriakan Ji Wook yang memperingatkanya agar sadar karena dunia yang menakutkan.
“Apa kau Senang bertemu denganku?” ucap Ji Wook menyindir
“Rasanya kita pernah bertemu sebelumnya.” Kata Bong Hee pura-pura lupa. Ji Wook merasa tak yakin dengan hal itu.

“Apa kau sering di line 6 di kereta bawah tanah?” ucap Ji Wook. Bong Hee mengaku kalau biasanya  naik bus atau sepeda.
“Apa Kau pergi ke hotel?” kata Ji Wook sengaja mengejak, Bong Hee mengaku kalau biasanya ke motel. Dua rekan kerjanya langsung menatap heran karena Bong Hee yang sering pergi ke motel.
“Tapi kenapa kau pergi pagi itu?” tanya Ji Wook. Bong Hee mengaku kalau harus sarapan sebelum pergi lalu sadar dengan jawabanya dan akhirnya mengaku kalau tidak tahu apa yang dibicarakan Ji Wook.
“Tolong berhenti menjadi tak tahu malu. Ini lebih buruk dari ucapan kriminal. “ ucap Ji Wook
“Tapi kau mengejekku ketika kau tahu segalanya.” Keluh Bong Hee.
“Aku baru saja menguji kejujuranmu, transparansi, memori, dan sebagainya..” kata Jin Wook. Bong Hee pun mengingat sesuatu. Jin Wook pun bertanya apa yang diingat.
“Orang mesum menyentuh pantatku..” kata Bong Hee. Jin Wook panik lalu menegaskan kalau bukan ia pelakunya.
“Astaga, aku tak pernah bilang itu kau.” Ejek Bong Hee. Dua rekan kerjanya pun menatap tak percaya pada Ji Wook
“Aku belum pernah bertemu seseorang  yang tak menghargai kebaikan orang.” Kata Jin Wook
“Aku berterimakasih, tapi tidak  usah menyebutnya kebaikan..” kata Bong Hee
“Apa kau tahu, aku instrukturmu, dan kau dalam masa percobaan?” ucap Jin Wook. Bong Hee mngaku tahu dan merasa benar-benar kacau.
“Itu sebabnya, karena aku sudah ditakdirkan, maka aku punya satu pertanyaan lagi.” Kata Bong Hee
Jin Wook pun mempersilahkanya, Bong Hee ingin bertanya secara pribadi. Jin Wook menolak dan lebih baik katanya saja karena dirinya sangat jujur jadi tak ada yang disembunyikan, tak seperti yang lain. Akhirnya Bong Hee langsung bertanya apakah mereka tidur bersama atau tidak. Jin Wook panik dan sekertarisnya ingin mencatatnya.
“Jangan salah paham. Ini bukan tentang kita. Jangan ditulis.” Ucap Jin Wook memperingatinya.
“Dasar Kau jujur.... Ada satu pertanyaan lagi. Kau menampar wajahku, kan?” ucap Bong Hee
“Kapan aku melakukannya?” teriak Ji Wook kesal

Akhirnya dua rekan kerja Ji Wook keluar dari rungan berdiri didepan pintu. Tuan Bang meminta sekertaris agar Jangan sebarkan rumor. Si sekertaris pun akan berusaha sebaik mungkin.  Tiba-tiba Eun Hyuk datang bertanya rumor apa itu.
“Aku tak pernah bilang.” Ucap Tuan Bang tak ingin bicara. Eun Hyuk ingin tahu apa yang terjadi pada Ji Wook dan ingin menguping dari pintu.
“Hey, aku sudah bilang, tak ada yang terjadi! Kau harus tahu, kantornya terlarang jika tidak terkait dengan pekerjaan!” kata Tuan Bang menariknya agar Eun Hyuk.
Saat itu pintu terbuka, Bong Hee yang melihat Eun Hyuk terbentuk langsung meminta maaf. Ji Wook dengan sinis menyuruh Bong Hee tak perlu meminta maaf. Bong Hee binggung karena menurutnya memang harus meminta maaf.
“Jika aku menyuruhmu, bukannya harus kau dengarkan, Petugas Percobaan?” kata Ji Wook pada Bong Hee.
“Hei... Lama tidak bertemu, Jaksa No.”sapa Eun Hyuk pada musuhnya.
“Kenapa aku terus bertemu Pengacara Ji  saat tidak ada urusan dengannya?” keluh Ji Wook
“Hei.. Kau memang benar-benar. Ini sebabnya tak ada yang suka padamu. Tapi Aku memilihmu sebagai jaksa terbaik, aku bersumpah.” Kata Eun Hyuk
“Aku akan laporkan petugas percobaan ke kepala dan kepala deputi.” Kata Ji Wook seperti tak peduli pada Eun Hyuk lalu mengajak Bong Hee pergi. Bong Hee pun mengikutinya. Tuan Bang mengeluh karena Eun Hyuk jadi kena marah oleh Ji Wook. Eun Hyuk pun hanya bisa tertunduk meminta maaf. 
Bong Hee membawa tumpukan berkas sambil memberitahu kalau Di antara teman sekelasnya dikenal sebagai orang gila Tapi sudah jadi orang gila juga di kantor kejaksaan,  lalu mengucapkan terima kasih. Jin Wook mengaku dirinya tidak lebih dari jaksa terburuk.
“Tapi berkatmu, aku jaksa yang menampar wanita dan pantatnya.” Kata Ji Wook. Bong Hee seperti tak tahu.
“Karena kau mengungkitnya, apa kita tidur? bersama atau tidak? Aku sungguh tidak ingat.” Tanya Bong Hee penasaran
“Seorang wanita mengajakku malam itu. Aku minum dengannya malam itu, dan aku bukan orang suci.” Kata Ji Wook. Bong Hee pikir mereka tidur bersama.
“Aku bukan orang suci, tapi aku punya mata. Eun Bong Hee, kau...” kata Ji Wook. Bong Hee penasaran apakah mereka tidur bersama.
“Entahlah.” Kata Ji Wook lalu memastikan kalau berkas yang dibawa Bong Hee tak berat dan langsung menambahkan lagi berkas lainya.
“Ini tidak berat!  Tidak berat sama sekali!” ucap Bong Hee sengaja menyindir dengan membawa tumpukan berkas.

Bong Hee makan dengan teman satu kampusnya di kantin kejaksaan. Si pria memberitahu kalau ada dua tipe instruktur jaksa, yaitu Tipe pertama itu adil, dan membuatnya melakukan yang seharusnya dilakukan.
“Tapi tipe kedua adalah yang terburuk dan terlalu banyak bekerja seperti sekretaris. Jika kau terlibat dengan orang seperti itu, maka kau benar-benar kacau. Mereka akan membuatmu melakukan segalanya.” Kata temanya. Bong Hee menatap kosong dengan tatapan sedih.
“Hei, Eun Bong Hee, kau lihat apa? Kau Jangan khawatir. Mereka biasanya normal. Aku ingin mengatakan, sangat jarang untuk bertemu jaksa yang buruk.” Kata temanya. Bong Hee hanya mengangguk walaupun tahu kalau Ji Wook itu jaksa terburuk. 

Bong Hee mulai berkerja dan Ji Wook pun memberikan menumpuk berkas yang lainya. Setiap hari perkerjaan tanpa henti, Bong Hee menyakinkan kalau bisa melakukanya, sementara Jin Wook hanya duduk dengan senyuman bahagia.
“Hai, aku menelepon dari kantor kejaksaan.” Ucap Bong Hee di telp lalu memberitahu kalau ini bukan masalah penipuan jadi meminta agar datang ke kantor. Tapi banyak orang yang ditelpnya terlihat membuat kesal dan membuatnya membanting telp, tiga orang rekan kerjanya sampai terlonjak kaget.
Bong Hee teringat perkataan temanya “Tapi jaksa mengerikan juga memiliki logika.” Ji Wook membawakan berkas diatas meja mengatakan kalau ini Kasih sayang.
“Ini kasih sayang dan pertimbanganku untuk membantumu mendapat pengalaman.” Ucap Ji Wook. Bong Hee dengan senang hati menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
“Kau harus bersyukur. Sekarang,  selain menginterogasi para korban, Kenapa tidak belajar bagaimana cara melakukan mediasi perselisihan?” kata Ji Wook. Bong Hee mengangguk mengerti. Ji Wook pun meminta Bong Hee agar berkerja keras. 


Bong Hee menginterogasi seorang kakek bertanya Kenapa masuk ke sauna wanita tanpa pakaian. Si kakek mengaku tak tahu, tak dengar dan tidak ingat. Bong Hee tahu si kakek bisa mendengarnya dan ingatakan masih bagus. Tapi si kakek tetap menjawab yang sama. Bong Hee pun berteriak frustasi pada sang kakek.
Kasus kedua, dua orang pria berkelahi karena salah satunya berkencan di dengan adiknya. Si pria mengaku kalau sangat mencintainya jadi pasti bisa.
“Itu pelanggaran yang saling menguntungkan!” kata Si pria keduanya saling berkelahi. Bong Hee ingin merelainya tapi malah kena pukul membuat hidungnya mimisan.
Kasus ketiga, sepasang pria dan wanita saling menjambak. Kali ini Bong Hee kena dorong kesan kemari. Dua rekan kerjanya pun membantu dengan sepasang pria dan wanita yang berkelahi di ruang Jaksa. 

Seorang pria masuk ruangan, Bong Hee sedang makan jajangmyun langsung menyudahinya. Si pria mesum duduk didepan Bong Hee sebagai terdakw. Bong Hee mengaku senang mengakui kesalahan dan merasa tertangkap basah jadi  merasa tidak enak. Si pria membenarkan.
“Kenapa orang-orang begini? Apa bagusnya melakukan tindakan ini?” kata Bong Hee lalu seperti mengingat dengan pria yang bertemu di kereta.
“Itu kau. Kau menyentuh pantatku, kan?” ucap Bong hee bisa menduga pria itu yang mesum
“Aku tidak tahu kau jaksa Tapi kebetulan yang menarik. “ kata Si pria mesum. Bong Hee mengeluh karena pria itu membuatnya menderita.
“Karena kau pelaku berulang kali, siap-siaplah masuk penjara.” Ucap Bong Hee mengancam
“Tapi hakim biasanya tidak mengirim kami ke penjara. Dia menyuruh kami membayar denda. “ kata si pria. Bong Hee dengan wajah geram menyuruh si pria menunggu dan melihat saja.
“Tapi aku tak keberatan tinggal di penjara. Sebenarnya, aku menyaksikan pembunuhan,  jadi aku dalam bahaya.” Kata si pria mesum mencoba menyakikan Bong hee kalau mengatakan yang sebenarnya. 
Flash Back
Si pria mesum menceritakan kalau Malam itu, seperti malam lainnya sedang melihat-lihat. Si pria mesum memiliki banyak pakaian dalam wanita lalu dengan teropong melihat tetangga depanya yang menganti pakaian di depan jendela, si wanita seperti sadar dan langsung menutup jendela.

Akhirnya si pria mesum mengalihkan teropong pada tempat lain dan melihat ada orang dibagian atap seperti membawa mayat.
“Setelah malam itu, aku takut dia datang untuk membunuhku.  Jadi aku tak bisa tidur di malam hari.” Kata si pria mesum

Bong Hee tak percaya mendengarnya langsung menyuruh Tuan Bang agar membawa si pria mesum, lalu memperingatkan kalau si pria melakukan itu mengintip ke rumah orang lain. Ia pun mengeluh dengan hidupnya. 


Bong Hee makan siang sendirian dengan hidung yang mimisan. Ji Hae jalan dengan He Joon kaget melihat Bong Hee yang menyedihkan, lalu berjalan pergi. Bong Hee kembali menyanyikan liriklagi “Lihatlah aku saat aku mengutukmu... Jangan lupakan itu, karena aku akan membunuhmu.”
“Hentikan.” Ucap Ji Hea, Bong Hee pikir tak ada alsan berhenti dan kenapa dirinya tak boleh menyanyi sesukanya.
“Tapi kau melakukannya untuk kami dengar. Kami tahu itu.” Ucap Ji Hae, He Joon yang ada disampingnya hanya diams aja.
“Omong-omong, kudengar kau  terlibat kegiatan untuk jaksamu. Apa hakmu, memperlakukan kami seperti ini?” kata Ji Hae kesal. He Joon pikir tak perlu lagi membahasnya.
“Tapi cuci rambutmu, paling tidak agar terlihat lebih baik” kata He Joon lalu mengajak Ji Hae pergi. Ji Wook melihat Bong Hee kembali di ejek. 

Akhirnya Ji Wook mendekati Bong hee mengaku kalau sedang mencarinya. Bong Hee buru-buru menghabiskan rotinya mengatakan kalau hendak kembali ke dalam. Ji Wook dengan gugup mengaku kalau sangat merindukan. Semua kaget mendengarnya.
“Aku merindukanmu. Meski kau pergi hanya sebentar.” Ucap Ji Wook. Bong Goo melonggo binggung. Ji Wook memikirkan cara mengucapkannya.
“Kau kotor, tapi juga cantik.” Ungkap Ji Wook memuji. Bong Hee makin binggung. He Joon pun tak percaya mendengar Ji Wook memuji Bong Hee.
“Apa orang lain tahu? Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama? Kau cantik. Walaupun kau kotor tapi cantik.” Ungkap Ji Wook mengelus rambut Bong Hee. Hee Joon tak ingin melihatnya langsung mengajak Ji Hae pergi saja. 

Setelah keduanya perg. Ji Wook langsung mengeluh Bong Hee yang memang sangak kotor setelah mengelus rambutnya. Lalu ia memberitahu Bong Hee kalau Lagu kutukan itu bukan cara yang tepat untuk kembali ke mantan pacarnya, jadi lebih baik mengabaikanya saja.
“Jadilah orang yang lebih baik, dan jalani hidup yang menyenangkan.” Kata Ji Wook. Bong Hee melonggo melihatnya. Ji Wook menyuruh Bong Hee mengunyah makananya. Bong Hee mengunyah makanan dan menatap Ji Wook yang duduk sambil memejamkan matanya. Ji Wook bisa merasakanya lalu bertanya kenapa menatapnya.
“Kenapa... Kenapa tiba-tiba kau jadi baik padaku? Kau tidak jatuh cinta padaku, kan?” kata Bong Hee heran lalu berpikir itu past tak mungkin
“Hei.. Eun Bong Hee, paling tidak cuci wajahmu,.” Kata Ji Wook. Bong Hee pun mengelap wajahnya dengan tangan.
Ji Wook merasakan nyaman duduk ditaman dengan guguran bunga sakura, Bong Hee menatap Ji Wook yang duduk diam sambil memejamkan matanya. 


Flash Back
Ji Wook mencoba membangunkan Bong Hee yang mabuk dengan memegang dua pipinya.
“Ketika sesuatu seperti itu terjadi, orang biasanya salah paham. "Apa aku bersalah? Apa aku jadi  pecundang? Apa aku merasa bosan?" "Apa aku melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai?" Aku sangat tahu perasaan itu, Karena aku juga seperti itu.” Ucap Ji Wook
“Tapi... Itu tidak benar. Kita tidak melakukan kesalahan. Mereka salah karena mengkhianati kita.” Kata Ji Wook yakinkan.
Bong Hee memejamkan matanya seperti tertidur dan saat terbangun melihat Ji Wook sudah tak ada didekatnya. Lalu mengingat kejadian sebelumnya yakin kalau Ji Wook itu tidak menamparnya. 

Keduanya kembali berkerja. Bong Hee menatap Ji Wook sedang membaca berkas sambil berdiri lalu bergumam kalau atasanya itu juga dikhianati jadi bersikap baik padanya. Ji Wook memanggil Bong Hee. Bong Hee langsung mengatakan kalau tidak memandangnya.
“Aku tahu. Aku ingin kau tidur di rumah malam ini.” Kata Ji Wook, Bong Hee seperti tak perlu. Ji Wook menyuruh Bong Hee agar mandi.
“Aku ingin bekerja di lingkungan yang lebih bersih.” Kata Ji Wook menyindirnya.
“Terkadang, kau sangat menyebalkan,maka aku ingin melenyapkanmu.” Ungkap Bong Hee. Ji Wook mengaku juga seperti itu.

“Minggu depan, ketika aku... Jika aku menyelesaikan2 bulan magang.Jika aku menyelesaikan semuanya tanpa membunuhmu,  maka aku akan traktir makan malam.” Kata Bong Hee sebelum pergi.
“Aku akan memuji jika kau menyelesaikan ucapanmu tanpa menjadi pembunuh.”balas Ji Wook serius. Bong Hee mengaku kalau itu hanya bercanda.
“Aku bicara soal mantan pacarmu. Kudengar kau bernyanyi untuk membunuhnya. Berhenti mengancamnya dengan lagu.” Kata Ji Wook. Bong Hee mengangguk mengerti.
“Aku jaksa tanpa ampun. Jangan gambarkan dirimu  sebagai korban di depanku. Kau mendengarkan dengan baik.” Kata Ji Wook
“Terima kasih tadi sudah begitu ke mantan pacarku hari ini.” Ungkap Bong Hee. Ji Wook meminta bayaran agar Bong Hee berkerja bagus. Bong Hee mengangguk mengerti. 


Bong Hee baru saja pulang, Hee Joon melihatnya langsung mendekat dengan bertanya apakah Bong Hee pulang sekarang. Bong Hee dengan sinis menjawab kalau itu bukan urusan Hee Joon.
“Apa masih begitu karena aku? Aku tahu kau sengaja pamer dengan jaksa agar aku lihat.” Ucap Hee Joon. Bong Hee mengelak. Hee Joon menahan Bong Hee sebelum pergi tapi Bong Hee kembali memelintir tangan mantan pacarnya.

“Baik, aku begitu agar kau melihat. Tapi aku tidak akan lagi. Kau tidak lebih dari sampah masa laluku. Jadi berhenti menipu diri sendiri.” Kata Bong Hee melepaskan tangan Hee Joon.
“Tapi, kau meninggalkan barang di tempatku. Haruskah aku membuangnya,  atau kau masih butuh? Pikirkan itu.” Kata Bong Hee berjalan pergi.
“Berhentilah menyangkal perasaanmu, Bong Hee!” teriak Ji Wook. Bong Hee merasa semua hanya Omong kosong lalu berjalan pergi.
“Saat aku masih kecil, aku ingin  menjadi orang yang hebat.Tapi...” gumam Bong Hee 
Bong Hee kembali ke rumah dengan membuka jendelanya bisa menghirup udara yang menyegarkan. Ia lalu berpikir kalau dirinya tak terlalu buruk Meskipun, itu akan segera berubah. Akhirnya ia keluar dari rumah dan dikagetkan dengan melihat semua lampu di lingkungan mati dan berpikir kalau itu pemadaman listrik.
Ia pun pergi ke mini market membeli beberapa makan, Kasir melayaninya mengatakan kalau Tidak ada listrik, jadi hanya ambil uang tunai. Bong Hee pun membayar belanjanya 17,000 won.
“Aku membayar tunai, yang tak ada catatannya. CCTV mati karena pemadaman listrik. Dan pekerja paruh waktu tidak ingat aku. Semua orang akhirnya melupakan aku.”
Bong Hee dengan senang hati ingin minum birnya, lalu dikagetkan dengan melihat Hee Joon yang terbaring di lantai. Tapi ketika mencoba membangunkan sadar dengan ada luka dibagian tubuh Hee Joon dan tanganya penuh darah. Bong Hee panik berusaha untuk menghilangkan darah dari tanganya. 

“Oleh karena itu, alibiku tidak ada. Mantan pacarku, Jang...” tulis Bong Hee yang sudah mengunakan baju tahanan.
Saat itu Ji Wook masuk sebagai jaksa, lalu menegaskan kalau sudah memperingatkan Bong Hee  jangan muncul di depannya sebagai korban karena dirinya jaksa tanpa ampun.
“Aku tumbuh besar dan menjadi tersangka pembunuhan.” Gumam Bong Hee.
Bersambung ke episode 3

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar