PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 04 Maret 2020

Sinopsis When the Weather is Fine Episode 4 Part 2

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Di papan terlihat foto Min Jung dan tertulis pemberitahuan ORANG HILANG: CHOI MIN JUNG, PEREMPUAN. Orang Tua Min Jung terlihat gelisah karena anaknya yang hilang. Eun Seob berjalan sendirian dihutan dan sempat terjatuh, lalu berusaha mencari sesuatu dan menemukan
Eun Seob berteriak memanggil Min Jung, akhirnya Min Jung terlihat sedang terbaring di tepi gunung hanya bisa mengetuk batu untuk meminta pertolongan. Eun Seob bisa mendengar arah suara batu yang dipukul. 

Hwi datang melihat kalau masih belum menemukannya dan tak percaya kalau butuh waktu lama. Hye Won melihat banyak polisi dan ambulanca sampai atas gunung dan bertanya apakah Semua orang mencari wanita itu. Hwi membenarkan.
“Apa Eun Seop mencarinya dengan polisi?” tanya Hye Won. Hwi menjawab tidak tapi Eun Seob mengambil rute yang berbeda.
“Rute yang tak diketahui orang lain.” Kata Hiw. Hye Won kaget Eun Seob mengambil Rute yang tak mereka ketahui bahkan Sendirian.
“Karena dia perlu memeriksa tempat-tempat yang mereka lewatkan. Dia tahu beberapa rute yang tak diketahui.” Ucap Hwi
“Bukankah itu lebih berbahaya?” kata Hye Won pank. Hwi mengeluh kalau Hye Won tak mendengar ucapanya, kalau  kakaknya benar-benar binatang buas.
“Tapi itu adalah gunung kecil di belakang toko buku. Gunung ini sangat berbeda. Aku bertanya pada seseorang tadi, dan dibutuhkan setidaknya tiga jam untuk mencapai puncak, tak peduli seberapa cepat kau.” Ucap Hye Won panik
“Itu tak berlaku untuk Eun Seop.” Kata Hwi. Bibi Sim membenarkan kalau   Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Kenapa tak khawatir? Kenapa? Bagaimana bisa meminta Eun Seop untuk melakukan itu seolah bukan apa-apa? Bukankah berbahaya baginya juga? Apa dia tak bisa terluka? Apa dia manusia super? Kenapa semua orang menyuruh melakukan hal seperti itu dengan mudah?” ucap Hye Won marah
“Astaga, kau terdengar seperti ibuku.” Keluh Hwi heran menunjuk ke arah ibunya.
“Kenapa kau memanggil Eun Seop ke sini? Kau tahu bagaimana dia.... Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi? Aku akan membuatmu bertanggung jawab.” Kata ibu Eun Seob marah pada Jang Woo. Tuan Im pun menarik istrinya agar bisa tenang.
“Kak... Mendaki gunung adalah bakat khusus kakakku. Itu sebabnya semua orang bertingkah seperti ini. Tapi, dia agak lambat hari ini. Astaga, aku mulai khawatir.” Kata Hwi.
Saat itu polisi berteriak kalau mereka sudah menemukannya. Hwi berteriak bahagia melihatnya lalu mengajak mereka untuk mendekat. Eun Seob terlihat mengendong Min Jung dengan jaket yang menutupi tubuhnya agar tak kedingingan.
Petugas ambulance pun langsung membawa Min Jung dengan tandu dan Eun Seob pun langsung dikerubungin oleh keluarganya. Hye Won yang akan mendekat hanya bisa berjalan mundur.  Orang Tuan Min Jung  langsung mengucapkan terima kasih banyak.




Keluarga Sim sedang menonton TV, Hwi mengambil ubi dari tangan kakaknya berkomentar kalau Hari ini sedikit intens, Eun Soeb hanya diam saja. Tuan Im ingin mengambil ubi tapi melihat istrinya datang mengurungkan niatnya.
“Jangan lakukan itu lagi. Bahkan jika seseorang meminta bantuan, tolak saja.” Ucap ibu Hyun Ji marah
“Astaga,bagaimana dia bisa melakukan itu? Dia adalah satu-satunya di kota ini yang bisa...” kata Tuan Im membela sang anak.
“Bagaimana jika Eun Seob terluka? Apa kau tak lihat wajahnya? Apa ini? Coba Lihat ini. Dia adalah manusia. Apa Kau pikir dia serigala? Apa dia binatang buas? Dia juga bisa terluka.” Ucap Ibu Eun Seob marah
“ Jika dia mendaki gunung besar itu sendirian, maka dia akan cedera juga. Semua orang di desa ini mencarinya saat sesuatu terjadi Dan aku selalu khawatir seperti orang gila, berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.” Keluh Ibu Eun Seob.
“Bu, kenapa kau selalu khawatir seperti orang gila? Kau bilang hal yang sama saat kau melihat laporanku kemarin.” Keluh Hwi. Ibu Eun Seob langsung berteria marah.
“Ayah, cucian seperti makhluk hidup.” Kata Hwi mengalihkan pandangan pada ayahnya.
“Hei, tanganmu sedang memegang ubi.” Keluh Tuan Im lalu menyurun anakanya makans saja.
“Bu, aku baik-baik saja... Aku benar-benar baik-baik saja.” Kata Eun Seob menenangkan ibunya.  Tapi Ibunya seperti masih sangat marah. 



Di kamar, Hye Won sendirian. Bibi Choi masuk bertanya apakah ada yang dibutuhkan.  Hey Won mengaku tak ada. Bibi Choi pun menyuruh Hye Wo untuk tidur dengan nyenyak saja.  Hye Won teringat dengan yang dikatakan Hwi
“Kau berani. Gunung berbahaya di malam hari.” Ucap Hwi. Hye Won pikir Tapi Eun Seop berada di sana sekarang.
“Ayolah, dia benar-benar binatang buas.” Kata Hwi dan Hye Won memberanikan diri ke hutan bahkan hampir tersesat. Eun Seob pun yang menemukanya. 
Bahkan Eun Seob juga mengendong Min Jung keluar dari hutan, seperti Hye Won tak percaya. 


Eun Seob berjalan mendekati ibunya didapur. Ibu Eun Seob mengeluh kalau tak ingin bicara. Eun seob mengakuseharusnya menelusuri hutan dengan tim penyelamat, tapimenyimpang karena lebih suka pergi sendiri bahkan bisa lebih cepat.
“Jangan mendaki gunung sendiri dari sekarang, jangan pernah. Bahkan pegunungan di belakang rumah, Dan rumah itu juga. Aku tak ingin kau naik ke sana lagi. Jika kau terluka di pegunungan, siapa yang akan datang untuk menyelamatkanmu? Pikirkan.” Ucap Ibu Eun Seob marah
“Aku tak bisa... Ayahmu juga tak bisa. Dan Hwi tak bisa juga. Jadi, tolong... “ kata Bu Eun Seob
“Kalian bertiga bisa menyelamatkanku bersama. Jika Ibu, Ayah, dan Hwi mengumpulkan kekuatan, maka aku yakin kalian bisa menyelamatkanku.” Ucap Eun Seob santai.
“Cukup! Jangan mendaki gunung lagi. Jika kau melakukannya lagi, aku benar-benar akan marah kepadamu.” Kata ibu Eun Seob.
“Ibu sudah marah padanya. Ibu menentang diri sendiri. “ komentar Hwi datang dan berkomentar.
“Bu, Ayah ingin ubi jalar lagi... Ahh.. Bukan aku yang minta... Ayah cerdik yang minta.” Ucap Hwi. Eun Seo pikir  akan mengurusnya.
“Karena itulah... Kenapa menyerahkan semua ubi jalar ke Eun Seop? Bagaimana denganku dan Ayah?” keluh Hwi
“Kalian sudah sering memakannya!” teriak Ibu Eun Seob. Hwi mengaku  membiarkan Ayahnya yang memakan miliknya. Ibu Eun Seob mengeluh kalau Hwi itu makan paling banyak.
“Ayah! Ibu menjadi aneh. Ada apa dengannya? Dia sangat jahat.” Keluh Hwi mencoba mengadu. Ibu Hwi mengeluh kalau tak melakukan apapun. 


TOKO BUKU GOOD NIGHT
Tuan Bae membawa bir, bibi Choi senang Seseorang harus minum bir pada malam musim dingin seperti ini. Jang Woo baru datang memberitahu kalau , ini membeku dan Sekarang suhu minus 17°C di bawah nol derajat. Bibi Choi membawa kue mengaku benar-benar ingin soju di hari dingin seperti ini.
“Soju setengah beku dengan ayam rebus pedas.”ucap Bibi Choi. Tuan baek pikri Soju beku pada suhu begini.
“Bagaimana dengan bir? Pada suhu berapa ia membeku?” tanya Seung Ho.  Eun Seob menjawab Pada minus 4°C.
Hye Won keluar melihat Seung Ho tak bisa minum bir dan memberikan es yang sudah disimpanya. Seung Ho terlihat bahagia dan tak percaya kalau meninggalkan ini di luar. Hye Won memberitahu kalau hari ini suhunya sedingin freezer.
“Karena semua orang sudah berkumpul, bagaimana kalau dimulai?” kata Eun Seob.
"Kuterima surat yang kita dibekukan menjadi bingkai foto kemarin. Jalan yang dulunya kuikuti setiap hari sekarang menghilang, dan yang lain juga menghilang. Aku melihat kerikil yang dulunya seperti mainan saat kita masih kecil terkubur di tanah, dengan wajah tertutup." Ucap Hyun Jin
Ibu Eun Seob masuk kamar melihat anaknya yang tertidur lalu mengusapnya dan melihat ada luka.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu.Di langit malam yang dingin, aku melihat celah yang terbentuk perlahan. Kepingan salju yang turun langit. Beberapa di antara merekatak bisa mendarat di tanah. Sebaliknya, mereka terus berkeliaran, menggigil dengan mata terbuka."
“Itu adalah "Lagu Cinta yang Singkat" oleh Hwang Tong Gyu.” Kata Hyun Ji membaca kutipan buku. Tuan Bae berharap bisa menangkap kepingan salju.”. 
“Puisi dan novel yang berkaitan dengan musim dingin. Siapa selanjutnya?” kata Jang Woo
“Aku, Paman.” Kata Seung Ho mengangkat tangan. Hye Won ingin tahu apa yang dipersiapkan Seung Ho.
“Aku membaca "Burung Hantu di Rumah". "Burung hantu di rumah. Burung hantu berbicara, 'Senang rasanya duduk di dekat perapian ini. Di luar sangat dingin dan bersalju.' "Dan kemudian dia mendengar seseorang mengetuk pintu." Cerita Seung Ho.
Hye Won seperti membayangkan saat datang ke rumah yang membeli lalu akhirnya mengambil surat yang dituliskan ibuny pada bibi Sim.
"Musim dingin yang buruk. Burung Hantu berpikir, 'Baiklah, aku akan baik hati dan membiarkan musim dingin masuk. Musim dingin, ayo masuk. Masuk ke dalam dan menghangatkan dirimu sebentar.'" Cerita Seung Ho.
“Ketika musim dingin datang ke rumah yang hangat, kukira dia membekukan seluruh rumah”kata Tuan Bae
“Ya. Inilah yang dikatakan Burung Hantu pada musim dingin. 'Musim dingin, kau adalah tamuku.' 'Tak boleh berprilaku seperti ini.'" kata Seung Ho
“"Berprilaku seperti ini"? Jadi, musim dingin datang dan membekukan rumah?” kata Jang Woo dan Tuan Bae berkata "Tutup pintu di belakangmu!"
“Jang Woo, giliranmu.. Bacalah sesuatu yang akan membuat kita lebih dingin.” Ucap Hwi.
“Baiklah. Aku akan melafalkan "Aku, Natasha, dan Keledai Putih". Kata Jang Woo bangga.
“Natasha... Oh. Apa kau menyukai wanita asing juga? Astaga, apa yang terjadi di sini?” keluh Hwi. Jang Woo bingung.
“Kau bilang "Natasha". Kau pasti menyukai wanita asing. Orang asing populer akhir-akhir ini. Mereka pandai bicara bahasa asing juga.” Keluh Hwi
“Ada yang tahu apa yang mereka bicarakan?” tanya Tuan Bae. Hwi tak mau membahasnay menurutnya kalau ini benar-benar kacau.
Hwi pun mengeluh dengan kakaknya yang suka dengan Irene. Eun Seob panik.  Tuan Bae pikir Jang Woo itu memilih yang bagus lalu mengodanya bertanya Apa orang yang pernah mengatakan bahwa Jang Woo terlihat seperti keledai.
“Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tak terlihat seperti keledai. Heii. Kenapa tertawa? Jangan tertawa.” Keluh Jang Woo yang kembali jadi bahan ejekan. 





Bibi Choi dkk akhirnya pulang, Tuan Bae membahas obat  Untuk infeksi jamur kronis, yaitu ada semprotan yang membantu. Jang Woo memangil Eun Seob kalau  Min Jung ingin bertemu dengannya. Hye Won langsung bertanya alasanya seperti cemburu.
“Dia ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan hidupnya.” Kata Jung Woo. Eun Seob pikir kalau tak harus.
“Beri tahu aku kapan kau bisa. Sampai jumpa... Selamat malam.” Kata Jang Woo lalu bergegas pergi.
Hye Won terlihat gugup seperti mencampuri urusan Eun Seob akhirnya mengajak untuk mulai bersih-bersih. Eun Seob memberikan sesuatu mengatakan kalau Hye Won bisa pakai ini. Hye Won bingung apa itu dan melihat isinya sepatu boots.
“Sepasang sepatu... Aku ingin kau berhenti mengenakan yang itu.” Kata Eun Seob menunjuk sepatu biasa.
“Kenapa?” tanya Hye Won. Eun Seob terdiam lalu teringat sepatu yang dipakai Min Jung dan merasa kalau itu pasti akan membuat Hye Won jatuh di pegunungan.
"Kenapa"? Karena kau berada di pedesaan. Jalanan di sini kasar. Pokoknya, pakailah.” Ucap Eun Seob gugup dan langsung pergi
“Kau Mau kemana?” tanya Hye Won. Eun Seob menjawab akan Ke kamar mandi.


Tuan Bae berjalan pulang dengan Hyun Ji, Jang Woo, dan Hwi lalu berkomentar sangat lega Eun Seop tak terluka. Jang Woo juga meraskan hal yang sama karena Eun Seob terlalu lama dan membuatnya sangat khawatir.
“Oh, benar, Jang Woo... Ibuku menunggu waktu untuk membunuhmu.” Kata Hwi
“ Coba bayangkan betapa susahnya aku mencari Eun Seop.” Keluh Jang Woo.
“Apa mungkin, kau menyukainya?” ucap Hwi. Jang Woo mengeluh mendengarnya.
“Itu karena cintaku pada kemanusiaan...” ucap Jang Woo mencoba membelak diri.
“Jangan khawatir... Aku ragu ibuku akan membunuhmu sungguhan.” Kata Hwi. Jang Woo terlihta sediki bernafas lega.
“Ya, dia sangat membencimu hingga ingin membunuhmu. Paling-paling, dia akan membuat boneka voodoo dan menempelkan pin ke dalamnya.” Kata Hwi
"Aku tak akan pernah memaafkanmu. Aku akan membunuhmu dengan segala cara." Kata Hyun Ji membayangkanya. Jang Woo ketakutan sempat berhenti melangkah.
“Tapi, aku mengerti dia. Kita semua mengandalkan Eun Seop karena dia mengenal gunung dengan sangat baik. Tapi, dia adalah putra yang berharga baginya.” Komentar Tuan Bae
“Benar. Semua salahku.” Keluh Jang Woo yang akhirnya mengejar Hyun Ji. Tuan Baek mengeluh kalau hanya mengatakannya.
“Paman, pernahkah kau juara 1 di kelasmu?” tanya Hwi. Tuan Bae mengaku tak pernah karena sangat sulit. Jang Woo mengangkat tanganya. 


“Siapa yang begitu? Dia memang terkenal. Dia juara kelas selama 12 tahun berturut-turut.” Ucap Hyun Ji
“Oh, kau kuliah di Universitas Nasional Seoul, 'kan?” kata Hwi. Jang Wo dengan bangga kalau  kuliah di sana.
“Apa Kau punya pertanyaan untuk siswa terbaik? Apa itu? Fungsi? Persamaan kuadratik? Bahasa Inggris? Apa kau ingin kubacakan puisi? Atau kau ingin berdiskusi mendalam pada integral yang pasti...” tanya Jang Woo penuh semangat.
“Tidak, bukan itu... Jang Woo... Wanita seperti apa yang disukai murid pintar?”tanya Hwi. Jang Woo melonggo bingung.
“Aku membicarakan perempuan dalam kehidupan nyata, bukan Natasha. Dan hanya perempuan Korea, oke?” ucap Hwi. Jang Woo hanya bisa melonggo binggung. 

Hye Won keluar dari toko dengan sepatu boots yang diberikan Eun Seob seperti sangat nyaman, lalu membawa birnya yang sengaja disimpan agar dingin. Ia masuk melihat Eun Seob yang terbaring dan melihat ada luka dibagian dahinya dan yakin kalau Pasti sakit.
“Aku sangat iri padamu, Eun Seob” ungkap Hye Won. Eun Seob bingung kenapa iri.
“Ya.. Keluargamu sangat hangat. Keluargaku rasanya seperti kulkas Aku sangat cemburu ada begitu banyak orang yang menyayangimu.” Ungkap Hye Won.
Hye Won melihat saat ibu Eun Seob yang memberikan syal agar anaknya tak kedinginan, lalu sang ayah menyuapi kacang. Bahkan saat Eun Seob turun dari gunung, semua keluarga yang langsung mengerubunginya membuat Hye Won berjalan mundur. 

Pagi hari
Jang Woo mengayuh sepedanya, salah seorang menyapanya dan bertanya apakah Jang Woo minum lagi tadi malam. Jang Woo mengaku tidak tapi setelah berjalan pergi tak percaya kalau bapak itu tahu. Saat itu seorang pria mendorong trolly tapi paketnya jatuh.
“Kau datang awal hari ini.” Ucap Jang Woo membantunya. Si pria mengaku  Ada banyak paket hari ini.
“Aku harap ada untukku juga... Sampai jumpa.” Ucap Jang Woo lalu melambaikan pada si paman. 



Min Jung datang menyapa Jang Woo yang baru berangkat kerja. Jang Woo pun menyapa Min Jung bertanya Apa baik-baik saja. Min Jung mengaku baik-baik saja. Jang Woo pikr Min Jung bisa tinggal di rumah hari ini jadi Kenapa berangkat bekerja,
“Omong-omong, apa kau sudah bertanya kepada temanmu?” tanya Min Jung. Jang Woo bingung
“Oh, maksudmu Eun Seob?Benar, aku sudah bertanya.” Kata Jang Woo. Min Jung pun penasaran yang dikatakan Eun Seob.  Jang Woo mengingatnya.
Flash Back
“Eun Seob... Min Jeong ingin bertemu denganmu.” Ucap Jang Woo dan Hye Won malah ingin tahu alasanya seperti cemburu.
“Dia ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan hidupnya.” Kata Jang Woo tapi Jang Woo belum memberikan jawabanya.
“Dia setuju untuk makan denganmu tapi bukan sekarang. Jadi,... “ kata Jang Woo. Min Jung pun mengatinya dia tak ingin bertemunya.
“Tidak, tidak..” kata Jang Woo. Min Jung pikir pasti memang tidak. Jang Woo mengaku bukan itu tapi Jang Woo ingin bertemu dengan Min Jung.
“Begitukah?” kata Min Jung bahagia. Jang Woo menjawab mungkin suatu hari. Min Jung senang dan langsung mengucap syukur.
“Benar, aku tahu persis bagaimana perasaanmu.” Kata Jang Woo melihat ponselnya yang terus berdering. Min Jung pun pamit masuk lebih dulu.



Eun Seob terbangun dari tidurnya lalu tersadar kalau ada yang menutupi badanya dengan selimut. Ia lalu memanggil Hye Won tapi tak ada didalam rumah. Hye Won pergi ke pasar berbelanja bahan makanan dan memesan pancake sawi.
Nyonya Sim menuruni bus dengan tujuan BUKHYEONRI, PUSAT KOTA HYECHEON, DESA SEOHYEON lalu mengisap permen lolipop.Hye Wo pun pulang dengan taksi sambil memakan perme lolipop
Nyonya Sim terlihat bahagia menghirup udara segara dan berjalan di sampin sawah di PERTIGAAN BUKHYEON. Saat itu kepala desa lewat melihat Nyonya Sim seperti mengenalnya.
“Apa mungkin... Apa kau, Myeong Ju?” tanya Kepala desa. Nyonya Sim pun menyapa kepala desa yang sudah sedikit menua.
Saat itu Hye Won baru pulang dari pasar pasar kaget melihat ibunya datang. Nyonya Sim pun hanya bisa terdiam melihat anaknya yang tak ditemuinya.
Bersambung ke episode 5



TOKO BUKU GOOD NIGHT, BLOG PRIBADI
"Pada pertemuan klub buku hari ini, kami memilih kutipan favorit dari puisi dan novel musim dingin dan membaginya. Dia beradaptasi dengan sangat baik dengan klub buku ini. Terkadang dia membaca buku-buku yang sudah dibaca oleh anggota kami."

"Aku mulai penasaran, apa dia ingin tahu tentang orang yang membaca buku itu. Lalu, jenis buku apa yang harus kupilih?"

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar