PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 14 Maret 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 1 Part 3

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 



Jun Wan dkk melihat surat didepan mereka “KONTRAK KERJA TIM MEDIS KHUSUS BANGSAL VIP” Jung Won yakin empat temanya itu pasti setuju. Ik Jun mengeluh kalau panjang sekali dan meminta agar menjelaskan saja.
“Singkatnya, kita harus setuju jika pihak pertama membutuhkan operasi darurat, meski di akhir pekan, dan wajib melakukan operasi yang ditentukan oleh pihak pertama.” Jelas Sung Hwa
“Siapa pihak pertama?”tanya Jun Wan. Sung Hwa menunjuk itu Jung Won.
“Kau akan membayar kami sebesar apa? Kau meminta kami jadi budakmu.”keluh Jun Wan kesal
“Dua kali pendapatan tahunan.” Ucap Jung Won. Ik Jun langsung berteriak marah.
“Lain kali tulis hal semacam itu di bagian paling atas! Dia memang anak konglomerat, uangnya banyak!” keluh Ik Jun langsung memberikan tanda tangan.
“ Aku tak mungkin mengundurkan diri. Baik.” Ucap Song Hwa yang ikut juga tanda tanganya.
“Apa Ada tinta merah? Aku harus mengecap ibu jari.” tanya Jun Wan yang ikut tanda tangan dan memberikan cap 
“Bagaimana denganmu?”tanya Jung Won pada Suk Hyung. Suk Hyung mengatakan kalau mau ada waktu luang.
“Astaga, hidupmu mewah sekali! Kau sudah dua bulan di Korea setelah selesai beasiswa. Apa Kau tak cari kerja?” ejek Ik Jun.
“Aku masih ingin bercengkerama dengan ibu.” Kata Suk Hyung santai.  Jung Won akan memberikan gaji dua kali lipat dan parkir khusus.

“Lantas, kami?” teriak tiga dokter tak bisa terima. Jung Won menyuruh tiga yang lainya diam saja. Suk Hyung seperti tak peduli.
“Parkir khusus dan laboratorium khusus. Ditambah ruang kerja pribadi!” ucap Jung Won.
“Lalu kami? Kau kira kami siapa?” teriak Ik Jun kesal. Jun Won juga marah karena dianggap bodoh yang setuju saja.
“Aku tak butuh itu... Aku hanya minta satu syarat.” Kata Suk Hyung. Jung Won ingin tahu karena akan mengabulkan apapun.
“Band.” Ucap Suk Hyung, semua melonggo mendengarnya. Jun Wan mengeluh kalau Suk Hyun bahkan baru bisa berkirim pesan dengan ponselnya.
“Aku tak mau! Pokoknya tidak.” Tegas Jung Wan. Ik Jun setuju karena menyukainya.

“Aku juga sibuk. tak ada waktu. Aku tak bisa.” Kata Sung Hwa. Jung Won pun memastikan kalau Suk Hyung akan setuju kalau mengabulkanya
“Tentu. Bagaimana kau mengelola bangsal VIP tanpa dokter obstetri dan ginekologi? Itu tak mungkin terjadi.” Kata Suk Hyung
Jun Wan kesal akhirnya memilih untuk pergi dan lebih baik upakan pembicaraan hari ini dan menurutnya Lebih baik bekerja saja. Sesampai di pintu Ia memanggil Song Hwa karena tak punya akses jadi meminta agar membantunya turun.
“Aku juga sudah menegaskan. Aku tak ada waktu untuk band.” Ucap Song Hwa lalu keluar ruangan. Jung Won memanggilnya tapi Sung Hwa tak mengubrisnya.
“Masalahnya adalah Song-hwa.” Ucap Jung Won sambil menghela nafas. Suk Hyung pikir Jun-wan lebih bermasalah.

“Jun-wan? Aku hanya perlu meneleponnya.” Kata Jung Won santai. Ik Jun dan Suk Hyung saling berpandangan. 



Jung Won berbicara di telp dengan Jun Wan memastikan kalau ia tetap tak mau melakukanya, Jun Won menegaskan tidak mau karena sudah tak muda lagi. Jung Waon mengaku Kemarinmembuka akun Cyworld lamanya  dan menemukan satu foto indah di album foto.
“Di Hawaii...” ucap Jung Won dan Jun Wan langsung menyetujuinya. Jung waon langsung tersenyum setelah menutup telp.
“Jun-wan setuju.” Kata Jung Won. Ik Jun yang bersadar dibahu Suk Hyung langsung terkejut, begitu juga Suk Hyung.
“Jun-wan melakukan dosa apa sampai langsung setuju?” ucap Ik Jun heran. Jung Won pun  berpikir Sekarang hanya tersisa Song-hwa.
“Song-hwa selalu serius dengan perkataannya. Bagaimana ini? Apa Kau tak tahu kelemahan Song-hwa?” kata Jung Won

“Astaga, Apa ini strategimu? Kenapa kau hanya memikirkan hal negatif seperti kelemahan seseorang? Kau cukup memberi apa yang dia inginkan. Coba cara itu.” Ucap Ik Jun
“Aku tahu.” Kata Suk Hyung. Keduanya temanya langsung melonggo  Suk Hyung memberitahu Song hwa  mau kalau menjadi vokalis.
“Ini Sudah gila. Vokalis? Dia masih ingin menjadi vokalis?” keluh Ik Jun tak percaya.
“Aku bicara lebih dulu dengannya, dan dia bilang mau kalau menjadi vokalis.” Kata Jung Won
“Yang benar saja. Song-hwa pekak nada dan tak berirama! Dia bahkan butuh lima tahun untuk belajar bas.” Keluh Ik Jun kesal

“Suk-hyung, kau ingin mendapat Grammy dari band kita?” tanya Jung Won. Suk Hyung terlihat bingunga
“Apa Kau tak mau tampil di Wembley?” tanya Jung won. Suk Hyung mengaku tidak.
“Kalau begitu... Song-hwa boleh jadi vokalis!” kata Jung Won santai. Ik Jun langsung berteriak kesal
“Aku tak masalah. Aku hanya ingin melakukan sesuatu bersama teman-temanku. Aku merasa suara Song-hwa menarik.” Ucap Suk Hyung santai.
“Ya ampun, kalian jahat sekali.” keluh Ik Jun kesal. Suk Hyung tetap merasa  Suaranya unik.

“Astaga! Kalian benar-benar gila! Kalian tak boleh mengejek orang begitu! Kita harus bimbing dia ke jalan yang benar. Jangan begitu jika kalian peduli pada Song-hwa!” kata Ik Jun kesal
“Baiklah! Sudah beres... Ik-jun, kau peduli pada Song-hwa. Berarti kau tak keberatan dengan ini. Kita akan mulai band. Kau mulai bekerja pekan depan. Selamat bergabung, Dokter Yang!” kata Jung Won menjabat tangan temanya.
“Aku sering dengar kau dipanggil "Buddha". Kata Suk Hyung dengan senang hati menerima kontrak kerjanya.
“Agamaku Katolik.” Kata Jung Won. Suk Hyung terlihat malu dan melepaskan tangan temanya. 


Song Hwa minum telur mentah dalam gelas, lalu seperti melonggarkan tengorokanya. Ik Jun yang sudah bersiap mengeluh menyuruh Song Hwa cepat karena mereka bisa dipanggil kapan saja. Song Hwa pun siap didepan mic tapi malah bersendawa. Ik Jun mengeluh kalau bau mulut Song Hwa yang amis.
“Kau tak masuk akal.” Keluh Ik Jun. Song Hwa pun ingin tahu mereka itu akan memainkan lagu apa.
“Suk-hyung sudah memilih. Kau pasti tahu begitu dengar.” Kata Jung Won sudah siap duduk di depan drum.
Suk Hyung pun siap dengan keyboard mulai memaikannya. Song Hwa sudah tahu dengan bas ditanganya dan mulai menyanyi. Ik Jun dan Jun Wan yang ada disampingnya hanya bisa menahan telinga mereka karena suara Sung Hwa yang sumbang.

Flash Back
Lagu yang sama dinyanyikan diatas panggung, seorang pria menyanyi dengan suara yang sumbang. Di depan terlihat spanduk “UNIVERSITAS NASIONAL SEOUL ORIENTASI MAHASISWA KEDOKTERAN BARU” Setelah menyanyi ketua meminta mereka semua memberikan Tepuk tangan. Jung Won dan Suk Hyun duduk sambil terus minum bir.
“Lagunya membuatku merinding, wajahnya lebih membuatku merinding lagi. Siapa yang ingin maju selanjutnya?” tanya Ketua. Teman yang duduk didepan Jung Won mengangkat tangan.
“Aku akan menirukan Nam Bo-won dalam Acara Nam Bo-won” ucap Si pria dengan percaya diri. Jung Won memilih untuk bergegas keluar perlahan.
“Hei! Kau mau ke mana?” bisik Suk Hyung. Jung Won pikir Lebih baik putus sekolah daripada melakukannya. Keduanya pun akhirnya keluar dari ruangan seperti bahagia. 

“Kalian mau ke mana?” tanya senior yang berjaga diluar. Jung Won kaget dan mengaku akan  Ke toilet
“Dia mabuk berat.” Kata Jung Won sambil berpura-pura memapang Suk Hyung. Suk Hyung pun pura-pura sedang mabuk.
“Kenapa mereka tak masuk? Menyebalkan!” keluh Jung Won bersembunyi di depan pintu melihat dua senior yang masih berjaga.
“Di sini dingin sekali. Apa kita diam di toilet saja?” kata Suk Hyung. Jung Won mengatakan kalau disana bau.
“Apa tak ada tempat lain?” kata Suk Hyung. Jung Won mencoba mencari tempat persembunyian. 

Jung Won melihat ruangan yang terkunci dan mencoba untuk membukanya, tapi saat membukanya terlihat dua pria lain yang juga bersembunyi. Jun Wan  masih dengan logat busanya bertanya siapa mereka. Ik Jun pikir siapa lagi.
“Seperti kita, mereka pura-pura ke toilet, lalu kabur karena di sana membosankan.” Kata Ik Jun
“Mereka orang Jepang?” ucap Suk Hyung yang mendengar logat yang berbeda. Jun Wan langsung mengeluh kalau Suk Hyung memang bodoh.
“Apa Kami boleh masuk?” tanya Jung Won. Ik Jun tak percaya kalau Dialek Seoulnya keren.
“Seperti mendengar radio... Dia bilang "Boleh masuk?" kata Jun Wan. Ik Jun menyuruh mereka masuk.
“Meski agak sempit, diam di sini lebih baik daripada acara tak jelas itu.” Kata Ik Jun. 

Mereka berempat pun duduk dengan berdempetan. Jung Won pun memperkenalkan diri dan juga Suk Hyung sebagai temanya. Ik Jun pun menyapa dengan bahasa jepang untuk mengejek.
Jun-wan mengeluh dengan sikap Ik Jun, lalu memperkenalkan diri dengan temanya Ik Jun lalu mengaku kalau mereka berdua dari Changwon.
“Kami teman satu SMA. Apa Kalian juga satu SMA?” tanya Ik Jun. Jung Won mengaku mereka satu SD dan SMP lalu merasa kalau kakinya kram. Ik Jun mengeluh Jung Won tak akan mati dan jadi anak manja.
“Tapi sampai kapan kita di sini? Di sini sempit.” Kata Suk Hyung. Ik Jun pikir mereka beruntung hanya berempat.

Saat itu pintu terbuka dan Song Hwa ikut kabur dari acara dan duduk siamping Ik Jun yang mencoba agar tak sempit. Jung Won pun memperkenalkan empat teman lainya yang baru dikenalnya.  Song Hwa pun memberitahu namanya Chae Song-hwa lalu bertanya apakah mereka semua berteman. Semua langsung menjawab tidak.
“Kami baru kenal lima menit.” Kata Jung Won. Song Hwa heran melihat mereka yang panik padahal hanya bilang tidak saja sudah cukup.
“Pertemuan ini sudah takdir. Bagaimana kalau foto bersama?” kata Song Hwa. Semua langsung mengeluh kalau itu tak mungkin.
“Baiklah... Kameranya bisa disimpan di atas kursi itu.” Kata Jung Won. Song Hwa pun menaruh diatas kursi lalu memberitahu kalau Lampunya berkelip sebelum memotret.
“Itu Sudah mulai!” kata Song Hwa dan mereka pun foto bersama saat masih kuliah pertama kali. 

Mereka pun selesai  berlatih Ik Jun memberitahu kalau  Lagu berikutnya "Love over a Thousand Years". Song Hwa tahu temanya itu mengejek dan akhirnya mengejar bersama dengan Ik Jun sebelum masuk mobik. Suk Hyung mengantar temanya masuk mobil.
Jun Won langsung mengambil sepatu Song Hwa dan msauk mobil. Song Hwa mengeluh meminta agar mengembalikanya lalu meminta tolong Suk Hyung, tapi Suk Hyung memilih untuk masuk ke dalam rumah. Song Hwa meminta tolong Jung Won tapi Jung Won sudah masuk mobil. 

Jung Won mendengar bunyi sirine di ponselnya lalu membuka ponsel yang lainya dengan bunyi sirine dan menerima pesan [SELAMAT MALAM, MALAIKAT PENOLONG! EUN-A SUDAH SEHAT DAN BOLEH PULANG.] wajahnya langsung tersenyum puas.
[TERIMA KASIH. KURASA KE DEPANNYA AKU BISA MEMBANTU LEBIH BANYAK PASIEN.] Jung Won membalasnya dan ponsel yang lainya pun berdering.
“Aku tak punya uang. Aku Baru saja menerima uang pengobatan pasien jantung anak. Aku sungguh tak punya uang! Kau pastor, tapi minta traktir anggur setiap hari. Hiduplah dengan filosofi nonkepemilikan? Seharusnya kau bersyukur bisa setingkat dengan Bopjong. Masa bodoh! Aku tak punya uang! Kau pastor, bukan somelier!” ucap Jung Won kesal.
Saat itu diluar mobil Song Hwa sedang sibuk meminta Jun Wan agar mengembalikan sepatunya. 

Nyonya Jung bertemu dengan pria tua dengan kotak besar ditanganya lalu terlihat bingung. Si pria memberitahu kalau Pak Ju dengar soal kondisi istrinya dan nyonya Jung tahu kalau Tuan Ju rela berkorban demi istrinya. Nyonya Jung mengaku merasa sangat bersalah.
“Kenapa?” tanya Si pria.  Nyonya Jung pikir  Jong-su pasti kewalahan, dan sekarang harus memimpin yayasan.
“Bagaimana aku menghadapinya? Jong-su nama depan Pak Ju. Kami berteman sejak kecil. Aku sudah bilang tak perlu datang ke pemakaman karena istrinya sakit, tetapi dia keras kepala.” Ucap Nyonya Jung
“Bukan Pak Ju kalau tak datang... Astaga... Dia selalu diam dan tak berekspresi. Tapi seJujur, kupikir takkan bisa menebak pikirannya. Jadi, aku sering mencurigainya. Tapi setelah tahu...” kata si bapak tua
“Dia tak punya rencana... Dia juga begitu saat berumur lima tahun. Dan Juga saat pernikahannya. Dia sering diam sehingga orang berpikir kalau dia menyembunyikan sesuatu. Dia tak punya niat tersembunyi.” Kata Nyonya Jung
“Benar... Aku baru ingat. Sekitar dua hari sebelum Presdir wafat, dia datang ke rumahku. Dia datang larut malam. Jadi, kupikir dia meminta suaraku di rapat direksi. Ini agak menyebalkan, tapi harus kukabulkan karena anakmu memohon kepadaku.” cerita Si bapak Tua.
“Lalu Jong-su bilang apa?” tanya Nyonya Jung. Bapak Tua hanya tertawa tapi Nyonya Jung tahu bagaimana sikap temanya.
“Dia tak bilang apa-apa. Dia hanya memandang pohon bunga di halaman rumahku cukup lama, lalu berkata bahwa istrinya suka bunga, dan meminta bunga dari pohon itu.” Ucap si bapak tua.

“Dia tak bisa mengatakan hal semacam itu... Dasar naif... Dasar bodoh.” Ucap Nyonya Jung.
“Astaga, sudah pukul 20.00 lebih... Masuklah, Nyonya. Sepertinya dia sedang menunggumu.” Ucap Si pria.
“Dia menyuruhku masak. Terakhir aku membuat bekal 30 tahun lalu.” Keluh Nyonya Jung akhirnya masuk.
Nyonya Jung masuk ke dalam ruangan melihat Tuan Ju yang duduk sambil  tertidur menunggu temanya yang terbaring di rumah sakit. Akhirnya Tuan Ju pun tertidur pulas dengan diatas tangan temanya dan kotak makan ditaruh diatas meja,sementara Nyonya Jung pun sudah pergi. 


Terdengar suara dari pengeras suara “Kode biru, lantai tiga. CPR di Unit Perawatan Intensif. Gedung utama lantai tiga.” Sang Ibu menangis melihat anaknya meminta agar bertahan. Dokter terus memberikan CPR pada Min Yeong. Jung Won pun berlari masuk ruangan ICU.
“Berapa lama?” tanya Jung Won. Dokter memberitahu Sepuluh menit tapi Jantungnya tak kembali. Akhirnya Jung Won melihat Min Yeong yang berikan CPR.
“Tempo hari kau berhasil!”ucap Ibu Min Yeong sambil terus menangis. Jung Won dengan menahan tangis memberitahu ibu pasien.
“Bu, kau harus merelakan...” ucap dokter. Ibu Min Yeong meminta agar bisa melakukan lagi.
“Biar kulakukan. Akan kami coba lagi.” Kata Jung Won. Ibu Min Yeong terus menangis meminta agar anaknya bertahan.
“Min-yeong pasti merasa kesakitan, Bu. Kita harus biarkan dia beristirahat.” Kata Jung Won menahan tangis.
“Min-yeong-ku, kau mau pergi sekarang? Tapi ibu tak rela. Tapi kurasa kau akan kesakitan jika tetap di sini meski sejenak. Ibu masih ingin melihatmu. Maaf, Min-yeong. Maafkan ibu karena membuatmu sakit. Min-yeong.. ibu sangat mencintaimu. Putriku... Ibu sayang padamu.” Ucap Sang ibu terus menangis didepan anaknya yang sudah tak bernyawa lalu mengecup bibirnya.
“26 Maret 2019, pukul 14.29... Kunyatakan Kim Min-yeong meninggal dunia.” Kata Jung Won. Sang ibu pun menangis histeris. 


Didalam ruangan terlihat foto Min Yeong saat masih sadar dan sempat ulang tahun bersama, foto dengan Jung Won dan senyuman sangat lebar. Di lorong rumah sakit, dua dokter dan dua perawat berkumpul. Dokter perempuan bertanya apakah Dia ingin bertemu mereka semua
“Dia pasti akan marah-marah lagi.” Kata si dokter wanita. Perawat juga berpikir seperti itu karena Wajahnya berubah.
“Bagaimana lagi? Apa pun yang dia katakan, kita harus maklum.” Kata perawat. Dokter pria mengaku mengerti.
“Aku juga mengerti, tapi kita juga sudah berusaha sebaik mungkin. Dokter Ahn bahkan tak istirahat selama tiga bulan karena Min-yeong.” Kata dokter. Saat itu mereka melihat Jung Won yang datang.
“Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini. Kalian boleh pergi.” ucap Jung Won. Semua hanya bisa melonggo mendengarnya.
“Biar aku yang menemuinya sendiri. Kalian pergi saja. Pekerjaan kalian banyak, 'kan?” ucap Jung Won. Semua akhirnya pergi. 

Saat itu Ibu Min Yeong datang memanggil Jung Won dan langsung mengucapkan Terima kasih atas bantuannya selama ini. Jung Won tak percaya kalau Ibu Min Yeong yang tak marah lagi. Ibu Min Yeong pikir kalau anaknya iytu kesakitan karena dirinya yang ingin terus melihatnya
“Tetapi dia bahagia selama tiga tahun ini berkat perawat dan dokter yang baik hati. Terima kasih atas kerja kerasnya. Terima kasih kalian telah menyayangi dan mengobati Min-yeong. Terima kasih banyak, Dokter.” Ucap ibu Min Yeong menangis.
Jung Won akhirnya sendirian di lorong menangis seperti menahanya sedari dulu. 

Jung Won pergi ke gereja dan langsung masuk bilik pengakuan dosa memberitahu pastur kalau Hari ini seorang anak pergi ke surga dan mereka  merayakan 100 harinya serta hari ulang tahunnya setiap tahun jadi memiliki banyak kenangan bersama.
“Hanya tiga tahun... Min-yeong pergi ke surga... setelah tiga tahun. Aku anak-Nya... tapi kecewa pada-Nya. Aku membenci-Nya, dan kecewa pada-Nya. Setiap hari terasa melelahkan, Pastor. Aku harus bagaimana?” ucap Jung Won sambil menangis.
Saat itu sebuah kertas diberikan oleh pastor. Jung Won membacanya [KE RESTORAN AYAM GORENG DEKAT GANG POS POLISI] 

Di dalam restoran, Jung Won mengeluh kaau sudah mengatakan tak ingin jadi dokter dan ingin jadi pastor juga. Sang kakak pertama sibuk makan mie sambil terus mendengarkan ocehan adiknya. Jun Won kesal pada semua kakaknya.
“Tapi kalian bilang, "Kau bisa menjadi pastor kapan pun, tapi tidak dengan dokter." Aku lama menjadi dokter karena kalian! Sekarang aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan. Mengerti? Apa Kau mengerti?” ucap Jun Won marah dan terlihat mabuk.
“Aku... tak pantas menjadi dokter. Aku... tak bisa mengontrol perasaan ini. Aku mudah berempati. Orang bilang... aku akan terbiasa setelah waktu berlalu. Tapi aku... Aku terlalu menyayangi semua pasien. Aku menggila karena mereka.” Jerit Jung Won
“Aku tak menangis saat ayah meninggal. Belum lama ini ayahku meninggal, Pastor. Tapi... hari ini ibu Min-yeong mengucapkan terima kasih atas bantuanku selama ini, dan... Astaga! Ibu pasien menghiburku! Aku dokternya!” ucap Jung Won
“Tapi... ketika itu... aku merasakan... perasaan yang tak pernah aku rasakan di dunia ini. Aku merasa bersyukur, sekaligus merasa bersalah. Pokoknya, aku tak pantas menjadi dokter. Aku lelah. Aku tak bisa. Aku akan berhenti menjadi dokter!” ucap Jung Won
“Aku memang rencana berhenti tahun ini. Aku juga berniat menyerahkan pekerjaan kepada temanku. Semua sudah berakhir. Aku akan segera mengundurkan diri besok!” teriak Jung Won kesal.
“Andrea, jika kau benar-benar tak sanggup, aku akan menyuruhmu berhenti nanti. Oleh karena itu, bertahanlah setahun lagi saja.” Kata  Kakak Jung Won yang akhirnya berhenti makan dan memberikan saran setelah curhat panjang adiknya.


Flash Back
[SATU TAHUN LALU]
Jung Wan duduk sendiran dengan wajah tertunduk menangis, tapi akhirnya mendekati kakaknya bercerita Min-u menulis surat untuknya. Ia menangis menceritakan Padahal Min U masih belum pandai menulis tapi menulis surat untuknya sebelum mati.
“Aku... tak pantas menjadi dokter! Aku tak berbakat dan tak punya apa-apa. Aku akan berhenti jadi dokter. Besok aku akan segera mengundurkan diri!” ucap Jung Won menangis.
“Andrea... Coba tahan setahun lagi.” Kata Kakak Jung Won yang sedari tadi makan lalu kembali makan. 



[DUA TAHUN LALU]
Jung Won menceritakan kalau Min Ji pasienya pad sang kakak, lalu pasien itu hari ini bangun bahkan bisa bernapas spontan lalu mengedipkan mata kepadanya.
“Min-ji mengedipkan mata kepadaku. Mari kita bersulang-sulangan. Ini hari paling bahagia dalam hidupku! Bersulang!” teriak Jung Won bahagia.
[TIGA TAHUN LALU]
Jung Won berteriak kalau akan berhenti dan bukan dokter tapi dokter palsu. Ia mengumpat dirinya kalau lebih baik mati saja. Kakaknya langsung memberikan nasehat pada Andrea agar bisa Bertahanlah setahun lagi.

Song Hwa membuat kopi dengan pegiling manual. Jung Wan datang  bertanya Menu sarapan apa yang enak di rumah sakit ini. Song Hwa tak percaya kalau Jung Wan datang lebih cepat. Jung Wan mengaku belum pulang dan pulang setelah sarapan.
“Apa Kau bisa menyetir setelah begadang?” tanya Song Hwa. Jung Wan mengaku bisa naik taksi lalu pamit pergi.
“Akhir pekan ini kau ke simposium, 'kan? Hotel J?” kata Song Hwa. Jung Wan heran Song Hwa bisa tahu.
“Ah... Dokter Jang? Akan kutitipkan salammu padanya. Aku pamit.” Kata Jung Wan lalu pamit pergi. 

Jung Wan keluar rumah sakit dan melihat sang pacar yang menjemputnya. Baru saja masuk ia langsung turun dan menyuruh sang pacar turun dari mobil. Sang pacara mengeluh kalau sudah sadar dan terus menyakinkan. Jung Wan marah mendengarnya.
“Kau bercanda? Aku cium bau alkohol setiap kau bicara.”kata Jung Won. Sang pacar mengelak kalau sudah lama minum dan memang bau alkohol.
“Kau juga sedang minum saat kita bicara di telepon dini hari tadi. Itu lima jam lalu dan kau mabuk berat. Ini melanggar hukum.” Kata Jung Wan
“Aku baik-baik saja sekarang... Sudahlah. Ayo kita pergi. Tidak ada satu pun yang tahu! Ada apa denganmu?” keluh sang pacar


“Kau lihat sauna itu, 'kan? Tidurlah di sana.” Kata Jung Wan. Sang pacar mengeluh meminta Jung Wan berhenti mempermasalahkanya.
“Kenapa kau marah karena hal kecil?” keluh sang pacar. Jung Wan akhirnya mengambil kunci mobil
“Aku akan mengantarkan mobil ke rumahmu. Kita bicara lagi nanti. Saat itu... kita putus.” Ucap Jun Won akhirnya mengemudikan mobil pacarnya. 

Jung Won akhirnya datang dengan ke HOTEL INTERNASIONAL J didepan  terlihat spanduk “SIMPOSIUM TORAKOPLASTIK” Ia berjalan di parkiran dan melihat sebuah mobil yang dikenalnya lalu menunggu didepan lift.
Saat pintu lift terbuka, Jung Wan terdiam melihat sosok pria sedang mengecup pipi seoran wanita yang ada disampingnya. Dokter Jang kaget melihat Jung Wan yang ada didepanya. Jung Wan menatap sinis melihat pacar temanya itu ternyata berselingkuh.
Bersambung ke episode 2

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar