PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 21 Maret 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 2 Part 3

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Song Hwa sudah masuk ke ruang operasi lalu memberitahu kalau Adhesinya parah. Jadi, butuh waktu lama untuk pisahkan tumornya dan meminta bantuan perawat serta timnya. Ia pun bertanya  Tanda vitalnya bagaimana. Perawat memberitahu Tekanan darah 120, dan detak jantung stabil dari 70 hingga 80.
“Dokter, ada para mahasiswa kedokteran.” Ucap Ass Song Hwa. Song Hwa menyuruh agar mereka lihat lebih dekat.
“Lihatlah lebih dekat.” Kata Ass Song Hwa. Dokter Heo pun mengucapkan Terima kasih.
“Kalian dilarang melewati garis ini. Dan hati-hati, jangan menabrak peralatan.”jelas Dokter Heo Keduanya pun menganguk mengerti.
“Lihat baik-baik... Kalau ada pertanyaan, silakan tanya.” Pesan Song Hwa. Keduanya pun menganguk mengerti.
“Dengan begitu, banyak yang memilih bedah saraf.” Ucap Song Hwa yakin.
“ Hari ini tumor dasar tengkorak, 'kan?” ucap Dokter Heo bertanya pada dokter anastesi. Dokter membenarkan.
“Perkiraan berapa jam?” tanya Dokter Heo. Dokter pikirKarena Dokter Chae Song-hwa adalah ahlinya jadi sekitar 13 jam.
“Luar biasa. Kecepatan tinggi?” komentar Dokter Heo. Terlihat di layar operasi sudah berjalan selama 1 jam. 

Ik Jun masuk ruangan menyapa semua timnya sambil memakai baju operasi berkomentar kalau Hari ini  sendiri, tetapi ada rekan dokter kompeten yang membantunya. Dokter Jong meliriknya. Ik Jun mengejek kalau istilahnya? "terhormat".
“Aku merasa terhormat... Terima kasih banyak, Dokter Jong. Hanya kau yang membantuku. Nanti makanlah roti mahal dengan uangmu sendiri, ya? Jadi Mari kita selamatkan nyawa yang berharga.”ucap Ik Jun mengodanya.
Mereka pun bersiap. Ik Jun pun akan  mulai operasinya dengan meminta Pisau bedah.

Di ruangan Dokter Kim Jun Wan,  Perawat memanggil pasien No Jin-hyuk. Jun Wan melihat pasienya ini  Operasi tahun 2015 dan bertanya-tanya kenapa dia kembali dan mengingat mahasiswa yang dioperasi cacat septum atrial olehnya empat tahun lalu.
“Ya, yang kau rawat di Pusat Medis Kangwoon. Dia seperti orang lain karena pakai jas.” ucap perawat. Seorang pria akan masuk ruangan.
“Ada apa? Aku jadi khawatir. Persilakan dia masuk.” Ucap Jun Wan penasaran.
Jun Wan hanya bisa melonggo melihat [SURAT PERMOHONAN KARTU KREDIT] Tuan No ingat Jung Won itu sudah menutup lubang di jantungnya jadi memohon agar  tutup lubangnya sekali lagi. Jun Wan akhirnya terpaksa memberikan tanda tangan.

Suk Hyung melihat hasil CT Scan, Seorang pasien pikir  karena ingin segera menyiapkan baju bayi jad ingin tahu Kalau anaknya besar, apa dia akan jadi BTS atau Blackpink. Dua dokter yang dibelakangnya bingung.Suk Hyung pun hanya bisa melonggo.
“Sharp.” Ucap Suk Hyung. Pasienya bingung siapa itu. Suk Hyun dengan wajah datang menyuruk anak itu jadi Sharp.
“Sharp itu siapa?” kata Pasien bingung. Suk Hyung pikir pasien itu  tak tahu Sharp.
“Kalau begitu... ZAM?” kata Suk Hyung. Si pasien makin bingung. Akhirny Ass Dokter memberitahu kalau anaknya bisa jadi Akdong Musician, AKMU. Sang ibu akhirnya menganguk mengerti. 


[PUSAT MEDIS YULJE]
Jung Won dan Jun Wan berjalan pulang. Jung Won pikir mereka harus beli sesuatu di jalan. Jun Wan menolak karena malas jadi lebih baik pesan antar saja. Sementara Waktu operasi sudah berjalan 8 jam, Son Hwa terlihat masih mengoperasi.
Sementara Dua mahasiswa tertidur dengan posisi tertidur. Ass dokter pun diganti. Mata Song Hwa berair dan tetap mengopeasi tanpa berkedip. Di kedai kopi, Suk Hyun memesan satu gelas es Americano dingin. Jung Won ikut memeasn satu gelas hangat caffe latte panas.
Jun Wan pun datang mengambil kue meminta agar Suk Hyung yang membayarnya. 

Akhirnya WAKTU OPERASI tepat 13 jam, Song Hwa pun melepaskan punggungnya karena akhirnya selesai juga lalu memastikan kalau Hasilnya bagus, Perawat memuji Song Hwa yang sudah bekerja keras, Song Hwa pun membalas mereka juga semua sudah berkerja keras.
“Apa Kalian masih belum pulang?” ucap Song Hwa melihat dua anak kembar yang masih duduk menunggu.  Keduanya menganguk.
“Aku sudah bilang mereka bisa pulang dari tadi. Mengagumkan.”komentar Dokter Heo.
“Siapa nama kalian?” tanya Song Hwa. Keduanya menjawa Jang Yun-bok dan Jang Hong-do.
“Apa hubungan kalian?” tanya Song Hwa. Yun Bok mengaku mereka kembar tapi Kembar nonidentik.
“Omong-omong, Dokter. Apa kau... ibadah di Gereja Sanggye-dong?” tanya Yun Bok.Song Hwa membenarkan.
“Primadona tim paduan suara! Benar, 'kan?” ucap Yun Bok. Song Hwa bingung dirinya dianggap primadona. Yun Bok membenarkan.
“Kami main band di gereja. Dokter, kau amat terkenal.” Ucap Hong Do penu semangat. Dokter Heo mendengarnya ingn tahu Dia terkenal kenapa
“Dia menyanyikan gita puja sangat keras dan tariannya heboh. Konon itu karena dia stres di rumah sakit.” Ucap Hong Do polos. Dokter Heo tak enak hati akhirnya mendorong keduanya untuk cepat pulang.  Song Hwa pun hanya bisa melonggo bingung. 


Dokter Yong masuk ruangan dengan senyuman meminta Maaf karena Song Hwa  jadi harus melakukan operasi berturut-turut karena dirinya. Song Hwa sedang melepaskan diri sambil meminum kopi mengaku Tidak apa-apa jadi masih ada waktu.
“Persiapan operasi sudah dimulai, Dokter Min akan turun saat persiapan sudah selesai. Aku akan menghubungimu saat memasuki sinus sphenoidalis. Silakan tidur dahulu.” Ucap Dokter Yong penuh semangat.
“Seok-min.. Sebelum mulai operasi... kau harus minta maaf dahulu. Minta maaf kepadanya.” Kata Song Hwa. Dokter Yong kaget dan menganguk mengerti.
“Aku akan segera naik dan minta maaf kepada Dokter Min.” Kata Dokter Yong.
“Bukan Dokter Min. Minta maaflah kepada pasien, atau kau tak kuizinkan masuk Ruang Operasi.”kata Song Hwa mengancam. Dokte Yong langsung panik dan menganguk mengerti. 


Di depan ruang operasi, Pasien terlihat tegang memegang tangan sang ibu. Dokter Yong dengan mengumpulkan semua keberanianya akhirnya membungkuk meminta maaf yang sebesar-besarnya. Song Hwa mempelajari kondisi pasien dan akhirnya masuk ruang operasi.
Dokter Min pun keluar dari ruang operasi memuji semua yang sudah membantunya. Dokter Yong dengan senyuman memberitahu  Tumornya sudah hilang dengan baik, dan bagian batang kelenjar pituitari tampak aman.
“Seok-min... Mendekatlah.”kata Song Hwa. Dokter Yong pun berjalan mendekat.
“Dokter Yong Seok-min... Jaga bicaramu... Kau melakukannya karena tesis, 'kan? Kenapa kau memakai alasan demi pasien? Sekali lagi kau bicara begitu kepada pasien, maka aku tak akan memaafkanmu. Paham?” ucap Song Hwa menahan emosi.
“Ya, aku paham. Aku mohon maaf.” Ucap Dokter  Yong panik menganguk mengerti. 

Ik Jun masuk ruangan bertanya kenapa Suk Hyung  tak bisa dihubungi dan Song-hwa juga. Jung Won sedang berbaring memberitahu Suk Hyung  menangani pasien sampai sore ini. Dan Song-hwa sedang ada operasi dan tak percaya Chae Song-hwa yang luar biasa.
“Tentu. Beda dengan dokter berandal seperti kalian.” Komentar Jun Won. Jung Won tak terima dianggap selevel dengan Ik-jun
“Tentu saja. Konglomerat tak bisa dipercaya. Selalu berbohong!” keluh Jun Wan.
“Dia bukan konglomerat? Dia miskin. Dia masih menumpang di rumahmu.” Kata Ik Jun
“Kau janjikan ruang kerja pribadi.”kata Jun Wan lalu mengumpat bergantian dengan Ik Jun.
“Aku seruangan dengan pemain gim profesional. Dokter Ban main FreeCell seharian... Tidak. Lupakan... Seok-hyeong paling menderita Sudah lihat ruangannya? ” Ucap Ik Jun sedih. 
Suk Hyung masuk ruangan terlihat banyak berkas yang menumpuk dan meja yang ditata sembarangnya, bahkan beberapa berkas pun terjatuh karena tak bisa menopangnya. Jung Won membela diri kalau Dokter Ban hanya main FreeCell seharian
“Dia manusia tak kasatmata. Apa bedanya itu dengan ruangan pribadi? Ucap Jung Won
“Orang pikir dia adalah "Buddha".Keluh Ik Jun. Jun Wan pun menanyakan nasibnya.
“Kau dan aku satu paket.” Kata Jung Won bangga. Jun Wan mengeluh dianggap Satu paket dengan berteriak marah lalu menerima telp.
“Tekanan sistolenya berapa? Apa Sudah diberi norepinefrin? Beri vasopressin. Hubungi aku bila tekanannya tak naik. Aku segera ke sana.” Ucap Jun Wan.
“Senangnya punya dokter residen.” Keluh Ik Jun sambil memakan coklat.  Jun Wan pikir mereka juga pasti ada.
“Memang ada. Dokter Musim Dingin Panjang. Kapan aku bisa bekerja dengan Dokter Jang Gyeo-ul?” ucap Ik Jun mengeluh
“Kau tak pernah bekerja dengan Dokter Jang Gyeo-ul, 'kan?” kata Jung Won. Ik Jun tak percaya kalau Jung Won sudah pernah.
“Tentu. Aku beberapa kali bertemu karena belakangan banyak pasien IGD. Aku tak cocok dengannya.” Kata Jung Won mengeluh kesal.
“Menurutku, dia rajin meski tampak dingin.” Komentar Ik Jun. 



Dokter IGD berlari masuk ke ruangan bertanya pada petugas tentang keadan pasien.  Petugas memberitahu Pasien tunawisma dan Ditemukan di situs konstruksi dan terkena radang dingin dengan Kakinya membusuk.
“Aku akan memeriksa suhu tubuh. Permisi.” Ucap Dokter IGD memeriksa suhu tubuh pasien dan ingin membuka celananya. Sang pasien terlihat menahan sakit. Dokter IGD memangil Perawat Hui-su agar membantunya. 

Di ruangan, Jung Won mengeluh menurutnya Memang ada yang tak rajin karena semua dokter residen pasti rajin. Dokter IGD masuk memanggil Jung Won dan melihat dua pria lainy ada  diruangan.  Jung Won pun bertanya ada apa memanggilnya.
“Apa Kau tahu Malaikat Penolong?” tanya Dokter IGD. Jung Won terlihat gugup lalu megaku tak tahu.
“Apa Tidak tahu? Dia terkenal di rumah sakit sebelumnya.” Kata Dokter IGD. Jung Won pura-pura tak tahu dan ingin tahu alasan membahasnya.
“Seorang produser kenalanku ingin mewawancarainya.”kata Dokter IGD. Jung Won langsung menjawab Tidak mau.
“Tidak mau apa? Memang kau siapa?” kata Dokter IGD curiga. Jung Won pikir kalau Dia pasti tak mau.
“Tadi Katanya kau tak tahu?” ucap Dokter IGD. Jung Won mengaku kenal dia tapi mengaku dia tidak bisa dan tidak mau. Dokter IGD pun mengerti.
Dokter IGD menerima telp dan berkata agar segera ke sana lalu meminta untuk berjaga-jaga, panggil juga Dokter Jang Gyeo-ul. Jung Won yang mendengarnya bertanya ada apa.  Dokter IGD memberitahi kalau itu telp Dari Dokter Bae Jun-hui.
“Seorang tunawisma masuk IGD dengan kaki membusuk karena radang dingin. Aku rasa kakinya dibiarkan selama beberapa bulan. Kakinya membusuk karena edema akibat radang dingin. Dan kakinya...” ucap Dokter IGD.
“Kakinya kenapa?” tanya Jung Won panik. Dokter IGD memberitahu kalau Penuh belatung.


Dokter Bae dan perawat ketakutan melihat kaki yang penuh belatung da sang pasien terlihat menahan rasa sakit terus menerus. Dokter bae bingung cara mereka membuangnya. Saat itu Dokter Jang datang melihat keadaan pasien.
“Dia terluka di situs konstruksi. Kulitnya membusuk karena radang dingin. Kini dipenuhi belatung. Aku tak pernah lihat belatung sebanyak itu. Kita harus singkirkan belatung itu untuk mensterilkan luka.  Penyedot ada di mana?” tanya Dokter Bae. Perawat pikir akan mencarinya.
“Dokter Bae Jun-hui! Pakai pinset untuk...”ucap Dokter IGD terdiam melihat Dokter Jang mengambil belatung dengan sarung tangan.
Perawat yang melihatnya pun mau tak mau membantunya dengan mata sedikit tertutup. Dokter IGD melihat Dokter Jang itu Orang yang unik. Jung Won yang melihatnya hanya bisa terdiam. 

PUSAT MEDIS YULJE
Jun Wan masuk ruangan bertanya apakahtak pulang.  Song Hwa mengatakan Teman SMAnya operasi tumor metastasis besok jadi mempelajari bahannya lalu menyuruh Jung Won Pergi saja. Jung Wan pun pamit pergi.
Dokter Yong berbicara dengan perawat Lebih baik sif pagi atau malam?. Perawat menjawab Malam lebih baik. Song Hwa memanggil Dokter Yong bertanya apa sudah terima persetujuan operasi untuk Gal Ba-ram. Dokter Yong tahu kalau yang dimaksud itu teman SMAnya.
“Belum. Suaminya masih belum datang. Operasinya besok. Bagaimana ini?” kata Dokter Yong  bingung. Song Hwa menghembuskan nafasnya. 



Nenek yang duduk disamping Ba Ram terus menatapnya. Ba Ram memanggilnya dan bertanya apak Setakjub itu hanya melihatnya. Sang nenek tersadar dan bingung. Ba Ram menyindir apakah setakjub melihat wanita dengan payudara palsu.
“Tidak begitu... Kenapa kau bicara begitu?” keluh sang nenek. BO Ram tahu kalau Nenek itu selalu meliriknya setiap hari.
“Apa Kau pikir hewan kebun binatang? Apa Kau senang?” ucap Ba Ram sinis. Sang nenek menjawab itu karena Ba Ram cantik.
“Di mataku kau terlihat amat cantik.” Ucap Sang nenek. Ba Ram memberitahu kalau Sebelah payudaranya tak ada.
“Aku tak cantik.” Kata Ba Ram. Sang nenek tetap merasa Ba Ram itu tetap cantik yaitu Cantik seperti bunga.
“Meski sebelah payudaramu tak ada, kau cantik karena muda.”komentar Sang nenek. Nenek lain pun ikut membenarnkan.
“Orang tua seperti kita, meski sudah operasi, diobati, kemudian sembuh, wajah kami tak akan cantik. Benar, 'kan? Aku tak masalah meski payudaraku tak ada, Aku senang sekali jika bisa kembali muda 20 tahun sepertimu...” komentar Nenek lain.
 “ Ah.. Tidak. Aku tak muda.” Ucap Ba Ram. Si nenek melihat Ba Ram itu masih muda.
“Jika aku seumurmu, aku akan menceraikan suamiku, pergi keliling dunia, melakukan segala yang kuinginkan, dan jalani hidup sepuasnya. Namun, sekarang sudah tak bisa. Kakiku sakit dan penglihatanku kurang baik. Bahkan Kepala juga sakit.” Ucap sang nenek. Ba Ram tersenyum mendengarnya.
“Ya ampun. Kau lebih cantik saat senyum. Semua yang muda terlihat cantik. Di umurmu, kau terlihat cantik secara natural.” Komentar sang nenek.
Saat itu pintu terbuka, Suami Ba Ram datang menangis memanggil istrinya.  Keduanya pun berpelukan, Ba Ram pun menangis ketakutan kalau  mati padahal tak ingin mati. Suami Ba Ram menegaskan istriya tak akan mati dan akan menyelamatkannya.
“Maafkan aku, Istriku... Maafkan aku... Maafkan aku, Istriku.” Ucap Sang Suami memeluk istri dengan terus menangis. Saat itu Song Hwa dan Dokter Yong tersenyum melihat dari depan pintu ruang rawat.
Dokter Yong pikir Song Hwa itu pasti iri dan menyuruh agar mencari pacar. Song Hwa kesal  menolaknya karena lebih senang sendiri dan memberitahu kalau suaminya sudah datang jadi mereka tinggal minta persetujuannya. Dokter Yong menganguk mengerti.
Song Hwa menahan Dokter Yong yang ingin bergegas masuk menyuruhnya agar nanti saja.  Dokter Yong mengerti dan masuk ruangan. Song Hwa menerima pesan [BERITA DUKA UNTUK KEMATIAN ISTRI JU JONG-SU] 




Semua berkumpul di rumah duka, Song Hwa pkir Belakangan hal semacam ini sering terjadi. Jun Wan pikr Berarti umur mereka sudah saatnya. Son Hwa pikir Direktur Ju pasti sangat sedih karena Mereka saling mengasihi,
“Ya, sangat... Sejak dua atau tiga pekan sebelum meninggal, dia selalu berada di samping istrinya.” Cerita Jung Won.
Saat itu Dokter Ju dan Ibu Jung Won datang, keduanya pun berdiri menyapa. Dokter Ju pikir merek sibuk jadi lebih baik pergi. Jung Won mengaku  tak masalah dan bertanya apakah Dokter Ju itu sudah tidur.
“Belum. Aku membawanya kemari karena dia menyapa tamu seharian. Jong-su, makanlah sesuatu.” Ucap Ibu Jun Won.
“Tidak usah. Aku tak nafsu makan... Kalau butuh sesuatu, bilang saja. Apa Kalian tak minum?” ucap Dokter Ju
“Tidak, terima kasih. Jangan khawatirkan kami.” Kata Jung Won. Ibunya pikir Dokter Jun itu kenal Jung Won sejak kecil jad bisa bicaralah dengan santai.
“Benar. Aku mohon bicaralah dengan santai.” Kata Jung Won. Dokter Ju pikir makan mungkin bisa melakukannya
“Mereka yang menafkahi rumah sakit kita.” Kata Dokter Ju. Sung Hwa pikir  Di rumah sakit boleh begitu,
“Tetapi di sini kau teman ibu Jeong-won. Bicaralah dengan santai. Kami juga lebih nyaman.” Kata Song Hwa. Direktur Ju pun menganguk mengerti.
“Jadi, kalian berlima sahabat dekat?” tanya Dokter Ju. Jung Won membenarkan mereka satu angkatan.
“Kelas kami berbeda, tetapi jadi dekat karena satu dan lain hal.” Kata Jung Won. Dokter Ju pikir itu bagus.
“Bagus apanya? Mereka membuat orang tua khawatir karena belum menikah.” Ucap Ibu Jung Won mengeluh 
Suk Hyung mengaku pernah menikah. Ik Jun mengaku sudah menikah. Ibu Jung Won pikir kecuali mereka berdua. Dokter Ju pikir mereka cantik dan tampan dan ingn tahu apakah tak pernah terjadi apa pun. Semua terlihat binggung.
“Kenapa kau lakukan itu? Kenapa mengusik danau yang tenang?”keluh Ibu Jung Won. Tuan Ju seperti tak menyadarinya.
“Soal percintaan? Apa Pernah?” tanya Jun Wan menatap Jung Won, lalu Jung Won menatap Song Hwa dan Song Hwa menatap Ik Jun. Ik Jun pun menatap Suk Hyung.
“Aku pernah ditolak mentah-mentah oleh Song-hwa.” Akui Suk Hyung. Semua melonggo dan ingin tahu kapan.
“Aku bahkan tak ingat kemarin.” Akui Song Hwa. Suk Hyung mengaku A nyatakan cinta saat tingkat satu, di hari ulang tahunnya, hanya untuk ditolak.
“Dia bilang apa?” tanya Ik Jun. Suk Hyung menceritakan Song Hwa yang menyukai orang lain.
“Luar biasa. Kau benar-benar tak berubah.” Komentar Jun Wan. Ik Jun pikir Itu ucapan biasa saat menolak, "Aku suka orang lain."
“Tidak. Memang begitu adanya.” Kata Song Hwa. Ibu Jung Won pikir Saat mereka mudajuga begitu.
“Kita tak mungkin bicara terus terang, "Aku tak suka kau." Ucap Ibu Jung Won.Semua setuju. Suk Hyung gugup memilih untuk makan sup. Song Hwa hanya bisa terdiam. Mereka pun meminta agar mengubah topik. 


Flash Back
Tahun 2008
Song Hwa meminta maaf  dengan wajah gugup dan menaku ingin tetap berteman baik dengan Suk Hyung seperti biasa. Ia pun tak ingin suasana jadi aneh karena masalah ini. Suk Hyung hanya diam sja. Son hwa meminta agar Suk Hyung Jangan diam saja dan katakanlah sesuatu.
“Aku tak apa-apa... Song-hwa, maaf aku mengatakan hal aneh.” Kata Suk Hyung
“Tidak. Bukan hal aneh... Sudahlah. Lupakan! Ini ulang tahunku, 'kan? Bagus! Ayo kita menggila hari ini! Ayo kita pergi! Cepat!” kata Song Hwa lalu mengandeng tangan Suk Hyung.  Keduanya pun berjalan bersama.

Ik Jun menegaskan Hanya hari ini saja jadi bsia maklumi karena Song Hwa sedang ulang tahun. Song Hwa dkk pun berlatih band dengan lirik lagu
“Jika ada orang yang baik Tolong perkenalkan dia kepadaku Kadang bagai air, kadang bagai api Aku harap dia orang yang dapat Mencintaiku dengan tulus. Aku ingin orang yang dewasa dan jujur. Cinta pun butuh berlatih<
Song Hwa menyanyikan lagu yang sama saat masih kuliah didalam mobilnya. Ibunya saat itu menelp mengucapkkan Selamat ulang tahun, Song Hwa pu mengucapkan terimakasih pada ibunya yang sudah  melahirkannya.
“Seharusnya aku melahirkan satu putri lagi kalau tahu itu menyenangkan.” Ucap Ibunya.
“Belum terlambat. Aku senang punya adik lebih muda 40 tahun.” Kata Song Hwa.
“Ayahmu kabur... AyoSini! Bicaralah dengan putrimu.” Panggil Ibu Song Hwa.
“Bu, Aku menyetir. Aku hubungi lagi saat sampai rumah sakit.” Kata Song Hwa. Ibunya mengerti lalu mematikan ponselnya. 


Song Hwa masih saja menyanyikan lagu yang sama seperti membuat kenangan di masa lalu.  Saat masuk ke dalam ruangan melihat sebuat kotak dan membukanya, ternyata isinya sepatu baru dengan model yang sama.
Ia menatap sepatunya dan penasaran siapa yang memberikanya. 
DUA PEKAN LALU
Jun Wan datang keruangan Dokter Jang, Dokter Jang mengajak untuk bicara diluar. Jung Won menolak untuk bicara diruangan saja. Akhirnya keduanya duduk berhadapan. Dokter Jang mengaku kalau ini kali pertama.
“Aku tak peduli itu pertama atau berapa kali. Bicaralah kepada Song-hwa... Aku bilang beri tahu Song-hwa. Entah kau selingkuh sebentar atau serius, Song-hwa tetap harus tahu. Bukan begitu? Jangan buat dia seperti orang bodoh. Telepon sekarang.” Ucap Jung Wan
“Baiklah. Biar kuatur sendiri.” Kata Dokter Jang. Jung Wan mengancam kalau ia saja yang bilang.
“Aku yang bilang... Kau keterlaluan. Ini masalah hubungan kami. Siapa kau beraninya memerintahku?Apa Kau suka Song-hwa? Aku tahu kalian berteman, tetapi ini berlebihan.” Keluh Dokter Jang marah
“Kau tak punya teman, ya?” sindir Jun Wan. Dokter Jang mengaku punya dengan nada tinggi.
“Namun, kalian lawan jenis.” Ucap Dokter Jang. Jun Wan pikir sikapnya itu Tidak aneh karena Dokter Jang itu kolot sekali.
“Kau sungguh tak selevel Song-hwa.” Sindir Jun Wan lalu keluar ruangan.
Bersambung ke episode 3

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar