Jumat, 23 Oktober 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 11 Part 1

Sung Joon menelp Ha Ri memberitahu pertemuanya selesai lebih cepat jadi akan segera pergi dan menanyakan keberadaan Ha Ri dimana. Ha Ri memberitahu sedang ada pekerjaan jadi akan keluar sebentar lagi. Keduanya pun menutup telp dan berjanji akan bertemu, Ha Ri terlihat gugup setelah menutup telpnya.
Di depan eskalator, Sung Joon melihat foto Hye Jin (Ha Ri) yang berkerja di Ara Hotel sebagai Hotelier terbaik di bulan ini dengan nama Min Hari Min Ha Ri.

Ha Ri langsung menengok ketika ada orang yang memanggil namanya, betapa terkejutnya melihat Sung Joon yang berdiri didepan hotel memanggilnya. Sung Joon langsung bertanya, Min Ha Ri siapa dirinya. Ha Ri benar-benar binggung dengan keadaannya sekarang.
“Kenapa? Bagaimana kau bisa jadi Kim Hye Jin? Apa yang selama ini kau lakukan? Kau siapa? Siapa identitas aslimu?” tanya Sung Joon dengan mata melotot dan nada menahan marah.
“Aku akan jelaskan semua, Sung Joon... yang terjadi adalah ....” kata Ha Ri ingin memegang tangan Sung Joon tapi di hempaskan begitu saja.

“Jawab aku. Kau siapa ?” tanya Sung Joon
“Aku adalah Temannya Hye Jin. Dia minta tolong padaku dan Aku hanya perlu menemuimu sekali. Tapi setelah kita bertemu di hotel, segalanya menjadi rumit. Aku tadinya ingin bertemu untuk menjelaskan ini dan meminta maaf.” cerita Ha Ri dengan menahan air matanya.
Sung Joon tak percaya bahwa Hye Jin yang asli adalah orang yang selama ini sudah diduganya. Ha Ri membenarkan dan meminta maaf karena sudah membohonginya, serta tidak bermaksud mengulur waktu sampai selama ini. Sung Joon dengan mata berkaca-kaca memilih untuk meninggalkanya, Ha Ri hanya bisa menangis didepan hotel. 


Sung Joon mengendarai mobilnya, mengingat saat Hye Jin masuk mengakui rambut sebenarnya itu adalah keriting asli. Lalu ketika masih kecil, Sung Joon yang mengetahui rambut Hye Jin berubah ketika hujan turun dan membasahi rambutnya.
Sebelumnya, Hye Jin yang mabuk berteriak bahwa ia adalah Kim Hye Jin dan hanya Kim Hye Jin yang berteriak “Oh ? Ayo Jalan !” saat lampu hijau untuk penjalan kaki menyala. Sung Joon mengingat saat Hye Jin memayunginya dengan jaket ditengah jalan, sama saat masih kecil memayunginya dengan jas hujan.
Ia teringat saat Hye Jin membuka payungnya, melihat lukisan kesukaan yang ada dibalik payung itu. Ketika mereka makan bersama di perjalanan bisnis, Hye Jin tertawa melihatnya memisahkan kacang polong, lalu mengaku kalau teringat dengan seseorang.
Sung Joon teringat dengan ucapan saat masih kecil tentang puzzle yang disukainya “Tapi gadis pengintip ada di dalam puzzle.Kalau tidak diperhatikan, kita tidak sadar ada dia, mirip teka-teki gambar.”

Sepertinya Permintaan terakhir akan kugunakan hari ini dan permintaan terakhirku adalah ini” ucap Shin Hyuk langsung memeluk Hye Jin dengan erat.
“Kalau kau ragu-ragu dan tidak bisa pergi ke dia, datanglah ke aku. Beri aku juga kesempatan, hmm?” bisik Shin Hyuk lalu menatap Hye Jin memohon.
Hye Jin gugup ingin menjelaskannya, lalu ponselnya berdering. Shin Hyuk pun menyuruh Hye Jing mengangkat telpnya. Sung Joon menyapa Hye Jin  dengan kalimat “Lama tidak bertemu, Kim Hye Jin.”
“Kita kan baru bertemu di galeri. Apa maksudmu....” ucap Hye Jin binggung


“Lama tidak bertemu, Hye Jin. Aku rindu ...Kim Hye Jin.” kata Sung Joon dengan nada terisak.
Hye Jin terdiam Sung Joon memanggil namanya seperti seorang teman yang sudah lama tak bertemu, dengan mata memerah menahan tangis memangil nama Sung Joon bukan Wapemred. Sung Joon menanyakan keberadaan Hye Jin sekarang untuk bertemu.
Shin Hyuk seperti sudah bisa menduga apa yang terjadi lalu memohon agar Hye Jin tak pergi. Hye Ji hanya bisa meminta maaf lalu berlari pergi meninggalkanya, Shin Hyuk hanya bisa menahan sedihnya sendirian. 

Sung Joon sudah berjalan sambil menelp menanyakan keberadan Hye Jin sekarang. Hye Jin memberitahu ada dipersimpangan depan perusahaan lalu bertanya balik keberadan Sung Joon sekarang. Sung Joon ada diseberang jalan, akhirnya ia segera menyeberang sambil mencari-cari Sung Joon.
Tiba-tiba tanganya ditarik, Sung Joon menatap Hye Jin yang selama ini sangat dekat denganya tapi tak mengenalinya, Hye Jin juga menatap Sung Joon yang akhirnya bisa mengenalinya. Sung Joon berkaca-kaca mengaku sudah berhasil menemukanya, Hye Jin tersenyum mendengarnya dan air matanya tumpah.

“Kenapa kau sembunyi ? Kenapa tidak bilang apapun ? Kau tahu kalau aku ....?” ucap Sung Joon ingin tahu alasanya.
“Ah.....Lupakan Hye Jin. Aku terlambat mengenalimu. Harusnya aku menemukanmu lebih cepat tapi aku terlambat. Maafkan aku. Selama ini pasti berat untukmu.” kata Sung Joon penuh penyesalan dengan air mata mengalir, Hye Jin mengelengkan kepalanya.
“Kau dekat sekali denganku selama ini. Bagaimana bisa aku tidak mengenalimu, seperti orang bodoh ?” ucap Sung Joon kesal dengan dirinya.

Ia memegang wajah Hye Jin dengan teliti melihat bagian wajahnya dari atas bawah, lalu menyakinkan bahwa orang yang didepanya memang teman masa kecilnya yang dikenalnya selama ini.
Hye Jin menatap Sung Joon dengan air mata bahagianya, Sung Joon mengelus rambut Hye Jin dengan bahagia lalu pundaknya, keduanya berdiri di tengah mobil yang lalu lalang seperti gambaran Sung Joon dan Hye Jin kembali seperti masih anak-anak. 

Sung Joon dengan kacamata dan tumbuh tambunnya melihat lampu hijau lalu mengandeng tangan Hye Jin untuk menyebrang bersama. Keduanya sudah pergi di pinggir sungai Han, Hye Jin tertawa melihat teman masa kecilnya berjalan disampingnya.
Ia bercerita saat hari mereka pertama kali bertemu sebenarnya datang mencarinya, tapi Sung Joon saat itu tak mengenalinya dan hanya melewatinya padahal mereka sama-sama berbicara di telp.
“Aku mendadak merasa sebesar kuku, Sebelumnya aku selalu jadi pengangguran,dan aku sudah jadi berbeda sekali dengan sosok Kim Hye Jin yang kau kenal. jadi aku tidak percaya diri menemuimu.” cerita Hye Jin

Mereka sudah berjalan pesisi disamping Sungai Han, Hye Jin benar-benar tertawa bahagia melihat Sung Joon begitu juga Sung Joon yang berjalan mundur kembali mengelus rambut Hye Jin lalu mengandeng tanganya untuk berjalan bersama.
“Kalau aku melihat kebelakang, aku sadar kalau semua dimulai dari kesalahanku. Jika aku tidak begitu ...” kata Sung Joon menyesal
“Tidak, kau bicara apa ? Ini salahku karena takut dan bersembunyi.” balas Hye Jin
Hye Jin dan Sung Joon bergandengan di tepi sungai Han, lalu Hye Jin menjerit melihat kapal didepanya sangat cantik. Sung Joon menariknya pergi ke arah yang lain. 

Keduanya sudah ada dia atas kapal melihat kapal lainnya yang juga menyusuri sungai Han. Hye Jin benar-benar bahagia karena Sung Joon mengajaknya menaiki kapal tersebut. Sung Joon tersenyum melihat Hye Jin yang benar-benar bahagia ada disampingnya.
“Waktu itu aku tidak tahu apa-apa. Apa yang kau rasakan, saat tahu semuanya dan bertemu aku.” ucap Sung Joon.
“Tapi kebohongan itu terus membumbung seperti bola salju yang berputar, sampai menjadi terlalu besar untuk dihadapi.Itu sebabnya semakin lama, aku semakin  sulit berkata jujur.” kata Hye Jin
“Tunggu sebentar. Setelah kupikir, aku mulai merasa sedih. Jika kondisiku semakin buruk dari sebelumnya,maka apa kau akan merasa kecewa dan menyesal menemuiku? Aku kira situasi seperti itu tidak akan terjadi pada kita berdua. Apa cuma aku satu-satunya yang berpikir begitu ?” tanya Sung Joon.

Hye Jin mengelengkan kepalanya, Sung Joon memegang erat lengan Hye Jin untuk berdiri tegak menatapnya.
“Seperti apapun kondisimu, atau seperti apa rupamu saat bertemu denganku, aku sama sekali tidak memusingkan soal itu.” ucap Sung Joon
“Saat itu ... seandainya aku tidak bersembunyi,pasti akan lebih baik ... jauh lebih baik. Aku menyesalinya.” kata Hye Jin
Sung Joon memegang Hye Jin lebih erat meminta untuk tak menyesali dan melihat kebelakang lagi. Ia mengajak mulai sekarang hanya melihat ke depan saja. Hye Jin mengangguk setuju, Sung Joon memberikan senyuman yang paling lebar.
Hye Jin pikir Sung Joon sudah tahu tentang dirinya dari Ha Ri. Sung Joon mengaku baru dengar soal ini darinya saat datang menemuinya, ia cuma  mengasumsikan apa yang terjadi selama ini. Hye Jin kaget karena Sung Joon datang bukan karena mendengar penjelasan Ha Ri. 
Hye Jin buru-buru pulang kerumah, Ha Ri yang akan pergi terlihat binggung karena Hye Jin sudah pulang dan berpikir tidak bertemu dengan Sung Joon. Hye Jin malah panik apa sebenarnya yang terjadi dan menanyakan keadaan Ha Ri.
“Katanya kau tidak menceritakan apapun dan  tidak sempat menjelaskan. Selama ini apa yang aku lakukan ?” tanya Hye Jin binggung
“Aku ... sepertinya kehilangan akal sehatku.  Seharusnya aku cerita padamu lebih awal. Maafkan aku, Hye Jin.” akui Ha Ri
“Tapi....Kau...kau bilang akan menceritakan semuanya sendiri dan mengembalikan semuanya seperti awal. Kau memintaku menunggu ...” kata Hye  Jin
“Lagipula hari ini dia memang akan tahu, Hanya saja terjadi sejam lebih awal.” jelas Ha Ri lalu memberitahu temanya pada teman prianya sudah menunggu, berpesan untuk tak menunggunya karena akan pulang larut. 

Hye Jin memanggil Ha Ri tapi temanya tetap berjalan meninggalkan rumah, terdengar bunyi ponsel di kamar Ha Ri. Hye Jin pun mengangkatnya, terdengar suara seorang pria yang mengeluh karena Ha Ri baru mengangkat telpnya. Hye Jin mengaku teman Ha Ri, karen ponselnya tertinggal.
‘Ah ... tidak heran teleponku tidak diangkat. Kalau dia kembali, tolong minta dia terima teleponku.” pesan si pria, Hye Jin pun mengerti menutup telpnya.
Saat akan keluar, Hye Jin melihat sobekan kertas yang ada di tempat sampah, perlahan-lahan ia menyambung sobekan kertas yang terlihat masih baru disobek, lalu membacanya.
“Harus darimana aku menjelaskan ? Sepertinya aku tidak bisa mengatakan secara langsung, maka aku menulis surat ini. Pertama, aku minta maaf, Sung Joon. Sungguh ... aku tidak bisa berkata lain selain maaf.”

Hye Jin berlari keluar rumah mencari Ha Ri, pergi ke taman bermain tempat biasanya duduk di ayunan, tapi Ha Ri tak ada.
“Anehnya, tiap kali aku kesulitan, aku selalu bertemu denganmu. Tiap kali, aku dihibur olehmu dan sikap dan perkataanmu. Aku bahkan berpikir kalau kita berdua sangat mirip.”
Ha Ri mengingat semua kenangannya dengan Sung Joon yang mengikatkan jasnya agar bisa menutupi rok mininya lalu main speedminton bersama di samping sungai Han, lalu Sung Joon juga yang mengambil bulu matanya yang jatuh di pipinya.
“Meskipun semua perkataanmu diucapkan karena kau kira aku Hye Jin. Aku sudah salah, seperti orang bodoh. Jadi untuk sesaat, aku jadi jahat dan serakah. Terima kasih atas segalanya ... aku sungguh minta maaf”
Hye Jin akhirnya bisa menemukan Ha Ri yang duduk disini lain sambil menangis. Ha Ri menumpahkan tangisanya sendirian, Hye Jin menatapnya dengan mata berkaca-kaca
“Perkataan ini tidak cukup tapi ... Maafkan aku. Selama kau mengira kalau aku adalah Hye Jin dan bahkan saat ini. Aku tahu benar kalau yang kau suka adalah Kim Hye Jin ... kalau Kim Hye Jin satu-satunya. Aku minta maaf karena sudah masuk dalam hidupmu dan membuatmu mengambil jalan yang panjang. Aku sungguh, mendukungmu dan Hye Jin. -Temannya Hye Jin, Ha Ri.”


Hye Jin keluar kamar melihat Ha Ri yang sudah tak ada di meja makan, lalu pergi mencari di kamar dan kamar mandi. Ha Ri datang dengan pakaian olahraga menegur Ha Ri belum berangkat kerja.
“Semalam kau pulang larut.  Kapan kau bangun dan olah raga?” tanya Hye Jin binggung
“Karena Oppa semalam mengajakku minum badanku jadi tidak enak. Aku belum pernah lihat dia minum sebanyak itu. Sekarang Aku haus dan ingin minum dulu.” ucap Ha Ri berjalan ke kamarnya.
“Katanya kau mau minum. Tapi kenapa kau masuk kamar kalau mau minum ?” kata Hye Jin
Ha Ri tersadar kalau ia salah dan berjalan ke depan kulkas untuk mengambil minum, dengan tertawa yang dibuat-buat mengakui dirinya aneh. Hye Jin hanya menatap Ha Ri yang benar-benar terlihat berbeda dari yang dikenalnya selama ini. 

Sung Joon baru saja selesai memakain kemeja dan menyemprot parfumnya, setelah itu berlatih didepan kaca untuk menyapa Hye Jin dengan senyumanya, terlihat wajahnya sumringah akan bertemu setelah mengetahui Hye Jin yang sebenarnya. Setelah itu tiba-tiba tersenyum di depan gelas-gelas, bawang bombay yang digambar wajah tersenyum masih ada diatas gelas dan tumbuh dengan cepat.
Sementara Shin Hyuk berbaring, terlihat seperti orang linglung dengan pandangan yang kosong, lalu mengeluh karena belum bisa menerima dengan keputusan Hye Jin yang memilih Sung Joon dibanding dirinya. 

Hye Jin melihat Sung Joon yang membaca tabnya saat akan menyeberang jalan, lalu memberanikan diri untuk menyapanya lebih dulu. Sung Joon bahagia melihat Hye Jin yang sudah datang dan berdiri disampingnya.
“Harusnya jangan melihat itu di jalan, Wakil PemRed. Makanya kau selalu menabrak ini dan itu !!! Seperti orang bodoh.” komentar Hye Jin,
“Ya !!! Aku mengerti !!!!”ucap Sung joon menurut sambil menaruh tabnya di dalam tas.
Keduanya sempat saling menatap dan tersenyum, Sung Joon mengikuti cara Hye Jin yang suka berteriak “ayo jalan” ketika melihat lampu hijau, ketika akan mengandeng tangany. Hye Jin berpura-pura merasa pegal tubuhnya dengan melepaskan otot-ototnya dan berjalan lebih dulu. Sung Joon pun akhirnya sedikit berlari mengejarnya. 

“Kita makan malam bersama. Oh, kau mau ke daerah rumah lama kita ? Aku ingin tahu, apa toko kuenya masih disana. Kau tahu, Di hari Kidal Internasional kau membelikan aku kue dari sana dan mengira aku Ultah. Kau ingat kan ?” ucap Sung Joon bersemangat sambil berjalan.
“Apa ... ada yang seperti itu ? Ingatanku tidak terlalu bagus, jadi aku lupa-lupa ingat.” kata Hye Jin terdengar berpura-pura lalu berjalan lebih dulu, Sung Joon binggung melihat sikap Hye Jin seperti menghindarinya. 

Di dalam lift
Sung Joon terlihat wajah yang dingin, sementara Hye Jin bertanya-tanya panggilan untuk Sung Joon sekarang, mulai dari “Teman Wakil PemRed, Teman sekelas, Teman sekelas Wakil PemRed”  Sung Joon menatap sinis Hye in yang berbicara, Hye Jin berpikir panggilan itu menurutnya itu sangat aneh.
“Apa Kau ada ide lain ?” tanya Hye Jin, Sung Joon ingin berbicara tapi Hye Jin kembali menyela.
“Yaa ! Kau di Amerika dulu bagaimana  sampai bisa jadi beda begini? Eh, Ji Sung Joon!!! Kau jadi keren !!!” Goda Hye Jin sambil menyenggol pahanya. Sung Joon tak bergeming menatap Hye Jin.
“Oh Yah.. Kau bilang kau mendapat alamatku dari situs sekolah. Setelah bertemu denganmu, aku jadi penasaran soal yang lain. Apa kita bikin reuni saja?” ajak Hye Jin, pintu lift terbuka.
Hye Jin ingin keluar, Sung Joon menariknya untuk tetap didalam lalu menekan tombol lantai 20. Hye Jin hanya bisa diam karena wajah Sung Joon benar-benar dingin. 

Di lantai 20
Sung Joon benar-benar heran melihat sikap Hye Jin yang berubah hanya dalam semalam saja. Hye Jin pikir saat di kantor mereka harus tetap profesional dan menyisihkan hal pribadi, menurutnya situasinya sedikit rumut dengan memberitahu pegawai yang lainya kalau mereka teman sekelas.
“Urusa,Profesional ... dan pribadi. Teman sekelas? Kau dan aku cuma teman sekelas?” ucap Sung Joon tak terima dengan pernyataan Hye Jin
“Benar sekali !!!! Kita teman sekelas.” kata Hye Jin dengan sangat yakin.
“Sehari sebelumnya, kau berlari menemui aku, tapi aku cuma teman sekelas ? Kenapa kau mendadak begini?” tanya Sung Joon bingung
“Ha Ri ... suka padamu.” jawab Hye Jin bergumam
Hye Jin dengan tersenyum membahas maksud Sung Joon itu tentang cinta pertama dan yang terjadi saat masih kecil, dengan santai berkomentar bahwa itu sangat kuno sekali. Sung Joon menghela nafas sambil mengeluh Hye Jin yang paling bisa membuatnya merasa kosong, menurutnya Selama ini, karena Hye Jin dan betapa besar perasaanya.

“Kenapa kau mendadak begini? Aku tidak mengerti sikapmu. Apa alasannya ?” tanya Sung Joon benar-benar tak mengerti
“Alasan apa? Kenapa serius sekali ?” ucap Hye Jin mencoba menutupi perasaanya demi Ha Ri
“Sepertinya cuma aku sendiri yang menganggap kita ini sesuatu. Bertemu setelah sekian lama, Aku kira cuma aku yang sedih dan tidak ingin membuang waktu. Bagimu, aku cuma teman sekelas. Aku tanya sekali lagi. Apa sungguh tidak ada apa-apa dan Apa alasanmu mendadak begini?” tanya Sung Joon sekali lagi.
Hye Jin kembali menjawabnya dengan bergumam bahwa Ha Ri itu sanga menyukai Sung Joo, dan memberikan senyumannya. Sung Joon yang tak mendengar jawabanya, mencoba mengerti lalu meningalkanya lebih dulu. Hye Jin hanya bisa mengehela nafas panjang. 

Hye Jin berjalan dengan tertunduk lesu, lalu melihat Shik Hyuk yang akan keluar kantor ingin membahas tadi malam. Shin Hyuk  menegskan tidak ada alasan baginya untuk pulang dengan selamat. Hye Jin menghalangi Shin Hyuk yang akan pergi, memberikan sebuah amplop.
Shin Hyuk melihat amplopnya selembar 50ribu won, lalu tak tahu tentang soal teka-teki Shin Saimdang. Hye Jin tahu tangan Shin Hyuk terluka karena jadi memberikan uang itu untuk menganti biaya rumah sakit. Shin Hyuk tersenyum lalu menolaknya, dengan mengembalikanya dan berjalan pergi. Hye Jin memanggilnya tapi Poong Ho baru datang menyapanya.
“Hei.... Shin Hyuk Edan. Kenapa wajahmu kecut ? Apa ada masalah ?” tanya Poong Ho yang baru datang, Hye Jin yang tak enak hati memilih untuk masuk kantor lebih dulu.
“Yah begitulah ... Karena tidak asik lagi. Setelah wawancara, aku mau ijin sehari.” kata Shin Hyuk lalu berjalan dengan lunglai. Poong Ho binggung melihat sikap keduanya yang berbeda. 

Poong Ho berjalan masuk melihat keduanya dari awal yang biasanya menempel terus, tapi mendadak seperti saling diam dan menurutnya ada yang aneh, lalu pergi ke tempat duduk Hye Jin.
“Hei... Hye Jin. Apa ada yang istimewa antara kau dan si Shin Hyuk Edan?” bisik Poong Ho, Hye Jin menjerit kaget, Sung Joon yang baru keluar ruangan mendengar pembicaran Poong Ho pada Hye Jin.
‘Yah, yang namanya melawan perasaan itu biasa. Dan saat bertengkar, kau bisa menggoda juga. Aku selalu merasa kalau kalian kelewat dekat.” komentar Poong Ho
Hye Jin menyangkalnya dengan menjerit, tapi Poong Ho merasa sudah tahu semuanya, lalu penasaran sudah sejauh apa hubungan mereka. Hye Jin terlihat kesal, Sung Joon yang mendengarnya memilih untuk meninggalkan kantor. Poong Ho pikir sudah mengerti dengan mengodanya bahwa ini musim cinta. 

Joon Woo keluar ruangan untuk menerima telp dari ayahnya, diam-diam Han Sul mengupingnyaingin tahu kebenaran kalau Joon Woo itu sebenarnya anak dari Presdir Ji Sung Magazine. Joon Woo berbicar di telp mengucapkan selama pada ayahnya dengan panggilanya Presdir.
Han Sul tersenyum, lalu bertanya apakah benar ayahnya seorang Presdir. Joon Woo agak kaget melihat Han Sul sudah dibelakanganya, dengan bangga menceritakan ayahnya yang ingin jadi Presdir klub sepak bola akhirnya bisa mendapatkannya.
“Tidak ... bukan itu. Tidak susah jadi Presdir Klub Sepak Bola karena Ia adalah seorang Presdir.” gumam Han Sul
“Ah... Ayah pasti sibuk tapi dia main sepak bola juga” kata Han Sul berpikir positif
“Ya... Sibuk sekali.Dia seharian sibuk permak dan menyetrika jadi butuh olah raga.” kata Joon Woo bangga
Han Sul  binggung untuk apa ayah Joon Woo melakukan permak dan menyetrika. Joon Woo pikir belum bercerita kalau ayahnya itu mempunyai usaha cuci laundry di daerah Gangnam dan sanngat ahli sekali sampai terkenal di daerah Gangnam. Dengan bangga juga memberitahu jasnya itu buatan ayahnya.
“Oh .. kau ... kau ... tidak sekolah keluar negeri ? Tapi Bahasa Inggrismu bagus sekali.”ucap Han Sul gugup mencengkram baju Joon Woo
“Tentu saja aku pergi, Ayahku punya usaha laundry juga di LA selama 6 atau 7 tahun. Ia juga pandai soal pakaian wanita. HanSul, Apa kau mau  minta ayah untuk membuatkannya ?” kata Joon Woo, Han Sul lemas sejenak ternyata dugaannya salah, Joon Woo bukan anak seorang Presdir Ji Sung. 

Shin Hyuk turun dari mobil sedan mewah, seorang pria seperti seorang sekertaris sambil membungkuk akan menghubunginya lagi. Shin Hyuk mengeluh karena pria itu harus membungkuk padanya, menurutnya itu tak perlu lalu berjalan pergi.
Sung Joon duduk diam, pikirannya teringat saat melihat Hye Jin yang masih dengan rambut kribonya digendong oleh Shin Hyuk saat keluar dari kantor, setelah itu Shin Hyuk mengakui kalau menyukai Hye Jin. 

Hye Jin masuk ke dalam ruangan menyerahkan notulen rapat yang sudah dibuatnya. Sung Joon dengan wajah dingin menyuruh Hye Jin untuk meletakkan notulen dalam berkas, jadi tidak perlu dibawa satu persatu kepadanya. Hye Jin mengerti dan menaruhnya diatas meja.
Sung Joon mengeluarkan selembar uang 10,000 won supaya Hye Jin mengambilnya. Hye Jin binggung kenapa Sung Joon memberinya uang 10,000 won. Sung Joon tahu kalau Hye Jin yang membayarnya. Hye Jin mengerti tentang ongkos pengantaran, menurutanya tidak usah menggantinya.
“Karena ini pekerjaan, tidak benar jika kau menggunakan uangmu sendiri. Aku kira, kau tidak suka membawa urusan pribadi.” sindir Sung Joon, Hye Jin pun mau tak mau mengambilnya dan akan keluar ruangan.

“Aku tidak bisa Hye Jin....  Aku tidak bisa... Hanya jadi teman sekelasmu. Memisahkan antara pekerjaan dan pribadi, aku tidak bisa..... Tidak, aku tidak mau. Bagaimana aku melakukannya ? Aku tidak mengerti !!!” akui Sung Joon dengan mata berkaca-kaca.
Hye Jin terdiam lalu membalikanya badanya menatap Sung Joon, sebelum berbicara Joo Young tiba-tiba masuk ingin membicarakan tentang artikel lalu terdiam melihat suasana di dalam yang hening. Hye Jin memilih untuk keluar ruangan.
Joo Young meminta supaya Sung Joon memeriksa artikelnya, Sung Joon masih berkaca-kaca melihat Hye Jin yang duduk di luar ruangan, tepat didepanya, lalu meminta Joo Young memberikanya, tapi tatapnya tetap mengarah pada Hye Jin. 


Hye Jin merapihkan berkas diatas mejanya lalu menatap bawang bombaynya dan memutar kebagian gambar yang berwajah sedih. Sung Joon menatap Hye Jin yang menatap bawang  bombaynya dengan sedih lalu menghela nafas panjang.
bersambung ke part 2  

3 komentar:

  1. Kasihan Sung Joon baru sebentar bahagia mengetahui kebenaran jika hye jin cinta pertamanya, eh..malah sekarang hye jin menjauhinya.
    Hye Jin terlalu baik sampai merelakan Sung Joon untuk sahabatnya Ha Ri. .

    BalasHapus
  2. aku malah lebih suka kalau hye jin sama shin hyuk,,,,,lebih hidup gitu kayaknya,,,,,soalnya sama" gila,,,,trs lebih suka lagi kalau hye jin berambut kribo,,,,lebih seru ngelihatnya,,,,,

    BalasHapus
  3. kasian banget shin hyuk,,,,
    aq lebih suka hye jin sama shin hyukkk.......

    BalasHapus