PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 19 Januari 2020

Sinopsis Crash Landing On You Episode 9 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 


“Kau boleh tidur di kamar lain malam ini.” Kata ibu Jung Hyuk mengajak Se Ri ke sebuah kamar.
“Siapa pemilik kamar ini? Menurutku, rak buku seseorang menjelaskan kepribadian, sifat, dan selera orangnya. Dan buku-buku ini mengingatkanku kepada seseorang yang kukenal.” Kata Se Ri melihat rak buku
Ia lalu teringat saat dirumah sakit melihat Ibu Dan dengan jambul yang menjulang ingin menjenguk Jung Hyuk.  Ia pun baru sadar kalau wanita yang didepanya itu bukan ibunya Seo dan tapi ibunya Jung Hyuk.


Sementara Tuan Ri duduk di meja kerjanya membaca artikel “PUTRI GRUP QUEENS DAN CEO PILIHAN SE-RI WAFAT” di “HARIAN MYEONGSEONG” Anak buahnya memberitahu kalau Se Ri adalah putri keluarga konglomerat dan dianggap wafat.
“Kenapa dia kemari bertemu dengan anakku? Jangan kembalikan dia. Jika dia kembali ke Selatan, maka akan terjadi kegemparan.” Kata Tuan Ri
“ Ini bisa menjadi hal yang harus kau pertanggungjawabkan. Direktur Militer juga merencanakan sesuatu. Waktu kita sedikit. Berikan aku perintah. Aku akan membawanya keluar malam ini dan mengurusnya diam-diam.” kata anak buahnya.
“Jangan di malam hari... Istriku bersikeras setidaknya kami harus membiarkannya tidur.” Kata Tuan Ri. Anak buahnya menganguk mengerti. 


Se Ri seperti tak nyaman tidur dikamar Jung Hyuk. Akhinya ia membka album foto milik Jung Hyuk saat masih kecil lalu berkomentar alau Jung Hyuk aktor anak-anak karena tampak lebih tampan dari yang lain dan Itu tak adil.
“Lihatlah tulisan tangannya... Manis sekali...” ucap Se Ri  membaca buku harian Jung Hyuk saat masih SD.
Jung Hyuk mengambar orang yang bermain piano dan dibawahnya tertulis “AKU INGIN MENJADI PIANIS KELAS DUNIA”
“Apa Kau ingin menjadi seorang pianis? Tapi... kau malah jadi prajurit.” Kata Se Ri seperti bisa mengenal Jung Hyuk lebih dekat.
Se Ri pun memainkan piano sementara Jung Hyuk gelisah menatap ke arah jendela.  


Kepala tahanan bertemu dengan kolonel memberitahu kalau  biarkan untuk mengunjunginya, tapi  menurutnyajika membebaskan itu berbeda. Kolonel mengingatkan temanya itu kepala pusat penahanan menurutnya membebaskannya bukanlah masalah besar.
“Dia menyerang atasannya, Petugas Keamanan Batalion. Itu pemberontakan paling parah. Badan Keamanan pun cukup kesal soal ini.” Kata Kepala tahana.
“Kau tak bisa ke jabatan penting jika kau lamban seperti ini. Ayah Kapten Ri...” ucap Kolonel lalu membisikan sesuatu. Kepala tahanan hanya bisa melonggo.
“Kakiku masih gemetar. Aku tak tahu caranya bisa kemari.” Ungkap Kolonel
“Bahkan sejujurnya, sebagai kepala pusat penahanan, aku pun ragu apakah itu kasus penyerangan.” Kata Kepala Tahanan. Kolonel pun membenarkan.
“Penyerangan itu harus dilakukan dengan ini. Artinya memukul dengan kepalan tangan.” Ucap Kepala Tahanan.
“Bukankah artinya menghajar?” ucap Kepala tahanan. Kolonel menjawab bukan.
“Disebut begitu saat seseorang dihajar dengan kepalan tangan. Tampaknya Kapten Ri memukulnya dengan tangan terbuka. Aku yakin, itulah yang aku dengar.” Kata Kepala Tahanan.
“Berarti bukan penyerangan.” Ucap Kolonel. Kepala Tahanan membenarkan.
“Di mana Ri Jung Hyuk malang yang dipenjara tanpa alasan ini? Biar kubawa dia bersamaku.” Kata Kolonel. 



Akhirnya Jung Hyuk keluar dengan kolonel, Kolonel pikir Jung Hyuk sudah belajar dari ini dan memberitahu kalau yang Pertama segala macam hal bisa terjadi dan yang Kedua, kapan pun itu terjadi maka Jung Hyuk bisa datang padanya.
“Kau seharusnya hubungi aku dahulu. Jadi Perbaiki kesalahanmu, ya?” ucap Kolonel. Jung Hyuk menganguk mengerti.
“Bagus. Kau sudah melalui banyak hal. Istirahatlah untuk beberapa hari. Istriku bilang dia menyiapkan jamuan. Jadi, datanglah ke rumahku.” Kata Kolonel memeluk Jung Hyuk seperti sudah sangat akrab.
“Aku ingin meminta bantuanmu.” Kata Jung Hyuk. Kolonel pun ingin tahu apa itu karena bisa mengatakanya. 


Di rumah Nyonya Ma semua sibuk untuk menyambut kembali Jung Hyuk pulang. Saat itu Nyonya Ma senang melihat suaminya yang pulang dan langsung menyambutnya, tapi wajahnya langsung berubah bingung karean Jung Hyuk tak ikuyt.
“Kenapa sendiri? Di mana Jung Hyuk?” tanya Nyonya Ma. Kolonel mengaku tak tahu karena Jung Hyuk hanya bilang harus ke suatu tempat.
“Tapi dia meminta bantuan aneh kepadaku.” ucap Kolonel. Nyonya Ma ingin tahu Bantuan apa 

Jung Hyuk sudah mengemudikan mobilnya seperti ingin menemui ayahnya. Saat itu Ibu Jung Hyuk memberikan semangkuk mie untuk Se Ri. Se Ri berkomentar Jung Hyuk pasti dapat keahlian memasaknya dari ibunya. Ibunya tak percaya kalau anaknya membuatkan sup mie.
“Ya, dia membuat sup mi yang lezat dan kopi yang enak. Dia pasti dapat kebaikan hatinya darimu.” Ucap Se Ri
Nyonya Ma mengingat saat pertemuan keluarga untuk menetapkan tanggalya dan merasa kalau agak terlalu cepat... Tapi Jung Hyuk mengatakan Ini sudah dijanjikan jadi harus menepatinya.
“Dahulu, Jung Hyuk begitu manis, tapi dia berubah. Dia menjadi dingin dan tak mau ditemani siapa pun. Tapi kau bilang dia baik. Aku senang mendengarnya.” Kata Ibu Jung Hyuk senang. 



Jung Hyuk masuk rumah langsung bertanya pada yahnya Di mana dia. Tuan Ri pura-pura tak tahu bertanya balik “Siapa?” Jung Hyuk yakin Ayahya  tahu siapa maksudk dan tahu Ayahnya menculik Se Ri jadi ingin tahu keberdaanya.
“Aku harus sembunyi di mana? Jangan cemas dan bilang saja kau tak tahu apa-apa. Aku sudah terlalu menyusahkannya. Aku tak mau menemuinya lagi. Aku akan menangis jika menemuinya.”ungkap Se Ri yang bersembunyi dibalik dinding dengan ibu Jung Hyuk.
“Adakah rubanah atau semacamnya? Apakah dia sudah mati? Apa Ayah membunuhnya? Katakan!” teriak Jung Hyuk marah
“Apa Kau tak mencemaskan masa depanmu?” tanya Tuan Ri. Jung Hyuk membenarkan.
“Karena itu aku begini. Aku tak mau terus mengenang hari ini dan menyesalinya di kemudian hari. "Andai cepat, aku bisa melindungi. Andai aku lebih baik, dia bisa selamat." Sebab itu, aku tak mau memikirkan itu.” Kata Jung Hyuk
“Ayah tahu betapa menyedihkannya menjalani hidup seperti itu.” Kata Jung Hyuk.
Tuan Ri hanya bisa terdiam dan mengingat setelah memberikan hormat pada anaknya tanganya terkepal, seperti sangat marah karena kehilangan anaknya dan tak bisa melindunginya.
“Pada saat pulang, aku kesulitan bernapas. Aku cemas akan membahayakannya. Jika sesuatu terjadi kepadanya, maka aku akan hidup di neraka sampai aku mati.” Ungkap Jung Hyuk.
“Bernapaslah, Nak... Kenapa kau tak bisa bernapas? Kita tak bisa biarkan putra kita hidup menderita.” Ucap Ibu Jung Hyuk akhirnya menarik Se Se Ri keluar. 


Jung Hyuk kaget melihat Se Ri ada didepanya. Se Ri pun berkomentar kalau Jung Hyuk itu pandai berbicara bahkan tak pernah melihatnya banyak berbicara. Ia lalu tersadar melihat wajah Jung Hyuk dan bertanya ada ada dengan wajahnya.
“Apa Kau terluka lagi?” tanya Se Ri khawatir. Jung Hyuk mengaku tak apa-apa. Tuan Ri yang melihatnya hanya  bisa melonggo.
“Kau selalu bilang begitu. Siapa yang melakukan ini kepadamu?” kata Se Ri.
“Maaf, aku terlambat.” Ucap Jung Hyu. Se Ri mengeluh agar Jung Hyuk Jangan bilang begitu.
“Aku yang harus minta maaf. Ini semua karena aku. Aku pembawa masalah.” Ucap Se Ri. Jung Hyuk menegasan kalau Se Ri bukan masalah.
“Andai aku tak kemari...” ucap Se Ri. Jung Hyuk meminta Se Ri Jangan bilang begitu, karena Itu tak benar. Tuan Ri benar-benar tak percaya melihat sikap anaknya yang berubah. 


Akhirnya mereka duduk bersama, Tuan Ri menyindir kalau Jung Hyuk yang sudah meneriaki ayahnya membuat lega. Jung Hyuk hanya bisa  tertunduk diam. Se Ri menyuruh Jung Hyuk kalau harus minta maaf kepada ayahnya dan sudah membuat masalah.
“Jangan meneriaki ayahmu begitu. Ini Tidak sopan.” Kata Se Ri. Jung Hyuk kesal Se Ri yang memihak ayahnya.
“Apa Kau bangga dengan tindakanmu?” sindir Ayahnya. Jung Hyuk mengaku Tidak, bukan itu maksudnya.
“Jika Ayah bilang sudah tahu soal dia...” ucap Jung Hyuk langsung disela oleh Tuan Ri
“ Jika begitu, apakah kau mengizinkan ayah menemuinya? Kau menyembunyikan wanita itu dan mengancam keselamatan keluarga!” tegas Tuan Ri
“Tapi ini semua salahku... Dia tak salah.” Ucap Jung Hyuk membela Se Ri.
“Tapi dia bilang, ini semua salahnya. Katanya dia mengancammu, agar kau tak bisa laporkan dia ke Badan Keamanan.” Kata Tuan Ri.
“Apa... Itu tak benar... Aku tak peduli soal ancamannya. Tak melaporkannya merupakan keputusanku.” Ucap Jung Hyuk. Tuan Ri ingin tahu alasanya.
“Aku tak ingin dia terluka... Aku tak percaya Badan Keamanan. Entah apa yang akan terjadi saat dia di sana. Dia mungkin dilukai, digunakan, atau menghilang begitu saja.” Kata Jung Hyuk
“Aku ragu itu takkan terjadi.” Komentar ayahnya. Jung Hyuk pikir  itu sebabnya tak membawanya ke sana.
“Jung Hyuk.. Ini sulit dipercaya... Enyahlah.” Kata Tuan Ri. Jung Hyuk mengerti mengajak pergi dengan membawa Se Ri.
“Kami sedang makan malam, jadi Makanlah bersama kami.” Kata Ibu Jung Hyuk. Keduanya pun mengerti. Sementara Suaminya terlihat masih kesal. 



Dan duduk sendiri dalam bar, Seung Jung melihat Dan duduk sendirian dan langsung mendekatinya. Dan melihat luka diwajah Seung Jung. Seung Jung mengaku baik-baik saja dan hanya berkelahi dengan orang-orang di Badan Keamanan.
“Sekarang, aku tak bisa kembali ke pondok tamu. Aku tinggal di hotel.” Ucap Seung Jung. Dan merasa tak bertanya.
“Jadi Kau pesan apa? Aku belum makan seharian, dan aku lapar.” Ucap Seung Jung. Dan akhirnya minum dengan alkohol yang dinyalakan api lebih dulu.
“Ada apa? Kau membuatku takut.” Ucap Seung Jung. Dan bertanya apakah Seung Jung tahu kapan kali pertamanya bertemu Jung Hyuk.
“Tidak, tapi aku tak tertarik... Sungguh. Aku tak bertanya, tak minat.” Ucap Seung Jung.
“Saat usiaku 17 tahun. Kami satu sekolah.” Ucap Dan 


Flash Back
Dan yang masih remaja memimpin kerja bakti dikelasnya menyuruh anak-anak lain agar mengosok lebih kuat. Tiba-tiba semua anak berlari keluar jendela karena melihat Jung Hyuk, beberap ingin melihat juga dimana keberadanya.
“Kita Bisa melihat Jung Hyuk bermain basket itu langka.” Ungkap salah satu teman Dan.
“Jung Hyuk itu siapa?” tanya Dan bingung. Temanya heran Jung Hyuk itu tak kenal dia
“Dia dapat tiga hadiah di Kompetisi Seni Nasional dan sedang mempersiapkan diri untuk Kompetisi Tchaikovsky. Ini Luar biasa. Dia begitu keren.” Ucap temanya bahagia.
Dan pun langsung jatuh cinta melihat Jung Hyuk yang terlihat tampann saat bermain bola. Se Ri pun sempat melihat Jung Hyuk saat menaiki tangga dan dilorong sekolah. 


“Sejak itu, dia tak bisa lepas dari pikiranku. Walau kami tak pernah mengobrol, aku yakin kami saling kenal. Lalu keluarga kami mengatur pertunangan kami,< dan aku terbang ke Swiss dengan penuh semangat, ke tempat Jung Hyuk belajar.”
**
Dan yang sudah dewasa menarik kopernya sendiri menuruni bus dan menuju ke kampus. Jung Hyuk terlihat baru saja keluar terlihat sangat bahagia. Dan pun terlihat senang melihat Jung Hyuk yang datang ke arahnya lalu memanggilnya. Jung Hyuk pun mengenal Dan.
“Aku pernah dengar dari ayahku... Kita satu SMA...” ucap Dan dan langsung disela oleh Jung Hyuk
“Senang bisa bertemu.” Ucap Jung Hyuk. Dan pun membalas Senang bisa bertemu.


“Dia bilang "Senang bisa bertemu"? Itu bukan kali pertamanya melihatku. Bahkan anjing di jalan akan mengenali orang yang sering melewatinya. Aku kenal lebih dahulu. Aku kenal Jung Hyuk sebelum Se-ri. Aku yang menemui dan menyukainya lebih dahulu. Itu tak penting?” ucap Dan kesal.
“Kau bodoh... Hal semacam itu tak penting.” Kata Seung Jung lalu menahan Dan agar tak minum lagi.
“Apakah aku tampak mabuk?” tanya Dan. Seung Jung membenarkan. Dan langsun mengejek Seung Jung itu tak bisa tahu.
“Ternyata kau tak sebodoh itu.” Kata Dan mengejek. Seung Jung mengeluh kalau bisa menerima jika merendahkannya
“tapi jangan menghinaku...” kata Seung Jung. Dan berkomenar itu Terserah padanya.
“Aku tak paham, Kenapa Jung Hyuk tak suka wanita menawan sepertimu? Jangan pernah menghina. Itu tipe kesukaanku. Kau membuatku berdebar-debar...Sudah cukup...” kata Seung Jung mengambil gelas Dan.
“Matamu cukup jeli, ya? Lumayan juga.” Kata Dan. Seung Jung pikir memang dirinya cukup lumayan.
“Tapi apa gunanya? Kau dicampakkan wanita itu. Jika kau tak dicampakkan, pasti takkan seburuk ini.” Ucap Dan kesal.
“Apa maksudmu? Aku tak dicampakkan. Kaulah yang...” ucap Seung Jung. 



Akhirnya Seung Jung mengendong Dan pulang ke rumah, Ibu Dan membuka pintu bingung siapa pria yang membawa anaknya. Dan yang mabuk berterik agar Seung Jung boleh menginap. Nyonya Mo panik anaknya itu pasti gila dan meminta agar menutup mulut.
“Semua tetangga bisa mendengar.” Ucap Nyonya Ma memastikan melongo keluar pintu dan melihat penjaga lift mendengarnya dan langsung bergegas masuk.
“Aku yakin kau melihat sesuatu.” Ucap Nyonya Mo. Sipenjaga menagku melihat sesuatu. Nyonya Mo langsung memberikan uang.
“Aku tidak ingat apa yang kulihat.” Kata Si penjaga. Nyonya Mo menegaskan kalau mungkin tak ingin mengingatnya.
“Omong-omong, kukira tunangannya seorang Kapten di perbatasan...” ucap si penjaga dan Nyonya Mo langsung melempar banyak uang. Si wanita pun mengaku tak ingat apa pun.
Nyonya Mo akhirnya masuk ke rumah dan melihat anaknya yang tertidur. Dan masih mengigau menyuruh agar menginap saja. Nyonya Mo hanya bis menatapnya sambil menghela nafas lalu teringat sesuatu dan mencari Seung Jung, tapi sudah tak ada.
Seung Jung sudah berlari keluar dari apartment dan terlihat kelelahan mengeluh kalau harus lebih sering berolahraga. Saat itu seseorang menelpnya dan Seung Jung terlihat kaget. 



 Se Ri tidur dikamar Jung Hyuk dan langsung terbangun saat ada orang yang masuk. Ia pun bisa bernafas lega ternyata Jung Hyuk yangmasuk. Jung Hyuk langsung bertanya seang menunggu siapa. Se Ri mengaku Tidak menunggu siapa pun.
“Karena aku di kamar dan rumah orang lain, aku merasa gugup dan tak nyaman, jadi, tak bisa tidur.” Ungkap Se Ri
“Apa Kau merasa gugup dan tak nyaman, jadi, memainkan piano semalaman?” ejek Jung Hyuk
“Ibumu bilang kepadamu? Itu... Ada banyak yang aku pikirkan. Saat merasa depresi, aku menenangkan diri dengan seni. Itu kebiasaanku. Omong-omong, kau ingin menjadi pianis? Aku kebetulan tahu mimpimu saat kecil.” Kata Se Ri
“Itu semua masa lalu.”ucap Jung Hyuk. Se Ri ingin mengajukan pertanyaan lalu berlari ke piano.
“Ini yang kumainkan semalam... Kau tahu lagu apa ini? Aku tanyakan semua orang yang paham soal musik, tapi tak ada yang tahu.” Ucap Se Ri memainkan lagu yang selalu diingatnya.
“Kau tahu lagu ini dari mana?” tanya Jung Hyuk kaget mendengar lagu terakhir untuk sang kakak
“Aku dengar seseorang memainkannya saat aku di Swiss. Aku suka lagunya, jadi, kuhafalkan. Tapi aku tak tahu itu lagu siapa. Tempat itu penuh salju dekat danau indah. Apa namanya?” kata Se Ri mencoba mengingat-ingat.
“Iseltwald.” Kata Jung Hyuk. Se Ri seperti tak yakin Itu nama tempatnya dan bertanya tahu dari mana?
“Ini lagunya.” Kata Jung Hyuk mulai memainkan pianonya. Se Ri kaget Jung Hyuk  tahu lagunya.
“Siapa penulis lagunya? Apa judulnya?” tanya Se Ri. Jung Hyuk masih mengingat Saat itu di sore hari dan tempatnya berkabut.
“Aku mau meninggalkan Swiss setelah dengar kabar kematian kakakku.” Ucap Jung Hyuk. Se Ri kaget mendengarnya.
“Aku menulis lagu untuk kakakku, dan aku memainkannya di danau untuk yang pertama dan terakhir.” Akui Jung Hyuk
Keduanya duduk bersama di depan piano seperti kembali lagi saat ada diswiss. Se Ri dan Jung Hyuk saling menatap didalam kamar, seperti keduanya di pertemukan lagi diSwiss.
“Maksudmu, kaulah orang yang memainkan lagunya pada hari itu? Bagaimana bisa...Ini Sulit kupercaya. Pada hari itu, aku sungguh kesepian.” Ungkap Se Ri
“Aku sungguh berharap mati saat itu. Aku ingin pergi ke tempat yang indah dan menghilang diam-diam, agar aku tak mengganggu orang lain. Sebab itulah aku ke sana. Tapi kau... ada di sana. Bahkan saat kau tak mengetahuinya, kau menyelamatkanku.” Kata Se Ri berkaca-kaca.
“Dengarkan baik-baik... Besok, kau akan pulang.” Ucap Jung Hyuk. 




Tuan Jo bertemu dengan kepala militer yang sedang main tenis. Ia memperlihatan sebuah foto memberitahu ada mobil mencurigakan menggunakan pelat mobil sementara di desa militer pada saat itu jadi melacaknya.
“Mobilnya pergi ke arah Seojaegol, lalu menghilang. Di sanalah tempat tinggal Direktur Biro Politik Umum.” Kata Tuan JO
“Anggaplah wanita itu naik mobil ke sana. Kita tak tahu apakah dia masih di sana. Dia mungkin sudah dibunuh.” Kata Kepala Militer.
“Petugas keamanan di Seojaegol merupakan teman kampusku, jadi, aku sudah menyelidiki. Kudengar ada mobil yang masuk, tapi tak ada yang keluar... Pak. Jika ke sana sekarang, kau bisa menyingkap kabar besar.” Ucap Tuan Jo yakin
Bersambung ke Part 3

Cek My Wattpad... Stalking 

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar