PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 17 Juni 2018

Sinopsis Are You Human Too Episode 7

PS : All images credit and content copyright : KBS
Flash Back
So Bong pergi mengambil kunci mobil, saat itu Shin melihat So Bong pergi bertanya-tanya kemana So Bong akan pergi. Akhirnya Shin sampai dirumah sakit dan melihat ibunya berpapasan dengan So Bong didepan pintu masuk.
Saat itu Shin seperti melihat semua kenangan bersama ibunya dari memujinya sebagai anak hebat dan yang terakhir saat melihat Manusia Shin yang tergeletak di jalan dengan bersimba darah, lalu meminta padanya agar Pergilah ke Seoul dan melindungi posisi Shin.

Shin melihat dari kejauhan Ibunya dan Tuan Ji berbicara dengan Dokter Cha. Dokter Cha mengatakan akan membawa  pasien ke ruang VIP  Shin sudah datang. Tuan Ji pun mengucapkan terimakasih pada Dokter Cha. Shin mengingat saat terakhir kali bertemu dengan Tuan Ji
Flash Back
Shin bertanya apakah Tuan Ji akan menemui ibunya. Tuan Ji mengatakan kalau Ini masalah perusahaan dan akan memperbolehkan menemui ibuya nanti.
“Kenapa dia berbohong padahal dia mau menemui Ibu?” gumam Shin terlihat marah. 

So Bong kaget melihat Shin yang dibawa oleh Ambulance, lalu saat itu melihat Shin sudah ada didepanya.  So Bong bertanya apakah Shin melihatnya karena wajahanya mirip sekali. Shin tahu kalau  itu Si manusia Nam Shin.
“Saat ini, akulah manusia itu.” Gumam Shin lalu mengaku kalau tak lihat menurutnya tak masuk akal kalau ada Orang yang mirip dengannya.
“Lalu Kenapa kau di sini?” tanya Shin. So Bong binggung menjawabnya. 

Akhirnya So Bong mengaku kalau mengikuti Shin karena mendengar Tuan Ji bicara lewat telepon kalau menyuruh seseorang untuk bertemu di Rumah Sakit PK dan menemui Shin jadi sengaja datang.  Shin terlihat kaget mendengar nama Tuan Ji.
“Ya. Aku tadi tidak melihatmu jadi kukira kau datang ke sini  sama Manajer Tim Ji untuk menemui orang yang dia hubungi lewat telepon. Lalu Manajer Tim Ji dimana?” ucap So Bong
“Kau Bohong lagi.” Kata Shin memegang tangan So Bong. So Bong kesal karena Shin mengangap tanganya seperti  pendeteksi kebohongan.
“Kau tahu darimana?” ucap Shin polos. So Bong meminta agar tak mengejeknya. Saat itu Tuan Ji melihat keduanya ada dirumah sakit.
“Kenapa kalian berdua di sini?  Aku tadi ada lihat dua mobil “ ucap Tuan Ji
“Maaf. Tadi aku buru-buru, makanya aku bawa mobil satunya.” Kata So Bong gugup.
“Kau bisa menjelaskannya nanti di rumah.  Sekarang ini, bawa pulang mobil itu.” Ucap Tuan Ji lalu mengajak Shin pergi. 


Tuan Ji mengeluh dengan Shin yang tidak memberitahu lebih awal, Padahal sudah memperingatkan kalau harus waspada terhadap So Bong. Shin hanya diam saja, Tuan Ji pikir kalau memang Shin tahu kalau So Bong mengikutinya maka harus meneleponnya
“Ah.. Karena hanya manusia yang bisa berpikir seperti itu. Maafkan aku...  Aku salah karena tidak menginstruksikanmu” Ucap Tuan Ji merasa tak perlu bicara dengan Shin.
“Kenapa kau berbohong padaku? Kau bilang  ada urusan kantor,  tapi nyatanya tidak. Kau tidak memberi tahuku si manusia  Nam Shin datang ke Korea.” Ucap Shin. Tuan Ji hanya diam saja.
“Ji Young Hoon.. Apa kau manusia yang bisa  kupercayai atau tidak?” ucap Shin seperti kecewa dengan Tuan Ji
Tuan Ji merasa kalau Shin salah paham dengan menegaskan kalau ia  bukan Shin yang asli jadi tidak peduli jika mempercayainya  atau tidak, jadi meminta agar menuruti saja perintahnya saja dan membuka pintu. Shin langsung menutup pintu mobil.
“Apa yang kau lakukan barusan?” ucap Tuan Ji marah. Shin mengatakan kalau belajar seperti yang diajarkan kemarin.
“Barusan aku menyalin apa yang kau  lakukan karena aku belum selesai bicara. Tadi Kang So Bong melihat  si manusia Nam Shin.” Ucap Shin yang membuat Tuan Ji kaget. 


So Bong menelp Tuan Seo kalau bertemu dengan orang yang mirip dengan Shin pergi masuk ke IGD. Tuan Seo ingin tahu Wanita yang di foto itu  pergi kemana. So Bong mengaku tidak tahu tapi yakin kalau melihat seseorang yang mirip.
“Kang So Bong.. Berhenti bicara omong kosong. Shin itu tidak punya saudara laki-laki,  apalagi saudara kembar.” Tegas Tuan Seo
“Benar juga. Ini memang tidak masuk akal... Aku pasti salah lihat.” Ucap So Bong seperti bisa menyakini diri
“Pokoknya, kerja bagus... Sudah kukirim uangnya. Hubungi aku  kalau kau melihat wanita itu lagi.” Kata Tuan Seo
So Bong ingin tahu siapa wanita itu. Tuan Seo pikir So Bong tak perlu tahudan meminta agar menghubunginya lagi. Setelah menutup telp Sek Park ingin tahu alasan ibu Shin datang setelah 20 tahun, lalu berpikir kalau  merindukan putranya.
“Kalau seperti itu, dia harusnya menemui Shin, bukan si Ji Young Hoon.... Oh Ro Ra dan Ji Young Hoon... Apa sebenarnya rencana kalian?” ucap Tuan Seo penasaran dan curiga. 


Shin langsung turun dari mobil. Tuan Seo memarahi Shin kalau mereka sudah latihan kalau harus menunggu turun sampai pintu terbuka. Shin menganguk  mengerti lalu masuk kembali ke dalam mobil. Tuan Seo membuka pintu dan mengajak Shin segera masuk.
“Kenapa kau melakukannya? Apa yang kau incar? Kenapa kau mengikutiku?” tanya Tuan Seo menemui So Bong di kamarnya.
“Aku gugup... Aku sangat suka di sini.Gajinya juga lumayan, dan  pekerjaan ini terlihat keren. Tapi aku hanya diberi waktu satu bulan. Jadi aku bertanya-tanya bagaimana cara membuat Direktur Nam terkesan dan aku tadi tak sengaja dengar kau bicara lewat telepon.” Ucap So Bong menyakinkan.
“Kedengarannya seperti orang itu  ingin bertemu Direktur Nam..., tapi malah kau yang pergi. Jadi aku penasaran apa kau merencanakan sesuatu dan kupikir aku bisa  membantumu. Aku ingin mencari cara  untuk membuat Direktur Nam terkesan. Itulah alasannya. Aku sangat putus asa sampai sering melihat yang aneh-aneh.  Aku saja tadi lihat ada seorang pasien  sangat mirip Direktur Nam. Itu Tidak masuk akal, kan?” kata So Bong terus mengoceh.
“Kuharap orang seperti itu ada. Aku malah ingin dia menggantikan si biang onar Direktur Nam. Jadi Mulai sekarang, fokus saja mengawal Direktur Nam.” Ucap Tuan Seo seperti termakan omongan So Bong.  So Bong akhirnya meminta maaf atas tingkahnya. 


David kaget karena Tuan Seo ingin memindahkan Shin besok padahal Peralatannya belum lengkap di sana. Nyonya Oh yang berbicara di telp meminta David tak bicara.Tuan Ji mengaku masih bersyukur karena So Bong mengira  salah lihat. Jadi harus mempercepat pindahannya.
“Setelah tes paling dasar...” ucap Tuan Seo dan Ponsel Nyonya Oh langsung diambil oleh Dokter Cha.
“Kondisi dia tidak stabil... Nafas dan nadinya stabil..., tapi tekanan darah dan suhu tubuhnya tidak stabil.” Ucap Dokter Cha.
“Ada seseorang yang melihat Shin.  Seperti saran Young Hoon, kita harus memindahkan Shin.” Ucap Nyonya Oh menenangkan.
“Jika kau akan mengabaikan pendapat dokter, silakan saja.” Ucap Dokter Cha kesal lalu meninggalkan ruangan.
David pun mengikuti Dokter Cha, Nyonya Oh ingin tahu kapan mereka harus pindah. Tuan Ji mengatakan besok dan meminta agar mengurus semua yang perlu diurusnya. 

Shin mencoba menelp ibunya tapi telp ibunya sibuk, akhirnya hanya bisa melihat ponselnya dengan foto bersama ibunya di kolam renang. Akhirnya Shin berdiri didepan kolam renang. So Bong keluar dari kamar melihat Shin yang ada di kolam renang dengan gaya terlentang.
“Kenapa dia tenggelam?” ucap So Bong melihat Shin, tapi memilih untuk tak peduli dan pergi.
“Tapi Kenapa dia belum keluar juga?” kata So Bong mulai panik melihat Shin yang tenggelam tapi tak bisa juga kembali.

So Bong akhirnya sampai di kolam renang berteriak memanggil Shin dan mencoba menyelamatkanya. Saat itu Shin kembali ke permukaan dengan mata yang terbuka lebar.  So Bong berteriak marah karena membuatnya khawatir. Shin memegang tangan So Bong mengetahui kalau ucapanya itu jujur. So Bong berusaha menyangkalnya.
“Kenapa kau di dalam air seperti itu? Nanti kau bisa mati!” ucap So Bong marah
“Yang akan mati itu kau... Nanti jantungmu bisa meledak.” Ejek Shin.

“Seperti perkataanku sebelumnya..., itu bukan suara jantungku.” Ucap So Bong menutupi dadanya.
“Tapi aku tidak punya jantung.” Ucap Shin. So Bong pikir Manusia mana yang tidak punya jantung. Shin pun tak banyak berkata-kata
Saat itu Tuan Ji melihat keduanya menyuruh agar  Berhenti main air. Dan harus ganti baju dulu. So Bong pun bergegas naik ke atas kolam untuk berganti pakaian. 

So Bong kembali ke kamar mengingat kembali ucapan Shin “Kau rupanya berkata jujur sekarang...Nanti jantungmu bisa meledak.” Lalu melihat rekaman kamera, wajah So Bong langsung panik dan berpaling karena melihat Shin yang berganti pakaian. Saat itu jantungnya kembali berdegup kencang, lalu Ia kesal sendiri dengan jantungnya lalu kembali melihat rekaman kamera.
“Hentikan tingkahmu... Apa Kau mau terus bertingkah seperti ini? Sudah kubilang kau di kamar saja, tapi kenapa kau masuk ke kolam? Kusuruh kau jangan bertingkah.  Tapi kenapa kau tak mau dengar kataku?Bukannya kau tahu kau  harusnya tidak boleh ketahuan. Tolong bertingkahlah seperti Shin. Apa Kau mengerti?” ucap Tuan Ji pada robot Shin.
So Bong bertanya-tanya karena Tuan Jimenyuruh Shin bertingkah seperti Shin dan berpikir kalau memang dua Shin tapi teringat kembali ucapan Tuan Ji “Shin tidak punya saudara laki-laki,  apalagi saudara kembar.” Saat itu So Bong yakin kalau itu tak masuk akal.
Ia teringat kembali ucapan Tuan Ji “Kusuruh kau jangan bertingkah.  Tapi kenapa kau tidak mau dengar kataku? Bukannya kau tahu kau tidak  boleh ketahuan?” So Bong penasaran karena Shin yang  tidak boleh ketahuan, lalu memikirkan sesuatu, lalu Reporter Jo agar mencari sesuatu. 


So Bong membersihkan mobil dengan mata yang terus menatap ke arah Shin yang baru masuk. Tuan Ji menyindir So Bong yang  selalu berusaha terbaik untuk Direktur Nam. So Bong hanya tersenyum. Tuan Ji kembali mengejek So Bong yang akan mengemudi tapi malah tetap membersihkan mobil. So Bong pun bergegas masuk ke dalam mobil
Shin bersama dengan kakek dan keluarganya turun dari mobil. Tuan Seo menyambutnya, mengaku bersyukur karena Tuan Seo telah pulih, Shin seperti tak mengubrisnya. Anak Tuan Nam mengeluh dengan sikapTuan Seo.

“Dia belum lama baru kembali kesini. Tentu kami harus menyambutnya.” Ucap Ye Na 
“Sepertinya cuma Shin yang selalu kau pedulikan. Perluas jangkauan sikap pedulimu itu saat orang dewasa juga ada di sini.” Sindir Ho Yeon.
“Kenapa aku harus melakukan itu?” komentar Ye Na. Tuan Seo langsung meminta maaf atas sikap anaknya dan mengajak segera masuk.
Tuan Ji melihat So Bong akan masuk menyuruh untuk menunggu di luar saja karena mereka akan segera keluar. So Bong pun tak bisa berbuat apa-apa.


Seorang wanita di atas podium memberitahu kalau Proyek kedua setelah presentasi adalah test drive dengan produk Mobil otonom (tanpa pengemudi) pertama... yang akan beroperasi di jalanan Korea dan akan memulai test drive  pada pukul 2 siang besok.
“Sebuah mobil tanpa pengemudi akan  berada di jalanan. Tentu ini akan menarik perhatian publik.” Komentar petinggi lainya.
“Apa nanti tidak ada risiko kecelakaan? Kebakaran kemarin itu saja beritanya lebih besar dari presentasi.” Kata Ho Yeon kembali menyindir.
“Untungnya, berkat kepahlawanan  Direktur Nam, perusahaan mendapatkan perhatian publik.” Kata Tuan Ji membela
“Memangnya perhatian  publik bisa menaikkan harga saham? Apa kau tahu sebanyak apa kompensasi yang kita berikan pada korban dan pemilik gedung itu?” ucap Ho Yeon dengan nada sinis
“Anda tidak seharusnya mengatakan penyebab kebakaran itu karena kelalaian Direktur Nam.” Balas Tuan Ji
“Ini bukan saatnya mendiskusikan tentang kesalahan! Mana bisa test drive berhasil  dengan sikap seperti ini?” tegas Tuan Nam akhirnya ikut campur.
Keduanya pun akhirnya terdiam, Tuan Nam memperingatkan kalau mereka gagal maka tidak akan bisa memproduksi mobil sama sekali, lalu Semua uang dan waktu yang kita habiskan akan sia-sia. Shin tiba-tiba berani bicara bertanya “Bagaimana jika mereka berhasil?” Tuan Nam dan yang ada diluar ruangan hanya terdiam.
“Aku akan berhasil, jadi berikanlah posisi Kakek padaku. Kita pasti bisa mengkomersilkan mobil otonom dalam tiga tahun. Test drive hanyalah permulaan. Pikirkanlah kesehatan Kakek dan serahkan saja ini padaku.” Kata Shin. Ho Yeon yang mendengarnya langsung mengumpat marah.
“Beraninya kau mengingini posisi ayahku?” teriak Ho Yeon murka.
“Aku sekarang bukan Shin yang dulu lagi. Aku tidak lagi ingin kehilangan apa  yang seharusnya menjadi milikku. Sifat keserakahan ekstrem Ketua pasti memang mengalir di darahku juga.” Ucap Shin. Tuan Ji seperti bisa senang mendengarnya.
“Jadi apa kau memiliki rasa keserakahan sekarang? Kemajuan yang bagus... Kau bisa mengincar posisiku hanya setelah kau berhasil. Dan Sudahi pertemuan ini sekarang.” Kata Tuan Nam seperti bangga dengan cucunya. Sementara Tuan Seo dibuat gelisah dengan sikap Shin. 

Shin keluar dari ruangan, Tuan Seo mengaku Senang rasanya melihat Shin yang sangat percaya diri dan berharap bisa sering bertemu lalu pamit pergi. Ye Na memberitahu kalau sudah mendekorasi ulang  ruangan dan mengajak untuk melihat bersama-sama sambil merangkul lenganya. Shin langsung menolaknya.
“Apaan kau ini? Aku jadi tersinggung.” Keluh Ye Na tak suka melihat sikap Shin.
“Dia belum sepenuhnya pulih. Dia harus pulang, jadi  lain kali saja.” Jelas Tuan Shin
“Baiklah. Lagipula masih banyak waktu dan Karena kau bukan kekasihku untuk hari ini saja... Oppa, istirahatlah, oke” ucap Ye Na akhirnya membiarkan Shin pulang.
“Usaha yang bagus. Aku harus ke rumah sakit, jadi  pulanglah duluan.” Kata Tuan Ji memuji Shin
“Bagaimana seandainya si manusia Nam Shin tidak  siuman?Apa aku akan menjadi CEO PK Group?” tanya Shin
“Pokoknya kita akan membuat dia siuman. Karena Shin lebih penting bagiku  daripada diriku sendiri.” Ucap Tuan Ji
Shin memegang tangan Tuan Ji lalu matanya berkedip. Tuan Ji mengeluh karena dianggap ucapanya itu berbohong.  Shin mengaku kalau cuma iseng mengerjainya.


So Bong menerima pesan dari Reporter Jo yaitu gambar foto dari CCTV rumah sakit. Lalu ia menelp temanya, Reporter Jo memberitahu kalau  sekarang di bangsal VI dan dokter Cha bersama dengan  Ji Young Hoon keluar masuk ruang VIP itu.
“Kurasa wanita itu walinya pasien..., tapi aku tidak tahu siapa pasiennya. Katanya pasien itu butuh istirahat total.  Jadi pengunjung tidak diperkenankan masuk. Mereka bahkan  melarang siapa pun masuk. Apa mungkin itu pria yang kau lihat?.” Jelas Reporter Jo
“Dia menyuruhnya bertingkah seperti Shin dan jangan sampai ketahuan. Aku tahu itu dari kamera tersembunyiku.” Kata So Bong
“Berarti...Apa Nam Shin yang ada di rumah itu palsu?” ucap Reporter Jo lalu segera bersembunyi karena melihat Nyonya Oh menaiki lift. 
“Tapi apa ini film fantasi? Jika dia tidak punya saudara kembar,  kenapa mereka ada dua?” ucap Reporter Jo binggung.
“Nanti aku menyusul kesana, jadi  kau lihatlah wajahnya dulu. Jangan lupa telepon aku setengah jam lagi.” Kata So Bong lalu bergegas membuka pintu karena Shin kembali setelah rapat. 


Tuan Seo duduk diruangan menahan amarah mengingat kembali ucapan Shin dengan Tuan Nam “Aku akan berhasil, jadi berikanlah  posisi Kakek padaku. Aku sekarang bukan Shin yang dulu lagi. Aku tak mau lagi kehilangan apa yang  seharusnya menjadi milikku.”
Sek Par memberitahu Tuan Seo kalau Kang So Bong mengirim foto dan akan menelepon dari  rumah sakit kalau sudah yakin. Tuan Seo melihat foto Nyonya Oh yang ada dirumah sakit.
“Pasti ada alasan Shin menginginkan posisi ketua.  Dia mendiskusikannya dengan  Oh Ro Ra dan Ji Young Hoon. Wanita inilah otaknya, sedangkan Ji Young Hoon  lengan dan kakinya... Baiklah. Aku bisa menyingkirkan mereka sekaligus.” Ucap Tuan Seo mulai merencanakan sesuatu. 

So Bong melirik pada Shin yang duduk dibelakang, lalu memberanikan diri kalau Belakangan ini, Shin agak beda. Ia masih ingat Sebelumnya Shin pernah menamparnya tapi baru-baru ini,  menghibur dan menyelamatkan jadi ingin tahu alasan banyak berubah karena penasaran.
“Kau mirip orang yang berbeda...” ucap So Bong yang langsung disela oleh Shin
“Kenapa? Apa Menurutmu aku bukan Nam Shin? Aku bersikap baik karena aku  merasa bersalah tapi beginilah ucapan terima kasih yang kuterima. Haruskah aku menamparmu lagi?” ucap Shin mendekati bangku depan. So Bong panik langsung menutup wajahnya tak ingin terkena tampar.
“Urusi urusanmu sendiri,  dan menyetir saja kau.” Kata Shin. So Bong pun memilih untuk diam. 
Shin turun dari mobil, Sementara So Bong sibuk dengan ponselnya yang berdering. Reporter Jo heran karena So Bong meminta agar menelpnya setengah jam lagi. So Bong langsung berpura-pura bicara dengan ayahnya dan panik karena ayahnya masuk rumah sakit.
“Kau pasti lagi menyusun alibi, kan? Aku sudah pasang kameranya jadi pasti akan mendapatkan fotonya di dalam ruang VIP.” Ucap reporter Jo bangga.
“Kenapa Ayah di rumah sakit? Aku lagi kerja dan tidak bisa  kesana sekarang.” Ucap So Bong, saat itu Shin seperti tak peduli dan masuk ke dalam rumah. 


So Bong mengetuk pintu kamar Shin dengan tertunduk sedih meminta maaf, dan meminta izin agar pergi ke rumah sakit karena  Ayahku cidera saat latihan tinju. Shin hanya terdiam menatapnya. So Bong pikir Shin bisa memegang tanganku kalau tidak percaya.
“Katamu kau 'kan punya pendeteksi kebohongan.” Ucap So Bong. Shin pun mempersilahkan So Bong pergi saja.
“Aku akan naik taksi dan segera kembali.” kata So Bong
“Tidak. Kau boleh bawa mobilku. Ayahmu 'kan terluka.” Ucap Shin. So Bong pun berterimakasih pada bosnya. Setelah menutup pintu Shin seperti senang bisa bertemu dengan temanya lagi yaitu robot vacum cleaner.
So Bong menaiki mobil dengan memastikan lebih dulu cameranya merekam Shin sedang duduk dan segera memasang GPS ke rumah sakit PK


[Rumah Sakit PK]
Dokter Cha mengeluh meminta agar jangan melakukan sekarang karena Semua perawat sedang bekerja sekarang jadi meminta agar dua jam lagi sampai lantai kosong. Tuan Ji pikir Perawat pasti ada saat itu juga jadi mereka harus bergegas cepat.
“Kita turuti saja saran dokter ini. Mereka sedang menyiapkan peralatan medis. Pasti butuh waktu jika kita ingin Shin segera beristirahat.” Kata David
“Dimana itu? Apa Yayasan HR mau membantu?” tanya Nyonya Oh
“Entahlah. Tak seru kalau aku memberitahumu lebih cepat. Shin pasti merasa sesak. Dia  harus kena sinar matahari sedikit.” Kata David lalu membuka tirai ruang rawat. 

Reporter Jo siap dengan kamera panjangnya langsung mengambil gambar pasien yang ada didalam ruangan. Lalu kaget melihat wajah Shin ada ada di kamera. So Bong menerima telp Reporter Jo memberitahu kalau  sudah di rumah sakit sekarang.
“DiMana si Nam Shin? Apa Nam Shin yang itu ada di rumah?” ucap Reporter Jo saat bertemu dengan temanya. Mi So memperlihatkan rekaman cameranya dan membandingkan dengan foto yang diambil oleh Reporter Jo 

“Berarti kau benar... Memang ada dua Nam Shin. Manajer Tim Ji juga bersamanya. Apa yang mereka lakukan sebenarnya?” ucap Reporter Jo. So Bong langsung bergegas pergi. 

Tuan Seo menelp, So Bong memberitahu kalau telah menemukan wanita itu, tapi  menemukan hal yang lebih mengagetkan lagi. Ia memberitahu kalau  Pasien yang dilihat mirip Direktur Nam Shin. Tuan So tak percaya mendengarnya.
“Sudah kubilang, Shin tidak  punya saudara laki-laki. Berhenti membuang-buang waktu,  pokoknya awasi wanita itu.” Ucap Tuan Seo
“Tapi yang kulihat itu memang benar. Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon...,jadi aku akan menemuimu Anda setelah memastikannya.” Ucap So Bong yakin.
Keduanya berada di ruang rawat, Reporter Jo bertanya apa yang direncanakan So Bong. So Bong pikir tak ada cara lain yaitu harus menyerbu masuk dan menyuruh Reporter Jo menunggu didepan ruangan saja.
Bersambung ke episode 8

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar