PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Senin, 12 Juni 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 6 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Dong Man pun mulai membuat gaya saat akan bertanding di depan ring, Fotographer pun meminta Pose yang berbeda. Dua temanya yang lain merasa tak di ajak berpura-pura berdiri dibelakangnya, Fotographer bisa melihatnya dan menyuruh keduanya untuk minggir.
Setelah merasa cukup, Pelatih Hwang pun mengajak sang fotographer keluar. Dong Man dipanggil oleh seniornya yang selama ini berlatih, untuk menjadi lawan latihanya. Dong Man pun menyanggupinya.
“ Hei, kenapa kau wawancara?” tanya si senior. Dong Man mengatakan  Itu untuk sesuatu.
“oh.. Saat kau dipukuli? Aku lihat itu. Kau dipukuli, dan aku patahkan Jika aku adalah kau, maka aku akan berhenti dari rasa malu.” Kata Si seniorn meremehkan.
“Bukan begitu. Aku dijebak.” Kata Dong Man, Si pria meminta Dong Man agar tak mengelak dan membuatnya jadi samsak. Dong Man dengan kekuatan tanganya, bisa membuat si pria tak kuat untuk memukul. 

Ibu Seol Hee terengah-engah keluar dari stasiun karena  hampir lupa dengan hal yang terpenting, yaitu sebuah amplop.  Saat sampai di depan tempat pesta, Ibu Seol Hee terdiam melihat anaknya yang sibuk membersihkan sampah sementara yang lainya sibuk berbicara dengan tamu, bahkan kantung sampahnya sampai jatuh berserakan.
Dari dalam ibu mertuanya meminta agar Sul Hee menata meja. Sul Hee dengan sigap membantunya.  Sementara kakak iparnya merasa kalau Sul Hee membuatnya sangat tidak nyaman dan bahkan membuat kue. Teman-temanya pun bertanya apakah Sul Hee itu pacar adiknya saat masih kulauh dan ibunya adalah penjual kaki babi.
“Bagi pria...yang akan sukses, dia harus melihat keluarganya dulu. Dia idiot. Kami memanggilnya Si Perangkak Sul Hee. Keluarganya tidak punya apa-apa, jadi dia merangkak di depan kami.” Ejek Si kakak mertua. Ibu Sul Hee terdiam sambil menatap orang – orang yang mengejek anaknya.
Temanya pikir harus membatalkan kencan buta Joo Man. Kakaknya ingin tahu keluarga si cewe, temanya memberitahu keluarga wanita itu menjalankan sebuah restoran di Jalan Garosu-gil. Ibu Sul Hee hanya bisa berkaca-kaca mendengarnya. 

Moo Bin menunggu di pinggir jalan, Ae Ra turun dari bus menghampirinya mengeluh karena datang tiba-tiba. Moo Bin mengaku kalau sedang mengambil cuti mendadak dan ingin memberikan kejutan. Ae Ra pikir Moo Bin memang suka kejutan.
“Kenapa kau tidak pakai seragam?” tanya Moo Bin seperti ingin mengetes, Ae Ra sempat gugup tapi akhirnya mengaku kalau sakit perut jadi  pulang ke rumah. Moo Bin pun tak membahasnya lagi dengan mengajak Ae Ra segera masuk ke dalam mobil. 

Nyonya Hwang keluar dari toko dari mall. Seorang manager heran karena pelanggan VIP tsegera pergi padahal Ada banyak keluaran terbaru. Nyonya Hwang mengaku kalau  Tempat ini punya rumor buruk dan  harus mengontrol orang yang datang ke mall, Si manager binggung.
“Istri kedua Ketua dari King. Dia terkenal karena hobinya belanja dengan mencuri. Selain itu.., kudengar karyawan yang tak bersalah bahkan harus berlutut untuk meminta maaf.” Ucap Nyonya Hwang, Si manager mulai gugup.
“Kau cukup berani... Jaman sekarang, insiden seperti itu akan menyebabkan penutupan toko. Kalian harus mengurus masalah dengan benar. Yang kuinginkan itu sederhana. Tak peduli department store manapun, maka tak ada VIP yang boleh menyalahgunakan kekuasaannya.” Kata Nyonya Hwang
“Apa maksud Anda, aku harus mengusirnya?” tanya Manager
“Itu sederhana dan adil dan Itulah... yang pemberi harapan dari department store lakukan.” Ungkap Nyonya Hwang seperti orang kaya yang tak sombong. 

Ae Ra mendengar lagu di mobil, merasa Moo Bin  pasti sangat suka musik Jepang. Moo bin memberitahu lagu Jepang lainnya, lalu menanyakan perutnya apakah sering sakit. Ae Ra mengaku akalau punya sindrom iritasi usus besar dan Hari ini, ada beberapa hal yang terjadi kepadanya.
“Kudengar itu memiliki pengaruh psikologis yang sangat besar. Kau tidak boleh stres.” Ungkap Moo Bin
“ Setelah kau muncul seperti ini, sebenarnya tidak begitu bagus juga.” Komentar Ae Ra
“Apa aku membuatmu tidak nyaman? Aku hanya sangat merindukanmu.” Ungkap Moo Bin.
“Jika aku terus mengunjungimu di RS.., maka itu bisa membuatmu tidak nyaman juga.”balas Ae Ra
Tapi Moo Bin malah merasa sangat menyukainya,  bahkan kalau Ae Ra datang untuk mengejutkannya maka akan sangat senang, lalu berjanji Akan menelp lain kali. Ae Ra akhirnya mengaku kalau merasa malu dan tak yakin untuk memberitahu.
“Aku berhenti bekerja... Ada hal lain yang ingin kulakukan.” Ucap Ae Ra. Moo Bin bertanya apa itu. Ae Ra merasa Ini memalukan untuk dikatakan. Moo Bin tetap ingin tahu.
“Aku ingin jadi Penyiar. Aku baru melewati proses dokumentasi.., jadi akan diwawancara.” Kata Ae Ra
“Aku bukan hanya mengatakannya. Kurasa itu sangat cocok denganmu. Kurasa, dengan keren kau berhenti kerja dan menarik sekali bahwa kau bisa lolos. Tapi aku paling berterima kasih karena kau memberitahuku, semuanya dengan jujur.” Ungkap Moo Bin.
Ae Ra binggung kenapa Moo Bin merasa berterimakasih, Moo Bin juga tidak tahu tapi Ae Ra yang tak yakin bisa memberitahu orang lain dan akhirnya  memberitahukanya, dengan begitu seperti mereka bukan orang asing lagi. Ae Ra hanya diam saja. 


Sul Hee kembali ke depan melihat sampah yang berserakan sudah rapih, lalu memanggil kakak iparnya bertanya apakah ia membersihkan ini. Kakak iparnya mengaku bukan ia yang melakukanya.  Ibu mertuanya mengendong cucunya memuji Sul Hee yang sudah bekerja sangat keras. Sul Hee akhirnya memberanikan diri bertanya pada ibu mertuanya kapan orang tua mereka bisa bertemu.
“Ahh.. Benar, kita harus mengatur pertemuan. Waktu itu lututku terluka, kau ingat ‘kan? Aku sibuk sekali karena perawatan dan segalanya. Apa orang tuamu menanyaimu terus?” tanya ibu Mertua, Sul Hee mengaku tidak tapi hanya ingin bertanya, lalu melihat kaki ibu mertuanya yang baik-baik saja dengan sedikit menekuk lalu melompat untuk cucunya. 

Anak Pelatih Hwang sibuk berlatih tendangan, dari hitungan 50 mempercepat ke hitungan 80. Sementara Dong Man sibuk mencari keyword nama Kim Tak Su. Pelatih Hwang datang mengeluh Dong Man yang masih mencari-cari lawanya. Anak pelatih Hwang seperti takut dan kembali menghitung dari 50.
“Apa Kau tidak latihan? Bukankah kau latihan 100 pukulan?” omel Pelatih Hwang. Dong Man pikir tak mungkin bisa melakukannya 100 kali dan mengaku tak suka dengan anak yang ada didepanya.
 “Dan Juga, Tak Su bersenang-senang di klub. Dia tidak berlatih.” Keluh Dong Man. Pelatih Hwang heran kenapa harus memperdulikan masalah itu.
“Semakin kupikir, maka semakin membuatku marah karena mereka membodohiku. Aku kehabisan kata-kata.” Ucap Dong Man kesal.
Pelatih Hwang pikir tak ada masalah karena Dong Man memang selalu dibodohi dan itu terjadi seperti sejak SMP. Lalu meminta agar Jangan dipikirkan karena Otaknya itu tidak berguna.

Sementara Tak Su sedang ada di club bersama Sonya mengaku kalau tak mengenal Alice. Tapi Sonya heran karena Tak Su bisa memiliki nomor ponselnya dan ingin melihat ponselnya. Tak Su melarangnya.  Sonya jai yakin Tak Su yang lebih dulu mengirimkan pesan, Tak Su mengelak.
“Tunjukkan saja padaku buktinya.” Kata Sonya, Tak Suk tetap merasa kalau semua ini adalah masalah kepercayaan. Sonya tak percaya,
“Aku bisa, tapi yang sedang sangat menggangguku sekarang... bukanlah rumor yang salah soal aku memukul Alice. Masalahnya adalah bahwa kau tidak percaya padaku.” Kata Tak Su menyakinkan. Sonya tak peduli meminta Tak Suk menunjukan ponselnya.
“Sonya, aku ini olahragawan Aku takkan pernah berperilaku seperti penjahat.” Ucap Tak Su. Sonya memberitahu kalau ia  dan alice ada di grup yang sama dan Tak Suk memang sungguh penjahat.

Tae Hee berbicara di telp seperti menyakinkan kalau mereka  tidak perlu khawatir dan sudah mengurus semua pers, lalu meminta agar menelp lagi. Saat itu Dong Man datang menyapa Tae Hee dengan panggilan Manager,  Tae Hee terlihat gugup dan menyudahi telpnya.
“Atlet Dong Man. Ada perlu apa kemari?”tanya Tae Hee panik. Dong Man yakin Tak Su pasti ada di bawah lalu bertanya apakah Tae Hee tak ingin turun. Tae Hee menolak karena harus menyelesaikan telepon  bahkan terlalu sibuk.

Dong Man pun turun ke arah bar, tempat Tak Su duduk. Tak Suk akan pergi ke toilet, Sonya heran melihat Tak Su pergi ke toilet dengan membawa ponselnya. Dong Man langsung menghadang Tak Su, dan memukulnya. Tak Su yang panik langsung memberitahu Sonya kalau ia baik-baik saja.
“Hyung... Aku tidak tahu mengenai jujitsu.., tapi aku sekarang jadi belajar, terima kasih. Terima kasih telah membiarkanku berlatih dengan pelatih dari Brazil.”ucap Dong Man, Tak Suk marah karena Dong Man yang menyerang orang mabuk, lalu berdiri tegak.
“Kim Tak Su...   Berikan aku gerakan terbaikmu. Tak peduli seberapa keras kau mencoba.., maka kau akan berakhir di ring denganku.” Bisik Dong Man tak takut lagi dengan Tak Su.


Semua keluarga sedang menghitung amplop hadiah uang dari ulang tahun,  kakak kedua kaget melihat sebuah amplop lusuh dan bertuliskan “ Selamat. Dari Ibu Sul Hee” mereka tak percaya kalau ibu Sul Hee datang ke acara ulang tahun.
“Dia pasti mengirim uang bersama Sul Hee. Ada 300 dollar di sini. Mertua kaki babi ternyata keluar jalan.” Komentar si kakak dengan nada mengejek.  Sang kakak mengejek kalau ibu Sul Hee bukan mertua.
Saat itu Joo Man datang, Ibunya bahagia melihat sang anak yang datang. Karena berpikir harus kerja lembur. Joo Man langsung menanyakan keberadaan Sul Hee. Kakaknya menunjuk kebagian dapur. Joo Man melihat Sul Hee sibuk membersihkan semua peralatan. Sul Hee kaget melihat Joo Man yang datang, Sementara Joo Man sedih melihat Sul Hee seperti pembantu yang berkerja sendirian pada keluarganya lalu menariknya.

“Ibu... Nuna... Semuanya... Jangan memandang rendah Sul Hee. ..Jika kalian begitu, aku takkan memaafkan kalian.” Ucap Joo Man membela Sul Hee.
“Semua anak putra tidak berguna... Sul Hee.. Apa Kau meneleponnya?” ucap kakak pertama sinis. Sul Hee mengelengkan kepala dan meminta maaf.
“Nuna tidak pergi ke rumah mertuamu selama liburan! Jadi kenapa harus Sul Hee yang membersihkan di ulang tahun anakmu? Dia juga anak berharga... dalam keluarganya... Perhatikan sikap kalian.” Perintah Joo Man.
Kakaknya meminta Sul Hee memberitahu Joo Man kalau ia tak menyuruhnya. Sul Hee pun memohon pada Joo Man agar tak mempermasalahkanya da ningin melakukannya. Joo Man meminta agar semua keluarga untuk Perlakukan Sul Hee dengan baik dan Jangan pandang rendah dia. Semua binggung melihat Joo Man yang sangat marah bahkan membela Sul Hee.
“Apa aku sangat hebat? Aku datang dari keluarga miskin. Aku kuliah di universitas lokal dan hanya seorang asisten manajer. Lalu kepada siapa aku harus berterima kasih atas itu semua? Selama 4 tahun kuliah, dia bekerja dan membayar uang sewa kamarku.., dan mendukungku saat aku mulai bekerja. Apa Kalian tahu itu! Itu Sul Hee yang membantu... Kalian harus tunduk dan berterima kasih padanya. Jangan lakukan ini...” kata Joo Man
“Dia Pacar yang hebat... Apa Kau akan menikahinya?” ejek Kakak kedua yang sedang hamil karena tahu pasti Joo Man tak akan melakukanya.
“Tentu, aku mungkin tidak akan menikahinya. Tapi... jika aku tidak menikahinya.., maka aku takkan menikah dengan orang lain!” kata Joo Man lalu melepaskan sarung tangan Sul Hee dan mengajaknya pergi. Kakak Keduanya langsung merasakan kontraksi diperutnya. 

Ae Ra akan turun dari mobil tahu pasti Moo Bin akan melihatnya masuk. Moo Bin mengaku tidak tapi akan masuk bersamanya kali ini. Ae Ra mengeluh kenapa Moo Bin harus masuk dan terus mengatakan ingin  masuk ke rumah wanita dan berpikir tidak berpendidikan. Moo Bin keluar dari mobil membuka bagian bagasi.
“Kudengar seperti inilah cara Ahn Jae Hyun memenangkan Koo Hye Sun.” Ucap Moo Bin. Ae Ra melonggo melihat bagasi yang dipenuhi dengan bunga dan meminta agar tak melihat berita online.
“Kau lebih cantik daripada Koo Hye Sun di mataku.., jadi aku menambahkan sesuatu.  Kau selalu memijat kakimu.” Kata Moo Bin.
Ae Ra kaget bertanya kapan pernah melihatnya. Moo Bin panik kalau bukan  maksudnya mengintip atau apapun itu, Ae Ra pun mengerti. Moo Bin melihat Ae Ra yang sedang sakit jadi akan membawakan setelah itu pergi.  Ae ra menolak karena bisa membawanya. Moo Bin pikir Ae Ra tak mungkin bisa naik ke lantai lima dengan membawa alat pemijat kaki.
Ae Ra mencoba untuk menolak tapi Moo Bin tetap ingin membawanya naik ke lantai atas, tanganya memegang bagian perut yang terasa sakit. Moo Bin terus naik ke lantai atas, Ae Ra berusaha untuk mengatakan sesuatu tapi perutnya seperti meronta kesakitan.
Saat itu si Bibi pemilik heran melihat Moo Bin malah naik ke lantai atas, Moo Bin binggung. Ae Ra sudah tak tahan lagi akhirnya jatuh pingsan, keduanya panik dan langsung berlari mendekati Ae Ra. 


Joo Man dengan wajah cemberut meminta agar Sul Hee Jangan pergi ke rumahnya lagi. Sul Hee mengodanya kalau Joo Man itu khawatir kaalu ia akan bekerja terlalu keras dan merasa jengkel.  Joo Man melihat Sul Hee itu terlalu patuh menurutnya sang pacar banyak kelebihan dan tak harus melakukan hal itu.
“Ini bukan karena aku kekurangan sesuatu. Tapi Ini karena aku menyukaimu... Ini karena aku sangat menyukaimu dan karena aku ingin kau menyukaiku. Karena itulah aku ingin keluargamu menyukaiku juga.” Ungkap Sul Hee.
“Apa Kau sebegitunya menyukaiku?” ucap Joo Man. Sul Hee membenarkan.
“Apa Kau tahu, tadi saat kau marah dan emosi.., kurasa kau terlihat seksi.” Ucap Sul Hee mengoda lalu mencium tangan Joo Man.
Joo Man merengek kalau bibirnya bukan ditanganya, Sul Hee pun memberikan kecupan di bibir Joo Man lalu mengaku merasa sangat senang karena Joo Man datang padahal berpikir harus kerja lembur, lalu bertanya apakah pacarnya itu pulang lebih awal karena khawatir kepadanya. Joo Man memberitahu kalau ibu Sul Hee mengirimkan pesan jadi pergi lebih awal. Sul Hee kaget mengetahui ibunya yang mengirimkan pesan.
“Ini pertama kalinya dia meng-SMS-ku..,jadi aku terkejut.” Ucap Joo Man . Sul Hee binggung karena Ibunya tidak tahu caranya SMS.

Flash Back
Ibu Sul Hee membereskan semua sampah yang berserakan sambil menanahan tangisnya. Lalu masuk ke dalam ruangan pesta melihat anaknya sibuk membereskan semua sampah dan keluarganya asik bercengkrama. Akhirnya Ibu Sul Hee pergi sambil mengumpat anaknya itu sangat bodoh.
“Kau bertingkah seperti itu di depan ibumu.., tapi kau benar-benar idiot. Dasar Keparat itu. Keluarga menjijikan itu. Aku akan...” ucap Ibu Sul Hee benar-benar marah mengeluarkan ponselnya.
“Lupakan menikah... Jangan kau tunjukkan wajahmu di depan Sul Hee Aku takkan membiarkan keluarga seperti itu mempunyai putriku.” Tulis Ibu Sul Hee pada Joo Man,  Tapi akhirnya menghapus pesannya.
“Joo Man. Bagaimana kabarmu? Lama tidak berjumpa. Sul Hee pergi ke ulang tahun keponakanmu sendirian. Dia sangat menyukaimu jadi Bersikap baiklah kepada putriku.” Tulis Ibu Sul Hee menahan amarahnya.
Sul Hee yang membaca pesan Ibunya hanya bisa menangis, Joo Man binggung tiba-tiba Sul Hee menangis. Sul Hee  memberitahu kalau Ibunya yang membersihkan sampa dan pasti lihat segalanya. Joo Man menenangkan Sul He agar Jangan menangis. Tapi Sul Hee tetap saja menangis karena ibunya yang bisa melihat perlakuan keluarga Joo Man. 


Di pasar toko “Kaki Babi Sul Hee” ayah Sul Hee memotong daging sambil bertanya Kapan pertemuan keluarganya? Apakah Bulan ini? Dan menanyakan kabar anaknya. Istrinya seperti masih sakit hati dengan keluarga Joo Man seperti sangat menghinanya.
“Sayang... Haruskah kita tutup toko kaki babi dan membuka restoran?”  ucap Ibu Sul Hee. Suaminya binggung dengan perkataan istrinya. Ibu Sul Hee mengaku hanya ingin saja.
“Aku tidak suka kalau orang tua Sul Hee menjalankan usaha kaki babi.”ucapIbu Sul Hee dengan nada bergetar. 

Dokter memberitahu kalau Ae R terkena  Ini Sindrom Iritasi Usus Besar. Moo Bin kaget mendengarnya,  dan bertanya apakah memang itu serius. Dokter membernakan dan menjelaskan kalau dalam perut Ae Ra banyak  dipenuhi gas. Moo Bin pun bertanya apakah Ae Ra  pingsan karena gas.
“Itu tidak biasa... Kurasa dia pingsan karena sakit  yang disebabkan oleh gas... Dia sangat stres... Seberapa banyak kau membuat dia stres selama kencan?” keluh Dokter. Moo Bin ingin tahu keadaan Ae Ra sekarang.
“Kau melihat dia mengeluarkan kentut, kan?” ucap Dokter. Ae Ra terlihat berpura-pura tidur merasa malu dan ingin mati saja. Moo Bin mengaku sudah mendengar dua kal dan Sekali yang sangat panjang.
“Aku takkan pernah membuka mataku lagi.” Gumam Ae Ra terlihat benar-benar malu. 

Dong Man berjalan pulang mengirimkan pesan pada Ae Ra “Bar? Soju? Bir? Jawab, atau kau takkan dapat apapun.” Tapi Ae Ra tak membalasnya. Dong Man pikir Ae Ra sudah tidur atau menutup diri darinya.
Saat itu bibi pemilik baru pulang dengan mobilnya, mengetahui Dong Man ada di nomor rumah 102, apakah ingin bertemu dengan wanita di nomor 101 sebagai penyiar yang ingin comeback. Dong Man binggung maksudnya
“Nona di rumah 101 pingsan dan dibawa ke RS.” Ucap Si bibi. Dong Man kaget memastikan kalau itu Ae Ra.  Bibi memberitahu kalau ada di R.S. Severance. Kamar 2701, Royal Suite room. Dong Man panik langsung bergegas pergi. 

Moo Bin menemani sambil memegang tangan Ae Ra, sementara Ae Ra merasakan perutnya yang bergejolak dan ingin kembali kentut. Moo Bin mendekatkan telinganya, Ae Ra langsung terbangun.  Moo Bin kaget memberitahu kalau Ae Ra sempatpingsan karena terkena IBS dan Perutnya dipenuhi gas tapi bersyukur karena gasnya itu sudah keluar dari kentut.
“Ini tidak serius, tapi gasnya harus keluar.” Jelas Moo Bin. Ae Ra merasa malu meminta Moo Bin tak membahasnya lagi
“Bisa lepaskan infus ini untukku? Aku ingin pulang ke rumah.” Ucap Ae Ra. Moo Bin pikir Ae Ra harus menginap semalam. Tapi Ae Ra merasa tak nyaman jadi ingin pulang ke rumah.
“Kenapa kau selalu ingin pulang saat sedang bersamaku?” kata Moo Bin dengan wajah serius. Ponsel Ae Ra bergetar dan itu telp dari Dong Man.
Sementara Dong Man yang masuk ke rumah sakit panik Ae Ra  tidak mengangkatnya dan kenapa bisa sampai pingsan, menurutnya temanya itu cukup kuat untuk mengalahkan sapi. Dong Man masih saja terus menelp.  Moo Bin meminta agar Ae Ra tak mengangkatnya.
“Ae Ra, tidak bisakah kau lihat aku? Sebenarnya.., kamar ini sangatlah mahal. Aku ingin melakukan hal yang kubisa untuk mendapatkan perhatianmu, karena itulah aku meminta kamar ini. Aku bahkan tidak seperti ini pada ibuku, saat dia dioperasi usus buntu.” Ungkap Moo Bin.
“Kenapa kau memberitahuku...” kata Ae Ra yang langsung disela oleh Moo Bin.
“Dan sebenarnya, aku sedang tidak bekerja hari ini tapi aku pergi dan mengambil jas labku supaya terlihat keren. Aku ingin melakukan sesuatu untuk menarik perhatianmu. Tapi Kenapa kau sangat tidak nyaman? Kenapa perutmu sakit saat sedang denganku?” ungkap Moo Bin menatapnya. Ae Ra bergumam melihat Moo Bin yang manis sekali bahkan memberikan celah. 


“Ini Bukan kebohongan. Aku memikirkanmu sepanjang hari. Aku memikirkan segala alasan seperti alat pemijat, berkata aku cuti, atau segalanya hanya untuk menemuimu sekali saja.” Ungkap Moo Bin yang benar-benar ingin menarik perhatian Ae Ra.
“Tolong berhenti.. .. Aku merasa lemah sekarang... Hati seseorang menjadi lembut saat mereka tersakiti.” Gumam Ae Ra
“Bagiku, kau adalah... sebuah mimpi. Saat aku melihatmu, meskipun kau tidak mengatakan apapun... Meski hanya...dengan melihatm hatiku... menjadi gila.” Ungkap Moo Bin
Ae Ra mengatakan Moo Bin  tidak boleh melakukan ini kepada orang lain yang sedang sakit menurutnya rendahan. Moo Bin pikir kalau hari ini aka menjadi rendahan sekarang, lalu memberikan ciuman di bibir Ae Ra. Saat itu pintu terbuka, Dong Man melihat keduanya berciuman. Ae Ra kaget berusaha menjelaska kalau bukan seperti dalam pikiranya. Dong Man langsung menutup pintu dan memilih untuk pergi, tapi beberapa langkah seperti memikirkan sesuatu dan kembali masuk.


Epilog
Semua anak SD berbaring seperti ingin menerima suntikan, Ae Ra berbaris dibelakang merasakan perutnya yang sangat sakit dan akhirnya tak bisa menahan kentutnya. Semua temanya merasakan bau dan menuduh Ae Ra pasti yang ketut.
Tiba-tiba Dong Man sengaja mengeluarkan suara kentut yang sangat besar, Semua pun makin menutup hidung karena Dong Man mengeluarkan kentut yang sangat bau. Ae Ra memuji Dong Man dengan mengelus bagian kepalanya, setelah itu memberikan sebuah permen.

Ae Ra sedang makan kacang di tangga, tiba-tiba Dong Man datang mendekatkan bokong pada wajah Ae Ra dan langsung mengeluarkan kentutnya, setelah itu menadahkan tanganya seperti meminta bayaran. Ae Ra yang kesal langsung memukul kepala Dong Man sampai akhirnya Dong Man hanya bisa menangis kesakitan.
Bersambung ke episode 7

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Tidak ada komentar:

Posting Komentar