PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 26 September 2017

Sinopsis Andante Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
[Episode 1: Kematian Yang Pertama]
Seorang pria sibuk didepan komputer dengan earphone, jari-jarinya sangat cepat diatas keyboard. Ia mengoceh sendiri dengan orang yang yang ada dilayar. Lee Shi Kyung mengomel pada layar kalau seharusnya melindunginya, kakinya naik keatas kursi terlihat mulai merasakan tegang untuk melawan musuh di komputernya.
Sementara terlihat seseorang melangkahkan kaki menaiki tanga. Dan Shi Kyung bisa menang melawan musuhnya dengan bangga kembali mengoceh sendirian dikamar.
“Hei! Apa Kau melihatnya? Aku sudah bilang semuanya dengarkan aku aja. Kau harus melakukan ini untuk menang. Yang perlu kau lakukan hanyalah mendengarkanku saja.” Ucap Shi Kyung.
Telinga Shi Kyung seperti sangat sensitif mendengar sesuatu, lalu bisa tahu kalau Ibu datang dan bergegas memasukan keyboard dan mousenya membuka buka, dalam hatinya bergumam kalau Kecepatan cahaya bukan  hanya tentang kecepatan saja.
“Ada kalanya seseorang benar-benar bisa bergerak dengan kecepatan cahaya. “ gumam Shi Kyung. 

Ibu Shi Kyung, Oh Jung Won membuka pintu melihat anaknya seperti tertidur sambil membaca buku, lalu bertanya apakah Shi Kyung belum tidur.  Shi Kyung berpura-pura terlihat lelah mengatakan sedikit lagi selesai.
“Wajahmu mulai kusam gara-gara terlalu fokus belajar. Jangan memaksakan diri.” Pesan Nyonya Oh. Shi Kyung menganguk.
“Ngomong-ngomong.... Kau di sini sendirian, kan?” kata Nyonya Oh. Shi Kyung panik bertanya kenapa menanyakan hal itu.
“Sepertinya Ibu mendengar seseorang berteriak dari kamarmu ” Kata Nyonya Oh pikir tetangga. Shi Kyung sengaja menyalakan volume dalam komputernya.
“Aku mendengarnya dengan keras tadi.” Kata Shi Kyung. Ibunya pun tak curiga berpesan agar Shi Kyung matikan lampu sebelum tidur. Shi Kyung bisa bernafas lega karena bisa menutupi kebohonganya. 

Shi Kyung melihat ponselnya sambil mengoceh tentang gamesnya, lalu berkata kalau  Tidak ada yang menonton maka tidak akan pernah menghasilkan uang. Seorang wanita leat disamping Shi Kyung, Lee Shi Young adik dari Shi Kyung.
“Apa kau akan menonton hal yang buruk seperti itu? Siapa yang mau menonton sampah seperti itu?” ejek Shi Young.
“Ini lebih baik dari pada pakaianmu yang seperti sampah. Ohhh, kuharap mataku tidak pernah melihatnya” balas Shi Kyung menutupi matanya.
“Jagalah dirimu sendiri.” Kata Young. Shi Kyung langsung memukul kepala adiknya karena seharusnya memanggil "Oppa".
“Kau punya mental seorang anak kecil.” Ejek Shi Young. Shi Kyun ingin memukulnya. Shi Young langsung menahan dengan mengancam kakaknya.
“Aku melihatmu membuat kartu laporan kali ini. Haruskah aku memberitahu Ibu yang sebenarnya?” kata Shi Young
“Jangan dan Pergilah tidur.” Kata Shi Kyung. Shi Young melihat kakaknya ingin pergi ke minimarket dan meminta dibelikan es krim banana.
“Aku tidak punya uang.” Kata Shi Kyung. Shi Young pikir lebih baik untuk membangunkan ibunya dan memberitahunya. Shi Kyung panik langsung berjanji akan memberikan es krim.
“Sekalian belikan minuman juga.” Kata Shi Young. Shi Kyung pun tak bisa berkata apa-apa lagi. 


Shi Kyung berjalan pulang dengan semua snack dalam kantung dan juga sosis untuk dimakan. Saat itu terlihat beberapa anak sedang memukul seseorang. Shi Kyung akan kabur tapi ketua Genk seperti melihatnya lalu bertanya siapa itu dan apakah mengenalanya. Shi Kyung ingin kabur mengaku kalau tak mengenalnya
Jae Hoon memanggil Shi Kyung sebagai temanya. Si ketua Genk pun tahu kalau mereka berdua saling mengenal. Shi Kyung pani memilih untuk kabur dari kejaran para berandalan. Kejar-kejara pun terjadi, Shi Kyung berhasil bersembunyi dan si pria tambun tak bisa mengejarnya, lalu keluar dari persembunyian.
“Hai.. Wah.. Apa yang bisa kau lakukan?  Aku sangat hafal daerah ini.” Ejek si Ketua genk mengejek.
“Maaf, kau bisa mengambil semua yang kumiliki.” Kata Shi Kyung memberikan plastik snacknya. Si Ketua menolak karena sedang diet.
“Pacarku bilang aku perlu menurunkan berat badan. Tidakkah kau memiliki hal lain selain barang ini?” kata  Si Ketua.  Shi Kyung mengeluarkan uang dan langsung dirampasnya.
“Hei, bocah... kau jangan menyia-nyiakan waktuku. Apa Kau tidak punya  kartu kredit?” kata Si ketua. Shi Kyung mengaku tak punya. Si ketua langsung memberikan pukulan pada wajah Shi Kyung.
“Lain kali, buatlah beberapa kartu dan Aku akan menikmati makanan ini.” Kata si ketua lalu pergi dengan uang dan makanan Shi Kyung. Shi Kyung terjatuh dengan wajahnya yang memar hanya bisa mengumpat kesal. 


Shi Kyung di panggil keruang guru kaget karena Jae Hoon melaporkannya dan ingin tahu alasannya. Wali kelasnya menjelaskan kalau Jae Hyun berkata Shi Kyung adalah seorang saksi dan melihat Jae Hoon diserang.
“Apa kau memukulinya juga?” tanya Gurunya melihat wajah Shi Kyung yang juga bengkah. Shi Kyung mengaku hanya terjatuh.
“Kau perlu mengatakan yang sebenarnya.” Kata Gurunya. Shi Kyung hanya diam saja.
“Ini tidak akan berhasil, jadi Beritahu ibumu untuk datang.” Kata Bu guru. Shi Kyung langsung mengatakan kalau  akan menjadi saksi.
“Apa sulit bagi ibumu untuk datang sekali saja?” keluh Bu Guru. Shi Kyung mengaku kalau  ibunya sangat sibuk.

Makan Malam
Nyonya Oh kaget anaknya diminta menjadi saksi dan bertanya apakah memang tidak ikut berkelahi, Bibi Shi Kyung bertanya juga Ada apa dengan wajahnya. Shi Kyung tetap mengaku kalau dirinya jatuh. Shi Young memberitahu bibinya kalau kakaknya itu tidak bisa berkelahi jadi selalu membutuhkannya. Ibunya langsung berteriak marah
“Oppa bilang kalau aku seharusnya tidak berbicara seperti itu dan tidak menggunakan ponselku di meja makan.” Ucap Shi Young melawan. Ibunya pikir kalau memang sudah tahu kenapa melakukanya.
“Omelanmu tidak ada gunanya, jadi kenapa kau terus melakukannya, Bu? Kau terus mengomel dan Aku terus berperilaku seperti ini. Apa bedanya? Tak satu pun dari kami mengubah kebiasaan kami.” Ucap Shi Young melawan.
“Hei, bagaimana itu sama? Kau berbicara  dengan tidak sopan.” Kata Shi Kyung marah.
“Lupakan. Berhenti  membicarakannya.” Kata Nyonya Oh. Shi Young memilih untuk pergi dari meja maka.
Shi Kyung memanggil adiknya untuk kembali dan ingin mengejarnya. Bibinya langsung menahan agar tak perlu mengejarnya. Shi Kyung bergumam bahwa Pada saat seperti ini, sangat berterima kasih pada bibinya karna Tidak ada gunanya juga mengejar adiknya.
“Sekarang aku ingat, aku belum mengunjungi sekolah anak-anak... Ahh..Tapi, kurasa akan aneh  kalau aku datang kesana.” Ucap Nyonya Oh. Shi Kyung sempat panik tapi mendengar komentar ibunya pun bisa bernafas lega. 


Shi Kyung kembali sibuk bermain games di warnet, semua anak memujinya karena pemainnya sangat bagus. Sebuah pesan masuk dari ibunya “Nak, kau di sekolah, kan?” Shi Kyung dengan cepat membalas pesan ibunya Tentu saja, aku belajar dengan giat.”
“Oke, belajarlah dengan giat. Sampai jumpa lagi” tulis ibunya
“Aku akan segera menyelesaikan  belajarku dan pergi ke kafe, Bu.” Balas Shi Kyung dengan masih tetap bermain games. Tapi Shi Kyung tiba-tiba merasakan sesuatu dan langsung bergegas keluar dari warnet, semua yang menonton binggung karena Shi Kyung hampir menang.

Shi Kyung pergi ke cafe bibinya dengan nafas terengah-engah, lalu menanyakan keberadan ibunya dan tak ada dicafe, Bibinya juga tak tahu kalau ibunya hanya menyuruh untuk menjaga kafe dan pergi, lalu mencoba memperbaiki sesuatu tapi malah membuat suara berdengung.
“Kau bisa memperbaiki listrik, kan?” ucap si bibi. Shi Kyung langsung memikirkan ibunya pergi kemana tapi berusaha menyakinkan kalau itu tak mungkin.
“Ibu bukan tipe orang yang mau datang ke sekolah.  Tapi, kenapa aku  merasa sangat cemas?  Dia tanya "Sampai jumpa lagi"?” gumam Shi Kyung.
“Hei.. Aku tanya apa kau bisa memperbaikinya!” teriak bibinya melihat Shi Kyung hanya diam saja.
“Bibi, apa Ibu bilang akan pergi ke sekolahku?” tanya Shi Kyung meemastikan. Ibunya teringat kalau Nyonya Oh bilang akan pergi kesana.
“Dia tadi malam bilang kalau akan datang ke sekolahmu.” Kata Bibi Oh.
“Aku harus menghentikannya!  Begitu Ibu bertemu dengan guru wali kelasku, seluruh hidupku akan berakhir.” Jerit Shi Kyung berlari sampai sandalnya terlepas. 

Nyonya Oh terlihat binggung melihat guru wali kelas Shi Kyung, lalu berpikir kalau Guru wali kelasnya pasti sudah ganti. Ibu Guru mengaku belum. Nyonya Oh merasa Aneh karena berpikir guru wali kelasnya laki-laki.
“Saya senang Anda datang juga. Saya mengatakan kepada Shi Kyung kalau saya ingin bertemu ibunya, namun Anda tidak pernah datan dan juga tidak pernah mengangkat telepon” kata Ibu Guru. Nyonya Oh binggung.
“Anda pasti tahu Shi Kyung memiliki kasus yang parah.” Kata Ibu Guru. Nyonya Oh binggung apa maksud kasus yang parah
“Nilai-nilainya terus naik akhir-akhir ini, dan dia terus belajar setiap malam. Dia begadang mendengar kuliah di internet.” Jelas Ibu Shi Kyung
“Kau bilang Nilai Shi Kyung naik?” kata Ibu guru sekarang binggung. Nyonya Oh mengeluarkan lembaran kertas
“Ini adalah rapor terakhirnya. Saya membawanya untuk kita diskusikan.” Kata Ibu Shi Kyung. Ibu Guru pun melihat lembaran hasil nilai. 

Nyonya Oh turun dari tangga terlihat lemas, tubuhnya bergetar lalu teringat kembali ucapan ibu guru.
Flash Back.
Ibu Guru memberitahu kalau lembaran itu palsu, Nyonya Oh kaget mendengarnya. Ibu guru merasa tidak pernah berpikir Shi Kyung akan melakukan hal seperti ini, lalu memperlihatkan grafik dalam komputernya kalau itu adalah nilai sebenarnya dari Shi Kyung dan Nilainya semakin menurun.

Shi Kyung akhirnya sampai di depan sekolah dan melihat ibunya akan pergi lalu memanggilnya. Nyonya Oh seperti berusaha untuk tenang, Shi Kyung mengeluh ibunya tidak memberitahu kalau mau datang ke sekolah dan bertanya dengan  wali kelasnya.
“Apa kalian berdua bertemu?” tanya Shi Kyung. Nyonya Oh berbohong kalau tak bertemu dan menanyakan alasan Shi Kyung menanyakan.
“Masalahnya... Guru wali kelasku pergi ke pemakaman. Ibu mungkin tidak bisa menghubunginya.” Kata Shi Kyung berbohong. Nyonya Oh berakting untuk mempercayainya.
“Ibu tahu nomor  yang kuberikan ‘kan? Ibu bisa menghubungi nomor itu. Kenapa Ibu datang hari ini? Aku melompati gerbang, untuk bergegas menuju ke sini.” Kata Shi Kyung. Nyonya Oh menatap menahan amarahnya. Shi Kyung menyadarkan ibunya.
“Oh, baiklah. Aku akan meneleponnya. Tapi... kenapa kau di sini?” tanya Nyonya Oh
“Ah. Itu... Aku membeli buku pelajaran, jadi aku datang kesini. Kalau begitu, aku akan pergi ke kafe. Kau tahu bagaimana keadaan kafe. Bibi bilang Ibu di sekolah, dan Ibu tidak mengangkat teleponmu. Jadi, aku berlari kesini.” Kata Shi Kyung.
Nyonya Oh pun menyuruh anaknya untuk masuk saja.  Shi Kyung mengaku harus giat belajar. Nyonya Oh bertanya Dimana buku pelajarannya, apakah tidak membelinya. Shi Kyung memikirkan jawabanya, kalau itu Tidak tersedia disana jadi akan pergi ke toko buku lainnya besok. Nyonya Oh pun mempercayainya dan menyuruh Shi Kyung agar segera masuk saja. 


Shi Kyung melihat ibunya sudah pergi melalui lorong, lalu bergegas menelp temanya yang sudah dianggap kakak memberitau kalau Ibunnya mungkin akan menelpnya nanti, lalu panik memutuskan akan segera kesana.
Saat keluar dari pintu, Si ketua Genk dan dua anak buahnya sudah menghadangnya. Shi Kyung langsung didorong ditempat tersembunyi dan Si ketua Genk langsung mencengkram bajunya. Shi Kyung ketakutan memohon agar bisa melepaskan tanganya.
“Rangking keberapa kau? Ucap Si Ketua Genk pada Shi Kyung
“Kau bisa lihat, hanya dengan melihatnya... dia sudah menyerah dengan Ujian dan sekolah. Itu tertulis di seluruh wajahnya. Dan Orang ini menduduki peringkat nomor satu, di sekolah kita. Ayahnya punya andil  besar dibalik sekolah kita. Apa Kau tahu apa yang dikatakan?” kata Si Pria tambun. Ketua Genk menyuruh temanya diam.
“Catatan sekolahku terlalu bersih untuk dikotori dengan perkelahian. Mari kita pastikan tetap bersih.” Kata Si Ketua Genk yang suka memuku.
“Ya, kami hanya bercanda. Kenapa semua orang bereaksi berlebihan?” ujar teman yang lainya.
“Jika kau ingin menjadi saksi... maka Pergi dan katakan "aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya salah dengar." Kau pernah melihat itu di TV kan?. Jadi Jangan pernah pergi! Jika kau hadir  sebagai saksi... Kau akan mati. Mengerti?” ancam si ketua genk.  Shi Kyung menatap penuh amarah seperti ingin melawanya.
“Haruskah kita melakukan ini jika kau tidak mengerti?” kata si ketua Genk ingin memukulnya.

Shi Kyung kembali terkena pukulan diwajahnya, berdiri sambil menatap kosong lalu mengeluh karena mereka memilihnya. Temanya penjaga warnet melihat Shi Kyung berpikir tidak cukup tidur di sekolah hari ini dan sangat sensitif. Shi Kyung hanya diam saja terlihat masih sangat kesal.
“Kau bilang ibumu tidak pernah bertemu guru wali kelasmu. Apa ada hal lain yang terjadi denganmu?” tanya temanya. Shi Kyung mengaku tak ada.
“Ya sudah.. Hei, jangan kemari dan jangan mengotori tempat ini. Aku muak dan lelah menghadapi amarah anak-anak pecundang.” Jelas Temanya.
“Aku merasa ada  yang tidak beres.” Kata Shi Kyung gelisah.
“Hei..berhati-hatilah.. Akhir-akhir ini  kau paling banyak membuat kartu laporanmu. Bukankah itu sebuah kejahatan?” kata temanya.
“ Itulah yang kukatakan. Kupikir aku sudah pergi terlalu jauh. Aku punya firasat buruk tentang ini dan itu.” Kata Shi Kyung.

Temanya menyuruh Shi Kyung agar menikmati saja ramennya dan kalo sudah selesai buang ditempatnya. Shi Kyung agar pergi membawa ramenya. Temanya melihat ponselnya berdering, lalu panik memberitahu kalau itu Ibu Shi Kyung yang menelp. Shi Kyung menyuruh agar melakukan dengan benar dan bilang sedang di pemakaman. Teman Shi Kyung sengaja membuat suaranya lebih berat agar terlihat seperti orang tua.
“Iya. Halo, ibu Shi Kyung. Saya guru wali kelas Shi Kyung. Kenapa Anda menelepon?” ucap teman Shi Kyung. Nyonya Oh menanyakan keberadaanya.
“Saat ini saya sedang menghadiri pemakaman. Apa Anda ingin  datang kemari?” kata teman Shi Kyung kaget. Shi Kyung memberi kode agar Jangan memperbolehkanya.
“Jangan. Saya sedang tidak ada di Seoul sekarang. Saya pergi jauh... sangat jauh.” Kata teman Shi Kyung memikirkan tempatnya. Shi Kyung memberitahu sedang ada Pulau Jeju.
“Saya di Pulau Jeju. Ayah dari teman saya di Pulau Jeju meninggal tiba-tiba. Saya tiba-tiba harus... “ kata teman Shi Kyung lalu terdengar suara ibu Shi Kyung yang mendekat.
“Saya berada di Pulau Jeju sekarang... Guru wali kelas.” Kata Ibu Shi Kyung masuk warnet.
Teman Shi Kyung melonggo karena ketahuan berbohong mengaku sebagai wali kelas temanya. Shi Kyung binggung karena temanya hanya diam saja dan baru sadar kalau ibunya sudah ada didepanya, mie ramyun dalam mangkuk pun jatuh berantakan. Temanya langsung mengaduh kesakitan karena terkena kuah ramyun  yang masih panas.

Ibu Shi Kyung keluar dari warnet tak bisa menutupi kemarahnya. Shi Kyung mengikutinya dari belakang. Nyonya Oh menyuruh anaknya Pulanglah dan tunjukkan semua kuliah internet di komputernya. Shi Kyung menolak. Ibunya ingin tahu kenapa tak boleh dan ingin tahu pelajaran apa yang selama ini di kerjakan anaknya.
“Kenapa nilaimu sangat rendah meskipun kau menontonnya setiap malam? Apa yang harus kau tonton  agar kau memiliki nilai bagus? Aku sangat penasaran dan harus melihatnya.” Kata Ibu Shi Kyung
“Tidak. Ibu tidak boleh melihatnya... Ini akan menaikkan darah tinggimu.” Kata Shi Kyung
“Itu video porno, kan?!” teriak Nyonya Oh. Shi Kyung panik melihat sekeliling karena Ibunya  bisa mengatakannya dengan suara keras.

“Apa Ibu menontonnya saat aku tidak di kamar? Ibu tidak boleh melakukannya.” Kata Shi Kyung. Nyonya Oh tak bisa menahan amarah langsung memukul anaknya. Shi Kyung mengaduh kesakitan.
“Kudengar kau menduduki peringkat nomor satu dalam memainkan game itu. Apa Kau sedang menonton kuliah internet sepanjang malam? Dengan Bermain game dan menonton film porno!” teriak Ibu Shi Kyung ingin memukul anaknya.
“Ibu Jangan gunakan kekerasan dan Gunakan kata-kata saja.” Pinta Shi Kyung karena sering kena pukul akhir-akhir ini.
“Kata-kata hanya digunakan untuk manusia saja. Apa kau manusia? Kau manusia?” Kata Ibu Shi Kyung marah
“Semua temanku melakukannya!” kata Shi Kyung akan pergi. Ibunya menahan memperingatkan kalau Mulai hari ini,  hentikan itu semua.


Ponsel Nyonya Oh berdering, satu tangan mengambil ponsel untuk mengangkatnya. Shi Kyung berusaha kabur tapi cengkraman tangan ibunya lebih keras agar tak pergi. Nyonya Oh karena itu telp dari Kantor polisi. Di dalam kantor, Nyonya Oh meminta maaf dan berjanji akan  memastikan ini tidak terjadi lagi, lalu keluar dengan Shi Kyung
“Kenapa Shi Young tidak datang?” keluh ibunya. Shi Kyung pun  akan memanggilnya. Shi Young keluar dengan dua temanya. Dua temanya meminta maaf dan segera pamit.
“Kenapa kau melakukannya juga? Kenapa kau melakukan seperti ini?” ucap Nyonya Oh marah. Shi Young merasa tak ada yang salah dengan yang dilakukanya.
“Apa lagi kalau bukan, berkelahi dengan mahasiswa.” Kata Nyonya Oh kesal
“Itu bukan perkelahian. Kami berkelahi gara-gara dia mendapat goresan kecil dan mahasiswa itu yang bereaksi berlebihan.” Kata Shi Young. Ibunya benar-bena tak habis pikir dengan tingkah dua anaknya.
“Apa kau ingin memakai sampah dan bertindak seperti sampah?” ejek Shi Kyung. Shi Young mulai marah. Ibunya berteriak agar menghentikan keduanya agar tak bertengkar lalu melihat ponselnya kembali berdeirng kali ini dari  [Jung Soo] 


Mereka bergegas pergi dan sampai di cafe, semua sudah berantakan seperti baru saja di bobol maling. Bibi Oh menangis sambil berjongkok memberitahu sudah Listrik menyala, jadi keluar sebentar, lalu Orang-orang aneh ikut masuk.
“Kakak.. Mereka adalah orang-orang yang  meminjami kita uang saat kita putus asa.” Cerita Bibi Oh
“Aku memohon agar mereka menunggu sebentar lagi.” Kata Nyonya Oh marah. Dua anaknya kebinggungan karena dalam beberapa jam sudah terjadi masalah lagi. 

Shi Kyung melihat beberapa barang sudah dilberi label kalau itu disita. Nyonya Oh berbicara di telp meminta maaf  kalau menggunakan warisan ayah anak-anak sebagai jaminan. Setelah menutup telp, Shi Kyung bertanga Siapa yang menelp. Nyonya Oh mengatakan kalau itu  Nenek. Shi Kyung heran Kenapa Nenek menelepon mereka.
“Apa ini juga terjadi pada rumahnya?” kata Shi Young binggung.
“Ayo kita pindah.” Kata Nyonya Oh berdiri dengan wajah yakin. Shi Young berteriak kaget.
“Kupikir kita tidak punya tempat untuk pergi.” Kata Bibi Oh. Nyonya Oh mengatakan kalau mereka masih punya jadi mengajak pindah. Shi Young pikir ibunya sedang bercanda.
“Kemana kita pergi dan kapan? Aku harus hadir sebagai saksi.” Kata Shi Young
“Kita akan segera pergi begitu rumah ini disita oleh Bank.” Jelas Nyonya Oh
“Apa aku harus pindah sekolah? Aku tidak mau!” kata Shi Young menolak dengan tegas niat ibunya.
“Dengarkan baik-baik. Mulai sekarang, jangan katakan apa yang kau inginkan atau yang tidak kau inginkan. Itu sesuatu yang mahal untuk kita sekarang. Orang-orang bilang kau perlu mati dan hidup kembali beberapa kali untuk menjadi dewasa. Jadi Anggap ini kematian, dan dengarkan Ibu.” Tegas Nyonya Oh lalu bergegas masuk kamar. Bibi Oh pun mengikutinya.
“Sebenarnya kita mau pergi kemana? Ibu Kemana kita akan pergi? Kau menakut-nakuti kami seperti ini.” Teriak Shi Young bingung. 


Akhirnya mobil box dengan dua kabin pun melaju melalui jalanan Seoul. Shi Kyung dan adiknya duduk dikursi belakang sambil bermain ponsel, lalu mengeluh kedinginan. Shi Young sengaja membuka jendela menyuruh kakanya untuk diam.
“Hei, aku bilang kedinginan...Ini dingin.” Kata Shi Kyung ingin menendang adiknya agar menutup jendela.
“Kita mungkin akan ditendang keluar.” Kata Shi Young yang juga asik dengan ponselnya. Shi Kyung bertanya memangnya kenapa.
“Akankah nenek membiarkan  kita masuk rumahnya? Tidakkah kau ingat pergi ke sana saat kita kecil, dan dia tidak mau membukakan pintu? Bisakah dia....” kata Shi Young terus mengoceh lalu ponsel Shi Kyung berdering bertanya siapa yang menelpnya. Sementara Jae Hoon seperti kembali kena pukul.
“Kau sudah melupakanku dan Harga diriku sedikit terluka Aku tahu kau tidak akan memiliki keberanian untuk menjadi saksi.  Bersikaplah seperti itu, oke? Jadilah pengecut, seperti biasanya. “ ucap si ketua Genk
“Aku akan melakukannya.” Kata Shi Kyung lalu mematikan ponselnya. Si Ketua Genk marah karena telpnya dimatikan begitu saja.
Shi Young bertanya ada apa. Shi Kyung menutupinya kalau Bukan apa-apa. Shi Young bertanya akan pindah sekolah, lalu mengambil ponsel kakanya  kalau mereka  ingin tinggal di Seoul jadi bisa tinggal di rumah teman atau menyewa kamar karena tidak ingin tinggal dengan Nenek.


“Aku juga tidak mau, tapi itu tidak mudah.” Kata Shi Kyung ingin mengambil ponsel dari tangan adiknya. Shi Young menjauhkan tanganya, lalu ponselnya pun jatuh di jalan.
Shi Kyung panik melihat ponselnya tergeletak dijalan, lalu memanggil ibunya agar bisa berhenti. Nyonya Oh hanya diam seperti tak memperdulikanya.  Shi Kyung pun meminta sopir mobil truk agar Berhenti sebentar. Si sopir juga seperti tak peduli.
“Ibu, aku membayarnya dengan 36 kali cicilan bulanan.” Teriak Shi Kyung frustasi. Ibunya tetap diam dan mobil melaju meninggalkan Seoul. 


Keduanya tertidur dalam mobil sampai akhirnya terbangun melihat pemandangan pengunungan dan sawah sangat indah. Lalu keduanya juga kembali tidur karena perjalana seperti sangat jauh. Bibi Oh sudah sampai dengan mobilnya, memberitahu sudah ada di depan rumah Nene dan membawanya jadi meminta kakaknya datang.  Tiba-tiba Bibi Oh panik melihat sosok nenek yang berjalan didepanya.
Shi Kyung terbangun karena Ibunya seperti kebinggungan karena GPS memberinya petunjuk yang aneh dan bertanya-tanya Apa alamatnya salah, lalu mencoba mencari tahu. Shi Kyung melihat keluar jendela dibuat binggung melihat sosok waktu seperti mengantungkan badan di dahan pohon yang besar, lalu mengambil ponsel adiknya dan mengambil gambarnya.

“Apa itu? Apa Mereka berpura-pura menjadi mayat di sini juga?”kata Shi Young. Shi Kyun binggung dengan maksud Berpura-pura menjadi mayat.
“Anak-anak di sekolahku banyak yang melakukan itu. Tapi, aku belum pernah melihat ada yang melakukannya sendiri.” Kata Shi Young lalu mengambil ponsel dari tangan kakaknya karena ingin tahu apa yang disimpan.
“Jangan menghapusnya.” Ucap Shi Kyung memohon pada adiknya. Saat itu mobil mulai bergerak. Si wanita bernama Kim Bon mengangkat wajahnya, Shi Kyung melihatnya sampai mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar