PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 29 November 2020

Sinopsis Tale of the Nine Tailed Episode 14 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 

Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Nenek Yeon sudah menuliskan di komputernya [Daftar. Nama, Nam Ji-ah. Lahir, 3 Maret 1991. Mati, Hari Ini] Ia sangat yakin menentukan kalau Ji A akan mati  Hari ini.

[Episode 14, Jalan Buntu]

Ji A akhirnya tersadar melihat Yeon, lalu meminta maaf. Ia mengaku Saat menuju ke ruangan ini, tubuhny mulai bertindak sendiri. Yeon memberitahu kalau Ji A menahannya dengan baik. Ji A mengaku masih bisa merasakannya.

“Dia bergerak di kepalaku dengan cara yang membuatku merinding. Ayo bergegas. Aku ingin menghabiskan momen terakhirku sebagai diriku sendiri. Di sampingmu..” ucap Ji A

“ Mari kita akhiri pertarungan membosankan ini. Untuk selamanya.” Kata Yeon memegan tangan Ji A.





Immogi terlihat sangat marah, berjalan di trotoar dan setiap orang yang terkena sisiknya langsung jatuh tak sadarkan diri. Di dalam mobil, Yoo Ri melonggo tak percaya melihatnya. Immogi masuk mobil mengajak mereka segera pergi.

 “Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Apa Kau suka membuat dunia menjadi kacau? Itukah alasannya?” tanya Yoo  Ri

“Tidak... Sejujurnya, aku suka membaca buku.” Ucap Immogi. Yoo Ri ingin tahu alasan Immogi melakukan ini

“Aku ingin Lee Yeon mati.” Kata Immogi. Yoo Ri bertanya apakah Immogi pikir Lee Yeon mudah mati

“Itulah alasannya. Dia tidak lelah dan terus mengejarku. Dia terus berusaha mengubah takdirnya. Tidak ada yang bisa dia ubah. Dia dan aku sudah melewati batas.” Ucap Immogi.

 


Yeon akhirnya membawa Ji A keluar dari ruangan. Rang melihat kakaknya langsung memastikan keadaanya apakah terluka. Yeon mengaku tidak.  Rang tak percaya dan mengajak mereka terluka sekarang sambil mengeluh Yeon yang berani berbohong.

“Ini satu-satunya cara.” Kata Shin Joo. Rang menyuruh agar Shin Joo menutup mulutnya saja.

“Sudah jelas saat dia mengumpulkan kita untuk rapat strategi.” Kata Shin Joo.  Rang mengeluh meminta Shin Joo Berhentilah berlagak tahu.

“Dia tidak mungkin membahas pencarian pedang Uiryeong yang asli. Dia kasar dan akan membunuh seseorang lebih dahulu.” Kata Shin Joo. Yeon kesal mendengarnya.

“Kau cenderung bertindak langsung, bukan mengikuti aturan. Itu maksudku.” Kata Shin Joo

“Jadi, kau sudah mendapatkan jawaban yang kau inginkan?” tanya Rang. Yeon mengaku kurang lebih seperti itu

“Apa jawabannya?” tanya Rang. Yeon menjawab kunci. Rang tak mengerti kunci apa.

“Kunci yang dia perlukanuntuk pindah ke tubuh lain.” Kata Yeon memberikan sebuah sisik milik Immogi.

“Jadi, bisakah kita mengeluarkannya dari tubuh Produser Nam?” tanya Shin Joo. Yeon menjawab Itu tidak cukup. Shin Joo kaget mendengarnya.

“Aku akan menguburnya selamanya agar tidak akan pernah bisa kembali.” ucap Yeon. 






“Berhenti.. Apa Kau tidak mendengarku?!! Begitu membuka pintu itu dan pergi, kau akan kehilangan semuanya. Akan kupastikan itu!” teriak Nenek Yeon. Tuan Hyun membalikan badanya.

“Apa yang kumiliki?” tanya Tuan Hyun. Nenek Yeon menjawab Pemilik Sungai Styx, status yang menjadi dewa, dan kehidupan abadi.

“Kuberikan semua itu padamu!” teriak Nenek Yeon. Tuan Hyun mengaku Bukan itu yang diinginkan, Melainkan Istri dan putranya.

“Sayang... Hidup bersamamu selamanya adalah hukuman terbesarku.”ucap Tuan Hyun lalu melangkah pergi.

“Berhenti... Kubilang berhenti!” teriak Nenek Yeon, tapi Tuan Hyun tetap pergi meninggalkan istrinya. 


Di ruangan  ["Looking For Urban Legends"] Tuan Choi datang dengan tubuh yang lemah. Sae Ron dan Jae Hwan datang melihat Tuan Choi bartanya Apa terjadi sesuatu dan apakah baik-baik saja. Tuan Choi terlihat memiliki bintik merah dibagian lehernya.

“Pak Choi bilang apa?” tanya Ji A menelp Jae Hwan. Jae Hwan memberitahu kalau Tuan Choibilang seorang polisi meninggal.

“Apa penyebabnya?” tanya Ji A. Jae Hwan menjawab  Penyebab kematiannya serangan jantung, tapi saat melakukan RJP, tubuhnya dipenuhi bercak aneh.

“Dia juga memuntahkan sejenis telur.” Ucap Jae Hwan. Ji A kaget mendengar Telur. Semua yang ada direstoran terdiam.

“Apa Mereka masih bersama Pak Choi?” tanya Yeon. Ji A pun ingin tahu keberadaan keduanya.

Tuan Choi sedang berdiri didepan Sae Ron sambil mengeluhKesialan macam apa ini di usianya ini, karena melihat seseorang mati tepat di depan matanya da melihatnya sendiri. Ji A bisa mendengar suara Tuan Choi dan langsung meminta agar cepat menjauh darinya.



“Pak Choi pergi ke kantor polisi?” tanya Nyonya Bok. Ji A membenarkan kalau Tuan Chi melakukan RPJ pada orang yang meninggal.

“Tidak ada yang terjadi, bukan?” kata Nyonya Bok  khawatir. Ji A mengaku belum tahu.  Rang melihat ponselnya dan meminta agar mereka melihatnay.

Ji A melihat berita [Mayat Dipenuhi Bercak, Kematian Misterius di Tengah Kota] Ia membaca Jumlah kematian meningkat sangat pesat. Yeon pun tahu kalau itu ulang Immogi, lalu bergegas pergi  dan akan segera kembali. JiA bertanya kemana Yeon akan pergi.

“Pulanglah lebih dahulu. Jangan pergi sendirian dan ikutlah dengan mereka.” Ucap Yeon pada Ji A.

Ji A terlihat gugup melihat Yeon yang pergi. Yeon mengemudikan mobilnya dan Tuan Hyun sudah berharap agar Yeon harus bergegas karena Nenek merekayasa Daftar Ji-ah.]

“Ada apa?” tanya Ji A pada Shin Joo. Shin Joo memberitahu Semua berjalan sesuai peringatannya.

“Peringatan apa?” tanya Ji A. Shin Joo mengatakan Dia bilang wabah akan menyebar dan semua orang yang dipedulikan akan dibunuh.

“Tunggu. Ibu dan ayahku.” Kata Ji A akan pergi. Shin Joo menahanya dan berjanji akan memeriksanya.

“Kau Pulanglah seperti kata Lee Yeon.” Ucap Shin Joo. Ji A tetap khawatir dan akan pergi.

“Jangan khawatir... Lee Rang, tolong antar dia.” Ucap Shin Joo akhirnya pergi lebih dulu meninggalkan Rang dan Ji A.


“Katakan, "Tolong antar aku pulang." Kata Rang mengoda. Ji A pikir lebih baik mati.

“Kalau begitu, matilah. Aku tidak peduli jika Imoogi mengambilmu. Bagiku, kau sama saja dengannya.” Ucap Rang

“Bukankah itu yang seharusnya kukatakan kepadamu?” ejek Ji A. Rang pikir Ji A adalah Imoogi wanita.

“Kenapa kita tidak berpisah?” ucap Rang. Ji A tak peduli dan langsung berjalan sendirian. Rang melihat Ji A Gadis yang keras kepala.

“Apa yang dilihat Lee Yeon darinya? Sudahlah.” Keluh Rang tak peduli. 




Rang melihat dari kejauhan Ji A yang berjalan sendiri, saat itu sebuah truk tak bisa mengerem dan Ji A mengambil boneka yang terjatuh. Truk pun akan menabraknya, tapi tiba-tiba Truk berhenti dan seseorang menahanya. Ji A kaget melihat Tuan Hyun menyelamatkanya.

“Syukurlah...aku tidak terlambat... Ji-ah, kau baik-baik saja?” kata Tuan Hyun memastikan. Rang melihat dari kejauhan seperti tak percaua

“Orang-orang di Sungai Styx bertindak... Sesuatu yang sangat buruk segera terjadi.” Gumam Rang. 

Yeon masuk ke ruangan nenek Yeon terlihat sangat marah, Nenek Yeon meminta Yeon Sebaiknya  bicara dengan bijak karenaSuasana hatinya saat ini seburuk suasana hati Yeon. Yeon tahu  Pada akhirnya, Nenek Yeon merekayasa daftar itu.

“Kau berbalik melawanku dan melakukan sesuatu yang tidak akan kau maafkan. Inikah yang kau inginkan?” ucap Yeon marah

“Aku tidak akan menarik daftar, apa pun yang kau katakan. Itulah pilihanku.” Ucap Nenek Yeon.

“Wabah menyebar karena orang lain. Kenapa menghukum Ji-ah?”keluh Yeon marah 

“Apa Kau bisa menyakitinya dengan menusuknya pakai pedang?” kata Nenek Yeon. Yeon hanya bisa terdiam mengingat saat menusuk imoogi hanya bolong saja tapi tak bisa membunuhnya.

 “Masalahnya adalah hal di dalam gadis itu.Untuk menyingkirkan itu dan mengalahkan yang lain, gadis itu harus mati.” Ucap Nenek Yeon

“Aku tidak akan mengatakan ini lagi. Kembalikan menjadi normal.” Kata Yeon. Nenek Yeon pikir Ini normal.

“ Ini caramu mengakhiri semuanya.” Ucap Nenek Yeon. Yeon pikir tidak seperti itu.

“Tidak ada yang boleh membawa Ji-ah. Bahkan kau.” Kata Yeon yakin. Nenek Yeon pikir Ini sudah di luar kendalinya, Yeon langsung mengeluarkan pedangnya. Nenek Yeon pun menyuruh Yeon maju 



“Jadi, sampai aku mati, hal-hal seperti kecelakaan mobil tadi akan terus terjadi? Untung aku sudah berpamitan dengan ibu dan ayahku.” Kata Ji A baru tahu dari Tuan Hyun

“Maafkan aku.” Ucap Tuan Hyun. Ji A heran kenapa Tuan Hyun meminta maaf padahal sudah menyelamatkan nyawanya.

“Aku berusaha menghentikan ini, tapi hanya ini yang bisa kulakukan.” Kata Tuan Hyun

“Bagaimana dengan Lee Yeon?” tanya Ji A. Tuan Hyun memberitahu Yeon pergi untuk menghadapi Nenek.

“Apa Dia akan baik-baik saja?” tanya Ji A. Tuan Hyu mengaku tak tahu.

“Sampai hari ini, dia tidak pernah merelakan sesuatu yang sudah dia tekadkan. Yeon juga tahu itu.” Kata Tuan Hyun

“Karena aku, Lee Yeon... Dia mempertaruhkan semua yang dia miliki.” Kata Ji A merasa bersalah. 



Yeon menaruh pedang di meja nenek Yeon dan mengatakan kalau akan  menawarkan nyawanya dan memberi waktu  tiga hari saja. Ia pikir Jika  gagal menangkapnya dalam tiga hari, maka nenek Yeon bisa ambillah nyawanya. Nenek Yeon mengatakan tidak bisa melakukan itu.”

“Dia sudah lepas kendali.” Ucap Nenek Yeon.  Yeon kaget memberitahu kalau punya sisiknya.

“Ini sudah terlambat.” Kata Nenek Yeon. Yeon yakin  bisa menangkapnya dan bisa mengalahkan Imoogi!

“Berapa orang yang akan dia bunuh dalam tiga hari ke depan? Apa nyawa mereka lebih berharga daripada orang yang ingin kau selamatkan?” kata Nenek Yeon.

“Selamatkan dia. Tolong jangan bunuh Ji-ah. Aku akan melakukan apa pun. Aku akan melakukan apa pun untukmu.” Ucap Yeon terlihat sangat frustas.

“Ambil saja pedangmu. Hentikan ini dan lawan aku seperti sikapmu yang sewajarnya!” kata Nenek Yeon. Yeon langsung berlutut memohon.

“Yeon... Andai ini bisa dibatalkan, aku tidak mungkin memulainya.” Kata Nenek Yeon.

“Teganya kau melakukan ini kepadaku.” kata Yeon marah. Nenek Yeon menegaskan kalau kehilangan putra dan suaminya.

“Jangan pikir aku takut kehilanganmu.” Ucap Nenek yeon. Yeon menegkasan kalau Nenek Yeon akan menyesali ini. 




“Kapan semuanya menjadi kacau? Andai tidak bertemu denganku, Lee Yeon masih hidup dengan baik sebagai roh gunung... Ahh... Tidak... Andai aku tidak lahir....” Ucap Ji A sambil menangis.

“Nak, ini bukan salahmu... Kenapa kau menyalahkan diri sendiri dan menyangkal takdirmu?” ucap Tuan Hyun

“Aku merasa semuanya salahku.”kata Ji A. Tuan Hyun menegaskan Makhluk abadi seperti mereka pun sama saja.

“Kita semua membutuhkan kenangan untuk diandalkan. Aku punya kenangan akan putraku yang hilang. Pengantin Siput punya kenangan akan suami penyayangnya. Yeon mengandalkan kenangan tentangmu.” Kata Tuan Hyun

“Imoogi memberitahuku bahwa aku akhirnya akan membunuh Lee Yeon dengan tanganku.” Kata Ji A

“Sekarang, kalian bertarung untuk saling menyelamatkan... Kau dan Yeon.” Ucap Tuan Hyun. 



Yeon terlihat sangat frustasi duduk didepan gedung, berkata kalau Ini jalan buntu. Ia pun akan pergi tapi Nenek yeon keluar dari gedung mengeluh karena pemantiknya tidak berfungsi. Yeon tahu Nenek yeon bilang akan berhenti merokok.

“Aku berusaha keras untuk berhenti merokok. Aku pernah mencoba eundan, koyok nikotin, dan permen karet nikotin. Kini bahkan ada obat untuk itu. Aku melakukan berbagai hal, tapi tidak ada yang berhasil.” Keluh Nenek Yeon akhirnya duduk dibangku taman.

“Apa maksudmu?” ucap Yeon. Nenek Yeon piki Bagaimana jika memberitahu Yeon bahwa ini akan berakhir sama, apa pun upayanya.

“Antara kau dan dia, hanya satu dari kalian yang bisa hidup.” Kata Nenek Yeon. Yeon bertanya apakah Ini harus berakhir dengan cara yang sama?


Rang terbangun dari tidurnya tanpa sadar tubuhnya sudah di penuh stiker., lalu tak sengaja mengingjak maninan dan berteriak kesakitan. Su Ho pun datang menawarkan untuk meniup bagian yang sakit. Rang mengejek Su Ho yang baik sekali.

“Atau kau mau mobil ini?” tanya Su Ho memperlihatka mainannya. Rang tak mau membahasnya lagi.

“Omong-omong, bersihkan hidungmu yang beringus saat ada aku. Aku sangat mudah mual. ... tapi... Sudah berapa lama kau memakai baju itu? Apa Kau mencucinya?”tanya Rang. Su Ho mengelengkan kepala.

“Pergilah ke pasaraya dan belilah baju. Aku sangat sadar akan kebersihan.” Ucap Rang memberikan kartu kreditnya. Su Ho mengikutinya, Rang memberitahu kalau mau ke toilet. Su Ho menunggu didepan pintu.

“Hei... Stiker apa ini? Habislah kau saat aku keluar!” teriak Rang. Tapi Su Ho tersenyum mendengarnya. 


Ibu dan Ayah Ji A duduk ditaman merasa Cuacanya sangat cerah sambil kopi. Ibu Ji A merasa Pohon ini sudah tumbuh besar. Tuan Nam juga merasa Pohon ini tumbuh dengan baik dan bertanya apa yang dipikirkan istrinya seperti tak ceria.

“Entah ke mana kita pergi selagi waktu berlalu.” Ucap Ibu Ji A. Tuan Nam membenarkan kalau mereka hilang dalam jangka panjang.

“Rasanya aneh, bukan? Yang kuingat hanyalah aku tertidur. Aneh karena aku tidak mengalami luka baring dan Ji-ah tampak agak gelisah.” Ucap Ibu Ji A

“Aku teringat legenda Pulau Ieo. Legenda saat nelayantidak sengaja terbawa ke pulau dan saat kembali, 100 tahun telah berlalu.” Ucap Tuan Nam

“Bagaimanapun, aku bersyukur Ji-ah tumbuh dengan baik seperti pohon itu.” Kata Ibu Ji A.

Di dalam mobil, Shin Joo berjaga-jaga tersenyum mendengar percakapan kedua orang tua Ji A. Ia pun melihat cincin yang disimpannya dan tak bisa diberikan pada Yoo Ri. 



Rang makan cornflakes dengan wajah sendu sambil mengeluh kalau Hanya itu makanan yang mereka punya. Su Ho pikir Ini lezat. Rang megaku ingin makan naengmyeon dan memanggil Yoo Ri dengan wajah sedih. Su Ho ingin tahu Kapan dia akan datang

“Aku sedang memikirkan itu, waktu terbaik.” Ucap Rang. Su Ho heran rang yang hanya berpikir

“Saat aku selesai berpikir, Lee Yeon akan kehilangan sesuatu.” Kata Rang. 


Flash Back

Di kedai kopi, Yeon menegaskan sudah 600 tahun berlalu jadi akan mengakhiri pertarungan panjang ini selamanya. Rang bertanya Bagaimana jika Yeon gagal. Yeon menegaskan kalau Itu sebabnya membutuhkan adiknya.

“Jika sesuatu terjadi padaku,maka aku ingin kau mengakhiri ini. Aku ingin kau menjadi senjata terakhirku.” Ucap Yeon

“Aku menolak melakukannya. Aku tidak peduli jika Imoogi mengakhiri dunia atau membunuh wanitamu. Kita punya hal berbeda yang ingin kita lindungi.” Ucap Rang. Yeon mengeluh mendengarnya.

“Lindungi wanita itu. Aku akan menyelamatkan Yu-ri dan menyelamatkanmu.” Ucap Rang. 


“Kenapa kau tersenyum?” tanya Su Ho heran. Rang mengingat kalau baru sadar tidak bisa menjadi anak baik lalu pamit perg.

“Jaga rumah, Geomdung.” Ucap Rang. Su Ho heran dipanggil Geomdung. Rang hanya tersenyum dan berjalan pergi. 


Di restoran Makanan Korea tradisional, Pengantin Siput

Tuan Choi datang dengan penuh semangat. Nyonya Bok heran Tuan choi yang datang saat ini. Tuan Choi mengaku ingin makan samgyetang. Nyonya Bok memastikan kalau Tuan Choi tidak merasa sakit, Tuan Choi pikir itu Tidak mungkin.

“Mungkin tidak terlihat, tapi aku melakukan 200 squat per hari. Apa kau  mau lihat pahaku?” ucap Tuan Choi bangga. Nyonya Bok malu meminta agar menghentikanya dan meminta Tuan Choi untuk duduk.

 


“Tujuh polisi dibawa ke rumah sakit hari ini. Bagaimana dengan Pak Choi?” ucap Jae Hwan berjalan dilorong dengan wajah khawatir.

“Kau melihatnya. Dia baik-baik saja. Aku menyuruhnya ke rumah sakit, tapi dia tidak mau mendengarkanku.”ucap Sae Ron

“Jika Pak Choi baik-baik saja, kita juga akan baik-baik saja, bukan?” kata  Jae Hwan

“Mari pikirkan soal penyuntingan untuk saat ini. Ayolah.” Kata Sae Ron. Jae Hwan menganguk. 


Tuan Choi mulai makan meminta maaf mengganggu Nyonya Bok selama persiapan karena ia mengaku tidak berselera makan pagi ini Tapi makanan ini benar-benar melegakan perutnya. Nyonya Bok pun berbisa tersenyum. Tiba-tiba Tuan Choi meminta Nyonya Bok memegang tanganya.

“Ada apa? Ada masalah?” tanya Nyonya Bok. Tuan Choi ingin tahu apakah demam. Nyonya Bok memeriksa dahi Tuan Choi menjawab  Sama sekali tidak.

“Astaga, kau dingin sekali... Ulurkan tanganmu. Tanganmu juga dingin. Bagaimana bisa suhu tubuh manusia begitu rendah?” ucap Nyonya Bok dan kaget melihat ada bintik merah.

Tuan Choi tiba-tiba merasa tersedak sesuatu dan Nyonya Bok mencoba untuk mengeluarkanya. Tuan Choi langsung mengeluarkan telur dari mulutnya. Nyonya Bok kaget kalau itu adalah telur ular. 


Jae Hwan dan Sae Ron masuk ruang editing, melihat pria yang sedang tertidur. Sae Ron menyuruh Jae Hwan membangunkanya. Jae Hwan menyuruh bangun tapi tubuh si pria sudah lemas dan banyak bintik merah. Ia pu memeriks denyut nadi lalu memastikan kalau pria itu sudah meninggal.

“Cepat telepon ambulans. Aku akan memanggil seseorang.” Kata Sae Ron lalu bergegas keluar ruangan, tapi Ia sangat shock karena melihat melihat semua pegawai tak sadarkan diri. 


Ji A kaget mengetahui kalau Semua orang di lantaiyang sama dengan mereka itu Meninggal. Ia pun menyalakan TV dilayar proyektor, berita pun disiarkan.

 [Berita terkini. Banyak orang di Seoul meninggal karena alasan yang tidak diketahui. Baru dua hari sejak kasus pertama di rumah sakit di Geumran. Pemerintah menganggap itu penyakit yang tidak diketahui dengan angka kematian tinggi yang sangat menular.]

 [Ada bercak merah di sekujur tubuh orang yang mati. Menurut laporan autopsi kasus pertama, organnya rusak parah seolah mereka diserang hewan.]

Ji A terlihat shock dengan Tuan Hyun karena Immogi seperti wabah yang mematikan. 


Yoo Ri masuk rumah Tuan Kwon yang cukup besar, Immogi menuruni tangga meminta pendapat Yoo Ri tentang penampilanya.  Yoo Ri menjawab Payah dan itu bukan seleranya. Immogi pikir ini normal. Yoo Ri pun bertanya Immogi ingin pergi kemana.

“Minum teh... Kau juga boleh mengunjungi seseorang.” Kata Immogi. Yoo Ri bingung Mengunjungi siapa.

“Kekasihmu... Temui dia.” Kata Immogi. Yoo Ri tak percaya Immogi memperbolekanya pergi. 


Shin Joo menatap cincinya dan tersenyum bahagia melihat Yoo Ri yang menelp lalu menanyakan keadaanya. Yoo Ri mengajak bertemu. Shin Joo kaget apakah harus sekarang sambil melihat kearah rumah Ji A dan ingin tahu ingin bertemu dimana. Yoo Ri pikir akan mendatanginya. 


Ji A frustasi dengan sosok Immogi di dalam tubuhnya. Ia membawa pisau menyuruhnya keluar karena tahu kalau Immogi bersembunyi di dalam dirinya. Tapi Immogi tak mau keluar. Ji A menyuruhnya segera keluar dan akan melukai tanganya.

“Jika tidak keluar dalam hitungan tiga, maka aku akan bunuh diri... Satu, dua, tiga.” Ucap Ji A sudah siap menusuk lehernya.


“Dasar jalang gila. Beraninya kau menyuruhku keluar padahal kau hanya cangkang.” Ucap Immogi yang terlihat ada sisik dibagian leher.

“Cangkang? Kau tinggal di tubuh orang lain tanpa membayar sewa, tapi bersikap seperti pemilik” ucap Ji A yang melihat Immogi ada dicermin.

“Pemiliknya akan segera berubah. Dalam satu atau dua hari, tubuhmu akan sepenuhnya menjadi milikku.”Ucap Immogi

“Itu lebih lama dari dugaanku.”  Kenapa? Kelereng rubah sudah lama menghilang.” Kata  Ji A

“Itu akibatnya. Aku tidur terlalu lama karena diikat dengan kelereng. Berpamitanlah lebih awal. Setelah pemiliknya berganti, orang yang akan terjebak di tubuh ini dan tertidur selamanya adalah kau.” Ucap Immogi 


“Artinya sampai saat itu, kau tidak akan stabil. Sial. Apa yang bisa dilakukan oleh orang sepertimu?” kata Immogi mengejk.

“Bagaimana jika aku mati sebelum itu?” kata Ji A. Immogi pikir Ji A tidak bisa melakukan itu.

“Manusia bisa melakukan apa pun jika ingin melindungi sesuatu. Mereka bisa menjadi jalang gila.” Kata Ji A memegang pisau. 


Yeon mengemudikan mobilnya dan mulai melihat orang-orang yang tiba-tiba mati dan yang lainya meminta tolong.  Ji A terus berbicara dengan Immogi. Immogi mengejek Ji A itu wanita jalang. Ji A pikir ini sudah selesai dan memperingatkan Immogi Jangan bertingkah dan masuklah.

“Aku hanya ingin memastikan itu... Dengar. Aku akan membunuh Lee Yeon dengan tubuhmu. Karena Lee Yeon tidak mungkin merelakanmu.” Ucap Immogi

“Jika punya waktu untuk mengkhawatirkan hubungan orang lain, kau harus mengurus tubuhmu yang lain. Sepertinya dia tidak bisa melupakan rasa sakit karena ditolak dan ingin menyeretmu dan aku ke Neraka.” Ucap Ji A.

“Tidak mungkin.” Kata Immogi. Ji A menegaskan kalau Daftarnya sudah berubah.

“Kau pikir dia tidak tahu Nenek Sungai Styx akan melakukan ini saat dia membunuh orang tidak bersalah?” kata Ji A.

Tuan Hyun mengetuk pintu bertanya apakah Ji A ada didalam. Ji A mengatakan akan segera keluar lalu Imoogi pun menghilang. 



Shin Joo berlari menemui Yoo Ri yang menunggu ditaman lalu memastikan tak ada yang terluka. Yoo Ri mengaku tidak terluka. Shin Joo pun mengucap syukur. Yoo Ri mengaku sangat khawatir hingga berpikir akan mati.

“Bagaimana kau bisa kemari? Kau kabur? Kenapa kau tidak bilang itu karena Imoogi?” kata Shin Joo

“Bagaimana dengan Lee Rang?” tanya Yoo Ri. Shin Joo memberitahu Lee Rang siuman dengan selamat.

“Dia tidak mengatakannya, tapi sepertinya dia sangat mencemaskanmu.”kata Shin Joo. Yoo Ri pun mengucap syukur.

“Ayo. Jika mendengar kau kembali dengan selamat, dia pasti akan...” kata Shin Joo mengajak pergi. Yoo Ri mengaku tak bisa. Shin Joo bingung mendengarnya.

“Aku tidak bisa pergi... Aku tidak bisa pergi, begitu juga kau.” Kata Yoo Ri menahanya. Shin Joo tak mengerti apa maksudnya.

“Aku memegangmu dan mengulur waktu.” Kata Yoo Ri. Shin Joo pun merasakan sesuatu dan akan pergi. Yoo Ri langsung menghadangnya.

“Lepaskan aku.” Ucap Shin Joo. Yoo Ri menegaskan kalau mereka tidak bisa pergi.

Flash Back

Immogi memberitahu Yoo Ri kalau boleh mengunjungi seseorang. Yaitu pacarnya. Yoo Ri pun heran ingin tahu alasan harus menurutinya. Immogi mengatakan Karena jika Shin-ju muncul di depannya maka ia akan mati.

Yoo Ri menatap Shin Joo tak ingin melepaskan karena takut akan mati oleh Immogi. Shin Joo pun terdiam terlihat sangat marah dan kebingungan.

Bersambung ke part 2


Cek My Wattpad...   First Love

Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

 

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar