Sabtu, 07 November 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 15 Part 2

Hye Jin berjalan pulang dengan wajah binggung karena tak biasa pulang seperti pegawai kantor, lalu melihat sosok Shin Hyuk masuk ke dalam warung tenda. Dengan sedikit berlari masuk dan berteriak memanggil Shin Hyuk tapi ternyata hanya ada dua pasangan pria dan wanita yang sedang makan bersama, akhirnya keluar dari warung dengan wajah sedih.
“Mirip sekali dengan Reporter Kim. Aku kira tadi Reporter Kim, tapi pasti bukan yah?” ucap Hye Jin dengan wajah binggung lalu berjalan kembali dengan wajah sedih. Seorang pria dengan mengunakan topi menarik tanganya dari belakang.
“Hai, Jackson. Bagaimana kabarmu?” sapa Shin Hyuk dengan tampilan lebih rapih dan mengunakan topi. Hye Jin terdiam melihat Shin Hyuk.
“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau hilang tanpa bilang apa-apa? Kau sangat tega,  Kenapa cuma aku yang tidak kau  ucapakan kata pamit?” keluh Hye Jin
“Karena itu aku menemuimu sekarang.” ucap Shin Hyuk
“Kau tahu semua orang khawatir? Sekarang Kau tinggal dimana? Apa Sudah makan? Kau sunggung baik-baik saja? Kenapa pakai acara hilang segala...” ucap Hye Jin bertubi-tubi dengan nada panik
Shin Hyuk langsung menarik pinggang Hye Jin dan memeluknya, Hye Jin terkejut menerima pelukan dari seniornya, lalu Shin Hyuk seperti sengaja membisikan kata pamit, Hye Jin pun tersenyum mendengarnya. Shin Hyuk melepaskan pelukanya dan berjalan mundur dengan wajah tersenyum.
Kenangan dengan Shin Hyuk, kembali teringat ketika pertama kali bertemu di zebra cross, Shin Hyuk menawari kimbap yang sudah dimakanya. Lalu Hye Jin yang berpikir giginya copot jadi menutup dengan mulutnya, Shin Hyuk melakukan hal yang sama saat ada di cafe dengan menaruh coklat berpura-pura giginya copot.

Hye Jin terus melihat punggung Shin Hyuk yang berjalan, teringat kejahilan Seniornya yang sengaja menaruh mie saat membenturkan kepala di meja. Sengaja meniupkan balon permen karet didepan kamera, mengejarinya kalau menuruni tangga dengan satu kaki maka keinginanya terkabul.
Shin Hyuk sengaja mengendarai motor yang bersebelahan dengan bus yang dinaiki Hye Jin. Mengagetinya saat masuk ke dalam ruangan, menemaninya saat minum sendirian, dan selalu meminta disuapi kimchi lobak ke mulutnya.
Hye Jin benar-benar merasa terharu dengan semua kenangan bersama Shin Hyuk,  lalu berjalan dengan arah berlawanan. 

Ha Ri sedang menghitung jumlah tabungan yang semakin berkurang tapi tak ada lagi yang bisa dijual. Hye Jin menunjuk salah satu tas dan menyuruh Ha Ri menjualnya saja. Ha Ri menolak karena tak itu dibeli dengan uangnya sendiri.
“Aku senang kita bisa bersama saat akhir pekan. Kalau kau masih di tim editing pasti kerja di akhir pekan. Sekarang tak perlu lembur. Kau senang, kan?” komentar Ha Ri, Hye Jin berpura-pura mengaku senang padahal dari raut wajahnya terlihat sedikit sedih.
“Tapi Bagaimana cara pengajuan pinjaman pendidikan? Aku mau kuliah S2 manajemen hotel. Seperti yang kau bilang, aku suka pekerjaan itu. Karena itu aku akan belajar sungguh-sungguh kali ini.” cerita Ha Ri bersemangat. Hye Jin pun bahagia dan mendukung semua keputusan temanya. 

Hye Jin baru kembali ke kamar melihat penulis buku dongeng yang diwawancarinya menelp. Penulis Lee dengan ramah menyapa Hye Jin menanyakan kabarnya, Hye Jin mengatakan sangat baik.
“Aku menelpon untuk berterima kasih atas artikel yang reporter tulis.” ucap Penulis Lee
“Ah, saya bukan reporter, tapi Saya dipinjamkan dari tim manajemen dan sekarang sudah kembali lagi.” cerita Hye Jin
“Oh, benarkah? Kalau ada waktu, main-main kesini.” pesan Penulis Lee. Hye Jin berjanji akan datang, sebelum menutup telpnya, Penulis Lee kembali berbicara di telp. 

Sung Joon menelp Hye Jin menanyakan keberadanya berpikir sedang dirumah. Hye Jin dengan senyum bahagia memberitahu sedang di Ha-il untuk bertemu penulis buku anak-anak yang pernah diwawancarainya. Sung Joon menawarkan diri untuk mengantar, tapi Hye Jin menolaknya. Sung Joon pun mengajak Hye Jin makan malam bersama setelah itu. Hye Jin langsung setuju.
Hye Jin diantar penulis Lee untuk bertemu dengan penulis buku dongeng yang sedang berdiskusi, dengan memperkenalkan mereka adalah rekan kerjanya. Salah satu teman Penulis Lee mengenal Hye Jin adalah reporter yang menuliskan artikel tentang dongeng. Hye Jin mengatakan dirinya bukan seorang reporter. 

Keduanya keluar dari gedung, Hye Jin memuji tempat kerja penulis itu sangat indah dan berpikir semua penulis memiliki tempat seperti itu. Penulis Lee menceritkan mereka baru menempati gedung itu belum lama.
“Awalnya kami agak goyah saat baru mulai. Sekarang sudah setahun, mereka terjebak di sini, tak bisa kemana-mana.” cerita penulis Lee,
“Wow, sepertinya menyenangkan! Aku iri! Aku harap anda menikmatinya!” ungkap Hye Jin
“Dari pada iri, bagaimana kalau kau coba? Aku dengar kau bermimpi jadi penulis buku anak-anak. Dan Aku sedih mendengar kau tak bisa menulis lagi.” ungkap Penulis Lee
Hye Jin merasa sudah kembali ke tempatnya semula. Penulis Lee pikir tempat awalanya itu bisa  menjadi tempat membentuk dirinya, jadi mungkin bukan tempat yang dinginkan, dan kebetulan sedang mencari penulis muda, lalu meminta Hye Jin mempertimbangkan penawarannya. Hye Jin menceritakan akan pergi ke Amerika dan segera menikah. Penulis Lee langsung memberikan selamat padanya. 

Hye Jin dengan penuh semangat menceritakan Kantornya indah sekali dan luar biasa, ketika masuk ke dalamnya hatinya terasa sangat hangat. Sung Joon tersenyum mendengarnya mengangguk mengerti. Hye Jin pikir karena semua penulis buku anak-anak jadi sikap mereka baik dan ramah.
Sung Joon memberhentikan sejenak cerita Hye Jin dengan menyuruhnya untuk minum karena bisa kehabisan nafas, saking terlalu mengebu-gebunya. Hye Jin meminum dengan cepat dan kembali menceritakan mereka duduk di meja bundar membicarakan cerita.

Makanan sushi disediakan oleh mereka, Hye Jin menikmatinya dengan wajah bahagia kembali menceritakan tentang pengalamanya bertemu dengan penulis Lee dan teman-temanya.
“Mimpi penulis Lee adalah mengumpulkan para penulis dengan pemikiran yang sama.Lalu membuat cerita yang indah bersama-sama. Menyenangkan bukan?” ungkap Hye Jin bangga.
“Kau tak ingin melakukannya? Saat ini kau kelihatan bersemangat sekali. Lagipula mimpimu memang jadi penulis buku anak.” komentar Sung Joon,
“Aku kan mau pergi denganmu... Ah Yah.. kita mau bicara tentang les bahasa inggris. Apa yang harus kulakukan?” tanya Hye Jin mengalihkan pembicaraan, Sung Joon memberikan tumpukan kerta dan meminta Hye Jin memilih salah satunya. 

Hye Jin merasa kurang yakin bisa berbahasa inggris dengan lancar hanya dalam setahun, lalu keluar kamar melihat Ha Ri yang sudah bangun pagi di hari minggu. Ha Ri merasa sekarang setiap hari itu hari minggu lalu meminta Hye Jin mengeteskan dengan pertanyaan yang akan keluar saat wawancara.
Pertama-tama Hye Jin menanyakan tentang pemasaran, lalu jenis-jenis promosi. Ha Ri menjawan dengan lihai sesuai dengan yang diingatnya. Ha Ri memuji temanya yang sangat luar biasa. Ha Ri juga tak percaya ternyata belajar itu sangat menyenangkan.
“Ha Ri, kau sekarang kelihatan cantik. Bukan wajahmu, tapi ekspresimu. Kau terlihat gembira.” komentar Hye Jin melihat Ha Ri yang berbeda.
“Begitukah? Yah, akhir-akhir ini aku memang gembira.” ungkap Ha Ri yang sangat bersemangat apabila berbicara yang berhubungan dengan hotel. 

Hye Jin menatap wajahnya di cermin, merasa dirinya yang tak cantik dan tidak terlihat gembira. Sebelumnya teringat saat makan malam, dengan penuh semangat menceritakan semua penulia membuat cerita yang indah bersama-sama.
“Kau juga ingin melakukannya? Barusan kau terlihat bersemangatdan gembira.” komentar Sung Joon saat itu.
Hye Jin kembali ke kamarnya dengan wajah binggung lalu melihat buku dongeng yang diberikan penulis Lee tertulis pesan dibagian depan “Kejarlah mimpimu, Hye Jin... -Lee Yi Eun.” lalu perkataan penulis Lee yang kalau tempatnya sekarang dianggap bukan tempat yang diinginkanya. Pesan dari Sung Joon masuk yang mengajak makan malam besok dirumahnya besok. 

Sung Joon menyiapkan dua buah cincin dalam kotak dengan wajah bahagia, lalu membuka pintu rumahnya mengajak Hye Jin yang sudah datang langsung masuk. Hye Jin tiba-tiba langsung mengajak Sung Joon menikah, Sung Joon yang mendengarnya menjerit kaget.
“Yah... maksudku kita harus menikah. Bagaimanapun juga kita nanti akan menikah. Iya kan, kita harus melakukannya.Aku ingin, tapi...” ucap Hye Jin terbata-bata lalu mengeluarkan cincin dalam kantung dan dipakai pada tanganya sendiri dan juga Sung Joon.
“Sekarang aku sudah melamarmu, kan? Tapi, menikahnya tidak sekarang.” ucap Hye Jin masih dengan terbata-bata
“Kau minta waktu setahun, kan?” komentar Sung Joon, Hye Jin melonggo karena Sung Joon sudah mengetahui niatnya menunda pernikahan. Sung Joon memberikan senyumanya. 

Hye Jin duduk disofa dengan terbata-bata ingin menjelaskan alasan menundanya. Sung Joon dengan menopang dagu sudah mengetahui kalau Hye Jin ingin mencoba pekerjaan sebagai penulis cerita anak-anak. Hye Jin kembali menjerit kaget karena Sung Joon sudah mengetahui alasanya. Sung Joon mengucapkan terimakasih karena Hye Jin sudah mau jujur padanya.
“Aku tahu kau sangat menginginkannya dan khawatir kau akan melepasnya karena aku. Kalau kau memilih diam dan pergi ke Amerika denganku, kau pasti akan menyesalinya,  maka akan jadi penyesalan seumur hidupmu. Dan aku tidak akan pernah tahu, lalu aku akan merasa bersalah ketika mengetahuinya kemudian. Kau jujur karena percaya padaku, kan?” ungkap Sung Joon.
“Aku ingin terlihat cantik. Saat seseorang melakukan hal yang diinginkannya. Mereka akan terlihat sangat cantik. Aku juga ingin terlihat cantik dengan melakukan hal yang kuinginkan. Bukan untuk orang lain,Tapi untuk diriku sendiri.” jelas Hye Jin

Sung Joon membenarkan pilihan itu. Hye Jin dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terimakasih dan meminta maaf. Sung Joon menyadari kalau ada yang salah karena sebenarnya kalau ia yang akan melamar. Hye Jin tak percaya langsung bersemangat ingin tahu rencananya. Sung Joon ingin melupakan saja karena sudah terlambat, lalu mengajaknya menyusun puzzle saja. 
Hye Jin makin penasaran ingin tahu rencana Sung Joon yang ingin melamarnya, Sung Joon menaruh jari telunjukanya didepan bibirnya agar Hye Jin diam dan mulai menyusun puzzle. Hye Jin cemberut sambil menyusun puzzle kembali mencari tahu rencana Sung Joon melamarnya.
Sung Joon tetap menyuruh Hye Jin untuk melupakan dan kebinggungan mencari bagian puzzle yang hilang. Hye Jin merengek karena Sung Joon tak memberitahu rencana melamarnya. Sung Joon kembali menaruh jari telunjuk didepan bibirnya, agar Hye Jin diam, lalu menyuruh mencari bagian puzzle yang hilang di sebelah kanannya.

Hye Jin dengan wajah cemberut mencarinya, diam-diam Sung Joon langsung menaruh cincin diatas bagian puzzle yang kosong. Hye Jin menyadari ada cincin diatas puzzle dan matanya langsung berkaca-kaca. Sung Joon berpura-pura terkejut, mengatakan kalau itu rencananya melamar Hye Jin.
“Dan juga,Aku berencana mengatakan hal ini padamu.  Sebelum bertemu denganmu, aku tidak tahu, bisa hidup bahagia di dunia ini. Aku ingin kau merasa bahagia, Seumur hidupmu. Hye Jin, Maukah kau... Menikah denganku 1 tahun lagi?” ucap Sung Joon dengan masangkan cincin dijari manis.

Hye Jin tak bisa menahan haru menganggukan kepalanya lalu meminta Sung Joon memberikan tanganya dan memasangkan di atas cincin pemberian darinya, lalu tersenyum mereka memiliki dua cincin sekarang. Sung Joon pikir menyenangkan memiliki dua cincin lalu mengecup tangan Hye Jin dan Hye Jin juga membalas dengan mengecupnya, keduanya terlihat sama-sama bahagia. 

Hye Jin berdiri dengan wajah gelisah melihat Sung Joon masih ada didalam kamarnya, lalu pamit pulang saat Sung Joon membawa jaketnya. Sung Joon menahan Hye Jin bertanya apakah ia benar-benar ingin pulang. Hye Jin terlihat gugup mengaku sudah larut malam dan memiliki banyak cucian yang menumpuk dirumah. Sung Joon tersenyum mengerti dan akan mengantarnya.
Sung Joon sampai didepan pintu apartement teringat dengan kunci mobilnya yang tertinggal dan akan mengambilnya di rumah, jadi meminta Hye Jin untuk tinggal. Sebuah mobil taksi datang menurunikan penghuni apartement, Hye Jin berpikir Sung Joon tak perlu mengantarnya karena akan naik taksi saja dan berjanji akan menelpnya. Sung Joon pun melambaikan tangan saat Hye Jin menaiki taksi. 

Sung Joon tersenyum melihat dua cincin yang ada dijari manisnya, lalu terdengar bunyi bel sambil membuka pintu bertanya siapa yang datang. Hye Jin sudah berdiri kembali didepan rumahnya dengan wajah tersenyum dan nafas terengah-engah. Sung Joon terlihat binggung melihat Hye Jin kembali datang
Dengan wajah tertunduk dan terbata-bata, Hye Jin mengaku sudah tak memiliki tumpukan cucian dirumah dan baju kerjanya sudah cuci semuanya. Sung Joon tersenyum lalu menarik Hye Jin ke dalam rumah lalu mendorongnya ke dinding dan menciumnya. 

Ha Ri membantu Hye Jin merapikan pakaiannya, menyuruhnya untuk tak perlu tinggal ditempat itu  dengan pergi dari rumah saja. Hye Jin menjelaskan selama proses pengerjaan buku sampai selesai, penulis akan tinggal ditempat itu.
“Sampai kemarin aku tidak percaya kau akan pergi. Setelah kau bersiap begini aku baru percaya. Selain kepergianku ke Jepang, saat ini...Adalah pertama kalinya kita berpisah.” ungkap Ha Ri menangis. Hye Jin pun melihat temanya menangis, tapi Ha Ri berpura-pura tak menangis, tapi akhirnya Hye Jin yang ikut menangis karena melihat Hye Jin yang menangis.
“Ini lebih dekat daripada aku ke Amerika, kenapa harus menangis? Seperti Baru juga 2 jam saja kau tahu aku akan pergi.” ucap Hye Jin ikut menangis
“Tapi sudah 10 tahun kita hidup bersama Dan sekarang kita harus berpisah seperti ini.” kata Ha Ri menangis histeris
“Kenapa menangis cuma gara-gara aku pindah.” jerit Hye Jin lalu keduanya sama-sama mengeluarkan dengan tissue dan keduanya saling berpelukan bersama. 

Setelah itu keduanya membuat pesta perpisahan demi kelancaran karir Hye Jin dan juga S2 Ha Ri, mereka melakukan love shot dan menari-nari mengikuti irama musik. Ha Ri berbaring diatas sofa sementara Hye Jin duduk dibawah mengingat saat pertama kali datang, semua panci dan peralatan lainya langsung rusak.
Ha Ri juga teringat saat terjebak dalam kamar mandi darn terlihat penampakan dengan rambut yang sangat panjang. Hye Jin mengingat saat itu merasakan ketakutan berharap tak ada lagi kejadian seperti itu. Ha Ri memeluk Hye Jin untuk tak pergi. Hye Jin menolak karena tetap akan pergi. 

Sambil bergendangan tangan, Hye Jin menunjuk sebuah gedung yang menjadi kantor penulis dongeng. Sung Joon melihat kantor yang bagus dan berpikir akan tinggal ditempat itu saja, jadi tak perlu kembali ke Amerika.
“Jam berapa kau berangkat besok? Penerbangan jam berapa?” tanya Hye Jin.
“Hye Jin. Bagaimana kalau kita tidak usah bertemu dan berpisah...di Bandara?” pinta Sung Joon.
“Kenapa? Aku harus mengantarmu.” pikir Hye Jin merasa perlu mengantarnya.
“Kita tidak akan bertemu selama setahun, Aku takut tidak akan bisa menahannya. Jadi Aku pura-pura kuat saat bilang setuju, tetapi saat melihatmu ada dibandara,Aku takut akan memohon padamu untuk ikut bersamaku sambil menangis.” ungkap Sung Joon.

Hye Jin pikir mereka akan berpisah sekarang, Sung Joon pun menyuruh Hye Jin bersiap-siap karena bisa saja tiba-tiba datang menemuinya lalu memeluk dengan erat, berjanji akan menelpnya 10 kali sehari dan sering mengirimnya email setiap hari, seperti dulu saat mereka saling mengirimkan surat. Hye Jin menahan tangisnya berjanji akan melakukan itu.
Sung Joon melepaskan pelukanya, menyuruh Hye Jin untuk masuk. Hye Jin meminta Sung Joon pergi lebih dulu karena ingin melihatnya saat pergi. Sung Joon perlahan berjalan mundur dan melepaskan tangan Hye Jin dan keduanya saling melambaikan tangan.
Hye Jin pun berjalan masuk saat Sung Joon sudah berjalan semakin jauh, tiba-tiba Sung Joon berlari menarik tangan Hye Jin kembali seperti tak ingin meninggalkanya, sebuah kalimat keluar dari mulutnya, “aku mencintaimu” Hye Jin tersenyum mengungkapkan hal yang sama sangat mencintai Sung Joon. Lalu Sung Joon memberikan kecupan dikeningnya. 

Pagi yang cerah, seseorang mengayuh sepedanya, Hye Jin kembali dengan rambut keritingnya dengan pipi memerah tapi terlihat wajah terlihat sangat bahagia, mengayuh sepeda dengan cepat. Penulis Lee dengan penulis lainnya, menanyakan kemana Hye Jin akan pergi. Hye Jin dengan senyuman bahagia mengatakan Ada seseorang yang datang dan akan segera kembali, terlihat perubahan dengan penampilan lalu tapi wajahnya terlihat sangat cantik.
bersambung ke episode 16 

PS: episode 16 baru tayang minggu depan, ternyata ga sekaligus 3 episode minggu ini kaya drama SBS kalo ketunda. ^_^  

1 komentar:

  1. mbak dyah bagus banget sinopsisnya ya, bahasanya ringan, enak dibaca. :D

    BalasHapus