Kamis, 05 November 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 14 Part 1

“Setelah berhasil dengan ultah 20th dan menyelamatkan The Most, aku akan melamarmu.Aku akan melakukan apapun agar berhasil dan pasti akan melakukannya.” janji Sung Joon. Hye Jin membalikan badanya,menatap Sung Joon
“Bagiku, selalu ada kenangan akan perasaan seperti kehilanganmu. Selama 15 tahun aku merindukanmu dan sekarang aku menemukanmu setelah 15 tahun. Aku tak mau kehilangan kau lagi. Mulai sekarang, 15 thn ke depan, dan 15 thn ke depannya lagi Dan jika aku diberi waktu lebih, aku ingin menghabiskannya denganmu.” ungkap Sung Joon, Hye Jin sedikit menghela nafas seperti merasakan dadanya aka meledak mendengar pengakuan Sung Joon.

Sung Joon sadar kata-katanya itu membuat Hye Jin kaget, tapi dirinya juga mengaku sangat gugup saat mengungkapkanya.
“Sejak lahir, ini pertama kalinya aku begitu yakin akan sesuatu, makanya aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku. Tak ada lagi alasan bagiku untuk ragu.” ucap Sung Joon lalu memakaikan penuh kepala dari jaket Hye Jin agar tak dingin
“Aku sungguh berharap kau akan berhasil. Seperti katamu, menghidupkan kembali The Most... Aku juga berharap kau berhasil.”ucap Hye Jin, Sung Joon menarik penutup kepala Hye Jin dan menciumnya. 

Shin Hyuk berbicara dengan Direktur Shin ditelp kalau tanggal 7 November akan bertemu,lalu Direktur Shin menanyakan keadaan Shin Hyuk sekarang, karena sebelumnya mereka sudah berhasil mendapatkan Leonard Kim, wajah Shin Hyuk langsung berubah.
Sung Joon kembali ke kantornya memeriksa ponselnya yang tertinggal, matanya langsung melotot kaget membaca pesan yang masuk.
“Hallo, ini manajer pribadi Leonard Kim.Aku minta maaf karena wawancara dengan The Most telah dibatalkan karena alasan yang tak bisa dihindari.Aku minta maaf.”
Ia langsung menelp manager Leonard Kim untuk mengetahui lebih jelas, kepalanya langsung sakit mengetahui wawancara terpaksa dibatalkan. Shin Hyuk mengemudikan mobil sportnya sambil mengingat pembicaraan dengan Direktur Shin “Akhir-akhir ini, gosip aneh tentang Leonard Kim menyebar tentang pengunaan ganja.”

Shin Hyuk datang ke kantor menemui Sung Joon yang duduk dengan lemas bertanya apakah sudah mengecek ke pihak Leonard Kim tentang gosip itu. Sung Joon dengan tatapan kosong mengatakan akan diungkapkan pada pers minggu depan jadi Mustahil untuk wawancara.
“Apakah ini kesempatan terakhir kita?” tanya Shin Hyuk ikut duduk dengan nafas terengah-engah. Sung Joon benar-benar tak bisa berkata-kata lagi wajahnya benar-benar lemas. 

Joon Woo mengartikan bahwa tak ada wawancara utama untuk 12 halaman sekarang. Semua benar-benar gelisah memikirkanya, Ah Reum mengingatkan apabila mereka tak meraih peringkat satu maka mereka semua akan berhenti karena Most dibubarkan. Poong Ho mengeluh keadaan yang membuatnya pusing.
“Lalu, kenapa kita tak wawancara Choi Min Jung daripada Leonard Kim? Dia mulai merambah pasar Amerika.” saran Joo Young
“Sudah kucari tahu, tapi jadwalnya tak cocok karena dia kerja di luar negeri.”jelas Sung Joon yang ikut berunding didepan meja timnya.
“Bagaimana dengan Go Sung Jin, Perancang termuda di New York” saran Joon Woo bersemangat
“Kita pikir itu bagus tapi ceritanya cukup buruk, Jadi, bukan itu yang kita butuhkan sekarang.”jelas Shin Hyuk
“Tapi mustahil, kalau bernegosiasi dengan orang-orang kelas atas? Kita malah mengumumkan akan mewawancarai Leonard Kim, sekarang siapa yang mau terima, saat tahu bahwa mereka hanyalah pengganti?” jelas Han Sul khawatir
“Jika kita tak bisa temukan penggantinya, bukankah kita akhirnya menerbitkan edisi spesial Ultah 20 thn tanpa wawancara?” komentar Sun Min

Eun Young takut mereka akan benar-benar dihentikan, Poong Ho sambil memegang buku karya Ten menyarankan untuk mewawancarainya. Semua terlihat kaget, Poong Ho menjelaskan Baru-baru ini terungkap bahwa penulis terkenal dunia Ten adalah  orang Korea dan buku berjudul "Memory" sukses besar, menurutnya tak ada yang lebih hebat dibanding penulis itu.
“Tapi Maukah seseorang yang selama ini bersembunyi dengan baik, diwawancarai, bahkan difoto?” tanya Joo Young seperti tak yakin
“Tidak. Jika orang itu selevel dengan Ten, kita tak perlu foto apapun. Ada kemungkinan bahwa wawancaranya itu sendiri akan jadi gosip panas meski tanpa foto. Bisa jadi itulah kartu yang paling kita butuhkan daripada hanya obrolan biasa.” jelas Sung Joon yakin dengan ide Poong Ho
“Yah, mengagumkan jika mereka mau terima.” ucap Poong Ho berharap, Yi Kyung merasa pasti itu tak mungkin.
“Entah mereka mau atau tidak, aku akan cari tahu dari penerbitnya. Sekarang, cari calon yang lain dengan potensi besar.” perintah Sung Joon lalu kembali keruanganya. Joo Young memerintahkan semua untuk mengunakan semua koneksi apapun agar bisa menemukan petunjuk tentang Ten. Nyonya Kim mendengar semua timnya berusaha mencari siapa penulis Ten dari balkon ruanganya. 

“Kami juga tidak tahu tentang informasi pribadinya, bahkan Kami juga  baru tahu dia orang Korea kali ini.”ucap penerbit buku Ten
“Lalu, bagaimana kalian berkomunikasi dengan Ten?”tanya Sung Joon binggung
Pihak penerbit menceritakan hanya menerima naskah via email, lalu menerjemahkan dan menerbitkan, jadi hanya tahu alamat emailnya, tapi tak bisa mengungkapkannya langsung. Sung Joon pikir mereka bisa mengirimkan permohonan resmi untuk wawancara  lalu dikirim via email
“Kami bisa menyampaikannya via email tapi jangan terlalu berharap. Mereka takkan melakukannya.” jelas pihak penerbit
“Tapi tetap saja, tolong sampaikan via email dan segera hubungi aku jika kalian menerima balasannya.” pinta Sung Joon berharap dengan memberikan kartu namanya. Pihak penerbit pun mengerti.

Hye Jin baru keluar dari ruangan, Sung Joon memanggilnya karena melihat baru saja sang pacar dari tim Art. Hye Jin bertanya apakah suskes bertemu dengan penerbit buku Ten, Sung Joon pikir kesempatan mereka memang tak besar tapi sebagai awalnya sebaiknya hanya bisa menunggu.
Tiba-tiba Hye Jin berdiri tepat didepan Sung Joon dengan mencondongkan wajahnya. Sung Joon binggung melihat sikap Hye Jin tiba-tiba berdiri sangat dekat.
“Katamu kau akan semangat lagi jika menatapku. Tataplah hingga kelubuk hatimu, sekarang Kau bisa tatap aku hingga 100 kali.” ucap Hye Jin, Sung Joon bisa tersenyum sumringah. Hye Jin meminta Sun Joon tak perlu khawatir karena yakin Pasti ada solusinya.
“Edisi spesial Ultah 20thn akan terbit sebagaimana mestinya, kan?” tanya Sung Joon seperti kurang yakin.
“Tentu! Artikel siapa dulu yang diterbitkan di edisi minggu depan?” ucap Hye Jin bangga karena artikelnya akan terbit. Sung Joon kembali tersenyum, lalu mengenggam tangan Hye Jin dengan wajah bahagia. 

Han Sul langsung tertunduk ketika melihat Joon Woo yang datang mendekatinya. Joon Woo dengan wajah marah bertanya alasan Han Sul menghindar darinya. Han Sul berpura-pura tak tahu kapan bersikap seperti itu.
“Kau tidak mengangkat telfonku dari akhir pekan kemarin dan Akhir-akhir ini sikapmu aneh.” jelas Joon Woo
“Pikirkan kembali hubungan kita.... Yah, pikirkanlah lagi.” ucap Han Sul lalu buru-buru pergi. Joon Woo binggung berteriak memanggil Han Sul yang pergi begitu saja dan tubuhnya langsung lemas dengan bersandar di dinding.

Ha Ri menelp Hye Jin berpikir mereka bisa makan malam bersama, tapi ternyata Hye Jin akan pulang telat. Ia langsung terdiam melihat sosok pria yang sudah berdiri didepan rumahnya, Sang Ayah dengan pakaian rapihnya sudah menunggu sang anak.
Keduanya duduk di halaman cafe sambil meminum teh, Ayahnya sudah tahu sang anak berhenti kerja di hotel tapi tak memberitahunya, ia ingin tahu alasannya, berpikir Ha Ri meras lelah.
“Jika kau lelah dengan hotelnya, apa sebaiknya Ayah carikan tempat lain?” saran ayahnya.
“Tidak.... Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Aku ingin tahu apa yang bisa kulakukan sendiri dan sampai mana aku bisa melakukannya.” jelas Ha Ri.

Ponsel ayahnya berdering, Sang ayah menerima telp dari istrinya  mengatakan akan pulang dan makan malam, lalu memberitahu kalau sedang bertemu dengan anaknya karena Ha Ri ingin memberitahuku sesuatu. Ha Ri tersenyum mendengar sang ayah tak menutupi pertemuanya dengan ibu tirinya
“Ayah akan bantu kapanpun kau butuh, jadi mintalah pada Ayah kapanpun saat kau kesulitan.” ucap ayahnya.
“Takkan ada lagi yang seperti itu. Bahkan jika aku minta bantuan Ayah saat rapuh, jangan pernah bantu aku! Itu lebih membantuku.” kata Ha Ri yakin, ayahnya tersenyum kembali meminum tehnya. 

Ha Ri melihat ayahnya yang pulang kerumahnya, lalu berteriak kesal sendiri karena selalu ribut ingin melakukan semua sendiri, tapi sekarang benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukanya sekarang.
“Tidak, tidak, tidak! Tidak boleh ada kata menyerah. Min Ha Ri, kau pasti bisa!!!! Kau bisa! Pasti bisa!!!!” ucap Ha Ri memberikan semangat sendiri untuk dirinya.
Si pemilik Cafe yang sedang membersihkan meja, melonggo melihat Ha Ri bicara sendiri tanpa ada orang didepanya. 

Shin Hyuk mencoret 30 kandidat lain untuk mengisi rubrik wawancara. Joo Young tiba-tiba datang dengan mengeluh seorang anak baru lainnya yang tak berpengalaman dan kuliah di luar negeri akan jadi Wakil Presiden. Hye Jin binggung bertanya maksud dari ucapan seniornya.
“Mulai minggu depan, putra PresDir Ji Sung Magazine akan dilantik jadi WaPres dan Gosipnya sudah menyebar ke mana-mana.” keluh Joo Young, Han Sul tak bisa menutupi rasa terkejutnya.
“Apa? Anak orang kaya lagi? Bukankah ini terlalu eksklusif? Kenapa selalu Chaebol generasi kedua?” keluh Shin Hyuk tak setuju.
“Tapi jika itu Putra PresDir, berarti WaPemRed kita bukan keponakannya? Tak adakah cara agar kita bisa mendapatkan dukungan dan menyelamatkan tim kita?’ ucap Ah Reum khawatir.
“Jadi Dia dilantik minggu ini? Apa ini? Tak ada waktu untuk merayunya. Sebenarnya siapa dia? Tak mungkin Senior Poong Ho yang dekil itu, Lalu... Senior Shin Hyuk?” gumam Han Sul bertanya-tanya, tapi memilih untuk mencoba mendekati Shin Hyuk. Dari jauh Joon Woo menatap cemburu karena Han Sul memandangi Shin Hyuk. 

Han Sul mulai menyapa Shin Hyuk yang baru pulang. Shin Hyuk menyindir tak mungkin kerja saat bulan bersinar. Han Sul mulai merayu dengan mengajak makan malam lebih dulu. Shin Hyuk mengerutkan dahinya lalu mendekatkan wajahnya.
“Oh, Han Seol! Ada bulu yang keluar di hidungmu. Apa yang akan kau lakukan jika orang lain melihatnya?” teriak Shin Hyuk, Han Sul langsung menutup hidungnya dengan wajah malu.
“Kau akan berterimakasih, kan?, Sekarang urus dulu itu baru nanti traktir aku.” ucap Shin Hyuk sengaja menolak dengan cara jahilnya lalu pergi.
“Omo dasar! Dia juga seharusnya merapikan jenggotnya! Beraninya dia mencampuri urusan lubang hidung orang lain?” ejek Han Sul kesal, tapi mencoba untuk mencoba sekali lagi walaupun Shin Hyuk memang menyebalkan. 

Sung Joon kembali menelp pihak penerbit untuk menanyakan kabar Ten, Pihak penerbit juga tak tahu, kemungkinan Ten sedang dalam penjalanan karena tak ada respon, jadi menyarankan agar menyerah  saja menjadi jalan yang terbaik sekarang. Sung Joon  masih berharap Ten bisa membalas dan menghubungi mereka, tatapnya sedih melihat tim yang ada diluar ruangan.
Yi Kyung berlari dengan nafas terengah-engah memberitahu tim Art bertanya bagaimana dengan layout halaman wawancara utamanya. Sun Min juga memberitahu  Tim iklan juga terus bertanya. Joo Young sedang sibuk dengan telpnya berusaha untuk membuat janji lagi.
“Kita bahkan tak bisa menyiapkan rencana sambil kerja, sekarang tim lain malah mengganggu kita.”keluh Shin Hyuk kesal

“Kalian semua sudah kerja keras, jadi Pulanglah sekarang.” ucap Sung Joon keluar dari ruanganya, Ah Reum yang duduk tak jauh dari Sung Joon kaget.
“Tim Art dan iklan meributikan kita agar mengonfirmasi dan katanya mereka tak bisa mengantur kembali jadwalnya” jelas Joo Young
“Aku sendiri yang akan temui tim Art dan iklan dan bicara dengan mereka. Kalian pulang saja, dan besok pagi kita rapat.” ucap Sung Joon dengan wajah tegang lalu keluar dari kantor.
Semuanya terlihat kebinggungan, Ah Reum bertanya-tanya  Apa yang sedang dipikirkan WaPemRed. Shin Hyuk pikir walaupun mereka ada diruangan  tak banyak yang bisa dilakukan. Sun Min berpikir apabila Majala h Most dihentikan maka apa yang terjadi dengan WaPemRed, akankan kembali ke New York.
“Kesan yang Kejamnya jika kembali ke sana. Jika dia gagal, dia takkan dapatkan posisi meski dia kembali.” ungkap Joo Young sedih, Hye Jin mendengarnya juga dengan wajah sedih.
"Tapi tetap saja, apa dia akan kembali ke Amerika dulu? Dia tak punya relasi di sini, jadi dia tak perlu tinggal di sini.” komentar Ah Reum, Hye Jin juga makin sedih. Shin Hyuk melihat Hye Jin yang sedih dengan helaan nafasnya. 

Shin Hyuk memanggil “Jackson” yang baru keluar kantor, mengingatkan tahu pepatah favoritku, "Takkan berakhir hingga semua berakhir." lalu menyakinkan bahwan semua belum berakhir jadi tak usah dikhawatirkan.
Hye Jin tersenyum mengangguk dengan penuh rasa yakin, Shin Hyuk mengajak high five dengan kepalan tanganya, Hye Jin pun menyambutnya. Wajah Hye Jin sedikit tersenyum melihat Shin Hyuk yang pergi tapi tak bisa menutupi rasa sedihnya memikirkan nasib Sung Joon apabila Most benar-benar diberhentikan. 

Di lorong, Joon Woo menarik Han Sul dengan mata memerah memberitahu  akan ikut kencan buta, lalu bertnya apakah ia boleh pergi. Han Sul yang sudah tak peduli menyuruhnya pergi saja. Joon Woo melotot kaget mendengarnya.
“Aku tanya sekali lagi, Apa sungguh sebaiknya... aku melakukan Kencan butanya?” tanya Joon Woo sambil mengangkat ponselnya.
“Lakukan! Lakukanlah! Kubilang silahkan.” ucap Han Sul tak peduli.
Joon Woo dengan mata berkaca-kaca menelp Seniornya, memberitahu aan pergi kencan buta, setelah itu pamit pergi. Han Sul sempat melihat Joon Woo yang menengok setelah berjalan beberapa langkah. Dengan menahan tangisnya akhirnya Joon Woo berlari dilorong meninggalkanya. 

Han Sul berjalan ke arah berlawanan seperti tak peduli Joon Woo itu akan pergi atau tidak ke kencan buta, lalu mengeluarkan ponselnya ingin menelp Shin Hyuk. Teringat saat makan mie pedas dengan Joon Woo, saat itu Joon Woo tak jijik ketika membuang bekas tissuenya karena hidungnya berair.
Joon Woo juga panik saat mengetahui dirinya mengaku berpura-pura sakit untuk menghindari pertemuan. Setelah itu memberikan semua macam obat-obatan agar kembali sembuh. Han Sul berteriak memanggil Joon Woo sambil menangis.
Han Sul mengejar bus yang dinaiki Joon Woo, melihat Han Sul yang mengejar bus Joon Woo meminta sopir bus untuk menghentikan busnya, Sopir mengejek ini bukan taksi jadi menyuruh untuk turun di halte selanjutnya. Joon Woo mengeluh karena dalam drama pasti sang sopir berhenti, akhirnya ia mengeluarkan kepalanya agar bertemu dengan Han Sul di halte berikutnya. 

Joon Woo langsung turun dari halte, melihat Han Sul yang terengah-engah dan mengeluh pinggangnya sakit karena terlalu lama berdiri.
“Jangan tinggalkan aku dan pergi ke kencan buta itu!” pinta Han Sul
“Baiklah. Tidak akan. Aku takkan meninggalkanmu dan pergi ke kencan buta itu.” kata Joon Woo tersenyum bahagia.
“Aku hanya akan melihatmu mulai sekarang. Aku sangat, sangat menyukaimu.” akui Han Sul
Joon Woo juga mengakui sangat menyukainya, Han Sul pun meminta Joon Woo menciumnya, Joon Woo memberikan kecupan dibibirnya, Han Sul meminta lagi, Joon Woo kembali mengecupnya. Han Sul meminta yang lebih lama, Joon Woo memegang leher Han Sul dan perlahan menciumnya. 

Sung Joon yang sedang berlari mengangat telp Hye Jin denga memanggilnya “maniak-ciuman” Hye Jin kesal sang pacar selalu mengejeknya, lalu menayakan keberadaanya. Sung Joon memberitahu sedang berolahraga di pinggir Sungai Han dan berjanji akan menelp setelah sampai dirumah. Setelah itu pergi ke lapangan basket, dengan nafas terengah-engah dengan wajah sedih.
“Ji Sung Joon, ayo main!” teriak seseorang dari belakang, Sung Joon kaget saat melihat kebelakang, Hye Jin melemparkan bola basket padanya.
“Siapa yang duluan mendapatkan skor, dia yang menang dan yang kalah belikan minuman.” ucap Hye Jin mengajak taruhan.
Hye Jin lebih dulu memasukan bola ke dalam ring, Sung Joon mengoda Hye Jin yang pendek dengan menaruh bola ditanganya agar tak bisa ditepisnya, lalu memasukan kedalam ring. Hye Jin mendribel bola, Sung Joon memujinya padahal terlihat kaku, lalu berpura-pura ada kepala Editor dengan membungkuk memberikan hormat.
Mata Hye Jin langsung mengarah keluar lapangan, dengan wajah binggung menatap Sung Joon, lalu Sung Joon dengan cepat memberikan kecupan dikeninganya dan mengambil bola. Hye Jin langsung tersipu malu, tapi setelah melihat bola masuk berteriak kesal karena Sung Joon sudah mengambil bolanya. Sung Joon membayar kesalahanya dengan mengendong Hye Jin pundaknya agar bisa memasukan bola. Setelah memasukan bola, Hye Jin pun memberikan kecupan dipipinya. 

Sung Joon memberikan minuman untuk Hye Jin sambil duduk ditaman. Hye Jin tiba-tiba mengeluarkan saputangan dan menaruh diatas pahanya dan meminta Sung Joon memberikan tanganya. Sung Joon binggung kenapa Hye Jin meminta tanganya.
“Aku akan potong kukumu sekarang. Ta-da!” ucap Hye Jin mengeluarkan gunting kuku.
“Jika kuingat-ingat, sudah lama tidak memotong kuku, tak apa, Biar di rumah saja nanti kupotong.” ucap Sung Joon melihat kukunya yang sudah panjang, Hye Jin tetap akan memotong kuku Sung Joon.
“Akhir-akhir ini, kau tak punya tenaga untuk memotongnya, jadi Aku yang akan memotongnya.”ucap Hye Jin bangga memotong kuku pacarnya, Sung Joon tersenyum menerima perhatian seperti dengan ibunya.

“Menurutku kau sudah lakukan yang terbaik dan yang mampu kau lakukan. Semua jadi begini karena sesuatu yang tak bisa kau atasi, makanya kuharap kau tak terlalu menyalahkan dirimu.” kata Hye Jin meminta tangan kiri Sung Joon agar di potong kuku juga.
“Kukira caraku ini yang terbaik, tapi sepertinya aku paham sekarang. Keputusanku mungkin bukan yang terbaik. Aku merasa menyesal.” ungkap Sung Joon.
“Bahkan meski kau menyesal, jangan salahkan dirimu. Kau sungguh sudah lakukan yang terbaik.” kata Hye Jin yakin.
Sung Joon bertanya-tanya apakah semua akan berakhir baik atau sebaliknya, Hye Jin mengangguk setuju, lalu meminta Sung Joon memperlihatkan jari-jarinya. Ia langsung memuji tangan Sung Joon yang terlihat cantik, Sung Joon pun mengodanya dengan bergaya seperti model dengan jari-jari didepan wajahnya. 

Sung Joon memberitahu akan hentikan bagian wawancara utama majalah Most, semua terlihat terkejut dengan keputusan Sung Joon. Shin Hyuk mengartikan mereka mereka membuat edisi ultah 20 tahun tanpa wawancara utama. Sung Joon mengerti bisa menaikan penjualan dengan baik tapi dengan adanya wawancara utama bukan berarti majalah menjadi bagus. Shin Hyuk menganguk mengerti.
“Ayo selesaikan artikel yang sudah kita tulis dulu, dan coba tulis rencana item atau artikel yang selama ini kalian mau tulis secara individu tapi tak bisa kalian tulis. Kurasa akan berarti jika kita isi majalahnya dengan artikel yang kita buat, kita paling MOST.” saran Sung Joon
“Ide bagus, tapi apa tak terlalu beresiko?” ucap Joo Young khawatir
“Jika kita tak ada di posisi nomor 1, maka kita pasti akan dihentikan.” kata Joon Woo

Semua langsung terdiam, Hye Jin sedang mengetik melihat semua terlihat sedih. Poong Ho mengingat mereka masih belum dapat jawaban dari Ten. Semua langsung bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Ten, tiba-tiba Nyonya Kim berteriak dengan bahasa italia masuk kedalam ruang rapat.
“Lihat kalian di sini, berputar-putar dan ini Sangat tidak-mirip-Most. Aku 100% setuju dengan WaPemRed Ji. Jangan kerja terlalu keras dan nikmati saja. Bukankah kita harus mirip-Most sampai akhir? dan berhentilah terobsesi dengan penghentian itu. Kalian tak pernah tahu, Keajaiban kecil mungkin akan muncul.” ucap Nyonya Kim penuh arti lalu keluar dari ruangan.
Hye Jin menatap Sung Joon yang terlihat lesu, dengan senyuman dan anggukanya menyakinkan bahwa pasti Keajaiban kecil mungkin akan muncul, Sung Joon mencoba ikut tersenyum walaupun tak bisa menutupi rasa khawatirnya. 

Semua mulai menulis artikel yang tak bisa merek tuliskan sebelumnya, tiba-tiba datang kurir pengantar makanan. Poong Ho binggung apakah mereka memesanna, Joo Young merasa tak memesan makanan apapun. Sung Joon memberitahu kalau ia yang memesan dan mengajak semuanya makan lebih dulu baru setelah itu lanjut berkerja.
Hye Jin dan semua langsung menjerit bahagia sambil bertepuk tangan, Joon Woo kembali mesra dengan Han Sul dengan menyuapi ayam, Poong Ho memukul keduanya karena sikapnya yang berlebihan.
Sementara Hye Jin dan Sung Joon harus saling berjauhan, tapi Hye Jin memberikan senyuman sumringah karena Sung Joon sudah memberikan semuanya makan malam. Sung Joon mencoba agar Hye Jin tak memberikan tatapanya, Shin Hyuk melirik sedih karena keduanya saling main mata. 

Joon Woo menunjuk Gambar dalam artikel benar-benar merusak suasana, Yi Kyung langsung memberikan tanda. Poong Ho pun meminta Eun Young pada bagian bawah, seperti ada sesuatu yang hilang. Sung Joon juga merasa gambar di sampingnya perlu penyesuaian warna. Joo Young pun melihat ada sesuatu yang harus dihilangkan dari artikel yang akan diterbitkan.
Setelah itu, Joo Young kembali memanggil Hye Jin bertanya apakah Kali ini menyukai artikel yang ditulisnya. Hye Jin merasa tulisannya kali ini lumayan bagus.
“Bagian yang kau perbaiki sungguh bagus, Bukan artikel yang seutuhnya sempurna untuk diterbitkan, tapi sebenarnya cukup unik dan baru. Kau banyak peningkatan, Hye Jin. Kita modifikasi sedikit lagi lalu bisa digunakan. Aku bisa merasakan kau seperti seorang reporter sungguhan sekarang” komentar Joo Young, Hye Jin tersenyum bahagia, Shin Hyuk yang mendengarnya juga ikut tersenyum.
bersambung ke part 2  


1 komentar:

  1. Senengnya liat han sul dan joon woo kembali mesra lagi. .
    Sung joon ternyata bukan anak presdir ya,, jadi kandidat anak presdir antara Pong Ho atau Shin hyuk. .?

    BalasHapus