Rabu, 04 November 2015

Sinopsis Bubblegum Episode 3 Part 2

Dong il baru selesai rapat mengambil botol bekas minuman sambil mengeluh lebih baik tak usah dibuka kalau hanya diminum sedikit. Suk Joon melihat temannya seperti pemulung. Dong il mengaku khawawti karena tahun depan, serikat pekerja akan kecewa lalu akan menjatuhkanya.
Suk Joon tetap saja diam dengan wajah tanpa ekspresi. Dong Il kesal melihat Suk Joon tak berkomentar padahal didalam radio, diam 2 detik saja sudah membuatnya gelisah.
“Apa Haeng Ah ada di lantai 4?” tanya Suk Joon
“Iya, hari ini ada makan malam diluar. Kemungkinan mereka akan ke restoran ayam dengan si penulis termuda. Kenapa? Kau Mau ikut? Kali ini jawab aku.” perintah Dong il, Suk Joon mengatakn tidak
“Bagus, tak usah datang... Kau bisa kena masalah, karena Tim itu punya penulis yang aneh dan sangat dekat dengan Haeng Ah.” jelas Dong il 

Tae Hee mengaku akan mengantinya karena merasa aneh. Se Young mengeluh padahal sudah menyukai tamu yang diundang dan menganggap rapat sudah selesai. Haeng Ah menjelaskan karena takut rancu dengan promosi, jadi tamu itu tak cocok. Si pria muda menyarankan merek mendatangi tamu yang bukan artis.
Se Young pikir mereka harus mengundang ibunya, Tae Hee rasa itu bagus mereka bisa tahu cara membesarkan putri dengan julukan "paling terakhir". Se Young langsung menolak karena ibunya lebih parah dalam bicara yang kasar. Haeng Ah menyarankan bibi penjual heottok yang ternyata si pemilik gedung.
“Kita undang orang seperti itu, lalu tanya hal itu benar atau tidak.” jelas Haeng Ah
“Aku penasaran pada satu orang,Direktur Kang Suk Joon, Tak ada yang pernah lihat dia tersenyum, mengantuk, pergi ke toilet dan tak minum alkohol, bahkan tak pernah tersenyum saat siaran.”ucap si pria muda. Haeng Ah langsung gelisah, Tae Hee mengomel karena tak masuk akal.
“Aku dengar dia itu preman dan membunuh anjing dengan tangan kosong.” cerita Se Young yakin.
Tae Hee yakin orang seperti itu tak akan datang, Haeng Ah memilih untuk minum walaupun akhirnya keselek. Si pria muda akan membuat daftar orang yang kemungkinan akan hadir. Se Young setuju dan mengajak mereka pergi minum. Haeng Ah menyuruh duluan karena ingin menyusun lagu. 

Tae Hee tahu lagu dengan semua judul “bodoh” yang disusun itu untuk si bajingan Suk Joon, lalu bertanya apa yang dinginakan temanya itu mencekik atau mengunci mereka berdua didalam ruangan. Haeng Ah pikir tak perlu sambil mengucapkan terimakasih.
“Anggap saja kau cerita padaku tentang bajingan itu sambil menangis. Lalu aku menyumpahinya dan bilang akan menghajarnya. Tapi besoknya, kau muncul sambil gandengan tangan dengannya. Lalu kau bilang padaku, "Bicaramu semalam keterlaluan.” dan  aku akan kehilangan temanku satu-satunya. Aku tak mau itu.” tegas Tae Hee dengan sikapnya.
“Bukan seperti itu... Kemarin, dia bilang dia tak bisa hidup tanpaku. ,,Kenapa aku ingin percaya kata-kata itu? Aku tahu itu tidak benar. Kalau aku sampai tak tahu itu, berarti aku bodoh. Selama kami pacaran, aku tak berguna baginya. Kau tahu hadiah ulang tahun yang kuberikan? Seharusnya aku bicara "Karena ini ulang tahunmu, ayo kita liburan sama-sama." Tapi Hadiahku adalah meninggalkan dia sendiri.” cerita Haeng Ah sedih dan tak akan minum nanti.
Ketika meninggalkan ruang siaran lagu dengan judul lagu bodoh, dari Park Hyo Shin, Big Bang, Epik High, Coffee Boy.

Yi Seul melihat peta dengan gambar-gambar di dinding, Ri Hwan mempersiapkan jarum akupunturnya dan memintanya untuk duduk. Yi Seul merasa tak enak ternyata klinik Ri Hwan sudah tutup dan sengaja menunggunya. Ri Hwan mengaku sengaja ada di klinik sampai malam hanya untuk membaca saja karena dirumah hanya untuk tidur.
“Sepertinya kau suka jalan-jalan.” komentar Yi Seul melihat dinding dengan peta dan tempat wisata.
“Iya, meski belum pernah ke luar negeri.” akui Ri Hwan, Yi Seul kaget karena Ri Hwan benar-benar belum pernah keluar negeri sekalipun, dengan jarum akupuntur yang ditusuk pada kakinya.
“Lalu untuk apa semua buku panduan itu?”tanya Yi Seul melihat deretan buku dira.
“Entah kapan akan berangkat, jadi aku pelajari dulu. Saat waktunya tiba, akan kututup mataku. Lalu Kulempar dart, dan akan pergi ke tempat yang kulempar.” cerita Ri Hwan bangga.
Yi Seul ingin tahu  maksud kalimat "Saat waktunya tiba?" tapi saat itu ponsel Ri Hwan berdering dengan tertulis dilayar [Ji Hoon Bodoh] lalu menceritakan temannya itu pasti mabuk dan kemarin yang mengambil gambar mereka, lalu membalikan telpnya. Tapi telp di ruanganya berbunyi, mau tak mau Ri Hwan mengangkatnya lalu mendengar Ji Hoon yang menangis. 

Ji Hoon ternyata duduk dengan tenang sambil minum bersama Dong Il dkk begitu juga Ri Hwan yang mengajak Yi Seul. Haeng Ah datang dengan wajah lesu, Ri Hwan mengaku sudah ditipu oleh Ji Hoon, lalu Se Young langsung memberikan segelas bir.
Haeng Ah sudah siap untuk meminumnya tapi Tae Hee dengan cepat menariknya agar temanya itu tak minum, Haeng Ah pun hanya bisa tersenyum menahan keinginan untuk tak minum. Se Young mengajak Yi Seul bicara agar menerima diskon dari mall tempat kakaknya berkerja. Yi Seul mengaku tak pernah belanja di tempat kakaknya.
Ji Hoon mengoda Tae Hee dengan memberika paha ayam, Tae Hee sinis menolaknya karena bukan hari ulang tahunya. Dong il pun menerima paha ayam, Haeng Ah mencoba minum, hanya dengan satu jari Tae Hee mengancam agar Haeng Ah tak minum.
Akhirnya Haeng Ah hanya bisa menopang dagu dengan mengingat ucapan Suk Joon saat ada di rooftop “Apa aku kelihatan baik bagimu? Apa akan kubiarkan kau disampingku hanya karena kau menyukaiku? Kalau aku bisa hidup tanpa melihatmu. Pasti sudah kulakukan sejak dulu.”

Bibi Gong melihat rekaman CCTV dengan wanita yang selalu mengunakan syalnya. Dong Hwa benar-benar geram karena dituduh sebagai pencuri. Paman melihat wanita yang berkencan buta dengan Ri Hwan berdiri didepan kumpulan foto-foto. Dong Hwa dan yang lainnya bertanya-tanya apa sebenarnya yang dilihat oleh Yi Seul.
Akhirnya dengan kamera ponsel, Dong Hwa mencoba mematikan gambar apa yang dilihat, dengan mencocokan gambar di CCTV. Bibi Gong bergeser ke kanan agar gambarnya sama dengan di CCTV. Bibi Gong melihat foto Haeng Ah yang sedang tersenyum dengan baju toga.
Ketiganya kembali melihat rekaman CCTV, melihat tatapan aneh Yi Seul. Paman berpikir Yi Seul itu menyukai Haeng Ah. Tiba-tiba mereka menjerit kaget karena Yi Seul mengarahkan pandangan pada camera CCTV. 

Ri Hwan memapang Ji Hoon yang mabuk berat, Yi Seul menyarankan untuk mengantarnya pulang dengan supir penganti. Ri Hwan menolak karena harus membawa temanya, Yi Seul rasa karena itu mereka harus diantar pulang. Ri Hwan menatap Haeng Ah dari belakang yang berdiri di pinggir jalan.
Yi Seul dengan wajah cemberut tetap ingin mengantarnya, Ri Hwan pun setuju. Haeng Ah menutup pintu mobil, Ri Hwang mengeluarkan sebagian badanya meminta Haeng Ah menelp apabila sudah mendapatka taksi, Haeng Ah mengerti lalu menyuruh mereka pergi saja. Yi Seul didalam mobil terlihat cemberut.
Haeng Ah berpura-pura menuju taksi yang ditunjuk Ri Hwan, tapi akhirnya kembali ke dalam restoran dan beberapa jam kemudian keluar dengan keadaan mabuk dan tertawa-tawa melihat lampu yang bentuknya bulat, sambil mendengarkan siaran radio. 

“lagu judul "Bodoh" oleh Coffee Boy dan Yoon Jin minta lagu "Bodoh" oleh Na Yoo Ji.Dia bilang liriknya seperti hidupnya.Seharusnya aku tak pernah ketemu dia. Sudah terlambat untuk menyesal.”
Haeng Ah berjalan dengan menari-nari lalu mengetuk toko bunga yang sudah tutup dan pergi ke tempat penjual ikan hidup.
“Sekarang masih terlalu awal untuk menerima kalau kita sudah putus. Aku terlalu tua untuk menangis di sembarang tepat. Tapi aku terlalu muda untuk tertawa dan bilang "Di dunia ini kita hanya sendiri" Baru mau bilang "aku mencintaimu", tapi kita sudah putus. Aku ingin bilang "Aku pernah mencintaimu." tapi aku masih mencintaimu. Kita akhiri malam lagu "Bodoh" ini dengan lagu terakhir. "Bodoh" oleh Na Yoo Ji.”
Setelah itu Haeng Ah yang berjalan sempoyongan pergi ke sebuah cafe membeli smoothie dengan gambar yang sama dalam poster, tapi merasa ditipu karena bentuk yang beda. 

Haeng Ah tiba-tiba menelp Yi Seul yang baru sampai rumah, memberitahu baru saja membeli kopi dari kedai milik kelurganya dan juga membeli dua makhluk laut. Yi Seul terlihat binggung, Haeng Ah memangginya “Unnie”. Yi Seul menegaskan lahir pada bulan Januari. Haeng Ah tertawa-tawa karena ingin muntah. Yi Seul pun bertanya dimana Haeng Ah membeli minumanya. 

Yi Seul binggung melihat Haeng Ah sudah duduk didepan minimarket sendiri. Haeng Ah langsung menawari bungkus es yang dibeli karena diskon 50%, Yi Seul pun menolaknya. Haeng Ah pun menjatuhkan es krimnya, sambil mabuk mengatakan uangnya itu sangat banyak. Yi Seul terlihat ketakutan, melangkah mundur.
“Unni, kau tinggal disekitar sini?” tanya Haeng Ah, Yi Seul menegaskan bukan Unnienya, Haeng Ah mengataknan akan segera pindah.
“Oh, itu Ri Hwan sudah datang.” teriak Yi Seul melihat mobil Ri Hwan yang lewat
“Bagaimana dia bisa tahu?” ucap Haeng Ah panik, Yi Seul mengaku kalau sengaja menelpnya.
“Apa aku kelihatan mabuk?” tanya Haeng Ah, Yi Seul dengan jujur menjawab “ya”
Haeng Ah makin panik, meminta Yi Seul untuk tak memberitahu Ri Hwan lalu buru-buru masuk ke dalam minimarket.

Yi Seul pun akhirnya mengikuti Haeng Ah masuk ke minimarket. Haeng Ah membeli sebuah sosis yang dianggap bisa menghilangkan alkohol ditubuh, lalu berbisik orang di depanya itu “Barcode” dengan tertawa. Yi Seul tak mengerti, sampai akhirnya Haeng Ah mengambil alat scan barcode dan menaruh dibelakang kepala yang botak dengan rambut setipis barcode.
Si pria marah dengan memanggil Haeang Ah “nonna” tapi memanggil Yi Seul “ahjumma” menyuruhnya untuk pulang apabila mabuk. Yi Seul kesal karena di panggila Ahjumma. Ri Hwan datang memarahi Yi Seul yang tak mengunci pintu jadi membuat wanita gila berkeliaran lalu mengendong Haeng Ah untuk keluar. 

Setelah memasukan Haeng Ah ke dalam mobil, Ri Hwan meminta maaf karena Haeng Ah menelp Yi Seul bahkan mabuk. Yi Seul mengeluh karena mereka pasti jadi sering bertemu. Haeng Ah keluar dari pintu sebelah kanan dan kembali menemui Yi Seul karena ingin mengucapkan salam perpisahan.
“Ini hadiah untuk unni, Satu untukku, satu untuk unni....” ucap Haeng Ah memberikan sebuah belut
Yi Seul menjerit kaget, tapi Haeng Ah malah memasukan ke dalam tas tanpa ragu dan mengajak untuk bersama-sama memeliharanya. Ri Hwan terlihat benar-benar kesal, lalu Haeng Ah pamit pergi dengan menaiki taksi untuk kembali berkerja.
Ri Hwan tak bisa meninggalkan Yi Seul sendirian, merasa tak enak hati dengan tas yang dipakai Yi Seul pasti harganya 1 juta won lebih, Yi Seul dengan wajah cemberut mengatakah harga tasnya 15 juta won. Ri Hwan bersandar di mobilnya dengan lemas. 

Suk Joon yang akan pulang melihat ada lampu yang menyala, Haeng Ah tertidur diruang siaran dengan tangan memegang mouse. Di sampingnya Suk Joon menatapnya dengan wajah dingin, tanpa ada ekpresi sedikit senyuman.
Ponsel Haeng Ah berdering, Suk Joon melihat itu dari Ri Hwan dan sengaja diangkatnya. Ri Hwang berteriak kesal karena akan menelp polisi kalau tak diangkat dan memarahinya karena datang ke kantor, menyuruh untuk cepat turun karena sudah menunggunya dibawah. Suk Joon hanya diam saja, Ri Hwan binggung tak ada sahutan dari Haeng Ah.
“Bagaimana kalau bicara lain kali? Haeng Ah sedang... tidur di sampingku.” ucap Suk Joon dingin seperti sengaja membuat Ri Hwan cemburu. 

Ri Hwan mengumpat lalu berusaha masuk ke dalam radio, tapi penjaga langsung menghadangnya tak boleh masuk, Ri Hwan memohon hanya lima menit saja karena ada Haeng Ah di radio dan orang lain yang mengangkatnya. Si penjaga tak mau tahu, tetap tak memperbolehkan masuk.
Akhirnya Ri Hwan dengan gelisah berdiri didekat dinding, disampingnya tepat pintu lift yang terbuka, langsung saja ia melompati pagar dan masuk kedalam, si penjaga berteriak melarang tapi pintu lift sudah tertutup.
Di ruang siaran
Haeng Ah tersadar dan betapa kagetnyea melihat Suk Joon sudah ada didepanya. Suk Joon mengatakan kalau sengaja memelankan volume radio agar Haeng Ah tak terbangun. Haeng Ah panik karena takut ada yang melihat. 

Ri Hwan masuk ke dalam ruang siaran sambil bergumam akan membunuh Suk Joon apabila bertemunya, Suk Jon melihat Ri Hwan lalu sengaja mendorong Haeng Ah agar tak terlihat, Ri Hwan pun masuk ke dalam ruang control dan Suk Joon sengaja mengunci ruang siaran dari dalam.
Haeng Ah terlihat binggung, dari luar Ri Hwan berusaha membuka dan mengedor-gedor pintu sambil memanggil Haeng Ah. Ia pun menaiki meja control sambil mengedor jendela, Suk Joon dengan sengaja lebih ke sudut agar tak terlihat. Ri Hwan hanya bisa terdiam lemas sampai akhirnya pergi ke luar dan sengaja menyalakan alarm kebakaran.
Suk Joon hanya bisa menghela nafas dari dalam ruangan mendengarnya, Ri Hwan kembali keruang siaran. Haeng Ah pun keluar melihat Ri Hwan terlihat sangat marah.
“Tak peduli aku kakaknya atau bukan.Yang penting bukan dia tidak denganmu, bajingan.” ucap Ri Hwan lalu memberikan pukulan pada Suk Joon. 

 [Yang kuinginkan adalah yang kau inginkan.]
Di tempat penjual ikan hias
Ri Hwan melihat kepala botak seorang kakek, menanyakan kenapa begitu mengkilat. Haeng Ah pikir kakek itu tak tak perlu nyalakan lampu. Ri Hwan bertanya apakah akan panas jika memegangnya. Haeng Ah mengejek Ri Hwan yan bodoh, karena sudah pasti panas sekali.
Kakek itu pun tersenyum lalu memperbolehkan keduanya mencoba memegang kepalanya, Ri Hwan dan Haeng Ah pun memegang kepala sang kakek dengan wajah tersenyum. Ayah Haeng Ah masuk memarahi keduanya yang berani memegang kepala sang kakek dan meminta maaf, keduanya hanya diam.
Ayah Haeng Ah mengancam akan memasak ikan kokinya saja nanti, Ri Hwan memohon agar tak melakukanya. Haeng Ah pun meminta maaf dan Ri Hwan berjanji tak akan melakukanya lagi dan keduanya sama-sama membungkuk meminta maaf. Kakek itu hanya tertawa melihat dua anak yang sopan meminta maaf padanya. 

Ri Hwan dan Haeng Ah berjalan pulang sambil saling menjambak rambut, Ayah Haeng Ah melihat keduanya kembali bertengkar. Haeng Ah tak ingin Ri Hwang mengambil plastik itu dari tanganya. Ri Hwan mengatakan kalau itu milikinya juga. Ayah Haeng Ah pun membaginya dengan satu plastik milik Haeng Ah dan juga Ri Hwan dan menyuruh menjaganya baik-baik. Keduanya pun tersenyum bisa memegang ikan milik masing-masing. 

Dua ikan hias dimasukan ke dalam akuarium, Ri Hwan duduk dengan mengunakan celemek sementara Haeng Ah duduk dengan dasi memarahi Ri Hwan yang tak membersihkan akuarium yang sudah kotor.
“Kau cuma main seharian, pulang-pulang bau yogurt. Sekarang Kau berani bicara begitu padaku?” keluh Ri Hwan
“Kau pikir aku minum yogurt karena aku ingin? Tapi Eun Hee yang kelas 2 memberiku, mana bisa aku tolak.” kata Haeng Ah membela diri, Ri Hwan tak percaya begitu saja.
“Kau pikir aku main seharian? Apa susahnya buang kotoran dan memberi mereka makan?” omel Haeng Ah yang menaruh mainan koin diatas meja.
Ri Hwan kesal Haeng Ah bisa mengatakan itu padanya, karena itu ikan mereka bersama jadi harus dibesarkan bersama-sama. Haeng Ah dengan melipat tanganya didada, berpikir sekarang mereka harus sama-sama tinggal dirumah tanpa harus mencari uang. Ayah Haeng Ah melihat kedua anaknya itu sedang bermain rumah-rumahan.
“Permisi, kalian berdua... Kenapa tak tunggu 4 minggu lagi?” ucap Ayah Haeng Ah, keduanya menengok dengan wajah binggung. 
Bersambung ke episode 4 

3 komentar:

  1. Dilanjut yaa sinopsisnya..fighting!!

    BalasHapus
  2. Dilanjut yaa sinopsisnya..fighting!!

    BalasHapus
  3. masih bingung dengan jalan ceritanya, tapi penasaran terus...
    fighthing ya kak!!!

    BalasHapus