PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 10 November 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 28

PS : All images credit and content copyright : SBS
Ruangan Jaksa Lee
“Di antara semua barang sitaan, botol berisi racun. ternyata merupakan bukti terakhir untuk kasus ini. Tapi Myung Yi Suk bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah. Apa kata Myung Yi Suk soal botol itu?” ucap Jae Chan.
“Katanya itu tidak masuk akal... Dia berkata jaksa memanipulasinya.” Kata Jaksa Lee membaca dari catatan.
“Kau bilang Manipulasi?” ucap Jae Chan terdiam mengingat kejadian sebelumnyanya. 

Flash Back
Yoo Bum mengatakan mereka bisa memalsukan nilai di rapor. Yoo Bum pikir tak mungkin karena ayahnya seoran polisi.  Yoo Bum mengatakan kalau mereka bisa memastikan tidak sejelas itu.
“Apa menurutmu jaksa atau inspektur bisa memanipulasi barang sitaan?” tanya Jae Chan.
“Itu perbuatan tercela.” Ucap Jaksa Lee lalu teringat saat Yoo Bum di interogasi dengan Woo Tak.
Woo Tak bertanya Apa pemalsuan itu mungkin. Yoo Bum menjawab kalau Jaksa memiliki kuasa dan cara untuk melakukan itu. Jae Chan pun bertanya pada anak buah Jaksa Lee , Siapa yang melakukan penyitaan. Anak Buah Jaksa Lee melihat nama Penyidik Choi.
“Jika memang dimanipulasi, entah itu oleh Pengacara Lee atau Penyidik Choi.” Ucap Anak buah Jaksa Lee
“Jika memang dimanipulasi, pasti oleh Pengacara Lee. Penyidik Choi takkan pernah melakukan itu.” Kata Jae Chan yakin
“Kita masih menyelidiki. Kau tidak boleh yakin dulu.”tegas Jaksa Lee. Jae Chan memilih untuk keluar ruangan saja.
Jaksa Lee memanggil Sek-nya, untuk menghubungi bagian umum, minta catatan pribadi Penyidik Choi dan membuatkan salinannya untuknya. Sek menganguk mengerti. 

Yoo Bum kembali mendapatkan pesan misterius “Jika aku ditangkap, aku akan beri tahu polisi soal manipulasimu. Apa Kau tidak keberatan?”  Akhirnya Yoo Bum pun membalasnya “Ayo bertemu. dimana kita sebaiknya bertemu?” dan pesan Yoo Bum pun dibalas “Temui aku pukul 21.00 di kantormu.”

Jae Chan masuk ruangan, Tuan Choi melihat Jae Chan bertanya Bagaimana perkembangan penyelidikannya. Jae Chan menjawab singkat kalau itun Lancar dan bertanya balik Apakah Ada perkembangan terkait pelaku. Tuan Choi mengatakan Ini lebih sulit dari perkiraannny.
“Penyidik Choi, bukankah kau melihat pelaku pembakarannya malam itu?” ucap Jae Chan sambil sibuk melihat berkas diatas meja.
“Tidak. Aku tiba disana setelah kebakaran.” Kata Tuan Choi yang juga sibuk melihat berkas. Jae Chan terdiam karena Hong Joo sebelumnya berkata “ Apa Kau ingat ucapan Penyidik Choi kepadaku tadi malam? Dia tahu kita datang terpisah.”
“Jika kau tiba setelah kebakaran, dari mana kau tahu Hong Joo dan aku datang terpisah?” tanya Jae Chan.
“Aku hanya... Hanya menebaknya.” Ucap Tuan Choi terlihta gugup.
“Bagaimana kau tahu kami ada disana?” tanya Jae Chan makin penasaran. Tuan Choi mengaku aklau kebetulan sedang lewat. Jae Chan seperti mulai ragu.
“Aku hanya... Bagaimana aku mengatakannya? Itu seperti menerima pesan telepati... Aku bisa tahu kau dalam bahaya dan punya kekuatan super. Itu Mungkin karena aku sekolah di dekat Punggung Bukit Miari.” Ucap Tuan Choi. Jae Chan pun makin curiga. 

Hong Joo menunggu didepan kantor polisi, Woo Tak keluar dari menemuinya bertanya kenapa Hong Joo datang di malam hari. Hong Joo mengatakan Ada yang ingin ditanyakan tentang kejadian pembakaran. Woo Tak pikir Hong Joo harus mengambil power banknya karena selalu lupa memberikannya.
Hong Joo terdiam karena sebelumnya menaruh powe bank berwarna hijau, lalu Woo Tak mengatakan “Aku menemukan pengisi daya portabel-mu. Ini tertinggal di mobilku. Pengisi daya portabel merah.”
“Bukankah ini milikmu? Pengisi daya portabel merah.” Ucap Woo Tak yang buta warna. Hong Joo mengaku memang itu miliknya pengisi daya portabel merah dan memasukan kedalam tas power bank warna hijau.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Woo Tak. Hong Joo tahu kalau Woo Tak menangkap pria yang dibunuh pelaku, Woo Tak membenarkan. 

Hee Mi masih terus mencari pom bensin yang kemungkinan menjual besin dalam derigen, lalu bertanya Berapa banyak pom bensin yang sudah di kunjungi. Anak buahnya mengatakan kalau tempat ini ke-36.
Yoo Bum gelisah dalam ruanganya, Sek masuk ruangan bertanya apakah Yoo Bum tidak pulang. Yoo Bum mengatakan ada konsultasi dengan klien jadi menyuruh sekertarisnya untuk pulang lebih dulu. Sek mengerti untuk pulang lebih dulu. 

“Jaksa dan polisi mencari pelaku selama beberapa hari, tapi mereka belum menangkapnya. Aku sudah mencari informasi, tapi tidak banyak perkembangan. Kuharap ada secercah harapan. Apa ada yang kau perhatikan saat menangkap Jo Yoon Pyo?” kata Hong Joo
“Entahlah... Untuk seseorang yang membawa 10.000 dolar tunai, pakaiannya tampak lusuh.” Ungkap Woo Tak yang sebelumnya melihat Tuan Yo di kantor polisi.
“Lalu tas yang berisi uang itu...” ucap Woo Tak berusaha mengingat-ingat. Hong Joo penasaran ada apa dengan tas milik Tuan Yo. 


Hee Mi datang ke pom bensin akhirnya menemukan catatan  pada tangga 22 Juni, kalau ada yang membeli 10 liter bensin yaitu sebotol penuh. Hee Mi dan akan buahnya terlihat bahagia karena setelah berkeliling menemukan pentunjuk siapa penyulut kebakaran.
“Lalu Dia membelinya dengan tunai atau kartu kredit?” tanya Hee Mi. Pemilik pom bensin mengatakan Dia membayar dengan uang tunai.
“Apa Anda ingat bagaimana wajah atau pakaiannya?” ucap tanya Hee Mi. 


Di ruangan, Yoo Bum kembali menerima sebuah pesan “Aku sudah datang... Wah, firma hukummu bagus!.. Kau harus mentraktirku. Jika aku ditangkap, kau akan kehilangan semua ini? "Seseorang yang memiliki banyak juga rugi banyak"
Sepasang sepatu pria masuk ke dalam ruangan, Yoo Bum menatap tak percaya melihat wanita yang berdiri didepanya dengan ponsel yang mengirimkan pesan padanya. 

Woo Tak pikir Tas itu sepertinya milik wanita. Hong Joo kaget kalau pria itu membawa Tas wanita. Hee Mi juga dibuat kaget karena pemilik pom bensin mengatakan yang membeli bukan pria, tapi wanita yang memakai sepeda.

Yoo Bum pun bertanya apakah wanita itu  yang mengirimikan pesan teks. Si wanita membenarkan dan melihat Yoo Bum tampak terkejut, lalu berkomentar kalau Kantor Yoo Bum yang bagus. Yoo Bum masih terdiam karena ternyata yang menguntitnya seorang wanita.
“Aku memeriksa umur kita, Ternyata kita sebaya. Jadi  Bisakah kita bicara dengan santai?” ucap Si wanita melihat ada banyak piala dengan berkomentar Yoo Bum memenangkan banyak penghargaan. Yoo Bum mengajak Si wanita untuk duduk dan bicara.
“Kenapa kau mengirimiku pesan teks? Kenapa kau mencariku?” tanya Yoo Bum dengan wajah serius.
“Apa Kau belum bisa menebaknya? Padahal Kau pintar.”ejek Si wanita. Yoo Bum menegaskan kalau tidak tahu.
“Kau tidak penasaran, tapi hanya ingin memastikan. Itu seperti yang kukatakan di pesan teks.  Aku sudah membunuh hampir 20 orang. Tapi berkatmu, aku belum masuk penjara. Aku... sungguh menghargai perbuatanmu.” Ucap Si wanita. Yoo Bum terlihat shock mendengarnya. 


“Jika penjahat sesungguhnya wanita, dia pasti orangnya. Ha Joo Won, 34 tahun.” Ucap Doo Hyun. Hong Joo ingin tahu siapa wanita itu.
“Dia pasien lama di kamar rumah sakit itu, yaitu Pasien dengan penyakit Crohn Tapi dia juga dimasukkan ke kamar yang sama dengan kedelapan korban lain.” Jelas Doo Hyun.
“Jadi, Apa dia tak ada di daftar tersangka karena dia pasien?” tanya Hong Joo
“Benar. Saat para korban dibunuh, Ha Joo Won juga sakit. Jadi, dia dimasukkan sebagai salah satu korban.”jelas Doo Hyun. Ketua Tim heran alasan seorang pasien membunuh pasien lain. 

Flash Back
Nyonya Ha yang terbaring dengan banyak bercak diwajahnya mengaku kalau merasa itu sangat tidak adil. Ia yang harus mengangkat usus dan perut bahkan melakukan banyak operasi selama bertahun-tahun, tapi tidak sembuh. Sementara pasien lain sembuh Bahkan ada yang pulang dalam beberapa hari.
Ia bisa melihat pasien yang mulai membaik dengan senyuman, Nyonya H mengingat yang dikatakan oleh pasien satu kamar "Aku kasihan dengan wanita muda itu." Lalu keluarga pasien lainya mengatakan "Kau akan segera sembuh. Semangat."

“Mereka mengatakan omong kosong itu”ungkap Nyonya Ha yang saat itu terbaring tak berdaya.
“Jadi, Apa kau membunuh mereka? Apa Menurutmu, dengan alasan itu bisa membenarkan perbuatanmu?” kata Yoo Bum tak habis pikir
“Tidak... Aku di ambang kematian dan sudah menyerahkan segalanya. Aku berpikir "Jika aku ditangkap, biarkan saja. Jika mereka menghukumku, aku tak peduli” Tapi...jaksa menangkap orang lain.” Ucap Nyonya Ha. Yoo Bum binggung apakah yang dimaksud itu adalah dirinya.
“Lalu aku berpikir, untuk kali pertama dalam hidupku, bahwa ada yang bernama harapan. Orang yang memberikan harapan kepadaku adalah kau, Lee Yoo Bum. Aku juga berharap, kau akan terus.. menjadi satu-satunya harapanku.” Ucap Nyonya Ha dengan mata berkaca-kaca.  


Jaksa Park bertanya apakah mereka  sudah memasukkan Ha Joo Won ke daftar pencarian orang. Jaksa Son dengan rambut yang acak-acakan mengatakan sudah lama tidak pulang dan sulit dilacak karena memakai nomor prabayar. Hee Mi menambahkan Catatan kartu kredit dan kartu bus hilang usai kebakaran.
“Artinya, dia akan terus melarikan diri.” Kata Jaksa Lee.
“Dia hanya bisa lari selama beberapa hari sekarang ini.” Pikir Jaksa Park yakin.
“Dia sudah buron selama lebih dari setahun dan Dia akan berpikir kali ini akan berhasil juga.” Ucap Jae Chan yang membuat semuanya terdiam. 


Di ruangan
Nyonya Ha meminta pada Yoo Bum agar memberikan  keajaiban lagi dan harapan. Yoo Buu menegaskan tak bisa mendengarkan Nyonya Ha lagi, menurutnya ia tak pernah menjadi harapan untuk sampah seperti Nyonya Ha.
“Kenapa aku sampah?” tanya Nyonya Ha seperti tak punya rasa bersalah.
“Karena kau membunuh orang!” tegas Yoo Bum marah.
“Lalu Aku harus bagaimana sekarang? Itu sudah terjadi... Itu memang menyedihkan... Tapi orang hidup harus melanjutkan hidup. Apa untungnya mengetahui bahwa aku pelaku sesungguhnya? Bagi keluarga korban, Myung Yi Suk adalah sampah dan sampah itu sudah meninggal.” Ucap Nyonya Ha
“Itu sudah menenangkan, tapi bagaimana jika aku tiba-tiba muncul? Mereka akan terpukul. Lalu bagaimana dengan putra Myung Yi Suk? Dia akan marah jika mengetahui bahwa ayahnya tidak bersalah. Lalu kau... Apa yang akan kau lakukan?” ucap Nyonya Ha berdiri menatap Yo Bum.
“Tutup mulutmu.” Ucap Yoo Bum seperti tak mau mendengar ucapan Nyonya Ha.
“Aku sangat terkejut mendengar berita bahwa botol obat ditemukan di ruangan Myung Yi Suk.” Kata Nyonya Ha. 



Flash Back
Yoo Bum dan Tuan Choi menghitung barang bukti kalau 32 botol. Nyonya Ha tahu Yoo Bum kalau itu membuatnya gelisa, karena sudah sangat jelas Myung Yi Suk pelakunya, tapi Tidak ditemukan bukti langsung dan Media terus meragukan kecakapan jaksa.
“Lalu kau memanipulasi botol sitaan sebagai milik Myung Yi Suk. Benar, 'kan? Apa Aku benar?” ucap Nyonya Ha
“Botol itu sudah ada disana.” Kata Yoo Bum.
“Lalu kenapa kau menyebutku pembunuh? Jika botol itu ditemukan disana, maka Myung Yi Suk pembunuhnya. Kenapa kau menyebutku sampah? Coba Katakan” ucap Nyonya Ha. Yoo Bum hanya bisa terdiam. 

“Sekarang kau mengerti, 'kan? Jika aku mendapat masalah, maka kau juga akan terkena imbasnya. Tapi jangan khawatir, Orang yang tahu itu dimanipulasi hanya kau dan aku. Tadinya ada tiga orang, sayangnya aku sudah menyingkirkannya.” Ungkap Nyonya Ha berjalan di depan meja kerja Yoo Bum,
Yoo Bum binggung apa maksud "Menyingkirkan" Nyonya Ha duduk di kursi merasa kalau Yoo Bum sudah melihat berita pembakaran kontainer. Yoo Bum tak percaya kalau Nyonya Ha sebagai pelakunya
“Seseorang yang mengetahui cerita kita tinggal disana. Dia pendiam. Tapi malangnya, dia terlibat dengan polisi.” Cerita Nyonya Ha. 

Flash Back
Tuan Jo kaget melihat Nyonya Ha sudah ada di dalam rumahnya,  Nyonya Ha dengan menutup semua wajahnya kalau Pintunya terbuka. Tuan Jo melihat Nyonya Ha yang mengunakan sarung tangan itu berlebihan. Nyonya Ha pikir merasa panas lebih baik daripada dalam bahaya.
“Aku sudah menyingkirkan ponselmu dan melemparkannya ke Sungai Han. Aku belum mengatakan apa-apa kepada polisi.” Ucap Tuan Jo mengeluarkan isi belanjaanya diatas meja.
“Young Pyo... Terima kasih...” kata Nyonya Ha yang sudah siap dengan suntikan lalu menusukan di leher Tuan Jo. 

“Aku melakukan semua perbuatan kotor... Mulai sekarang, kau yang akan menanganinya. Putra Myung Yi Suk yang berduka, kau, dan aku... Biarkan kita tenang... Kau tahu artinya rahasia, 'kan?” ucap Nyonya Ha. Yoo Bum tak habis pikir memilih untuk keluar dari ruangan.
Yoo Bum pergi ke taman dengan melonggarkan dasinya, terlihat benar-benar gelisah. Teringat kembali perkataan Nyonya Ha “ Sekarang kau tahu. Jika aku mendapat masalah, maka kau juga.” Ia hanya bisa teriak marah dengan keadaanya sekarang.
Lalu ia mengingat ucapan Hong Joo “Kudengar pelaku sesungguhnya bukan Myung Yi Suk” kemudian kata-kata Nyonya Ha “Tapi jangan khawatir. Orang yang tahu itu dimanipulasi hanya kau dan aku.” Dan berganti dengan ucapan Hong Joo “Divisi pelaporan kami membentuk tim baru untuk kasus Myung Yi Suk.”  Dan ucapan Nyonya Han. “Kau tahu artinya rahasia, 'kan?”
Yoo Bum benar-benar hampir gila dengan terus berteriak histers, lalu menenangkan diri kalau harus mencari jalan keluar. Terlihat pengumuma di dinding "Pemberitahuan pemeriksaan listrik. Listrik akan dimatikan pada 28 Juni"

Yoo Bum akhirnya kembali ke ruangan. Nyonya Ha pikir kalau Yoo Bum berpikir terlalu lama dan ingin tahu jawabanya apakah  mau menerima sebagai kliennya. Yoo Bum pikir kalau Nyonya Ha melewatkan satu hal. Nyonya Ha bertanya apa itu.
“Bukan hanya kita yang tahu soal manipulasi itu. Tapi Ada tiga orang.” Ucap Yoo Bum. Nyonya Ha ingin tahu siapa orangnya. 

Tuan Choi makan di kantin dengan tangan kirinya, Hyang Mi bertanya lauk apa yang diingikan Tuan Choi untuk diberikan. Tuan Choi terlihat senang karena hanya Hyang Mi yang benar-benar memikirkannya dan memuji kalau memang gadis baik dengan meminta agar memberikan daging.
“Yah.. Benar. Aku sangat cantik dan baik.Apa Aku tak bisa memiliki Letnan Han sebagai hadiah?” ucap Hyang Mi akan menyuapi daging menurunkan sumpitnya.
“Jangan mengatakan itu. Baginya, itu hukuman.” Kata Tuan Choi sudah membuka mulutnya. Hyang Mi yang kesal memilih untuk memakanya sendiri.

Saat itu terdengar para Sekertaris makan bersama dengan membahas  Jaksa Lee dan Jaksa Jung berpikir kasus pembunuhan berantai cairan infus itu dimanipulasi. Sek Jaksa Lee mengatakan akalu Kasus yang diselidiki Pengacara Lee dan Penyidik Choi.
“Jadi, Apa mereka memanipulasinya?” ucap Sek Hee Mi. Hyang Mi ingin memarahi temanya. Tapi Tuan Choi menahan agar membiarkan saja.
“Itu menurut Jaksa Lee, Tapi Jaksa Jung terus menyangkal Penyidik Choi melakukan itu. “ ucap Sek Jaksa Lee
“Lebih dari 10 orang meninggal.Jika itu dimanipulasi, banyak yang akan terluka. “ kata Sek Jaksa Park
“Itu sebabnya Jaksa Jung makin menginginkan kasus ini. Untuk melindungi Penyidik Choi.” Kata Sek Jaksa Park. Tuan Choi hanya terdiam mendengarnya. Setelah itu masuk ruangan dan menuliskan sesuatu pada selembar kertas. 

Hong Joo sudah bersiap-siap dengan sergamnya. Doo Hyun bertanya apakah Hong Joo ada wawancara. Hong Joo mengataan kalau akan pergi menemui keluarga korban pembunuhan berantai. Saat itu pesan dari Yoo Bum masuk “Kau bilang akan menulis dengan adil, 'kan? Aku meminta wawancara pukul 20.00 di kantorku.”
“Ada banyak wawancara untukku.. Pengacara Lee ingin diwawancara.” Ucap Hong Joo memperlihatkan ponselnya.
“Dia jaksa kasus pembunuhan berantai cairan infus itu, 'kan?” ucap Doo Hyun. Hong Joo membenarkan.
“Jika pelaku sesungguhnya ada di tempat lain, artinya ada yang hilang dari penyelidikan itu. Kau harus Gali itu.” Perintah Doo Hyun.
Hong Joo menganguk mengerti, lalu tiba-tiba merasakan sesuatu dan bertanya pada Doo Hyun apakah hari ini akan hujan. Doo Hyun melihat di ponselnya kalau hanya ada kemungkinan lima persen akan turun hujan. Hong Joo seperti bisa bernafas lega  dan akan segera kembali.


Sek Jaksa Lee masuk membawakan salinan catatan pribadi Penyidik Choi. Jae Chan kenapa melakukan hal itu. Sek binggung ternyata diruangan hanya ada Jae Chan dan bertanya dimana Jaksa Lee
“Apa Jaksa Lee memintamu memfotokopi ini?” ucap Jae Chan. Sek Jaksa Lee membenarkan.
“Dia terlalu kejam. Memangnya dia bisa tahu Penyidik Choi memanipulasinya dari ini?” keluh Jae Chan melihat profile Tuan Choi
Jaksa Lee yang sedari tadi ada didepan pintu akhirnya langsung masuk ruangan, berpikir kalau bisa memeriksanya. Jae Chan melihat kalau Penyidik Choi adalah mantan polisi. Jaksa Lee membenarkan, maka dari itu  ahli di TKP.
“Ini Kantor Polisi Ill Yoo...” ucap Jae Chan terlihat kaget. Jaksa Lee pun bertanya apakah Jae Chan tahu tempat itu
“Dulu, ayahku bekerja disana.” Kata Jaae Chan. Jaksa Lee bertanya apakah Mereka bekerja di tahun yang sama.
Jae Cha membenarkan, Jaksa Lee pikir itu Kebetulan sekali. Tiba-tiba Ja Chan pun memikirkan sesuatu kalau Tuan Choi adalah paman yang selama ini mengirimkan uang padanya. 

Jae Chan berlari masuk ruanga memanggil Tuan Choi, tapi melihat Hyang Mi menangis sendirian mengatakan Tuan Choi tak ada, karena sudah mengundurkan diri. Jae Chan bingung karena Tuan Choi mengundurkan diri.
“Saat aku kembali setelah makan siang,dia menyerahkan surat pengunduran dirinya. Aku hentikan dia dan bertanya apa dia takkan pamit kepada Jaksa Jung. Dia berkata sulit melihat wajahmu. Dia menulis surat, lalu pergi.” Cerita Hyang Mi sambil menangis. 

Jae Chan membaca surat yang dituliskan Tuan Choi sebelum pergi.
“Kepada Jaksa Jung. Aku tidak memanipulasi apapun dan Pengacara Lee akan mengatakan hal yang sama. Kami berdua jelas akan menyangkal manipulasi. Tapi Pernyataan kami tidak berarti apa-apa. Jadi, jangan pikirkan aku atau yang lain. Kau harus Selidiki ulang kasus ini dengan adil. Aku akan membuktikan diriku tidak bersalah. Terima kasih untuk segalanya. "Dari Choi Dam Dong"
Jae Chan terdiam melihat nama yang Tuan Choi, Hyang Mi merasa kalau Tuan Choi sangat kejam berhenti seperti ini. Akhirnya Jae Chan berusaha menelp Tuan Choi tapi tak diangkat. 

Tuan Choi hanya melihat ponselnya yang bergetar. Yoo Bum bisa tahu kalau itu telp dari Jae Chan. Tuan Choi pikir kalau Jae Chan menghubungi untuk penyelidikan. Yoo Bum ingin tahu apakah Jae Chan menanyakan terkait kasus cairan infus. Tuan Choi mengatakan kalau ia dicurigai.
“Kau akan kesulitan bekerja sendiri saat kasus ini makin serius. Firma hukumku akan membantumu.” Kata Yoo Bum.
“Itu menenangkan.” Ungkap Tuan Choi terlihat merencanakan sesuatu. 

Jae Chan meminta Hyang Mi agar jangan beri tahu yang lain soal pengunduran dirinya, menurutnya Penyidik Choi tidak mengundurkan diri. Hyang Mi pun bingung karena Tuan Choi yang masih belum menjawab telepon.
“Kurasa aku akan pergi ke tempatnya.” Ucap Hyang Mi. bergegas pergi.
“Ya, hubungi aku saat kau bertemu dengannya. Jangan biarkan dia pergi.” Pesan Jae Chan 

Jae Chan mengirimkan pesan pada Tuan Choi “"Penyidik Choi, aku akan menunggumu di kantor" . Tuan Choi keluar dari restoran menjabat tangan Yoo Bum mengucapkan terimakasih atas makanannya hari ini. Mereka pun berpisah jalan, dengan Yoo Bum yang meminta Tuan Choi agar bisa menghubunginya nanti. Tuan Choi melihat pesan dari Jae Chan tapi memilih untuk membiarkan saja.
Di malam hari
Yoo Bum sudah menyiapkan dua cangkir kopi, dan melihat Hong Joo menelpnya. Ia mengangkatnya memberitahu kalau ada diruangan dan  sudah memberi tahu resepsionis jadi tinggal naik saja. Saat itu sebuah pil masuk ke dalam cangkir kopi.
Hong Joo masuk gedung tanpa sadar tertempel pengumuman "Pemberitahuan, pemeriksaan listrik" lalu masuk ke dalam ruangan Yoo Bum melihat sedang sibuk di depan komputer dan bertanya apa yang sedang dikerjakan.
“Aku sedang mengerjakan penyelidikan kasus cairan infus. Aku sulit mengingat kasus tahun lalu. Jadi, aku mencoba menulis berkas dan berharap bisa mengingatnya.” Ucap Yoo Bum meminta Hong Joo untuk menunggu sebentar.
“Apa Kau akan memberikan data itu kepadaku?” tanya Hong Joo mengambil cangkir kopi yang sudah tersedia diatas meja.
“Tentu saja. Aku membuatnya untukmu.” Kata Yoo Bum. Hong Joo bertanya apakah itu Siaran pers.
“Apa Kau akan membagikannya ke tempat lain juga?” tanya Hong Joo. Yoo Bum mengatakan Tidak dan Hong Joo  yang pertama mendapatkannya dan belum menghubungi yang lain.
“Hanya karena kau memberiku informasi eksklusif, maka aku tak bisa berjanji akan baik.” Ucap Hong Joo meminum kopinya kembali. Yoo Bum tersenyum mengatakan kalau sudah tahu dengan hal itu. 

Nyonya Ha masuk dengan sepaatu pria dan payung,  petugas memberitahu kalu Hari ini ada pemeriksaan listrik jadi Semua listrik akan segera dimatikan. Nyonya Han mengatakansudah punya janji dengan Pengacara Lee jadi akan mengobrol sebentar.
Jae Chan tertidur diruangan langsung berteriak histeris seperti bermimpi buruk. Dalam mimpinya, Hong Joo seperti terbaring di bawah huan dengan terkulai lemas dan sebuah jarum akan akan menusuk ke dalam tubuhnya.
“Setelah kuberikan ini, kau takkan bisa bernapas. Lalu dalam lima menit, kau akan mati seperti tertidur.” Ucap Nyonya Ha.
“Jae Chan. Apa Kau mendengarku?.. Tolong.” Ungkap Hong Joo dalam mimpinya.
Jae Chan berusaha menelp Hong Joo tapi tak juga diangkat, Hong Joo terlihat sudah tertidur karena kopi yang diberikan oleh Yoo Bum. 


Nyonya Ha melihat Hong Joo sudah tertidur bertanya apakah  Orang ketiga yang mengetahui selain mereka adalah wanita itu. Yoo Bum membenarkan. Nyonya Ha pun melihat wajah Hong Joo dari dekat yang sudah tak sadarkan diri. 

Jae Chan yang tak berhasil menelp Hong Joo akhirnya menelp Woo Tak dengan menceritakan baru bermimpi kalau Hong Joo diculik. Woo Tak berteriak kaget kalau Hong Joo Diculik. Petugas Oh pun ikut kaget mendengarnya. Woo Tak ingin tahu siapa pelakunya.
“Di Mimpi itu. Hujan dan payung hijau.” Ucap Jae Chan. Woo Tak ingin tahu kapan kejadianya.
“Pukul 22.30, 15 menit kemudian.” Kata Jae Chan. Woo Tak teringat kalau Jae Chan pernah bilang ada pegunungan.
“Bukan pegunungan, tapi Di atap Firma Hukum Hae Kwang.” Ucap Jae Chan.

Saat itu Yoo Bum sudah mengendong tubuh Hong Joo yang tak berdaya diatap gedung dengan Nyonya Ha yang memegang payung. Mereka menaruh Hong Joo tepat dibawah hujan deras ditaman atas. Mereka seperti siapa menghabisi orang yang mengetahui rahasia mereka.
Bersambung ke Episode 29

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


1 komentar:

  1. Blm ada lanjutannya ya kak........ditunggu kelanjutan nya... Penasaran...

    BalasHapus