PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 03 Februari 2019

Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 3 Part 2


PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Sebuah truk kargo pergi dari rumah Eun Ho, setelah itu Eun Ho menurunkan barang-barang dari mobilnya dan truk lain datang. Didalam rumah, Eun Ho sibuk menyiapkan selimut dan bantal dalam ruangan, lalu memasang lukisan dan juga tirai yang senada dengan dindingnya.
Ia juga membeli meja rias, bahkan kursi dan juga lampu baca diruangan, serta rak buku yang cocok dengan ruangan. Eun Ho keluar dari ruangan, Dan Yi baru pulang melihatnya berpikir Eun Ho yang baru saja lari di treadmill.
“Kau pasti belum makan malam, 'kan?” ucap Dan Yi dengan bangga membawa kotak makan lalu bergegas ke lantai atas untuk ganti baju.
“Hei... Apa Kau keluarkan barangku?.. Aku memintamu memberiku tiga bulan... Aku bahkan cari kontrakan hari ini.” Keluh Dan Yi marah, Eun Ho hanya diam saja sambil mengeluarkan kotak makan.
“Hei, Apa kau lupa siapa yang membantu mendapatkan warisanmu? Kau bertengkar dengan ayah tirimu setelah ibumu meninggal Dan ayahku... Ah... Sekarang setelah kupikirkan, ayahku kanker gara-gara kau... Dia meninggal karena susah payah menolongmu dapat warisan.” Ucap Dan Yi marah
“Ahh sudah Lupakan. Tak ada artinya. Jadi Ke mana kau membuang barangku? Dasar tak sopan.” Ucap Dan Yi tak bisa berhenti mengomel. Eun Ho hanya menunjuk ke ruangan olahraganya. 


Dan Yi membuka pintu kamar, hanya bisa melongggo melihat ruangan berubah dengan kasur yang besar, lukisan, meja rias, kursi baca, tirai yang senada. Wajah Dan Yi tersenyum bahagia melihatnya ternyata semua pindah ke ruangan kamar yang sebenarnya.
Akhirnya keduanya makan bersama, Dan Yi makan sup buatan Eun Ho sambil memujinya kalau sangat lezat. Eun Ho menyindir Dan Yi yang seharusnya berterima kasih, Dan Yi pun mengucapkan Terima kasih dengan senyuman bahagia.
“Apa Ayahmu kena kanker gara-gara aku?” tanya Eun Ho menyindiri.
“Aku tarik kembali perkatakan itu, Tadi aku marah, jadi aku asal bicara saja.” Kata Dan Yi malu.
“Kau dari mana? Aku pindahkan barangmu sendirian.” Kata Eun Ho
“Aku mencari kontrakan, tapi Omong-omong, ini sangat lezat... Wahh. Ini paling lezat! Apa Kau sungguh memasaknya?” ucap Dan Yi terus makan sup buatan Eun Ho
“Kau mencari kontrakan saat aku menata kamarmu.. Lalu Kau bawa makanan kotak saat aku masak sup kimchi.” Keluh Eun Ho
“Rasanya enak dengan sup kimchi dan Makanan kotak menjadi enak dicampur sup kimchi. Aku pergi ke banyak tempat hari ini, jadi aku sangat lapar dan Bisa kuhabiskan semua.” Kata Dan Yi penuh semangat.
“Dan Yi, Aku tak masalah kau tinggal di sini... Tinggal bersamamu menyenangkan.” Akui Eun Ho
“Hei... Wajahmu memerah saat bilang hal itu.” Goda Dan Yi, Eun Ho menyangkal mengaku wajahnya biasa saja.
“Wajahmu menjadi merah... Jika wajahmu memerah tiap kau mengatakan hal baik, bagaimana bisa kencan dengan wanita?” kata Dan Yi
“Kencan bukan soal kata-kata.” Tegas Eun Ho, Dan Yi makin mengoda kalau yang artinya adalah hubungan fisik. Wajah Eun Ho kembali memerah lalu berpura-pura kalau Sup kimchinya sangat pedas.
“Euh Ho... Terima kasih... Kehadiranmu saja memberiku percaya diri Tapi aku tetap membutuhkan tempat sendiri dan Tak bisa terus mengandalkanmu. Aku akan bergegas dan menabung, Tiga bulan mungkin tak cukup... Bagaimana jika enam bulan?” ucap Dan Yi meminta waktu.
Eun Ho tak ingin membahasnya kembali mengajak mereka untuk makan bersama. Dan Yi pun mengucapakan Terima kasih karena Rasanya sup buatan Eun Ho yang sungguh lezat.


Esok pagi
Nyonya Seo memberitahu kalau Besok pukul 14.00 ada rapat untuk mendiskusikan buku baru In Ho-won jadi meminta mereka Pikirkan judul uraiannya untuk iklan. Dan Yi penuh semangat mendengarnya melihat judul buku “PUCAT, KEKEJAMAN” dan mengingat kalau dulu sering menulis itu.
“Dan Yi... Ini bajuku untuk rapat. Tolong bawa ke penatu. Sebutkan saja namaku ke penatu di persimpangan jalan.” Ucap Nyonya Go saat memanggil Dan Yi ke ruanganya. Dan Yi melihat buku bersampul hitam diatas meja Nyonya Go.
“Bu Go... Aku mendengar tentang rapat yang akan menentukan judul uraian untuk buku baru In Ho-won. Aku ingin mengajukan ideku.” Ucap Dan Yi polos
“Dan Yi... Lakukan saja tugasmu.” Ucap Nyonya Go sinis, Dan Yi pun tak bisa berkata apapun.
“Dia bukan menolak. Aku bisa lakukan tugasku dan ajukan uraian. Kau bisa, Dan Yi” kata Dan Yi menyemangati dirinya saat keluar dari ruangan. 


Akhirnya Eun Ho memberikan buku “PUCAT, KEKEJAMAN” memastikan Dan Yi akan serius melakukanya karena Nyonya Go tak akan menerima idenya. Dan Yi yakin akan memberikan yang tak bisa ditolak oleh Nyonya Go dan akan menunjukkan kemampuannya.
“Kau tahu siapa aku... Aku Kang Dan-i. Aku pernah sukses di periklanan.” Ucap Dan Yi yakin
“Kau pasti sangat ingin kembali ke bidang itu.”komentar Eun Ho, Dan Yi membenarkan karena sangat bersemangat
“Jantungku berdegup kencang... Aku harus baca buku ini sekarang.” Ucap Dan Yi lalu berjalan pergi. Eun Ho pun hanya bisa tersenyum. 

Dan Yi membaca semua buku dan memberikan label yang penting,  saat itu Nyonya Seo meminta agar membawakan berkas ke Tim Dukungan Bisnis. Dan Yi pun pergi melakukan pekerjaanya.
Setelah selesai menuliskan poin “Novel thriller karya profesor psikologi. Judulnya, Pucat, Kekejaman menurutnya genrenya harus jelas. Sesampai dirumah, Eun Ho memberikan buah untuk Dan Yi dan juga minum. Dan Yi mengucapkan terimkasih dan tetep fokus membaca.

Pagi harinya
Dan Yi menemui Nyonya Go memberikan berkas tentang Judul iklan. Nyonya Goo membaca [LAHIRNYA THRILLER BARU THRILLER</i> TAHUN 2019! BUKU ERA INI! THRILLER MENEGANGKAN YANG MENGEJUTKAN!]
“Sudah lama aku tak melihat yang seperti ini... Semuanya kuno.” Komentar Nyonya Go membuang semua lembar kertas dilantai.
“Maaf. Nanti akan lebih baik...” kata Dan Yi tertunduk sedih
“Kau tak cocok menjadi pemasar. Desainnya seperti pada tahun '90-an. Dalam pemasaran, modernitas adalah kunci. Apa Kau tahu itu? Kenapa kau melakukan hal yang tak diminta dan diceramahi tanpa alasan? Kukira kau tahu itu karena kau tua, tapi kau sama tak pahamnya dengan para pemula. Jadi Keluarlah dan berhenti membuang waktuku... Sabar, Dan Yi” ucap Nyonya Go sinis. 

Dan Yi akhirnya pergi ke perpustakan mencari referensi tentang ERA BARU THRILLER, Noir yang intens.. lalu mulai mencatat semuanya dlam buku.

 “Novel yang akan membuat jantung berdebar musim dingin ini.  Pertarungan akal yang akan menghilang bagai fatamorgana.” Ucap Dan Yi terlihat bahagia bisa merangkai kata, tapi menurutnya terdengar aneh.


Dan Yi membuat teh di pantry melihat Hae Rin datang lalu menawarkanya, Hae Ri melihat berkas diatas meja lalu bertanya apakah itu judul untuk uraian buatan Dan Yi. Dan Yi mengaku  ingin memberikan ide dan membantu perusahan juga.
“Maukah kau melihatnya?” kata Dan Yi, Hae Rin seperti tak enak hati diminta tolong. Saat itu Dan Yi menerima tamu dari bagian service printer akhirnya pergi mengantarnya. Hae Rin pun melihatnya. 

Dan Yi akhirnya kembali dan tak melihat Hae Rin dipantry lalu melihat catatan yang dituliskan “TERDENGAR SEPERTI KAU MEMOHON ORANG UNTUK MEMBELI BUKUNYA” Ia mengeluh menurutnya tak ada yang  salah memohon, tapi menurutnya Hae Rin juga benar.
“Alih-alih dengan nada menjual, aku harus membuat pembaca menginginkannya sendiri.” Ucap Dan Yi
Setelah itu melihat lembaran lain dan Hae Rin menuliskan catatan lain  "Kau hanya menjelaskan isi bukunya." Lalu "Ini tak cerdas, Ini tak langsung memikat pembaca." Wajah Dan Yi tersenyum bahagia ada tanda bintang di judul yang paling belakang. 

“Kukira kau mengajar kelas hari ini.” Ucap Dan Yi santai melihat Eun Ho masuk ruangan.
“Panggil aku yang benar di kantor,. Bu Kang Dan Yi” kata Eun Ho,  Akhirnya Dan Yi memanggl Sopan Pak Cha.
“Bagaimana ini untuk judul uraian?” tanya Dan Yi memberikan tulisanya. Eun Ho melihat judul [PERTARUNGAN AKAL SENGIT YANG AKAN MEMBUATMU TAKJUB] 

Dan Yi mempersiapkan RAPAT STRATEGI PEMASARAN BUKU BARU PUKUL 14.00 dengan menyusun gelas dan map diatas meja. Para pekerja pun mulai masuk ruangan,  Ia memberikan draf final uraiannya pada Nyonya Goo. Nyonya Goo dengan wajah sinis mengambilnya.
Tuan Kim dkk pun akhirnya masuk ruangan dan akan mulai rapat. Dan Yi duduk di meja kerjanya memikirkan Apakah uraian yang baik itu?
Eun Ho membahas Uraian yang baik itu harus merefleksikan judul bukunya. Tuan Bong pikir Nuansa bukunya harus bertepatan dengan misterinya jadi harus memakainya sebagai tema. Nyonya Seo pikir itu bagus, tapi coba bicarakan itu dengan pembaca di toko buku.
“Siapa yang akan membelinya?” ucap Nyonya Seo, Pegawai lain setuju karena mereka harus membuat pembaca membeli bukunya dulu.
“Bu Go, ada pendapat?” tanya Tuan Kim. Nyonya Go mengaku  punya beberapa lalu memberikan lembaran kertasnya.
“Kau selalu andal, Ini Keren dan bagus... Ini membawa semangat dan membuat tertarik.” Ucap Tuan Kim melihatnya. Semua pegawai pun mengaku jadi penasaran setelah melihatnya.
Eun Ho dan Hae Rin melihat lembaran kertas hanya terdiam karena tahu itu milik Dan Yi. Hae Rin mengingat saat membaca "Pertarungan akal yang akan membuatmu takjub." Dan memberikan tanda bintang.
Eun Ho mengingat saat Dan Yi ingin tahu pendapat Eun Ho untuk judul uraian.  Ia ingat kalau itu milik Dan Yi tapi diakui oleh Nyonya Go. Tuan Kim berkomentar kalau  Cara lama terkadang berfungsi jadi tak tahu cara berpikir anak muda.
“Ini sebabnya dia digaji mahal. Daripada dibuat singkat, mungkin lebih baik pakai cara lama dengan beberapa kalimat. Serta mudah dimengerti. Ini membuatku penasaran.” ungkap Tuan Kim memuji Eun Ho dan Hae Rin hanya menatap ke arah Nyonya Goo. 

Akhirnya rapat pun selesai dan satu persatu keluar ruangan, Dan Yi seperti tak sabar menunggunya, Eun Ho terlihat acuh sampai begitu juga Nyonya Goo. Ia mendengarkan komentar kalau tdak sering uraian Bu Go terpilih daripada uraian Bu Seo.
"Pertarungan akal yang akan membuatmu takjub." Itu sebabnya dia jadi direktur Diksinya tak seperti biasanya.” Komentar Beberapa pegawai.
Dan Yi terdiam karena itu tulisannya tapi malah diakui oleh Nyonya Go, Hae Rin akan keluar dari ruangan, keduanya saling menatap tapi Hae Rin mencoba acuh dan Dan yi seperti merasa tersakiti karena Hae Rin tahu kalau gagasan itu miliknya.
“Apa ini sering terjadi? Ini uraianku... Kau tahu itu... Kau tahu arti bintang ini.” Ucap Dan Yi melihat lembar kertasnya.
“Aku tak paham yang kau bicarakan... Kurasa ini bukan salah satu salinan yang kau tunjukkan.” Kata Hae Rin.  Dan Yi akhirnya hanya bisa terdiam. 

Dan Yi akhirnya akan turun dari lift, tak sengaja bertemu dengan Hae Rin tapi keduanya hanya diam saja bahkan didalam lift. Dan Yi pun terlihat masih sangat kecewa. Hae Ri ingin bicara tapi seperti tak enak hati, akhirnya berani untuk bicara.
“Dan Yi, Ini tempat bekerja... Kuberi tahu saat hari pertamamu. Saat kami merekrut sepuluh orang, hanya satu yang bertahan setelah tiga tahun. Jika kau mau bertahan di sini, maka berhentilah berpikir ini tak adil.” Ucap Hae Rin
“Bukan hanya itu yang kupikirkan. Aku juga kecewa pada seseorang. Tanpa memihakku, atau mempermasalahkannya, hanya bilang, "Aku tahu yang kau rasakan." sudah cukup bagiku. Alih-alih menasihati atau menenangkanku, bersimpatilah denganku.” Ucap Dan Yi
“Kita semua manusia. "Aku tahu yang kau rasakan." Itu yang kuharapkan. Sampai jumpa besok, Bu Song.” Ungkap Dan Yi lalu keluar dari lift. Hae Rin pun hanya bisa diam. 



Dan Yi dan Eun Ho akhirnya minum bersama, Dan Yi tak percaya kalau beginilah cara orang bertahan mengambil ide pegawai kontrak. Dan Eun Ho pura-pura tak tahu. Eun Ho pikir sudah bilang akan sulit dan tak ada yang menyuruhnya.
“Kau memihak atasanmu” kelu Dan Yi. Eun Ho pikir Itu tak penting.
“Hanya karena idemu dipilih, tidak membuktikan kompetensimu.” Ucap Eun Ho
“Bukan itu yang kumau. Saat ini, aku hanya mau pegawai lain tahu itu ideku. "Dia bukan hanya orang yang bekerja rendahan. Dia bisa sukses jika diberi kesempatan." Sesuatu seperti itu Bahkan itu pun sulit dicapai.” Kata Dan Yi
“Kau mungkin butuh waktu lebih. Apa Kau bisa bertahan?” tanya Eun Ho
“Aku akan bertahan. Rasanya seperti aku memulai hal yang baru. Rasanya seperti aku rekrut baru. Apa Kau tahu apa yang sangat kusuka?” ucap Dan Yi memanggil nama Eun Ho berkali-kali.  Eun Ho pikir Dan Yi sedang mabuk.
“Kau tahu orang-orang... Sekarang orang-orang memanggilku dengan nama.” Ucap Dan Yi, Eun Ho binggung apa maksudnya.
Dan Yi selama ini menerima panggilan “Ibu, Sayang, Kau, Ibu” jadi selama ini, tak ada yang memanggil dengan nama padahal punya nama Kang Dan Yi, tapi tak ada yang memanggil namanya dan sekrang orang-orang memanggil namanya.
Dia awal Park Hoon memanggil namanya, lalu Ji Yool memanggil namanya saat ingin tahu umurnya.  Nyonya Seo memanggil namanya saat meminta agar siram tanaman. Dan Yi merasa kalau rasanya aneh tapi senang.
Eun Ho pun mengoda memanggil nama Dan Yi dan Dan Yi membalas dengan memanggil nama Eun Ho. Eun Ho pun mengoda Dan Yi dengan memanggil “ Dan-i cantikku.” Lalu Dan Yi membalas “Eun Ho tampanku.”keduanya pun tampan. 
Dan Yi melihat wajahnya di cermin merasa terlalu banyak minum, lalu memanggil Eun Ho agar berhenti minum karena pasti mabuk. tapi Eun Ho sudah ada di ruang tengah, akhirnya membuka pintu kamar tak melihatnya.
“Ke mana dia saat sedang minum?” ucap Dan Yi binggung lalu mencoba menelp Eun Ho ingin tahu keberadaanya.
“Aku ada di taksi.” Kata Eun Ho, Dan Yi bingung karena Eun Ho banyak minum.
“Makanya aku naik taksi. Jika sadar, aku sudah menyetir sendiri. Kau tahu aku tak suka orang lain mengemudikan mobilku.” Ucap Eun Ho
“Lalu Kau mau ke mana?” tanya Dan Yi, Eun Ho pikir pasti akan pulang ke rumah.
“Hei, kau minum di rumah... Ini aku, Dan Yi, Kita minum bersama di rumah. Kau mau ke rumah siapa? Apa kau semabuk itu?” ucap Dan Yi  Eun Ho tersadar lalu bertanya pada sopir taksi kemana mereka akan pergi. 


Akhirnya Eun Ho pun turun dari taksi dan melihat rumah Dan Yi yang akan dipugar. Seperti sudah jadi kebiasan Eun Ho yang pergi ke rumah Dan Yi saat mabuk.
“Kapan pun aku mabuk, aku datang kemari karena aku sangat merindukan Dan Yi. Terkadang, aku dengar tawanya. Terkadang kudengar mereka bertengkar. Dan terkadang Aku melihatnya menangis.”
Eun Ho datang ke tempat Dan Yi walaupun berganti musim, mendengar suara teriakan Dan Yi dan Dong Min bertengkar, bahkan Dan Yi yang menangis didepan rumah Eun Ho memilih untuk bersembunyi.
“Saat itu, aku bahkan tak bisa menyapanya. Kukira hatiku akan hancur.”
Akhirnya Eun Ho kembali ke rumah, Dan Yi menunggu didepan rumah dengan wajah panik menanyakan keadaanya dan ingin tahu dari mana. Eun Ho menatap wanita yang selama ini dirindukanya.
“Kini aku tak perlu ke sana setelah minum. Dan Yi tinggal di rumahku.” Gumam Eun Ho lalu memeluk erat Dan Yi, dan Yi terlihat binggung.
Bersambung ke episode 4

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Dan Yi dan Eun Ho akhirnya duduk bersama di meja makan, keduanya hanya diam saja. Akhirnya Dan Yi mengambil sebotol wine langsung mengisi penuh, Eun Ho akan mengambilnya tapi Dan Yi dengan cepat meminum habis wine sekali teguk.
“Apa kau tahu seberapa keras miras itu?” ucap Eun Ho marah, Dan Yi seperti tak peduli
“Lalu apa? Apa Kau akan mengusirku? Aku yakin kau tahu aku bercerai setahun lalu, dan aku bilang kehilangan rumah. Mereka akan bongkar rumah itu, jadi aku tinggal di sana diam-diam tanpa air dan listrik.” Cerita Dan Yi
“Aku mengusir pembantumu lalu mandi dan makan di sini. Lalu pembongkarannya dimulai. Jadi, aku diusir. Aku bahkan belum sepuluh hari tinggal di sini.” Akui Dan Yi
“Bisanya kau bersikap tak acuh begitu?” komentar Eun ho. Dan Yi pikir Eun Ho ingin dirinya harus menangis.
“Apa Kau mau aku menangis? Apa  Aku tak akan diusir jika menangis? Kau akan kesal jika aku menangis... Dan jika tahu tentang kondisiku,  Maka kau akan terus kesal.” Ucap Dan Yi dengan nada sedikit tinggi
“Tetap saja, harusnya kau bilang. Lebih baik aku melihatmu menangis di depanku.” Ungkap Eun Ho
“Aku telah cukup menangis setahun ini. Satu hal yang diajarkan air mata, itu adalah fakta menangis tak selesaikan apa pun.” Ucap Dan Yi bangun dari tempat duduknya membawa botol wine.
“Apa Kau mau minum lagi?” ucap Eun Ho, Dan Yi mengajak mereka tidur saja lebih dul dan bicara besok.
“Dan-i, kau harus berhenti minum. Itu bisa menjadi kebiasaan.” Ucap Eun Ho dari bawah melihat Dan Yi membawa botol winenya.


Dan Yi menaiki tangga bisa bernafas lega karena Eun Ho tak mengikutinya, lalu menahan mual karena wine yang diminumnya keras sekali, tapi berpura-pura kuat minum didepan Eun Ho. Akhirnya Ia naik ke lantai atas membuang semua wine keluar jendela.
“Eun-ho. Aku menghabiskan sebotol miras yang keras ini... Aku sangat stres.” Ungkap Dan Yi membuang semua wine keluar jendela lalu berbaring dengan wajah bahagia.
“Tampaknya dia tak akan mengusirku. Artinya tak perlu makan diam-diam. Aku bisa tinggal tiga bulan sampai dapat tempat baru, 'kan? Syukurlah aku masih punya Eun-ho.” Ucap Dan Yi bahagia lalu menarik selimut dan mengambil tas sebagai bantal dan tertidur pulas. 

Esok paginya, Eun Ho hanya bisa melonggo melihat botol wine yang koson, tak menyangka Dan Yi sudah menghabiskannya, lalu memikirkan kalau cinta pertamanya itu bisa mati. Sementara Dan Yi sedang sibuk melipat handuk disauna.
“Apa Kau sungguh dapat pekerjaan dan tempat tinggal?” tanya si bibi dengan wajah bahagia.
“Itu hanya sementara. Aku dapat kerja, jadi, bisa cari tempat tinggal.” Cerita Dan Yi
“Aku turut senang untukmu. Kau masih muda, terlalu baik untuk tempat ini. Kau pasti akan berhenti dari sini.” Komentar Bibi
“Tidak, aku akan datang dua kali sepekan pagi-pagi. Aku sudah bicara dengan bosku.” Kata Dan Yi
“Jae-hui ingin tetap sekolah di sana, Suruh saja dia kembali. Apa Kau sanggup membiayainya?” kata Bibi
“Sekolah negeri di Filipina tak mahal. Serta, aku mengirim dia ke sana karena dia tak tahan dirisak di sini. Jadi Aku tak bisa menyuruhnya kembali... Yah... Tidak apa-apa. Aku hanya harus hemat.” Kata Dan Yi yakin
“Kau masih muda dan cantik, kau harus berkencan. Apa Kau mau merawatnya seumur hidup?” ucap Bibi mengoda.
“Ya... Putriku adalah prioritas utamaku, pekerjaan kedua. Hanya dua itu yang kupikirkan. Aku harus kerja untuk besarkan putriku. Jadi, sebenarnya tak ada prioritas. Keduanya prioritasku... Mereka segalanya bagiku.” Kata Dan Yi yakin. Bibi pun setuju. 



Eun Ho sibuk masak didapur dengan memasukan semua bahan ke panci dan mencicipnya walaupun rasanya aneh. Akhirnya ia menaiki tangga mengetuk pintu meminta Dan Yi bangun, tapi tak ada yang menyahut padahal sudah  membuat sup pengar.
“Rasanya agak aneh, tapi tak apa-apa, selama ini membuatmu sadar.” Ucap Eun Ho, Dan Yi tetap tak ada suara, akhirnya memilih untuk masuk kamar lotengnya.
Dan Yi tak ada dikamarnya, Eun Ho melihat tempat tidur Dan Yi yang seadanya, dan kardus sebagai tempat bajunya. Ia pun melihat notes yang ditulis Dan Yi, sebagia daftar wawancara dengan tulisan Quote kalau pasti bisa melakukanya.
[PENERBIT HARI: TIM PEMASARAN WAWANCARA KEDUA, HOWON SOLUTION: TIM PENJUALAN WAWANCARA KEDUA! WAWANCARA KEDUA MTE MEDIA] Hasilnya hampir semua gagal kecuali dikantornya.
“Dia tak pakai bantal.” Kata Eun Ho sedih melihat cara Dan Yi tidur dirumahnya beberapa hari. 

Eun Ho pergi ke ruangan olahraga dengan beberapa alat, lalu hanya menatapnya. Sementara Dan Yi sudah ada di kantor akan menekan lift dan saat itu Eun Ho datang menekannya. Dan Yi akan menyapa lalu teringat semalam baru saja minm.
“Ahh... Perutku sakit sekali... Kenapa perutku sangat sakit? Aku terlalu banyak minum semalam.” Ucap Dan Yi berpura-pura saat akan masuk lift.
“Aku melihatmu berjalan saat aku berkendara ke kantor.  Kenapa kau pergi pagi-pagi? Jangan bilang kau ke UGD karena mabuk.”komentar Eun Ho
“Kau cemas karena minumanmu habis.” Ejek Dan Yi, Eun Ho mengaku tidak.
“Aku tidak kaget atau cemas. Tapi Aku minta penyewaku keluar dari apartemen. Dengan Tenggat bulan depan, dan akan pindah setelah tiga bulan. Jadi kau bisa Tinggal di sana setelah mereka pindah.” Ucap Eun Ho
“Aku akan cari tempat dan Aku tak mau mengganggu.” Kata Dan Yi
“Kau sudah sangat mengganggu. Tiga bulan aku tak punya privasi.” Keluh Eun Ho
“Untuk apa ada ponsel? Saat kau mau membawa wanita, kirimi aku pesan dan...” ucan Dan Yi bisa mengerti.
“Apa? Kau tidur di tempat lain?” ucap Eun Ho, Dan Yi membenarkan. Eun Ho pun memikirkan tentang barang-barang Dan Yi yang ada di loteng.
“Kenapa bawa wanita ke loteng? Lakukan saja di kamarmu... Maksudku... Bawa saja ke kamarmu dan bersenang-senang.” Ucap Dan Yi terbata-bata dan Eun Ho terlihat tersipu malu. Keduanya akhirnya terlihat canggung dan pintu lift pun terbuka. 


Keduanya keluar bersama dari lift, Eun Ho terlihat malu  bergegas pergi ke meja kerjanya dan membuka jaket karena tiba-tiba terasa panas sekali. Dan Yi mengejek kalau Wajah Eun Ho pasti sangat merah.
“Dan Yi , printer-nya rusak. Bisa tolong periksa?” ucap Hae Ri, Dan Yi menganguk mengerti lalu pergi ke tempat printer mencoba memperbaiki.
Beberapa pegawai akhirnya datang ke kantor, Dan Yi kebingungan berusaha memperbaiki printer, saat itu pesan Eun Ho mengirimkann pesan [Kita punya langganan jasa perbaikan. Mereka lebih ahli daripada Tim Pembantu. Nomornya di dinding.]
Dan Yi melihat Eun Ho terlihat sibuk didepan meja kerja tanpa menatapnya. Akhirnya Ia mencoba menelp pegawai service,  lalu seorang pegawai meminta Dan Yi agar memesan  kopi instan karena hampir kehabisan. Dan Yi mengerti sambil berbicara ditelp.
“Dan Yi, siram tanaman hari ini.” Ucap Nyonya Seo, Dan Yi pun tak membantah sambil berbicara ditelp mengambil air. Eun Ho yang duduk dimeja kerjanya seperti tak tega. 

Dan Yi mulai menyiram tanaman dengan mengeser ke arah matahari, Saat itu Eun Ho melihat dari kejauhan tanpa sadar Park Hoon mengajaknya bicara mengaku  sduah kerja keras dan kewalahan dengan wajah gugup kalau tak pernah melihat sedekat ini.
“Dan Yi.... Cari restoran Tiongkok Untuk Empat orang,Di Gangnam. Ruangan privat.” Ucap Tuan Bong. Dan Yi mengerti bergegas pergi ke meja kerjanya.
Eun Ho kembali ke meja kerjanya, Dan Yi kembali menerima telp dari Eun Ho [Pesan tempat ini untuk rapat dengan Pak Yun. Dia suka restoran ini. Kau Salin alamatnya dan kirim kepada Pak Bong.]
Dan Yi melihat Eun Ho seperti tak peduli tapi diam-diam membantunya, akhirnya membalasnya  [Jangan khawatirkan aku. Kau sudah janji. Fokus saja bekerja. Kau hanya mempersulit.]
“Pak Bong, aku sudah kirim alamat restoran yang kau minta.” Ucap Dan Yi pada Tuan Bong
“Sungguh? Kau cepat, Tempat ini tampaknya bagus.” Kata Tuan Bong, Dan Yi pun bisa tersenyum
“Dan Yi, bereskan salinan buku gratis... Ada 200 salinan di ruang rapat.”perintah Nyonya Seo  Dan Yi mengerti. 


Dan Yi Sebagai pegawai membantu melakukan semuanya yang disuruh oleh pegawai lainya. Ia mengankat semua buku ke ruang rapat seperti yang diperintahkan Nyonya Seo, lalu teringat kembali yang dikatakan Eun Ho sebelumnya.
“Pasti ada cara lain. Kenapa menyia-nyiakan ijazahmu Kau harus mengirim paket dan menjadi pesuruh untuk rekan kerja. Itu posisi bergaji rendah.” Dan Yi mengingatnya seperti tak akan menyerah demi mendapatkan uang. 
Saat itu Nyonya Go menelp agar bisa menyiapkan rapat eksekutif 20 menit lagi. Dan Yi ingin tahu Apa yang harus disiapkan, tapi Nyonya Go yang dingin langsung menutup telpnnya.  Akhirnya Ia bertanya pada Park Hoon saat Rapat eksekutif butuh apa saja, Park Hoon tak tahu karena pegawai baru.
“Bu Seo, aku harus siapkan apa untuk rapat eksekutif?” tanya Dan Yi  Tapi Nyonya Seo bergegas pergi karena ada telp untuknya.
“Bu Song, aku disuruh siapkan rapat eksekutif. Lalu Harus siapkan apa?” tanya Dan Yi pada Hae Ri
“Lima ELV.” Jawab Hae Rin dengan cepat. Dan Yi bingung apa itu "ELV" Hae Rin tak menjawab karena sibuk menerima telp.
Dan Yi binggung harus bertanya apda siapa, Nyonya Go heran melihat Dan Yi seperti pergi kesana kemari menyuruh agar bawa kartu kredit kantor. Dan Yi pun bergegas pergi mengambil kartu kredit. 


Hae Rin mengangkat telp di meja kerjanya, Ibu Ji Yool menelp dengan gaya seperti orang kaya memberitahu kalau anaknya ketiduran pagi ini menurutnya Ji Yool pasti gugup karena ini hari pertamanya berkerja. Hae Rin menahan amarah bertanya kenapa menelpnya.
“Putriku sangat naif sampai tak tahu apa pun soal ini. Mulai kini, akan kubangunkan lebih awal Jadi, jangan memarahinya Aku menelepon karena cemas.” Ucap Ibu Ji Yool di telp.
“Maafkan aku... Maaf, aku terlambat.” Kata Ji Yool baru datang menyapa semua senior, tatapan Hae Rin langsung sinis menatap juniornya lalu menutup telpnya
“Aku melihat lebih dari 20 pegawai baru sejak bergabung di Gyeoroo, tapi ini kali pertama aku dapat telepon dari ibu seseorang karena dia terlambat.” Kata Hae Rin sinis
“Itu karena aku anak tunggal jadi Mengertilah.” Kata Ji Yool masih terlihat bercanda.
“Kenapa kau tak sopan padaku?”kata Hae Rin  dengan nada tinggi. Ji Yool mengaku hanya ingin berteman dengannya.
“Kenapa kita harus berteman? Aku atasanmu, dan kita kolega, tak lebih. Kau memang bodoh, tapi jangan melewati batas.” Tegas Hae Rin. Ji Yool akhirnya hanya bisa tertunduk meminta maaf.
Park Hoon melihat dari balik rak seperti sedih karena Ji Yool kena omelan. Hae Ri melempar buku “PEDOMAN EJAAN” menyuruh Ji Yool untuk mengecek naskahnya. Eun Ho berkomentar kalau  mengoreksi mungkin sulit...
“Aku... Aku pernah melakukan yang lebih sulit saat masih pegawai baru karena atasanku benar-benar hebat. Aku akan ke sana agar fokus bekerja.” Tegas Hae Rin berusaha seperti senior yang dingin. Eun Ho pun tak bisa berkata-kata. 



Sementara Dan Yi memikirkan kalau diberikan kartu kredit kantor, maka "ELV" pasti tak ada di kantor jadi Pasti harus dibeli. Ia mencoba bertanya pada Eun Ho tapi diurungkan niatnya, Eun Ho melihat dari kejauhan.  Dan Yi pun memikirkan tentang Apa arti "ELV"? didepan lift.
“Apa Kau tak tahu ELV? Kau bilang aku tak perlu cemas.”ejek Eun Ho tiba-tiba sudah ada dibelakang Dan Yi. Dan Yi pun bertanya apa itu artinya.
“Itu akronim dari "Es Latte Vanila". Disini, Bersemangat saja tak cukup. Kau harus Cepat. Waktumu sepuluh menit.”ucap Eun Ho mendorong Dan Yi masuk ke dalam lift sambil mengejeknya. 


Eun Ho sedang membaca di depan rak, Hae Rin datang berpikir kalau ada rapat eksekutif. Eun Ho tahu tapi ada yang ingin diperiksa dulu dan menyindir Hae Ri yang menunjukkan dirinya sebagai bos kepada pegawai baru.
“Aku belajar bahwa pegawai baru harus dilatih dengan ketat, Dari atasanku.” Ucap Hae Rin
“Hae-rin...” ucap Eun Ho menyuruh agar mendekat. Hae Rin mengeluh karena terlalu berlebihan. Eun Ho tetap meminta agar lebih mendekat. Hae Rin pun tak bisa menolak.
Akhirnya Eun Ho memberikan setilan di kepala Dan Yi, Dan Yi pun mengeluh kesakitan.  Eun Ho mengaku sudah lama tak lakukan itu dengan senyuman bertanya apakah terasa sakit. Dan Yi mengeluh karena seperti sudah tak harus menerimanya.
“Sekali atasan, memang tetap atasan. Tapi Jangan terlalu keras padanya Atau dia akan keluar seperti seseorang dulu. Dia akan menangis.” Ucap Eun Ho
“Jika mau keluar, maka segeralah. Katamu, ajari orang yang akan menyerah sangat sulit.” Kata Hae Rin
“Ohh Begitu... Apa  Itu sebabnya kau menangis? Lalu kau ke rumahku dan memohon agar aku kembali. Tapi Kau cukup percaya diri setelah dipromosikan.” Ejek Eun Ho yang membuat Hae Rin berjalan mundur karena terlalu dekat.
“Aku belajar sesuatu dari sini... Aku mempelajarinya darimu. Apa kau Bisa bawakan pakaianku?” ucap Hae Rin
“Kenapa? Kau pasti akan mabuk dan datang lagi.” Kata Eun Ho lalu berjalan pergi.  Hae Ri hanya bisa tersenyum. 



“Kenapa tak bilang saja? Kenapa pakai akronim? Lalu apa "Latte Vanila Panas"? LVP? Astaga, yang benar saja. "Es Latte Vanila". Kata yang membuatku seperti orang bodoh artinya "Es Latte Vanila". Yah...  Benar, dunia memang berubah.” Gumam Dan Yi kesal membawa gelas kopi ke ruang rapat dengan tergesah-gesah.
“Kenapa aku taruh kotaknya di meja?” ucap Dan Yi tersadar kalau akan dipakai rapat. Akhirnya Ia menaruh kembali kotak buku ke dalam trolly. Saat itu Ia seperti melihat wanita yang ditemuinya.
“Apa kataku? Kubilang dunia berubah saat kau jadi ibu rumah tangga. Kau pantas dapat ini. Aku tersinggung. Apa kau Tahu yang kulakukan demi tetap bekerja? Beraninya kemari untuk mendapat pekerjaan yang bertahun-tahun kudapatkan?” ucap Si wanita.
Dan Yi hanya bisa terdiam mencoba agar tetap yakin bisa terus berkerja. Eun Ho melihat dari kejauhan seperti tak tega. Tuan Bong melihat Eun Ho hanya diam saja mengajak untuk masuk. Akhirnya semua masuk ruangan rapat, Dan Yi pun mendorong trolly keluar ruangan. 


“Aku memutuskan untuk menerima bahwa dunia berubah selagi hidupku tetap sama. Kupikir aku yang paling bekerja keras, sibuk urus anak dan rumah tangga, tapi semua orang juga bekerja keras dan melakukan yang terbaik dalam situasi mereka. Itu sebabnya aku di sini dan mereka di sana.” Gumam Dan Yi menatap dari luar pintu rapat. 
Eun Ho yang rapat mulai membagikan kopi pada rekan kerjanya, Dan Yi pun akhirnya pergi dengan wajah sedih. Eun Ho  pun sadar sedari tadi Dan Yi menatap ke arah ruangan rapat. 

Seo Joon melihat bangku taman didepan toko baju gaun pernikahan teringat kembali saat memakaikan sepatu untuk Dan Yi.
Flash Back
“Berpikir diselamatkan kesatria berzirah berkilau terlalu muluk untuk kupercaya. Aku lebih baik menulis sendiri kisah hidupku. Namun, kurasa hidup punya hari-hari yang dingin.” Ucap Dan Yi

Seo Joon sedang ada toko buku lalu menelp seseorang dengan membahas  Soal novel karya Robert Friedrich yang bertanya apa   punya desain baru, karena Malam Cerah Musim Panas akan dicetak kembali. Ia pun berpiki akan mengubah warna sampulnya.
“Warna edisi Inggris dan Prancis berbeda.  Itu sebabnya kami pilih warna berbeda, biru. Ya, kali ini kita pakai warna dari edisi Inggris pertama, dan warna edisi Prancis untuk selanjutnya. Edisi kedua harus spesial agar populer.” Ucap Seo Joon di telp setelah melihat buku “MALAM CERAH MUSIM PANAS”
“Kurasa kau tertarik dengan buku pengembangan diri. Kau harus baca buku ini. Satu dari buku terbaik yang kubaca, Menawarkan pandangan hidup yang sederhana sekaligus luar biasa. Meskipun penulis buku ini lewati banyak kesulitan, dia cerdik, buku ini jadi lucu.” Komentar Tuan Kim yang tiba-tiba datang, tapi Seo Joon seperti tak peduli
“Ini buku bagus, Kau akan menyesal jika tak baca.” Ucap Tuan Kim memperlihatkan buku berjudul “HAL YANG PERLU AKU TAHU KUPELAJARI DI TK. Seo Joon tetap saja diam. Dari kejauhan, Eun Ho melihat sikap CEO-nya.
“Astaga, kau juga tertarik dengan sastra. Apa Kau tahu buku ini? Dari Eropa sampai Jepang, buku ini sangat sensasional, tapi hanya diterbitkan di Korea... Bacalah. Kau tak akan menyesal.” Kata Tuan Kim menawarkan yang lainya.
“Kau pasti bekerja di penerbit... Semua itu diterbitkan Penerbit Gyeoroo... Apa Kau bagian pemasaran?” komentar Seo Joo melihat buku yang dibawa oleh Tuan Kim.
“Bukan... Ahh... Aku tak paham... Gyeoroo? Itu nama penerbitnya? Astaga, kau pasti salah paham... Aku hanya pembaca yang sungguh berusaha...” ucap Tuan Kim mencoba menyakinkan tapi saat itu  Eun Ho datang memanggilnya. 




“Pak Kim... Aku mencarimu ke mana-mana... Kenapa pegang buku kita? Kau bisa diusir dari sini... Kau telepon saat aku sibuk... Apa Kini kau ada waktu untuk menjual buku? Kenapa ingin menemuiku?” ucap Eun Ho menarik Tuan Kim untuk pergi.
Tuan Kim terlihat malu dan binggung karena mencoba menyakinkan Seo Joon tapi malah dijatuhkan oleh Eun Ho. Akhirnya Tuan Kim memperlihatkan beberapa buku meminta Seo Joon agar membaca bab pertama buku yang dibawanya.
“Bukan karena ini buku kami, tapi Ini sungguh buku yang bagus.” Ucap Tuan Kim menyakinkan. Eun Ho menarik Tuan Kim agar segera pergi saja. 

Keduanya akhirnya berdiri didepan standing banner [KISAH ILMUWAN NAIF YANG BERTAHAN HIDUP DI MARS] Eun Ho mengeluh merasa tak ada masalah dengan standing banner karena bekerja siang dan malam untuk buku itu.
“Apa Ini caramu yang buruk memasarkannya? Iklan bukumu bukanlah masalahnya sekarang... Pak Cha.. Coba liat ini. Bagaimana menurutmu? Coba Lihat sampul buku ini, Semua Lebih baik dari keseluruhan buku kita. Apa gunanya membaca semua naskah? Kini orang-orang membeli buku karena sampulnya.” Ucap Tuan Kim
“Buku bukan aksesori.” Tegas Eun Ho, tapi Tuan Kim merasa buku adalah aksesori.
“Orang dinilai berdasarkan buku yang mereka bawa. Coba kau Lihat ini.” Ucap Tuan Kim mencoba membawa buku judul “ORANG MARS yang menurutnya betapa membosankannya.
“Tapi Coba kau lihat buku, MALAM CERAH MUSIM PANAS, Apa Aku lebih tampan? Ini Sampul desain Ji Seo Joon, Dia desainer terbaik. Semua buku di sini didesain olehnya. Jadi Bawa dia kepadaku... Bawa dia ke Gyeoroo.” Tegas Tuan Kim
“Bagaimana aku harus...” keluh Eun Ho, Tuan Kim merasa kalau dirinya tak mungkin melakukana.
“Koneksimu paling bagus, kau juga paling kompeten. Jadi Bawa dia.” Tegas Tuan Kim. Diam-diam Seo Joon mendengar dari kejauhan. 



Tuan Kim kembali mencoba mendekati pembaca lain bertanya apakah mencari buku baru yang menarik. Seo Joon masih ingat dengan Tuan Kim, Akhirnya Tuan Kim berjalan pergi sambil berkomentar kalau Seo Joon membuka mantelnya karena panas.
“Kita harus menjual semua buku itu... Buku yang langsung dibeli begitu diambil... Bawa Ji Seo-jun. Dia bekerja untuk Wolmyeong. Mereka akan membarui kontrak bulan depan. Bawa dia ke Gyeoroo sebelum menandatangani kontrak... Ingat itu.” Ucap Tuan Kim pada Eun Ho, Eun Ho hanya bisa menatap buku MALAM CERAH MUSIM PANAS

Hae Rin memberikan berkas pesanan buku Park Joo Eun pada Eun Ho, lalu Eun Ho bertanya apakah tahu Seo Joon karena mendesain buku yang diatas meja. Hae Rin mengaku tertarik pada desainnya. Eun Ho ingin tahu alasanya. Hae Rin melihat kalau Konsepnya jelas.
“Ini mudah dibawa dan dibaca karena ringan dan sampulnya tipis. Buku Ini bisa dibaca di bus atau kereta... Sedangkan yang ini, bisa mudah dibawa saat kau bepergian. Tapi buku ini terlalu tebal untuk dibawa dan Ini juga mahal. Ini dibuat tampak berkelas agar bisa dipajang di rak buku.” Jelas Hae Rin.
“Tapi Konten lebih penting, 'kan?” kata Eun Ho merasa tak buku design buku.
“Ya, tapi desain tak memengaruhi konten. Tapi Coba kau Lihat buku ini. Ini ditujukan untuk wanita berumur 20-an sampai 30-an. Terlihat Cantik, seperti aksesori. Dan buku ini tentang memulihkan hidup kita. Jadi, sampulnya sederhana dengan warna natural.” Ucap Hae Rin.
“Benar. Desainnya bagus dan bersih, Desain sampulnya bagus. Uraiannya mudah dibaca. Dia membaca bukunya dahulu... Dia tahu di mana harus menyuntingnya. Ini bukan pekerjaan penulis atau editor. Ini pekerjaan desainer buku.” Kata Eun Ho
“Staf Tim Desain kita harus selangkah lebih maju. Mereka sangat santai.” Ucap Hae Rin
“Astaga, ini melukai harga diriku. Buku tetaplah buku. Apa Pikirmu ini tak terlalu komersial?” keluh Eun Ho, Hae Rin ingin bicara tapi disela oleh Eun Ho.
“Aku tahu kau hanya ingin orang-orang baca buku kita. Semuanya buku yang bagus. Aku juga merasa begitu.” Ucap Eun Ho 



Seo Joo melihat design judul buku “SATU HARI MUSIM SEMI” saat itu anjingnya mendekat dan berpikir kalau  ingin jalan-jalan. Akhirnya Ia pun mengajak anjingnya keluar rumah.
Dan Yi diajak pergi oleh seorang paman masuk sebuah ruangan, dahinya langsun mengerut karena ruangan banyak jamur akibat terlalu lembab, lalu bertanya apa ada yang pernah tinggal disana. Paman mengaku pasti ada.
“Penyewa sebelumnya memasang tirai tebal karena sinar mataharinya terlalu silau.” Ucap si paman. 

Dan Yi keluar dari gedung dengan wajah sedih, saat itu Seo Joon menuruni tangga keluar rumah lalu berpapasan. Dan Yi memanggil Seo Joon dengan sebutan payung sementara Seo Joon memanggil Dan Yi itu Daun Bawang. Dan Yi memberitahu kalau sedang mencari kamar yang disewakan.
“Ahh.. Tempat itu?” ucap Seo Joon melihat gedung yang gelap. Dan Yi bertanya apakah Seo Joon tinggal digedung disampingnya.
“Kau pasti tinggal di lantai atas.” Kata Dan Yi karena sebelumnya melihat Seo Joon menuruni tangga. Seo Joon kaget karena Dan Yi bisa mengetahuinya.
“Aku bisa merasakan energi daun bawang dari sana.. Ahh... Aku melihatmu keluar setelah lampunya menyala.” Akui Dan Yi tak mau berbohong.
“Apa Mau lihat? Itu Ada di depan pintuku.” Kata Seo Joon senang bertemu dengan Dan Yi. 

Keduanya duduk diteras, Seo Joon mengaku daun bawang cepat tumbuh setelah kupotong bagian hijaunya dan Sering dipakai memasak. Dan Yi pun senang mendengarnya dan mengaku bersyukur atas bantuan Seo Joon hari itu.
“Namun, Apa kau mau menyewa ruangan studio yang barusan kau lihat?” tanya Seon Joon. Dan Yi juga belum tahu
“Tapi kamar itu hanya tiga halte dari kantorku Dan dekat dengan rumah temanku.” Kata Dan Yi 
“Jangan di sana, Ruangan Itu dulu adalah gudang dan Tak ada yang tinggal di sana tiga tahun terakhir.” Ucap Seon Joon
“Ahh.. Pantas saja. Aku mau tinggal di lingkungan ini. Namun, sewanya sangat mahal sekali.” kata Dan Yi
“Apa Kini kau tinggal di mana?” tanya Seo Joon, Dan Yi menjawab Di rumah temannya didekat sini.
“Aku tinggal di sana karena tak punya rumah Tapi aku tak mau mengganggunya. Aku akan kembalikan payungmu jadi akan kutaruh di samping pot itu.” Kata Dan Yi menunjuk ke pojok rumah. Seo Joon setuju.
Keduanya berdiri dan tiba-tiba lampu mati, tangan mereka berdua langsung melambaikan agar kembali menyala lalu tertawa. Dan Yi melihat anjing Seo Joon lalu bertanya Siapa nama anjingnya. Seo Joon mengaku  belum punya nama.
“Dia kubawa saat kita bertemu, jadi Kurasa kau belum punya nama.” Akui Seo Joon
“Lain kali aku ke sini, akan kupikirkan nama maskulin untukmu. Apa Dia betina?” kata Dan Yi mengusap-gusap anjing milik Seo Joon. 


Park Hoon mencari sesuatu dengan senyuman bahagia akhirnya bisa menemukannya. Ia masuk restoran, mengaku datang sendirian dengan memastikan lebih dulu kalau Pegawai kantor dapat diskon jika makan disana. Pelayan restoran membenarkan asal ada kartu nama.
“Aku punya dan Ini kartu namaku karena Aku baru dapat kerja.” Ucap Park Hoon bangga
“Apa Kau tahu Penerbit Gyeoroo? Lokasinya dekat sini.” Ucap pelayan mengantar ke meja yang kosong.
Park Hoon baru saja duduk melihat Ji Yool duduk sendirian didepanya bertanya apakah akan makan malam. Ji Yool membenarkan, Park Hoon bertanya apakah datang sendiri dan mengajak untuk bergabung. Ji Yool mengaku sedang menunggu pacarnya.
“Aku tak tahu kau punya pacar... Selamat makan.” Kata Park Hoon terlihat kecewa lalu kembali ke mejanya. Saat itu pria datang duduk di depan Ji Yoo
“Hei, kau sedikit terlambat” kata Ji Yool menyapa pacarnya dengan sumringah. Pacar Ji Yool mengaku Jalanan macet.
“Kau pasti lapar... Jadi Mau makan apa? Bagaimana kalau rosé pasta?” ucap Ji Yool. Si pria menolak karena tak akan makan. Ji Yool bingung ingin tahu alasanya.
“Kau mungkin juga tak akan sanggup makan... Sebab aku datang untuk memutuskanmu... Aku datang untuk bilang itu... Aku benci semua hal tentangmu..  Ibumu menyuruhku memberi tahu itu. Aku menyukaimu apa adanya, tapi ibumu menyuruhku bilang itu. Aku tak bisa bersamamu lagi karena aku muak dengan ibumu.” Tegas si pria.
“Ibuku hanya menjagaku...” ucap Ji Yool tak bisa berkata-kata. Park Hoon mendengarnya hanya bisa tertunduk membawa buku menu.
“Aku tak peduli. Semoga hidupmu bahagia... Kita tak usah bertemu lagi, Ji-Yool...Sangat menyebalkan.” Ucap si Pria langsung pergi. 


Ji Yool hanya bisa tertunduk sedih karena ternyata diputusin pacarnya. Park Hoon sengaja berkomentar kalau pizza yang dipesanya Besar sekali dan tak sanggup menghabiskan sendiri, mengajak Ji Yool  makan bersamanya. Ji Yool malu memilih untuk pergi tapi akhirnya kembali lagi.
“Aku makan karena kau bilang tak sanggup menghabiskannya.” Kata Ji Yool mulai makan. Park Hoon mengerti karena wanita pasti punya harga diri.
“Jadi Sudah berapa kali kau diputuskan seperti ini?” tanya Park Hoon. Ji Yool mengaku sudah sering.
“Kenapa tak hadapi saja ibumu? Ini kehidupan cintamu.”kata Park Hoon.
“Menurutmu berapa harga tasku? Harganya lebih dari tiga bulan jumlah gaji kita dan Ibuku yang membelikannya.”kata Ji Yool tak bisa melawan sikap ibunya.
“Apa Itu Lebih penting daripada cinta?” ucap Park Hoon, Ji Yool mengaku tak tahu karena menurutnya tasnya bagus.
“Kau Makanlah satu potong lagi.” Ucap Park Hoon tak ingin membahasnya, Ji Yool kembali makan meminta soda. Park Hoon pun memesan Ji Yool agar bisa menghiburnya.
“Lupakan saja itu... Kau pantas dapat yang lebih baik.” Ucap Park Hoon, Ji Yool pikir dirinya jauh lebih baik.

Bersambung ke part 2

Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09