PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 02 Juli 2017

Sinopsis Fight My Way Episode 12 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
[Episode 12 - Jika Impian Menghilang Saat Dewasa, Maka Aku...]
Dong Man menunggu ayahnya di halte dan langsung membawakan barang bawaan saat ayahnya turun. Tuan Ko mengeluh Dong Man yang harus menjemputnya dan apakah ia tidak bekerja. Dong Man mengaku sedang  istirahat.
“Apa Dengan berpakaian begitu?” ejek Tuan Ko. Dong Man membenarkan dan melihat ayahnya pergi lebih dulu, lalu memanggil ayahnya agar menunggunya karena bukan orang asing.
Dong Man mengeluarkan semua kotak makan yang dibawakan oleh ibunya, Ayahnya berkeliling rumah lalu mengeluh anaknya hanya tahu minum miras lalu menyuruh membuang barang –barang rongkos yang masih disimpan. Dong Man bertanya apakah tidak akan bekerja menurutnya Ini perjalanan bisnis. Tuan Ko mengejek anaknya yang tak berkerja. 

“Kenapa kau memakai celana olahraga seharian? Kau tidak bekerja, Kau di rumah saja, kan?” ejek Tuan Ko. Dong Man berusaha menyakinkan kalau bekerja.
“Apa pekerjaanmu hingga memakai celana olahraga? Kenapa kau ada di rumah saat tengah hari?” ejek Tuan Ko
“Aku datang untuk menjemput Ayah. Karena kau belum pernah datang jadi pasti tidak tahu lokasinya.” Jelas Dong Man
Tuan Ko bertanya apakah Dong Man tidak akan menikah. Dong Man mengeluh karena ayahnya kembali Mulai lagi. Tuan Ko pikir kalau Dong Man ingin menikah dan memberi makan keluarganya maka akan melakukan berbagai macam pekerjaan, sementar Usia Dong Man  semakin bertambah bahkan Berpikir atau berencana pun tidak.
“Ayah, aku tidak akan menikah. Jadi, jangan pikirkan yang tidak penting.” Tegas Dong Man. Tuan Ko heran kenapa Dong Man tidak menikah
“Aku tidak punya rumah atau pekerjaan. Siapa yang mau menikahi pria yang tidak bijak? Tidak ada orang yang memulai dengan rumah besar.” Tegas Dong Man menahan amarahnya
“Di zaman ayah dulu, saat pemalas sepertimu, mengeluhkan hidupnya, aku menjadi kuli bangunan dan menata batu bata.” Ejek Ayahnya.
“Ayah pasti begitu sungguh-sungguh dan tidak malas, tapi kau tidak pernah membayar biaya pendidikan atau sewa kamarku. Jangan suruh aku hidup seperti Ayah Tapi, tetap saja, ayah tidak punya uang dan masih membesarkan anak-anak dengan segenap tenaga. Haruskah aku hidup seperti itu dan punya anak sepertiku? Aku ragu.”.” Tegas Dong Man dengan nada tinggi.
 “Ternyata Anakku bisa membenciku karena miskin. Kata siapa kau miskin?.” Ucap Tuan Ko dengan nada tinggi pula. 


Joo Man pulang ke rumah dan melihat kotak bertuliskan  "Dari Baek Sul Hee" dan isinya Ekstrak akar bunga lonceng organik" Ia pun hanya bisa menangis sedih karena malah membuat Sul Hee kecewa. Lalu bel rumah berbunyi, Sul Hee sudah ada didepan rumah. Joo Man langsung memeluk Sul Hee.
“Sul Hee, maafkan aku.” Ucap Joo Man. Sul Hee dengan tatapan dingin meminta agar Joo Man mengemasi barang-barangnya.
“Sul Hee, aku membuat kesalahan tempo hari. Itu hanya kesalahan.” Kata Joo Man menyakinkan.
“Itu bukan kesalahan dan bukan hanya satu hari. Kau mengubah ponselmu ke mode getar setiap malam. Setiap dia mengirim SMS dan ponselmu menyala, dan  aku merasa sangat ketakutan. Aku tahu kau akan menemuinya, tapi aku masih membiarkanmu. Jadi Kamu pikir bagaimana perasaanku?” ucap Sul Hee.
“Dia kecelakaan dan setelah itu, dia mabuk.” Jelas Joo Man
“Kau memikirkannya dan tidak bisa mengabaikannya. Joo Man... Kau.. melepaskan tanganku.” Ucap Sul Hee. 

Joo Man memohon agar Sul Hee tak melakukana. Sul Hee merasa Joo Man berpikir dirinya akan selalu ada meskipun melepaskan tangannya sejenak, tapi sekarang enggan melakukan itu lagi. Ia megira kalau keadaan ini  akan berlalu bagaikan angin Tapi angin tetaplah angin.
“Ini tentang ya atau tidak, Bukan tentang sebesar apa masalahnya. Aku memang bodoh.” Ungkap Sul Hee.
“Kenapa kau melakukan ini? Tidak biasanya kau seperti ini. Kenapa kau sangat tegas? Kau seperti ini karena marah. ” ungkap Joo Man menahan tangisnya.
“Selama enam tahun berpacaran, aku tidak pernah meminta kita putus saat marah. Kuperlakukan dirimu sebaik mungkin, jadi, aku tidak punya penyesalan. Kau akan menyesalinya. Letakkan barang-barangku di luar.” Kata Sul Hee lalu berjalan pergi. Joo Man hanya  bisa menangis tersedu-sedu karena sikapnya membuat Sul Hee meninggalkanya. 

Sul Hee sedang mencuci piring, tiba-tiba lampu ruangan mati. Ae Ra datang dengan membawa sebuah kue dan lilin. Sul Hee binggung apa maksudnya. Ae Ra mengucapkan selamat karena Ini hari pertama kebebasan temanya dan menyuruh agar meniup lilin. Sul Hee hanya menatapnya.
“Tiuplah dan lupakan semuanya.” Kata Ae Ra. Sul Hee malah menangis tersedu-sedu.
“Jangan lakukan hal seperti ini. Aku.. tidak sanggup meniupnya. Seharusnya kau tidak melakukan ini.” Ucap Sul Hee.
“Sul Hee... Joo Man... Dia... Teganya dia melakukan ini padamu?
“ kata Ae Ra kesal sendiri. 
“Dia menangis....  Dia mulai menangis.” Ucap Sul Hee terbata-bata sambil menangis. 

Dong Man dan Joo Man minum bersama di kamar. Dong Man pun ingin tahu alasan Joo Man melakukan itu, padahal tahu kalau temanya itu tidak mudah goyah, bahkan begitu mencintai Sul Hee. Joo Man  ingin menuangkan Soju. Dong Man mengambil botol dan akan menuangkanya.
“Kenapa kau membuat Sul Hee menangis?” ucap Dong Man. Joo Man tak banyak bicara memilih untuk kembali minum menghilangkan rasa frustasinya.
“Memohonlah kepadanya.” Kata Dong Man pada temanya. 

Dong Man menerima telp ibunya di luar rumah, lalu kaget menyebut angka  1.200 dolar dan mengetahui Ayah menghabiskan 1.200 dolar di bar. Ibunya membenar bahkan suaminya juga tidak menjawab ponselnya dan membuatnya penasaran apa yang terjadi, karena tahu suaminya tidak pernah minum alkohol semahal itu.
“Apa ada yang mencuri dompetnya?” pikir Dong  Man
“Ibu, apa nama barnya di SMS? Bisa kirimkan kepadaku?” kata Dong Man pada ibunya. Ibu pun akan mengirimkan pada anaknya. 

Dong Man masuk ke dalam bar dan terlihat ayahnya sedang berbicara dengan seseorang. Pria itu berkata pada Tuan Ko kalau harus sadar. Tuan Ko merasa atasanya itu terlalu mabuk jadi membayar dengan kartunya. Si atasan mengatakan agar memasukan pada ke pengeluaran. Dong Man terus mendengar perkataan ayahnya.
“Pak Ko. Tahukah kau kenapa aku memecat semua pemuda dan membawamu masuk? Kau sudah 30 tahun bekerja di bidang ini, Maka kau harus memanfaatkan koneksimu. Tapi Harga dirimu masih terlalu tinggi. Kau sangat terpisah dari segala-galanya.” Ucap Atasanya. Tuan Ko hanya diam saja.
“Pak Ko Hyung Shik. Apa Kau tidak menjawabku?” kata Atasanya. Tuan Ko mengangguk mengerti danAkan memperbaiki.
Dong Man seperti mengingat saat terpaksa berkerja yang tak disukainya, lalu ditekan oleh atasan menyuruh berhenti dan tak memaksanya untuk tetap bertahan. Dong Man pun menuruti perkataan manager berjanji tak akan mengulanginya.
“Katamu kau harus menikahkan putramu, jadi Sadar dirilah. Paham?” ucap Atasanya. Dong Man hanya bisa menahan tangis melihat ayahnya. 

Dong Man menatap ayahnya yang berjalan didepan dengan membawa kantung plastik, wajah sedihnya terlihat.
“Ayahku tidak pernah berjalan beriringan dengan keluarganya.” Gumam Dong Man
Flash Back
Tuan Ko bergegas berjalan lebih dulu, Ibu Dong Man membawa anaknya meminta agar menunggunya, terlihat berjalan dibelakang. Tuan Ko mengatakan kalau mereka harus bergegas agar dapat kursi, lalu saat naik bus buru-buru duduk disatu tempat duduk dan istrinya pun naik, Ia langsung memberikan tempat duduk pada Dong Man yang masih kecil karena mabuk darat.
Ayah Dong Man mengendong anaknya berlari sampai didepan Klinik, mengedor pintu agar membuka pintu karena Anakknya demam dan bisa meninggal.

Dong Man memanggil ayahnya, lalu memperlihatkan kantung belanja dan mengajak minum dengan putranya. Mereka sampai didepan rumah, Tuan Ko binggung kemana akan dibawa semua makanan itu. Dong Man meminta agar sang ayah mempercayakan dan ikut denganya.
Tuan Ko binggung dibawa ke lantai atas dan masuk ke dalam lemari pakaian, lalu terlihat sesuatu di jatuh. Dong Man pun mengajak ayahnya pergi ke Bar Namil.
Tuan Ko pikir mereka bukan anjing jadi Kenapa minum-minum di luar. Dong Man menyuruh ayahnya duduk saja karena  Tidak ada tempat lain yang seperti di atap rumahnya di Seoul. Tuan Ko tak percaya melihat anaknya yang bisa memasak telur goreng. Dong Man dengan bangga kalau pasti bisa dan  sudah tinggal sendiri selama 10 tahun lalu menyuapi ayahnya kuning telur.
“Apa kau baru saja minum-minum di tempat lain?” ejek Tuan Ko melihat sikap anaknya.
“Jangan merusak suasana, Coba saja.” Keluh Dong Man. Tuan Ko pun menerima suapan dari anaknya dan meminta Jangan menyuapinya karenajuga punya tangan.

“Ayah. Apa impianmu ?” tanya Dong Man, Tuan Ko merasa pertanyaan itu hanya omong kosong dan merasa tidak pernah mendengar itu.
“Aku yakin pasti Ayah sempat memiliki impian.” Pikir Dong Man, Tuan Ko merasa Tidak juga.
“Ayah punya, aku tahu. Jadi Apa itu? Katakan. Apa impian Ayah?” kata Dong Man
“Aku ingin jadi Pilot... Ada film berjudul "The Red Scarf". Seharusnya aku tidak menontonnya, aku sangat menderita karena itu. Dahulu ayah begitu ingin menjadi pilot.” Cerita Tuan Ko. Dong Man memuji kalau  itu Keren sekali.
“Seharusnya Ayah mencobanya. Kenapa tidak mengejarnya?” tanya Dong Man
“Kami tidak mampu membayar pendidikan di Akademi Angkatan Udara. Tapi kini, kalianlah impian ayah.” Kata Tuan Ko.
“Ayah... Kukira.. Kau hanya seorang ayah. Kini setelah aku tahu Ayah punya impian, rasanya agak aneh. Entah kenapa aku merasa bersalah.” Kata Dong Man. Tuan Ko tak suka anaknya tiba-tiba bicara omong kosong menyuruh agar mengisi gelasnya yang kosong saja.
“Aku membanting tulang untuk membesarkanmu, kini akhirnya kau menuangkan minuman untukku. Kau sama saja seperti ayah. Kau juga sangat kaku.” Ejek Tuan Ko
“Ayah... Tunggu saja... Aku tidak bisa membantu Ayah menjadi pilot, tapi akan kuajak Ayah naik pesawat kelas satu kelak. Kursinya paling dekat dengan kokpit.” Ucap Dong Man yakin. 



Tuan Ko mengejek anaknya gila,  saat itu Ae Ra datang menyapa Tuan Ko. Tuan Ko membalas dengan senyuman karena berpikir tidak bisa bertemu dengannya. Dong Man mengeluh pada ayahnya yang tak bisa tersenyum seperti itu padanya.
“Apa Ayah lebih suka Ae Ra daripada putra ayah?” keluh Dong Man kesal
“Dua pria membosankan minum bersama tidaklah seru. Aku harus bergabung untuk memeriahkan suasana.” Kata Ae Ra
“Sebenarnya, dia bahkan menyendokkan kuning telur untukku.” Bisik Tuan Ko. Ae Ra tak percaya mendengarnya.
“Omong-omong, Apa kalian berdua sudah melakukannya?” ucap Tuan Ko, Keduanya panik mendengarnya, Dong Man pun bertanya melakukan apa maksudnya.
“Aku menyuruh kalian berdua dan Sul Hee untuk mulai menabung. Siapa yang butuh bank? Itu cara terbaik untuk menabung.” Ucap Tuan Ko. Dong Man seperti bisa bernafas lega akan mulai Menabung...

"Gelanggang Hwang Jang Ho"
Tuan Ko bertanya apakah gedung ini, Dong Man mengaku melakukan sesuatu di sini. Tuan Ko membaca namanya dan itu adalah Jang Ho adalah pria itu. Pelatih Hwang datang menyapa Tuan Ko memberitahu kalau ia   yang membujuknya untuk melakukannya dan bukan salah Dong Man. Tuan Ko agak binggung.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan, foto Dong Man sudah dipajang pada dinding. Pelatih Hwang menawarkan cemilan, dan menawarkan kalau bisa menonton beberapa videonya serta pasti terkejut. Tuan Ko pikir akan segera pergi saja.
“ Jadi Kau selalu mengenakan baju olahraga karena selalu kemari.” Kata Tuan Ko keluar dari gedung.
“Ayah, mungkin kini aku belum menghasilkan uang, tapi jika Ayah yakin padaku...”ucap Dong Man.
“Dong Man... Aku tidak hidup seperti ini. Aku bekerja pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Aku bekerja dan tidur. Hanya itu yang aku lakukan.” Kata Tuan Ko
“Aku tahu selama ini Ayah bekerja keras. Ayah pasti tidak suka karena cara hidupku tidak sama dengan Ayah” kata Dong Man
“Tapi... Jangan hidup seperti ayah.” Kata Tuan Ko, Dong Man melonggo mendengarnya. 

Keduanya duduk ditaman. Tuan Ko mengaku kalau sudah memikirkannya, kalau Dong Man ingin hidup seperti dirinya maka tidak akan menyukainya. Ia mengaku kalau sudah terlambat untuk menjadi pilot, tapi Dong Man cukup muda untuk mencoba sesuatu satu kali.
“Jadi... Hiduplah sesuai keinginanmu.” Ungkap Tuan Ko, Dong Man tak percaya mendengar ucapan ayahnya.
“Benarkah aku bisa hidup sesuai keinginanku, Meski Ayah terus menghela napas? “ ucap Dong Man mendengar ayahnya menghela nafas.
“Itu karena aku ini menyedihkan. Kau tidak bisa melakukan hal yang selama ini ingin kau lakukan dan itu membuatku sedih” ungkap Tuan Ko.
“Kenapa Ayah bersedih? Aku selalu bersenang-senang Ayah tahu sifatku.” Ucap Dong Man

“Karena bisnis ayahmu gagal, maka kau menyia-nyiakan masa mudamu yang berharga. Kau mengurus Dong Hee. Ayah merasa kau menanggung semua beban dan merelakan hidupmu sendiri. Saat ayah melihatmu, perasaan ayah...” ucap Tuan Ko mencoba menahan tangisnya. Dong Man yang mendengarnya meminat ayahnya agar  Berhentilah bersikap konyol.
“Tapi melihatmu melakukan ini, aku seakan bisa bernapas lagi. Ayah begitu bersemangat hingga jantung ayah berdebar.” Ungkap Tuan Ko tak bisa menahan tangisnya.
“Aku tidak merelakan impianku karena Ayah. Jangan Ayah bahas lagi soal itu.” Tegas Dong Man
“Dong Man... Keluargamu tidak miskin... Ayahmu akan menghasilkan uang untuk 20 tahun ke depan. Ayahmu akan mendukungmu. Jadi, terbanglah yang tinggi.” Kata Tuan Ko yang mempercayai anaknya.
“Biarkan aku terbang dengan tiket kelas satu berkat putra ayah. Lagi pula, kau tidak bisa menyelamatkan masa mudamu. Bertarunglah. Terimalah tantangan. Meski kondisimu hancur, hiduplah sesuai keinginanmu, paham?” pesan Ayahnya. Dong Man mengangguk sambil menangis. 

Sul Hee kembali berbicara dengan pelanggan di telp, dalam hati bergumam “Pada Karakter dalam drama TV, perasan sakit setelah putus hubungan maka berbaring di kamar seharian. Kalau aku, kemarin aku putus, walaupun Di luar panas, Tetaplah di tempat sejuk. tapi hari ini aku tersenyum.”
“Semoga harimu luar biasa dan membahagiakan.” Ucap Sul Hee dengan ramah, si Pelanggan menyuruh Sul Hee juga.
“Aku berharap kau juga akan bahagia.” Ucap Si pelanggan. Sul Hee terdiam lalu air matanya mengalir dan saat itu Ye Jin sudah berdiri didekatnya.
Keduanya duduk dicafe dengan Sul Hee hanya meminum air putih,   Ye Jin mengatakan sungguh minta maaf dan mengaku kalau perasaannya tulus pad Dong Man serta sangat ingin berkencan dengannya. Ia merasa sangat menyesal dan merasa bersalah.

“Lakukan saja sesukamu...Aku dan Joo Man belum menikah. Dia bisa mengencanimu setelah putus denganku dan Kau Tidak perlu memberitahuku.” Ucap Sul Hee seolah tak peduli
“Tetap saja, aku sangat menyesal.” Kata Ye Jin merasa tak enak. Sul Hee lansung menyiram wajah Ye Jin dengan segelas air.
“Tapi Ye Jin... Aku boleh menyirammu dengan air, kan? Tidak masalah jika kau tidak tahu, tapi kali ini kau sudah tahu. Jadi, itu menjadikanmu jahat. Dan Tetap saja... Semoga suatu hari, kau akan berada di posisiku. Semoga air mata mengalir dari mata yang mengaku tidak tahu apa-apa dan polos.” Ucap Sul Hee.
“Meski kau marah, bagaimana bisa kau berkata begitu kejam?” keluh Ye Jin marah
“Apa Kau tahu, Joo Man sangat menyukaiku. Itu bukan kegembiraan samar yang kini dia rasakan kepadamu. Dia sangat menyukaiku dan tergila-gila kepadaku. Momen-momen saat aku belum dewasa dan manis sepertimu... Momen-momen penuh gairah itu... Joo Man mengingat semuanya. Jika kau benar-benar berkencan dengannya, aku sungguh berharap momen-momen itu akan selalu menghantuimu.” Ungkap Sul Hee yang mengingat semua kenangan saat pertama kali berciuman, dan di dalam ruang rapat dan mengodanya setelah menerima hadiah. Setelah itu Sul Hee pun meninggalkan cafe. 

Tuan Ko sudah menunggu di halte mengeluh Dong Man yang menyuruh agar menunggu tapi belum datang.  Dong Man berlari membawa kantung dan memberikan pada ayahnya meminta agar menelp saat tiba di rumah dan Sesekali bicara. Tuan Ko mengangguk dan buru-buru masuk lalu duduk. Dong Man ingin melambaikan tangan tapi Tuan Ko tak menatapnya, Ia pun hanya mengeluh Tuan Ko  yan tidak mau menoleh bahkan sekali pun.
Tuan Ko sempat melonggo melihat anaknya yang sudah pergi, lalu melihat isi bungkusan, ada sebuah amplop dan berisi uang.  seperti menahan rasa sedihnya, lalu melihat isi amplop lembaran uang 50ribu won. Lalu mengejak anaknya yang begitu payah dan bertanya-tanya Sifat siapa yang diwarisi.
Dong Man pulang kerumah dan melihat seperti ayahnya yang membersihkan rumah ini dan kapan melakukanya. Lalu melihat uang 50ribu won diatas baju yang sudah dilipat dan bertuliskan pesan “Belilah kursi baru.” Dong Man sambil menangis haru mengejek ayahnya yang begitu payah.
Ia mengingat kembali Pesan ayahnya “Bertarunglah. Terimalah tantangan. Meski kondisimu kacau, hiduplah sesuai keinginanmu, paham?”

Dong Man menemui Pelatih Hwang yang sedang berjualan, Pelatih Hwang heran melihat raut wajahnya membuatnya sangat takut.  Dong Man menegaskan kalau akan berhenti berpura-pura dewasa dan ingin melakukannya dengan caranya. Pelatih Hwang tak mengerti maksudnya.
“Apa Kau tahu, selama 10 tahun terakhir, setiap hari aku memikirkan soal insiden 3 November 2007. Saat melihat Tak Su si Berengsek itu berhasil, maka aku menyesalinya dan menahan kemarahan. Setiap hari aku menggila di sini. Jadi, jangan menyuruhku untuk menunggu lagi atau menempuh jalan panjang.” Kata Dong Man
“Hei, katamu kau tahu alasan dia melakukan itu.” Ucap Pelatih Hwang menyadarkanya.
“Pelatih. Mungkin aku tidak bisa memukul Doo Ho saat aku terluka, tapi akan kubunuh Tak Su meski pergelangan kakiku terkilir. Mungkin aku menyerah saat berlatih tanding melawanmu tapi aku akan bertarung sampai mati saat melawan Tak Su. Jadi, tolong biarkan aku terbebas dari insiden 10 tahun yang lalu. Tolong biarkan aku melakukannya.” Kata Dong Man yakin.
“Sebaiknya kau melakukannya dengan benar... Kalahkan Tak Su dengan benar.”pesan Pelatih Hwang. 

Dong Man berteriak memanggil Ae Ra yang menunggunya ditaman, Ae Ra binggung melihat Dong Man menurutnya wajahnya sangat menakutkan dan terlihat emosi lagi. Dong Man menegaskan akan melakukannya. Apa pun yang terjadi,  akan melawan Tak Su. Ae Ra pikir Dong Man akan kalah, karena Tak Suk pasti tahu.
“Lalu kenapa jika aku kalah? Tujuanku bukan mengalahkannya. Akhirnya aku melakukan hal yang selama ini ingin kulakukan. Aku hanya akan terbang. Orang yang bersenang-senang tidak bisa dikalahkan. Jika tumbuh dewasa berarti impian akan pudar, aku tidak mau tumbuh dewasa..” Ucap Dong Man menyakinkan.
“Tidak perlu berpura-pura menjadi dewasa untuk orang lain Kau tidak bisa selalu berhasil Karena itu, aku mendatangimu sambil berlari seperti ini..” Ungkap Dong Man  
Ae Ra bertanya apalagi sekarang, Dong Man mengatakan Agar  tidak basa-basi dan mengatakan keinginannya. Ae Ra ingin tahu mengatakan apa.  Dong Man mengutarakan perasaanya “Aku mencintaimu... Aku sungguh mencintaimu.”
“Seperti anak yang belum dewasa... Aku mencintaimu... Aku mencintaimu, Ae Ra.” Ungkap Dong Man tak ingin menahan perasaanya lagi.
“Aku juga... Aku juga mencintaimu... Dasar berandal yang belum dewasa.” Ejek Ae Ra. Dong Man mendekat dan langsung memberikan ciuman. 


[Epilog]
Sebuah tutup botol jatuh saat tuan Ko aka masuk ke atap gedung, ternyata Bibi Ganako baru saja keluar dari rumahnya dan bersembunyi dibalik tirai lalu terlihat gemetar melihat wajah Tuan Ko dan memanggilnya seperti memiliki sebuah kenangan dengan ayah Dong Man,
Bersambung ke episode 13

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

Sinopsis Fight My Way Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Dong Man mencium Ae Ra mengaku sangat menyukai Ae Ra. Ae Ra mengumpat kalau ia yang lebih menyukai Dong Man sejak dulu. Dong Man memberikan perumpamaan, Jika ini tentang semua atau tidak sama sekali, kita ambil "semua" saja.” Ae Ra binggung maksudnya.
“Apa malam ini kau mau menginap?” kata Dong Man. Ae Ra melonggo binggung. 

Joo Man membantu Ye Jin membawakan kardus ke dalam rumah, tak sengaja malah menjatuhkan dan melukai kakinya. Ye Jin panik ingin tahu keadaanya tapi Joo Man merasa baik-baik saja. Ye Jin panik saat melihat jari jempol Joo Man berdarah.
Saat itu terdengar suara wanita memangil Ye Jin. Ye Jin panik karena mengetahui ibunya yang datang. 

Dong Man dan Ae Ra keluar dari lemari dikagetkan dengan Bibi Ganako dan Nam Il keluar dari rumah, begitu juga sebaliknya. Bibi Ganako binggung bertanya alasan mereka keluar dari sebuah lemari.  Dong Man binggung heran karena Bibi Ganako keluar di malam hari.
“Apa salahnya aku berdiri di depan rumahku? Apa yang kalian perbuat di sana? ucap Bibi Ganako. Nam Il pun ingin tahu Kenapa mereka keluar dari sana.
“Itu "Catatan Bar Namil". Pintu rahasia mereka.” Kata Bibi Ganako. Dong Man kaget karena ternyata bibi Ganako mengetahuinya.
“Aku tidak berkomentar tentang kalian memakainya. Silakan bersenang-senang sesuka kalian. Minumlah sepuasnya selagi lever kalian berfungsi. Bersikaplah lugu, gegabah, dan hidup tanpa berpikir seperti anak-anak. Jangan main seperti orang dewasa.” Ucap Bib Ganako.
“Entah kenapa, aku ingin membantah.” Gumam Ae Ra dan akhirnya mengatakan kalau ingin membantah ucap Bibi Ganako.
“Setelah puas minum, kembali ke kamar masing-masing. Apa kalian Mengerti?” ucap Bibi Ganako tak peduli
“Kami berciuman di atas sana.” Ucap Ae Ra blak-blakan. Dong Man panik Ae Ra memberitahu bibi Ganako. 


Ye Jin panik menarik Joo Man masuk kamarnya karena ibunya berkata akan mengusirnya kalau mengajak pria ke rumah. Joo Man pikir tak perlu bersembunyi karena akan langsung pergi. Ye Jin meminta Joo Man agar menunggu karena ibunya pasti akan segera pergi.
“Aku akan menjelaskan apa yang terjadi.” Kata Joo Man tak peduli.
“Dia  sedaang mengawasiku, jadi Dia akan memukulmu jika melihatmu.” Jelas Ye Jin. Joo Man binggung kenapa harus kena pukul. Ye Jin mendorong Joo Man agar menunggu dalam kamar saja.
Ibu Ye Jin memanggil anaknya agar membuka pintu, Ye Jin berjalan ke depan pintu mencari tempat untuk menyembunyikan sepatu Joo Man lalu membuka pintu. Ibunya pikir Ye Jin sudah tidur. Ye Jin membenarkan dan bertanya Kenapa Ibunya datang semalam ini. Ibu Ye Jin mengaku harus menonton drama dan sudah tayang.
Ye Jin binggung kenapa ibunya akan menonton dirumahnya, Ibu Ye Jin tak peduli menyalakan TV dan mengomel dengan kelanjutan drama yang sudah di duga karena pria itu tidur di tempat lain. Ye Jin pikir sudah larut jadi ibunya harus pergi.

Ae Ra turun dari tangga merasa kalau bibi Ganako itu tidak berhak untuk melakukan ini. Dong Man pun menyetujuinya. Bibi Ganako menyindir Apa para penyewa berhak menyelinap ke atap. Ae Ra mengejek Bibi Ganako yang histeris lagi.
“Hei, aku bisa mendengarmu.”teriak Bibi Ganako kesal
“Kupikir putramu harus membantu kau mencari hobiatau menyarankan panjat tebing.” Ucap Ae Ra. Bibi Ganako seperti tak peduli menyuruh mereka pulang dan berpisah saja.  Ae Ra seperti memberikan kode lalu akan masuk ke dalam rumahnya.
“Kau memberitahunya dirimu akan mandi lalu kembali? Aku sudah membaca pikiranmu.” Ucap Bibi Ganako melihat keduanya.
“Omong-omong, jika seseorang melarang kita, maka kita semakin ingin melakukannya.” Kata Ae Ra menantang.

Bibi Ganako makin kesal apa yang dimaksud “melakukan”. Ae Ra pikir Jika Joseon tidak begitu ketat dan konservatif, maka orang tidak akan menyelinap ke kincir air, menurutnya Bibi Ganako bisa saja menyiramkan bensin ke api di depan rumah. Bibi Ganako menyuruh keduanya masuk saja.
“Anda tahu apa yang dilakukan di kincir air, bukan?” ucap Dong Man sengaja mengejek lalu masuk rumah bersama dengan Ae Ra. Bibi Ganako tak percaya dengan tingkah keduanya.
“Aku bisa melihat kemiripannya... Sekarang aku mengerti alasan Ibu pindah ke sini.” Komentar Nam Il 



Ae Ra membuka lemari pakaiannya dan memilih pakaian dalamnya dengan baik, sementara Dong Man memperbaiki tempat tidurnya memastikan bautnya terpasang dengan benar. Ae Ra pun bersiap dengan pakain yang rapi setelah mandi. Dong Man melatih badanya dengan push up, wajahnya terlihat gelisah saat bel rumah berbunyi.
Akhirnya keduanya duduk di diatas tempat tidur dengan wajah gugup. Ae Ra memberanikan diri sedikit mendekat dan mulai mencium Dong Man dengan gugup. Dong Man berkomentar kalau itu bibir bagian atasnya yang cium. Ae Ra terlihat malu karena tahu kalau gugup.
“Seleramu unik, Pasti kau suka bagian atas bibir.” Goda Dong Man.  Ae Ra mengeluh kalau Dong Man memajukan bibirnya jadi bisa melakukan dengan benar lalu terdengar suara.
“Sepertinya perutmu menginginkan sesuatu.” Komentar Dong Man. Ae Ra mengeluh lagi-lagi perutnya selalu berontak pada keadaan tak tepat.
“Aku bukan anak ceroboh dan bodoh yang berhenti dewasa sebelum puber. Kita berpacaran, dan duduk di ranjang. Aku sama sekali tidak mau bersikap seperti pria sopan kepadamu.” Ucap Dong Man. Ae Ra tak percaya Dong Man  sangat berpikiran kotor
“Ya. Aku mau berpikiran paling kotor. Tapi... Ini bukan pekerjaan rumah.” Balas Dong Man. Ae Ra binggung mendengarnya.
“Meski tanpa titik balik seperti ini, kau bukan Chewbacca bagiku. Kau seorang wanita bagiku. Aku ingin memelukmu sekarang dan sepanjang malam. Aku tidak mau membiarkanmu pulang.” Ungkap Dong Man blak-blakan.
Ae Ra benar-benar tak percaya kalau Dong Man  harus menyimpan pikiran itu. Dong Man menyuruh agar Ae Ra agar perutnya tak berisik. 




Ae Ra duduk diam dengan wajah binggung. Dong Man menarik Ae Ra untuk berbaring disampingnya dengan memeluknya dari belakang. Ae Ra terlihat masih gugup. Dong Man menegaskan kalau tidak bisa tidur hanya dengan memegang tangannya jadi akan memeluknya erat. Ae Ra tetap masih gugup, akhirnya Dong Man membalik tubuh Ae Ra agar bisa saling menatap dan menyruh agar segera tidur.
“Aku merasa seperti mau mati.” Ungkap Ae Ra menatapnya.  Dong Man pikir Perut Ae Ra kembung
“Aku... Aku sesak napas... Jantungku berdetak kencang.” Ungkap Ae Ra. Dong Man tersenyum dan makin memeluknya dengan erat. 

Ye Jin melihat ibunya yang tertidur pulas di sofa lalu diam-diam masuk dress room memanggil Joo Man tapi tak terdengar suara. Ye Jin melihat dari balik gantungan bajunya, Joo Man tertidur dengan duduk dan kaos kakinya dilepas karena kakinya yang berdarah.
Lalu ponsel Joo Man bergetar, Ye Jin melihat nama "Sersan Baek" yang menelp dan mengambil ponselnya. Sul Hee mencoba menelp Joo Man yang tak juga diangkat. 

Dong Man dan Ae Ra terbangun dengan bunyi bel. Ae Ra pikir kalau itu ayah Dong Man yang datang. Dong Man mengeluh kalau orang terus datang setiap kali tidur bersama Ae Ra. Terdengar suara Sul Hee berteriak memanggil Ae Ra apakah ada di rumah Dong Man. Mereka pun panik buru-buru turun dari tempat tidur.
“Dia juga baru datang.”ucap Dong Man membuka pintu membiarkan Sul Hee masuk. Sul Hee pun bertanya apakah Sepuluh menit lalu.  Ae Ra membenarkan.
“Aku memakai ini karena mencuci baju tadi.” Kata Ae Ra terlihat gugup sampai salah menuangkan air putih pada corn flakesnya. Sul Hee hanya menatap sedih, Ae Ra pun bertanya kenapa Sul Hee mencarinya.
“Joo Man... Dia tidak pulang.” Ucap Sul Hee. Ae Ra dan Dong Man kaget mendengarnya. 

Ae Ra sudah berganti pakaian dan siap membawa alat penyedot WC. Dong Man yang melihatnya mengeluh kenapa harus membawa itu dan juga Ae Ra yang mengunakan baju olahraga. Ae Ra dengan wajah kesal bertanya apakah Dong Man Mau pergi juga.
“Lagi pula kau tidak bisa memukul wanita. Apa Kau mau memukul orang dengan ini?” kata Dong Man
“Aku tidak akan memukulinya, jadi, pergilah ke ke tempat latihan. Aku tidak bisa bicara sesukaku jika kau di sana.” Ucap Ae Ra penuh amarah.
“Apa Kau mau mengumpat lagi?” ucap Dong Man. Ae Ra kesal apakah memang tak boelh Dalam situasi ini menurutnya untuk apa ada umpatan.
Saat itu ponsel Dong Man berdering, Pelatih Hwang menelp dan memberitahu kala harus pergi ke suatu tempat hari ini. Tapi Pelatih Hwang memberitahu sesuatu, akhirnya Dong Man berkata akan pergi kesana. Ae Ra bertanya apakah Ada masalah. Dong Man mengaku Tidak ada menyuruh keduanya pergi  tapi Jangan cari masalah dan mengambil alat penyedot WC. 

Ae Ra menarik Sul Hee pergi sambil mengomel karena baru memberitahunya sekarang, bahkan tidak mencegahnya sebelum semua terlambat. Sul Hee mengaku takut. Ae Ra tak menyangka alasan Sul Hee mengatakanya.
“Jika aku mengungkitnya, ini sungguh akan menjadi sebuah masalah. Tapi aku tidak percaya diri untuk memukulnya.” Ungkap Sul Hee.
“Sul Hee. Kau pacarnya, jadi Bukan kau yang harus takut. Kalian berpacaran selama enam tahun.” Ucap Ae Ra heran.
“Enam tahun itulah yang kumiliki, namun kini aku menyadari betapa lemahnya itu. Waktu yang dilaluinya bersamaku pasti menjemukan, tapi menyenangkan bersamanya.” Ungkap Sul Hee tak percaya diri.
“Jika dia meninggalkanmu setelah enam tahun karena gairah singkat semacam itu, maka aku tidak akan mengizinkannya memilikimu.” Tegas Ae Ra lalu mengajak Sul Hee segera pergi. 


Keduanya berdiri didepan apartemen, Ae Ra bertanya apakah Sul Hee tidak tahu nomor rumahnya. Sul Hee mengaku hanya tahu Ye Jin tinggal di apartement itu. Ae Ra tak percaya betapa teganya Joo Man,  Ae Ra menyakin kalau Mungkin Joo Man tak ada dirumah Ye Jin dan salah dugaanya atau ada yang terjadi padanya.
“Kalau begitu, telepon wanita sial itu.” Kata Ae Ra. Ye Jin menolaknya. Ae Ra heran kenapa Sul Hee tak ingin menelp.
“Itu melukai harga diriku.” Akui Sul Hee. 

Tak Su memakain jas rapi bertanya pada Tae Hee apakah ia harus  melakukan ini. Tae Hee mengatakan kalau menonton pertandingan Dong Man dan akan segera menjadi bintang. Tak Su merasa itu hanya Omong kosong.
“Jika kau mencari namanya di internet, pertandingan kalian langsung muncul. Alih-alih menjelaskannya nanti, Jadi lebih baik mengaku sekarang.“ jelas Tae Hee.
“Sekarang Dengar, Saat itu pun aku tidak mengadakan konferensi pers. Kenapa aku harus melakukannya sekarang, setelah 10 tahun kemudian?” kata Tak Su heran.
“Dengan begitu, kau menjadi korban. Sekarang Gunakan media dengan benar, dan kamu bisa mengendalikan dunia.” Jelas Tae Hee yang punya pikiran yang licik. 

Ponsel Joo Man berada di bagian rak sepatu terus bergetar dan itu telp dari Sul Hee sampai akhirnya jatuh mengenai Joo Man yang berbaring dengan selimut menutupi badanya.  Joo Man kaget melihat sekeliling bertanya-tanya keberadannya sekarang. Ye Jin masuk kamar melihat Joo Man yang sudah bangun.
“Ye Jin, kenapa tidak membangunkanku?” keluh Joo Man kesal.
“Aku sudah mencobanya saat Ibu pergi, tapi kau tidak mau bangun.” Kata Ye Jin.
“Harusnya kau menendangku sampai terbangun. Akhirnya aku menginap di sini, tapi malah ketiduran jadi, pasti kau tidur di kamarmu dan tidak ada...” kata Joo Man terlihat gugup berusaha memikirkan tak terjadi.
“Apa Kau tidak ingat semalam? Aku datang membawakanmu selimut, dan kau...” ucap Ye Jin terlihat malu-malu.
Joo Man heran melihat Ye Jin malah tidak menyelesaikan kalimatnya,  Ye Jin mengaku kalau  tiba-tiba memeluknya. Joo Man merasa tak percaya melakukan itu. 

Ae Ra duduk di taman apartment menegaskan Saat Joo Man keluar dari apartement maka matilah dia. Sul Hee masih merasa yakin kalau mereka belum tahu. Ae Ra benar-benar tak percaya Sul Hee masih berpikiran baik padahal Joo Man tidak menjawab ponselnya, jadi sudah pasti.
“Aku hanya ingin pulang.” Kata Sul Hee akan berjalan pergi. Ae Ra menahanya heran melihat sikap temanya.
“Apa yang kau takutkan? Putuskan Joo Man dan lanjutkan hidupmu. Lalu Berusahalah memperbaiki dirimu dan kejar impianmu.”kata Ae ra.
“Apa impianku?” tanya Sul Hee binggung. Ae ra pikir merkea  bisa mulai memikirkannya.
“Kau bisa memasak dan piawai dengan pengeriting rambut.” Kata Ae Ra menyakinkan temanya.
“Aku punya impian... Aku sudah lama punya impian.” Ucap Sul Hee. 

Joo Man yang mendengar pengakuan Ye Jin merasa itu Omong kosong karena tidak minum alkohol dan walaupun minum juga tidak akan melakukannya. Ye Jin bingung melihat Joo Man yang bereaksi berlebihan. Joo Man menegaskan itu karena Ye Jin bohong.
“Kau memegang dan menarik lenganku semalam, lalu kamu memelukku dan... Kau bilang, "Sul Hee, matikan lampu." Lalu kau tertidur sambil mendengkur. Itu sungguh melukai egoku.” Ungkap Ye Jin. Joo Man terlihat serba salah dan melihat di ponselnya ada "42 panggilan tidak terjawab"

Sul Hee menceritakan kalau punya impian dan memilikinya hingga saat ini sejak usia enam tahun. Ae Ra pun mendengarnya. Sul Hee ingin tahu pendapat Ae Ra kenapa Joo Man sangat berarti baginya. Ae Ra seperti tak mengerti. Sul Hee mencoba menjelaskan.
“Dong Man punya taekwondo dan kau punya mikrofonmu. Di saat kalian sukses... Aku diam-diam menjaga agar impianku hidup di dalam hatiku.” Cerita Sul Hee.
“Kenapa kau tidak cerita? Kini kau dapat meraih impian yang masih kau miliki.” Kata Ae Ra.
“Seorang ibu... Impianku adalah menjadi seorang ibu.” Ucap Sul Hee. Ae Ra kaget mendengarnya.
“Aku selalu memerankan ibu saat kita main rumah-rumahan. Aku ingin Menjadi ibu yang baik dan istri yang baik, dan itu adalah impianku. Aku ingin menikahi Joo Man dan hidup seperti itu.” Akui Sul Hee.
Ae Ra tak percaya impian Sul Hee terlihat simpel. Sul Hee balik bertanya apakah itu tidak termasuk impian dan Apa semua orang harus memperbaiki diri mereka, menurutnya mereka sangat pandai dan menjalani hidup yang diinginkan.
“Tidak masalah jika aku hanya fokus pada keluargaku. Itu tidak membuatku lebih rendah daripada kalian. Itu impian yang hebat. Luar biasa.” Kata Sul Hee. Ae Ra pikir kalau Sul Hee untuk mencari orang lain.
“Bagiku, Joo Man bukan sekadar pacar. Dia duniaku...Jadi... Aku hanya ingin pulang.” Ucap Sul Hee seperti tak ingin melihat kenyataan sambil menangis. 


Joo Man keluar dengan mencoba menelp, dan melihat Sul Hee sudah ada di lobby bersama Ae Ra. Sul Hee pun langsung bertanya kenapa Joo Man ada di apartement Ye Jin. Joo Man mengaku kalau tak tahu kenapa  ketiduran.
“Apa Di rumah magang itu? Jadi, kau sungguh tidur di sini?” ucap Sul Hee benar-benar tak percaya
“Sul Hee, tidak ada yang terjadi.” Kata Joo Man menyakinkan. Saat itu Ye Jin datang membawa kaos kaki yang tertinggal.
“Kenapa kau melepaskan kaus kakimu? Kenapa jika kau ketiduran tanpa menyadarinya?” ucap Sul Hee mulai marah. Joo Man mencoba menjelaskan
“Sul Hee... Aku tidak melewati batas.” Ucap Joo Man.
“Memangnya hanya ada satu batas? Apa semua baik-baik saja jika tidak ada yang terjadi?” kata Sul Hee.
“Aku sungguh tidak melakukan apa pun.” Kata Joo Man membela diri. Sul Hee pikir kalau itu sama saja.
“Mau kalian tidur bersama atau tidak, itu sama saja. Kau di sini semalaman, itu menyiksaku perlahan detik demi detik.” Tegas Sul Hee seperti meluapkan semua amarahnya.
Joo Man memohon agar Sul Hee tak mengatakanya. Sul Hee memberanikan diri berkata agar mereka putus. Ae Ra yang mendengarnya hanya bisa bergumam kalau Dunia Sul Hee baru saja runtuh.


Spanduk bertuliskan "Konferensi Pers Kim Tak Su" semua wartawan berkumpul dalam ruangan. Tak Su duduk bersama Pelatih Choi dan Tae Hee.
“Hari ini, di sini dan saat ini, aku akan mengungkapkan kebenaran tentang pertandinganku dengan Ko Dong Man pada tahun 2007 yang dicurangi. Aku ingin menyimpannya, menutupinya, dan melanjutkan hidupku. Uang yang kuberikan sebagai bantuan berubah menjadi suap atau kompensasi. Aku bertanding dengan adil, tapi aku menjadi korban sebuah perburuan keji.” Ucap Tak Su.
Dong Man menonton acara Tak Su di TV “Aku menuntut Ko Dong Man menerima permintaanku untuk bertanding dengan adil. Secepat mungkin...” Pelatih Hwang langsung mematikan TV memperingatkan Dong Man agar  Jangan gegabah dan tahu yang dipikirkan. 

“Aku tidak akan meladeninya.” Kata Dong Man. Pelatih Choi tak percaya Dong Man tak menanggapi permintaan Tak Su.
“Aku tidak akan tertipu permainannya dan Aku tidak akan membiarkan Tak Su menipuku.” Tegas Dong man. Pelatih Hwang memuji Dong Man sudah dewasa.
“Katamu orang bodoh harus mengandalkan teknik. Aku akan giat berlatih dan mengalahkannya di musim depan.” Tegas Dong Man.
“Bisakah kau menunggu? Kau lebih dari tidak sabaran, selain itu Perangaimu buruk. Apa Kini kau sudah dewasa?”kata Pelatih Hwang tak yakin.
“Dia juga menganggap aku anak-anak. Aku akan giat berlatih dan membuktikan padanya. Aku bukan anak macan lagi, tapi Akulah macannya.” Kata Dong Man memasang tali pelindung pada tanganya. 

Ae Ra memandang Sul Hee yang duduk disampingnya, lalu berkata kalau sadar Tidak seharusnya mengatakan ini dalam keadaan sekarang tapi menurutnya tadi sangat keren.  Menurutnya Itu sisi terbaik dari diri Sul Hee  yang dilihat dalam 20 tahun ini.
“Kenapa? Apa Karena aku bilang kami harus putus?” tanya Sul Hee.
“Tidak. Itu saat Kau mau menjadi ibu. Impianmu menjadi ibu itu keren. Tidak ada yang lebih hebat daripada seorang ibu.” Cerita Ae Ra. 

Flash Back
“Sul Hee menata rambutku selama enam tahun SD.”
Sul Hee kecil mengetuk pintu rumah dengan barang bawaanya, Tuan Choi membuka pintu menyapanya padahal Sekolah tidak dimulai pagi sekali tapi malah sudah datang. Sul Hee hanya tersenyum dan terlihat Ae Ra yang tomboi baru saja bangun tidur.
“Sul Hee adalah teman wanita pertamaku. Ayahku tidak bisa mendandaniku dan tidak ada yang mau punya teman tomboi.”
Sul Hee dengan pandai mengikat rambut Ae Ra dengan memilih pita Merah muda. Ae Ra mengeluh kalau tidak suka merah muda. Lalu Sul Hee memilih pita warna biru.
“Saat Sul Hee tahu aku tidak punya ibu, maka dia datang satu jam lebih awal dari yang diperlukan. Bersenjatakan hati yang manis.”
Sul Hee mengatakan kalau Ae Ra yang tidak punya ibu maka akan menata rambutnya. Ae ra tersenyum mendengarnya menurutnya Sul Hee ibarat lautan luas.

Ae Ra dan Dong Man pergi berbelanja, Dong Man yang mendengar cerita Ae Ra mengumpat Joo Man sudah gila dan ingin tahu apakah keduanya memang melakukannya. Ae Ra kesal menurutnya itu tak penting membahasnya.
“Kau Anggap saja ada situasi tidak terhindarkan yang membuatmu menginap di rumah Hye Ran.” Ucap Ae Ra.
“Apa Aku hanya tidur, seperti saat aku di tentara?” tanya Dong Man polos.
“Apa Menurutmu aku harus membiarkanmu atau menamparmu?” tanya Ae Ra. Dong Man malah balik bertanya lagi apakah ia hanya tidur saja.
“Kalau begitu, aku yang tidur di tempat lain.” Kata Dong Man. Ae Ra dengan kesal seperti ingin menamparnya saja atau Akan membenturkan kepala, bahkan bisa Pukul. Dong Man tak bisa membalas memilih untuk mengajak Ae Ra agar segera membayar.
Beberapa orang sedang membahas berita Tak Su, merasa Kim Tak Su pasti sangat stres, si wanita pun setuju karena jadi penggemarnya dan merasa Kasihan. Ae Ra melihat berita lalu menatap Dong Man seperti baru mengetahui berita Tak Su. 



Mereka berjalan pulang, Ae Ra menyakinkan kalau Dong Man tidak akan melakukannya. Dong Man pikir harus melawannya suatu hari nanti. Ae ra menegaksan Suatu hari pun tidak boleh, bahkan tidak suka gagasan itu, serta membenci Tak Su.
“Aku melihat apa yang terjadi di pertandingan terakhirmu dan Aku sungguh tidak menyukai gagasan itu, mengerti?”tegas Ae Ra merasa khawatir.
“Kalau begitu, aku akan menang... Aku tidak akan kalah padanya lagi.” Kata Dong Man
“Dong Man. Apa aku ini orang yang penurut? Tahukah kamu betapa aku menyukaimu? Aku begitu suka padamu sehingga jika seseorang ingin menembakmu tiga kali, maka aku akan bersedia menerima dua tembakan.” Ucap Ae Ra

Dong Man tersenyum mendengarnya dan mengejek kenapa bukan hanya tiga saja.  Ae Ra mengaku kalau dirinya berbohong, tapi sekarang mengaku jujur.
“Aku tidak bisa menanggung semua beban itu untukmu tapi aku akan menerima dua dari tiga tembakan untukmu. Aku akan melindungimu.” Tegas Ae Ra. Dong Man tersenyum mendengarnya.
“Hei... Kenapa kau sehebat itu?” keluh Dong Man
“Aku sangat menyukaimu dan tidak mau kau melakukannya. Bisakah kau tidak melakukannya?” kata Ae Ra.
“Ae Ra... Aku tidak mau kamu harus melindungiku. Aku akan menjadi sangat kuat sehingga tidak ada yang bisa merendahkanmu sebagai kekasihku. Itu yang kuinginkan. Bisakah kau percaya padaku?” jelas Dong Man. Ae Ra menatap tangan Dong Man yang mengenggamnya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted