PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 21 Desember 2025

Review Don't Call Me Ma'am

Rela nonton 12 eps gimana perjuangan 3 wanita 40an dengan konflik yang beda 

Jujur yah gw ga begitu tertarik sebenarnya nonton drama ini tapi setelah nonton 1 eps jadi nagih karena relate sama kehidupan sehari-hari. 

Pelajaran yang gw ambil dari 3 sosok ini :

Jo Na-jeong 
Mantan pembawa acara home shopping sukses, yang akhirnya menjadi IRT penuh waktu selama 6 tahun. 
Karena desakan kebutuhan hidup Ia berjuang untuk comeback di dunia kerja yang sudah berubah drastis.

Na Jeong menjadi pegawai magang, berjuang untuk bisa bergabung dengan junior. Ia harus rela di jauhkan bahkan mendapatkan cobaan suami selingkuh di kantor. 

Tapi karakter Na Jeong disini jadi wanita tangguh yang tidak gampang dihasut. Dia bakalan mencari bukti apa yang terjadi dalam hidupnya. Dan gimana disini sosok orang tua yg mendukung karir Na Jeong. 

Koo Ju-young 
Wanita karier yang terlihat sempurna dengan perekonomian yang stabil bahkan memiliki rumah yg cukup luas. 

Tapi memiliki permasalahan dengan kehidupan sexnya, padahal orang tua keduanya sanga ingin memiliki cucu. 
Sampai akhirnya Ju Young mengetahui kalau sang suami lebih suka berbicara dengan boneka dibandingkan dirinya. 
 
Ju Young itu tipikal yang naik pitam tanpa menanyakan lebih dulu akar permasalahan. 
Sampai akhirnya memutuskan sesuatu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Tapi diakhir cerita ini paling membagongkan sih. 
Wajib nonton!!!! 

Lee Il-ri 
Editor majalah fashion yang tangguh dan sukses, berusaha untuk tetap melajanh tapi sebenernya masih memimpikan pernikahan yang romantis

Sayangnya dia bertemu dengan pria muda yang ternyata hanya morotin uangnya saja. Il ri awalnya bucin dan marah melihat sang mantan sudah jalan dengan wanita kaya lainya. 

Tapi beruntung nya Ia bertemu dengan Sang Gyul pria yang dulu menjadi temanya sebagai tetangga. Awalnya hanya pura2 karena ingin membalas dendam pada sang mantan. 

Sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Dunia milik mereka berdua. 😍💓💓 tapi ada satu masalah.. il ri sudah mengalami menopause dini, dimana kemungkinan memiliki anaknya kecil, sementara sang pacar ingin sekali memiliki anak. 

Nah disini Il Ri termasuk wanita yang ga suka yang namanya direndahkan. Tapi ia merasa takut untuk cerita jujur dengan pacarnya. 

Kalian harus nonton gimana mereka bertiga menyelesaikan masalah masing-masing. 

Intinya Show Must Go On - Jangan mau menyerah dengan hidup, kalau mau jadi IRT bisa kok kembali bekerja walaupun dari rumah. 

Ketika kita terlalu memikirkan punya anak, maka stress melanda. Tapi saat perasaan relax dan bahagia, dan bisa terbuka satu sama lain maka terjadilah. 😍😍 

Anak dan pernikahan memang sebuah kebahagiaan, tapi apabila tanpa anak, kehidupan akan bahagia apabila saling menerima dan melengkapi. 

Guys banyak banget pelajaran dari drama ini... Wajib nonton sih 💓😍😍



Rabu, 03 Desember 2025

drama dibalik stan



Michael mengusap keringat di dahinya, mengatur tumpukan kotak sabun organik yang mereka buat. Di sebelahnya, Jennie sedang menata lilin aromaterapi dengan ketelitian seorang seniman, sementara Rose mengecek daftar harga di tabletnya. Selena, sang bendahara, duduk di kursi lipat, matanya tajam mengawasi modal awal yang tertera di buku catatannya.

“Oke, rekap terakhir,” kata Michael, menepuk tangannya. “Sabun kita sudah laku setengahnya, lilin Jennie hampir habis, dan donat gourmet Rose—seperti biasa—laris manis.”

Jennie tersenyum tipis. “Ini berkat pembagian tugas yang jelas. Michael fokus produksi sabun, aku bikin lilin, Rose urusan makanan, dan Selena jagonya manajemen keuangan dan marketing.”

Tiba-tiba, bayangan besar jatuh menutupi meja mereka. Mereka berempat mendongak, dan di sana, berdiri Queen. 

Namanya sesuai dengan sikapnya: dramatis, menuntut perhatian, dan selalu yakin dirinya adalah pusat alam semesta. 

Queen memegang tas desainer kecil di tangannya dan mengenakan kacamata hitam yang terkesan terlalu mewah untuk sebuah bazar kampus.

“Darlings,” sapa Queen dengan nada yang sedikit mendayu, melepas kacamata hitamnya dengan gerakan lambat. “Aku datang untuk membantu kalian. Tim kalian ini sangat potensial, tapi kurang pizzazz. Kalian butuh sentuhan glamor, sentuhan Queen.”

Selena, yang paling pragmatis, mengangkat alis. “Queen, kami senang kamu mampir, tapi kami sudah punya tim yang solid. Semua sudah terbagi rata.”

“Ya ampun, Selena,” Queen mendesah seolah baru saja mendengar berita paling memilukan. “Aku bisa melakukan apa saja. Aku bisa jadi brand ambassador! Aku bisa jadi kasir, aku pandai menghitung, lho. Atau bahkan, aku bisa jadi fashion consultant stan kalian. Lihat, Michael, warna apron kalian ini… sangat membosankan.”

Rose, yang biasanya paling sabar, menyela, “Queen, kami menghargai niat baikmu, sungguh. Tapi kami sudah bekerja sama selama sebulan penuh untuk menyusun ini. Semua resep dan formula sudah kami rahasiakan. Memasukkan orang baru sekarang hanya akan mengacaukan ritme kami.”

Wajah Queen perlahan berubah. Ia memajukan bibirnya dan matanya mulai berkaca-kaca. Ekspresi yang ia kenakan jelas-jelas ditujukan untuk menarik simpati orang-orang di sekitar stan mereka.

“Jadi… kalian menolakku?” tanya Queen, suaranya bergetar. “Kalian tidak mau aku bergabung? Padahal aku sudah menawarkan waktu dan skillku yang berharga, bahkan aku rela membatalkan janji manicure-ku demi ini.”

Michael mencoba meredakan suasana, “Bukan menolak, Queen. Hanya saja—”

“Tidak, aku mengerti!” potong Queen, menutup telinganya dengan kedua tangan. “Kalian tidak menghargai kontribusiku! Kalian ingin aku menjauh!”

Queen berbalik dengan sangat dramatis, memutar tumitnya, dan berjalan menjauh dengan langkah kaki yang dibuat-buat seolah sedang terpincang-pincang karena patah hati. Ia bahkan sempat menabrak tumpukan flyer di stan sebelah, yang hanya menambah tingkat dramanya.

Keesokan harinya, bazar selesai dengan sukses besar. Tim Michael, Jennie, Rose, dan Selena merayakan dengan makan malam sederhana.

Namun, kabar miring mulai beredar di seluruh kampus. Di kantin, di ruang kelas, bahkan di media sosial, Queen mulai melancarkan kampanyenya.

Queen (berbicara kepada sekelompok mahasiswi): “…Dan bayangkan, mereka bilang aku tidak cukup baik! Michael bilang sabunku terlalu wangi, Jennie bilang aku terlalu sering tersenyum, dan Selena—oh, Selena—dia bahkan menuduhku akan mencuri uang kas mereka! Aku hanya ingin berkontribusi, dan mereka menjadikanku korban bullying.”

Postingan Instagram Queen (dengan foto dirinya terlihat sedih): “When you offer your help and talent, but toxic people push you out. Remember to shine anyway, darlings. Some people just hate to see a Queen rise. #BazaarBully #Betrayed #CantStopMySparkle”

Tim bazar terkejut. Mereka tidak pernah menuduh Queen mencuri atau mem-bullynya. Mereka hanya menolak permintaannya untuk bergabung karena sudah terlalu terlambat.

“Ya Tuhan, dia benar-benar drama,” desah Jennie, membaca komentar di postingan Queen.

“Ini keterlaluan,” kata Rose. “Kita harus mengklarifikasi.”

Michael menggeleng. “Tidak perlu. Semakin kita klarifikasi, semakin besar drama ini. Orang-orang yang benar-benar mengenal kita tahu bagaimana kita bekerja. Queen hanya mencari panggung.”

Selena, yang diam sejak tadi, tersenyum sinis. “Biarkan dia mencari panggung. Kita fokus pada laporan keuangan. Dan setelah semua ini, aku punya ide bisnis baru: lilin anti-drama Jennie.”

Mereka tertawa. Meskipun Queen berhasil menciptakan sedikit kekacauan sosial, empat sahabat itu tahu kebenaran kerja keras mereka. Dan saat hasil bazar diumumkan sebagai yang paling sukses, drama Queen perlahan-lahan meredam, tenggelam di bawah kesuksesan nyata yang diraih oleh kerja sama tim, bukan oleh sensasi.