Selasa, 09 Juni 2015

Sinopsis High Society Episode 4 Part 2

Ye Won memegang papan nama adiknya, terlihat air matanya tergenang, seperti ada penyesalan. Tuan Jang duduk terdiam di ruanganya yang gelap, seperti menahan kesedihannya. Yoon Ha terus menangis dalam kamarnya, sementara Nyonya Min masih belum sadarkan diri ditemani Ye Won dan So Hyun.
“Oppa lahir dengan keberuntungan yang besar. Semua orang yang kucintai meninggalkanku. Bahkan kakak yang lahir dengan keberuntungan yang besar,tidak bisa menghindari kesialanku.”

Yoon Ha melihat ponselnya, ada pesan dari Joon Gi yang meminta pilihan tempat untuk bertemu.
“Aku tidak boleh...mencintai siapapun.”
Akhirnya Yoon Ha memilih untuk menghapus pesan dari Joon Gi tanpa membalasnya, lalu kembali menangis. Joon Gi menunggu dengan gelisah balasan Yoon Ha tapi Yoon Ha terus menangis dalam kamarnya yang semakin gelap. 
Presdir Jang, bersama Ye Won dan So Hyun masuk ke dalam gedung Taejin Grup, berita tentang keadan perusahan tersebar.
“Karena kematian Wakil Presdir, harga saham Taejin Group jatuh. Taejin group yang tengah diinvestigasi karena penggelapan sekarang menghadapi masalah baru. Presdir Jang Won Shik sekarang menempatkan putri sulungnya kedalam daftar penerus dan mulai sesuatu yang baru dengan perusahaan.”
Nyonya Min seperti mayat hidup dengan mata menghitam dan botol wine didepannya. Direktur Hong datang memberitahu supaya Nyonya Min harus sarapan menurutnya saat keadaan semakin sulit jadi harus semakin bersikap seperti pusat keluarga Jang dan suaminya juga menharapakan sang istri datang.
“Kau pasti kuat, ibu. Aku mempercayaimu.” ucap Kyung Joon saat ada dikamar kerjanya.
Nyonya Min mengingat kata-kata anaknya akhirnya setuju untuk datang sarapan. Dia meyakinkan dirinya akan kuat dan juga mencari anaknya. Dia yakin anaknya itu hanya terbentur karang dan hanyut dari ombak lalu lupa ingatan. Direkur Hong meminta Nyonya Min menerima kenyataan.
“Aku tidak peduli berapapun,suruh orang untuk mencari Kyung Joon.”perintah Nyonya Min lalu kembali mensugesti dirinya akan makan banyak supaya kuat.

Nyonya Min datang kemeja makan, melihat suaminya makan dengan tenang. Ia melihat suaminya bukan manusia karena masih bisa makan saat anaknya mati. Tuan Jang seperti tak peduli malah meminta pelayan menambahkan daging. Terlihat Yoon Ha yang mengunakan pakaian hitam duduk disamping Ye Won yang mengunakan pakaian berwarna pink.
Tiba-tiba Nyonya Min membanting sendoknya melihat semua anggota keluarganya bisa menelan makan. Suaminya meminta supaya mereka makan dengan tenang. So Hyun mengeluh dengan kelakukan ibunya padahal suasana sedang buruk. Nyonya Min langsung melempar semua piring yang ada dimeja.
Suaminya langsung marah dengan bertolak pinggang, Direktur Hong datang memberitahu Nyonya Min yang sedikit mabuk. Tuan Jang menyuruh pelayan membawa istrinya pergi.
“Aku tanya apa kau masih bisa makan! Anakmu mati. Kakakmu mati. Bisa-bisanya kalian makan? Aku bukan manusia, kalian juga bukan manusia.”teriak Nyonya Min histeris

“Kau sudah gila?” umpat Tuan Jang bertolak pinggang.
“Anakku diluar sana, aku bahkan tidak tahu dia mati atau tidak. Mana mungkin aku bisa hidup tanpa jadi gila? Apa dia cuma anakku? Dia juga anakmu.” teriak Nyonya Min melotot
“Terima saja. Kau pikir dia masih hidup hanya karena mayatnya belum ditemukan? Mereka telah melakukan penyelidikan.” teriak Tuan Jang tegas
“Jadi Kau anggap dia sudah mati dan menyiapkan pemakamannya? Kau sungguh kejam.” umpat Nyonya Min penuh dendam
“Apa kita semua harus mati karena dia? Sepertinya Taejin akan runtuh karena dirinya! Perusahaan sudah dalam kesulitan. Kenyataan bahwa dia berlibur disaat seperti ini. Itu keputusan bodoh dan membuktikan dia tidak bisa memimpin Taejin.” teriak Tuan Jang

“Itu semua karena dirimu. Dia pergi karena kau ada disini. Apa kau pernah mempercayainya? Kau terus mengujinya!” teriak Nyonya Min menyalahkan suaminya
“Aku mencoba membuatnya kuat dengan mengujinya. Dia terlalu sentimen dan lemah! Jika dia tidak bisa menerima kenyataan. Maka dia tidak layak.”tegas Tuan Jang menganggap remeh anaknya.
“Oppa... Orang yang berkeprimanusiaan. Dia bebas tapi menuruti aturan, selain itu. Dia punya punya tanggung jawab yang kuat terhadap perusahaan. Tolong jangan hina dia.” teriak Yoon Ha membela kakaknya.
Tuan Jang tak terima langsung mengumpat kalau keluarganya itu seperti sampah lalu pergi keluar ruangan. Nyonya Min hanya melirik sinis lalu kemabli kamar. So Hyun mengejek adiknya yang selalu ikut campur yang seharusnya bukan urusannya. Yoon Ha hanya bisa menangis. 

Nyonya Lee pulang dari berkerja sumringah melihat suaminya yang sudah menunggunya diluar, Ayah Joon Gi meminta istrinya untuk menaruh tas belanja di pundaknya, lalu merasa dirinya masih berguna. Sang istri menahan tangisnya karena merasa sedih apabila suaminya berkata seperti itu.
“Jangan sedih,Aku hanya merasa aku masih bisa.” ucap Tuan Choi
“Lalu kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Nyonya Lee sedih
“Setelah menikah denganku, hanya penderitaan yang kau dapat.” kata tuan Choi
“Tidak bisa begini. Aku harus menghukummu supaya tidak berkata seperti itu lagi.” tegas Nyonya Lee
“Jangan hukum aku.” pinta Tuan Choi memohon. 

Semangkuk sup kedelai dengan tahu, sebagai hukuman buat suaminya, Ia mengancam suaminya untuk tidak berbicara aneh-aneh maka nanti akan menghukumnya dengan bimbibap. Suaminya tersenyum sumringah, Nyonya Lee menyuruh suaminya untuk menonton TV saja apabil bosan Tuan Choi tak ingin membuat tagihan listrik naik, Nyonya Lee tak masalah.
“Kau telah bekerja keras untuk uang itu. Aku... harap ada perkerjaan paruh waktu untukku.” ungkap Tuan Choi
“Istirahat saja. Aku yang cari uang. Apa mau baca buku? Kau suka baca, dan tidak mahal. Apa mau aku ambilkan buku dari rumahnya Joon Gi?” Saran Nyonya Lee
“Tidak usah. Itu akan membuatnya khawatir.” pikir Tuan Choi
“Aku tidak akan membuatnya khawatir, karena hanya akan mengambil buku dari rumahnya. Kau terlalu terintimidasi anakmu sendiri.” keluh Nyonya Lee
“Hidup sendiri itu sulit. Apa kau tidak ingin dia menikah?” tanya Ayah Joon Gi
“Tentu ingin. Aku akan menyambut wanita seperti diriku, tapi aku tidak gampang untuk dihadapi.” kata Nyonya Lee.
Tuan Choi merasa tidak benar tapi saat memikirkan tentang hal itu merasa malu sebagai ayah. Nyonya Lee terlihat ikut sedih akan mengunjungin anaknya dan akan memeriksanya. 

Joon Gi menunggu pesan yang tak dibalas-balas oleh pacarnya, Yoon Ha masuk ke dalam kamar dengan wajah lesu. Ponselnya kembali berdering, terlihat pesan ditambah dengan gambar oleh Joon Gi.
“Telpon masih aktif. Tapi aku tidak yakin apa pemiliknya masih hidup. Aku khawatir.”Yoon Ha ingin menghapusnya tapi akhirnya kembali melihat pesan dibagian atasnya.
“Biasanya aku tidak mencampurnya dengan kimchi, tapi aku coba. Aku menirumu.Kenapa aku menirumu? Aku ingin berfikir bahwa kau sedang bahagia sampai lupa membalasnya.”dengan gambar semangkuk sup dengan campuran Kimchi, Yoon Ha bisa menahan tangis.
“Panci Nickel-silver untuk ramen. Kemarilah. Akan aku buatkan untukmu. PS:Aku tinggal sendiri.”Joon Gi memperlihatkan ramen yang baru matang didalam panci.

Yoon Ha hanya bisa menahan tangis sambil mengatakan sangat merindukan Joon Gi berkali-kali, lalu telp dikamarnya berdering. Seseorang memberitahu kalau Ayahnya ingin berbicara dengan Yoon Ha. 
Ayahnya mengatakan membutuhkan seseorang. Yoon Ha menegaskan tidak ingin mengambil tempat yang tersedia karena posisi kakaknya yang kosong. Tuan Jang menegaskan kalau pendapatnya tak diperlukan karena ia hanya butuh waktu untuk menentukan tempat dimana Yoon Ha akan ditempatkan.
“Aku setuju dengan ibu, Kematian oppa meragukan.” ucap Yoon Ha yakin
“Satu orang saja sudah cukup untuk membuat rumah berantakan. Pergilah.” perintah Ayahnya. 

Ji Yi menuruni tangga rumahnya melihat lampu di depan rumahnya teringat semalam dengan senyuman manisnya Chang Soo mengatakan kalau memang dirinya yang memasang lampu di depan rumahnya.
“Romantis saat malam, tapi berantakan sekali jika pagi. Kau tipe orang yang seperti itu.” keluh Ji Yi lalu menuruni tangga
“Aku ingin mencabutnya, Membuatku emosi saja.” ucap Ji Yi kesal melihat lampu saat sudah ada dibawa. 

Ibu Chang Soo mengandeng lengan anaknya, Chang Soo mengeluh karena waktunya sudah cukup menghabiskan waktu dengan ibunya. Ibu Chang Soo merasa anaknya tak suka digandeng dengan ibunya. Chang Soo tersenyum mengatakan kalau sangat suka, Joon Gi datang mengjemput, ibu Chang Soo langsung menyapanya.
Chang Soo meminta ibunya untuk pergi lebih dulu karena ia akan pergi dengan Joon Gi. Ibunya merengek menyuruh Joon Gi saja yang mengikuti mereka karena ingin Chang Soo tetap bersama. Chang Soo tersenyum karena untuk apa dirinya memanggil Joon Gi untuk datang menjemput.
“Kau telalu menyukai Joon Gi” komentar Ibu Chang Soo kesal
“Saat ibu ingin ke Thailand siapa yang menemanimu tanpa mengeluh? Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan ayah.” balas Chang Soo
“Kau ini terlalu sombong.” keluh ibunya
“Ayo kita beli pesawat. Kita bisa datang dan pergi semau kita. Betapa menyenangkannya itu!” kata Chang Soo
Ibu Chang Soo tak ingin membahasnya lagi lalu berjalan lebih dulu, Chang Soo mengejarnya menjelaskan kalau ayah dan ibunya harus lebih berusaha karena menurutnya dirinya akan lebih kaya apabila ayahnya juga kaya lalu merengek meminta pesawat pribadi. Ibunya sambil berjalan langsung menolaknya.
“Bagaimana jika terjadi kecelakaan? Lihat Kyung joon itu.” kata Ibu Chang Soo
“Kenapa menyebut Gyung Joon hyung disini?” keluh Chang Soo tak suka
“Ini Menakutkan bukan? Dia kehilangan putranya. Ada yang bilang dia bunuh diri. Kau tahu Yoon Ha yang pernah dijodohkan denganmu? Ada rumor bahwa Presdir Jang memasukkanya dalam daftar penerus.” bisik Ibu Chang Soo, Joon Gi melotot ketika mendengar nama Yoon Ha yang disebut.
“Ibu dengar dimana kabar yang diartikel saja tidak ditulis?” kata Chang Soo heran
“Ibu ini anggota penting pertemuan amal. Coba hubungi Yoon ha saat seperti ini. Lebih Bagus jika punya hubungan dengannya. Dia tidak punya pacar. Saat itu salah paham.” pinta ibunya

Chang Soo merasa Yoon Ha tak senang apabila tiba-tiba mengubunginya tapi lebih baik menunggunya sebentar lagi. Ibu Chang Soo yakin  Kematian orang tua atau saudara itu melukai hati dan waktu tak bisa menyembuhkan, Semuanya berbeda tergantung situasi. Joon Ki mendengar dengan wajah tegang. Chang Soo mengejek ibunya yang tahu.
“Jangan berlagak bodoh. Jika kau anggap menikah itu bisnis, tidak ada rekan bisnis yang lebih baik dari Yoon Ha. Dia juga punya pesawat pribadi.” ucap Ibu Chang Soo berjalan kembali, Joon Gi melirik sinis dengan ibu Chang Soo
“Ah, benar-benar. Ibu seperti orang miskin saja, Kita ini juga Chaebol. Apa ibu senang dengan pesawat pribadi orang lain? Aku lebih senang punya sendiri.” ungkap Chang Soo, Ibunya langsung menyuruhnya anaknya membeli saja. Joon Gi terlihat dingin mendengar pembicaraan anak dan ibu. 

Di dalam mobil
Chang Soo bertanya keadaan Yoon Ha, Joon Gi melihat Yoon Ha itu sangat tertarik berkerja disana lalu berpikis sudah bosan dengan Lee Ji Yi. Chang Soo merasa belum melakukan apapun jadi tak mungkin bosan.
“Standar pacarannya tidak main-main. Jadi sekarang aku coba metode baru. Sudah lama aku tidak menghubunginya. Dia pasti sangat penasaran sekarang.” cerita Chang Soo
“Lalu kenapa tanya tentang Joon Yoon Ha?” tanya Joon Gi dengan serius menyetir.
“Putri dari Taejin group yang kusuruh untuk cari tahu informasinya waktu itu, adalah pekerja paruh waktu itu, Jang Yoon Ha.” jelas Chang Soo
Joon Gi hanya diam, Chang Soo melihat Joon Gi tak kaget dan penasaran alasan seorang anak Chaebol berkerja di tempat mereka.  Joon Gi pikir Yoon Ha sang putri yang sedang menyamar. Chang Soo tersenyum mengodanya Joon Gi yang sangat baik seperti adiknya saja lalu sibuk dengan ponselnya.
****
Yoon Ha sedang menyetir mobil mengangkat telp dari Chang Soo dengan kata “hallo” Chang Soo kesal dengan Yoon Ha mengatakan “hallo” padahal mereka sudah saling mengenal. Joon Gi melirik karena Chang Soo berbicara dengan Yoon Ha.
“Ini pertama kalinya aku melihat nomor telponmu, jadi...” ucap Yoon Ha langsung disela oleh Chang Soo
“Bagaimana pekerjaanmu? Kau berhenti?” tanya Chang Soo
“Ini aku hampir sampai. Liburanku sudah berakhir,” kata Yoon Ha menahan sedih
“Ah Benar sekali. Datang saja. Diluar lebih baik daripada dirumah. Aku tidak tahu harus bilang apa disituasi seperti ini. Mau makan siang bersama?” tanya Chang Soo
“Tidak. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Sejujurnya, aku tak ingin melakukan ini. Tapi aku harus melakukannya. Sulit sekali.” cerita Yoon Ha
“Rumit sekali. Jika tidak ingin, ya tidak usah. Kenapa harus melakukannya?” saran Chang Soo, Yoon Ha menyudahi telpnya karena ada telp yang masuk. Joon Gi terlihat menahan amarah karena Yoon Ha mengangkat telp Chang Soo dibanding dirinya. 

Ji Yi bertanya apakah Yoon Ha sudah ada dijalan dan mengerti pasti sulit dengan keadaanya sekarang dan meminta temannya tetap makan dan bertemu dengan temannya, karena ia pernah merasakan saat neneknya mati. Yoon Ha mengatakan rasanya seperti mimpi
“Apa yang dikatakan manajer Choi? Syukurlah kau masih ada dia sekarang” ucap Ji Yi
Yoon Ha melamun mengingat saat ditaman, Joon Gi menarik tanganya lalu menatap kalau semuanya itu bukan nyata bukan mimpi, lalu senyum Joon Gi membuat Yoon Ha tak bisa menahan sedihnya. Ji Yi binggung karena Yoon Ha hanya diam saja, Yoon Ha memberitahu kalau akan sampai dan akan berbicara nanti. Akhirnya ia memilih untuk berhenti sejenak agar tenang. 

“Hasil bulan ini meningkat dibandingkan bulan lalu.” kata Chang Soo melihat laporan dari tabnya.
“Sepertinya event khusus itu efektif. Tapi supaya tidak jatuh setelah pembukaan, kami sedang bekerja dengan bagian marketing.” jelas Joon Gi
“Kau harus kembali ke departemen Perencanaan dan mengunjungi Food Market sesekali saja. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan hyung karena kau tidak disana.” keluh Chang Soo
“Mungkin Food Market tidak akan seperti itu. Ada beberapa orang yang menentangnya.” pikir Joon Gi
Chang Soo meminta Joon Gi memberikan daftar orang-orang itu karena yakin pasti berkerja sama dengan kakaknya lalu mencoba tidur sejenak di dalam mobil. Yoon Ha yang ada didalam mobil binggung  ingin menelp Joon Gi tapi menurutnya tak boleh menghubunginya. Tapi teringat saat terakhir kali mereka bergandengan ke rumah Ji Yi.
“Aku merindukanmu.....Aku ingin bersandar padamu.” ucap Yoon Ha menahan tangisnya. 

Joon Gi melihat ponselnya, Yoon Ha yang menelp lalu melirik pada Chang Soo yang tertidur disampingnya lalu mengangkat telpnya.Yoon Ha bertanya apakah Joon Gi bisa berbicara dengannya. Joon Gi menjawab tak akan bisa lama.
“Maaf tidak menghubungimu.” ucap Yoon Ha menahan tangis
“Kita bicara langsung saja.” kata Joon Gi dengan singkat
“Karena itu menghubungimu. Aku harus... mengatakan sesuatu padamu.” ucap Yoon Ha, Joon Gi mengerti lalu menutup telpnya.
Chang Soo membuka matanya mengoda temanya itu berkencan tanpa diketahuinya. Joon Gi menyuruh Chang Soo untuk tidur saja dan tak ingin membahasnya. 

Ji Yi menyambut Yoon Ha yang baru datang dan sengaja menunggu karena ingin masuk bersama, lalu merasakan bisa mati menjadi hantu karena tidak bisa berbicara, Yoon Ha tersenyum melihat temanya, lalu bertanya apakah sangat menrindukannya.
“ Yah...Aku sangat merindukanmu sampai tidak bisa bicara dengan orang lain.” cerita Ji Yi bahagia
“Aku tersenyum berkatmu.” kata Yoon Ha mengelus rambut  temanya, Ji Yi pun dengan semangat berteriak mereka akan sukses.
Ji Yi dan Yoon Ha sudah sampai didepan lift lalu menekan tombol lift, menurut Ji Yi lebih baik mereka naik saja karena tak perlu lewat parkiran. Saat pintu lift terbuka keduanya terlihat kaget, Yoon Ha menatap Joon Gi begitu pun juga sebaliknya. Chang Soo melirik pada Ji Yi yang sudah lama tak dihubunginya.
Chang Soo memberikan senyumanya, tapi Ji Yi tetap memberikan wajah dinginnya, pintu  lift tertutup, Chang Soo langsung menekan kembali menyuruh keduanya untuk masuk. Ji Yi akhirnya mengajak Yoon Ha masuk dengan sengaja menyuruhnya berdiri depan Joon Gi. 

Suasana terasa canggung, Yoon Ha hanya bisa tertunduk diam. Joon Gi terus memandanginya, orang yang ditunggunya ada didepanya tapi tak bisa berbicara. Ji Yi berusaha untuk cuek dengan sedikit melirik pada Yoon Ha.
“Semuanya turun dilantai yang sama kecuali aku.” ucap Chang Soo yang berdiri dibelakang Ji Yi
“Kau bicara padaku?” tanya Ji Yi sinis
“Tidak, aku selalu bicara sendiri.” kata Chang Soo, Pintu lift terbuka ketiganya pun turun bersamaan  kecuali Chang Soo.
Ji Yi berjalan bergandengan bersama Yoon Ha tapi pandangannya mengarah kebelakang, Joon Gi berjalan mendahului keduanya seperti terlihat acuh tapi akhirnya ia berhenti melangkah menghampiri Yoon Ha dan  ingin meminjam temannya sebentar pada Ji Yi lalu menarik tangan Yoon Ha pergi.
“Wow. Mereka terlalu banyak nonton film.” ejek Ji Yi kesal 

Joon Gi mengajak Yoon Ha ke atap, keduanya berdiri berhadapan. Yoon Ha langsung meminta maafk karena tak bisa mengatakan permohonan maafnya, Joon Gi menceritakan saat Yoon Ha berbicara dengan Chang Soo, ia ada disampingnya dan baru sadar kalau hanya telpnya yang tak diangkat.
“Saat menyatakan putus, siapa yang harus mengatakannya dulu, Pria atau wanita?” tanya Yoon Ha menatap Joon Gi dengan mata bengkak karena menangis
“Orang yang ingin putus.” jawab Joon Gi
“Terima kasih untuk semuanya. Kau tidak salah apa-apa. Ini karena masalahku.” ucap Yoon Ha tertunduk
“Tidak usah berbicara omong kosong  dan pandang mataku saat mengatakannya.” perintah Joon Gi dengan mata berkaca-kaca
Yoon Ha masih saja tertunduk dengan menahan tangis, sesekali menghela nafas supaya tenang dan mengigit bibirny sendiri, lalu mengangkat wajahnya dan meminta putus dengan suara bergetar.
“Apa seperti ini sikap orang yang ingin putus?” ucap Joon Gi melihat Yoon Ha yang terlihat menahan tangis dan tak ingin putus
“Aku bohong padamu.” akui Yoon Ha, Joon Gi merasa semua orang juga pernah bohong termasuk dirinya.
“Aku tidak miskin dan Aku kerja paruh waktu untuk menghindari keluargaku. Aku bisa saja pergi dari rumah, tapi aku takut. Dengan menjadi miskin. Aku bersiap untuk hidup dengan caraku. Dan aku pikir aku ini orang yang baik. Aku pikir sudah membuat keputusan yang realistis. Tapi Oppaku meninggal.Kau tahu seperti apa Oppa itu? Dia adalah wakil Presdir Taejin Group. Oppa... Dia lahir dengan semua kekuatan yang bisa dimiliki manusia.” cerita Yoon Ha sambil tertunduk menangis

Joon Gi memeluk Yoon Ha supaya menangis di pelukannya, Yoon Ha melepaskan pelukan Joon Gi dan mendorongnya untuk menjauh.
“Semua orang yang kucintai akan terluka. Semua orang aku cintai meninggalkanku. Bahkan karena kelahiranku, ibuku jadi tidak bahagia. Karena itu.... Tinggalkanlah aku.Saat aku melepaskanmu, pergilah....” pinta Yoon Ha menangis menatap Joon Gi
“Kau memilih ketidakbahagian. Jangan coba bertanggungjawab pada ketidakbahagiaan orang lain.” tegas Joon Gi 

Yoon Ha akhirnya menyandarkan kepalanya di dada Joon Gi, mengatakan sangat merindukannya bahkan ingin berlari padanya tapi merasa tak bisa. Joon Gi tetap memeluk Yoon Ha seperti ikut merasa sedih.
“Bagaimana jika kau terluka karena aku?” ucap Yoon Ha  khawatir,
“Kau tidak sekuat itu untuk melakukanya” kata Joon Gi yakin
“Jangan tinggalkan aku. Tolong jangan pernah tinggalkan aku.” pinta Yoon Ha dengan nada terisak
Joon Gi melepaskan pelukannya lalu menatap Yoon Ha, menghapus air matanya dan memberikan ciumannya, matahari dibelakang sebagai saksi untuk pasangan yang saling mencintai.
bersambung  ke episode 5 
Komentar 
Wow.... So Sweet Joon Ki, Sung Joon makin jatuh cinta deh sama akting dan ketampannya. ckckckck... Ga tahannnnnn.... Uee beruntung banget bisa maen sama si Sung Joon. Btw menurut gue ada kiss scene yang di Cut deh, soalnya gue liat di BTS, pas di pinggir sungai Han Sutradaranya bilang abis ini kiss Scene yah, tapi ga ada gitu, hihihihihi... 
Ini kaya nyeritain kalau ga semua orang kaya itu bahagia, jadi miskin kaya keluarga Joon Ki terlihat lebih bahagia. Nyonya Min, ibunya Yoon Ha itu jahat banget yah sama anaknya sendiri menganggap anak bungsunya ngebawa sial menuduh yang membunuh kakaknya, padahal kayanya Kyung Joon sengaja bunuh diri, or bisa juga emang sengaja dibunuh. Dunia Chaebol memang penuh misteris.

Chang Soo kayanya pingin ngebuat Ji Yi jatuh hati, yang lucu waktu ngerengek minta pesawat sama ibunya kaya ngerengek minta mobil gitu, hahahaha.... Baru ngeh ternyata Ibu Chang Soo itu saingan sama Nyonya Min waktu dibazzar kalah saing sama kalung yang dipake sama ibu Yoon Ha. 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar