PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 25 April 2020

Sinopsis Hospital Playlist Episode 7 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 
Jung Won gugup di depan ruang operasi, Dokter Jang akhirnya menelp. Jung Won ingin tahu Kondisi lever bagaimana, dan apakah Sudah berangkat. Dokter Jang terlihat gugup yang dilakukan. Jung Won bingung apakah ada masalah.
“Lever donor terlalu tebal. Tampaknya lebih dari 500 gram. Anterior dan posterior pun sekitar 8 cm. Bagaimana ini, Dokter?” ucap Dokter Jang. Jung Won terlihat lemas.
“ Lever terlalu besar.  Kelihatannya sulit. Apa lebih baik menyerah?”tanya Dokter Jang.
“Tidak. Kita tetap lanjutkan... Kita lanjutkan operasi.” Kata Jung Won yakin dengan pilihanya. 


Ik Jun masuk ke ruangan bedah, Yun Bok langsung menyapanya. Ik Jun heran kalau Yun Bok yang belum pulang. Yun Bok menganguk. Ik Jun bertany apakaah Si "pelukis" Jang Hong-do  sudah pulang. Yun Bok membenarkan.
“Sampai sesaat lalu dia... Maksudku dia tadi di sini, tetapi baru saja pulang.” Kata Yun Bok
“Baiklah. Kau juga harus pulang.” Ucap Ik Jun. Yun Bok mengerti lalu bertanya apakah Ik Jun mau lihat transplantasi lever?
“Ya... Ayo!” kata Ik Jun tahu juniornya mau ikut melihatnya. Yun Bok pun dengan senyuman lebar mengucapkan Terima kasih.


Jung Won akhirnya bersiap mencuci tangan. Ik Jun menjelaskan Ukuran adalah hal terpenting dalam transplantasi lever bayi. Hasil operasi bisa jadi fatal jika lever terlalu besar. Karena itu, biasanya lever donor dipotong setengah untuk bayi.
“Namun, kali ini, lever donor tetap terlalu besar walau sudah dipotong setengah. Sekarang umur Ji-a baru enam bulan.” Kata Ik Jun
“Lantas, Apa Ji-a tak bisa operasi? Dia harus operasi lain waktu?” tanya Yun Bok.
“Tidak ada "lain waktu". Empedunya tidak keluar sehingga sirosis berjalan cepat. Dia muntah darah dan ada darah di kotorannya. Dia takkan bertahan sepekan.”jelas Ik Jun.
Yun Bok panik apa yang akan dilakukan. Ik Jun bingung dengan reaksi Yun Bok seperti berlebihan pada senior. Yun Bok pun meminta maaf dan berbicara dengan sopan dan mengetahui mereka  tidak bisa operasi, tetapi tak akan bertahan jika dibiarkan.Ik Jun menegaskan kalau harus tetap operasi.
“Katamu levernya tetap terlalu besar?” ucap Yun Bok. Ik Jun menjawab Tinggal dipotong lagi.
“Apa Kau gila?” kata Yun Bok keceplosan. Ik Ju tak percaya dengan yang dikatakan Yun Bok. Yun Bok kembali meminta maaf.
“Apa Maksudmu, levernya dipotong dua kali, Dokter?” kata Yun Bok bersikap sopan. Ik Jun membenarkan.
“Kita potong lagi setengah levernya. Itu kadang terjadi, walau operasinya akan sulit. Namun, harus dilakukan. Meski sulit, ini cara terakhir dan satu-satunya demi menyelamatkan bayi itu.”jelas Ik Jun. 


Di ruangan operasi, Jung Won menlakukan operasi dengan sangat yakin. Sementara di ruang tunggu, Orang tua Ji A terlihat sangat gugup menunggu sambil menangis. Ik Jun dan Yun Bok pun melihat dari sisi ruangan.
“Lever keluar.” Ucap Jung Won, Ik Jun merasa tak enak menurutnya Ji-a pasti menderita.
“Bagaimana dia sanggup bertahan? Tapi Jia-a sungguh hebat.”kata Ik Jun. Akhirnya perawat memberitahu kalau Lever tiba. Dokter Jang masuk dengan kotak es dengan nafas terengah-engah.
“Terima kasih. Kerja bagus, Dokter Jang Gyeo-ul. Kudengar kau masih di lampu merah depan. Kenapa cepat sekali? Apa Kau berlari?” tanya Jung Won.
“Untung jalan tidak macet. Namun, ternyata lift gedung ini rusak. Jadi Aku lari kemari... Maksudku, bukan berlari... Aku berjalan... dengan cepat. Hanya berjalan... Aku tiba dengan hati-hati dan aman.” Ucap Dokter Jang
“Hebat, Jang Gyeo-ul... Kerja bagus sekali.” puji Ik Jun dengan wajah haru. Dokter Jang pun tersenyum bahagia.
Di sisi lain, dokter lain berpikir Tampaknya sudah cukup, Jung Won membenarkan lalu melihat hasil potongan lever untuk bayinya. 


Song Hwa melemaskan punggungnya dan masih dengan baju operasi. Dokter Ahn masuk ruangan memberitahu kalau semua sudah siap, Song Hwa mengerti lalu bertanya Jika ada ventrikulostomi lagi, apakah Dokter Ahn mau coba. Dokter Ahn bingung.
“Ini tahun ketigamu. Sudah saatnya, Jadi Bersiaplah.” Kata Song Hwa. Dokter Ahn tersenyum dan langsung mengucapkan Terima kasih.
Jung Won memberitahu kalau Banyak pendarahan karena lever dibedah dan meminta agar menyedotnya. Ia lalu menghela nafas karena merasa butuh waktu lama dan memanggil Ik-jun. Ik Jun mengerti akan bicara kepada wali. Sementara Yun Bok sudah tertidur pulas.
“Banyak pendarahan, Dokter.” Kata Jung Won. Dokter Bong menjawab tetapi masih tidak apa.
“Fokus. Penyedotan harus saksama... ini Tak terlihat. “ kata Jung Won, ass mengerti. Jung Won pun meminta agar memberikan kasa.

Jung Won akhirnya keluar dari ruang operasi. Orang tua Ji A lansung bertanya apakahJi-a sudah baik, Apa operasinya lancar. Jung Won menganguk kalau operasinya lancar. Keduanya langsung menangis haru seperti beban mereka sudah terangkat.
“Operasi berhasil. Kenapa menangis? Ji-a bertahan dengan baik. Jangan menangis. Orang bisa berpikir operasinya tak lancar.” Kata Jung Won. Keduanya pun langsung mengucapkan Terima kasih.
“Terima kasih, Dokter. Aku tak akan melupakan kebaikanmu.” Ucap Orang Tua Ji A
“Kami mengalami kesulitan karena pendarahan lebih daripada dugaan, tetapi berhasil kami atasi. Kini kondisinya sudah stabil dan segera ke Unit Perawatan Intensif. Transplantasinya berhasil. Dia akan baik selama fungsi levernya baik. Operasi sudah berhasil. Ji-a pasti segera pulih.” Jelas Jung Won.
Keduanya kembali mengucapkan Terima kasih dan masih terus menangis. Jung Won tahu keduanya  pasti merasa menderita tapi berhasil bertahan. Ayah Ji Ah mengaku Entah bagaimana harus berterima kasih dan terus mengucapkan Terima kasih banyak.
“Ji-a beruntung bisa hidup karena ada pasien mati otak. Ini sungguh keajaiban.” Kata Ibu Ji A
“Dan untung saja donornya masih muda. Semua ini berkatmu, Dokter. Terima kasih banyak, Dokter” ucap Ayah Ji Ah
“Yang kulakukan hanya operasi.. Kalian harus berterima kasih kepadanya.” Kata Jung Won. Keduanya bertanya Siapa?
“Wanita berusia 22 tahun. Dia tinggi dan kurus. Korban kecelakaan.” Ucap Jung Won. Keduanya melonggo
“Maksudku, donornya... Donor lever untuk Ji-a. Aku tak bisa memberi tahu identitas rinci karena peraturan. Namun, Ji-a hidup berkat dia.” Jelas Jun Won.
“Aku sungguh malu, Dokter. Aku akan hidup dengan rasa terima kasih kepadanya seumur hidup. Aku terlalu fokus terhadap anakku. Maafkan kami.”ucap Ibu Ji A. Bapak Ji A pun memohon maaf.
“Tidak perlu. Aku paham perasaan kalian. Namun, tiap tahun, saat Ji-a berulang tahun, ucapkan terima kasih padanya. dengan sepenuh hati.” Pinta Jung Won.
Keduanya menyakinkan kalau itu pasti dan kembali mengucapkan Terima kasih, Jung Won pun mengucapkan Sampai jumpa di Unit Perawatan Intensif Pediatri. Keduanya kembali mengucapkan Terima kasih.



Dokter Chu meminta perawat agar mengirim beserta gambarnya lalu bergegas pergi. Di sisi meja lainya, seorang ibu yang sudah cukup tua mengaku tetap cemas. Dokter Myung menenangkan kalau Tak perlu cemas karean Kontraksinya terkendali, dan kondisi bayi baik.
“Dia akan baik-baik saja.” Dokter Myun menyakinan. Pasien bertanya Apa harus terus pakai obat
“Seperti sudah dijelaskan, obatnya aman.. Biar kujelaskan sekali lagi.” Ucap Dokter Myung.
“Pasien itu, Park Mi-jeong. Berapa panjang serviksnya?” tanya perawat pada temanya. Dokter Chu yang mendengarnya langsung menjawab  Sepanjang 1,5 cm.
“Dokter Chu Min-ha... Pasien bedah cesar banyak berdarah karena kontraksinya buruk. Cek pembalut dan awasi kontraksinya.” Ucap Suk Hyung melihat Dokter Chu berjalan dilorong. Dokter Chu menganguk mengerti.
“Dokter, katanya istriku amat sakit. Aku harus bagaimana?”kata seorang suami keluar dari kamar rawat.
“Aku sudah cek lima menit lalu. Belum ada perubahan serviks sama sekali Aku akan cek lagi. Jika perlu, kuberi anti nyeri.” Ucap Dokter Chu
“Apa Bisa tolong dicek sekarang?” kata Sang suami khawatir. Dokter Chu pun menyetujuinya.
“Dokter Chu Min-ha... Sin Hyo-jeong diberi ritodrine 12 gtt, tetapi mengalami takikardia.” Kata Perawat memanggil
“Kurangi jadi delapan gtt, dan cek tanda vitalnya satu jam lagi.” Kata Dokter Chu terlihat sangat sibuk akhirnya masuk ke ruangan perawat. 



 Sementara Dokter Myung dengan sangat perhatian memberitahu Gunanya obat itu untuk membuat bayi lebih lama berada di perut ibu, tergantung kondisi bayi.Pasien pun ingin tahu apa bayi bisa jadi lebih lemah daripada anak lain, atau hidupnya takkan bertahan lama
“Itu takkan terjadi. Ibuku pun sangat menderita saat mengandung aku.” Kata Dokter Myung. Dokter lain ikut mendengarnya. Pasien pun tak percaya mendengarnya.
“Begini ceritanya. Ibuku penderita diabetes, tetapi tiba-tiba hamil.” Kata Dokter Myung
“Kulihat bagian episiotomi Seo Jeong-won baik. Benar?” kata perawat. Dokter  Chu membenarkan kalau  sudah mengeceknya tadi pagi dan Tidak ada hematoma.
“Dokter, tolong cek NST ini. Janin Jeong Min-gyeong menunjukkan pelambatan.” Kata perawat
“Beri infus tambahan, dan tiga liter oksigen lewat kanula nasal dalam posisi tidur miring.” Ucap Dokte Chu. Perawat mengerti lalu pergi. 
“Adik perempuanku melahirkan prematur, tetapi dia sangat optimistis dan santai. Meski dokter kandungan, aku tetap merasa cemas, tetapi dia senang bertemu bayinya lebih cepat.” Cerita Dokter Chu. Pasien terlihat sedikit lebih tenang dan tak percaya mendengarnya.
“Dokter... Aku sangat lapar. Apa aku boleh makan?” tanya seorang pasien.
“Mari cek pergerakan janin dahulu. Mohon tunggu sebentar.” Kata Dokter Cha yang bertemu dengan pasien lainya.
“Bayinya bisa lahir dan tumbuh sehat sampai sekarang. Keponakanku itu kini umur dua tahun.Apa Mau lihat fotonya?” kata Dokter Myung. Pasien pun mempersilahkan.
“Dokter Myung Eun-won... Sin Ha-yun harus cek pergerakan janin, dan Jeong Min-gyeong harus diperiksa karena pelambatan. Kita juga harus menyiapkan dua bedah cesar nanti. Kita sibuk.” Kata Dokter Chu dengan nada menyindir.
Dokter Myung menganguk mengerti lalu berjalan pergi. Pasien pun berkomentar kalau Sepertinya Dokter Chu tak bisa basa-basi lalu pamit pergi . Dokter Chu hanya bisa diam saja dan memberitahu kalau akan cek pembalut pasien bedah cesar.
“Astaga. Pertempuran beruang dan rubah.” Komentar Dokter. Perawat ingin tahu Siapa yang rubah. Dokter Lain berpikir kalau sudah terlihat jelas.
“Dokter, janin Jeong Min-gyeong menunjukkan pelambatan. Akan kuperiksa. Beri dia tiga liter oksigen dengan kanula nasal, benarkan?” kata Dokter Myung menelp dari ruangan. 

Dokter Jang, Hong Do dan Yun Bok terlihat gugup diruangan. Hong Do bingung kalau dia belum datang dan berpikir kalau Mestinya ia saja yang turun. Dokter Jang yakin Itu kebahagiaan kecil Dokter Lee dan pasti sedang mengobrol dengan kurir.
“Datanglah lebih cepat, Dokter. Kami kelaparan setengah mati.” Keluh Dokter Jang saat melihat Ik Jun akhirnya datang membaa makanan.
“Kau dokter, tetapi mudah sekali mengucapkan kata “mati”. Hong-do, Yun-bok, makan yang banyak. Kalian harus Makan, lalu bergabunglah ke Bedah Umum.” Ucap Ik Jun. Keduanya hanya bisa tersenyum.
“Ini. Jika tidak bergabung, sama dengan makan lari.” Kata Ik Jun memberikan roti. Keduanya menganguk mengerti.
“Apa Aku boleh makan Bakon Rangkap Dua? Itu roti lapis favoritku.” Kata Dokter Jang. Ik Jun pun mempersilahkan.
“Ini Pasti akan masih banyak tersisa. “ kata Hong Do melihat banyak roti sisa
“Kupanggil satu orang untuk ikut makan... Jung-won...” ucap Ik Jun dan membuat wajah Dokter Jang terpesoan menatap ke arah pintu 

“Apa Roti lapis? Bagus!” ucap Jun Wan masuk ruangan.  Dokter Jang mengeluh melihat Jun Wan yang datang.
“Memangnya Apa lagi? Kau sial. Makanya, dengar kata-kata orang sampai akhir.” Kata Ik Jun. Akhirnya Dokter Jang berdiri dan langsung memberikan hormat.
“Apa Aku sial? Kenapa?” tanya Jun Wan heran. Ik Jun menjawab tidak ada alasan.
“Cepat makan, atau Jang Gyeo-ul menghabiskan semua.” Kata Ik Jun. Jun Wan pun menyapa dua anak magang yang Lama tak jumpa.
“Gyeon-u dan Jik-nyeo?” kata Jun Wan yakin. Yun Bok mengeluh kalau  Waktu itu Jun Wan juga memanggil begitu, dan mereka jawab bukan.
“Benar. Kuingat nama kalian adalah nama pelukis. Ma-ne dan Mo-ne? Kata Jun Wan. Yun Bok pun kembali memberitahu nama keduanya.
“Benar! Maaf sekali. Padahal kita sudah salam Wakanda.” Kata Jun Wan.Yun Bok mengaku Tidak masalah.
“Ma-ne dan Mo-ne adalah nama sepupu kami.” Kata Yun Bok. Ik Jun tak percaya mendengarnya.
“Jangan bilang Ma-ne dan Mo-ne kembar?” tanya Ik Jun. Hong Do menyahut membenarkan.
“Apa Kembar identik? Lima tahun?” ucap Ik Jun memastikan. Hong Do kembali membenarkan. Jun Wan yang mendengarnya tak percaya berpikir keduanya itu seperti paduan suara?


Dokter Bong akan makan sendirian, saat itu Dokter Yong, Dokter Do dan Dokter Ahn datang memberikan minum serta Serbet untuknya. Dokter Bong tahu kalau tadi ada pasien darurat dan ingin tahu Bagaimana mereka bertiga bisa dekat
“Kami sesama Kepala Residen dan sudah lama kenal, sedangkan Ahn Chi-hong adalah junior kesayangan Dokter Suk-min.” Ucap Dokter Do
“Apa? Kapan aku bilang itu?” keluh dokter Ahn.  Dokter Do memberitahu kalau Maksudnya, dia menyukai Dokter Ahn.
“Dia sering bercerita tentang kau. Aku merasa mengenalmu. Omong-omong, Kapten Ahn, kenapa kau tinggalkan kemiliteran? Pasti masalah wanita. Cepat ceritakan.” Kata Dokter Do
“Bukan masalah besar. Lain kali kuceritakan.” Kata Dokter Ahn.  Dokter Yong pikir juga harus begitu agar terlihat misterius sepertinya. 

Dokter Chu datang menyapa Dokter Bong mengaku beli semua jenis karena tak tahu suka apa mulai dari Americano panas dan dingin, serta latte. Dokter Jang pun duduk menyapa semuanya. Dokter  Bong pun bertanya Hari ini kita bahas topik apa.
“Dokter Chu Min-ha, wajahmu kenapa? Wajahmu kelabu. Ada masalah?” komentar Dokter Do
“Aku pakai alas bedak nomor 25. Warnanya memang agak gelap.” Kata Dokter Chu bangga
“Namun, tetap terlalu gelap. Warna wajah dan lehermu jauh beda.” Ucap Dokter Jang
“Ini riasan mutiara hitam. Memiliki efek berjemur sehingga wajah tampak amat kecil.” Kata Dokter Chu
“Kau bagai orang yang berjemur di salon karena tak sempat liburan.” Ucap Dokter Jang mengejek.
“Omong-omong, bagaimana kalian bisa dekat? Departemen dan umur kalian berbeda, dan juga warna kulit.” Kata Dokter Do
“Kami berdua ARMY.” Ucap Dokter Jang. Dokter Do tak percaya kalau mereka satu angkatan tentara dan itu Berarti juniornya Ahn Chi-hong!
“Bukan "tentara", tetapi... Apa Kau baru mulai pakai internet kemarin?” keluh Dokter Yong.
“Ya. Kemarin aku mulai pasang ADSL Megapass, layanan internet tercepat di Korea. Aku jual semua uang dunia maya lama dan memakai semua kuota KTF Bigi.” Kata Dokter Do penuh semangat. Dokter Jang bingung mendengarnya.
“Jadi...Ternyata kalian penggemar BTS. Adikku juga tergila-gila pada mereka.” Ucap Dokter Yong memotong.
“Ya, kami bertemu di klub fan.” Ucap Dokter Jang bahagia. Dokter Bong berkomentar Dokter residen zaman sekarang sungguh banyak waktu.
“Kalian punya waktu untuk klub fan dan mengobrol di kantin. Zaman aku dahulu...” ucap Dokter Bong dan semua tiba-tiba langsung bergegas pergi.
“Kami sungguh tak punya waktu untuk makan di kantin.” Kata Dokter Do.
“Hari ini, kukisahkan saat aku jadi dokter residen. Ya?” ucap Dokter Bong, semua tetap ingin pergi.
“Tadinya begitu, tetapi kurasa lebih baik kita bahas topik cinta geng Punggung Bukit Gongnyong. Cinta pertama dan cinta lama.” Kata Dokter Bong. Semua pun langsung duduk kembali kecuali dokter Do.
“Dasar kalian!” keluh Dokter Bong. Sementara Dokter Do mengakutidak terlalu tertarik tapi akhirnya ikut duduk. 



“Ik-jun dan Jun-wan selalu punya pacar. Dahulu mereka cukup populer. Seingatku mereka jarang tidak punya pacar.” Cerita Dokter Bong.
“Sungguh? Luar biasa. Lanjut. Dokter Yang Suk-hyung bagaimana?” tanya Dokter Chu penasaran.
“Suk-hyung jarang punya pacar. Dia pun menikah dengan wanita pilihan orang tua. Tak sampai setahun, mereka bercerai. Lantas, dia ke Amerika. Kudengar dia hanya belajar di sana.” Cerita Dokter Bong. Dokter Chu memangguk mengeri.
“Suk-hyung punya pacar sekarang!” kata Dokter Bong. Dokter Chu ingin tahu siapa.
“TV-nya. Wanita mana pun tak mungkin mengalahkan TV-nya.” Kata Dokter Bong. Dokter Chu hanya bisa menghela nafas mendengarnya.
“Dokter Chae bagaimana? Apa Pacarnya satu kampus?” tanya Dokter Ahn penasaran.
“Ya, pacarnya sekampus.” Ucap Dokter Bong. Dokter Ahn pikir itu Dokter Lee Ik-jun.
“Ik-jun? Tidak. Mereka tidak pernah berpacaran. Sejak musim dingin tingkat satu atau dua, ya? Hubungannya cukup lama. Kurasa dia pacaran dengan senior selama beberapa tahun.” Cerita Dokter Bong
“Mereka pacaran tiga hingga empat tahun. Setelah itu pun beberapa kali berpacaran. Dia hanya enggan menikah.” Cerita Dokter Bong
“Dokter Ahn Jung-won bagaimana?” tanya Dokter Jang penuh semangat.
“Kalau ada wanita yang suka Jung-won. harus kalahkan Tuhan lebih dahulu.” Kata Dokter Bong
“Mustahil mengalahkan Tuhan! Jika ada yang suka dia, sebaiknya wanita itu menyerah. Berani-beraninya dia bertanding melawan Tuhan?” kata Dokter Do. Dokter Jang hanya bisa tertunduk sedih.
“Dokter Jang Gyeo-ul... Agamamu Buddha, ya? Kau pasti merasa tak nyaman. Mari kita ganti topik.” Ucap Dokter Yong. Dokter Do setuju agar mereka menghentikan saja. Dokter Jang masih saja tertunduk sedih. 


Dokter Ahn sibuk membaca bukunya, Dokter Yong masuk heran melihat temanya yang belum tidur. Dokter Ahn menjaab Belajar ventrikulostomi. Dokter Yong pikir  Ventrikulostomi sudah sering melakukannya, Dokter Ahn memberitahu kalau akan menjadi dokter utama saat ada pasien IVH lagi.
“Apa? Kau belum pernah jadi dokter utama? Dokter Chae sungguh keterlaluan Aku melakukannya saat residen tahun kedua. Jadi Semangat! Kau mungkin akan dimarahi habis-habisan. Walau begitu, semangat!” ucap Dokter Yong. Dokter Ahn menganguk
“Dokter Chae Song-hwa... memaklumi satu kali kesalahan, tetapi kesalahan kedua... Meski begitu, semangat!” ucap Dokter Yong. Dokter Ahn pun mengucapkanTerima kasih.
“Aku juga semangat!”kata Dokter Yong yang lelah lalu pergi ke tempat tidur. Sementara Dokter Ahn langsung merendahkan lampunya agar Dokter Yong bisa tidur. 


Dokter Do terlihat menganguk keluar dari ruangan operasi dan langsung mencuci wajahnya. Saat itu dokter datang menyindir Kenapa tak sekalian mandi. Dokter Do kaget melihat Dokter Cheon Myeong-taek dan langsung meminta maaf.
“Apa Ada operasi?” tanya Dokter Chae. Dokter Do membenarkan kalau operasi cacat septum ventrikel oleh Dokter Kim Jun-wan.
“Kalian seperti satu pasang.” Ucap Dokter Chae. Dokter Do membenarkan kalau Jun Wan sangat menyayanginya.
“Dia sering memujimu.” Kata Dokter Chae. Dokter Do merasa  itu Tidak mungkin tapi akhirnya mengucapkan Terima kasih.
Dokter Chae pun menyuruh pergi. Dokter Do mengerti lalu bergumam seperti tak percaya kalau Jun Won yang tidak memaki. 

Jun Wan memberitahu keluarga pasien kalau Pertama, mereka akan menyumbat lubang di dinding antara bilik kiri dan kanan. Lalu Jika kebocoran katup mitral masih parah meski septum ventrikel sudah disumbat, akan mereka perbaiki.
“Perkiraan waktu operasi sekitar lima jam. Jadi Tidak perlu khawatir.” Kata Jun Wan.
“Baik, Dokter. Mohon bantuanmu... Terima kasih.” Kata Keluarga pasien. Jun Wan pun pamit pergi masuk ke RUANG OPERASI

Dokter Ahn sedang melakukan operasi, dua orang perawat diluar berkomentarKapten Ahn pasti dimarahi habis-habisan hari ini karena Jika kampuh korona tak terlihat, pasti sulit mencari titik Kocher. Temanya menyuruh si dokter masuk saja karena teman seangkatan.
“Aku tak sanggup karena gugup. Lebih mendebarkan daripada operasi pertamaku.” Ucap si dokter.
“Apa Kampuh korona terlihat?” tanya Song Hwa disampingnya.Dokter An menjawab akan mencoba lagi.
“Mungkin tak terlihat karena darah. Cari sambil dilap dengan kasa.” Kata Song Hwa. Dokter Ahn pun meminta Forsep, kakinya terlihat lemah.
“Berikan bone wax.” Ucap Song Hwa lalu menyuruh agar Dokter Ahn Cobalah kontrol pendarahan dengan bone wax
“Pendarahan berat bisa terjadi saat melebarkan tulang.Jadi Hati-hati.” Ucap Song Hwa. Dokter Ahn mengerti.
“Kuret. Lalu Miringkan sedikit... Tidak. Lebih tegak sedikit.” kata Song Hwa. Dokter Ahn pun mengikutinya.
“Kerja bagus... Kurasa sisi kiri dan kanannya salah. Hari ini sampai sini saja. Coba cabut lagi.” Ucap Sang Hwa. Dokter Ahn mengerti.
“Kateter harus tegak lurus saat masuk. Kau harus lihat kantus bagian dalam, tetapi belum terbiasa.” Jelas Song Hwa dan akhirnya darah pun keluar. Dokter Ahn meminta maaf sambil menganguk mengerti
“Ini kesalahan umum. Lain kali harus lebih baik... Minta forsep bayonet.lalu Minta Pisau 15.” Ucap Song Hwa melanjutkan operasi Dokter Ahn. 




Sementara Jun Wan seperti sedang menjahit mengeluh karena Terpotong lagi dan bertanya Ini sudah berapa kali. Dokter Do piki Katupnya terlalu tipis. Jung Won pun meminta agar memberikan jarum yang lebih kecil lalu melihat sudah lebih dari 7 jam operasi.
“Sayang, sudah sembilan jam lebih. Tadi dia bilang lima jam, 'kan? Operasinya... pasti berhasil, 'kan?” kata sang istri gugup di ruang tunggu dengan suaminya.
“Baiklah. Kita masuk bersama.” Kata Jun Wan bersiap didepan ruang konsultasi. Dokter Do pun setuju. 


Jun Wan memberitahu kalau Operasi memakan waktu lebih lama Bahkan mau memotong tangannya. Keduanya kaget dan bingung. Jun wan memberitahu  Setelah menyumbat cacat septum ventrikel, kebocoran katup mitral parah, lalu mereka coba perbaiki.
“Namun, pendarahan makin parah sebab sel terlalu lemah dan terus robek.” Jelas Jun Wan.
“Benar. Namun, akhirnya operasi berjalan lancar.” Kata Dokter Do menyela. Keduanya langsung terharu dan mengucapkan Terima kasih.
“Chang-mo tidak apa, 'kan?” tanya orang tua pasien. Dokter Do mengaku Awalnya sulit karena banyak pendarahan, tetapi berakhir baik.
“Lalu kapan kami bisa bertemu Chang-mo?” tanya Orang tua Chang Mo
“Kebocoran sudah jauh berkurang, dan kini bayi dalam kondisi stabil. Seperti kukatakan sebelumnya, dia akan istirahat total selama tiga hari.” Kata Jun Wan.
“Kalian bisa segera menemuinya di Unit Perawatan Intensif Pediatri. Tak perlu khawatir, Bu.” Kata Dokter Do menyela.
“Sayang, kita bisa menemuinya... Terima kasih banyak.” Ucap Orang Tua Chang Mo bahagia.Jun Wan mencoba menahan emosinya. 


Di ruang ganti, Dokter Do mengeluh kalau Cara bicaranya Jun Wan seperti prosa, karena Mestinya meberi tahu hasil operasi dahulu. Berhasil atau tidak. Jun Wan menegaskan Dokter wajib memberi tahu segala hal yang terjadi di Ruang Operasi kepada wali, dari awal sampai akhir dengan tenang.
“Kalau kau terus bicara begitu, semua wali bisa kena serangan jantung. Astaga! Kau sungguh tak paham perasaan orang lain. Aku tak minta kau berkata manis. Maksudku, tenangkan wali dahulu sebelum bicara fakta.” Ucap Dokter Do kesal.
“Hei, saat umur lima tahun saja aku tak dimarahi begitu.” Keluh Jun Wan kesal diomeli juniornya. 

“Benar, Kim Jun-wan... Kau harus ubah cara bicaramu... Bagus, Dokter Do Jae-hak.” Komentar Jung Won masuk ruangan. Dokter Do melihat seniornya langsung membungkuk menyapanya.
“Bicara santai saja, Dokter.” Kata Dokter Do. Jun Wan heran melihat temana tak pulang karena harusnya Cepat pulang kalau sudah mandi
“Tadi siang ada bayi yang operasi ileus, dan mengalami banyak pendarahan. Tampaknya malam ini, aku harus mengawasi tanda vitalnya.” Ucap Jung Won memakai kaos kakinya.
“Kau memang sesuai julukanmu, Buddha.” Puji Dokter Do.  Jun Wan pikir Harusnya sejak awal operasi yang rapi.
“Astaga, sesuai rumor... kau memang temannya Buddha.” Kata Doktr Do. Jung Won memberitahu kalau ia  Katolik.
“Ini Sudah kuduga! Istriku juga penganut Katolik kuat. Para penganut Katolik memang baik hati, juga tampan dan cantik.” Komenter Dokter Do. Jung Won langsung mengucapkan Terima kasih.
“Ahh... Hampir lupa! Di departemenmu, Apa ada dokter spesialis bernama Cheon Myeong-taek?” tanya Jung Won.
“Ya. Kenapa?” tanya Jun Wan. Jung Won memberitahu Ada surat kaleng masalah suap pabrik obat.
“Dia dapat keanggotaan golf, dan makan gratis di restoran mewah setelah bayar di muka. Kudengar hampir semua dokter torakoplastik melakukannya. Hei, kau tak ikut, 'kan?” tanya Jung Won.
Sementara Jun Wan sibuk dengan ponselnya terilihat sangat bahagia karena Ik Sun mengirimkan pesan. Dokter Do yang melihat seperti panik takut Jun Wan ikut dengan Dokter Chae.
**
Bersambung ke Part 2


Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Kamis, 23 April 2020

Sinopsis When the Weather is Fine Episode 16 Part 2

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Di depan restoran, teman pria Eun Seob mengajak untuk  babak kedua? Teman yang lainya megeluh kalau akan memberi tahu berapa utang mereka semua. Semua langsung mengejeknya mengucapkan terimakasih karena sudah ditraktir.
“Sebaiknya kalian semua mentransfer uang kepadaku!” teriak si wanita dengan kesal
“Bagaimana jika lain kali kita pergi ke tempat lain? Kumohon?” kata si tema lainya.
“Cobalah kamu memesan tempat? Kamu tahu betapa sulitnya ini?” saran Jang Woo kesal
“Hei... Berhentilah bertengkar. Ada apa dengan kalian berdua Tapi Kenapa Hae Won tidak datang? Aku sangat merindukannya.” Ucap Seorang wanita.
“Aku juga... Haruskah aku meneleponnya?” kata teman lainya. Jang Woo pun merasa tak enak hati dengan Eun Seob
“Tidak, jangan telepon dia. Dia kembali ke Seoul... Lupakan saja. Jangan telepon dia.” Kata Jang Woo dan mengajak pergi.
“Mari kita mulai babak kedua.” Ucap seorang pria. Sang istri menarik suaminya kalau Ronde kedua dimulai di rumah.
Mereka semua pun berpisah, Jang Woo berjalan dengan Eun Sil serta Eun Seob pulang ke rumah. 


Eun Seob berjalan sendirian pulang ke rumah terlihat sedikit sedih karena tak bisa bertemu dengan Hye Won. Saat masuk rumah pun, Eun Seob terlihat tak punya gairah hidup ketika kembali.
Bibi Sim sibuk mencari gunting kukunya dan bertanya pada kakaknya karena tidak bisa menemukannya. Saat itu Hye Won datang, Bibi Sim kaget melihat keponakanya yang datang. Hye Won heran bibinya belum pergi.
“Aku datang karena kupikir Bibi sudah pergi.” ucap Hye Won acuh lalu berjalan menaiki tangga. Bibi Sim bingung melihat keponakanya. 

Di sebuah restoran, Salah satu pria mengeluh kalau tidak bisa memberikanya telur goreng gratis lagi. Sementara Nyonya Sim terlihat asik akan jajangmyun dengan telur setengah matang lalu bertanya Kapan Hye Won berencana kembali kali ini
“Entahlah, sekitar sepekan lagi?” kata Hye Won. Nyonya Sim pun ingin tahu  Bagaimana dengan wawancara akademinya.
“Aku gagal semuanya. Jadi, aku berniat menyewa studio dengan teman sekelasku untuk membuka institusi. Tidak ada hal lain yang aku kuasai selain mengajar anak-anak.” Ucap Hye Won yakin
“Kau bilang kau tidak berhak mengajari seseorang.” Komentar Bibi Sim. Hye Won membenarkan. Bibi Sim pun ingin tahu alasanya.
“Begini, aku masih tidak tahu apakah aku berhak, tapi saat kucoba lagi, aku merasa perbuatanku tidak seburuk itu.” Jelas Hye Won. Bibi Sim mengeluh kalau tidak mengerti maksud keponakanya.
“Maksudku, hidupku di Seoul sangat sepi dan penuh tekanan, jadi, kurasa aku mulai membenci pekerjaanku. Tapi setelah pemanasan dan mencobanya lagi, aku mulai melihat jelas bagaimana jalan hidupku.” Jelas Hye Won. Bibi Sim ingin tahu seperti apa.
“Begini... Aku menyadari ternyata tidak seburuk itu. Terkadang aku bahagia. Semacam itu.” Kata Hye Won.
“Itu bagus... Kapan kau akan membuka institusi?” tanya Nyonya Sim. Hye Won menjawab Itu belum pasti.
“Lalu apa Ibu akan tinggal di sini secara permanen?” tanya Hye Won. Bibi Sim membenarkan kalau sudah menjual rumah di Paju. Hye Won pun memujinya.
“Lalu apa Ibu tinggal di sana?” tanya Hye Won. Nyonya Sim membenarka kalau sudahmemperbaiki rumah itu dan menjualnya dengan harga bagus.


Saat itu Jang Woo masuk berpikir mungkin tidak ada kursi di tempat ini lalu kaget melihat Hye Won dan bertanya Kapan datang. Hye Won mengaku Baru saja dan datang untuk makan. Jang Woo gugup berpikir tidak melihat kursi kosong.
“Kami punya banyak kursi kosong.” Kata si paman. Jang Woo menolak karena ingin makan di bawah sinar matahari.
“Cuacanya indah hari ini... Hye Won, sampai nanti... Telepon aku nanti... Halo. Selamat menikmati. Aku suka kacamata hitam kalian.” Ucap Jang Woo menyapa dua bibi dan bergegas pergi.
“Tidak ada kursi tersisa di tempat ini.” Kata Jang Woo berjalan pergi, temanya bingung berpikir masih ada kursi kosong.
“Tidak, aku sudah melihat ke dalam... Ayo pergi. Tidak ada tempat duduk.”kata Jang Woo
Saat itu Hye Won melihat Eun Seob yang menunggu diluar dengan seorang wanita. Ia ingin mendekat tapi Jang Woo sudah mengajak Eun Seob pergi. 

Bibi Sim membawa keluar barang-barangnya, saat itu Tuan Cha sudah menunggunya. Hye Won pun mengucapkan selamat tinggal pada bibinya. Bbi Sim pun menyuruh Tuan Cha agar membawakan barang-barangnya. Tuan Cha bingung kalau Bibi Sim yang hanya membawa satu koper.
Bibi Sim menganguk lalu berjalan pergi ke mobil. Tuan Cha bingung dengan keluarga Sim terlihat santai tanpa ada pelukan lalu pamit pergi pada keduanya. Tuan Cha memasukan koper kedalam mobil sambil berkomentar tentang keluarga Bibi Sim.
“Kurasa kalian bukan tipe keluarga yang akur.” Kata Tuan Cha. Bibi Sim hanya hanya diam saja lalu masuk ke dalam mobil.
Hye Won sempat melambaikan tangan pada bibinya,Tuan Cha pergi mengantar Bibi Sim pergi meninggalkan desa lalu mengeluh kalau berpamitan seperti itu. Bibi Sim pikir kalau Itu sudah cukup. Tuan Cha pun  bertanya apakah Bibi Sim akan kembali?
“Tidak.. Aku tidak akan kembali seumur hidupku.” Kata Bibi Sim yakin. 


Jang Woo berjalan keluar dari gedung sedang membahas makan siang hidangan kukus yaitu Semur. Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita yang ada diseberang jalan.  Jang Wo pun memutuskan akan akan menyusul mereka nanti.
“Heii... Ji Eun Sil.” Teriak Jang Woo tapi Eun Sil tak mendengar sampai akhirnya datang mendekatinya. Eun Sil kaget melihat Jang Woo sambil melepaskan earphonenya.
“Dari mana kau muncul?” kata Eun Sil kaget. Jang Woo menjawab dari gedung dan bertanya Apa yang dilakukannya.
“Aku pengangguran. Aku keluar karena merasa bersalah di rumah. Bagaimana denganmu?” tanya Eun Sil
“Aku? Aku tidak melakukan apa pun.”kata Jang Woo. Eun Sel bingung karena tadi keluar dari gedung.
“Aku akan mengambil cuti.” Kata Jang Woo cepat. Eun Sil menganguk mengerti.
“Aku akan melakukannya sekarang.” Ucap Jang Woo akan kembali ke kantor. Eun Sil pun mempersilahkan.
“Apa rencanamu setelah berjalan?” tanya Jang Woo. Eun Sil mengaku  tidak punya rencana dan punya banyak waktu luang.
“Kenapa kau bertanya? Kau ingin melakukan sesuatu?” tanya Eun Sil . Jang Woo pikir mereka bisa pikirkan.
“Apa Mau ke bioskop? Kalau begitu, kamu mau mendaki? Bagaimana kalau kita ke pasar dan makan bersama?”tanya Jang Woo
“Bagaimana dengan toserba? Aku sudah makan, jadi, aku kenyang sekarang.” Kata Eun Sil. Jang Woo mengaku sudah kenyang juga
“Tapi aku menginginkan sesuatu sekarang. Aku mau milkshake. Tapi kau tidak bisa minum itu di area ini. Ini Sungguh, sudah hilang. Jadi, bagaimana jika kita mencoba mencari es krim yang terasa seperti millk shake?” kata Eun Sil.
Jang Woo pun langsung setuju, Eun Sil berteriak gembira dan langsung memuji Jang Woo memang luar biasa. Jang Woo bingung apa yang dilakukan sampai Eun Sil bahagia. Eun Sil tak mau membahasnya dan meminta Jang Woo Berhenti tersipu.
“Serahkan benda itu... Aku akan menunggu di sini.” Ucap Eun Sil. Jang Woo mengerti akan mengambil cuti.


Bibi Sim duduk disamping Tuan Cha mengucapkan Terima kasih, Karena telah mengantarnya, lalu mengejek kalau memastika kalau Tuan Cha itu tidak akan menangis.Tuan Cha menegaskan tidak akan menangis lagi.
“Hei, Shim Myeong Yeo... Apa Kau sungguh tidak akan kembali?”kata Tuan Cha seperti masih berharap.
“Ya, aku tidak akan pernah kembali.” ucap Bibi Sim yang sudah brani membuka kacamatanya.
“Kamu bahkan tidak bisa berkunjung? Kapan saja. Kamu bisa berkunjung jika sangat merindukan tempat ini.” Ucap Tuan Cha.
“Begini... Aku tidak mau melakukan itu... Tidak akan.” Tegas Bibi Sim. Tuan Cha pun tak bisa berkata-kata lagi. 


Jang Woo akhirnya datang, Eun Sil dengan senyuman bahagia melambaikan tangan menyuruh agar berlari. JangWoo tak mendengarnya, Eun Sil bertriak agar Jang Woo berlari dan mengeluh karena hanya berdiri di sana.
“Kenapa kau terburu-buru, Eun Sil? Baiklah, aku datang.” Ucap Jang Woo
“Sebaiknya kau lari kecuali kamu ingin kuberi pelajaran.” Kata Eun Sil mengancam. Jang Woo pun segera menyeberang jalan.
“Apa Kau tidak mendengarku?” keluh Eun Sil. Jang Woo berpura-pura kalau tidak bisa mendengar apa pun.
“Dasar kau..... Astaga, kamu bilang akan segera kembali.” ucap Eun Sil marah memukul Jang Woo. Jang Woo bingung.
“Kau bilang akan segera kembali. Kau membuatku menunggu begitu lama.” Kata Eun Sil kesal
“Manajerku agak pemarah. Ayo... Aku akan membelikanmu es krim.” Kata Jang Woo berjanji. Eun Sil terlihat bahagia mendengarnya lalu berjalan pergi. 

Jang Woo keluar dari minimarket membawa es krim. Eun Sil pun mengucapkan Terima kasih sambil memakanya dan membahas Jang Woo yang lulusan Universitas Nasional Seoul dan ingin tahu alasanya kembali ke desa. Jang Woo pikir itu Pertanyaan yang tidak terduga.
“Aku tidak pernah bisa memahaminya. Tinggal di tempatku lahir dan dibesarkan itu menyenangkan. Aku juga suka di sini. Tapi bukankah kebanyakan lulusan UNS mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar di Seoul?” kata Eun Sil
“Orang tuaku yang menyarankannya. Mereka menyuruhku kembali dan bekerja di Balai Kota.” Ucap Jang Woo
“Kukira kau lebih ambisius” komentar Eun Sil. Jang Woo pikir itu  Impiannya yang kecil. Eun Sil membenarkan.  
“Tapi bagiku, itu menjamin kebahagiaan.” Ucap Jang Woo. Eun Sil bingung Jang Woo yakin dengan itu menjamin kebahagiaan
“Jadi, maksudmu, kamu dengan senang hati mengikuti jalan yang ditentukan orang tuamu dengan mengabaikan keinginanmu?” ucap Eun Sil tak percaya.
“Kau belajar sangat keras, dam selalu menjadi murid terbaik di seluruh sekolah selama masa sekolah. Kau bahkan masuk ke Universitas Nasional Seoul.” Ucap Eun Sil heran.
“Tapi alih-alih melanjutkan melihat dunia yang lebih besar di luar sana, kau kembali ke kampung halaman, mengikuti ujian PNS karena orang tuamu dan lulus. Sekarang, kamu duduk saja di kantor pengap di Balai Kota dari pukul 9.00 hingga 18.00, lalu pulang untuk tidur. Kehidupan seperti itu...” ucap Eun Sil yang langsung disela oleh Jang Woo
“Eun Sil... Begini... Kau mungkin berpikir aku di roda hamster yang membosankan. Kau mungkin juga berpikir bahwa pekerjaanku tidak istimewa. Tapi begini, aku menyebut kehidupan biasa itu "kebahagiaan".” Ucap Jang Woo. Eun Sil tak mengerti maksudnya.
“Mungkin beberapa lulusan UNS bermimpi untuk menjelajahi alam semesta. Tapi ini pendapatku... Tentu, aku lulusan UNS. Tapi aku ingin membangun dan menjalani hidupku melakukan hal yang biasa tiap hari. Itu impianku.” Ucap Jang Woo
“Bekerja keras dan menjalani hidup biasa membuatku bahagia. Aku tahu itu cocok untukku.” Jelas Jang Woo yakin
“Kenapa kau tidak menulis itu di suratmu?” keluh Eun Sil. Jang Woo terlihat bingung
“Alih-alih bercerita tentang kau yang dipukuli. "Aku tahu apa yang membuatku bahagia." Jika kau menulisnya di suratmu, maka aku akan lebih menyukaimu.” Ucap Eun Sil
“Apa menurutmu... Apa itu keren?” tanya Jang Woo bingung. Eun Sil menganguk.
“Tidak banyak orang yang tahu apa yang membuat mereka bahagia.” Kata Eun Sil 

 “Kalau begitu, mungkin kau sedikit terpesona dengan perkataanku tadi.” Kata Jang Woo bahagia. Eun Sil tiba-tiba merasa lapar.
“Aku membelikanmu es krim karena kau bilang kau baru makan. Apa Kau sudah lapar? Berapa besar perutmu, Eun Sil? Kali terakhir kita makan bersama, kita pergi ke lima restoran berbeda. Aku tidak tahu kau suka makan.” Ucap Jang Woo heran.
“Kau benar-benar tipeku... Aku jatuh cinta kepada Lee Jang Woo.” Kata Eun Sil. Jang Woo kaget mendengarnya.
“Aku sudah jatuh cinta kepadamu, Lee Jang Woo.” Kata Eun Sil akhirnya berdiri depan Jang Woo. Jang Woo terdiam.
“Astaga, kamu tersipu lagi... Dasar kamu.” Ucap Eun Sil mengoda lalu berjalan pergi. Jang Woo menahanya dan langsung menciumnya, lalu berjalan pergi.
“Kau bilang kamu lapar. Ayo pergi” ucap Jang Woo berjalan pergi dengan wajah gugup.
“Kalau begitu, kita akan bermesraan mulai hari ini?” ucap Eun Sil bahagia. Jang Woo mengeluh dengan  kata "Bermesraan"
“Maksudku... Jadi, sekarang kita pasangan?” ucap Eun Sil. Jang Woo setuju kalau mereka bisa bermesraan.
“Tapi seperti yang kamu tahu, ibuku mau aku segera menikah. Kau mungkin belum tertarik untuk menikah.” Ucap Jang Woo. Eun Sil pikir Itu yang harus dipikirkan...




Eun Seob keluar dari toko buku membawa buket bunga, saat itu terdengar suara “Apa Kau mau pergi?” Eun Seob melihat Hye Won yang kaget dan mencoba untuk datar menjawab kalau akan pergi ke suatu tempat.
“Ini hari peringatan kematian ibuku.” Kata Eun Seob. Hye Won mengerti dan hanya diam saja. Eun Seob akhirnya pergi dengan mobilnya.
Tapi saat dijembatan, Eun Seob melihat dari kaca spion Hye Won berlari mengejarnya. Ia pun langsung menginjak rem dan turun dari mobil lalu bertanya Ada apa. Hye Won mengaku Tidak apa-apa lalu menatap Eun Seob.
“Aku ingin... Aku ingin memelukmu sekali saja... Bolehkah?” kata Hye Won. Eun Seob terdiam dan Hye Won langsung berlari memeluk Eun Seob. 

Hye Won mengingat saat Eun Seob mengantarnya pulang dengan alasan kalau jalan gelap. Eun Seob pun mabuk mengatakan “Aku senang kamu di sini, Irene.” Saat reuni sekolah, orang yang dilihat Hye Won sebelum lampu padam adalah Eun Seob.
Eun Seob mengingat saat didepan toko buku, Hye Won menciumanya dan mereka berpelukan. Akhirnya Hye Won melepaskan pelukanya dan langsung meminta maaf pada Eun Seob.
“Aku akan berpura-pura tidak melihatmu, tapi saat melihat wajahmu, aku tidak bisa menahannya. Maafkan aku. Aku akan pergi sekarang.” Ucap Hye Won lalu melangkah pergi.
“Berapa lama kau tetap di sini kali ini? Kapan kau akan pergi kali ini?” ucap Eun Seob. Hye Won hanya bisa terdiam karean Eun Seob seperti terbiasa dengan ia yang pergi dan datang dimusim yang berbeda. 


Hye Won masuk ke toko buku sendirian menatap semua sudut tempatnya pernah dihabiskan dengan Eun Seob.
“Kukira aku akan melupakanmu... Tentu saja... Lagi pula, kita hanya menghabiskan satu musim dingin bersama... Tentu saja... Aku akan benar-benar melupakanmu... Tapi aku sangat bodoh... Kau berbeda.”
Hye Won seperti baru tahu kalau Eun Seob yang memperbaiki lampu jalan agar tak gelap. Hye Won pun tersenyum melihat lampu yang terang didepanya.
“Kau akan melekat di hatiku seperti salju musim dingin dan tidak pernah meninggalkanku. Aku sempat lupa.”

Tertulis didepan sebuah toko "Perjalanan Bunga Musim Semi Danau Hyecheon" Tuan Park sedang mengocok rokok melihat Nyonya Sim keluar toko langsung memberikan rokoknya. Nyonya Sim seperti sudah berhenti merokok mengeluarkan permen lolipop.
“Apa kau pria yang menulis surat itu?” ucap Nyonya Sim. Tuan Park membenarkan.
“Aku yang mengirimkan surat-surat itu kepadamu.” Kata Tuan Park.  Nyonya Sim pikir Akhirnya bisa bertanya kepadanya.
“Kenapa kau mengirimiku surat itu selama tujuh tahun?” tanya Nyonya Sim penasaran.
“Begini... Membaca sesuatu yang bagus bisa menghiburmu.” Ucap Tuan Park. Nyonya Sim seperti tak percaya mendengarnya. 


Di sebuah tempat, sudah banyak ibu-ibu yang memilih baju. Si kakek pemilik rumah menatap ke arah langit kalau menurutnya musim semi telah tiba dan Cuacanya menjadi sangat indah.
“Tentu saja, ini musim semi.” Ucap seorang bibi. Bibi lainya pun senang karena Musim semi jelas sudah tiba.
“Bunga forsythias sudah mekar.” Kata bibi lainya dan mereka sibuk mengambil baju untuk musim semi dengan model bunga karena  akan melihat bunga musim semi.
Di pasar juga terlihat keriuhan dengan menu makana yang berbeda yang cocok dimakan saat musim semi datang. 

Di pasar, Ibu Hwi pergi ke toko ibu Bo Yeong memilih satu kue beras. Ibu Bo Yeong melihatny dan menyuruh Ambil yang hangat lalu bertanya apakah ini untuk putranya sambil mengejek kalau ibu Hwi itu yang sangat menyayanginya
“Aku bisa melihatnya di matamu. Putri kandungmu akan merasa iri.” Kata Ibu Bo Yeong
“Aku menampungnya.” Ucap Ibu Hwi. Ibu Bo Yeong seperti tak masalah dengan hal itu.
“Aku menampungnya, dan aku tidak ingin lebih mengutamakan anak kandung. Jadi, aku berusaha menyayanginya lebih dari menyayangi putriku.: jelas Ibu Hwi. Ibu Bo Yeong pun ingin tahu apa yang akan dilakukan tetangganya itu.
“Akhirnya aku lebih menyayanginya... Apa yang bisa kulakukan?” akui Ibu Hwi. Ibu Bo Yeong tak percaya mendengarnya.
“Coba lihat ini..  Putraku membuatkan ini untukku.” Ucap Ibu Hwi menunjukan tulisan "Untuk ibuku tersayang, Yun Yeo Jeong"
“Apa tulisannya?” tanya Ibu Bo Yeong yang tak bisa menjawabanya. Ibu Hwi memberitahu kalau tertulis "Ibuku tersayang." dengan wajah bangga. Keduanya hanya bisa tertawa bahagia. 
Di ladang, beberapa petani sedang menanam kentang, salah nenek  mengeluh pada pekerja lainya karean mau bekerja semalaman jadi meminta agar Bantu menanam kentangnya. Si pria mengeluh punggungnya mulai sakit , Tuan Im mengeluh bertanya kapan akan selesai.
“Masih banyak yang tersisa.” Ucap temanya. Tuan Im memberitahu kalau Teman-teman mereka bermain biliar malam ini.
“Apa Menurutmu, kita bisa pergi?” tanya Tuan Im. Temanya yakin bisa pergi.
 “Aku akan menyelesaikan ini meski harus bekerja semalaman.” Kata temanya.
“Jika kamu bekerja semalaman, tidak ada gunanya. Cepatlah.”ucap Tuan Im. Temanya menganguk mengerti. 


Hye Won duduk di toko buku sambil menulis sesuatu dibukunya "Sepotong Hatimu Bertahan Sampai Akhir - Tiap musim semi, tawa, napas, dan kata-kata"
“Hye Won pernah membicarakan kebahagiaan. Dia bilang kebahagiaan sulit diketahui. Meskipun kamu mengetahuinya, butuh usaha keras untuk menjadikannya milikmu. Dia benar.”
Hye won mulai menuliskan dibuku "Kami mengobrol dan tertawa, duduk di bawah pohon.Pohon itu penuh dengan napas, tawa, dan kata-kata"
“Kita semua berusaha untuk bahagia. Kebahagiaan sulit untuk didapatkan jika tidak bersamamu dalam waktu yang lama... Meskipun bekerja keras untuk waktu yang lama, kamu mungkin tidak akan bahagia.” 

Saat itu Eun Seob datang dengan senyuman, Hye Won langsung berlari dan melompat di pelukan Eun Seob. Ia lalu memeluknya dari belakang dan meminta agar membuatkan kopi.  Eun Seob menganguk mengerti dan memberitahu kalau akan melepas jaketnya dahulu.
Hye Won pun melepaskan pelukan dan menghitung selama tiga detik dan kembali memeluk Eun Seob. Eun Seob pikir harus mengambil cangkir. Hye Won terus mengikutinya dibelakang tak mau melepaskan Eun Seob.  Keduanya pun bertatapan sambil meminum kopi, lau keduanya berciuman tanpa henti
“Tapi tidak ada yang bisa meramalkan masa depan kami.”
Dibagian rak sudah ada buku dengan judul "'Selamat Malam, Irene' oleh Lim Eun Seop"

Hwi tersenyum bahagia mengayuh sepedanya seperti biasa menyuruh semua orang minggir, disampingnya ada Lim Hwi yang mencoba menghindar tapi Hwi bisa mengejar dengan sepedanya dan mengajak untuk berteman.
“Jika kita terus melangkah maju... Jika kita terus berusaha...”
Bo Yeong berjalan keluar dari tempat kerjanya lalu tersenyum melihat pesan dari seseorang "Cuacanya hari ini indah, Bo Yeong"
“Jika kita terus menjalani hidup, aku yakin hari itu akan datang... Ya. Aku juga percaya.”
Hye Won menatap langit dengan melihat sinar matahari didepanya, seperti tak percaya menghabiskan musim semi di rumah neneknya. Eun Seob keluar memanggilnya, keduanya saling menatap dengan senyuman. Keduanya seperti sangat bahagia hidup di desa.
“Aku yakin hari itu benar-benar akan datang... Seperti ini” 


"Unggahan Blog Pribadi Toko Buku Good Night"
"Aku bertemu Irene lagi setelah sekian lama. Aku menunggu dan sangat ingin bertemu dengannya lagi. Tapi aku berusaha menyembunyikan perasaanku dan berpaling darinya. Saat dia berlari ke arahku dan datang ke pelukanku"
"Dia meluluhkan lagi hatiku yang beku.  Aku menghabiskan siang dan malam tanpa bisa tidur. Tapi aku tidak percaya aku kembali ke masa lalu sekarang"
"Ini sudah larut malam, dan dia tertidur di pelukanku. Dia ringan dan beraroma seperti rumput dari angin musim sem. Kawan-kawan, aroma akasia memenuhi tempat ini lagi. Sekian"
"NB. Dia terbangun dari tidurnya dan mencium hidungku. Lalu tertidur lagi dengan kepala terbenam di dadaku. Aku tidak tahu berciuman itu menyenangkan"
THE END
"When the Weather is Fine"
"Seperti itulah kebahagiaan. Itu hal yang sulit, Tapi bahkan saat kau. Membuka mata di pagi hari untuk memulai harimu. Dan menjalani hidupmu dengan tenang hari ini. Kamu bisa mencapai hal sulit itu. Dan membuat seseorang, Bahagia saat ini”
Bagi sebagian orang, kamu patut disyukuri, Kamu mungkin tidak menyadarinya. Tapi hanya dengan hidup seperti ini. Kamu harus tahu kamu telah bekerja dengan baik. Kami berterima kasih kepadamu.. "Dan selamat malam...Dan selamat malam"

Cek My Wattpad...  ExGirlFriend

      
Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09