PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 29 Juni 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 30

PS : All images credit and content copyright : SBS

Eun Hyuk terlihat bahagia dalam berkasnya Namanya Lee Joon Hae.
Flash Back
[2 tahun lalu]
Jaksa ingin  mendekati saksi dan meminta izin pada hakim. Hakim pun mengizinkan. Jaksa mengataknPada saat insiden terjadi Tuan melihat orang yang keluar dari rumah korban saat kebakaran, lalu kabur. Tuan Lee membenarkan kalau melihatnya.
“Saksi yang bersaksi melihat Kang Sun Il di TKP adalah Lee Joon Hae.”kata Eun Hyuk
Ia masih ingat saat itu Tuan Lee menunjuk kalau orang itu adalah Tuan Kang yang duduk di kursi terdakwa. Tuan Kang hanya bisa melonggo mendengar pengakuan Tuan Lee.
“Dia bahkan menghadiri sidang sebagai saksi. Tapi kebetulan dia jadi pembakar atas dirinya sendiri. Apa ini sungguh kebetulan?” ucap Eun Hyuk
“Jadi lebih singkatnya.., seorang pelaku pembakaran menjadi saksi kasus kebakaran dan melaporkannya ke polisi.” Kata Bong Hee. Tuan Bang pikir  Ini bisa saja kebetulan. Namun...
“Mungkin saja bukan. Jika aku jaksa yang bertanggung jawab.., maka aku pasti sudah mengenali kalau dia adalah pelaku.” Kata Ji Wook. Tuan Bang pikir juga pasti.
“Aku mengatakan itu karena banyak orang yang membakar, untuk jadi sok pahlawan, dan karena itulah mereka membakar. Dia berpikir "Aku akan membakar, lalu menelepon polisi untuk jadi pahlawan." Seperti itu lah.” Jelas Ji Wook
“Benar. Aku sudah banyak melihat mereka yang berakting seperti kesaksiannya... di berita.” Kata Eun Hyuk.  Bong Hee pun sudah mendengar kasus seperti itu juga.
“Itu sebabnya polisi memastikan untuk memfilmkan TKP tersebut untuk kasus kebakaran. Kemungkinan besar si pemicu kebakaran adalah salah satu penonton.” Kata Tuan Bang 

Ji Wook pikir Kalau begitu, mereka harus mencari video dari kasus kebakaran atau cuplikan berita mengenai kasusnya dan juga harus mencari daftar kasus kebakaran kecil di daerah itu. Jika tebakan mereka benar, namanya sangat mungkin ada di daftar dan meminta kepala Bang agar mengurusnya.
Eun Hyuk pikir Tuan Bang banyak orang di kepolisian dan pemadan kebakaran jadi meminta membantunya. Tuan Bang tiba-tiba mengaduh kesakitan, karena Luka tusukannya pegal dan gatal. Mereka pun akhirnya mengatakan akan mengurus semuanya. Tuan Bang berpura-pura merasa tak enak hati kalau akan melakukannya.
“Sudah pekerjaanku untuk melakukan hal-hal melelahkan. Aku akan... Aku tidak mendapat sekretaris pribadi, supir.., ataupun manajer kantor, tapi aku akan...” ejek Ketua Bang. Semua pun mengatakan kalau akan melakukan sendiri. Ketua Bang pun tak membiarkanya. 



Bong Hee melihat berkas dan tidak menyangka ada orang sebanyak itu yang sudah melakukan pembakaran. Menurutnyay Jika Lee Joon Hae sungguh pelakunya maka Kang Sun Il, yang ada di balik jeruji besi, pasti sangat marah karena disalah tuduh.
“Dia bahkan bukan yang membakar tapi dia malah jadi pelaku pembakaran dan juga pembunuhan.” Kata Bong Hee
“Aku tidak yakin harus berkata apa. Sejauh ini tak ada bukti untuk menyatakan dia tidak bersalah yang muncul. Kita harus terus menggalinya.” Ucap Ji Wook
“Aku tahu. Tapi sekarang, ada kemungkinan kalau dia sudah disalah tuduh.” Pikir Bong Hee.
“Aku tahu itu, tapi kurasa kau tidak harus terlalu berempati.” Balas Ji Wook. Bong Hee mengaku tidak berempati kepadanya.
“Aku hanya mencoba untuk jadi adil dan membiarkan semua kemungkinannya terbuka.” Jelas Bong Hee.
“Entahlah, dari caraku melihatnya.., kau berempati kepadanya berlebihan.” Balas Ji Wook
Bong Hee pikir Sebagai pengacara, merasa empati sebesar ini tidak berlebihan. Ji Wook ingin menjelaskan kalau pengacara itu. Bong Hee langsung menyela kalau mengetahuinya, kalau Ji Wook tidak suka mereka. Ji Wook merasa bersalah dengan sikapnya dan minta maaf karena telah melukai perasaannya. Bong Hee pun meminta maaf juga.
Keduanya pergi keKantor Pemadam Kebakaran dan Bong Hee pun bertanya Dimana kantor pemadam kebakaran selanjutnya. Ji Wook mengatakan Kantor Pemadam Kebakaran Haeim.


Eun Hyuk keluar dari ruangan mengetahui kalau Yoo Jung tak ada di ruangan, lalu terlihat ragu untuk menelpnya. Ji Hae baru saja akan masuk dikagetkan dengan Eun Hyuk didepanya, lalu tersipu malu dengan merapihkan rambutnya, merasa mereka sering berpapasan.
“Omong-omong, apa kau melihat Jaksa Cha hari ini?” tanya Eun Hyuk. Ji Hae balik bertanya alasan Eun Hyuk perlu menemuinya.
“Memangnya Kenapa lagi? Tentunya soal pekerjaan.” Pikir Eun Hyuk.
“Meskipun kau tidak menekankan kalau ini soal pekerjaan aku takkan salah paham. Kau punya nomornya, kan?” pikir Ji Hae seperti tak suka. Eun Hyuk mengangguk.
“Tapi intinya kau bertanya kepadaku soal dia.” Kata Ji Hae kesal lalu memilih untuk pamit pergi karena harus mengurus sesuatu. Eun Hyuk pun berjanji akan menemuinya lain kali.

Bong Hee dan Ji Wook kembali ke rumah, Ji Wook melihat Bong Hee Hari sudah bekerja keras jadi harus beristirahat. Bong Hee yang terlihat ragu merasa sesuatu, lalu bertanya apa ada sesuatu yang disembunyikan Ji Wook. Ji Wook binggung menjelaskanya.  Bong Hee bisa tahu kalau Ji Wook menyembunyikanya.
“Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun.” Akui Ji Wook. Bong Hee mengatakan  akan mempercayai pacarnya. Ji Wook merasa tak enak hati melihatnya.
“Aku selalu bertanya-tanya apakah aku sudah membuat kesalahan. Apakah begitu?” ucap Bong Hee.
“Tidak, bukan begitu. Ini tentangku, bukan tentangmu. Ini sesuatu yang harus kukerjakan sendiri.” Kata Ji Wook.
Bong Hee menyimpulkan kalau ia tidak diijinkan... untuk menanyakan apa itu lalu bisa mengerti. Ji Wook kembali merasa serba salah dengan keadaanya sekarang. 

Yoo Jung melihat Eun Hyuk menunggunya didepan rumahnya, lalu mengejek Apakah ini juga kebetulan yang lainnya. Eun Hyuk mengaku bukan karena mencoba untuk menelepon tapi Yoo Jung tidak mengangkatnya. Yoo Jung mengaku tidak sering membuka ponse karena jarang ditelepon dan ingin tahu ada apa mencarinya.
“Ada sesuatu yang ingin kuperiksa.” Ucap Eun Hyuk. Yoo Jung ingin tahu apa itu sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
“Hanya memakan 5 menit.” Kata Eun Hyuk melihat Yoo Jung akan masuk rumah. Yoo Jung mengaku sangat lelah dan kakinya juga pegal jadi ingin melepas sepatuku sekarang
“Kau bisa mengikutiku jika mau.” Ucap Yoo Jung membuat Eun Hyuk gugup, tapi senyuman terlihat bahagia bisa membuat Eun Hyuk mengikutinya. 

Yoo Jung menuangkan kopi ke dalam gelas, Eun Hyuk makin gugup di depan pintu. Yoo Jung tersenyum bisa mengodanya lalu bertanya Apa yang ingin diperiksa. Eun Hyuk mengatkan kalau mengerjakan kasus banding sekarang Saksi dari kasusnya adalah...
“Apakah itu Lee Joon Hae?” kata Yoo Jung menyela. Eun Hyuk membenarkan.
“Dia orang yang melakukan percobaan pembakaran, kan? Dan dialah pelaku dari kasus yang kau kerjakan.” Ucap Yoo Jung. Eun Hyuk sedikit kaget Yoo Jung bisa mengetahuinya
“Dia mengaku Tapi dia memintaku untuk menguburnya.” Kata Yoo Jung . Eun Hyuk merasa itu benar-benar tidak masuk akal.
Yoo Jung memberikan sebuah berkas, Eun Hyuk binggung apa maksudnya. Yo Jung menjelaskan menggali informasi Lee Joon Hae dan bisa menggunakan ini di sidang jika memang Eun Hyuk mengingkanya. Eun Hyuk bertanya apakah Yoo Jung memang boleh melakukanya. Yoo Jung juga taka tahu.
“Ini Sudah larut. Kau harus pergi jika sudah selesai.” Kata Yoo Jung. Eun Hyuk pun mengucapkan terimakasih.
“Kau bisa bermalam jika mau.” Kata Yoo Jung blak-blakan. Eun Hyuk panik mendengarnya. Yoo Jung tersenyum kalau hanya Bercanda. Eun Hyuk mengeluh Yoo Jung yang bisa kau bercanda seperti itu.
“Kau berpikir aku adalah wanita jahat, apapun yang kulakukan. Bukankah candaan itu sangat cocok untukku?” kata Yoo Jung. Eun Hyuk piir Tidak.
“Hei, Yoo Jung. Berhentilah memukuli dirimu sendiri. Ini Tidak baik untukmu. Tapi Bagaimanapun..,kenapa kau tidak bilang ke Ji Wook kalau tidak ada apapu yang terjadi malam itu?” kata Eun Hyuk
“Entah itu kesalahan maupun bukan, memang benar sesuatu bisa saja terjadi malam itu. Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak bilang kepadanya?” kata Yoo Jung
“Karena memang benar kalau aku... melukainya.” Kata Eun Hyuk lalu keluar dari rumah dengan wajah tak karuan. 


Kepala Bang menelp Eun Hyuk, saat itu juga mereka bertiga sudah berkumpul untuk minum bersama. Wajah Ji Wook dan Eun Hyuk terlihat banyak pikiran dengan wajah sendu. Tuan Bang mengaku  masih bujangam dan tidak bisa percaya  sudah punya luka tusuk di perutnya jadi  sangat khawatir tidak bisa menemui jodoh.
“Bagaimana menurut kalian soal ini?” tanya kepala Bang. Ji Wook pikir itu bagus dan menyukainya. Eun Hyuk juga seperti dan akan baik-baik saja.. Tuan Bang hanya bisa melonggo mendengar pendapat rekan kerjanya.
“Apanya yang bagus dan akan baik-baik saja?” keluh Tuan Bang. Ji Wook akhirnya hanya bisa meminta maaf.  Eun Hyuk juga ikut meminta maaf.
“Apa yang kalian berdua sangat khawatirkan? Aku belum menikah, tapi aku membesarkan 4 orang dewasa. Aku minum soda karena luka tusukkanku di perut ini. Kenapa kalian terlihat sangat murung? Hidup kalian tidak seburuk itu.” Keluh Tuan Bang
“Kurasa aku membuat kesalahan. Semuanya adalah salahku.” Ucap Ji Wook. Eun Hyuk juga merasakan hal yang sama.
“Kenapa kalian meminta maaf? Sejujurnya, kalian berdua terikat.” Kata Tuan bang. Ji Wook pun ingin tahu apa yang harus dilakukanya.
“Kelihatannya aku tidak punya pilihan. Kepala Bang, kau harus bilang kepadaku harus bagaimana aku.” Kata Ji Wook. Eun Hyuk juga meminta agar memberikan saran karena tak tahu. 


Bong Hee baru datang melihat ketiganya minum lalu marahi Tuan Bang yang  baru mendapat jahitan tapi malah minum. Tuan Bang mengelengkan kepala, Bong Hee melihat Tuan Bang yang menaruh tissue didepan wajahnya berpikir kalau sangat manis membuatnya jadi menangis. Tuan Bang mengaku kalau hanya minum soda saja.
“Apa Kau pikir aku akan percaya itu? Mana ada orang yang menangis setelah minum soda? Dasar, kau kena masalah.” Ucap Bong Hee memarahi tuan Bang.
Eun Hyuk dan Ji Wook melihat Bong Hee yang datang langsung menyapa dengan gaya mabuk bahkan mengajak minumnya segelas. Sementara Tuan Bang mencoba minum dari gelasnya menyakinkan kalau itu memang soda.

Bong Hee pun memapah Ji Wook untuk pulang sementara Tuan Bang membawa Eun Hyuk keluar dari cafe. Bong Hee membawa Ji Wook ke kamarnya dan akan mengambilkan air putih. Ji Wook tiba-tiba menarik Bong Hee ke pelukan dan tak ingin dilepaskanya.
“Kita... tidak boleh putus, Bong Hee. Meski aku bilang kepadamu untuk pergi.., jangan pergi. Kita... pikirkan diri kita saja. Jangan tinggalkan aku. Mengerti?” ungkap Ji Wook. Bong Hee mengangguk mengerti dan meminta  agar Jangan khawatir.

Hyun Soo masih di rawat dalam ruangan VVIP. Bong Hee sedang gelisah hampir saja memakan habis semua kue. Eun Hyuk datang hanya bisa melonggo karena  Ketua Byun menyembunyikannya supaya bisa memakannya sendiri. Bong Hee pikir bisa memakannya secara rahasi dan berpura-pura tidak memakannya.
“Jika begitu.., aku akan jadi kaki tangan. Aku sudah siap untuk sesiku. Katakan apapun yang mengganggumu.” Kata Eun Hyuk
“Aku...tidak mau konsultasi denganmu soal hubunganku. Ini hanya antara aku dan Pengacara Noh. Jadi Aku takkan bicara soal ini.” Ucap Bong Hee.
“Jadi Kau punya masalah dengan Ji Wook” kata Eun Hyuk. Bong Hee mengelak. 
“Ji Wook jadi sedikit aneh, beberapa hari ini, kan?” ucap Eun Hyuk. Bong Hee membenarkan tapi berusaha untuk mengelak Tidak.
“Yahh... Kau benar...Sejujurnya.., dia jadi sedikit aneh.” Akui Bong Hee.
“Kurasa kasus yang dia kerjakan sekarang mengingatkannya akan insiden kematian orang tuanya. Omong-omong.., begitu juga denganmu, Pengacara Eun.” Ucap Eun Hyuk.
Bong Hee menganguk kalau Ayahnya juga tewas dalam insiden kebakaran. Eun Hyuk menjelaskan kalau Ji Wook berada dalam kebakarannya bersama orang tuanya, Jadi mungkin mengalami trauma yang sangat dalam dan Entah Ji ook ingat atau tidak, mungkin menyaksikan seluruh adegan dengan kedua matanya.
“Selain itu.., dia satu-satunya yang selamat. Dia pasti merasa bersalah.” Kata Eun Hyuk. Bong Hee berusaha mengerti.
“Dilihat-lihat lagi..,bagaimana bisa aku tidak tahu?” gumam Bong Hee. 



Tuan Bang menjelaskan  Di daftar pelaku kebakaran yang ada di distrik Lee Joon Hae hanya terdaftar sebagai orang yang melakukan percobaan pembakaran. Bong Hee menjelaskan kalau Lee Joon Hae ada di video dari kebakaran saat insiden terjadi.
“Itu benar..,tapi ini tidak bisa membuktikan kesalahannya.” Kata Ji Wook
“Tidak... Lee Joon Hae adalah pelakunya. Aku punya seorang informan.” Ucap Eun Hyuk.
“Itu bagus, tapi sampai akhirnya.., kita tidak boleh menyimpulkan dia bersalah ataupun tidak. Kita harus cari tahu dulu.” Ucap Ji Wook  
Eun Hyuk mengatakan kalau punya foto dari TKP lalu memastikan Ji Wook Akan baik-baik saja. Ji Wook mengaku akan baik-baik saja. Eun Hyuk memberikan berkasnya, Bong Hee menatap Ji Wook seperti tak ingin membela Tuan Kang.
“Ada petunjuk yang tak terhitung jumlahnya. Kenapa...aku tidak bisa mengetahuinya?.” Gumam Bong Hee. 

Ruang Sidang
Bong He dan Ji Wook duduk dibangku penonton. Eun Hyuk pun berbicara pada Tuan Lee kaalu tahu tentang “Xilena.” (Hidrokarbon cair yang digunakan dalam bahan bakar dan pelarut) Tuan Lee mengaku tak tahu dan bertanya apa itu.
“Menurut penelitianku.., aku tahu kalau pekerjaan Anda ada hubungannya dengan cat, pernis, dan bahan perekat di Cheonho Chemicals. Apa aku salah? Di dalam proses produksi bahan kimia tersebut..,xilene digunakan. ” kata Eun Hyuk. Tuan Lee terlihat gugup dan mengaku mengetahuinya.
“Xilene adalah bahan yang sangat mudah terbakar. Terlebih lagi..,ini digunakan di kasus kebakaran Doboo-dong dua tahun lalu oleh si pelaku. Apa mungkin, Anda mengetahui fakta ini?” kata Eun Hyuk. Tuan Lee mengaku tidak tahu.
“Kalau begitu, bagaimana aku menjelaskannya sekarang?! Lee Joon Hae  baru-baru ini ditangkap polisi karena percobaan pembakaran rumah.” Kata Eun Hyuk.

“Tapi jaksa perempuan itu bilang untuk pergi saja saat itu.” Balas Tuan Lee.
“Polisi menyita barang mudah terbakar dari Tn. Lee..,dan mereka meminta untuk dianalisis komponennya Menurut hasil analisis, itu mengandung campuran xilene. Mereka juga melakukan analisis komparatif dengan bahan yang menyebabkan kebakaran dua tahun lalu. Hasilnya mengatakan bahwa bahan tersebut hampir identik.” Jelas Eun Hyuk
“Ada dua waktu dimana kau tiba-tiba tersadar.” Gumam Bong Hee lalu pamit pergi pada Ji Wook karena harus pergi ke suatu tempat. Ji Wook sempat binggung melihat Bong Hee segera keluar. Eun Hyuk menatap ke arah Yoo Jung yang juga membantunya. 


Bong Hee menelp ibunya,  menceritakan menghadiri sidang hari ini dan Ada Ahjussi yang disalah tuduh sebagai pelaku pembunuhan dan pembakaran. Tapi Untungnya, di sidang bandingnya akan menghasilkan keputusan positif. Jadi, Ia pikir ini akan baik-baik saja. Nyonya Park seperti tak percaya mendengarnya.
“Ya. Sungguh.. Jadi, aku merasa senang... Aku hanya mau memberitahumu ini... Tapi...Ibu...” ucap Bong Hee dengan mata berkaca-kaca. Ibunya  ingin tahu apa yang dikatakan Bong Hee.
Bong Hee mengurungkan niatnya, mengaku sedang sibuk sekarang. Jadi akan menelepon lagi nanti dan kan menutupnya sekarang. Bong Hee bergumam menurutnya kalau Bagaimana bisa tidak tahu

Flash Back
Bong Hee menyimpan berita pada koran dengan judul  ["Pasutri Jaksa Tewas dalam Kebakaran karena Balas Dendam"] Dan ia membaca artikel mengenai insiden yang terjadi terhadap ayahnya berkali-kali sampai-sampai aku tahu cerita keluarga korbannya.
Dalam berita berjudul   [Anak 8 tahun, terlibat dalam insiden, pasutri jaksa]

Eun Hyuk menceritakan Ji Wook dan orang tuanya harusnya pergi untuk piknik keluarga di hari setelah ayahnya tewas. Bong Hee mengingat Peringatan hari kematian orang ayah mereka dan sempat melihat di krematorium dengan nama [Noh Young Suk, 15 Juni 1994] dan  [Eun Man Soo, 15 Juni 1994] dengan nama yang sama.
“Aku kehilangan kedua orang tuaku dalam kebakaran saat aku masih kecil. Ayahku meninggal terlebih dahulu dan Ibuku diantar ke RS tapi dia meninggal tidak lama setelahnya.” Cerita Ji Wook
Saat berbaring bersama, Bong Hee bertanya alasan Ji Wook menjadi jaksa. Ji Wok mengaku kalau ayahnya adalah jaksa. Bong Hee mengerti kalau Ji Wook ingin menjadi seperti ayahnya. 


Ji Wook keluar dari ruang sidang lalu memuji Eun Hyuk yang sudah Kerja bagus dan mereka pun berpisah. Saat itu Yoo Jung melihat dari kejauhan lalu menghampiri Eun Hyuk. Eun Hyuk langsung mengucapkan Terima kasih karena menang kasus ini berkat Yoo Jung.
“Akankah kau baik-baik saja?” kata Eun Yuk.
“Yah, aku tidak melepaskan kasus seperti yang mereka bilang jadi kurasa aku hanya akan dipertimbangkan. Tapi, aku takkan berhenti dari pekerjaanku karena kalian menolakku untuk masuk.” Ucap Yoo Jung. 

Ji Wook menelp Bong Hee, karena tidak bisa menemukanmu, jadi berpikir sudah pergi. Bong Hee mengaku Tiba-tiba ada sesuatu yang penting. Ji Wook bertanya apakah serius, lalu mengatakan akan menunggu di rumah. Yoo Jung bertemu dengan Ketua Jang dengan wajah tegang.
“Beberapa orang berpikir mereka menerima keadilan dari kasus kecil semacam ini. Tapi kau tahu, di dunia ini... “ ucap Tuan Jang.

Flash Back
“Di dunia ini, ada perintah. Agar dunia ini dapat menjaga perintah pada tempatnya.., pastilah ada pengorbanan dari orang kecil sepertimu. Yang kubutuhkan hanya kau untuk jadi pembunuh.Aku tidak salah.” Ucap Tuan Jang dengan menatap foto Tuan Eun.
“Itu artinya tidak bisa diterima untuk membuat kesalahan yang dapat membahayakan perintah dari organisasi..,perintah hukum, dan perintah kekuatan. Kita tidak boleh membuat satu kesalahanpun dalam penuntutan. Apa Kau mengerti?” tegas Jaksa Jang. 


Ji Wook duduk di ruang atas, mengingat Bong Hee terakhir kali  pamit pergi harus pergi ke suatu tempat. Saat itu Bong Hee menelpnya, lalu bergegas mengatkan akan pergi ke tempatnya.
Bong Hee dan Ji Wook berjalan di taman sambil bergandengan lalu tiba-tiba Bong Hee mau makan tteokbokki. Ji Wook langsung menyuruh Bong Hee duduk dan akan pergi membeli makanan. Bong Hee menatap Ji Wook dengan wajah sedih. 

Ji Wook membeli semua makanan dan dimakan bersama. Bong Hee mulai memakanya. Ji Wook bertanya apakah rasanya enak. Bong Hee mengaku enak dan menatap Ji Wook dengan mata berkaca-kaca seperti menahan tangis, lalu mengaku rasanya sangat enak, tapi sedikit terlalu pedas, jadi membuatnya hampir nangis.
Mereka berjalan di taman, lalu Bong Hee melihat ada patung kucing lalu mengajak mereka foto bersama. Ji Wook pun menyanggupinya. Bong Hee binggung karena kameranya tak berfungsi. Ji Wook melihat kalau itu sedang mengambil video sekarang dan mengejeknya Bodoh.

Keduanya bergendengan tangan sambil memakan eskrim, wajah bahagia terlihat dengan saling bertatapan. Setelah itu keduanya berjalan di sisi taman lainya, Bong Hee menatap Ji Wook yang berjalan  disampingnya sambil bergumam kalau ini adalah Penundaan.
“Upayaku yang sia-sia...untuk menunda ini sebentar...dan selangkah setelahnya.” Gumam Bong Hee berhenti berjalan.
Bong Hee ingin melepaskan tanganya, tapi Ji Wook tetap ingin mengenggam erat tangan Bong Hee tak ingin melepaskanya. Bong Hee akhirnya menarik tangan Ji Wook tak ingin digenggam lagi.
“Mari... kita putus.” Ucap Bong Hee membuat keputusan.  
Bersambung ke episode 31

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Sinopsis Fight My Way Episode 11 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Pertandingan super kelas welter dimulai dan para  petarung mulai di panggil. Ae Ra dan Sul Hee masuk ke dalam ruangan pertandingan.  Sul Hee heran kenapa pria menyukai ini. Ae Ra juga tak mengerti.
Pria diatas ring memanggil nama “Park Jun Sik.” Ae Ra melihat pembawa acara diatas penggung lalu bertanya pada seseorang didekatnya, Bagaimana cara melamar untuk posisi MC diatas Ring. Si pria terlihat binggung. 

Ae Ra pergi ke sebuah ruangan dan melihat sekelilin tanpa ada orang lalu mulai berlatih memanggil nama “Ko Dong Man” seperti MC diatas Ring. Dong Man mendengar namanya di panggil keluar dari balik ruangan bertanya kenapa Ae Ra memanggilnya dengan cara yang berbeda. Ae Ra kaget melihat Dong Man yang tiba-tiba datang.
“Apa Kau juga merindukanku di tempat seperti ini?” ucap Dong Man tersipu malu. Ae Ra mengaku Bukan begitu lalu bergegas keluar dari ruangan karena malu.
“Apa yang akan dia lakukan? Ko... Rasanya aku pernah mendengar itu.” Ucap Dong Man merasa cara bicara yang sering didengarnya.
“Astaga, sedang apa dia diam-diam di sana? Aku malu sekali.” Ungkap Ae Ra menenangakan diri lalu tak sengaja melihat Kyung Soo yang masuk ruangan tunggu Dong Man. 

Dong Man duduk didepan kamera, Kyung Soo memberikan sebuah kimbap. Dong Man mengaku kurang menyukai gimbap. Kyung Soo mengaku kaalu ini membentuk citra yaitu sangat Mengharukan bahwa hanya makan gimbap. Dong Man pikir tidak perlu citra mengharukan dan merasa Kyung Soo itu hanya berusaha menjual kisah.
“Makan saja... Anggaplah ini akting.” Ucap Kyung Soo
“Begitu kau menyiarkan ini, ibuku dan ayahku akan menontonnya.” Keluh Dong Man. Kyung Soo menyuruh Dong Man makan saja.
“Hei, sepertinya aku tidak mengerti.” Kata Dong Man. Kyung Koo pikir Dong Man ingin terkenal.
“Tidakkah kau tahu cara menjadi putra yang baik? Apa kau bodoh?” kata Kyung Koo. 

Saat itu Ae Ra datang, Kyung Koo pikir Ae Ra datang untuk mendukung Dong Man. Ae Ra memberitahu Dong man berpacaran denganya. Kyung Koo mengangguk mengerti dan langsung kaget setelah menyadari perkataan Ae Ra.
“Aku pendukung resminya.”tegas Ae Ra. Kyung Koo merasa tak percaya tiba-tiba terjadi tapi akhirnya memberikan Selamat.
“Apa Kau sudah mendengar ini? Anjing hitam tidak berkelahi, tapi jika kamu macam-macam, maka anjing putih akan menggigitmu. Jika kau macam-macam, aku akan menggigitmu dan Jangan rekam ini.” Tegas Ae Ra memperingati.
“Ae Ra, aku sudah bicara dengannya tentang itu dan... Sudah kubilang. Jangan lakukan ini.” Ucap Dong Man. Ae Ra memilih untuk pamit pergi saja.
“Dia tidak bisa menahan diri. Dia kuat sekali.” Ungkap Dong Man. Kyung Koo pun tak bisa berkata-kata lagi. 

Ae Ra mengambil gambar poster "Perekrutan MC Ring Kami mencari pewarta berbakat untuk pertandingan RFC" Sul Hee tak percaya apakah Ae Ra benar-benar ingin berteriak sebagai MC Ring. Ae Ra mengaku bukan seperti itu.
“Tapi Bukankah keren berdiri di tengah ring? Itu membuat jantungku berdebar.” Kata Ae Ra
“Bukankah biasanya pria yang melakukan pekerjaan itu?”pikir Sul Hee. Ae Ra pikirApa harus pria yang menjadi Mcnya.
“Tapi hanya pria yang melakukannya.” Ucap Sul Hee. Ae Ra pikir itu karena memang ingin melakukannya yaitu menjadi Wanita pertama, Wanita satu-satunya dan Wanita terbaik, menurutnya itu hebat 

Pelatih Hwang menasehati agar Jangan segan-segan kepada Tak Su, tapi pengertianlah terhadap Doo Ho. Dong Man mengaku memahami Doo Ho dan  akan merasa bersalah jika memukulinya. Pelatih Hwang mengeluh mendengarnya merasa tak yakin kalau Dong Man akan mengalahkannya.
“Doo Ho lebih andal daripada Byung Joo.” Kata Pelatih Hwang.
Saat itu Joo Man datang dengan baju koas dan berpura-pura akan bertarung. Pelatih Hwang mengeluh melihat Joo Man berpikir sudah siap akan naik gunung. Joo Man tahu lawanya itu punya tiga pelatih dan harus memberikan Dong Man dukungan.
“Apa ini yang disebut dukungan dan Kenapa tidak menulis Sundae Atlet Nasional?” keluh Pelatih Hwang melihat tulisan di kaos Joo Man
“Fokuslah dan jegal mereka dengan tendanganmu. Begitu jatuh, serang mereka.” Kata Joo Man. Dong Man tak mendengarnya memilih untuk segera pergi. 


 Dong Man masuk ke dalam ruangan pertandingan, Ae Ra terlihat sangat gugup dan memilih untuk pergi ke toilet saja. Sul Hee pikir kalau Pertandingan hampir mulai. Ae Ra seperti tak bisa melihat Dong Man dipukuli lalu memilih untuk segera keluar dari ruangan.
Dong Man memberikan tendangan, Tae Hee pun bertanya-tanya  Tak Su yang pertama melakukan tendangan itu Atau Dong Man. Doo Ho terjatuh berkat tendangan Dong Man dan pertandingan dihentikan sejenak. Tim Dokter melihat lukan Doo Ho. Dong Man pun mengambil kesempatan berbicara dengan pelatih Hwang.
“Pelatih... Kurasa dia cedera parah.” Kata Dong Man khawatir pada Doo Ho.
“Kenapa kau mencemaskan cederanya? Kau sedang bertanding!” tegas Pelatih Hwang. Dong Man mengangguk mengerti. 
Pertandingan pun kembali dimulai, Ae Ra panik memikirkan siapa yang dipukul. Dong Man ingin memberikan pukulan telak, tapi seperti tak tega dan melepaskan begitu saja. Komentator mengatakan kalau  Dong melewatkan kesempatan emas dan tidak seharusnya menunggu seperti itu.
Joo Man pun heran melihat Dong Man menurutnya harus memukulnya saja. Tae Hee binggung melihat Dong Man tidak menghantam lawannya. Ae Ra akhirnya berani melihatnya dari depan pintu.
Dong Man hanya memberikan tendangan tanpa berani memukul Doo Ho, sampai akhirnnya Doo Ho pun terjatuh dan pertandingan berakhir. Wasit memberikan kemenangan pada Dong Man. Doo Ho terlihat marah pada Dong Man, Dong Man pun menanyakan keadaan Doo Ho sebelum keluar.
“Kenapa kau segan-segan? Lebih baik aku kalah KO.” Ucap Doo Ho kesal. Dong Man merasa serba salah melakukanya. 


Di restoran ayam goreng.
Pelatih Hwang  mengeluh menurutnya Apa gunanya menang jika Dong Man dapat julukan Pelayan Octagon.  Sul Hee melihat Dong Man yang menunggu lawan jadi penonton berpikir  Dong Man orang baik. Pelatih Hwang melihat berita di ponsel merasa Ini tidak cocok dengan Dong Man.
“Jika kau tidak bisa memukul lawan yang terbaring, kenapa menekuni bela diri?” ucap Joo Man. Dong Man mengeluh Joo Man itu tak tahu apapun.
“Ini berbeda dari saat aku menekuni taekwondo. Aku bisa merasakan hantaman tulang dan kulit lawan.” Kata Dong Man.
“Petarung ini terlalu lunak untuk memukul orang.” Ejek Joo Man. Ae Ra membela kalau memahami Dong Man.
“Hei. Jika kau berada di ring, berbaik hati bukanlah yang penting. Menjadi kuat adalah yang terbaik. Jika kau akan terus begini, berhenti saja.” Kata Pelatih Hwang.
Dong Man menegaskan Tidak akan berhenti dan tetap meneruskan dan  akan menang KO serta Tidak membiarkan pertandingannya kacau seperti tadi. Ia pun berjanji akan menang KO secepat kilat. Pelatih Hwang mengeluh karena menurutnya kalau membuat KO semudah itu.
“Tidak ada yang langsung sempurna sejak awal. Hidup ini tidak seperti film. Tidak semua petarung seperti Rocky dan Karakternya adalah fiksi. Dia bisa menaklukkan kelemahannya.” Tegas Dong Man. Pelatih Hwang ingin memukulnya. Ae Ra sudah siap membela dan akhirnya Pelatih Hwang meminta minum saja. 
“Kenapa pelatih dengan atlet yang sempurna begitu resah? Legendaris adalah gayanya. Siapa yang menyangka dia akan menjadi anggota tim nasional? Lihat saja nanti Selain itu, berhentilah memukul kepalanya” kata Ae Ra. Dong Man senang ada yang membelanya. 


Ibu Dong Man pikir suaminya  harus menanyakan kabar Dong Man seperti  Apa pekerjaannya lancar dan makannya teratur, menurutnya Jika suaminya sangat cemas, kenapa tidak pernah menghubunginya. Ayah Dong Man binggung apa yang harus dikatakan saat menelpnya dan yang bisa dibicarakan dengan Dong Man.
“Kau tidak butuh topik untuk mengobrol antarkeluarga. Beri tahu dia kau punya pekerjaan baru, tentang perjalanan dinasmu.” Cerita Ibu Dong Man. Suaminya menyuruh agar istrinya saja yang menelp.
“Ayah dan anak sama saja.” Keluh Ibu Dong Man. Saat itu adik Dong Man terlihat bahagia melihat berita tentang kakaknya. 

Ae Ra  akan masuk kamar, Dong Man pikir mereka mengobrol di telepon sebelum tidur. Ae Ra pikir tinggal berseberangan jadi Kenapa harus menelepon. Dong Man pikir benar juga dan memilih mampir untuk sarapan besok.
“Kalau begitu, sebaiknya aku keramas setiap pagi.” Kata Ae Ra. Dong Man mengejek Ae Ra bodoh karena memang harus melakukan.
“Aku akan menekan bel sekarang.” Kata Ae ra. Dong Man pun ingin melakukanya juga.
“Hei, bagaimana jika aku mampir ke kamarmu?” ucap Ae Ra. Dong Man terlihat gugup mendengarnya.
“Kita bisa menonton televisi bersama sambil makan cemilan” kata Ae Ra. Dong Man binggung cemilan apa. 

Ae Ra pikir Seperti ramyeon. Saat itu bibi Ganako datang mendengar semuanya lalu memperingatakan agar mereka Jangan tidur bersama sebelum menikah Dan jangan makan ramyeon di malam hari. Ae Ra malah bertanya alasan kenapa tak boleh melakukanya.
“Kenapa kamu melarang kami makan ramyeon dan tidak tidur bersama sebelum menikah? Itu penyalahgunaan wewenang.” Kata Ae Ra
“Kalian. Aku memberi kalian diskon dalam biaya pemeliharaan Bahkan pengendali hama juga akan datang. Aku juga tidak pernah menaikkan biaya sewa.” Kata Bibi Ganako marah.
“Memang benar kau memperlakukan kami dengan baik.” Ucap Ae Ra Bibi Ganako pun heran dengan keduanya yang tidak bisa menuruti aturannya dan mengejek keduanya seperti hewan.
“Kenapa kalian sangat ingin berkencan? Semua penyewa kamarku dibutakan oleh cinta.” Keluh Bibi Ganako. Ae Ra berbisik kalau bibi Ganako itu  cemburu.
“Jika kalian tidak senang, pindahlah ke tempat lain yang bisa dipakai tidur bersama dan biaya sewanya lebih mahal. Jangan membuatku gelisah.” Kata Bibi Ganako berjaln turun. Ae Ra pikir Bibi Ganako itu berlebihan. Bibi Ganako bertanya-tanya apakah dirinya atau lingkungan ini yang seperti itu. 

Bibi Ganako pergi ke tempat Pelatih Hwang menyuruhnya agar segera membuka, dan menyuruhnya agar berkerja yang benar karena bukan orang kaya. Pelatih Hwang binggung karena Bibi Ganako tahu, membuka truk makanan. Bibi Ganako mengaku tidak tahu.
“Tapi Aku melihatmu saat akan membeli soju.” Kata Bibi Ganako. Pelatih Hwang mengangguk mengerti.
“Beri aku sebotol soju, Pasti ada satu yang tersembunyi.” Kata Bibi Ganako. Pelatih Hwang mengatakan mereka yang tidak boleh menjual alkohol.
“Kalau begitu, jangan memungut biaya Artinya kalian tidak menjualnya.” Kata Bibi Ganako. 

Pelatih Hwang menuangkan segelas soju dan mengaku kalau Ini benar-benar suatu kehormatan Bibi Ganako pikir Pelatih Hang Jangan memujinya. Pelatih Hwang merasa tidak memujinya tapi menurutnya  Hidupnya berubah karena Bibi Ganako.
“Melihatmu menjalani hidup sesuai keinginanmu, kau menjadi panutanku.” Ungkap Pelatih Hwang. Bibi Ganako mengejek kalau Pelatih Hwang ingin tanda tangannya.
“Tidak perlu... Lagi pula, itu tidak berharga. Omong-omong, kudengar kau pergi ke Jepang. Kenapa kau tiba-tiba kembali?” kata Pelatih Hwang
“Setelah nyaris mati, aku memutuskan untuk mencarinya... Nam Il.”cerita Bibi Ganako. Pelatih Hwang binggung siapa Nam Il
“Nam Il, putraku... “ kata Bibi Hwang. 

Ae Ra menonton pertandingan dari ponselnya dengan MC yang berteriak lalu membahas kalau pemilik Villa  sangat aneh, kenapa peduli mereak makan ramyeon atau tidak. Sul Hee mengaku penasaran bagaimana kabar Nam Il karena harus merawat ibunya.
“Nam Il tidak bisa melakukan apa pun karena dia keluarganya, tapi aku kasihan pada istrinya. Bayangkan jika kita punya ibu mertua sepertinya. Aku dan dia sangat berlawanan.” Kata Ae Ra.

Pelatih Hwang berkomentar kalau tidak tahu bibi Ganako punya anak dan ingin tahu cara mencarinya. Bibi Ganako mengaku  sudah menemukannya. Pelatih Hwang kaget mendengarnya,


Dong Man dan Pelatih Hwang kembali berlatih. Tak Su bertanya pada tae Hee ingin tahu rencana selanjutnya karena Dong Man makin kekar. Tae Hee pikir serahkan Dong Man kepadanya dan Tak Su harus beristirahat, karena Belakangan ini terlalu sering berlatih.
“Kamu bersikap seperti atlet sungguhan.” Ucap Tae Hee. Tak Suk kesal merasa kalau tak dianggap atlet.
“Tak Su, lawan saja Dong Man. Lawan saja dia secepat mungkin.” Kata Pelatih Hwang melihat video milik Dong Man. 

Ketiganya masuk ke dalam mobil. Pelatih Choi memberitahu kalau Dong Man  tidak melindungi wajahnya dan tidak menyerang bagian bawah dan berpikir Tak Su itu bisa mengingatkan dengan seseorang.  Tak Suk hanya diam saja.
“Dong Man persis seperti dirimu saat kali pertama kau beralih dari taekwondo.” Jelas Pelatih Choi 

Dong Man dan Pelatih Choi mulai berlatih kembali, Pelatih Hwang menyuruh Dong Man agar maju tapi Dong Man seperti tak mau menyerang. Pelatih Hwang mengeluh dengan Dong Man yang  hanya akan bertarung sambil berdiri, Dong Man mengaku percaya diri saat bertarung dari atas.
“Kau tidak bisa hanya melakukan yang sesuai keinginanmu. Apa Kau pikir lawanmu mau berunding denganmu?” ucap pelatih Hwang menasehati.
“Aku tidak mau menyerang bagian bawah. Aku tidak mau mengikuti meski mereka mencobanya.” Tegas Dong Ma
“ Maka selamanya kau akan menjadi petarung yang tanggung. Jika kau tidak bisa mengatasinya, ini akan menjadi akhir bagimu!” .” Tegas Pelatih Hwang
“Mari bertarung. Jika kau tetap tidak bisa menghindar, lawan dia sekarang” ucap Pelatih Choi. Tak Su Hanya bisa menghena nafas. Tae Hee pun bertanya apa rencana yang dipilih Tak Su sekarang.
 “Aku berjanji. Begitu Dong Man memenangkan ini, tidak ada yang bisa menandinginya.” Jelas Pelatih Choi 

Ae Ra berlatih menjadi MC di datas ring dengan suara mengelegar lalu dikagetkan dengan seorang pria yang menuruni tangga. Si pria terlihat gugup dan memilih untuk mengetuk dinding rumah. Ae Ra binggung kenapa pria itu malah mengetuk dinding orang lain lalu bertanya apakah sebagai penyewa baru.
“Aku putra pemilik rumah ini.” Ucap Si pria. Ae Ra kaget seperti tak percaya kalau pria tampan didepanya adalah Nam Il.
“Apa Kau mengenalku? Kenapa kau menyebut namaku seperti itu?” ucap Nam Il sinis. Ae Ra hanya bisa meminta maaf.
“Omong-omong, bukankah tangga itu adalah tempat bersama Jadi Hindari pakaian yang mungkin mengganggu orang lain Dan jangan mengganggu kesenangan orang lain terkait tempat bersama dengan berteriak.” Ucap Nam Il sinis dan menuruni tangga
“Tidak akan ada yang percaya tinggimu 163, 2 cm dan bobotmu 45 kg. Tidak ada juga yang peduli.” Ejek Nam Il sebelum pergi meninggalkan Ae Ra. Ae Ra hanya bisa mengumpat kesal kalau Nam Il memang tampan, tapi sangat berengsek dan berpikir kalau Pria bodoh. 

Sul Hee melihat account IG milik Ye Jin mengetahui semuanya hanya dari account IG. Sementara Joo Man baru pulang terlihat kesal mengangkat telp Ye Jin kalau sudah melarangmu untuk meneleponnya lagi lalu melotot kaget.
Ye Jin di pinggir jalan terlihat panik dan dua pria mencoba mengambil plat nomor mobilnya, Si pria mengatakan saat terjadi kecelakaan,mobil yang berada di belakanglah yang salah. Tapi Ye Jin Pikir mobil Si pria mundur saat lampunya berubah. Si Pria seperti tak mau disalahkan.
Saat itu Joo Man datang, lalu meminta agar melihat bagian dashboard.. Ye Jin mengatakan kalau kameranya sudah rusak. Si pria mengatakan Ye Jin yang bersalah karena menabrak dari belakang tapi malah membantahnya. Joo Man bertanya apakah sudah menghubungi perusahaan asuransinya.
“Dia akan kehilangan lebih banyak uang jika mereka terlibat. Beri saja kami 2.000 dolar tunai dan anggaplah impas.” Kata si pria. Joo Man dengan hidungnya bisa mencium mereka baru saja makan barbeku. 

Joo Man mengemudikan mobil. Ye Jin mengucapkan  Terima kasih karena Jika bukan karena Joo Man pasti sudah tertipu. Joo Man yakin kalau Tidak mungkin dua pria makan barbeku tanpa soju dan Mereka minta uang tunai karena tahu mereka bersalah.
“Aku pasti dihukum. Aku sadar seharusnya tidak terus mendatangimu. Itu akan menjadikanku orang jahat.” Kata Ye Jin
“Kalau begitu, tolong hentikan. Kenapa kau mengalami kecelakaan di daerah rumahku? Ye Jin... Aku memintamu untuk berhenti sekarang.”keluh Joo Man
“Aku tidak akan mengulanginya. Aku akan berhenti. Jangan khawatir.” Kata Ye Jin menyakinkan. 

Joo Man mengantar Ye Jin sampai di parkiran dan menyuruhnya agar segera naik dan pergi.  Ye Jin turun dari mobil dan hampir saja jatuh, Joo Man merasa kasihan menolongnya dan berpikir kalau terluka saat kecelakaan. Ye Jin pikir Sepertinya tadi terlalu keras membanting rem.
Akhirnya Joo Man mengantar Ye Jin sampai ke depan rumahnya, lalu meminta agar Besok kembalilah bekerja karena Dengan Ye Jin tidak masuk kerja, maka akan menempatkannya di posisi yang sulit bahkan Orang-orang juga membicarakannya. Lalu ia pamit pergi dan akan bertemu di kantor besok.
“Terima kasih untuk malam ini. Selamat malam.” Ucap Ye Jin lalu membuka pintu dan memindahkan kotak barang, Joo Man seperti tak tega akhirnya membantu Ye Jin sambil mengeluh membeli banyak barang dan masuk ke dalam rumah dengan pintu tertutup.
Sementara di rumah, Sul Hee melihat account Ye Jin terlihat foto pria yang mengemudikan mobil dengan jam tangan dengan caption “Bersama-sama.” Wajah Sul Hee terlihat sangat sedih. 

Joo Man berbicara dengan ibunya yang memberitahu Ayahnya akan bekerja lagi lalau bertanya Bagaimana Ayah mengurus mereka, karena ia pun tidak bisa melakukanya. Lalu ingin memastikan kalau ayahnya memang harus menginap di rumahnya lalu menutup telpnya.
“Ada apa? Apa Ayahmu akan bekerja lagi?” tanya Ae Ra. Dong Man menganguk dan memberitahu ayahnya  akan menginap semalam di rumahnya.
“Kenapa itu menjadi masalah?” Tanya Ae Ra. Dong Man sudah memikirkannya kalau belum pernah tidur berdua dengan ayahnya.
“Dia adalah ayahmu. Jadi Apa masalahnya?” kata Ae Ra. Dong Man pikir benar juga lalu menanyakan tentang Ae Ra yang Dua hari lagi  wawancara
“Benarkah kau bisa menjadi pembawa acara ring MMA? Bisakah kau menontonku bertarung?” kata Dong Man merasa tak yakin.
“Jika kau bersikeras melakukannya, aku bersikeras menontonmu. Bagaimana lagi caraku melindungimu?” kata Ae Ra.
“ Tubuhmu lemah, tapi kau selalu melindungiku. Bahkan kau melindungiku saat kita masih kecil.” Kata Dong Man 


Ae Ra Pikir Bahkan kalau perlu, bisa masuk ke ring. Dong Man pikir kalau Ae Ra menjadi MC di ring MMA, itua akan mengalami romansa di tempat kerja. Ae Ra binggung kalau dianggap Romansa di kantor. Dong Man pikir selalu menganggapnya seksi. Ae Ra menyuruh Dong Man Lakukan pekerjaan dan dapatkan uang menurutnya apa yang seksi dalam hal ini.
“Itu karena kita bisa pergi diam-diam dan berciuman selagi bekerja.” Ucap Dong Man malu-malu. Ae Ra seperti binggung. Dong Man mengulangi kata mereka bisa berciuman. Ae Ra seperti tak bisa mendengarnya.
“Apa kamu tuli?” ejek Dong Man. Ae Ra seperti masih binggung. Dong Man pikir Ae Ra  merasa malu. Ae Ra mengaku kalau tidak malu. Dong Man melihat Ae Ra  sekarang benar-benar feminin bahkan pipinya sangat merona.

Ae Ra berusaha menyangkal dan tak peduli,  Dong Man memegang tangan Ae Ra. Ae Ra menanyakan alasan Dong Man yang memegang tanganya  tanpa alasan. Dong Man pikir memang seharusnya dipegang tanpa alasan lalu menatapnya. Ae Ra binggung melihat Dong Man menatapnya berpikir Riasannya berantakan dan ingin merapihkannya. Dong Man malah menahan tanganya. Ae Ra binggung Dong Man terus menahan tanganya.
“Kenapa aku tidak bisa melihat apa pun selain bibirmu? Karena kita berpacaran, bisakah kita terus melakukannya?” ucap Dong Man blak-blakan. Ae Ra mengumpat Dong Man sudah gila karena menanyakannya.
Dong Man akhirnya mencium Ae Ra dan terlihat malu-malu, lalu bertanya apakah Ae Ra menyukainya.Ae Ra kesal Dong Man yang terus bertanya dengan wajah memerah. Dong Man pikir Seharusnya dahulu aku mencoba mencium Ae Ra. Ae Ra yakin pasti sudah memukulinya.
“Karena sudah melakukannya, aku sangat menyukainya... Aku sangat menyukaimu, Ae Ra.” Akui Dong Man
“ Itu membuatku gila. Sudah lama aku menyukaimu, dasar menyebalkan.” Ungkap Ae Ra
“Jika harus memilih melakukannya atau tidak, mari kita lakukan. Kata Dong Man. Ae Ra kembali melonggo binggung.
“Apa kau ingin menginap malam ini?” kata Dong Man. 


[Epilog]
Joo Man makan lahap udang di piring sambil main games di ponselnya. Dong Man dengan kesal yakin kalau pasti udangnya terasa lezat dan mengeluh temanya yang terus mengganggunya. Joo Man seperti tak tahu mengerti apapun.  
“Hari ini kamu melakukan hal buruk kepadaku.” Kata Dong Man kesal. Joo Man pun bertanya apakah Ada masalah.
“Jika kuberi tahu, apa kau akan mengejekku?” ucap Dong Man. Joo Man ingin tahu apa itu.
“Beri tahu aku dahulu, maka aku akan memutuskan.” Kata Joo Man. Dong Man ingin memberitahu tapi saat itu Joo Man berteriak bahagia karena gamesnya bisa mendapat anak panah. Dong Man juga berteriak bahagia dan lupa menceritakan hubunganya.
Bersambung ke episode 12

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted