PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Rabu, 13 Februari 2019

Sinopsis The Light In Your Eyes Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Seorang pria sedang tidur lelap dikamarnya, Lee Joon Ha tertidur dengan siaran di live di Channel Pangeran Yeong Soo TV -   [Tantangan "Sleeping Room" 48 Jam. Tanpa makan, tanpa ke kamar mandi, tanpa pengeditan!]
Akhirnya penonton pun datang bertanya Channel apa ini, penonton lain memberitahu kalau Ini "Sleeping Room". Joon Ha tanpa sadar memasukan tangannya, mereka menonton berkomentar kalau akan meembuat pertunjukan 19+.
[Jika admin lihat ini, dia akan dibanned.] Saat itu seorang nenek masuk ruangan melihat Joon Ha tertidur tapi laptopnya masih menyala. Penonton bertanya-tanya siapa nenek itu.
“Dia tak mengeluarkan sepeser pun untuk tagihan listrik. Setidaknya pastikan matikan komputer.” Keluh Kim Hye Ja.
Penonton kembali berkomentar kalau Hye Ja  terlihat seperti hantu. Hye Ja akhirnya melihat kalau Joon Ha sedang melakukan siaran. Tantangan "Sleeping Room" 48 Jam, lalu bertanya  Apa itu "Sleeping Room". Penonton pun menjawab.
[Siaran di mana tak melakukan apa-apa selain tidur. Berbaring lalu mendapatkan candies gratis.]
“Siaran di mana tak melakukan apa-apa selain tidur? Kenapa kalian menontonnya?” ucap Hye Ja heran
Penonton yang mendengarnya menertawakan Hye Ja, lalu bertanya umurnya berapa. Penonton lain mengejek Hye Ja  terlihat seperti dari zaman batu.
“Aku berumur 25 tahun.” Ucap Hye Ja tersenyum bahagia, Penonton tak percaya mendengarnya. 



Flash Back
“Halo. Namaku Kim Hye Ja...Tahun ini, aku berusia 25 tahun. Meskipun tak seperti yang terlihat..Aku wanita biasa berusia 25 tahun yang tinggal di Korea.”
Hye Ja sedang berbaring dengan kacamata hitam seperti ada dipantai. Terdengar teriakan suara memanggil namanya “Kim Hye Ja!” Dengan wajah kesal Hye Ja mengeluh kalau namanya yang agak kuno untuk era ini.
“Sudah kubilang jangan memanggil namaku di tempat umum.” Keluh Hye Ja yang memanggil namanya.
“Kim Hye Ja! Kim Hye Ja!” kata Kim Young Soo dengan sengaja mengulangi. Hye Ja menyuruh agar Young Soo menyingkir.

“Wah, lapar. Di mana Ibu dan makanan lautnya? Dia naik perahu, kah?” ucap Young Soo langsung memakan diatas meja.
“Dasar Bodoh... Itu Bukan makanan, itu plastik” ucap Hye Ja. Young Soo merasa kalau masih bisa dimakan.
“Itu daun bambu dan Sangat jelas itu plastik.” Kata Hye Ja yakin duduk di meja yang berantakan.
“Kau bahkan belum pernah melihat daun bambu. Ini bukan dari Korea. Aku bisa mencium aroma rempah-rempah Cina di sini... Dari Cina. Daerah Shaanxi...” ucap Young Soo menyakinan
“Kau sangat payah...”komentar Hye Ja tak percaya. Young Soo pikir ini sebabnya panda memakan daun ini
“Kau tahu xylitol, kan? Xylitol terbuat dari pohon birch. Ini terasa menyegarkan di mulutku. Rasanya seperti pasta gigi.” Kata Young Soo terus mengunyah makaannya.
“Dasar Bodoh. Apa Maksudmu itu beneran daun bambu asli?” keluh Hye Ja. Young Soo menyuruh Hye Ja agar mencobanya kalau tak percaya.

Nyonya Kim ibu Hye Ja langsung memukul kepala Young Soo karena Hye Ja yang sudah dibodohi selama 25 tahun. Ia mengeluh Hye Yang yang masih percaya dengan ucapan Young Soo. Hye Ja mengumpat kesal,Nyonya Kim menyuruh Hye Ja agar Memuntahkan segera.
“Wah, hampir kutelan.” Kata Young Soo. Nyonya Kim mengeluh anaknya memang sangat bodoh.
“Tetap saja agak mendingan daripada sebelumnya. Ketika kecil, kau percaya apa pun yang dia katakan dan memasukan mothball ke mulutmu, mengira permen mint.” Ucap Tuan Kim
“Serius! Aku memuntahkannya lagi sesudah tiga detik tapi masih tak bisa merasakan apa pun selama tiga hari karena kampret itu.” Ucap Hye Ja.
“Hei. Jangan menyebut kakakmu kampret. Apa Kau tak ingin menjadi pewarta berita? Jaga mulutmu.” Ucap Nyonya Kim. Hye Ja tak peduli
“Siapa pewarta berita ? Aku bukan pewarta. Tapi Aku hanya bercita-cita jadi pewarta.” Kata Hye Ja. Tuan Kim pikir juga berpikir anaknya belum melakukanya.
“Dia akan mewujudkannya segera... Hei. Sudah kubilang jangan duduk di sebelah jendela. Kau akan mendapatkan bintik hitam.  Duduklah di tempat yang tak terjangkau matahari.” Kata Nyonya Kim.


Tuan Kim akhirnya bertukar tempat dengan Hye Ja. Young Soo ingin ikut juga tapi Nyonya Kim langsung menatap sinis, Young Soo pun duduk kembali.
“Baik aktris, pewarta, atau penyanyi yang berkaitan dengan TV, wajah sangatlah penting, kudengar seluruh keluarga harus membantu.  Tahu sendiri kami tak mampu mengirimmu ke klinik skincare.” Ucap Nyonya Kim
“Kenapa? Setidaknya, Ibu membantuku melakukan perawatan wajah menggunakan mentimun setiap hari. Dan Ayah membuatkanku perawatan rambut dengan putih telur kocok setiap malam. Inilah sebabnya aku terlahir sebagai putri kalian.” Kata Hye Ja bangga.
“I love you... Kudengar ketidakberuntunganmu akan berakhir tahun ini. Jadi Berhati-hatilah.” Pesan Nyonya Kim, Hye Ja menganguk mengerti.
“Ibu... Kau tak pernah memperlakukanku seperti ini ketika aku gagal ujian penerimaan. Apa hanya perasaanku saja?” komentar Young Soo cemburu.
“Ya, perasaanmu saja... Kau tidur lebih banyak daripada bayi saat kau harus belajar. Bisakah mengurus diri sendiri dengan baik? Bayi yang baru lahir setidaknya punya harapan dan impian.” Ucap Nyonya Kim marah
“Harapan dan impian? Aku juga punya. Impianku makan samgyeopsal.” Ucap Young Soo dengan wajah serius.
Nyonya Kim sudah siap mengangkat mangkuk, Youn Soo pikiri ibunya  terlalu ambisius. Hye Ja pikir kalau ini hanyalah hari biasa dengan keluarganya lalu pamit pergi keluar dari rumah. Nyonya Kim menyuruh Hye Ja untuk memakai topi. 


Hye Ja berjalan sendiri di tapi pantai merasa kalau Laut punya tempat istimewa di hatinya. Ia lalu menemukan sebuah alorgi di dalam pasir kalau saat usia  lima tahun, menemukan arloji di tepi pantai.

Flash Back
Hye Ja memegang jam tangan, Saat itu Young Soo datang memanggil Hye Ja lalu menyemburkan biji semangka dari mulutnya. Hye Ja meminta agar jangan lakukan sambil memanggil ibunya, lalu memutar jam tangannya.
Waktu seperti berjalan mundur, Young Soo kembali menyemburkan biji semangka. Hye Ja yang binggung pun hanya diam saja lalu memutar kembali arloji yang ditemukan ditepi pantai seperti alat memutar balik waktu.
“Arloji yang kudapatkan di laut ini memungkinkanku memutar waktu. Kenapa? Bukankah aneh? Tak sembarang orang menemukan arloji seperti ini dilaut.”
“Bagaimanapun, sesudah menemukan arloji ajaib, aku jadi sangat semangat seolah-olah punya kekuatan yang luar biasa. Meskipun aku hanya seorang wanita kecil, Aku punya banyak rasa sesal.”
Hye Ja bisa melawan semua seemburan biji semangta, dan saat itu mengeluh karena ingin tidur lebih lama saat dibangunkan oleh ibunya. Ia pun memutar jamnya agar bisa tidur lima menit lagi pada pagi hari, setelah itu Hye Ja memutar waktu saat melakukan tes.
“Untuk mendapatkan skor kuis lebih tinggi. Sesudah memutar mahkota arloji ajaib berkali-kali...” ucap Hye Ja.
Saat itu seorang pria tambun marah bertanya siapa ketua kelasnya. Murid-murid menjawab Hye Ja. Si pria yang terlihat takut hanya bisa diam saja, karena melihat Hye Ja yang tubuhnya lebih tinggi dibanding dirinya.
“Dan ada yang harus kubayar atas memutar waktu terlalu sering. Semakin sering kuputar waktu, semakin cepat berlalunya waktuku.”
Hye Ja pun terlihat lebih dewasa dibanding umurnya. Seorang pegawai karcis merasa Hye Ja tak terlihat seperti siswa. Nyonya Kim akhirnya sering membawa akte kelahiran   [Tanggal Lahir: 25 Oktober 1994, Usia: 10 Tahun. ]
“Ibu dan Ayahku berusaha untuk tak menunjukkan betapa mengkhawatirkannya mereka karena aku tumbuh sangat cepat, tapi mereka terus menghela nafas. Karena itu, aku memutuskan untuk tak mendapatkan bantuan arloji lagi.” Gumam Hye Ja lalu menaruh arloji di dalam lemarinya. 
“Tapi ketika aku mulai terlihat seusia dengan teman-temanku kembali, aku hancur lagi.”
Hye Ja dan Young Soo menonton TV, tubuh Young Soo yang lebih kecil bersikap tak sopan pada adiknya. Hye Jae melihat film superhero.

 “Aku menyadari tak ada karakter dengan kekuatan istimewa dalam film atau kartun superhero menjalani kehidupan normal. Bagaimana jika kemampuan ini diberikan kepadaku sehingga aku dapat menyelamatkan umat manusia?”
“Bagaimana jika aku benar-benar tak "menemukan" arloji? Mungkin arloji memilihku dari semua manusia di planet ini.Sehingga aku bisa menjadi pahlawan yang menyelamatkan umat manusia.”
“Pertama, kupikir bisa menjadi ilmuwan, tapi segera kusadari, aku tak cocok untuk itu, saat aku menyerah pada matematika.” Hye Ja tertidur di kelas saat belajar matematika.
“Selanjutnya, menjadi pahlawan untuk menyelamatkan umat manusia, menyadari betapa malas dan lemahnya aku, kuakhiri impianku yang tak realistis.” Hye Ja tak bisa bertahan di pelajaran olahraga. 

“Namun, hidup selalu terungkap seperti yang seharusnya.”
Young So memanggil Hye Ja bertanya mau pergi kemana. Hye Ja terlihat sinis bertanya balik kenapa bertanya. Young Soo memberitahu temanya kalau Hye Ja adalah wanita yang dibicarakan lewat telepon. Temanya seperti tak percaya Hye Ja adalah adik Young Soo dengan suara yang cantik.
“Kau Mau kemana?”ucapYoung Soo. Hye Ja menyuruh kakaknya diam saja.
“Kenapa? Jangan bertingkah malu-malu..” ejek Young Soo
“Suaramu mirip pewarta TBC, Jang Eun Joo.  Pewarta Jang Eun Joo tipe idealku.” ucap Si pria. Hye Ja tersipu malu mendengarnya. 

“Benar... Karena aku cepat jatuh cinta begitu saja, Aku memutuskan untuk menjadi pewarta, yang tak ada hubungannya dengan pahlawan.”
Hye Ja sudah dewasa duduk dibelakan meja HBS radio, seperti sedang membawakan berita.
“Pengumuman buat para hadirin... Pemilik babi baru-baru ini kehilangan babinya. Jika para hadirin melihatnya, silakan hubungi kantor registrasi segera. Kim Hye Ja dari HBS akan terus melakukan yang terbaik. Terima kasih.” Ucap Hye Ja.
Operator diluar studio merasa suara Hye Ja sudah cukup,  Hye Ja seperti tak yakin kalau pembaca berita harus melakukan ini. Operator pikir kalau Hye Ja bisa menganggap saja sebagai pengalaman.

Akhirnya Hye Ja berusaha berbicara dengan mengigit pulpen dimulutnya, tapi karena terlalu banyak bicara malah membuat air liurnya tumpah.  Ia akhirnya berbaring mengeluh merasa semua yang dilakukan tak berguna dan Semuanya sia-sia.
“Kuharap aku dilahirkan di Zaman Batu. Bahkan jika hanya makan, tidur, dan bernapas, takkan ada yang akan mengkritikku karena menganggur. Bagaimana kau mencari nafkah, Hye Ja?” ucap Hye Ja kesal
Terdengar teriakan suara Young Joo dari luar kamar, Hye Ja datang menemui kakaknya yang terdengar panik. Tapi ternyata Young Joo sedang membaca komik meminta agar menyalakan lampu karena sedikit gelap.
“Hei, kau bisa mencapai saklar lampu bahkan tanpa bangun. Apa Kau malas melakukannya?” keluh Hye Ja

“Ini buku baru... Jika lepas tangan, halamannya akan terbalik. Itu benar-benar akan merusak momentum.” Kata Young Soo kembali membaca komiknya.
Hye Ja yang kesal menyalakan lampu lalu keluar dari kamar. Young Soo kembali memanggilnya. Hye Ja berteriak marah kenapa memanggilnya lagi. Young Soo bertanya apakah adiknya ada waktu hari ini. Hye Ja balik bertanya kenapa menanyakan hal itu.
“Jika ada waktu, lakukan sesuatu pada wajahmu. Pertimbangkan orang-orang yang tinggal bersamamu.”ejek Young Soo. Hye Ja kesal memukul kakaknya dengan bantal.
Young Soo seperti sedang bermain basket mencoba “defense” melindungi wajahnya dengan tangan. Hye Ja melihat kakaknya lengah akhirnya bisa memukul wajah kakaknya sampai terjungkal. 

Hye Ja keluar kamar kakaknya, melihat ibunya bergegas masuk kamar mandi bertanya apakah di salon tak ada air lagi. Ibunya pikir Hye Ja sudah tahu kalau Tekanan airnya rusak lagi dan Pelanggan terus berdatangan. Jadi Butuh waktu lama untuk cuci tangan di sana.
“Ibu... Mau sampai kapan tak pakai sarung tangan? Itu sebabnya kulit jari Ibu mengelupas.” Keluh Hye Ja melihat ibunya.
“Aku punya waktu dari mana buat pakai sarung tangan. Ibu harus cepat mengecat dan memotong rambut. Sehingga bisa segera selesai.” Kata Nyonya Kim
“Banyak pelanggan, kan? Mau kubantu?” ucap Hye Ja. Nyonya Kim menolak menyuruh Hye Ja agar melakukan yang harus dilakukan saja. 

[Happy Beauty Salon]
Nyonya Kim sedang melayani pelanggan salonya dan ada banyak nenek yang ikut menunggu. Hye Ja pun membantu ibunya untuk melepaskan alat pengeriting rambut.
“Ya ampun, bahkan Hye Ja sudah ahli sekarang. Dia tahu persis apa yang harus dilakukan.” Komentar Nenek yang sedang di potong rambut oleh Nyonya Kim
“Sejak kecil, dia memperhatikan apa yang dilakukan ibunya. Kami akan senang jika Hye Ja terus membantu ibunya di sini.” Kata Nenek Lainya.
“Tidak, Hye Ja-ku akan menjadi pewarta. Jika dia sudah menjadi pewarta, akan kujual salon ini, dan bertamasya saja.” Ucap Nyonya Kim bangga. Hye Ja hanya bisa diam saja.
“Pewarta? Orang yang ada di berita itu? Astaga. Jika Hye Ja menjadi pewarta, dia akan membuat seluruh keluarganya bangga, dan bahkan semua tetangganya akan sangat bangga padanya. Aku harus menjabat tangannya sebelum dia terkenal.” Ucap  si nenek bangga
“Yah, aku hanya bersiap test, itu saja.” Kata Hye Ja seperti tak bisa memberikan harapan pasti. 


[Reuni Klub Penyiaran Universitas Hojung]
Hye Ja berdiri diatas panggung memberitahu kalau ada yang belum membayar biaya hari ini lalu memanggil Senior Lee Nam Gyu dan Senior Eun Ji Soo. Seorang pria mengeluh kalau Hye Ja  sudah tak mengelola keuangan.
“Dan kau, Park Gwang Soo... Tolong bayar sebelum aku mabuk dan menjadi jahat.” Ucap Hye Ja. Gwang Soo panik mengaku akan membayarnya lalu menarik Hye Ja untuk duduk, dan berbisik kalau bukan sekarang.
“Aigoo..Kupikir kau jadi salesman sukses... Kenapa kau belum bayar?” ejek Hye Ja.
“Kau bilang "Sukses"? Mengenai ini... Sesama teman kelas seharusnya saling bantu, kan? Jadi bisa silakan tanda tangan.” Ucap Gwang Soo memohon
“Apa Kau belum dengar? Aku tak punya pekerjaan jadi jelas tak mampu membayar asuransi” ucap Hye Ja geram 


Beberapa pria melihat seorang wanita cantik masuk, Gwang Soo terpana melihat Seo Yeon datang yaitu pembawa berita TBC. Seo Yeon menyapa seniornya karena datang terlambat, Gwang Soo mengelengkan kepala lalu mengeser Hye Ja agar Seo Yeon duduk disampingnya.
“Senior, Apa kabarmu baik.. Maaf aku terlambat.” Ucap Seo Yeon pada Hye Ja. Hye Ja mengaku baik dengan wajah seperti canggung dan malu.
“Hyun Jong menyarankanku ada di program berita besok.” Kata Seo Yeon dengan nada bangga.
“Pewarta Kim Hyun Jong? Apa Kau dekat dengannya?” tanya Gwang Soo bersemangat. Seo Yeon mengaku masih pendatang baru.
“Dia menyarankan orang lain juga.” Kata Seo Yeon. Seniornya memuji Seo Yeon benar-benar terlihat seperti pewarta.
“Tidak. Ini baru tahun pertamaku. Aku hampir tak dapat menemukan jalan di sekitar stasiun penyiaran.” Ucap Seo Yeon
“Luar biasa. Kau menjadi pewarta TBC. Bukankah dia anggota klub pertama yang masuk ke TBC dalam enam tahun terakhir?” kata Gwang Soo bangga
Seo Yeon mencoba rendah hati seperti tak percaya,  lalu bertanya pada Hye Ja apakah sudah melamar di Perusahaan TBC, mengaku  sudah bermaksud mencari lamaran tapi sangat sibuk di kantor jadi tak sempat.  Hye Ja meminum birnya dengan cepat merasa Seo Yeon tak perlu melakukanya.
“Aku tak daftar, jangan khawatir, Karena aku sudah menyerah.” Ucap Hye Ja dengan harga diri yang tinggi.
“Lalu kenapa kau mencoba menjadi reporter, berkeliling kota, disengat tawon, dan benjol-benjol sesudahnya? Kau belum sepenuhnya menyerah, ada apa dengamu?” ejek Gwang Soo. Hye Ja marah menyuruh Gwang Soo diam.
“Senior, Apa kau ingat? Di tahun pertamaku, kau mengoreksi pelafalanku. Kau bilang aku punya masalah dengan suara S, dan membuatku mengulangi kalimat, "Dia menjual kerang", berkali-kali... Sepertinya aku masih belum berhasil.” Ucap Seo Yeon dengan nada menyindir. 


Hye Ja mengingatnya dan hanya bisa terdiam, Gwang Soo tak percaya kalau Hye Ja melakukan hal itu. kepada pewarta TBC masa depan. Hye Ja pikir dirinya pasti sudah gila dantak tahu tempat dengan nada merendah.
“Omong-omong, dari Seo Yeon mau pun Jang Ho, aku senang banyak anggota klub kita sukses.” Kata teman Hye Ja berambut pendek.
“Kudengar Senior Jang Ho kembali ke Korea. Dia mengunjungi direktur stasiun penyiaran. Dia benar-benar tampak menjalani kehidupan sepenuhnya. Saat bekerja sebagai pewarta TBC, dia melihat foto kamp pengungsi, berhenti dari pekerjaannya segera, dan menjadi Reporter.” Cerita Seo Yeon bangga. Hye Ja terdiam mdengar nama Jang Ho
“Apa Kau tak memintanya untuk datang hari ini?” tanya Gwang Soo penasaran.
“Dia bilang akan menghadiri pertemuan keluarga. Namun dia berjanji untuk mampir pada workshop minggu depan di Pulau Ganghwa. Senior juga ikut, kan?” ucap Seo Yeon bertanya pada Hye Ja. Hye Ja terlihat gugup.
“Bukankah sejak dulu kau suka dia?” sindir Seo Yeon. Hye Ja pikir bukan dia satu-satunya yang suka Jang Ho.
“Tapi kau mengajaknya kencan, jika yang kudengar benar.” Ucap Seo Yeon sengaja ingin membuat Hye Ja malu. Hye Ja memilih untuk minum bir dengan menahan amarah. 


“Benar, aku mengajaknya kencan!... Tapi aku tak ditolak... Aku hanya diabaikan. Aku tak peduli Kwon Jang Ho atau siapa pun lagi. Aku tak butuh siapa pun!” teriak Hye Ja diatas bukit dan dikagetkan dengan sosok pria mengunakan topi tanpa terlihat wajahnya.
“Siapa kau? Kenapa kau tak mengeluarkan suara?” ucap Hye Ja bingung
“Aku tak ingin membuatmu malu.” Ucap Joon Ha dengan wajah di tutup topi. Hye Ja pikir Joon Ha itu cabul
“Kau memperhatikan orang lain di tempat gelap.” Ucap Hye Ja. Joon Ha mengaku datang lebih dulu.
“Aku akan berdiri dan pergi, tapi akan membuatmu malu. Jadi aku memutuskan untuk diam di sini sampai kau pergi.” Jelas Joon Ha
“Orang cabul macam apa yang akan berpikir seperti itu? Tetap saja jika kau perhatikan orang datang ke sini...” kata Hye Ja marah tapi Joon Ha terlihat tak peduli memilih untuk pergi.
“Astaga, ada apa dengan dia? Apa dia tunawisma?” kata Hye Ja melihat pria yang tak dikenalnya meninggalkan koran dengan lingkaran lowongan pekerjaan. 


Lee Hyun Joo mengeluh kalau pria itu cabul dan berharap agar tak muncul di hadapannya. Hye Ja merasa Joon Ha tak terlihat seperti orang cabul. Hyun Joo heran karena Hye Ja yang berpikir seperti itu, karena Pria itu  bersembunyi sendirian di taman pada malam hari dan memperhatikan Hye Ja.
“Itu hanya perasaanku.” Ucap Hye Ja yakin. Saat itu Yoon Sang Eun datang meminta maaf karena kerjaan shift malam sampai larut.
“Kenapa bawa gitar sedangkan tak bisa memainkannya?” keluh Hyun Joo, Hye Ja meminta agar jangan berkata seperti itu karena Sang Eun seorang musisi.
Sang Eun memberikan kimbap segitiga yang akan kadaluarsa.  Hyun Joo tersenyum bahagia karena Sang Eun  sangat pintar. Hye Ja mengingatkan Sang Eun kalau Pekerjaan paruh waktunya bukanlah hal penting, karena bilang akan menyelesaikan masalah dengan agensinya.
“Apa Mereka akan memperbarui kontrakmu?” tanya Hye Ja penasaran. Sang Eun mengaku sudah diperbarui. Hye Ja tersenyum bahagia.
“Untuk berapa lama?” tanya Hyun Joo. Sang Eun memikirkanya mengaku mereka tak mengatakannya.
“Lalu Debutmu?” tanya Hyun Joo, Sang Eun binggung mengatakan kalau pihak agency bilang ia bisa debut jika mau.
“Mereka seharusnya mendebutkanmu. Jadi apa kesepakatannya?” tanya Hye Ja penasaran. 


Sang Eun menyanyi lagi Gashina didepan ketua agency, pria itu hanya mengelengkan kepala karena melihat Sang Eun tak ada perkembangan. Sang Eun menceritakan kalau dapat menggunakan ruang latihan semaunya bahkan bisa datang dan pergi semuanya.
“Aku bisa debut sesuka hatiku, dan memutuskan durasi kontrak semauku.” Kata Sang Eun bangga.
“Lalu, apa yang tak bisa kau lakukan sesuka hatimu?” tanya Hyun Joo
“ Mereka hanya tak ingin aku memberitahu siapa pun aku milik mereka.”kata Sang Eun yang polos.
Hyun Joo menahan amarahnya bertanya pada Hye Ja apa yang akan mereka lakukan. Sang Eun pikir tak ada yang salah karena dua temanya  ingin kontraknya diperpanjang. Hye Ja akhirnya hanya bisa memuji Sang Eun sudah berkerja baik.
“Sang Eun bertanya Hye Ja dari mana. Hyun Joo menjawab kalau Hye Ja  pergi ke reuni klub penyiaran, lalu Jang Ho kembali ke Korea. Sang Eun dan Hyun Joo kaget memastikan kalau yang dimaksud pria itu.
“Hei, ini bukan tempat yang tepat.” Ucap Hyun Joo lalu mengajak pindah ke depan restoran, sambil minum soju

 [Restoran Kenduri]
Hye Ja mengingat saat Jang Ho  bilang akan menjadi Reporter perang, berpikir kalau sedang berbohong karena menolaknya, menurutnya itu tak masuk akal karena seorang pembaca berita yang tiba-tiba menjadi Reporter perang.
 “Tapi dia punya banyak alasan untuk menolakmu. Kau tak akan menyangkalnya, kan?” ucap Sang Eun
“ Kau juga tahu sendiri kau juga ikut bertanggung jawab karena memintaku untuk mengajaknya kencan, kan?” kata Hye Ja kesal
“Kau bilang  harus mabuk dan meminta minuman keras sendiri. Kau mencampur anggur Kaoliang dengan bir dan menelannya.” Ucap Hyun Joo tertawa mendengarnya. 

Flash Back
Hye Ja terlihat sedang mabuk, melihat Jang Ho yan sudah menunggu ditaman. Hye Ja tersenyum bahagia lalu mendekati Jang Ho, tapi yang terjadi adalah adalah Hye Ja malah muntah didepan Jang Ho.
“Kenapa kalian tak menghentikanku? Kau tahu apa yang paling menggangguku? Keesokan harinya, aku ingat semuanya. Tapi dia bertindak seolah-olah tak ada yang terjadi.” Keluh Hye Ja malu
“Dia pria yang baik sampai akhir. Kau ingin melihatnya, kan?” ucap Sang Eun. Hye Ja mengaku hanya sekali saja bertemu.
“Lupakan. Jika dia melihatmu lagi, yang bisa dia ingat adalah kau muntah.” Ucap Hyun Joo. Hye Ja pikir benar juga.
“Tapi kudengar semua pria memiliki perasaan positif terhadap wanita yang mengajak kencan.” Kata Sang Eun. Hye Ja seperti percaya.
“Apa Kau pikir itu benar? Jika benar, dia akan berkencan denganmu bahkan jika kau muntah.” Ucap Hyun Joo
“Wahh... Terdengar sangat romantis... Bukankah itu cinta sejati?” ucap Sang Eun bahagia.
Hye Ja pikir benar  merasa yakin ada alasan kenapa Jang Ho tak berkencan dengannya dan  seharusnya tak pergi. Ia yakin tak akan pergi karena akan terlalu memalukan dan makan popcorn. Sang Eun memberitahu kalau itu baru jatuh ke lantai. Hye Ja langsung melepehkanya. 

Salon Happy Beauty belum buka, Nyonya Kim sibuk membua sarapan. Young Joo pun duduk bersama dengan ayahnya. Tuan  Kim bertanya Di mana Hye Ja, Young Soo mengaku tak tahu. Nyonya Kim merasa pasti ada sesuatu yang mengganggu Hye Ja karena  masih tertidur karena mabuk lalu mengeluh karena  harus mengurus pria dewasa seharian?
“Hye Ja, mari makan.”panggil Tuan Kim. Nyonya Kim menyuruh membiarkan saja karena Hye Ja bisa mengurus dirinya sendiri dan minum terlalu banyak. Hye Ja mencoba untuk bangun.
“Makan malam harus makan apa ? Kita tak punya makanan di rumah.” Ucap Nyonya Kim.
“Ibu, bagaimana jika aku pergi beli samgyeopsal?” ucap Young Soo penuh semangat
“Haruskah buat sujebi? Dengan biji perilla. Kedengarannya bagus.” Kata Nyonya Kim tak mengubris ucapan anaknya.
“Biji perilla sujebi sarat dengan vitamin C dan zat besi terdengar bagus. Tapi untuk asupan protein dan lemak yang seimbang, bagaimana jika makan samgyeopsal?” kata rahYoung Soo terus berusaha
Nyonya Kim mengumpat marah menyuruh Young Soo untuk diam menyuruh kalau Jika ingin samgyeopsal maka harus menjual ibunya. Young Soo mengaku berharap bisa melakukanya. Nyonya Kim melotot tajam, Young Soo panik mengaku hanya bercanda.
“Kubilang ingin makan samgyeopsal.” Keluh Young Soo. Nyonya Kim sudah tak bisa menahan amarahnya.
“Ini peringatan terakhirku. Aku tak ingin mendengarmu bicarakan samgyeopsal lagi.” Ucap Nyonya Kim memperingati. Young Soo menganguk mengerti lalu tiba-tiba menangis.
“Kenapa? Apa Supnya terlalu hambar? Apa Mau ditambahin garam?” ucap Nyonya Kim sinis melihat anaknya tak mau makan.
“Kau tak membelikanku samgyeopsal dan membiarkanku menangis.” Keluh Young Soo. 


Young Soo membawa minum pergi ke tempat donor darah dengan mendapatkan tiket untuk setiap donor. Seorang paman menimbang daging babin mengaku  biasanya tak menerima tiket film tapi akan menerima karena mereka tetangga.
“Ahjussi. Beri aku yang daging yang tak ada tulangnya.” Ucap Young Soo yang terlihat pucat tapi wajahnya bahagia bisa makan daging.
Hye Ja akhirnya bangun langsun mengambil minum dan membuat kimbap, Young Soo pulang ke rumah. Hye Ja melihat kakaknya bertanya apakah sakit karena terlihat pucat. Young Soo mengaku baik-baik saja lalu pamit ke dalam rumah.
Kemana saja kau seharian? Apa itu?” kata Hye Joo melihat kakaknya membawa bungkusan.
“Jangan ajak aku bicara, Karena aku pusing.” Ucap Young Joo mengambil kompor dan meminta Hye Joo membantunya bangun. 

Hye Ja pun masih membantu kakaknya bangun bertanya ada apa karean terlihat lemah. Young Joo bertanya keberadaan ibunya, Hye Ja menjawab kalau sedang kerja. Young Soo berteriak bahagia.
“Apa Kau menjual tiket film sesudah menyumbangkan darah? Kau akan dapat masalah besar.” Kata Hye Ja marah
“Tunggu.. Hei.. Apa kau baru saja kau tak dengar sesuatu?” ucap Young Soo panik. Hye Ja pikir kalau khawatir menyuruh keluar saja.
“Apa Kau bodoh? Jika aku bertemu orang yang kukenal, aku harus berbagi. Aku tak mau. Aku akan makan sendirian.” Ucap Young Joo panik
“Apa Kau pikir tak akan ketahuan jika memanggangnya di rumah?” keluh Hye Ja
“Itulah perbedaan antara kau dan aku.” Kata Young Soo dengan bangga mengeluarkan plester. Hye Ja pikir bisa membantu.
“Sekarang kau bisa meninggalkan ruangan ini. Hei. Jika beri tahu Ibu, kubunuh kau.” Ucap Young Soo mengancam. Hye Ja pikir tak mungkin karena kakaknya sudah berusaha sangat keras.
Setelah Hye Ja keluar, Young Soo menempelkan plester dan juga jendela agar tak tercium keluar. Ia dengan bangga memanggang daging dengan api. 

Nyonya Kim dan anaknya sibuk makan bibimbap sambil menonton TV, Hye Ja mengeluh karena  wanita tua itu memberi bayaran tanaman pakism, dibanding uang padahal setidaknya harus membayar dengan sayuran tapi selalu memberi pakis.
“Jika mereka membawakanku sayuran berdasarkan seleraku, mereka tak akan merasa menyesal sejak awal.” Ucap Nonya Kim
“Tidak ada orang yang membawakan Ibu sayuran ke salon dan tak merasa kasihan padamu.”keluh Hye Joo
“Bukannya mereka kurang ajar, tapi mereka hanya tak punya uang... Tak punya uang bukanlah dosa.” Ucap Nyonya Kim santai.
Hye Ja pikir benar juga. Nyonya Kim sudah selesai makan dan menyurh Hye Ja makan sisanya. Hye Ja merasa sudah kenyang juga. Nyonya Goo merasa Berat badannya bertambah banyak akhir-akhir ini. Hye Ja pikir  tak boleh membuang makanan jadi akan menghabiskanya.
“Hei, sudahlah... Lebih baik berat badanku bertambah... Aku akan memakannya.” Kata Nyonya Kim makan bimbimbap.
“Omong-omong, kenapa Young Soo begitu tenang hari ini?” kata Nyonya Kim penasaran. Hye Ja hampir berbicara pulang membawa sanggyeop...
“Dia suda pulang, dan dia mungkin ada di kamarnya.” Kata Hye Ja. Nyonya Kim menyuruh Hye Ja agar memberikan cemilan.
“Jika dia tak makan, dia akan sakit.” Kata Nyonya Kim khawatir. Hye Ja menganguk mengerti. 


Hye Ja mengetuk pintu kamarnya bertanya apakah terasa enak, lalu tak ada suara sahutan kakaknya. Ia mencoba membuka pintu tapi dikunci, lalu mengeluh karena bahkan mengunci pintu untuk makan sendiri dan akan pergi tapi akhirnya kembali berbicara didepan pintu .
“Apa Kau membawa kimchi?” tanya Hye Ja. Young Soo tetap tak ada suara. Lalu mengeluh karena kakaknya terlalu sibuk makan sampai tak dengar apa pun
“Apa tetangga memanggang samgyeopsal? Tercium sangat bau daging” kat Nyonya Kim.
Hye Ja panik, akhirnya Nyonya Kim pun mengetuk pintu kamar anaknya tap pintunya terkunci. Hye Ja heran berapa banyak plester  yang di pasang. Nyonya Kim terlihat binggung, lalu mencoba marah karena tak bisa terbuka pintunya.
“Hei, Young Soo. Young Soo! Buka pintu!” teriak Nyonya Kim dan Hye Ja mulai panik.
Akhirnya pintu terbuka dan Young Soo sudah pingsan dengan daging yang masih dibakar dengan asap dalam ruangan.

Akhirnya mobil ambulance datang, Para tetangga berpikir kalau Young Soo  pingsan karena kekurangan oksigen. Saat itu petugas yang membawa Young Soo ke dalam mobil, melihat pasienya ingin bicara. Young Soo membuka penutup oksigenya.
“Dia meminta untuk membalik daging babi agar tak gosong.” Kata Petugas.
Keluarganya melonggo, Nyonya Kim mengambil sapu ingin memukul anaknya. Petugas segera pergi dengan ambulance. Tuan Kim menahan ibunya agar tak memukul anaknya. Para tetangga pun melihatnya. 

Daging babi yang sudah gosong akhirnya diberikan pada kucing. Tiga orang nenek berpikir Young Soo meninggal. Salah satu nenek  menegaskan kalau Young Soo tak mati berpikir kalau anak Tuan Kim ingin mati, jadi menyalakan bara di dalam kamarnya.
“Ambulans datang ke sini, dan benar-benar heboh. Apa karena dia sedang stres?” komentar Nenek lain merasa sangat tragisnya.
“Meski begitu, dia sangat beruntung bisa selamat. Kudengar mereka mencium bau daging yang gosong dari kamarnya. Kuharap tak parah terbakarnya.” Kata nenek lainya.
Dua nenek lainya pun setuju,  Hye Ja dkk mendengar tiga nenek dari pinggir jalan berkomenta kalau tiga nenek terlalu banyak bicara dan hanya mengarang cerita palsu.

Mereka pun duduk di taman, Sang Eun  berpikir kalau Hyun Joo, pasti melegakan, karean Young Soo adalah cinta pertamanya. Hye Ja panik meminta Sang Eun agar menjaga mulutnya sambil menahan Hyun Joo agar tak pergi.
“Ya, benar. Kita semua pernah mencoba hal gila dalam hidup kita.  Jangan marah.” Ucap Hye Ja menyuruh Sang Eun menyadarkan kepalanya.
“Hei, Sang Eun. Aku akan memberitahumu untuk terakhir kalinya, dengarkan baik-baik. Saat itu... aku tak tahu dia tumbuh menjadi pecundang.” Ucap Hyun Joo lalu akhirnya kembali duduk.
“Kau tahu apa harapanku? Mendapatkan mesin waktu dan kembali ke saat aku menyukainya dan mencabut semua rambutku.” Ucap Hyun Joo marah.
“Hei, kami mengerti. Tenang. Aku akan mencabut semua rambutnya untukmu.” Kata Hye Ja menenangkan.
“Kenapa? Bukankah sangat berani untuk mengungkapkan perasaanmu?” ucap Sang Eun. Hye Ja panik menyuruh Hyun Joo agar menjaga mulutnya.
“Omong-omong, bagaimana denganmu? Apa Kau tak akan pergi menemui Senior itu? Dia bilang akan datang ke pelatihan staf.” Ucap Sang Eun
“Bukankah kau harus tetap berpartisipasi dalam acara-acara seperti itu? Kenapa? Apa itu karena gajah di lapangan itu?” kata Hyun Joo
“Aku bilang dia rusa di hutan... Mana ada gajah di lapangan?” keluh Hye Ja
“Tetap saja, menyedihkan... Kau bilang Jang Ho tinggal di luar negeri Kau bahkan tidak tahu kapan dia akan kembali.” ucap Sang Eun
“Tidak, aku tidak akan terpengaruh lagi. Aku harus menjalani hidupku. Entah itu pekerjaan atau pria... Lupakan saja! Meskipun kau mungkin merasa seperti itu, tapi aku tidak peduli sama sekali. Jadi hentikan. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan mau hidup lemah lagi. Aku akan mengucapkan selamat tinggal padanya untuk selamanya.” Tegas Hye Ja yakin. 



Esok harinya
Hye Ja pergi ke pantai melihat teman-temanya sudah berkumpul, lalu menyakinkan diri  hanya akan bertemu Jang Ho sekali saja dan kembali. Ia yakin akan benar-benar akan pergi lalu berjalan pergi ke pantai.
Tuan Kim keluar rumah masang plang salon kalau akan bukan, tiga orang nenek seperti sudah menunggu menyapanya. Ia pun bertanya kenapa mereka datang pagi sekali. Si nenek memberikan  kimchi air lobakkarena itu makanan yang terbaik untuk menyembuhkan keracunan gas.
“Ini telah difermentasi selama lebih dari tiga tahun. Setelah dia mencium bau ini, maka dia benar-benar akan sembuh.” Ucap si nenek yakin. Tuan Kim berusaha menjelaskan bukan keracunan gas tapi nenek lain menyela.
“Kudengar itu batu bara.” Ucap Si nenek. Tuan Kim mengaku Young Soo sedang memanggang daging.
“Pak Kim... Di hari tua, mereka bilang anak tertua berasal dari langit. Itu artinya dia orang yang sangat berharga. Aku tidak mengatakan ini karena kehilangan anak tertuaku selama retret 4 Januari.” Cerita si nenek sedih. Tuan Kim menganguk mengerti.
“Kau harus mendengarkan kami.” Pesan si nenek. Tuan Kim menganguk mengerti.
Bersambung ke part 2
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Senin, 11 Februari 2019

Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 6 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Di ruangan perpustakaan.
Tuan Bong duduk dengan wajah sedih, Dua pegawai pikir menyuruh Tuan Bong yang seharusnya minta maaf dan bilang tak akan mengulanginya lagi. Tapi salah satu temanya meraasa Tuan Bong tak harus berkata begitu.
“Bukan salahnya dia harus merawat keluarga kakaknya karena dia dipenjara. Memangnya keluarga untuk apa?” ucap teman yang mendukung Tuan Bong tak salah.
“Masalahnya hal itu akan berlangsung lama... Dia harus mengurus banyak orang.” Kata Teman lainnya. Tuan Bong kesal merobek surat cerainya.
“Jangan merobeknya.. Istrinya juga punya dokumen, itu tak akan membantu. Seseorang harus melayangkan gugatan cerai.” Ucap Temanya. 

Park Hoon datang dengan wajah penuh semangat memberitahu kalau ada kabar besar, yaitu Nyonya Seo manajer Tim Pemasaran, bercerai hari ini. Dua pria terlihat panik, Tua Bong memalingkan wajahnya. Park Hoon memberitahu kalau Nyonya Seo yang terlihat baik-baik saja.
“Tampaknya dia merasa lega. Dia sungguh bersemangat, berkata dia akhirnya bebas.... Maksudku, seaneh apa menurutmu suaminya? Saat orang bercerai, mereka biasanya merasa hampa dan stres.” Kata Park Hoon. Dua pria terlihat makin panik.
“Apa Ada yang salah? Kenapa kau terus.. Pak Bong, sejak kapan kau di sini? Apa ada masalah? Apa kau sakit?” ucap Park Hoon melihat Tuan Bong duduk tertunduk sedih
“Aku juga baru bercerai.” Akui Tuan Bong. Park Hoon berpiki ada  Dua orang dalam satu perusahaan
“Aku ikut prihatin.” Kata Park Hoon memeluk seniornya. Tuan Bong kesal ingin memukulnya. Saat itu Ji Yool memanggil agar mereka segera keluar untuk foto bersama.

Semua berdiri didepan panti asuhan dengan memegang spanduk. Park Hoon memastikan semuanya dengan masuk kamera lalu memberitahu kalau waktunya  Sepuluh detik dan berjongkok disamping Ji Yool.  Ia lalu memberitahu kalau Tuan Bong juga bercerai. Ji Yool melonggo kaget.
“Perusahaan ini aneh. Semua orang aneh.” Ucap Park Hoon,  Tuan Kim lalu meminta mereka Bilang, "Ayo, Gyeoroo!" dan akhirnya kamera mengambil gambar.
“Kerja bagus, Semuanya... Pasti canggung dan tak mudah bagi anggota baru karena ini kali pertama kalian. Terima kasih sudah berusaha. Kerja sukarela bisa terasa agak canggung mulanya. Tapi setelah terbiasa, kalian akan belajar banyak. Jadi Lanjutkan kerja bagusnya. Gyeoroo, selalu bersemangat Dan terus maju.” Ucap Tuan Kim memberikan sambutnya.
Semua pun terlihat penuh semangat, Dan Yi akan pamit pulang, Eun Ho hanya dengan matanya menyuruh Dan Yi pulang lebih dulu. Nyonya Go bertanya apakah Tuan Kim tak langsung pulang. Tuan Kim mengatakan  harus pergi ke suatu tempat. Nyonya Goo pun pamit lebih dulu.
“Kenapa kau belum pulang?” kata Tuan Kim melihat Eun Ho malah berdiri disampingnya.
“Aku juga mau menyapa.” Ucap Eun Ho, Tuan Kim pun tersenyum membiarkanya. 


Di dalam bus
Semua memilih duduk sendirian, Nyonya Seo masih duduk dengan kacamata hitamnya.  Tuan Bong datang duduk disamping Nyonya Seo, Nyonya Seo menyuruh untuk duduk di tempat lain. Tuan Bong tetap ingin  duduk bersama. Nyonya Seo akan berdiri karena akan pindah.
“Baiklah.... Baik...” ucap Tuan Bong yang memegang tangan Nyonya Seo agar tak pergi. Park Hoon dan Ji Yool melihat keduanya dan Tuan Bong akhirnya pindah.
“Aku baru menyadari sesuatu.... Mereka.. selingkuh.” Ucap Park Hoon melihat keduanya. Ji Yool berteriak kaget.
“Pak Bong dan Bu Seo saling mencintai. Mereka berdua cerai karena begitu mencintai satu sama lain... Aku paham sekarang... Kau harus Berlagak tak tahu. Tidak baik bagi orang baru tahu hal seperti ini.” Ucap Park Hoon. Ji Yool menganguk setuju.
Nyonya Seo tiba-tiba menangis histeris melepaskan rambut palsu dan kacamatanya, semua terdiam dan binggung. Akhirnya Dan Yi yang duduk didepanya memberikan tissue. Tuan Bong pun ikut menangis, perjalanan pulang ke Seoul pun ditemani oleh tangisan Nyonya Seo. 

Tuan Kim berjalan di sekitar tanah lapang yang penuh ilalang, melihat Eun Ho disampingnya langsung mengenggam tanganya. Eun Ho mengeluh dan langsung melepaskanya, tapi Tuan Kim memegang tangan untuk berjalan bersama.  Eun Ho melepaskanya dengan wajah kesal.
“Aku pegang tanganmu karena teringat masa lalu.” Ucap Tuan Kim sambil memegang tangan Eun Ho kembali.
**
Flash Back
[10 TAHUN LALU]
Keduanya berjalan ke sebuah pohon besar, papan nama bertuliskan  [MENDIANG YU SU-JIN] Tuan Kim berdiri dengan Eun Ho menyapa istrinya, agar bisa memberikan salam juga. Eun Ho membungkuk memberikan salam.
“Dia penulis pertama yang akan teken dengan Gyeoroo. Dia adalah Cha Eun-ho, penulis seri favoritmu.” Ucap Tuan Kim memperlihatkan berkas “Kontrak Berdarah”
“Kami di sini untuk bersumpah. Aku di sini untuk teken kontrak sembari kau saksikan... Ini tempat paling penting bagiku. Maka saat kau berjanji di sini, kau akan menjaganya apa pun terjadi.” Kata Tuan Kim 


Eun Ho tiba-tiba memberikan berkas [DEKLARASI AKHIR KARIER MENULIS KANG BYEONG-JUN] Tuan Kim terlihat binggung. Eun Ho memberitahu itu surat deklarasi akhir karier menulis Kang Byeong-jun. Tuan Kim mencoba untuk berpikir jernih.
“Dia suka terbitkan esai pada majalah triwulan, kenapa dia mau berhenti menulis?” tanya Tuan Kim
“Dia juga akan menyerahkan hak cipta ke Gyeoroo.” Kata Eun Ho, Tuan Kim melihat tanggal 19 JUNI, 2009
“Kau dan Kang Byeong Joon, Apa hubungan kalian?” tanya Tuan Kim. Eun Ho mengaku Tuan Kang adalah Ayahnya. Tuan Kim melonggo kaget. 

Akhirnya Tuan Kim menyapa istrinya yang sudah lama tak datang.  Eun Ho pun membiarkan Tuan Kim bicara. Tuan Kim menceritakan kalau sering memikirkan istrinya tapi terlalu sibuk untuk kemari lalu bertanya kabarnya dengan memberitahu kalau anak mereka kabarnya baik.
“Seo-yun punya pacar dan Seo-hyeon adalah balerina hebat sepertimu. Biar kuntunjukkan foto mereka.” Ucap Tuan Kim menaruh foto anaknya.
“Soo Jin... Kau tak perlu mendatangiku dalam mimpi.. Tapi Datangilah mimpi anak-anak. Mereka... sangat merindukanmu. Hari ini, Bong Ji-hong dan Seo Yeong-a bercerai... Ini Sulit dipercaya, kan? Mungkin mereka tak masalah dengan itu, tapi bagaimana dengan perusahaan kita? Aku sangat khawatir.” Cerita Tuan Kim mengeluh pada istrinya.
 “Ayo kita pergi!” teriak Eun Ho seperti mengeluh dengan Tuan Kim yang selalu seperti itu
“Aku tahu dari awal... Apa Aku sudah ceritakan soal pegawai baru? Kami merekrut enam orang.” Kata Tuan Kim
“Perjalanan kita masih jauh.” Ucap Eun Ho mengajak Tuan Kim segera pulang.
“Ada satu orang... Kau tak akan percaya... Anak muda zaman sekarang hanya peduli diri sendiri. Tapi Kita tak begitu, 'kan? Orang dewasa biasa bilang kita kurang cinta, tapi...” ucap Tuan Kim masih terus mengobrol. Eun Ho terus berteriak mengajak Tuan Kim segera pergi. 


Geum Bi duduk di sofa lalu berlari ke depan pintu kamar yang dikunci, Seo Joon keluar menyapa anjingnya lalu duduk dikursi setelah itu mengingat kembali yang dikatakan Dan Yi sebelumnya.
“Bagaimana dengan ini? Rahasia di balik judul novel, 23 April. Namun, kisahnya sendiri tak berkaitan dengan 23 April, tanggal pun tak ada.< Ini Aneh, 'kan?”
“Bagi Kang Byeong-jun, novel 23 April bagai kuburan, pemakamannya. Akhir karier menulisnya. Karena itu dia mengumumkan itu novel terakhirnya.”
Seo Joon memegang buku terakhir Tuan Kang Byung Joon. 

Tuan Kim dkk duduk diruang rapat, bertanya apakah sudah ada sampelnya. Hae Rin membagikan buku pada semuanya. Nyonya Seo memuji  Konsep pemasaran yang bagus seperti sebuah hadiah. Dan Yi tersenyum bahagia.  Tuan Bong sedang tak mood akan keluar ruangan, Nyonya Seo memberitahu kalau rapatnya belum selesai. Tuan Bong akhirnya kembali duduk.
“Ini akan menarik perhatian orang di toko buku. Apa Mulai dicetak hari ini?” tanya Tuan Kim. Hae Rin menganguk. Tuan Kim pun memujinya.
“Tapi Tetap saja, orang beli buku setelah baca konteksnya... Eun-ho, Hae-rin, kita bicara di ruanganku sebelum pencetakan.” Ucap Nyonya Go sinis. Eun Ho dan Hae Rin menatap binggung. 

Keduanya akhirnya masuk ke ruangan Nyonya Go dengan wajah tegang. Nyonya Goo bertanya apakah ini yang dilihatnya memang benar. Keduanya binggung apa yang dimaksud. Nyonya Goo berkata tentang  Halaman hak cipta.
“Haruskah nama Dan Yi dicantumkan?” ucap Nyonya Goo sinis, Hae Rin dan Eun Ho saling berpandanganya.
Sementara Dan Yi melihat buku Park Jeong Sik, teringat saat mengangkat tangan mengaku punya ide dengan mengusulkkan jika tak usah disampul tapi diberi bungkus seperti hadiah.
Dan Yi melihat buku Dunia Abu-abu cetakan pertama  “10 FEBRUARI 2019”  [PENULIS, PARK JEONG SIK, PENERBIT, KIM JAE-MIN KEPALA EDITOR, CHA EUN-HO, EDITOR, SONG HAE-RIN, PEMASARAN, KANG DAN-YI] Dan Yi seperti tak percaya melihat namanya dalam sebuah buku. 

Di ruangan Nyonya Go
Nyonya Go menyuruh agar menggapus nama Dan Yi, Hae Rin kaget lalu bertanya siapa nama pemasarnya. Nyonya Go menyuruh agar memasukan nama Nyonya Seo. Hae Rin pun tak bisa menolak walaupun hatinya tak bisa terima.
“Dan Yi ada di Tim Pembantu... Dia hanya mendukung. Apa Kau tak paham?” ucap Nyonya Go. Hae Rin mengaku paham lalu keluar ruangan.
“Pak Cha, mau katakan sesuatu?” tanya Nyonya Goo melihat Eun Ho hanya diam saja.
“Dan Yi bertanggung jawab atas pemasaran Dunia Abu-Abu. Dia bahkan ikut membujuk si penulis dengan kami. Dia diberi tugas dan melakukannya dengan baik.” Ucap Eun Ho membela Dan Yi
“Dia bukan bagian Tim Pemasaran, mana bisa dibilang tanggung jawab pada pemasaran?” ucap Nyonya Go sinis.
“Tak penting dia anggota tim mana... Dia melakukan tugas seorang pemasa dan akan adil mencantumkan namanya di daftar itu.” Ucap Eun Ho
“Fakta bahwa dia memiliki ide tak membuat dia bertanggung jawab untuk itu. Itu untuk orang yang bisa mengemban tanggung jawab itu. Apa Dan-i sanggup mengatasi semua masalah pemasaran soal novel itu, padahal dia punya tugas lain?” ucap Nyonya Goo sinis
“Aku tahu niatmu baik dan yang kau usulkan itu adil. Namun, ini organisasi. Prinsip itu hal penting... Kau mungkin mau melakukan tugas lain juga. Tapi jika semuanya melakukan hal yang kita mau, apa yang akan terjadi pada perusahaan?” kata Nyonya Goo. Eun Ho mengaku mengerti dan berhenti melangkah keluar ruangan.  
“Kurasa aku salah... Bu Go... Kau benar soal segalanya. Namun, orang-oranglah yang membentuk organisasi. Penting untuk kerjakan tugas yang diberikan, tapi jika semua orang terpaku pada itu, tak akan ada yang mau melakukan lebih. “ tegas Eun Ho yang membuat Nyonya Go hanya diam saja. 



Ji Yool dan Park Hoon bahagia melihat buku cetakan pertama, tak percaya Dan Yi adalah  rekrutan pertama yang namanya tercantum. Park Hoon dengan bangga kalau itu semua karena memberi kacang di tanganya yang  membantu kerja otak.
“Hei... Kau dapat itu dari dapur kantor.” Keluh Ji Yool mengambil snack kacang yang dibawa Park Hoon.
“Bagaimana rasanya namamu tercantum?” tanya Ji Yool penasaran.
“Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Nanti kau akan rasakan sendiri dan sulit dijelaskan.” Ucap Dan Yi bahagia.
Park Hoon pun yakin nanti namanya akan tercantum dibuku. Dan Yi juga yakin Park Hoon pasti bisa. Hae Rin dan Eun Ho melihat kebahagian Dan Yi dkk terlihat sedih. Eun Ho menepuk pundak Hae Rin agar bisa tabah menjalani keadaan sekarang. 

Hae Rin menelp bagian percetakan akan membahas  buku yang akan dicetak hari ini kalau ada perubahan untuk Dunia Abu-Abu, Bukan novelnya. Tapi Ada perubahan di bagian hak cipta. Ia meminta pecetakan menunggu karena akan mengirimkan versi terbarunya. Dan Yi mendengarnya terlihat sedikit gugup.
“Dan Yi.... Ada kesalahan di pekerjaan kita. Nama Bu Seo akan dicantumkan pada halaman hak cipta sebagai pemasaran” kata Hae Rin. Dan Yi kaget ingin tahu alasanya.
“Kau di Tim Pembantu. Siapa pun bisa bergabung di rapat kita. Kita tak pernah cantumkan nama orang hanya karena dia punya ide... Aku minta maaf. Itu kesalahanku.” Jelas Hae Rin merasa bersalah. Dan Yi pun hanya bisa diam.
“Ini para pelamar untuk mengulas bukunya. Kau bisa Cek blog mereka dan pilih 20 orang akhir pekan ini.” Pinta Hae Rin. Dan Yi mengerti akan mengerjakan.  Saat itu Nyonya Go menelp, Dan Yi pun bergegas pergi. Eun Ho melihatnya seperti ikut sedih. 

Dan Yi mengambil kantung belanja di ruangan Nyonya Go, Nyonya Go memberikan note agar mengantar ke alamat itu sebagai  hadiah ulang tahun istri penulis Kim Soo Yeong dan ada ada nomor teleponnya,  jadi bisa menelpnya. Dan Yi menganguk mengerti.
“Apa Kau dari toko buku?” tanya Dan Yi menyapa Nyonya Seo dan rekannya Keduanya menganguk.
“Lalu kau mau ke mana?” tanya Nyonya Seo. Dan Yi memberitahu kalau Nyonya Go sedang menyuruhnya.
“Aku mau ke rumah Penulis Kim Soo Yeong.” Kata Dan Yi. Rekan kerjanya pikir tak perlu repot pergi karena bisa pakai jasa kurir.
“Tidak perlu, Bu Go menyuruhku antarkan langsung.” Kata Dan Yi bergegas pergi masuk ke dalam lift. Nyonya Seo heran dengan Nyonya Go yang terus menyuruh Dan Yi. 

Eun Ho gelisah akan mengirimkan pesan pada Dan Yi, tapi pesan Hae Rin yang lebih dulu masuk. “Aku benci perusahaan ini.” Eun Ho mengejek “Kau benci apa? Kerja adalah kerja.” Seolah tak peduli.
“Kau sungguh berdarah dingin. Kau tahu itu, 'kan?”balas Hae Rin, Eun Ho mengakunya. 

Istri Tuan Kim mengucapkan terima kasih untuk hadiahnya bahkan datang langsung. Dan Yi dengan senyuman mengucapkan selamat ulang tahun pada Nyonya Kim,  lalu memberikan buket bunga sebagai hadiah pribadinya. Nyonya Kim makin terlihat bahagia
“Siapa namamu?” tanya Nyonya Kim. Dan Yi menyebutkan namanya  dari Tim Pembantu.
“Kau akan melalui perjalanan jauh sekali saat kembalinya.” Ucap Nyonya Kim, Dan Yi mengaku tak masalah karena menikmati udara segar.
“Tunggu Sebentar. Kuberi uang untuk taksi.” Kata Nyonya Kim, Dan Yi menolak lalu bergegas pergi.
Akhirnya Dan Yi pulang berjalan kaki, lalu mencoba mendongakan kepala agar saat air matanya akan mengalir, seperti tak bisa menahan rasa kecewanya. 

Saat itu Jae Hui melakukan video call, meminta temanya agar memegang ponselnya. Dan Yi duduk ditaman tersenyum bahagia, Jae Hui memperlihatkan gaun yang dibelikan ingin tahu pendapat ibunya. Dan Yi melihat anaknya yang sudah besar.
“Guruku bilang kita mirip.” Ucap Jae Hui. Dan Yi tersenyum bertanya apakah Jae Hui senang mendengarnya. Jae Hui menganguk.
“Bagaimana pekerjaan baru Ibu? Perusahaan penerbit, 'kan?” tanya Jae Hui
“Ya. Ibu senang di sini, Terkadang memang berat, Keadaannya sulit.. Yahh... Memang benar begitu, tapi aku ibumu... Ibu tak mau dengar kau tak mau menjadi seperti aku. Ibu bilang begitu pada Nenek.”akui Dan Yi
“Tak peduli seberapa keras ibu bekerja, kau bisa saja bilang begitu, tapi ibu akan berusaha keras agar tak mendengar itu darimu... Jae-hui... Sebenarnya ibu mau.. kau bilang bahwa ibu adalah panutanmu. Aku ingin jadi ibu seperti itu untukmu.” Ucap Dan Yi dengan air mata mengalir. Jae Hui seperti sedih melihat ibunya menangis.
“Tidak, ibu tak menangis... Kenapa aku harus menangis? Ibu bisa bekerja lebih keras... Kau cantik...” kata Dan Yi segera menghapus air matanya. 


Akhirnya buku pun diterbitkan, dengan standing banner [PROYEK BUKU TAK TERGANTIKAN, SISI MENAKUTKAN HIDUP, KEJAHATAN DALAM NALURI MANUSIA, KESENANGAN YANG ANEH, TAWA DAN MISTERI, SATIRE PIKIRAN DANGKAL]
Pengunjung melihat buku yang dibungkus, penasaran buku seperti apa. Tuan Kim pun menyamar sebagai pembeli. Nyonya Goo pun membaca komentar dari buku yang dibuat oleh Dan Yi, Eun Ho menelp telp terlihat sangat bahagia setelah menutup telp.
“Semuanya... Kita akan mulai pencetakan kedua Dunia Abu-Abu.” Ucap Eun Ho. Hae Rin tak percaya mendengarnya.
“Baru sepuluh hari bukunya dirilis... Kali ini kita cetak 10.000 kopi.” Kata bagian pemasaran
Semua tak percaya mendengarnya dan akan berusaha keras menjualnya. Hae Rin menatap Dan Yi tersenyum bahagia. Dan Yi tersenyum dan tetap kembali mengerjakan tugasnya membawakan tumpukan kertas. Semua memuji Hae Rin yang berhasil penjualan dengan konsepnya. 


Dan Yi membawakan surat dan masuk ke ruangan Nyonya Go, lalu melihat tulisan dibuku [PERTARUNGAN AKAL SENGIT YANG AKAN MEMBUATMU TAKJUB] lalu terdiam teringat kembali yang dikatakan Nyonya Go sebelumnya.
“Apa Pikirmu aku mencurinya darimu? Dan dari awal sudah kuputuskan untuk memakainya. Apa kau berasumsi aku tak bisa memikirkan ide yang sama? Kuharap tak begitu.”ucap Nyonya Go sinis
“Hal yang dikatakan Bu Go padaku ternyata benar.” Gumam Dan Yi penuh rasa bersalah. 

Nyonya Go masuk ke ruangan melihat Dan Yi diruanganya, bertanya ad apa datang ke ruanganya. Dan Yi memberitahu kalau ada surat baru, lalu mengaku saat  merapikan meja, melihat buku catatan Nyonya Go. Ia merasa sudah salah sangka tentang uraian Pucat, Suatu Kekejaman.
“Setidaknya kau tahu kebenarannya... Itu akan membantu mengetahui posisimu.” Ucap Nyonya Go sinis
“Namun. aku ingin terus mencoba. Jika hanya melakukan tugasku, maka aku tak akan tumbuh di perusahaan ini. Aku ingin tantang diriku untuk lakukan pekerjaan yang bisa kulakukan. Saat aku mulai di sini, aku ingin dapatkan pengalaman dan pindah ke perusahaan lain.” Akui Dan Yi
“Tapi, sekarang aku hanya menyukai buku. Aku baru menyadarinya. Kini aku paham alasan orang kemari Karena buku itu bagus, aku ingin menjual banyak. Aku ingin ideku membantu menjual ebih banyak buku. Itulah yang kusadari. Jadi akan kumulai dari awal. Aku akan kerjakan tugasku dengan baik.” Kata Dan Yi.
Nyonya Go seperti tak peduli menyuruh Dan Yi keluar ruangan kalau sudah selesai bicara. 

Park Hoon masuk ruangan berteriak sudah membeli banyak sandwichkarena sedang tugas di luar dan melihat kedai sandwich. Ia pun membagikan sandwich termasuk pada Dan Yi.  Nyonya Seo melihat Park Hoon   perhatian sekali karena Seharian kelaparan.
“Aku harus makan untuk malam juga.” Ucap Tuan Bong mengambil dua sandwich lalu berjalan pergi.
“Park Hoon... Bagaimana rilis persnya?” tanya Nyonya Seo. Park Hoon memberikan berkasnya.
“Bukan ini, tapi untuk penulis Yoo Hong Joo” ucap Nyonya Seo. Park Hoon mengaku Belum ditulis.
“Aku harus selesaikan yang lain dahulu.” Ucap Park Hoon. Dan Yi menawarkan diri untuk membantu menulis rilis pers untuk Yoo Hong Joo.
“Apa Kau tak sibuk?” tanya Park Hoon. Dan Yi mengaku akan mencoba menyelesaikan malam ini. Park Hoon pun mengucapkan Terima kasih. 

Hae Rin bertanya pada Dan Yi apakah sudah menyelesaikan  acara pengulasan buku, Dan Yi mengangguk, kalau sudah cek semua blog jadi Kebanyakan narablog melamar ke penerbit lain juga, tapi ulasannya tak begitu bagus.
“Aku sudah seleksi daftarnya lagi jadi Tolong dilihat.” Ucap Dan Yi memperlihatkan listnya.
“Aku yakin pekerjaanmu bagus. Aku setuju saja.” Kata Hae Rin. Salah satu pegawai memberitahu Dan Yi kalau  harus pesan kopi lagi.
“Kopi masih ada banyak. Akan kurapikan.” Ucap Dan Yi, Hae Rin terlihat sedih karena Dan Yi yang terlihat tak kecewa namanya dihapus.

“Aku memulai lagi dengan pekerjaan sepele dan pekerjaan yang memang tugasku. Aku belajar... bekerja lagi... Walau aku pikir sudah tahu, aku ulang lagi... karena aku pegawai baru.” Gumam Dan Yi membersihkan pantry.
Eun Ho datang ke pantry, Dan Yi menawarkan teh untuk Eun Ho.  Eun Ho mengeleng memberikaan sebuah buku sebagai Hadiah untuknya karena menurutnya  Konsep buku Penulis Park adalah hadiah untuk Dan Yi. Dan Yi melihat buku yang masih tertulis namanya.
“Walau dunia tak tahu, tapi aku tahu kau yang bertanggung jawab soal pemasaran. Strategi pemasarannya sempurna, Kepala Editor yang bilang.” Ucap Eun Ho
“Terima kasih, Pak Cha.” Kata Dan Yi tersenyum bahagia. Saat itu Hae Rin melihat keduanya akrab seperti merasa cemburu. 
Dan Yi melihat Seo Joon menelpnya, lalu mengangkatnya dengan panggilan Tuan Payung. Seo Joon bertanya apakah Dan Yi sudah selesai berkerja karena adandi depan kantornya mengajak untuk makan malam bersama.
“Kita selalu bertemu tak sengaja, tapi kali ini bukan kebetulan. Aku mengajakmu berkencan.” Ucap Seo Joon. Dan Yi binggung menatap Eun Ho yang ada didepanya.
Eun Ho menatap heran pada Dan Yi, dan didepan pantry ada Hae Rin yang menatap cemburu pada keduanya.
Bersambung ke episode 7
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09