PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 10 Februari 2019

Sinopsis Romance is a Bonus Book Episode 5 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 

Dan Yi menempelkan pengumuman [PEMASARAN DALAM KESEHARIAN- KIRIMKAN TIGA KALI SEHARI!]
Ji Yool melihatnya dengan wajah sedih akhirnya menuliskan pesan “ Kurasa aku akan mulai awasi ini juga.Mustahil. Orang-orang kantor dan ibuku tak mungkin ada di sini.”
**
Dan Yi menuliskan dihalaman SNS-nya dengan buku yang diambil saat akan dimusnahkan
“Buku ini adalah buah dari semangat dan dedikasi. Selagi melihat buku dihancurkan, aku teringat ucapan pujangga Amy Lowell.< Katanya buku adalah intisari hidup kita. Aku ingin berbagi intisari berharga ini dengan semua orang agar aku tak malu menemui pepohonan. Aku pasti bisa.”

Eun Ho tersenyum melihat tulisan Dan Yi lalu teringat dengan kejdaian semalam. Ia melihat Bulannya terlalu indah dengan Dan Yi di taman rumahnya.
“Bulannya indah, 'kan? Alih-alih "Aku mencintaimu", Sōseki Natsume bilang, "Bulannya indah." Itu malam yang mengingatkanku padanya. Maka, buku hari ini adalah
“Ujaran yang tepat adalah "ada bos", bukan "bos ada". "Cuci piring", bukan "mencuci". Dan yang benar "menolak pesanan", bukan "pesanan tolak".” Tulis Hae Rin. 
Saat itu ada Notif masuk “LUCKYBOY MENGIKUTIMU” ketiganya mengerutkan dahi siapa pria itu. Tuan Kim Jae Min mengunakan nama ID tersebut dengan menuliskan keterangan sebagai Presdir Penerbit Gyeoroo. Ia pun mengambil foto selfie dalam berbagai gaya diruanganya.
“Teman lamaku mengeluh padaku. "Jae-min, bukuku tak laku. Perusahaanku akan bangkrut." Dia hanya punya firma penerbit kecil. Dia bersemangat dan kompeten. Apakah masyarakat sudah tak acuh pada buku fisik? Dibandingkan dia, aku diberkati. Aku anak yang beruntung. Buku-buku Gyeoroo masih disukai para pembaca. Ya, jangan pernah melambat dan maju terus.”
Eun Ho dkk berpikir apakah akan menerima pertemanan atau memblokirnya. 
Nyonya Goo juga membuat account dengan nama aslinya sebagai DIREKTUR PENERBIT GYEOROO yang status LAJANG ELEGAN. Foto yang diperlihatkan dengan gaun tidurnya sambil meminum wine, terlihat seperti wanita yang sangat elegan
“Kuterjemahkan esai profesor K University ke bahasa Inggris. Hanya untuk mengisi waktu dan hobi. Aku tak bilang bahwa aku kesepian. Waktu sendiriku yang berharga. Apa Tahu betapa menyenangkan rasanya saat mencapai sesuatu?”

Saat itu Nyonya Goo yang terlihat elegan di foto, tapi di seluruh ruang tengahnya berantakan dengan barang-barang yang terpakai.
“Bersulang... Pak Kim, kau pemimpin paling teladan di Gyeoroo. Aku mengagumimu.” Tulis Nyonya Goo pada Tuan Kim. 


Tuan Bong sedang minum bersama dengan temanya, memperlihatkan gambar mangkuk arak beras. Ia mengaku kalau puisi adalah inti setiap inspirasi artistik, seperti sebuah sumber jadi meminta mereka agar  membuat puisi dan itu sangat luar biasanya.
“Untuk apa menulis puisi bagus? Tidak ada yang membacanya. Puisiku gratis. Semuanya ada di internet. Ada bedebah yang mengunggah seluruh buku puisiku.  Aku akan kaya jika bisa dapat 100 won per puisi.” Ucap si pria
Tuan Bong melihat Tuan Kim yang meminta agar bisa berteman, lalu berkomenta "Luckyboy." Apa, "anak" dan bertanya-tanya Sampai usia berapa dianggap anak dan tak peduli kalau bosnya jadi memilih untuk memblokirnya. 


“Kenapa kalian jahat padaku? Kenapa kalian memblokirku?.. Luckyboy. Apa Kalian membenciku? Eun-ho, jawab. Kenapa kau memblokirku?” teriak Tuan Kim marah saat datang ke ruangan karyawanya.
“Aku tak tahu itu kau.” Ucap Eun Ho mencari alasan. Tuan Kim tak percaya karena  menulis, "Presdir Penerbit Gyeoroo."
“Ohh... Begitu... Kukira ada yang pura-pura jadi kau.” Komentar Eun Ho, Tuan Kim menatap Dan Yi, Dan Yi mengaku juga tak tahu.
“Ada apa? Apa aku buangan di media sosial? Benarkah, Nona Song?” ucap Tuan Kim. Hae Rin membenarkan tanpa peduli perasaan Tuan Kim.
“Tak punya hati nurani. Apa kita harus melihat wiraniaga narsistik ini di dunia maya?” tulis Song Yi
Tuan Kim akhirnya meminta agar Hae Ri tak memblokirnya, Hae Rin mengerti. Lalu Tuan Kim menyuruh Song I agar mengikutinya juga. Song I pun tak bisa menolak untuk bisa berteman. Eun Ho tersenyum melihat sikap Tuan Kim yang marah karena terlihat sangat manis.
Nyonya Go dalam ruangan menerima pesan dari Tuan Kim “Bu Go, kau adalah bank ide di Gyeoroo. Kau mentor yang dikagumi semua pegawai.” Wajah Nyonya Go tersenyum seperti sangat menyukai pujian. 


Dan Yi melihat jadwal mingguan, [RAPAT MINGGUAN, RAPAT EKSEKUTIF - RAPAT PEMASARAN BUKU BARU PARK JEONG-SIK] tatapanya seperti penuh harapan.
Di restoran sandwich, Eun Ho memberikan buku Tuan Park memastikan Dan Yi akan mencoba lagi  Setelah perbuatan Nyonya Go padanya. Dan Yi seperti melupakan mengaku tak masalah untuk dirinya, karena  Penyihir besar tak menakutinya. 

Di Sebuah bar, Nyonya Goo duduk dengan tiga temanya. Salah satu membahas tentang anaknayang masuk sekolah internasional. Ibu lain pun memuji kalau orang tuanya itu andal sebagai ibu. Temanya lain berbalas kalau suami temanya itu jadi direktur dan harus jadi CEO sebelum keluar.
“Hei, tak perlu iri... Ayah mertuamu memberimu sebagian asetnya.” Ucap temanya.  Tapi si ibu merasa hanya dapat sedikit.
“Rumah yang kami tinggali sekarang atas nama suamiku.” Kata temanya. Teman yang lain pikir kalau masa pensiunnya  sudah aman.
“Cukup... Maaf, Yoo seon... Dia lajang dan tak punya anak. Kita harus pengertian.” Ucap salah satu temanya tak enak hati
“Kenapa? Aku punya tiga rumah Dan aku direktur... Bahkan Belum lama, aku dapat gelar doktor... Aku tak iri pada kalian. Aku tak pernah tersinggung pada pertemuan macam ini. Jadi Hari ini aku yang traktir minum. Aku harus pulang dan membaca materi untuk kerja.” Ucap Nyonya Goo lalu berjalan pergi.
Ketiganya mengeluh dengan sikap Nyonya Goo yang sombong dan berpikir kalau tak perlu mengajak untuk bertemu lagi. 


Di restoran sandwich
Dan Yi sadar kalau  Nyonya Goo yang  pernah curi ideku, tapi tak akan lagi dan tidak akan kubiarkan terjadi dua kali. Ia merasa bahaagia bisa melakukan lagi jadi meminta Eun Ho agar memberikan petunjuk. Eun Ho tersenyum Dan Yi yang meminta Petunjuk
“Boleh kubilang, tips dalam hal pemasaran?” kata Dan Yi berharap. Eun Ho seperti memikirkan Tips pemasaran
“Ayoo Lah... Petunjuk. Satu saja... “ ucap Dan Yi memohon.  Eun Ho mendekat seperti ingin membisikan sesuatu.
“Jangan coba curang. Kau harus pikirkan sendiri.” Ucap Eun Ho, Dan Yi mengeluh Eun Ho jahat sekali.
“Lihat saja. Ini akan luar biasa.”kata Dan Yi yakin. Eun Ho menyuapi Dan Yi sandwich sambil memujinya sebagai Gadis baik. Dan Yi lalu tetap merengek agar Eun Ho memberikan petunjuk. Tapi Eun Ho tetap menolaknya. 


Dan Yi menyiapkan ruang rapat dan menempelkan kertas didepan ruangan [PENERBIT GYEOROO0 RAPAT STRATEGI PEMASARAN BUKU BARU PUKUL 11.00] Wajahnya seperti penuh harapan, Pesan dari Eun Ho masuk ponselnya.
“Rapat pemasaran ini biasanya dipimpin Bu Seo, kepala pemasaran. Namun...Karena Bu Go berawal dari pemasar, sering terjadi pertengkaran di antara mereka. Kali terakhir, uraian Bu Go yang terpilih. Jadi, Nona Seo tak akan mau kalah kali ini. Saat perang ide ini menjadi pertengkaran emosional yang membuat semuanya lelah, itu kesempatanmu.”
Nyonya Go sudah siap dengan bukunya dan Nyonya Seo pun siap tak mau kalah, keduanya berjalan dengan wajah seperti musuh bebuyutan. Tuan Bong siap untuk rapatnya bertanya pada Dan Yi didepan pintu apakah semua sudah siap. Dan Yi mengaku sudah siap semuanya.


“Apa Kau lakukan sendiri? Astaga, tak ada yang membantu.” Ucap Tuan Bong merasa kasihan.
Dan Yi menyapa semua pegawai dengan senyuman masuk ruang rapat,  lau melihat Nyonya Go akan masuk ruangan bertanya apakah boleh ikut rapat. Nyonya Go dengan sinis tak ada alasan Dan Yi mau ikut rapat strategi pemasaran
“Mengetahui detail kemajuan mungkin akan membantuku temukan lebih banyak hal untuk kukerjakan.” Ucap Dan Yi
“Terima kasih mau membantu, tapi kau Tim Pembantu, ini bukan...” ucap Nyonya Go
“Kau boleh ikut.. Kau juga membantu Departemen Pengembangan Konten.Jadi, tahu detail bisa membuatmu lebih banyak membantu...Kau Masuklah. Bagus jika kau bisa mengamati rapat.” Ucap Tuan Kim yang diam-diam mendengar keduanya bicara.
Dan Yi pun mengucapkan terimakasih tapi Nyonya Go menatap sinis seperti tak ingin ada saingan. Eun Ho melihat Dan Yi masuk ruangan bisa tersenyum puas. 

Tuan Kim akan memulai rapat, Tuan Bong pikir Sebelum putuskan jumlah eksemplar, ingin tahu dengan desainer Ji Seo Joon menurutnya pasti berjalan baik karena Kim juga ikut. Tuan Kim memalingkan wajahnya teringat yang dikatakan Seo Joon.
“Apakah rumor itu benar? Rumor Gyeoroo mengincar hak cipta dan mengunci Pak Kang karena itu.”
“Itu tak berjalan baik... Dia tak mau bekerja untuk kita.” Kata Eun Ho. Tuan Bong kesal karena menurutnya karena ulah Tuan Kim.
“Kenapa kau mengikutinya? Jadi Kini bagaimana?” tanya Tuan Bong. 

Sementara Seo Joon membeli beberapa buku yang berjudul  [AKU MEMIMPIKAN KEBEBASAN EKONOMI, SANG SINGA IKUT, AIR MATA] lalu pergi ke meja kasir. Pegawai melihat buku pilihan Seo Joon  sudah agak usang jadi akan mengambilkan yang baru.
“Tidak apa-apa. Jika tak kubeli, akan dikembalikan ke penerbit dan dihancurkan. Ini masih bisa dibaca. Kubeli yang ini.” Ucap Seo Joon.
Saat akan keluar dari toko buku, mendengar dua pria yang membahas  Penjualan buku-buku Gyeoroo selalu stabil. Menurutnya Dua dari lima penjualan stabil adalah Gyeoroo dan itu Karena karya Kang Byeong Joon,   menurutnya semuanya mahakarya.
“Ini Bagus bagi mereka.. Revolusi karya Kang Byeong-jun.” Ucap salah temanya.
“Itu hak terbit eksklusif firmamu, 'kan?” kata salah satu temanya. Seo Joon terdiam dan melihat buku-buku dalam rak.
“Bisikan langit, Tangisan Pulau dan buku itu juga, Ibu. Gyeoroo mengambil semuanya... Gyeoroo membuatku jengkel.”kata Si pria kesal lalu berjalan pergi. 

Nyonya Seo mengeluh Tuan Kim yang yakin  akan merekrut Ji Seo Joon jadi akan cetak 10.000 eksemplar edisi pertama, menurutnya  Jika punya desain bagus untuk buku ini, maka 10.000 akan mudah laku. Ia mengeluh dengan keduanya karena sebelumnya megatakan akan membujuk Ji Seo Joon bagaimanapun caranya.
“Kita bisa Cetak 7.000 eksemplar. Desainer andal tak menjamin penjualan besar.”ucapTuan Kim santai
“Pak Kim, kau yang bilang begitu. Siapa yang mau beli 7.000 buku karya penulis pemula?” ucap Nyonya Goo
“Kenapa membuat buku yang tak laku dijual?” Keluh Tuan Kim. Tuan Bong pikir mereka mengadakan rapat ini untuk mencari cara menjualnya.
“Industri juga sedang goyah,Apa 5.000 saja agar aman?”saran Eun Ho,

“Bahkan itu terbilang banyak. Untuk edisi pertama, ada yang mencetak 2.000 atau 3.000.” kata Hae Rin
“Kita teken kontrak dengan dia tiga tahun lalu. Banyak rencana yang gagal. Setelah setahun mengedit, 3.000 salinan... Keuntungannya bahkan tak sepadan dengan traktiranku padanya.” Kata Tuan Kim marah
“Pak Kim, bicara yang sopan saat rapat.”komentar Eun Ho, Tuan Kim pikir Hae Rin yang pertama bicara santai.
“Mari mulai dengan 5.000 eksemplar. Karena ini debutnya, kita pasarkan dengan baik dan sebar luaskan. Lalu bisa kita cetak lagi.” Ucap Tuan Kim
“Aku punya pertanyaan. Kau bilang "10.000 eksemplar" dan "5.000 eksemplar". Apa Maksudnya itu jumlah buku? Lalu Apa maksudmu kau hanya akan menjual 3.000 atau 5.000 buku saja?” tanya Ji Yool polos. Park Hoon panik melihat tingkah Ji Yool.
“Siapa yang terima dia?” gumam Tuan Kim menghela nafas. Eun Ho pun bisa menjawabnya.
“Itu Kau, karena latar belakang pendidikannya yang kuat.” Keluh Eun Ho sambil bergumam. Tuan Kim tak percaya kalau Eun Ho bisa mendengar suara hatinya.
“Apa Kau punya kekuatan super? Apa Kau bisa baca pikiran orang?” gumam Tuan Kim melotot tajam pada Eun Ho. 
“Untuk edisi pertama, agar aman, cetak 5.000 eksemplar. Apa Sudah punya tema pemasaran?” tanya Eun Ho
“Ya, timku sudah siapkan presentasi... Ini punyaku, silakan lihat.” Kata Park Hoon membagikan berkasnya. Dan Yi senang menerimanya.
“Penulisnya benar-benar pemula.” Komentar Nyonya Go sinis. Nyonya Seo memberitahu kalau Ceritanya bagus jadi itu fokus utama strategi pemasaran mereka.
“Ini ide bagus... Ringkasan plotnya dalam bentuk komik web, itu akan menarik pembaca.” Kata Tim pemasaran yakin
“Kenapa ide ini hebat?” kata Nyonya Go sinis. Si pria merasa  tak tahu banyak soal pemasaran.
“Kita harus cari seniman komik web dan ringkas plotnya. Kurasa akan terlalu lama.” Kata Nyonya Go
“Lalu apa idemu?” tanya Nyonya Seo sinis. Nyonya Goo menjawab  untuk menetapkan target pembeli. Nyonya Seo menjawab sudah, usia 20-an dan 30-an.
“Tidak banyak orang yang suka komik web.” Balas Nyonya Goo, Nyonya Seo mengatakan akan mencari seniman komik web paling populer...
“Itu lebih mahal daripada biaya penulis.” Ucap Nyonya Goo. Nyonya Seo pikir Anggaran pemasaran mereka mampu...
“Fokus pemasaran daring. Kita targetkan komunitas penggemar genre fiksi.”ucap Nyonya Goo
Eun Ho pikir itu ide yang bagus. Tuan Kim pun ingin tahu pendapat timnya. Nyonya Seo tak terima pemasaran secara online menurutany Selagi menunggu berita menyebar di online, kehilangan kesempatan toko offline.  Nyonya Goopikir tak ada bedanya ruang online dan offline saat ini. Nyonya Seo tahu harus lakukan pemasaran Online tapi menurutnya komik web...
“Itu... Aku juga punya ide.” Ucap Dan Yi mengangkat tanganya tapi dua senior tak menanggapinya.
“Hapus ide komik web, Mengungkap cerita tak akan berguna. Ceritanya akan bocor.” Ucap Nyonya Goo
“Tapi itu tetap akan menarik para pembaca. Kini, orang lebih tertarik visual daripada teks.” Kata Nyonya Seo
“Apa Ada lagi yang bisa disorot dalam pemasaran?” tanya  Tuan Kim ingin menyudahi dua wanita yang adu mulut.
“Bagaimana jika tak usah disampul?” ucap Dan Yi, Nyonya Goo mengeluh Dan Yi yang terus menyela.
“Kenapa tak dengarkan dia karena tak ada yang punya ide?Apa Kau tak penasaran idenya?” ucap Eun Ho menyembunyikan semangatnya. Tuan Kim pun meminta Dan Yi agar mengatakan. 
Dan Yi memasang USB dan sudah membuat power point, Nyonya Goo mengeluh menggunakan itu padahal caranya sangat kuno dan Kini semua cara digital. Dan Yi seperti tak peduli berdiri didepan power point yang bertuliskan [PROYEK BUKU TAK TERGANTIKAN] Mereka pun mulai memuji itu sangat keren.
“Kini, para pembaca pemilih... Makin cepat merilis buku, mereka makin cepat bosan. Tapi jika tak dipasarkan, mereka akan lupa. Namun, jika ada yang unik soal buku itu dan membuat buku itu menonjol, orang-orang akan tertarik.” Jelas Dan Yi. Eun Ho mendengarkan dengan wajah serius.
“Aku ingin tahu apa yang bisa membangkitkan rasa penasaran mereka dan kita harus fokus pada fakta bahwa penulis adalah pemula.” Kata Dan Yi. Nyonya Goo membenarkan dengan wajah sinis.
“Pemula tak punya prestasi untuk dibanggakan. Jika ragu pada apa yang bisa kita tunjukkan, bagaimana jika rahasiakan saja penulis atau bukunya? Jangan tunjukkan apa-apa... Begitulah aku terpikirkan ide Proyek Buku Tak Tergantikan ini.”jelas Dan Yi
Ia membuat power point bertuliskan [TANPA PENULIS, JUDUL, SINOPSIS] Ia membuat seperti sebuah hadiah, karena Tak ada yang akan melihat nama penulis, sinopsis, atau juduljadi dianggap Seperti sebuah hadiah.



“Entah apa yang akan kau dapatkan... Kegembiraan merobek kertas pembungkus. Meskipun kubeli dengan uang sendiri, aku tak tahu apa isinya. Hadiah untuk diriku sendiri.” Ucap Dan Yi
“Itu menarik. Lagi pula, penulisnya belum terkenal.” Ucap Nyonya Seo dan yang lainya.
“Jika dibaca di toko, semua yang rusak akan dikembalikan.” Ucap Park Hoon melihat tulisan dillayar
“Proyek ini adalah soal buku tak tergantikan dipilih olehmu, hanya dirimu sendiri. Hadiah spesial untuk dirimu. Itu ide utama proyek ini.” Jelas Dan Yi
“Tapi, jika tak diberi petunjuk, apa orang-orang akan beli buku yang sepenuhnya tertutup ini? Bahkan komik pun sampulnya tampak. Kenapa orang mau beli buku yang tak mereka tahu?” kata Nyonya Kim sinis
“Itu sebuah buku, Karena dijual di toko buku. Saat kita membuka hadiah, kita biasanya tak tahu apa isinya.” Ucap Eun Ho, Semua membenarkan.
Tuan Kim pikir  "Butuh kepercayaan diri untuk buka buku tanpa tahu isi bukunya." Dan Orang akan pikir begitu dan penasaran. Eun Ho pikir  Jika mereka  tulis kutipan kunci dari buku di pembungkusnya. Dan Yi merasa Eun Ho  sudah membaca pikirannya .
“Apa pun yang mau kita sorot bisa dicetak di pembungkus. Itu juga memberi tahu pembaca genre buku itu.” Kata Dan Yi memberikan contoh. Tuan Kim pikir bisa mencobanya.
“Ya, lagi pula kita sudah kehilangan Ji Seo-Joon, Anggap saja pembungkus sebagai sampul. Itu akan menarik perhatian orang.” Kata Tuan Bong
“Jika proyek ini sukses, bisa kita aplikasikan ke terbitan berikutnya.” Komentar Nyonya Song
“Baik. Nona Song, kau yang edit ini, kerjakan proyek ini dengan Dan Yi” kata Tuan Kim. Hae Rin menganguk mengerti.
“Baik. Jika tak laku, kita bisa lepas kertas pembungkusnya.jadi Kita tak akan rugi.. Itu ide baru.. ide yang brilian.” Puji Tuan Kim lalu keluar dari ruangan.
Park Hoon pun ikut bahagia, Eun Ho keluar dari ruangan dengan senyuman begitu juga Nyonya Seo yang memuji Dan Yi. Sementara Nyonya Goo terlihat makin sinis. Saat masuk ruangan Nyonya Goo membanting  bukunya lalu mencoba menenangkan diri. 



Dan Yi melihat papan pegumuman ["KISAH TENTANG KAU DAN AKU" DUNIA ABU-ABU - EDITOR: SONG HAE-RIN, PEMASARAN: KANG DAN YI] wajahnya terlihat senyum bahagia.
“Kau sudah dapat tugas pemasar untuk sebuah proyek... Aku bangga padamu, Dan Yi. Kau tahu kacang bagus untuk otak, 'kan? Makan ini, pertahankan kinerjamu.” Kata Park Hoon lalu memberikan makanan untuk Dan Yi.
Dan Yi bertemu dengan Eun Ho di lorong, tangan Eun Ho menepuk pundak Dan Yi seperti memberikan rasa bangga, saat keluar dari gedung kedua tanganya terangkat memberikan semangat pada Dan Yi. Dan Yi tersenyum bahagia. 

Hae Rin melihat Eun-ho masih ada di perpustakan. Eun Ho bertanya apakah Hae Rin sudah mau pulang. Hae Rin mengaku sudah menemukan banyak kasus soal pemasaran dengan pembungkus dan Itu pernah dilakukan di Inggris dan Jepang lalu tanggapannya lumayan.
“Aku akan memberi tahu Dan Yi” ucap Hae Rin. Eun Ho pikir Dan Yi sudah liat. Hae Rin pun berpikir seperti itu.
“Benar. Dari presentasi tadi, aku bisa tahu dia melakukan riset pasar keseluruhan.”ucap Hae Rin
Eun Ho melihat berkas yang dibawa Hae Rin lalu meminta agar mendekat. Hae Rin mengeluh karena pasti melakukan kesalahan jadi Eun Ho akan memberikan sentilan dikepalanya. Eun Ho sudah siap, tapi malah mengeluh kepala Hae Rin.
“Kau cukup hebat... Maksudku, soal Park Jeong-sik... Kau berusaha keras setelah membaca karyanya. Tidak kusangka itu berhasil karena dia tak punya dasar. “ucap Eun Ho bangga
“Penulis genre fiksi yang dulu menulis novel web kini berdiri di hadapanku. Aku tahu fondasi bisa dibangun seiring waktu.” Kata Hae Rin dengan senyuman.
“Aku baca bukunya saat menyiapkan rapat, Bukunya bagus... Tiga tahun terakhir, dia menyerah.. dua kali, tapi kau bawa dia sejauh ini... Aku terkesan.” Puji Eun Ho
“Jangan hanya bicara. Belikan makan malam.” Pinta Hae Rin, Eun Ho bertanya apa yang mau dimakan.
“Ayo ke sana. Restoran di Gunung Bukak... Kita ke sana musim gugur lalu.” Kata Hae Rin dengan penuh semangat.
“Apa Restoran tempat kau dicampakkan pacar ketigamu?” ejek Eun Ho. Hae Rin menegaskan kalau Ia yang mencampakkannya. Eun Ho mengelu kalau itu tak penting dan mengajak bertemu di tempat parkir 10 menit lagi. 



Hae Rin tersenyum bahagia bergegas pulang dan masuk lift memakai lipstik lebih dulu karena dianggap kencan dengan Eun Ho. Dan Yi baru turun dari bus bertanya apakah Eun Ho pulang telat. Eun Ho malah ingin tahu alasan Dan Yi menanyakan
“Aku akan makan udon jika kau pulang telat.” Ucap Dan Yi. Eun Ho ingin tahu Dan Yi akan makan di mana
“Ada restoran bagus... Jaraknya tujuh menit jalan kaki dari halte bus. Jadi Akan kubelikan satu danKurasa bisa dibawa pulang.” Ucap Dan Yi
“Tidak, tunggu. Aku ke sana sekarang.” Ucap Eun Ho penuh semangat.

Hae Rin dengan senyuman sumringah sudah siap membuka pintu ketika Eun Ho datang. Eun Ho datang meminta maaf karena ada urusan mendadak jadi harus pulang dan mengajak untuk makan lain kali.
“Kurasa aku akan kembali bekerja.” Ucap Hae Rin menutupi rasa kecewanya.
“Mari makan setelah bukunya terbit”ucap Eun Ho, Hae Ri pun menyuruh Eun Ho segera pergi saja karena akan kembali ke kantor. 

Di restoran CAMELLIA
Dan Yi makan udon dengan Eun Ho merasa  Menyenangkan makan di luar setelah kerja menurutnya seperti mimpi dengan wajah sumringah. Eun Ho bertanya ingin tahu hidup Dan Yi selama 11 tahun terakhir. Dan Yi menceritakan kalau  tak berangkat kerja karena tak punya pekerjaan.
“Menurutmu Nona Song bagaimana? Aku akan mengerjakan buku Park Jeong-sik dengannya. Dia seperti apa? Apa dia dingin?” tanya Dan Yi penasaran.
“Tidak sama sekali... Dia kompeten, cerdas, dan bisa pisahkan urusan pribadi. Kau tak tahu dia keras pada pegawai baru, 'kan? Terutama Ji Yool. Ji Yool harus bersyukur bertemu senior seperti Hae-rin.” Ucap Eun Ho penuh semangat.
Dan Yi menatapnya, Eun Ho heran melihat tatapan Dan Yi seperti curiga. Dan Yi yakin kalau Bra merah itu punya Nona Song, Eun Ho menegaskan kalau ada pakaian lain juga. Dan Yi tahu aklau Eun Ho berkencan dengan  Hae-rin, si Penyihir Kecil.
“Kenapa berpikir begitu?” keluh Eun Ho, Dan Yi pikir tak salah berpikir aklau Eun Ho ke rumahnya saat mabuk tempo hari.
“Lalu kau ke rumah siapa? Kukira kau berbaikan dengannya hari itu. Lalu kenapa pakaiannya ada di rumah kita?” ucap Dan Yi yakin
“Menurutmu kenapa? Apa itu mengganggumu?” tanya Eun Ho, Dan Yi terlihat binggung
“Dia ke rumahku saat mabuk untuk bicarakan pekerjaan dan pacarnya. Baginya, aku senior di tempat kerja yang dia hormati. Bagiku, dia junior yang manis. Orang tuanya menganggapku rekan kerja putrinya. Kurasa itu alasan mereka beri kimchi.” Jelas Eun Ho
“Kukira kau memacarinya.”komenta Dan Yi Yakin. Eun Homenyruh Dan Yi agar mengurus urusan Dan Yi  sendiri karena ini hidupnya.
“Kau bahkan tak peduli siapa yang kupacari.” Komentar Eun Ho bergegas pergi karena sudah selesai makan. Dan Yi mengeluh karena belum selesia makan. 




Eun Ho membayar makanan,  Si bibi menyebut Totalnya 23.000 won lalu berkomentar kalau keduanya pasti kakak-adik karena tampak sangat akrab, jadi berpikir kalau mereka pasangan. Eun Ho menatap Dan Yi lalu mengaku kalau bukan kakak-adik lalu mengajak Dan Yi pergi. Dan Yi yang masih makan pun terpaksa pergi. 

Hae Rin sedang ada di kantor, wajahnya terlihat sangat kecewa teringat kembali yang dikatakan Eun Ho saat mengembalikan bajunya.
“Jangan mampir saat mabuk, kau Tidak boleh lagi... Kini aku tinggal dengan wanita. Jadi, tak boleh datang... Maaf, aku ada urusan mendadak.”
Hae Rin pun makin penasaran siapa wanita yang ada dirumah Eun Ho. 

Dan Yi mengeluarkan buku tabunganya pergi ke ATM karena ingin mengecek apakah sudah gajian. Eun Ho yang melihatnya merasa kalau harus memberitahu Dan Yi  ada “mobile banking” Dan Yi dengan wajah bahagia kalau sudah Kerja bagus dan kerja keras bulan ini.
“Ini gaji pertamaku... Wah.. Dong Min pasti gila.” Ucap Dan Yi melonggo lalu memastikan pada Eun Ho kalau yang dilihatnya bukan sesuatu yang salah. Eun Ho hanya bisa menahan senyum. Dan Yi ingin tahu uang apa itu.
“Mungkin uang alimentasi.”kata Eun Ho pura-pura tak tahu.
“Dia bilang tak punya uang saat kami berpisah. Bahkan Katanya tak punya uang.” Ucap Dan Yi. Eun Ho bertanya apakah Dan Yi tak menghubunginya.
“Dia bahkan tak pernah menelepon Jae-hui.” Keluh Dan Yi. Eun Ho pikir bisa saja Dong Min mengabari lewat email. 

Dan Yi duduk di meja membaca email dari Dong Min “Hai, Dan Yi. Ini aku. Sudah satu tahun sejak kita berpisah. Aku sungguh repot saat itu.” Ia tak percaya Dong Min mengirimkan email bahkan memberikan uang padanya setelah bercerai.
“Astaga.... Kenapa dia? Dia keren! Dia luar biasa... Itu uang alimentasiku... Tunjangan Jae-hui.” Ucap Dan Yi tak percaya
“Kau bilang "Astaga. Keren. Luar biasa." Jangan katakan itu. Kau penerbit buku.” Keluh Eun Ho yang baru selesai mandi.
“Itu menyenangkan dan Membuatku merasa seperti pengacau lagi. Tapi ada apa dengan Dong-min? Mungkinkah dia tiba-tiba merasa kasihan pada Jae-hui?” kata Dan Yi heran.
“Kenapa kau menyukainya? Aku masih tak paham alasanmu jatuh cinta kepadanya.” Komentar Eun Ho
“Aku juga tak tahu. Kurasa aku tak pernah memikirkan cinta secara mendalam. Sejak aku bertemu dengannya, dia orang yang menyenangkan dan baik padaku. Saat itu aku cukup bodoh karena menganggap itu cinta.” Komentar Dan Yi
“Bagaimana sekarang? Menurutmu apa itu cinta?” tanya Eun Ho
“Aku tak yakin. Jika itu memang cinta, aku rasa itu agak membosankan. Tapi saat itu perasaanku untuknya memang tulus. Jadi, tampaknya itu cukup.” Kata Dan Yi
“Artinya kau tak pernah jatuh cinta.” Kata Eu Ho. Dan Yi juga berpikir seperti itu karena  tak bisa berbuat apa pun.
“Semuanya sudah selesai bagiku... Ayo pergi akhir pekan. Aku sudah gajian. Aku yang bayar dan sudah lama aku tak traktir.” Ucap Dan Yi penuh semangat.

Bersambung ke part 2

 Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Jumat, 08 Februari 2019

Sinopsis Touch Your Heart Episode 2 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN

Buat kalian yang suka membaca tulisan aku meminta dukungan dalam bentuk "Subscribe" You tube karena sedang mencoba mengumpulkan 1,000 Subscribe. 
Tinggal Klik disini, buat yang sudah Subscribe. Terimakasih banyak. Semoga bisa sampe bulan ini 



Manager Gong menerima telp dari Yoon Seo yang ingin makan mie kalguksu dan aka membawakanya. CEO Yeon bertanya ada apa. Manager Gong memberitahu Yoon Seo meminta untuk membawakan mie kalguksu karena tidak punya siapa-siapa untuk makan. CEO Yeon pun menyuruh memesan saja.
“Bukannya dia memintamu untuk membeli seluruh restoran. Ngomong-ngomong, bukankah Yoon Seo terlihat sangat cantik, Apa dia makan sesuatu?”ucap CEO Yeon.
“Dia benar-benar makan dengan baik.” Kata Manager Gong. CEO Yeon juga yakin kalau memang cantik.
“Itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Aku menandatangani dia di sana,  Dia sangat cantik.” Cerita CEO Yeon, Manager Gong penasaran mendengarnya. 

Flash Back
(14 tahun yang lalu)
CEO Yeon didepan warung bungepang, sambil menelp mengaku tidak berpikir bekerja sebagai manajer selebriti cocok untuk dirinya dan berpikir kalau mendapatkan pinjaman dan membuka toko. Saat itu seorang pelajar membeli empat bungeoppangs.
“Mari kita makan soju suatu hari... Belikan aku minuman.” Kata CEO Yeon lalu menutup telpnya.
Si pelajar yang baru membeli kue, dihampiri teman lainya mencari diman menyembunyikan bungeoppang, tapi si pelajar mengelak dan menyembunyikanya. Temanya tahu kalau pasti bohong dan akhirnya menemukan dibalik jaket.
Yoon Seo keluar dari jaket temanya memperlihatkan bunggepang, dengan gayanya dibalik jaket. CEO Yeon yang melihat Yeon Seo langsung melonggo terpana. 

Akhirnya Yoon Seo pun mendapatkan tawaran iklan coklat dengan gaya yang sama keluar dari balik jaket. CEO Yeon mengingat masa indah itu mengingat kalau Yoo n Seo menjadi bintang besar setelah syuting iklan itu Dan berkat itu juga dirinya menjadi stabil secara finansial.
“Waktu benar-benar cepat... Aku akan memastikan Yun Seo kembali berdiri... Tiba-tiba aku menangis.” Ucap CEO Yeon menangis haru.
“Apakah Kau pikir itu terkena andropause? Cowok dengan andropause tampaknya tidak bisa mengendalikan emosi mereka.” Kata Manager Gong. CEO Yeon kesal menyuruh diam saja.
Tuan Yoon menelp CEO Yeon, seperti meminta sesuatu. CEO Yeon mengerti berpikir kalau jangan khawatir dan menutup telpnya. CEO Yeon meberitahu kalau Min Ji harus pergi ke pinggiran kota dalam perjalanan bisnis menyuruh Manager Gong untuk pergi bersamanya karena Tuan Yoo sedikit sakit.
“Lalu siapa yang akan mengurus Yoon Seo ...” kata Manager Gong khawatir.
“Katakan padanya untuk naik taksi. Maksudku, kau bisa memberikan makanan untuknya.  Min Ji sedang naik daun sekarang. Dia layak mendapatkan dukungan penuh kita... Kau seorang manajer jadi Kau harus tahu itu.” Ucap CEO Yeon. Manager Gong menatap dingin.
“Apa yang salah? Apakah kau merasa kesal?” kata CEO Yeon sinis, Manager Gong hanya bisa terdiam. 


Yoon Seo makan di dalam mobil merasa pikir makananya masih baik dan hangat karena mie tidak menjadi lembek sama sekali. Manager Gong mengaku sudah berusaha sangat keras untuk mencegah mie lembek sehingga Yoon Seo bisa memakannya dalam kondisi terbaiknya.
“Kau benar-benar yang terbaik... Aku akhirnya merasa sedikit lebih baik sekarang.” Ucap Yoon Seo
“Aku kira itu sepadan dengan usaha ku... Tapi kenapa kau tidak makan siang dengan rekanmu?” tanya Manager Gong
“Bagaimana aku bisa makan bersama mereka setelah apa yang terjadi kemarin?” keluh Yoon Seo
“Ya. Ngomong-ngomong, apakah pengacara kasar itu meminta maaf?” tanya Manager Gong
“Dia tidak meminta maaf. Sebaliknya, dia mengatakan kepada ku bahwa dia tidak melakukan kesalahan.” Akui Yoon Seo
“Dasar Punk kecil kasar itu pasti sudah gila. Jika aku bertemu dengannya, aku akan memastikan aku memberinya pelajaran.” Kata Manager Gong marah


Saat itu Yoon Seo panik melihat Jung Rok langsung mengajak manager Gong bersembunyi.  Manager Gong bertanya siapa yang dimaksud, Yoon Seo memberitahu kalau Pengacara yang kasar baru saja datang. Manager Gong sudah siap membalas dendam.
“Tahan amarahmu.” Ucap Yoon Seo, tapi Manager Gong malah berkomentar kalau Jung Rok sangat tampan.
“Dia tidak tampan. Coba Lihatlah dia.” Kata Yoon Seo meminta agar memastikan.
“Aku melihat lagi, dan dia masih sangat tampan.” Akui Manager Gong, Yoon Seo menatap marah. Manager Gong pun mengaku kalau Jung Rok memang terlihat seperti musang.
“Tapi Kenapa kau bersembunyi?” tanya Manager Gong. Jung Rok pikir sudah mengatakan dengan jelas
“Cerita tujuanku adalah bahwa aku mulai lagi dengan pekerjaan ini. Aku tidak bisa dilihat dengan manajerku. Dan Juga, makan mie kalkugsu di dalam mobil  jauh dari elegan.” Ucap Yoon Seo akan pamit pergi.
“Seorang sekretaris yang sempurna tidak pernah meninggalkan posisinya.” Kata Yoon Seo mengibaskan rambut lalu turun dari mobil. Manager Gong akhirnya menghabiskan makaan Yoon Seo mengaku Jung Rok memang benar-benar tampan.

Min Hee dkk sedang makan siang bersama, Eun Ji merasa makanan direstoran yang mereka pesan enak jadi harus sering memesan. Tuan Lee yang mendengarnya langsung menyimpan brosur agar bisa mengajak makan. Min Hee pun ingin tahu Yoon Seo yang tidak bergabung untuk makan.
“Sebenarnya, aku pikir dia tidak makan siang sama sekali. Dia pasti malu tentang  jatuh di depan kami tadi malam.” Kata Eun Ji 
“Menilai dari apa yang dia katakan saat mabuk, dia tidak bisa makan sendiri. Aku ingin tahu dengan siapa dia akan makan hari ini?” kata Min Hee. Diam-diam Jung Rok mendengarkanya.
“Apakah dia akan minum teh air mata Ayub lagi? Aku melihat dia meminumnya untuk makan siang setiap kali Pak Kwon tidak ada.” Kata Hae Young


Jung Rok masuk ruangan dengan wajah sedih seperti merasa bersalah, Yoon Seo masuk ruangan dengan wajah sumringah menyapa bosnya. Jung Rok hanya diam saja, Yoon Seo bingung melihat Jung Rok hanya diam saja dan bertanya Apakah ada sesuatu yang dibutuhkan.
“Ayo makan siang... Kau mungkin mengalami mabuk, jadi bagaimana dengan mie kalguksu?” ucap Jung Rok. Yoon Seo kaget mendengarnya.
“Aku pikir tidak perlu melakukannya.” Ucap Yoon Seo menolak. Jung Rok ingin tahu alasanya.
“Aku mencoba menurunkan berat badan.  Ya, tiba-tiba aku merasa perlu untuk itu.” Ucap Yoon Seo. Jung Rok mengerti lalu pamit pergi.
“Wahh.. Itu tiba-tiba... Tidak bisakah dia bertanya lebih awal?” keluh Yoon Seo. 

Yoon Hyuk akan makan sandwich, lalu melonggo melihat seseorang didepan restoran. Min Hee sdang sibuk memakai lipstik bahkan memasukan jarinya ke mulut untuk memastikan tak ada yang lipstik yang menempel di gigi.
Yoon Hyuk mengeluh melihatnya. Min Hee masuk restoran dengan wajah acuh, tapi saat itu pelayan menyapa Min Hee.
“Roti oat honey dengan saus mustard madu, kan?” kata Si pegawai yang masih muda.
“Honey.... Ya, itu pesanan ku... Bagaimana kau mengingatnya?” ucap Min Hee tersipu malu.
“Kenapa tidak? Kau adalah pelanggan istimewa... Kau bisa melihat, kau sangat mirip dengan nenekku... Kau merasa seperti keluarga bagi ku, jadi bisakah aku memanggilmu "Bibi" mulai sekarang?” ucap  Si pegawai polos. Min Hee yang mendengarnya terlihat marah dan sedih.
Min Hee melirik melihat Yoon Hyuk bisa mendengar ucapan si pegawai. Yoon Hyuk tersenyum licik sambil memakan sandwich. 


Min Hee berlari keluar dari restoran, Yoon Hyuk mengejarnya karena  tidak bisa mengabaikan orang seperti ini dan tidak mengakuinya. Min Hee meminta Yoo Hyuk agar melupakan semua yang dilihat di sana. Yoon Hyuk bertanya apa yang dilihatnya.
“Aku sibuk dengan sandwich untuk memperhatikan apa pun.” Akui Yoon Hyuk. Min Hee seperti percaya.
“Tapi Yang aku dengar adalah karyawan yang kau minati mengatakan kau terlihat seperti neneknya, dan bahwa dia ingin memanggilmu "Bibi" mulai sekarang... Selamat untuk keponakanmu!” ejek Yoo Hyuk
“Cukup....” kata Min Hee marah. Yoo Hyuk meminta Min Hee agar jangan terlalu terluka karenanya.
“Kau akan segera jatuh cinta sebentar lagi... Itulah kau” ejek Manager Gong. Min Hee marah langsung berjalan pergi.


Yoon Seo masuk ruangan menawarkan secangkir kopi. Jung Rok menolak karena merasa baik-baik saja. Yoon Seo pikir ini jam 3 sore dan itu adalah jam ketika orang merasa paling lelah jadi akan membawa cangkir dengan cepat untuk meningkatkan produktivitasnya. Jung Rok tetap menolak tapi Yoon Seo tetap pergi. 

Dipantry
Min Hee mengeluh kalau ini memalukan karena tertangkap basah oleh Yoon Hyuk dari semua orang yang dikenalnya. Hae Young pikir tak peduli karena ini bukan seperti yang pertama. Min Hee kaget dengan tanggapan Hae Young.
“Jika aku lebih cantik, jika aku secantik dan langsing seperti Oh Yoon Seo Aku tidak akan diperlakukan seperti ini. Aku yakin dia tidak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya.” Ucap Min Hee.
“Tentu saja tidak.. Coba Lihat saja pengacara kami. Juga, banyak selebritas pria secara terbuka mengatakan bahwa dia adalah wanita ideal mereka. Dia sangat populer.” Kata Hae Young
“Benar, Aku tidak heran mengapa dia dikabarkan akan bersama putra seorang CEO konglomerat.” Ucap Min Hee.
Yoon Seo akan masuk mendengar dari depan pintu,  Hae Young membahas tentang skandal narkoba. Min Hee pkir kalau Yoon Seo sudah diputuska n tidak bersalah. Hae Young membahas kalau bukan yang itu kalau ingin tahu hubungannya dengan putra seorang CEO konglomerat.
“Itu fakta bahwa dia ada di tempat kejadian.”ucap Hae Young, Yoon Seo terus mendengarnya. Saat itu Jung Rok juga bisa melihat Yoon Seo
“Kau benar. Dia tidak akan berada di sana bersama orang asing... Aku melihat di tabloid baru-baru ini ... “  ucap Min Hee 


Saat itu Yoon Seo langsung masuk dengan senyuman mengaku kalau melihat mereka berdua di pantry berpikir kalau pasti menikmati teh. Ia mengaku untuk mendapatkan secangkir kopi untuk pengacara Kwon lalu melihat Min Hee yang merias wajah hari ini.
“Aku selalu memakai makeup.” Kata Min Hee. Hae Young pun hanya bisa tersenyum
“Itu tampak hebat hari ini.” Puji Yoon Seo dengan senyuman. Jung Rok melihat Yoon Seo bisa tersenyum hanya bisa diam saja.

Jung Rok sudah duduk di meja kerjanya. Yoon Seo datang dengan sopan mengetuk pintu memberikan secangkir kopi hitam. Jung Rok pun mengucapkan terimakasih lalu terus menatap kasihan pada Yoon Seo.
Saat kembali duduk Yoon Seo terlihat menahan sedih, Jung Rok seperti bisa melihat Yoon Seo yang didepanya tersenyum tapi sebenarnya menahan rasa sedih. 

Di dalam mobil
Manager Gong melihat Yoon Seo hanya diam saja bertanya ada apa. Yoon Seo mengaku tak ada apa-apa. Manager Gong bertanya  Apakah pengacara itu memberimu kesulitan lagi  karena  akan memberi tahu Pak Yeon dan minta menukar pengacara.
“Tidak apa-apa. Seperti yang aku katakan, Aku akan menjadi sekretaris terbaik dan membalas dendam ku padanya. Aku mendapatkannya kembali untuk banyak hal hari ini. Aku menghubungkan teleponnya, menguasai mesin fotokopi, dan bahkan membawakannya secangkir kopi yang sempurna.”kata Yoon Seo
“Aku bangga padamu... Ngomong-ngomong, kau akan pergi ke kantor besok sendiri. ku tidak bisa menjemputmu” ucap Manager Gong. Yoon Seo kaget ingin tahu kenapa.
“Aku memiliki pelatihan pertahanan sipil.” Akui Manager Gong, Yoon Seo binggung apa yang dilakukan besok.
“Naik taksi saja” kata Manager Gong, Yoon Seo mengaku tidak suka mereka.
“Aku benci ketika pengemudi mengenali ku juga.” Akui Yoon Seo. Manager Gong tahu.
“Aku akan memberimu sopir, tetapi semua manajer sibuk besok.” Jelas Manager Gong. Yoon Seo mengerti.
“Aku akan mengelola besok ku sendiri, semoga sukses di pelatihan. Lalu Oppa... Apakah Kau bertugas di militer?.” Kata Yoon Seo. Manager Gong membenarkan.
“Kau anggap aku apa? Aku melayani di salah satu unit terberat. Kurasa aku terlalu lembut denganmu. Biarkan aku mempercepat sedikit.”ucap Manager Gong mengemudikan mobilnya. 



Seo Won sibuk dengan berkas di ruang TV, Jung Rok baru saja datang. Seo Won melihat Jung Rok pulang lebih awal bertanya apakah sudah makan malam. Jung Rok mengaku belum.  Seo Won pun sengaja menunggu Jung Rok.
“Bukankah aku teman sekamar yang sempurna? Tidakkah kau berharap aku terus bertahan?” kata Seo Won.
“Kau keluar secepatnya.” Kata Jung Rok. Seo Won mengeluh dengan sikap Seo Won yang bersikap sekeras itu
“Yeo Reum mungkin akan mengajakmu minum segera... Dia mungkin stres karena aku... kau harus ...” ucap Seo Won. Jung Rok meminta agar jangan menyeret ke urusan mereka.
“Ayolah. Yeo Reum menyukaimu, kau tahu itu.. Dia mempercayai dan mengandalkan mu.” Kata Seo Won
“Jika itu masalahnya, dia akan memilihku daripada kau... Jangan sesumbar. Itu menyebalkan..” tegas Jung Rok
“Berhentilah menjadi biang kerok, kan? Nada sedikit marah itu... Jika bukan karena aku, tidak akan ada orang yang bisa menanggungmu. Sekretaris baru mu akan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kepribadian mu.” Ucap Seo Won. Jun Rok tak peduli lalu masuk ke dalam ruang kerjanya. 


Jung Rok masuk ruangan melihat berkas “Aplikasi untuk Perintah Melawan Pengalihan Properti” teringat kembali saat berbicara dengan Yoon Seon kalau tidak bisa melihat berkas yang harus diulas segera padahal sudah meminta untuk bersantai saja.
“Aku mencoba yang terbaik di sini, jadi kau tidak harus begitu jahat. Aku mungkin tidak tahu bagaimana melakukan banyak hal, tapi aku mau belajar, Kau tahu.” Ucap Yoon Seo
Saat itu Jung Rok bisa melihat wajah Yoon Seo menahan amarah karena digossipkan oleh rekan kerjanya sendiri. Ia pun berusaha tersenyum dengan orang-orang yang membicarakan begitu juga dirinya, tapi saat sedang sendiri Yoon Seo terlihat sedih.


Pagi hari
Yoon Seo mengemudi mobilnya dengan sangat pantai, berbelok ke kanan dan kiri dengan santai. Tapi saat itu mobilnya tak bergerak dari rumahnya, karena hanya berkhayal kalau itu cara yang harus dilakukan untuk mengemudi.
“Baiklah. Selama aku tidak gugup... Aku akan bisa sampai di sana dengan aman... Siap...” kata Yoon See yakin menginjak gas keluar dari gerbang rumah. 

Tapi Yoon Seo malah membuat keributan di jalan raya karena membawa mobil sangat pelan. Beberapa mobil mencoba menyalipnya sambil menyalakan klakson karena marah. Seorang pria berteriak marah supaya Yoon Seo lebih baik mengemudi dengan benar
“Hei... Turunkan jendela mu. Keluar dari mobil! Hei! Aku bilang untuk turun dari mobil! Apa Kau tidak turun? Baik, kamu sudah mati sekarang.” Teriak Si pria akhirnya pindah jalur di depan Yoon Seo.
Yoon Seo pun melihat kalau sebentar lagi akan sampai kantonya tapi Si pria malah menginjak rem mendadak. Yoon Seo panik berpikir baru saja menabrak mobil itu.
Yoon Seo membayangkan ada berita tentang dirinya, dengan wajah panik.
“Aktris Oh Yun Seo telah menyebabkan keributan di depan umum. Dia telah pensiun sementara karena skandal narkoba dua tahun lalu. Aktris Oh Yun Seo  sedang dikritik kali ini karena mengemudi sembrono. Dia dikritik.” 

Si pria sudah turun dari mobil menyuruh Yoon Seo untuk turun dari mobil karena sudah merusak mobilnya. Yoon Seo menutup wajahnya berusaaha menelp Manager Gong tapi tak menjawab telepon. Si pria sangat marah ingin memecahkan jendela ini.
“Hentikan... Kau bisa bicara denganku mulai sekarang... Aku pengacaranya.” Ucap Jung Rok datang. Si pria melonggo begitu juga Yoon Seo
“Jika kau seorang pengacara, apakah kau pikir kau bisa membiarkan kejadian ini?” ucap Si pria menantang.
“Tentu saja kita tidak bisa membiarkannya.. Dan aku juga tidak akan membiarkan apa yang kau lakukan saat mengemudi” kata Jung Rok. Si pria merasa tak melakukan apapun.
“Apa yang kau lakukan disebut mengemudi untuk balas dendam, atau mengemudi sembrono. Menurut pasal 151-2 UU Lalu Lintas Jalan, itu bisa dihukum hingga 1 tahun penjara atau denda 5.000 dolar.” Kata Jung Rok. Yoon Seo terpana melihat Jung Rok
“Dengarkan aku. Wanita ini berjalan ke mobil ku dari belakang dulu!” kata si pria.
“Kita dapat memeriksa dashcam dan melihat apa yang terjadi. Kami juga akan dapat memeriksa apakah kau mengubah jalur tiba-tiba  tanpa menyalakan lampu sen mu.” Kata Jung Rok
“Kalau dipikir-pikir, itu bahkan bukan goresan besar. Hal-hal seperti ini terjadi setiap saat kita mengemudi. Jika kita marah satu sama lain karena sesuatu seperti ini  dan bereaksi berlebihan, itu buruk bagi kita berdua. Aku akan mempertimbangkan, jadi mari kita menyelesaikannya.Ayo keluar” ucap Si pria panik.
“Tidak. Mari kita selesaikan sesuai dengan hukum... Aku cukup menyukai hukum.” Kata Jung Rok menantang. 


Akhirnya Jung Rok dan Yoon Seo masuk ke dalam lift, Yoon Seo menatap Jung Rok dibalik kacamata hitamnya. Jung Rok bertanya alasan Yoon Seo menatapnya. Yoon Seo menyangkalnya kalau tidak menatapnya. Akhirnya Jung Rok yang menatap Yoon Seo.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”kata Yoon Seo gugup.
“Aku ingin tahu apakah kau tidak harus pergi ke rumah sakit.” Kata Jung Rok. Yoon Seo mengaku tidak harus pergi.
“Aku baik-baik saja... Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu itu aku?” kata Yoon Seo. Jung Rok mengaku melihatnya. 

Flash Back
Jung Rok ada diseberang jalan saat si pria keluar dari mobil berpura-pura baru saja terjadi kecelakaan. Si pria pun berteriak-teriak menyuruh Yoon Seo keluar dan terlihat Yoon Seo ketakutan didalam mobil meminta bantuan.
“Bagaimanapun, terima kasih telah membela  dan membantu ku. Untuk membalas mu, aku akan bekerja sangat keras hari ini.” Ucap Yoon Seo penu semangat. Jung Rok setuju meminta Yoon Seo mengimbangi sikapnya. 

CEO Yeon akan masuk lift melihat Yoon Seo dan Jung Rok dalam satu lift yang sama. Mereka pun saling menyapa, CEO Yeon mengejak ekspresi Jung Rok itu  tegas. Yoon Seo setuju kalau itu terlihat sangat keras.
“Jika kau bertemu Yun Seo pagi-pagi, kau harus tersenyum dari telinga ke telinga. Kaulah yang bekerja paling dekat dengannya. Bagaimana kau bisa begitu tidak ramah? Jika kau bertemu dengannya di luar, kau akan bertindak seperti orang asing. Apakah kau tidak setuju?” ucap CEO Yeon
“ Yah, kurasa.” Ucap Yoon Seo menahan senyuman. CEO Yeon menyuruh Jung Rok agar bisa Tersenyum.
“Aku tahu rasanya sangat aneh ketika kau berada di sekitar Pak Kwon, tapi aku akan sering membantumu, jadi tunggu sebentar, Bu Oh” kata CEO Yeon saat berjalan masuk. Yoon Seo menganguk mengerti.
“Dan Pak Kwon ternyata sangat patuh jika aku memberitahunya dengan tegas. Jadi jika dia menyulitkan mu atau melecehkan mu, beri tahu aku kapan saja. Dan kau seharusnya tidak pernah berpikir untuk berhenti.” Ucap CEO Yeon
“Aku meragukan itu. Dia mungkin orang yang lebih baik dari yang kita kira.” Kata Yoon Seo. CEO Yeon kaget mendengarnya. Yoon Seo pun tak ingin membahasnya. CEO Yeon merasa kalau salah dengar. 




Jung Rok duduk melihat Yoon Seo sedang menguap. Yoon Seo panik buru-buru mengetik di meja kerjanya. Jung Rok memanggil Oh Jin Sim, Yoon Seo menyahut dan tak mengelaknya. Jung Rok  bertanya Apakah kuliah hukum. Yoon Seo membenarkan  kalau hanya untuk semester pertama tahun pertamanya.
“Aku tidak diusir, tapi Aku baru saja memutuskan untuk berhenti. Aku terlalu sibuk dengan jadwalku dan semuanya.” Ucap Yoon Seo
“Pernahkah kau mencari contoh kasus?” tanya Jung Rok. Yoon Seo mengaku tak pernah.
“Jika kau mencari kata kunci di situs web resmi Mahkamah Agung, maka kau akan menemukan contoh-contoh yang relevan. Temukan semua yang relevan dengan kasus ini.” Ucap Jung Rok
“Apa yang harus aku temukan?”tanya Yoon Seo seperti sangat serius berkerja.
“Kasus tentang keluhan kebisingan karena hewan peliharaan. Tidak harus menjadi hewan peliharaan saja. Ini bisa tentang konflik  atau gugatan antar tetangga atau kebisingan antar lantai.”jelas Jung Rok
“Baik. Karena ini adalah pekerjaan pertama ku, aku akan melakukan yang terbaik.” Kata Yoon Seo penuh semangat. 


“Tidak banyak kasus sebelumnya dari yang diharapkan. Terutama, tuntutan hukum tentang keluhan kebisingan karena hewan peliharaan jarang. Tetapi aku ingat sebuah cerita yang ku dengar sebelumnya dan mencarinya.” Ucap Yoon Seo masuk ke ruangan Jung Rok
“Ini bukan kasus di Korea. Namun di AS, seseorang menggugat tetangga karena  hewan peliharaan di sebelah membuat banyak kebisingan, dan memenangkan gugatan. Dan tahukah kau berapa banyak yang ia terima untuk kompensasi? 500 juta dolar. Luar biasa bukan?” kata Yoon Seo
“Kapan kau mendengar tentang kasus itu?” tanya Jung Rok
“Selama tahun pertama ku, kami membuka percobaan tiruan, dan aku ingat tim lain yang menyebutkan kasus ini.” Kata Yoon Seo bangga
Jung Rok pikir itu sudah lama, tapi Yoon Seo masih ingat itu. Yoon Seo mengaku memiliki memori yang cukup bagus Meskipun sutradara film tidak pernah memujiatas aktingnya tapi sering dipuji karena menghafal semua kalimatnya.
“Yah, aku tidak bermaksud membual tentang hal itu. Itu adalah sesuatu untuk dibanggakan.” Ucap Yoon Seo. Jung Rok seperti melonggo binggung  
“Bagaimanapun, ini sangat membantu. kau bisa pergi sekarang.” Kata Jung Rok. Yoon Seo pun keluar ruangan. 


Yoon Seo melihat Jung Rok terus berkerja berpikir kalau bos-nya itu  adalah bintang dari firma hukum ini jadi punya banyak pekerjaan. Ia lalu melihat jam dan ingat Jung Rok  akan membenci jika tidak pulang tepat waktu tapi Jung Rok masuk tetap berkerja.
Jung Rok akhirnya sadar kalau sudah lewat jam kantor dan membereska berkasnya, saat itu melihat Yoon Seo masih ada di meja kerja sambil tertidur. Jung Rok pun mengetuk meja, Yoon Seo setengah mengantuk langsung bangun mengaku tidak tidur.
“Aku hanya memikirkan jadwal mu besok.” Kata Yoon Seo. Jung Rok heran melihat Yoon Seo belum pulang.
“Nah, kalau-kalau kau harus menambahkan sesuatu ke jadwal mu.” Ucap Yoon Seo
“Ayo makan malam.” Ucap Jung Rok, Yoon Seo binggung dengan sikap Jung Rok yang begitu baik hari ini.
“Kau datang dan membantu ku dengan kecelakaan mobil. Sebelumnya kau memberi ku waktu yang sulit, mengatakan bahwa aku tidak akan membantu mu. Tapi hari ini, kau bahkan memberiku pekerjaan. Kau memuji ku, dan sekarang, kau bahkan ingin makan malam... Ini sangat aneh.” Ucap Yoon Seo
“Tidak mungkin. Apakah aku akan diberhentikan? Apakah kau bersikap baik karena ini adalah hari terakhir ku? Apakah makan malam seperti pesta perpisahan? Apakah aku benar?” kata Yoon Seo curiga
“Bukan itu. Maksudku, kita harus makan malam... Ayo pergi.” Kata Jung Rok dan mengajak pergi. 



Mereka sudah ada di restoran daging panggang. Yoon Seo pikir Jung Rok  sering datang ke restoran, karena tidak ada pelanggan jadi berpikir kalau ini restoran terkenal yang tersembunyi. Jung Rok pikir mengaku tidak seperti itu tapi makanannya rasanya tidak enak.
“Dagingnya juga terasa agak kering.” Kata Jung Rok. Yoon Seo heran Jung Rok malah datang ke restoran itu.
“Bukankah kau mengatakan tidak nyaman pergi ke restoran yang ramai?” kata Jung Rok
“Lalu apakah kau datang ke sini untuk ku?” ucap Yoon Seo tak percaya. Jung Rok mengeluh Yoon Seo yang terus memakai kacamata hitam itu.
“Yah, aku kira tidak ada yang akan memperhatikan ku di sini, dan tidak ada seorang pun di sini. Aku akan melepasnya.” Ucap Yoon Seo melepaskan kacamata lalu melihat posternya.
“Aku model iklan soju itu. Apakah kau ingat? Apa Aku tidak pernah berubah? Itu karena aku tidak pernah lupa bagaimana aku pada awalnya. Itu sebabnya aku suka minuman yang sama seperti ku.” Kata Yoon Seo memperagakan iklanya.
Jung Rok hanya bisa melihatnya. Yoon Seo merasa malu lalu berpikir akaan minum banyak hari ini. Jung Reok mengejek Yoon Seo yang sering minum. Yoon Seo mengaku merasa sedih selama pesta penyambutan, dan Hari ini merasa tidak terlalu buruk jadi akan minum lebih banyak.


Saat itu seorang pria masuk mengatakan kalau harus mengganti poster itu di dindingkarena Model perusahaan soju sudah lama berubah. Bibi pemilik pikir mereka tidak memiliki pelanggan jadi tidak akan ada yang melihatnya. Si pria pikir itulah alasanya, akan mengubahnya. Yoon Seo hanya diam saja. Jung Rok terlihat sedih.
“Aku pikir kita datang ke tempat yang sempurna. Mungkin aneh karena jika seseorang benar-benar mengenali ku.” Ucap Yoon Seo mencoba santai. 
“Kau tampak seperti orang yang lebih kuat dari yang ku kira.” Komentar Jung Rok
“Yah, aku sudah terbiasa dengan itu saat menjadi selebriti. Orang-orang bergosip tentang ku sepanjang waktu, dan memposting komentar jahat. Tabloid berbicara tentang hal-hal yang bahkan tidak aku lakukan. Aku sudah mengalaminya untuk waktu yang lama, dan sekarang aku sudah terbiasa. Itu akan bohong jika aku bilang aku benar-benar baik-baik saja dengan itu.” Akui Yoon Seo
“Bagaimana pekerjaan mu di firma hukum?” tanya Jung Rok. Yoon Seo pikir itu sulit sampai sekarang,
“Tetapi hari ini, aku menikmatinya... Hari ini, kau memberiku pekerjaan, memuji ku, dan bahkan membelikanku gopchang sebagai bonus.” Ucap Yoon Seo senang. 


Jung Rok keluar dari restoran melihat poster Yoon Seo berakhir di tempat sampah. Yoon Seo akhirnya keluar pamit pulang lebih dulu, Jung Rok memanggil Oh Jin Sim. Yoon Seo kesal dengan memanggil nama aslinya akhirnya menyahut membalikan badan.
“Sampai sekarang, aku belum pernah memikirkanmu  sebagai sekretaris ku. Kau adalah orang yang akan tinggal sebentar dan pergi... Memang benar bahwa aku dulu menganggap mu sebagai gangguan. Tapi aku ingin mengubah cara ku memikirkan mu mulai sekarang.” Ucap Jung Rok. Yoon Seo binggung.
“Aku ingin memberi mu  kesempatan untuk menjadi sekretaris ku dengan benar. Mari kita mulai dari awal.” Kata Jung Rok mengulurkan tanganya.  Yoon Seo tak percaya mendengarnya.
“Terima kasih, Pak Kwon! Aku benar-benar akan mencoba yang terbaik!” kata Yoon Seo yang berjala mendekat tapi kakinya tersandung. Jung Rok pun langsung menangkapnya.
“Aku... tidak mengelak saat ini.” Kata Jung Rok, Yoon Seo terlihat kaget dengan reakis Jung Rok.
Bersambung ke episode 3
Cek My Wattpad... Stalking 



Cek My You Tube Channel "ReviewDrama Korea"

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09