Sabtu, 31 Oktober 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 13 Part 2

Hye Jin lebih dulu masuk ke dalam ruangan, lalu Sung Joon masuk menyapa semua anggota timnya dan melalui meja Hye Jin. Terlihat senyuman sumringah Hye Jin yang semalam bersama dengan Sung Joon didalam mobil.
Siang harinya, Hye Jin mendatangi bagian timnya yang dulu. Kwang Hee yang melihat Hye Jin berkomentar sangat mempesona. Seul Bi terlihat bangga melihat nama Hye Jin ada di bagian majalah. Kepala Boo bertanya alasan Hye Jin datang ke tempatnya.
“Aku mau cari persediaan barng sekalian mengunjungi keluarga pegawai layanan administrasi.” ucap Hye Jin
“Bagus sekali, mengunjungi!! Kau akan kembali setelah 3 minggu ini kan?” ucap Kepala Boo, Hye Jin binggung karena harus kembali ke tim 3 minggu dari sekarang.
“Waktumu 3 minggu lagi. Coba Lihat!! Aku cek tanggal kau akan kembali sekalian mencoret waktu yang tersisa. Sudah lama sekali menunggumu hingga leherku sepanjang leher jerapah.” jelas Kepala Boo, Hye Jin berusaha untuk tertawa seperti tak rela tiga minggu lagi akan meninggalkan Most. 

Joon Woo menjerit karena ternyata Ten memang benar adalah orang Korea. Semua masih tak percaya, Eun Young melihat dari ponselnya kalau menjadi pencarian pertama tentang Ten.
“Seseorang membaca buku ini dan bertanya di sosmed TEN, "Apa Anda orang Korea?" Dan jawabannya "ya"! Lebih bagusnya lagi, dikonfirmasi secara pribadi oleh TEN.” jelas Joon Woo bangga, semua masih tak percaya.
Tiba-tiba datang seorang pria asing dengan wajah dingin, Poong Ho langsung mengajak High five. Shin Hyuk langsung menepuk tangan Poong Ho dengan bahasa inggris fasih menanyakan apa yang bisa dibantunya. Pria asing itu ingin bertemu dengan Sung Joon, semua terlihat tegang menunjuk ruangan Sung Joon. 

Sung Joon mengantar pria asing sampai ke depan mobilnya, dengan wajah tegang mengingat pembicaraan dengan pria itu “Jika di usia 20 thn Most Korea hilang selamanya, kau akan diingat karena gagal, bukan hanya kau tapi semua tim mu.Lalu, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi.”
Poong Ho langsung bertanya apa yang terjadi ketika Sung Joon kembali keruangan, karena baru kali ini seseorang dari kantor pusat berkunjung. Sung Joon berbohong mengakui itu atasnya dulu dan hanya berkunjung jadi meminta agar semuanya tak perlu khawatir.
“Maaf, WaPemRed... Pihak Kim Shin Hye menanyakan konfirmasi wawancara bergambarnya. Apa yang harus kukatakan? Karena kita tak tahu ada apa, tidakkah sebaiknya kita menyerah saja dengan Leonard Kim dan...” saran Joo Young yang langsung di potong oleh Sung Joon dengan teriakan, tapi berusaha untuk tenang kembali
“Tanpa wawancara itu, kita tak bisa mengejar New Look. Ayo coba sebanyak mungkin, dan aku sendiri yang akan menghubungi Leonard Kim.” ucap Sung Joon dingin lalu masuk kembali ke dalam ruangan. 

Sung Joon menarik nafas panjang lalu membaca pesan yang masuk “Dia datang untuk menghentikan kita, kan? Bagaimana ini?” tulis Hye Jin dengan nada khawatir. Sung Joon membalas “semua akan baik-baik saja, kita berusaha saja” lalu menatap Hye Jin dengan memberikan sedikit senyuman
Akhirnya Shin Hyuk masuk ke dalam ruangan memberikan USB yang berisi film pendek karya Leonard Kim saat masih sekolah, jadi berpikir akan melakukan rapat denganya, karena tak ada ada biodatanya membuat mereka jadi lebih memahami ketertarikannya jadi membuatnya lebih mudah mendekatinya. Sung Joon mengucapkan terimakasih.
“Tapi, apa yang akan kau lakukan jika tak bisa menghubungi Leonard Kim?” tanya Shin Hyuk
“Ini kesempatan terakhir kita. Aku akan lakukan apapun agar kita meraih persentase tertinggi. Maksudku  Bukan Permainannya tapi bertaruh.” tegas Sung Joon
“Oke... apapun itu, bertaruh atau permainan, mari kita melakukukan apa yang kita bisa” ucap Shin Hyuk lalu memberikan kepalan tanganya, Sung Joon hanya melihatnya. Shin Hyuk menarik tangan Sung Joon untuk bisa high five dengan kepalan tanganya seperti yang lainnya. Sung Joon kembali mengucapkan terimakasih atas USB itu. 

Joon Woo memberikan artikel yang sudah dibuatnya, lalu membicarakan berita yang didapat dari kantor pusat bahwa jika merea tak keluar dari posisi 2 di edisi minggu depan maka Most akan dihentikan.
Shin Hyuk dan Hye Jin hanya bisa diam karena sudah mengetahuinya, Ah Reum yang mendengarnya benar-benar kaget, Joon Woo menceritakan berita yang didengar tentang nasib wartawan asing apabila Most dihentikan. Han Sul bisa mengerti sebelumnya ada pria asing yang datang ke kantor mereka. Ah Reum panik mengetahui Most akan dihentikan, Poong Ho yakin itu hanya omong kosong.
Joo Young akhirnya masuk ruangan Sung Joon, menanyakan kebenaran tentang Most yang akan dihentikan apabila tak berada di peringkat pertama. Sung Joon terdiam lalu melihat semua tim dari luar ruangan menatapnya, akhirnya membenarkanya. Joo Young marah karena tak memberitahu mereka semua. Sung Joon yakin itu tindakan yang benar.

“Kau di sini sudah 3 bulan, kan? Aku kerja di sini hampir 13 tahun. Tapi ternyata tempat di mana aku merelakan masa muda untuk kerja mungkin akan dihentikan. Sekarang baru kutahu... apa yang harus kulakukan? Jika kau pikirkan rekan-rekan kita setidaknya, kau takkan melakukannya begini.” tegas Joo Young tak terima.
“Bukannya aku tak mau memikirkan pendapat anggota tim, tapi saat ini, aku...” ucap Sung Joon mencoba menjelaskan tapi Joo Young menyela.
“Tidak, menurutku itu benar kau tidak memikirkan pendapatkan kami. Kami bahkan tak berkesempatan merespon situasi ini dengan bekerja seakan hidup kami bergantung pada ini! Aku yakin ini bukanlah masalah keputusan terbaik atau bukan, tapi dogmatis.” tegas Joo Young lalu keluar ruangan. 

Hye Jin mengikuti Joo Young yang baru keluar ruangan Sung Joon. Joo Young membawa tasnya menyuruh tim Mode untuk keluar sekarang, Joon Woo dan Yi Kyung keluar. Hye Jin tak bisa menahanya dan membiarkan mereka pergi.
“Bagaimana bisa dia hanya berdiri dan melihat kita dibunuh begini? Jika dia beritahu sejak awal, kita juga mungkin bisa coba lakukan sesuatu.” komentar Poong Ho
“Itu sebabnya dia mendorong kita begitu keras.” ucap Ah Reum sinis
“Tapi tetap saja, kita meraih penjualan yang lebih banyak sejak WaPemRed hadir. Kita hanya perlu menjadikan isu minggu depan nomor satu. Kenapa tak kita coba lakukan yang terbaik, oke?” kata Shin Hyuk menenangkan semua
“Karena dia biasanya bekerja dengan baik, mungkin dia baik-baik saja sendirian. Bukankah masing-masing kita hanya perlu mengumpulkan artikel kita? Ayo pergi, semuanya.” ucap Ah Reum sinis.
Hye Jin binggung melihat tim Ah Reum pergi, Sung Joon keluar ruangan melihat hampir bangku kosong. Poong Ho akhirnya mengajak Eun Young untuk pergi sekarang. Sung Joon dan Hye Jin hanya bisa menatap sedih karena dugaan Sung Joon benar, semua tim kabur karena tahu Most akan dihentikan. 

Sung Joon menatap papan namanya dengan sedih, Hye Jin masuk ke dalam ruangan menanyakan keadaan Sung Joon, meyakinkan semua tim bersikap seperti itu karena sangat kaget mendengar secara tiba-tiba, lalu berusaha menenangkanya, Sung Joon memotongnya lebih dulu.
“Hei, Hye Jin.... Maafkan aku, tapi... hari ini, bisakan kau biarkan aku sendiri?” ucap Sung Joon gugup dengan wajah sedih.
Hye Ji mengerti akan pulang lebih dulu meninggalkan Sung Joon sendirian di kantor. Sung Joon mencoba tersenyum dan meminta maaf,Hye Jin keluar ruangan bersandar di pintu merasa sedih dengan keadaan Sung Joon yang ingin menanggung rasa sedihnya sendiri. 

Sung Joon bertemu dengan seorang wanita asing, dengan bahasa inggris memperlihatkan konsep Konsep majalahnya, mengenai arahan dan rincian akan didiskusikan dengan Leonard Kim dengan begitu proposal yang dibuatnya menunjukkan betapa besar usaha mereka menyiapkan proyek ini.
Di kantor, Shin Hyuk berbicara di telp akan mencocokan isi wawancara dengan kesukaannya. Hye Jin juga mengatakan akan mengadakan pemotretan dengan menyesuaikan jadwalnya, lalu wajahnya sedih meminta agar bisa menghubunginya. Sung Joon keluar dari ruanganya, Shin Hyuk melirik kearah Hye Jin yang mengelengkan kepala, akhirnya akan menghubunginya. Sung Joon menatap sedih semua timnya yang pergi hanya ada Hye Jin dan Shin Hyuk. 

Di ruangan Nyonya Kim.
“Saat kau dulu minta wewenang penuh, apa maksudmu begitu? Bagaimana bisa kau sangat tak mirip Most? Stupido.... Saat kau mencoba melindungi sesuatu, itu tak benar. Di proses itu, mungkin akan ada kesalah pahaman. Aku paham bagaimana perasaanmu tapi... Sendainya kau mempercayai timmu bagaikan un pocco, un pocco, sedikit lebih percaya, andai kau bergantung sedikit pada mereka, Kurasa mungkin semua ini takkan terjadi.” komentar Nyonya Kim, Sung Joon terdiam mendengarkan nasehatnya.
Sung Joon diam didepan layar Most melihat semua ruangan timnya sudah gelap, mengingat ucapan Joo Young “Benar kau tidak memikirkan pendapat kami. Aku yakin ini bukan masalah keputusan terbaik atau bukan, tapi dogmatis.”
Lalu ucapan Ah Reum “Karena dia biasa kerja dengan baik, dia mungkin baik-baik saja sendirian. Setelah itu komentar Poong Ho “Ini tak seharusnya dilakukan.” Yang terakhir adalah ucapan Nyonya Kim “Kau dulu minta wewenang penuh,di saat inilah yang maksud itu?”

Hye Jin mengambil kunci mobil Sung Joon yang akan pulang, Sung Joon tersenyum melihat Hye Jin ternyata belum pulang, tapi menunggu di parkiran. Hye Ji pikir Sung Joon lebih baik istirahat karen lelah jadi lebih baik ia yang membawa mobil. Sung Jon menarik Hye Jin mengatakan baik-baik saja, lalu bersandar di mobilnya sambil menghela nafas panjang.
“Di saat begini, aku khawatir kau pingsan lagi, jadi aku tak bisa pergi. Mulai sekarang, takkan kutinggalkan kau sendirian. Selama ini, pasti sulit tak punya tempat bergantung. Kerja yang kau pikir tak bisa dikerjakan tapi ternyata kau bisa dan itu pasti sangat berat dan menakutkan.” jelas Hye Jin, Sung Joon menatapnya dengan berkaca-kaca
“Mulai sekarang, jika kau berjuang, berjuanglah di hadapanku. Saat kau kesulitan, lakukan di hadapanku. Jangan tanggung semua ini sendirian. Kita Lakukan bersama, yah Sung Joon ?” pinta Hye Jin, Sung Joon menahan tangisnya lalu memeluk Hye Jin dengan erat, menangis dipundak pacarnya. Hye Jin menepuk pundak Sung Joon kalau semua akan baik-baik saja. 

Hye Jin dan Shin Hyuk saling menyapa dengan wajah lemas dan menghela nafas bersama-sama. Ketika masuk ke dalam ruangan, keduanya terdiam. Joo Young dkk sudah sibuk di meja kerjanya masing-masing, Wajah Hye Jin dan Shin Hyuk langsung sumringah melihatnya.
Dari belakang, Hye Jin langsung memeluk Joo Young yang akhirnya kembali ke kantor karena sangat merindukanya. Joo Young mengeluh karena tak suka ada pelukan seperti itu. Hye Ji melepaskannya bertanya alasan Joo Youg kembali. Joo Young menegaskan kembali karena tak ingin merasa bersalah.
“Bahkan jika kita dihentikan, kurasa aku akan merasa lebih bersalah jika secara pribadi melihatnya” jelas Joo Young, Ah Reum setuju dengan itu.
“WaPemRed tak bisa kerja tanpa kita, jadi mau bagaimana? Kita harus datang.” tegas Poong Ho lalu tos dengan kepalan tangan bersama Shin Hyuk dan Hye Jin.
Sung Joon datang menyapa semuanya, Hye Jin terlihat bahagia menghampirinya. Sung Joon memberitahu mereka akan rapat 20 menit lagi. Hye Jin binggung melihat ekpresi Sung Joon yang datar padahal semua tim sudah kembali, tapi kembali tersenyum sumringah karena semua tim akhirnya bisa kembali. 

Sung Joon masuk ruang rapat sambil menelp, semua orang terlihat bertanya-tanya, siapa yang menelp. Setelah menutup telpnya Sung Joon memberitahu tentang pihak Leonard Kim yang membicarakan wawancara. Semua menunggu hasilnya dengan wajah tegang.
“ Hasilnya.... Mereka bilang setuju.” ucap Sung Joon dengan senyuman.
Semua tim menjerit bahagia, Hye Jin sampai berdiri memberika tepuk tangan. Shin Hyuk pun tak kalah bahagianya karena bisa membuat Leonard Kim menerima tawaran wawancara. Joo Young sudah memiliki konsep foto saat mengambil cuti beberapa hari. Poong Ho juga sudah mempersiapka ratusan pertanyaan saat wawancara. Ah Reum berkomentar tak perlu berbohong dengan membuat ratusan pertanyaan. Hye Jin tak bisa menahan tawa bahagianya.
“Ada hal-hal seperti Hukum keberuntungan yang menggambarkan jumlah keberuntungan, di mana kau akan mendapatkan keberuntungan baik sesuai jumlah ketidak beruntunganmu yang saat ini kau hadapi. Inilah yang dikatakan Hukum Keberuntungan agar kita tak mudah putus asa dan tetap bertahan, karena,jika kau mengalami keburukan, kebaikan pasti akan segera datang.”
Wajah Shin Hyuk yang tadinya tersenyum bahagia berubah jadi diam, seperti sedih memikirkan sesuatu. Saat Hye Jin menatapnya berusaah untuk tetap tersenyum walaupun dalam hatinya terlihat sedih. 

Shin Hyuk dengan senyumannya memberikan makan pada adiknya, Han Sul dan Joon Woo juga saling memberikan makan, begitu juga Poong Ho dan Joo Young. Tiba-tiba  Joon Woo memberitahu kalau Pemberitahuan tentang Leonard Kim sudah di-post di homepage mereka. Ah Reum sangat penasaran melihat gambar tentang gambarnya, Yi Kyung melihat ada banyak klik yang sudah melihatnya. Sun Mi yakin semua orang penasaran karena Leonard Kim itu tak biasanya diwawancara.
“Selisih antara kita dan New Look berkurang, dan kita bahkan mendapatkan Leonard Kim. Apa ini artinya kita pasti akan jadi nomor 1?” ungkap Han Sul yakin.
“Sejujurnya, saat pertama membahas tentang Leonard Kim, Kupikir tak masuk akal. Tapi bagaimanapun juga, WaPemRed mendapatkannya.” komentar Joo Young bangga, Hye Jin tersenyum karena pacarnya itu dibanggakan orang lain.
“Tapi apa kalian semua merencanakan ini bersama? Bagaimana bisa kalian memutuskan kembali di saat yang sama?”tanya Shin Hyuk
“Ahh... mesti kubilang ini... Kalian semua punya alasan tapi aku termasuk kasus khusus. WaPem Ji sangat ingin mempertahankanku hingga dia sendiri yang mencariku, lalu dia menangis hari itu lingkunganku jadi lautan air mata hingga orang-orang harus menggunakan perahu! Perahu!” cerita Poong Ho berlebihan.
Joo Young menegaskan bahwa perahu itu juga mengampiri lingkunganya, Ah Reum juga menegaskan juga didatanginya. Shin Hyuk mengangkat jempolnya. Hye Jin tak percaya Sung Joon mendatangi semuanya satu persatu, Poong Ho sedih karena bukan ia satu-satunya yang didatangi Sung Joon. Joo Young mengajak semua untuk bersemangat sampai di peringkat pertama, Shin Hyuk mengangkat tinggi-tinggi gelas birnya agar bersulang bersama-sama. 

Sung Joon datang ke ruanganya melihat ada kotak makan dan juga termos, disampingnya ada note dengan bentuk hati. “Ketahuan! Kau kerja saat akhir pekan juga, kan? Ini agar kau tak kelaparan saat kerja. Sudah kurapikan fashion dari model Leonard Kim dan apa yang kurasakan setelah menyaksikan film terkininya. Mungkin ini sedikit bisa membantu.”
Lalu ia membuka kotak maka berisi kimbap dan satunya yang diberi huruf dengan potongan Nori, senyuman Sung Joon lebar melihat kotak makan yang dibuat oleh Hye Jin sebagai kekuatan, lalu menyadari kotak itu masih terasa hangat. 

Sung Joo keluar dari lift melihat Hye Jin baru saja keluar dari kantor, dengan mengentuk kaca jendela berteriak memanggil Hye Jin. Hye Jin yang akan meninggalkan kantor melihat Sung Joon yang memanggilny dari kaca jendela menghampirinya.
Ia bertanya untuk apa Sung Joon keluar dan menyuruhnya kembali berkerja. Sung Joon berteriak menyuruh Hye Jin menunggunya sebentar. Hye Jin terlihat tak mendengar ucapan Sung Joon, berpikir kalau sangat menikmati makanan itu. Sung Joon mengelengkan kepalanya meminta Hye Ji menunggunya disana. Hye Jin tersenyum karena Sung Joon menunggunya disana.

Sung Joon keluar berlari menghampirnya. Hye Ji binggung melihat Sung Joon yang membawa kotak makannya keluar. Sung Joon mengatakan sekarang tak makan banyak seperti dulu jadi mengajaknya makan bersama.
Hye Jin sengaja mempersiapkan yang banyak agar bisa dimakan sampai malam hari, jadi tak ingin menganggu. Sung Joon tetap ingin mereka makan bersama, lalu menariknya untuk pergi. Hye Jin menahanya bertanya mau kemana mereka pergi. Sung Joon dengan bangga mengatakan mereka akan piknik. 

Di pinggir danau, Sung Joon membuka semua kotak makan yang dibawakan Hye Jin untuknya, lalu menghidur udara dalam-dalam karena sangat segar. Hye Jin merasa sia-sia mempersiapkan semuanya jadi mengacaukan kerjanya. Sung Joon mengataka mereka akan di tempat itu selama 2 jam saja, lalu mengajaknya untuk mulai makan.
Ia mulai memakan kimbap dan langsung membanting sumpitnya, Hye Jin binggung berpikir rasanya tak enak. Sung Joon mengeluh lalu bertanya siapa yang menyuruh Hye Jin membuat makanan seenak itu. Hye Jin terlihat tak mengerti.
“Dari maniak-teman sekelas, dan sekarang kau bahkan maniak-memasak?  ini Sangat enak” ejek Sung Joon,
Hye Jin tersenyum lalu meminta Sung Joo mencoba labu goreng dan juga sup yang dibuatya dalam termos. Sung Joon bertanya sup apa yang dibuatnya. Hye Jin memberitahi itu sup rumput laut. Sung Joon tersenyum karena merasa seperti sedang ulang tahun, lalu memujinya sangat enak. Keduanya makan bersama dengan wajah bahagia di pinggir danau. 

Sung Joon membawa masuk kotak makan ke dalam bagasi mobil, terdengar suara teriakan Hye Jin yang sangat bahagia ada di pinggir danau. Seorang pengunjung menjatuhkan slay-nya, Sung Joon dengan baik hati mengambilnya, saat menoleh ke belakang, Hye Jin sudah tak ada di tempatnya berdiri.
Dengan wajah panik, Sung Joon mencarinya dan mencoba menelp tapi teringat ponselnya tertinggal. Ia mencari ke sisi lain dengan wajah kebinggungan, tiba-tiba Hye Jin mengangetkan dari belakang dan tertawa melihat ekspresi Sung Joon yang dianggapnya bercanda.
Sung Joon malah terdiam sambil menghela nafas panjang, Hye Jin binggung melihat Sung Joon yang terlihat panik. Sung Joon berpikir Hye Jin menghilang, Hye Jin pikir untuk apa menghilang, lalu mengajak Sung Joon kesuatu tempat yang cantik lalu mengandeng Sung Joon untuk pergi kesana. 

Tepat di pinggir danau dengan pohon yang berguguran, Hye Jin mengambil gambar melihat kilauan air danau yang sangat cantik. Sung Joon menatap Hye Jin terlihat datar, Hye Jin merasa hatinya tenang karena melihat danau ini. Keduanya saling menatap, Hye Jin memberanikan diri memegang tangan Sung Joon lebih dulu.
“Sung Joon, kau hampir sampai, jadi jangan lari terlalu cepat. Seperti danau ini, sebaiknya kita dengan tenang..... “ ucap Hye Jin lalu bersin sangat keras.
“Wow, udara di danaunya tidak main-main. Kenapa dingin sekali?” keluh Hye Jin dengan waja malu, Sung Joon tersenyum melihatnya.
Sung Joon dengan jaketnya memakaikan pada Hye Jin dan juga memeluknya, lalu bertanya apakah lebih baik sekarang. Hye Jin tersenyum bahagia merasa lebih hangat.

“Hye Jin.... Mulai sekarang, aku akan memberitahumu sesuatu. Kau boleh bilang aku ini tak sabaran dan aku ini gila.” ungkap Sung Joon.
“Ada apa? Kau membuatku takut. Apa yang mau kau katakan?” kata Hye Jin ketakutan
“Setelah berhasil dengan ultah 20th dan menyelamatkan The Most, aku akan melamarmu.Aku akan melakukan apapun agar berhasil dan pasti akan melakukannya.” janji Sung Joon.
Di kantor, Ponsel Sung Joon yang tertinggal berdering terlihat di layar Leonard Kim yang menelpnya.
“Ada hal-hal seperti Hukum Keberuntungan yang menggambarkan jumlah keberuntungan, di mana kau akan terima keberuntungan di masa depan setara dengan ketidakberuntungan yang kau hadapi saat ini.”
Sung Joon menatap Hye Jin yang kedinginan, lalu menatap penutup kepalanya. Hye Jin berharap agar Sung Joon bisa berhasil, seperti dengan perkataanya untuk menghidupkan kembali majalah MOST, bahwa ia juga mengharapkah hasil yang sama. Sung Joon menarik Hye Jin dan kembali menciumnya. 

bersambung ke episode 14 


Sinopsis She Was Pretty Episode 13 Part 1

Sung Joon mencium Hye Jin yang akhirnya memberikan pelukan untuknya. Hye Jin mengaku sedih melihat Sung Joon yang terlihat sangat kurus dan bertanya-tanya bagaimana cinta pertamanya itu berkerja sampai akhirnya pingsan. Sung Joon mengatakan sekarang ia baik-baik saja, lalu melihat syal miliknya di pakai oleh Hye Jin.
“Ini Kuambil dari “princess”. Kapan kau datang?” tanya Hye Jin
“Semalam, aku ke sana karena merindukanmu, tapi sudah terlalu larut, jadi kutahan. Sekarang tak akan kutahan, jika menyukaimu, merindukanmu, ingin memelukmu, Takkan lagi kutahan.” ucap Sung Joon sambil mengelus rambut Hye Jin.
Keduanya kembali berpelukan, Sung Joon tersenyum bahagia mengungkapkan rasa yang sangat menakjubkan. Tiba-tiba terdengar jeritan “Oh! Mamma mia!”, Hye Jin menjerit panik karena yang datang itu Nyonya Kim. 

Nyonya Kim mengintip dari jendela pintu lalu masuk ke dalam, Sung Joon berpura-pura sedang membaca buku dan duduk diatas tempat tidurnya. Tangan Nyonya Kim langsung menyentuh wajah Sung Joon yang terlihat pucat, dari balik lemari terlihat baju Hye Jin yang sedikit keluar, akhirnya bisa dimasukan kembali.
“Wajahmu seperti kulit jeruk yang mengering. Kepalamu yang sudah kecil seperti kacang akan menghilang!” jerit Nyonya Kim berlebihan sambil memegang wajah Sung Joon, untuk melepaskanya Sung Joon mengaku baik-baik saja.
“Apa maksudmu kau baik-baik saja? Melihatmu seperti ini, membuat hatiku hancur.” jerit Nyonya Kim lalu mendengar suara gigi bergertak.
Ia mencoba mendekat lemari, Sung Joon panik langsung mengatupkan mulutnya seperti yang biasa dilakukan Hye Jin saat panik, mengaku karena merasa kedinginan dan badannya tidak sehat. Nyonya Kim makin panik ingin memberikan pelukan supaya hangat. Sung Joon buru-buru mengipas wajahnya karena berubah menjadi kepanasan. Nyonya Kim sekarang ingin membuka baju Sung Joon apabila kepanasan. Sung Joon memegang bajunya agar tak dibuka semua kancingnya.
“Dengan kemampuanmu, menurutku semua demi Most sungguh akan berhasil. Jadi, jangan kerja terlalu keras. Tentu saja aku akan mendukungmu juga. Keponakanku yang menakjubkan, sempur...” jerit Nyonya Kim lalu terhenti karena tak ingin membuka rahasianya.
Sung Joon mengucapkan terimakasih, Nyonya Kim mengaku ingin meminjatnya semalaman tapi tak bisa karena ada rapat, akhirnya pamit pergi. Baru sampai didepan pintu ia berbalik, Sung Joon yang akan turun langsung duduk seperti akan minum teh, Nyonya Kim berkomentar, Sung Joon memakai pakaian rumah sakit bukan MOST, jadi berharap agar lekas sembuh dan kembali untuk berpakaian MOST. 

Sung Joon akhirnya membuka pintu lemarinya, Hye Jin dengan wajah panik menanyakan apakah Nyonya Kim sudah benar-benar pergi. Sung Joon menganguk lalu tersenyum mengejek Hye Jin itu maniak-lemar karena dulu pernah bersembunyi di lemari ruanganya.
Hye Jin mengaku masih benar-benar terkejut, keduanya saling menatap dan akan berciuman. Sung Joon tersenyum melihat Hye Jin yang sudah menutup matanya dan bibirnya yang lebih maju. Sung Joon membuka matanya lalu mengoda.
“Sedang apa kau? Kenapa dengan mata dan mulutmu? Aku mau kau pegangkan ini. Aku ini kan pasien. Oh ya ampun, jadi kau kira aku mau menciummu? Sepertinya Kim Hye Jin bukan hanya maniak-lemari tapi juga maniak-ciuman.” goda Sung Joon,
“Tidak.... bukan seperti itu.... Alasanku menutup mata... “ ucap Hye Jin langsung menutup mulutnya dan berusaha menyangkalnya.
Sung Joon tersenyum langsung memberikan kecupan dibibirnya, Hye Jin sedikit kaget, Sung Joon mengecup kening dan pipinya. Hye Jin tersenyum bahagia, begitu juga Sung Joon, keduanya tertawa bersama. 

Hye Jin masuk ke dalam lift, melihat Shin Hyuk yang berdiri disampingnya menyapanya dengan senyuman, tapi wajah Hye Jin masih merasa tak enak hati. Saat lift berjalan naik, Shin Hyuk mengeluarkan suara seperti kentut dan menunduh Hye Jin, semua yang ada didalam langsung mengarahkan pandanganya pada Hye Jin.
Shin Hyuk berkomentar pencernaan Hye Jin sedang tidak baik, Dengan wajah kaget, Hye Jin berusaha menyangkalnya. Shin Hyuk kembali mengeluarka suara kentut yang lebih besar, pandangan langsung tertunju pada Hye Jin. Kembali Hye Jin berusaha menyangkal tapi seperti semua tak percaya, Shin Hyuk pun tersenyum berhasil menjahil Hye Jin kembali. 

“Apa yang kau lakukan, Reporter Kim? Semuanya mengira aku. Kenapa kau begitu?” teriak Hye Jin kesal saat akan masuk kantor
“Itu dia! Begitulah, Jackson!!! Ayo buat diri kita saling nyaman. Jangan menyesal, canggung, dan menjauh dariku. Jangan bersikap begitu, itu kekanakan.” tegas Shin Hyuk
Hye Jin masih merasa tak enak hati, Shin Hyuk pikir apabila kehilangan adiknya sebaik Jackson itu lebih memalukan, jadi memintanya agar membuat situasnya menjadi senyaman mungkin untuk sekarang, lalu membuat bulan dari jarinya untuk setuju dan mengoyang-goyangkan tubuhnya. Hye Jin hanya menatap sedih Shin Hyuk seperti masih belum merasa nyaman, tapi akhirnya setuju dengan memberikan senyumanya.
“Ahhhh...  betapa beruntungnya WaPemRed punya wanita yang menakjubkan. Jika WaPemRed tidak baik padamu, segera beritahu aku. Akan kumarahi dia bagaikan kakakmu.” ungkap Shin Hyuk sambil memeluk sang adik.

Sung Joon menatap tabnya lalu berjalan maju ketika mendengar suara bunyi pintu lift yang datang, tapi yang terjadi salah melangkah ke pintu lift yang tertutup akhirnya terjatuh karena terbentur.
Tapi karena hatinya yang sedang bahagia, malah tertawa karena terjatuh lagi akibat selalu menatap tabnya. Eun Young yang tak jauh dari sana, melihat Sung Joon yang tertawa sendirian didepan lift yang tertutup, pintu lift tempat Sung Joon jatuh terbuka. Beberapa pegawai akhirnya harus melangkahinya agar bisa keluar, Sung Joon buru-buru berdiri dan masuk ke dalam lift. 

Sung Joon masuk ke dalam ruangan, berpura-pura merasa silau karena melihat Hye Jin yang ada dilantai atas, wajah Hye Jin sumringah melihat Sung Joon yang akhirnya datang ke kantor. Joo Young terlihat khawatir melihat Sung Joon datang karena seharusnya beristirahat.
“Aku sungguh baik-baik saja. Kalau begitu, ayo semua kerja keras hari ini. Semangat.” ucap Sung Joon sambil mengerak-gerakan badanya dan tersenyum sumringah lalu masuk ke dalam ruanganya sambil bersiul.
Han Sul binggung melihat sikap Sung Joon yang tak seperti biasanya, Eun Young menceritakan sebelumnya melihat Sung Joon terbentur pintu lift, Poong Ho melihat ada sesuatu yang mencurigakan dengan wajah seperti itu biasanya seperti orang yang baru saja berkencan dengan seseorang.
Shin Hyuk langsung memutar kembali kursinya, Hye Jin mendengarnya sambil mengantungkan pakaian. Ah Reum penasaran tipe wanita seperti apa yang ditemui atasanya itu. Tiba-tiba dua baju yang digantung, mendarat di lantai satu, Hye Jin yang sibuk mendengarnya sampai tak sadar malah menjatuhkanya. Shin Hyuk hanya tersenyum melihat sikap Hye Jin yang panik. 

Sung Joon langsung tersenyum sumringah saat Hye Jin masuk ke dalam ruanganya. Hye Jin buru-buru menutup jendela ruangan, memberikan surat dan meminta Sung Joon tidak terlihat jelas. Sung Joon binggung dengan ucapan Hye Jin.
“Kau tertawa seperti seseorang yang bautnya kendor, dan bahkan mengerutkan bibir sambil bersiul. Mereka bertanya-tanya apa kau punya pacar dan wanita seperti apa yang kau kencani” jelas Hye Jin pani
“Jadi tak baikkah jika orang-orang tahu?” tanya Sung Joon.
“Jika sikapmu jelas begitu, kita akan merasa tak nyaman. Tolong bersikaplah seperti biasa, seperti biasa saja.” pinta Hye Jin
Sung Joon bertanya siapa biasa seperti apa. Hye Jin menjerit kesal lalu memberitahu sikap Sung Joon yang selalu mengunakan jam pasir saat akan berbicara, marah pada orang-orang dengan cara yang beringasan, kasar, dan tak menyenangkan. Sung Joon cemberut tenyata dirinya yang selalu beringasan, kasar, dan tak menyenangkan.
Hye Jin berusaha menyangkal Sung Joon yang tak seperti itu dan meminta agar bersikap tak terlalu jelas, lalu menanyakan keadaanya. Sung Joon dengan ketus Hye Jin bisa melihatnya, Hye Jin langsung menahan tangan Sung Joon saat akan mengambil gelas kopi dan meminta hanya minum 3 gelas perhari.  
“Jangan terlihat jelas, coba kurangi minum kopi. Dan jangan pernah buka jendela ini karena akan terlihat jelas. Jangan pernah!” perintah Hye Jin panik sebelum keluar ruangan. Sung Joon tak bisa lagi menahan tawanya melihat sikap Hye Jin yang imut dan meminum gelas kopinya karena masih ada satu kesempatan meminum satu gelas lagi. 

Ruang rapat
Sung Joon berkomentar artikel ditanganya itu bisa dimasukkan sebagai desgin bagian dari koleksi Seoul dan minta pendapat orang-orang. Joo Young setuju, aakn mencoba tunjukkan masing-masing ciri dan konsep desainer secara bervariasi. Sung Joon pun meminta Joo Young menyusun dan memperbaikinya.
“Saat kecil, dia tak bisa melakukan presentasi dengan baik, tapi bagaimana dia tumbuh begitu ? Sangat menarik tiap kali melihatnya.” gumam Hye Jin menatap Sung Joon yang melihatnya seperti saat masih tambun.
Sung Joon kecil mulai melipat lengan lajunya menanyakan tim gambar sambil membalikan jarum pasirnya. Tawa Hye Jin terdengar nyaring saat membayangkan Sung Joon. Semua tim langsung menoleh padanya, dengan wajah binggung.
“Kau bilang apa barusan? Muncul "Eh heh"? Fokuslah saat rapat, tolong, fokus. Dan jangan ubah suasananya.” omel Sung Joon, Hye Jin hanya bisa meminta maaf dan Sung Joon menyudahi rapat.
Han Sul dan lainnya menduga Hye Jin itu sedang berkencan sekarang, Shin Hyuk juga mengejeknya, Jakson yang dikenalnya juga bisa berubah sikapnya dengan tertawa sendirian. Hye Jin berusaha menyangkal kalau tidak berkencan. 

Hye Jin melompat-lompat bahagia saat memberikan berkas pada Joo Young, lalu bersenandung ketika memindahkan gantungan baju. Semua orang melonggo melihat sikap Hye Jin benar-benar tak seperti biasanya. Ia mengeluarkan suara tetris saat sedang mengstaples berkas, Poong Ho sudah ada disampingnya mengikuti suara tetris.
“Bahkan anjing lewat pun tahu kau sedang pacaran. Kau tunjukkan 10.000 isyarat bahagia yang berbeda sementara aku tak tunjukkan apapun.” komentar Poong Ho
“Tidak, menurutku tidak begitu.” ucap Hye Jin menyangkal, Poong Ho yakin dugaannya itu benar. Sung Joon menatap sikap Hye Jin yang terlihat jelas sekarang.
“Siapa yang meminta agar berhenti terlihat jelas.” komentar Sung Joon lalu tersenyum melihat Hye Jin malah memberikan tanda yang jelas. 

Keduanya berpapasan di depan pintu kantor, Hye Jin mengodanya dengan memuji akting Sung Joon sebelumnya sangat hebat.Sung Joon binggung akting yang mana maksudnya.
“Aktingmu saat sengaja memarahiku agar tak terlihat jelas tadi sangat bagus.” jelas Hye Jin dengan mengacungkan jempolnya.  
“Itu bukan akting. Aku memarahimu karena memang pantas.” jelas Sung Joon dengan wajah serius.
“Oh...jadi kau sungguh memarahiku...?” kata Hye Jin tak percaya
Sung Joon mengangguk berpikir kalau Hye Jin kecewa tapi menurutnya dirinya itu sangat tegas ketika berkerja. Hye Ji mengatakan tak kecewa karena Sung Joon seharusnya tegas saat kerja, dengan lirikan sinis mengejek pacarnya itu mengunakan gaya Amerika lalu masuk ke dalam ruangan. Sung Joon yang melihat wajah Hye Jin yang kesal kembali tertawa karena terlihat sangat imut. 

Poong Ho baru selesai membaca novel Ten yang berjudul “Memory” menurutnya penulis itu memang monster dalam hal menulis karena terlalu menarik. Sun Mi dan yang lainnya berusaha meminjam buku itu lebih dulu. Poong Ho pun mempersilahkanya, lalu membahas pada Joon Woo yang mengatakan bahw Ten itu wanita Korea usia 40thn.
“Aku Mungkin kau benar, karena Latar belakang novel ini Korea.” jelas Poong Ho, Joon Woo yakin Ten itu penulis dari korea.
“Eh, kalau begitu Avengers pasti ditulis oleh orang Korea juga karena latarnya di Korea juga.” komentar Han Sul tak setuju.
“Maksudku, jika mereka bukan dari Korea, penulis takkan mampu mengeluarkan emosi sebaik ini.” jelas Poong Ho
“Tapi, kenapa namanya TEN?” tanya Hye Jin polos, semua juga bertanya-tanya tentang hal itu. Sun Mi pikir  penulis ini hanya akan menulis 10 novel lalu pensiun. Tiba-tiba terdengar teriakan Nyonya Kim turun dari ruanganya. 

Ohhh.....Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Kenapa semuanya mengira TEN itu angka 10? TEN! Ten punya banyak arti yang berbeda. Itu bukan ten dalam bahasa Spanyol. Tapi, "Ini". (Hay yeori (Spanyol) vs. yeoli ( "ten" Korea)Apa itu artinya sungguh ada sesuatu di sini?” jelas Nyonya Kim
Semua timnya hanya bisa melonggo binggung, Nyonya Kim pikir kalau memang tak benar juga tak masalah, lalu keluar kantor sambil bernyanyi seriosa kembali. Joo Young pikir Nyonya Kim itu mungkin tahu sesuatu. Semua terlihat berpikir temasuk Shin Hyuk yang mengerutkan dahinya.

Nyonya Kim menerima telp di kamar mandi mengingatkan keponakannya akan rapat jam 5 nanti, jadi memintanya untuk tak telat datang. Setelah Nyonya Kim keluar, Han Sul baru saja keluar dari toilet mendengar pembicaraan, dengan begitu ia bisa tahu siapa keponakan Nyonya Kim sebenarnya tepat jam 5 sore nanti.
Han Sul sudah duduk diseberang cafe, melihat Nyonya Kim yang turun dari mobil lalu masuk ke dalam restoran, wajahnya bersemangat ingin melihat siapa sebenarnya keponakan dari Nyonya Kim itu. Kaca didepanya diketuk, Ah Reum menatap sinis menyuruhnya untuk keluar.

Ah Reum berteriak saat Han Sul baru saja keluar, mata Han Sul melirik keseberang jalan ingin tahu siapa keponakan dari Nyonya Kim yang akan dipacarainya.
“aku rasanya tadi menyuruhmu merapikan produk kecantikan, tapi kenapa malah di sini?” omel Ah Reum, Han Sul mengeluh karena kehausan.
“Ayo. Jika kita mau mendapatkan ujian PR PemRed, kita juga harus rapat.” terik Ah Reum menjewer telinga juniornya, Han Sul memohon untuk menunggu lima menit. Ah Reum tak peduli menarik Han Sul untuk kembali ke kantor.
Nyonya Kim akhirnya bertemu dengan keponakannya, wajahnya tersembunyi tertutup pohon, lalu bercerita kalau sudah berbicara dengan kakaknya kalau Keponakanya itu akan kembali berkerja sebagai direktur, wajahnya terlihat bahagia karena dengan begitu akan kembali ke rumah. 

Hye Jin masuk ke dalam ruangan pamit pulang lebih dulu pada Wapemred. Sung Joon pikir mereka akan makan malam bersama dulu. Hye Jin menjelaskan harus pulang ke rumah hari ini.
Sung Joon mengeluh karena dengan begitu mereka tak bisa bertemu hari ini, lalu duduk lemas diatas kursinya karena tak bisa menerima itu. Hye Jin terlihat malu melihat sikap Sung Joon, lalu pamit pulang lebih dulu. Sung Joon pun mengambil jaket untuk mengantarnya, Hye Jin menolak menyuruh Sung Joon kembali berkerja saja.
“Aku bisa melihatmu wajahmu lebih sering jika mengantarmu, dan juga bisa cari udara segar, jadi lebih baik pergi dan cepat kembali.” ucap Sung Joon mengandeng tangan Hye Jin, keduanya dengan wajah sumringah keluar dari kantor. 

Keduanya saling berpegangan tangan di depan toko milik ayah Hye Jin. Sung Joo menyuruh Hye Jin masuk ke rumah. Hye Jin malah meminta Sung Joon lebih dulu pergi. Sung Joon mengeluh karena tak bisa melihat wajahnya hari ini, menurutnya tak masuk akal.
“Apa yang tak bisa dipahami? Bukannya kau bilang kau hanya butuh 10 detik?” ucap Hye Jin.
“Aku mau melihatmu lebih lama dan sama sekali menahannya.” ungkap Sung Joon mengoda.
“Kalian pegangan tangan! Jadi Kalian pacaran!” jerit Hye Rin yang melihat keduanya saling berpegangan tangan.
Hye Jin menjerit melihat adiknya. Hye Rin langsung berlari masuk kedalam rumah memberitahu ayahnya kalau kakakknya dengan Sung Joon berpacaran. Hye Jin berteriak dan berlari mengejar adiknya. Sung Joon tertawa melihat kakak beradik yang saling berkejaran. 

Sung Joon melirik dengan wajah gugup, merasa tak enak hati karena ada perayaan tapi datang dengan tangan kosong. Ayah Hye Jin pikir tak masalah karena sebagai keluarga tak perlu membawa hadiah, ibu dan adik Hye Jin juga menganggap Sung Joon itu keluarga.
Hye Jin kesal karena sikap keluarganya yang berlebihanya mengajak Sung Joon masuk padahal sedang banyak pekerjaan. Ibu Hye Jin mengajak Sung Joon untuk makan bersama, Hye Jin menjerit kalau Sung Joon sangat sibuk, tapi Sung Joon setuju untuk ikut makan bersama.
Ayah Hye Jin memberikan lauk, ibu Hye Jin memberika sayuran yang dibelinya dipasar dan Hye Jin memberikan daging babi, Ayah Hye Jin memberikan ikan juga kedalam mangkuk. Hye Jin berteriak meminta supaya membiarkan Sung Joon makan sendiri. Ibunya heran dengan sikap anaknya, berpikir karena iri lalu memberikan daging agar Sung Joon lebih kuat sebagai pria.
Mangkuk Sung Joon sampai tak terlihat lagi nasinya, Sung Joon terlihat terharu melihat keluarga Hye Jin yang sangat perhatian padanya. Hye Jin melirik melihat keluarganya yang bahagia saat menyuapi Sung Joon dengan makanan yang mereka sediakan dalam rangka perayaan penikahan. 

Hye Rin teringat mereka belum mengambil foto, karena setiap ulang tahun pernikahan keluarga mereka selalu foto bersama. Sung Joon ingin mengambil foto keluarga Hye Jin, tapi ayah Hye Jin memanggil Sung Joon “menantu” untuk ikut foto bersama. Hye Jin kembali menjerit karena ayahnya memanggilnya “menantu”.
Sung Joon terlihat binggung, Hye Rin langsung menariknya untuk foto bersama. Kamera sudah dipasang timer, tapi saat akan mengambil gambar tripodnya bergoyang, gambar mereka sedang berteriak pun diambil. Akhirnya foto ketiga kalinya berhasil dengan Sung Joon memeluk pundak Hye Jin. 

Hye Jin mengantar Sung Joon, mengeluh keluarganya yang mengangguk saat sedang sibuk bekerja. Sung Joon pikir akan merasa menyesal apabila tak ikut makan bersama, lalu menyuruh Hye Jin masuk kembali untuk bersama keluarganya merayakan hari yang bahagia itu. Hye Jing mengangguk, dengan wajah khawatir meminta Sung Joon tak berkerja berlebihan.
Sung Joon mengangguk mengerti, Hye Jin pun melambaikan tangan perpisahan dan berjalan masuk. Sung Joon memanggilnya kembali lalu memberikan kecupan dikeningnya dan berjanji akan menelpnya. Hye Jin tersenyum berpesan agar Sung Joon berhati-hati dijalan. Keduanya saling melambaikan tangan perpisahan sambil berjalan mundur. Hye Jin yang tadinya sudah masuk kembali keluar agar bisa memberikan lambaian tangan kembali.

Sung Joon yang akan pulang tak sengaja bertemu dengan Ha Ri, keduanya sama-sama menarik nafas dan terlihat gugup. Ha Ri pikir Sung Joon datang dengan Hye Jin. Sung Joon membenarkan lalu mempersilahkan Ha Ri untuk masuk ke dalam rumah.
Ha Ri berjalan masuk dan Sung Joon akan berjalan pulang lalu keduanya sama-sama saling berbalik sama-sama ingin berbicara. Sung Joon lebih dulu mengajak Ha Ri untuk berbicara. Ha Ri juga mengakui ingin melakukan hal yang sama. 


Di bawah pohon, dengan pemandangan kota Seoul di malam hari.
Ha Ri meminta maaf dengan kejadian saat ada di hotel waktu itu dan merasa menyesal dengan semua yang dilakukan selama ini, secara pribadi ingi meminta maaf karena membohonginya selama ini. Sung Joon menatap ke arah depan seperti masih terlihat sangat marah, karena dibohongi.
“Aku juga minta maaf, tak mendengarkan apa yang harusnya kau katakan. Jika kuingat-ingat, aku tak pernah memberimu kesempatan untuk bicara dan pergi jadi itu salahku juga.” ungkap Sung Joon ikut merasa bersalah.
‘Tidak. Memang apa yang kau lakukan? Bahkan jika kau anggap aku dulu Hye Jin dan memperlakukanku seperti dia, lalu kau sangat mendukungku saat aku kesulitan.  Aku ucapkan Terima kasih. Sekali lagi, sungguh.. Aku sungguh meminta maaf.” kata Ha Ri, Sung Joon mengangguk-angguk menerimanya.

“Aku yakin kau ke sini untuk mengucapkan selamat pada mereka. Pergilah.” ucap Sung Joon akhirnya menatap Ha Ri
Ha Ri pun berdiri akan kembali kerumah Hye Jin, Sung Joon mengulurkan tanganya berpesan agar Ha Ri bisa menjaga dirinya. Ha Ri pun menjabat erat tangan Sung Joon dengan erat. Sung Joon pikir kalau mereka bertemu sebagai teman Hye Jin akan bisa menjadi teman dekat. Ha Ri mengucapkan terimakasih karena  sudah memberitahunya lebih dulu, lalu pamit pergi. 

Hye Jin dan Ha Ri mencuci piring bersama. Hye Jin pikir temanya itu akan ada pesta perpisahan jadi telat datang. Ha Ri menjelaskan pesta diundur besok lalu menceritakan sebelumnya bertemu Sung Joon didepan rumah. Hye Jin seperti tak begitu kaget.
“Kami bicara baik-baik, Bahkan jika aku tak bisa memberitahunya, setidaknya aku bisa minta maaf. Ini Melegakan.” ungkap Ha Ri
Keduanya saling menatap lalu sama-sama tersenyum, kembali mencuci piring bersama, sudah tidak ada lagi kesalahpahaman. 

Hye Jin tersenyum mengangkat telp Sung Joon, mengatakan akan menelp balik karena sedang mengosok gigi. Sung Joon yang baru saja selesai mandi menyuruh Hye Jin melanjutkan saja karena  akan menunggungya, tapi menurutnya lebih baik mengosok giginya.
Sambil mengosok gigi, Hye Jin menceritakan Ha Ri yang merasa lega karena mereka berdua sudah bicara bersama. Sung Joon pikir keduanya pasti sedang bersama sekarang. Hye Jin menceritakan Ha Ri yang berhenti kerja jadi menginap dirumah orang tuanya, keduanya sama-sama berkumur dengan telp masih ada ditangan mereka.
Hye Jin menjepit ponselnya dengan pundak sambil melipat pakaian, Sung Joon menceritakan sebelum kuliah, ia dan ayahnya itu tinggal dengan bibinya, Hye Jin pikir keduanya pasti sudah sangat dekat. Sung Joon sambil menatap bawang bombaynya, membernarkan karena bibinya itu lebih perhatian dibanding ibunya sendiri. Tiba-tiba Hye Jin mengiler ingin makan bungeoppang seperti yang ada di TV.

Akhirnya ia pindah ke dalam kamar dengan mengunakan hands free, tertawa membaca surat yang ditulis Sung Joon dengan semua ejaannya salah, lalu terdengar bunyi bel rumahnya, berpikir Ha Ri kembali kerumah padahal sebelumnya akan menginap dirumahnya.
Sung Joon tiba-tiba sudah berdiri didepan pintu rumahnya, dengan senyuman sumringa menyapa sang pacar. Hye Jin tak percaya melihat Sung Joon ada dirumahnya padahal mereka sedang berbicara di telp. Sung Joon sadar melihat wajah asli Hye Jin seperti dulu yang memerah tanpa make up, lalu mencubit gemas karena imut. Hye Jin langsung menutup wajahnya karena malu.
“Ahh... Sungguh, kenapa kau ke sini?” ucap Hye Jin sambil menutup pipinya.
“Aku bawa ini....  Tadi kau bilang, "Oh, bungeoppang!" Kau tak mau memakannya?”kata Sung Joon memberikannya lalu pamit pulang. Hye Jin melonggo melihat Sung Joon yang langsung pulang. 

Keduanya makan bersama didalam mobil, Sung Joon mengaku ingin makan makan bungeoppang. Hye Jin tersenyum karena menurutnya  Rasanya jauh lebih enak karena makan bersama. Dengan menurunkan sedikit kursinya, Hye Jin bertanya golongan darah pacarnya, Sung Joon memberitahu golonganya AB.
Hye Jin berkomentar terbukti sikap Sung Joon itu maju mundur antara A dan B. Sung Joon menyangkal kalau pernah plin plan, Hye Jin memberitahu itu saat berkerja. Beberapa saat kemudian, Hye Jin mengeluh karena kuenya sudah habis. Sung Joon lalu memperlihatkan foto waktu masih berumur 5 tahun.
Setelah itu keduanya sama-sama mendengar lagu kesukaan mereka, yang membuat Sung Joon merasa nyaman mendengarnya lagu itu. Hye Jin tersadar dari tidurnya melihat keluar jendela sudah terang lalu membangunkan Sung Joon, melihat matahari sudah mulai terbit. Sung Joo juga tersadar mereka ketiduran dimobil.
Hye Jin panik karena mereka harus berkerja, Sung Joon melihat jam didalam mobilnya. Hye Jin buru-buru turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Sung Joon pun mengemudikan mobilnya untuk pulang kerumah dan segera pergi berkerja.

bersambung ke part 2